<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601</id><updated>2011-10-31T02:16:08.715-07:00</updated><category term='artikel politik'/><category term='Karya tulis ilmiah politik'/><category term='skripsi'/><title type='text'>POLITIK KITA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-6996320225025578516</id><published>2011-06-08T03:26:00.000-07:00</published><updated>2011-06-29T10:42:28.363-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Sumbangan Pemikiran Karl May Bagi Etika Politik Politisasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SUMBANGAN PEMIKIRAN KARL MAY BAGI ETIKA POLITIK POLITISASI OLEH : BETA CHANDRA WISDATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dimuat di OPINI politik Kompas/www.kompas.com/11/03/2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&gt;Bagi anda penggemar novel non fiksi, pasti pernah mendengar nama Karl May pengarang “Winnetou” yang sempat menghentak ranah sastra selama lebih dari satu abad bahkan sampai detik ini. Namun demikian, apakah hasil pemikirannya itu bisa dianalogikan dengan permasalahan etika politik? Untuk beberapa alasan mendasar, saya kira hal itu bisa dilakukan. Pertama, pandangannya sangat diwarnai penjunjungan tinggi prinsip kebenaran, kejujuran (keluguan?), keadilan dan kebersamaan sebagaimana yang dikisahkan dalam petualangan Old Sattherhand di alam bebas bersama sahabatnya (Winnetou) dari suku Indian. Esensi filosofis yang dapat ditangkap dari perjalanannya ke berbagai daerah (negara), mereka merantau bukan dalam pengertian geografis. Melainkan berusaha meningkatkan kematangan pola pikir, empirisme dan keterbukaan akan nilai-nilai positif dari luar.&lt;br /&gt;-------&gt;Bahkan, kepentingan individu yang dilandasi aspek psikologis (emosional) akibat terjebak situasi perang antar kelompok sosial justru dihilangkan. Misalnya, ketika Winnetou bersama pasukannya tertangkap oleh suku Comanche, Old Sattherhand berani menepuh segala resiko untuk menyelamatkan mereka. Padahal Old Satterhand sebelumnya pernah diancam akan dibunuh oleh Winnetou gara-gara kesalahan fatal kawannya. (lihat: Winnetou edisi I, 2004). Dalam perkembangan lebih lanjut lagi, banyak tindakan simbolik yang ditunjukkan oleh persahabatan mereka mampu menghapus semangat klanisme. Disini, tentu saja dalam pengertian lebih luas. Kepentingan egoisme kelompok atau individu dialihkan menjadi penghargaan humanisme!&lt;br /&gt;-------&gt;Kedua, Winnetou dan Old Satterhand mampu membangun sikap komunikatif. Mereka mau mengakui kesalahan masing-masing secara obyektif melalui proses saling memberi dan saling menerima (take and give) diantara keduanya. Dengan demikian, mereka berhasil membentuk etika politik yang menghargai perbedaan-perbedaan prinsipil. Malahan sebuah kesepakatan bersama merupakan kebenaran yang harus dijunjung tinggi sekalipun dalam wujud upacara tradisional. Coba simak ketika Old Satterhand menghirup pipa perdamaian dan meminum tetesan darah Winnetou.&lt;br /&gt;-------&gt;Sementara itu, Karl May menceritakan dengan seksama bahwa Winnetou dan Old Satterhand memiliki karakter yang sama. Old Satterhand sebenarnya adalah west man, disini merupakan Karl May secara simbolik menyatakan west man yang memiliki karakteristik dan perilaku ideal. Sementara itu, Winnetou merupakan seorang kepala suku Indian. Sebagai pemimpin yang bijaksana keduanya berusaha memberikan contoh konkrit bahwa status sosial bukanlah segalanya. Status sosial itu bersifat sementara sebab terbatas ruang apalagi waktu.&lt;br /&gt;-------&gt;Nah, masih segar di benak kita pemberitaan tingkah laku negatif para anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) di pusat maupun daerah -bahkan juga didalam rapat nasional membahas urusan rumah tangga negara - yang tampaknya telah keluar dari jalur etika politik yang benar sebagaimana telah dicontohkan oleh Old Sattherhand dan Winnetou diatas. Lagi-lagi politisi kita, berbuat manuver politik yang aneh-aneh untuk merebutkan kekuasaan. Bila boleh saya menyebutnya hal ini menjurus pada politik anarkhi, singkatnya sebut saja “poli-anarkhi“. Definisinya adalah menghalalkan segala cara -termasuk mengambil jalan pintas- demi meraih kekuasaan dengan merusak tatanan stabilitas politik yang mulai terbentuk sejak pemilu berakhir. Mirip melebih paham yang dianjurkan Machiacelli. Aturan permainannya, siapa yang berhasil memenangkan “perang” dialah pemenang. Barangkali, kekuasaan bagi mereka adalah status sosial puncak kemulyaan tertinggi.&lt;br /&gt;-------&gt;Maka, prinsip klanisme diterapkan. Sebagian kelompok menggabungkan diri dan menamakan dirinya sebagai “oposisi loyal”. Meski tujuan ini baik untuk mengontrol kebijakan pemerintahan baru. Ironisnya kelompok ini terbentuk karena unsur psikologis (bahkan emosional) akibat kalah bertarung di pemilu kemarin. Yang satu lagi adalah kelompok “status quo”. Kemenangannya sah secara konstitusi dan prosedural sehingga lebih dapat dipertanggung jawabkan. Jika Old Sattherhand dan Winnetou menjunjung tinggi nilai kebenaran dan kesepakatan bersama, tidak demikian halnya bagi mereka. Kebenaran diukur dari kebaikan masing-masing kelompok. Beginilah mekanisme demokrasi politik di negara kita semua serba membingungkan dan tidak jelas apakah tujuan akhir yang ingin dicapai. Masalahnya, persaingan suara di pemilu diteruskan sampai duduk di kursi pemerintahan.&lt;br /&gt;-------&gt;Lalu, rakyat berada di pihak mana? Rakyat pun terombang-ambing dibuatnya. Ada yang pro kelompok “status quo” atau sebaliknya ikut-ikutan menjadi oposisi “loyal”. Tetapi, kebanyakan rakyat mulai apatis dengan semua itu. Sebab, rakyat mulai tidak dapat mentelorir ongkos sosial yang harus dibayar implikasinya nanti.&lt;br /&gt;-------&gt;Meski kita memaklumi bahwa jabatan politik merupakan hak wakil rakyat - hanya karena mereka telah dipilih secara langsung oleh rakyat-, apakah bisa kepercayaan yang telah diberikan dalam pemilu kemarin diminta kembali oleh rakyat? Nasi memang telah menjadi bubur, semuanya telah berjalan laksana hukum alam. Politisi telah berpetualang bebas di alam birokrasi. Petualangan ini telah beralih dari dimensi politik ke ekonomik. Seharusnya dimensi politik yang bermakna kedewasaan politik dalam arti mau menerima kekalahan dengan lapang dada, berubah menjadi ajang pertarungan untuk kepentingan-kepentingan ekonomi pribadi. Ironisnya, dimensi politik tadi justru meningkatkan pengalaman politik mereka sehingga menjadi “poli-anarkhi” yang semakin canggih tanpa menghargai harkat dan martabat kemanusiaan.&lt;br /&gt;-------&gt;Seperti pepatah mengatakan: datang tampak muka, pulang tampak punggung. Mereka mempertontonkan baku tikam tanpa memperdulikan kawan atau lawan, yang mereka pikirkan hanyalah kepentingan ekonomi pribadi dan kelompoknya. Demi tujuan itu, mereka senang mendramatisir hal-hal yang sebenarnya remeh menjadi permasalahan baru yang terkesan rumit dan tidak segera dicarikan pemecahan terbaiknya. Akibat sikap dan perilaku mereka, yang menjadi korban adalah rakyat. Mungkin para anggota DPR tersebut tidak sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan akan menjadi bahan penilaian rakyat untuk pemilu legislatif yang akan akan digelar lima tahun mendatang. Bahkan, ironisnya, para wakil rakyat senang plesir dibalik melaksanakan tugas pemerintahan studi bangding ke luar negeri. Tentu hal demikian merupakan sebuah ironi di tengah kemampuan wakil rakyat agar mampu diandalkan.&lt;br /&gt;-------&gt;Kini tugas semua elemen masyarakat untuk menggugah kesadaran anggota DPR agar kembali ke etika politik yang benar. Misalnya, anggota DPR harus bisa mengucapkan kata ‘Howgh!’ (dengan tanda seru) agar berhati-hati dalam setiap bersikap terutama bertutur kata. Perlu diketahui, Howgh adalah ungkapan yang selalu diucapkan oleh Winnetou ketika mengambil kebijakan penting atau memutuskan sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama. Dengan begitu, rakyat bisa menuntut langsung jika perbuatan anggota DPR telah melenceng dari koridor etika politik yang baik dan benar. Sehingga, para politisi tak bisa lagi berpura-pura menjadi seorang greenhorn (sebutan bagi Old Sattherhand) yang selalu bersikap polos (inocent) dan rendah hati namun berani mempertanggung jawabkan atas segala apa yang telah diperbuatnya.&lt;br /&gt;-------&gt;Akhir kata, konfrontasi politik yang sering terjadi, tindakan plesir akhir-akhir ini barangkali perlu diminimalisir dengan meminjam pipa perdamaian milik Winnetou agar konflik tidak semakin berlarut-larut. Atau, bila hal ini tidak cukup, agaknya mereka perlu menerapkan “ritual meminum tetesan darah satu sama lain”. Tujuannya adalah menyadarkan bahwa sesama anggota DPR adalah bersaudara tanpa harus dibedakan oleh sekat-sekat ideologis dan kepentingan individu maupun kelompok. Bila demikian, kehancuran stabilitas politik dapat dihindari. Pada gilirannya, tugas dan kewajiban anggota DPR mengangkat derajat kehidupan rakyat dapat direalisasikan secara optimal. Sebab, rakyatlah pemegang kedaulatan secara penuh di republik ini!!!. Sebab, mereka bukanlah dewa yang tampaknya selalu diagung-agungkan. Dalam konteks ini segala perilaku dan tanggung jawab melaksanakan tugas harian dianggap misi suci. Padahal, tindakan itu sarat dengan budaya korupsi yang tak. Barangkali kita, perlu merenung makna filosofis Vergilius (2004): “Sesungguhnya terlalu gila dan bijaksana mempercayakan Roma kepada perlindungan dewa-dewa… Dan, adalah masuk akal untuk percaya, bahwa bukannya Roma luput dari kehancurannya seandainya dewa-dewa telah binasa sejak lama, seandainya Roma tak berusaha menyelamatkan mereka..”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-6996320225025578516?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/6996320225025578516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/6996320225025578516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2011/06/sumbangan-pemikiran-karl-may-bagi-etika.html' title='Sumbangan Pemikiran Karl May Bagi Etika Politik Politisasi'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-3692594287887450353</id><published>2011-06-08T03:04:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T03:23:42.710-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Mahasiswa Sosok Pahlawan Ideal?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAHASISWA SOSOK PAHLAWAN IDEAL?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;dimuat di koran nasional Jawa Pos, 16 Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-cb6xXiZE5uo/Te9MM1o1x5I/AAAAAAAAA-M/yRlbFqmEL9M/s1600/pahlawan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 237px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-cb6xXiZE5uo/Te9MM1o1x5I/AAAAAAAAA-M/yRlbFqmEL9M/s320/pahlawan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615791043794814866" /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.kompas.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&gt;Setiap bulan November tiba, di benak masyarakat terkenang peristiwa heroik perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan bangsa. Sejarah mencatat, pertempuran rakyat terhadap agresi tentara sekutu berlangsung cukup seru. Banyak hal yang harus dikorbankan terutama di pihak anak negeri sendiri. Inilah puncak epos kepahlawanan nasional dan sekaligus pembuktikan rasa cinta tanah air yang tinggi. &lt;br /&gt;-------&gt;Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai heroisme tersebut dijadikan acuan kaum muda sebagai contoh nyata dalam rangka bela negara. Namun demikian, tulisan kali ini tidak akan membahas persoalan sejauh itu. Tetapi khusus membahas bagaimana  mencari sosok pahlawan di mata kaum muda yang mulai bergeser ditengah serbuan era modernisme. Tepatnya era kontemporer.  &lt;br /&gt;-------&gt;Pada umumnya, pahlawan adalah figur (seseorang atau sekelompok orang) yang berjasa besar menyumbangkan jiwa dan raganya demi hal-hal prinsipil. Tentu saja upaya untuk mewujudkannya dan hasilnya akan membawa dampak positif di masyarakat dari segi humanisme, moral serta pembangunan. Dalam konteks nasionalisme, pahlawan dapat juga diartikan sebagai seseorang yang mengusir penjajah di zaman kolonial. Sosoknya sudah jelas mulai dari karakteristik, tahap-tahap perjuangan, sampai bentuk perjuangan revolusioner beresiko tinggi yaitu dilakukan secara langsung (frontal).&lt;br /&gt;-------&gt;Tampaknya, semuanya itu kurang relevan untuk diterapkan bagi kaum muda. Negeri telah lepas dari penjajahan  -meskipun sekarang terdapat indikasi metamorfosis bentuk kolonialisme baru dalam praktek ekonomi-politik itu persoalan lain-. Lebih dari itu, zaman telah bergerak jauh meninggalkan belakang menuju ke fase (post)modernitas. Sehingga, bentuk pengabdian kepada nusa dan bangsa disesuaikan menurut kebutuhan dan tuntutan zaman. &lt;br /&gt;-------&gt;Yang menjadi permasalahan, esensi pahlawan mulai dikaburkan. Asalkan memenuhi beberapa kriteria, seseorang layak menyandang status sosial "pahlawan". Sehingga, siapapun dapat dimasukkan kedalam kategori ini tak terkecuali kaum muda (mahasiswa). Meski kita memahami bahwa mahasiswa selalu terdepan menanggapi perubahan sosial-politik pemerintahan. Lebih-lebih keberhasilannya mendobrak kebekuan demokrasi untuk kesekian kali, puncaknya kejatuhan "parlemen diktaktoriat" Soeharto dari kursi tahta pemerintahan setelah 32 tahun tiada kekuatan sosial satu pun yang mampu mengusiknya (Nur Elya Anggraini/11/09/04). Tapi, penulis kira, terlalu berlebihan bila kelompok mahasiswa revolusioner ini dianggap mewakili sosok ideal pahlawan masa kini. Bukan lantaran penegakan reformasi sekarang ini berjalan tersendat-sendat. Atau, hilangnya idealisme mahasiswa menjunjung kebenaran dan keadilan. Melainkan, latar belakang mahasiswa yang terlibat hedonisme, seks bebas, narkoba dan perilaku-perilaku negatif lainnya. &lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;-------&gt;Memang benar, tidak ada gading yang tak retak. Artinya, segala sesuatunya pasti memiliki kekurangan dan kebaikan masing-masing. Namun, tidak kita tidak bisa mengagung-agungkan seseorang atau sekelompok orang sebagai pahlawan bila latar belakang kehidupannya penuh diwarnai perilaku negatif.  Sebab perjuangan seorang pahlawan tak dapat dipisahkan dari perilakunya. Dikhawatirkan, segala tingkah laku seorang pahlawan seringkali akan diikuti oleh "pemujanya". Apalagi mereka yang sedang dalam proses pencarian jati diri seperti remaja.&lt;br /&gt;-------&gt;Lantas, bagaimana mencari sosok pahlawan bagi kaum muda? Idealnya, sosok pahlawan nasional-lah yang dapat menjawab pertanyaan ini. Sebab, pahlawan nasional umumnya mewarisi karakteristik yang ideal. Ia bertanggung jawab secara moral dan ideologis (agama), menerapkan prinsip solidaritas-etis, berani mempertahankan kebenaran dan keadilan meski dalam kondisi-kondisi yang terjepit,disiplin tinggi serta sadar akan iptek sebagaimana yang dicontohkan oleh Tan Malaka.   &lt;br /&gt;-------&gt;Nah, dari sini kita diharapkan mulai berhati-hati mencari sosok dan memberikan status pahlawan di kemudian hari. Sebab, pengalaman di era orba (Orde Baru) banyak gelar kehormatan pahlawan diberikan begitu saja untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan penguasa. Amat disayangkan, di jaman reformasi ini sedikit sekali perhatian besar pemerintah untuk menelaah kembali gelar kepahlawanan sarat kontroversi itu. Terbukti, niat baik upaya pelurusan sejarah peristiwa-peristiwa besar beserta kehidupan para pahlawan nasional belum juga ditunjukkan. Padahal ini sangat penting untuk mendidik generasi bangsa akibat mulai "lunturnya" sosok pahlawan sebagai figur panutan karena pengaruh-pengaruh luar (asing). &lt;br /&gt;-------&gt;Akhirnya, tugas penting mahasiswa adalah (kaum muda) adalah mengisi kemerdekaan ini mengingat jerih payah dan pengorbanan pahlawan nasional tiada dibandingkan oleh bentuk apapun. Oleh karena itu, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas, intelektual, adil dan makmur serta menjunjung supremasi hukum. Sudah semestinya, kaum muda merelakan status simbol kepahlawanannya yng dimilikinya agar tidak terjebak sifat narsistik yang berlebihan. Sebab, bumi pertiwi masih menunggu sumbang asih intelektualisme kaum muda baik langsung maupun tidak langsung. Mungkinkah terwujud? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penulis adalah Mahasiswa Fakultas&lt;br /&gt;Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jember&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-c004NzBYR5w/Te9NIjI5DRI/AAAAAAAAA-U/cYHcWciwwQg/s1600/Untitled%2B8.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-c004NzBYR5w/Te9NIjI5DRI/AAAAAAAAA-U/cYHcWciwwQg/s320/Untitled%2B8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615792069621124370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-3692594287887450353?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/3692594287887450353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/3692594287887450353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2011/06/mahasiswa-sosok-pahlawan-ideal.html' title='Mahasiswa Sosok Pahlawan Ideal?'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-cb6xXiZE5uo/Te9MM1o1x5I/AAAAAAAAA-M/yRlbFqmEL9M/s72-c/pahlawan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-5737214519981615350</id><published>2011-01-12T23:30:00.000-08:00</published><updated>2011-03-30T07:58:28.279-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsi'/><title type='text'>POLA PERTEMANAN ANTAR MAHASISWA ORMEK (SKRIPSI)</title><content type='html'>	&lt;strong&gt;POLA PERTEMANAN ANTAR &lt;br /&gt;MAHASISWA ANGGOTA ORGANISASI MAHASISWA EKSTRA KURIKULER (ORMEK)&lt;br /&gt;Studi Deskriptif di FISIP UNEJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S K R I P S I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TOAy8PEMGdI/AAAAAAAAA7E/sibnMv0gIqM/s1600/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TOAy8PEMGdI/AAAAAAAAA7E/sibnMv0gIqM/s320/untitled.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539483552083352018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;picture source :http://www.ewinee.com/2009/05/we-unite.html&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Ujian &lt;br /&gt;Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)&lt;br /&gt;Program Studi Sosiologi&lt;br /&gt;Pada  FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK&lt;br /&gt;UNIVERSITAS JEMBER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;BETA CHANDRA WISDATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen Pembimbing:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM STUDI SOSIOLOGI&lt;br /&gt;FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK&lt;br /&gt;UNIVERSITAS JEMBER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* karya tulis ini dipublikasikan tidak dengan footnote, skema, dan gambar mengingat keterbatasan sifat blog (untuk selengkapnya hubungi penulis) &lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERSEMBAHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan rasa tulus kupersembahkan karya tulis ini kepada:&lt;br /&gt;	-  Ayahanda ......... dan ibunda ...............tercinta   yang &lt;br /&gt;	   telah memberikan curahan  kasih  sayang  dan  bimbingan   &lt;br /&gt;           do'a demi keberhasilanku.&lt;br /&gt;	-  Kakakku: ........................................&lt;br /&gt;	-  Sahabatku:.........................................&lt;br /&gt;           Semoga persahabatan kita tetap abadi!&lt;br /&gt;	-  Bapak ...................  beserta keluarga yang  selama   &lt;br /&gt;           ini membimbing dengan penuh kesabaran. Semoga merestui segala yang &lt;br /&gt;           ada di bumi dalam kehidupan anda!&lt;br /&gt;	-  Bapak dan Ibu dosen  baik mawujud  maupun non-wujud yang selama ini &lt;br /&gt;           mengajarkan ilmu filsafat dan ilmu politik.&lt;br /&gt;	-  Jawa Pos dan Radar Jember yang memuat artikel penulis selama ini. &lt;br /&gt;	-  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Untuk aktivis sejati: Wahai Para Aktivis Bersatulah!!!.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	-  Teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu. &lt;br /&gt;	-  Almamater tercinta.                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MOTTO&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;1. Sederhana dan biasa saja. (Penulis sendiri)&lt;br /&gt;2. Padi makin berisi makin merunduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERNYATAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bertanda tangan di bawah ini&lt;br /&gt;Nama				: Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;Program Studi			: Sosiologi&lt;br /&gt;---------&gt;Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah (Skripsi) ini adalah karya asli, bukan karya plagiat dan merupakan penelitian yang telah dilakukan sendiri di kabupaten Jember dan belum pernah ditetapkan sebagai karya tulis pada institusi manapun.&lt;br /&gt;							      Jember &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;						            BETA CHANDRA WISDATA&lt;br /&gt;						    	       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RINGKASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Bagaimanakah gambaran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek? Apakah mengarah ke bentuk disintegratif ataukah destruktif? Pertanyaan ini seakan menjadi sebuah landasan untuk mengetahui secara mendalam pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej. Pada umumnya, pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej masih memiliki ciri khas yang ekslusif. Ditandai dengan adanya tidak mau bergaul dengan teman yang berbeda ormek. Persoalan ini terlihat dari adanya pengelompokkan mahasiswa yang terdiri dari dua orang lebih berdasarkan ormek tertentu. Banyak hal yang menjelaskan hal ini. Beberapa diantaranya adalah keinginan menjaga hubungan solidaritas yang kuat antar mahasiswa se-ormek, semangat ekslusif yang dibawa dari proses indoktrinasi ormek masing-masing, upaya kaderisasi sehingga memanfaatkan mahasiswa agar dapat masuk sesuai ormek yang dinaungi, perbedaan prinsipil yang dikhawatirkan mampu merusak hubungan pertemanan jika lebih memilih berteman se-ormek&lt;br /&gt;---------&gt;Hal ini tampaknya lebih disebabkan kedewasaan politik di mahasiswa (baca: aktivis) dapat dikatakan masih rendah.  Pada umumnya, mahasiswa terlalu mudah menggenalisir bahwa tindakan individu merupakan tindakan organisasi. Karena itulah selalu ada stigma-stigma negatif berupa sindiran atau canda yang mengakibatkan hubungan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek mengalami pergeseran. Ataupun dapat pula disebabkan akibat perbedaan cara praksis politik, cara pandang dan sebagainya. Salah satu gejala yang cukup unik itu terkadang sampai mempengaruhi di lingkungannya yaitu indekost. Dalam konteks ini, muncul sebuah gambaran imej mengenai perkumpulan beberapa mahasiswa yang berdasarkan ormek tertentu. &lt;br /&gt;---------&gt;Namun demikian, gejala yang cukup unik adalah potensi konflik yang menyebabkan pola pergeseran antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej sengaja dipupuk oleh iklim birokrasi Kampus terutama menjelang momen-momen tertentu seperti pemilihan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) maupun pemilihan dekan. Dalam pemilihan dekan banyak kalangan birokrat kampus mencoba memperluas akses-akses politik dengan mencari dukungan ke mahasiswa. Dengan memberikan sejumlah fasilitas tertentu -misalnya beasiswa- kepada salah satu kelompok ormek, para birokrasi kampus menebarkan praktek-praktek politik negatif. Gejala hal yang paling mencolok adalah birokrasi kampus memberdayakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang memegang peranan penting dalam pembentukan opini untuk menelusuri seberapa jauh kans calon yang bersaing memenangkan pemilihan pemilu dekan. Bahkan untuk memperkuat dukungan ini biasanya melakukan praktek kolusi agar beberapa pihak elit birokrasi kampus yang tergabung dalam ilumni ormek tertentu melakukan praktek yang semakin memperpuruk iklim akademik dan intelektual mahasiswa. Salah satunya adalah mencoba mengangkat dosen yang berdasarkan ormek tertentu yang lebih dekat dengan latar belakang historis atau ilumni kalangan birokrasi elit kampus. &lt;br /&gt;---------&gt;Bahkan ironisnya, potensi konflik yang mengakibatkan kesenjangan pola pertemanan mahasiswa tersebut dibawa kedalam materi perkuliahan, pemberian prestasi akademik berupa nilai lebih kepada mahasiswa yang se-ormek. Di diskusi-diskusi misalnya dosen -terutama mereka yang mengikuti pencalonan pemilu dekan atau PD- menyelipkan isu-isu negatif sehingga mahasiswa yang mendukung salah satu dosen menjadi dekan. Ini pula yang menyebabkan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej yang sampai terbawa ke lingkungannya. Dengan kata lain upaya politisasi dosen terhadap beberapa kelompok mahasiswa menjadikan dan menanamkan potensi konflik diantara mahasiswa anggota ekstrakurikuler mengalami bentuk disintegratif. &lt;br /&gt;---------&gt;Akibatnya pola pertemanan mahasiswa mengalami gejala ekslusif. Seperti yang diungkapkan diatas, mahasiswa menjadi berkelompok-kelompok berdasarkan ormek tertentu. Tidak mau bergaul dengan kawan se-ormek. Menghindari berteman dengan kawan yang berbeda ormek. Disinilah kedewasaan politik mahasiswa dapat dikatakan kurang. Bila hal itu dibiarkan tidak mustahil iklim akademik di kampus akan menjadi parah. Apalagi,  ada upaya politisir dosen ke salah satu ormek tertentu. &lt;br /&gt;---------&gt;Upaya politisir ternyata tidak hanya dilakukan oleh dosen.  Salah satu ormek mencoba mempolitisir beberapa mahasiswa menjelang momentum pemilihan anggota BEM, KKN di Fisip Unej. Disinilah gejala ekslusif, sikap elitisme, praktek politik yang kemudian mempengaruhi pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek menjadi bergeser.  Misalnya salah satu individu tidak diperbolehkan agar berteman dengan salah satu individu dari ormek tertentu. Saling menghina atau mencemooh sesuai basis praksis, stigma serta prinsip adalah gejala yang sering ditunjukkan. Kadangkala jika individu mulai tidak menerima atas perlakuan tersebut bisa bentuk konflik akan semakin terlihat semakin tajam. Inilah yang kemudian mengakibatkan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek menjadi rusak. &lt;br /&gt;---------&gt;Namun ada pula yang mengatakan bahwa pergeseran pola pertemanan dapat dikategorikan wajar. Tetapi, hal ini merupakan bentuk kedewasaan politik yang telah dimiliki oleh individu-invidu. Perlu diketahui, penelitian yang dilakukan oleh peneliti kali ini adalah menggunakan paradigma deskripsi-kualitatif. Artinya fenomena dan temuan lapangan dideskripsikan secara mendalam berdasarkan temuan di lapangan. Dengan menggunakan tekhnik snowballing sampling dan guide interview, data dan fenomena yang diobservasi berdasarkan pengalaman informan mengenai pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek dapat dikuak secara tajam, mendetail dan mendalam. Atau dalam bahasa sebuah tagline, data lapangan akan dapat digambarkan  secara tajam, akurat dan terpercaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR ISI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;							&lt;br /&gt;HALAMAN JUDUL ..................................................... i&lt;br /&gt;HALAMAN PERSEMBAHAN .…………………………………………..	ii&lt;br /&gt;HALAMAN MOTTO ….................................................... iii&lt;br /&gt;HALAMAN PERNYATAAN ................................................ iv&lt;br /&gt;HALAMAN PENGESAHAN ................................................  v&lt;br /&gt;RINGKASAN …………………..................................................  vi&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR ....................................................  ix&lt;br /&gt;DAFTAR ISI ……………………................................................   x&lt;br /&gt;DAFTAR LAMPIRAN …..................................................  xiii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.	PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1.1	Latar belakang Masalah ....................................   1   	&lt;br /&gt;1.2 	Pokok Permasalahan ........................................   5	&lt;br /&gt;1.3	Ruang Lingkup Pembahasan ..................................   6	&lt;br /&gt;1.4	Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................   6  &lt;br /&gt;1.4.1   Tujuan Penelitian .........................................   6&lt;br /&gt;1.4.2   Manfaat Penelitian ........................................   7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5     Tinjauan Pustaka .........................................    7	&lt;br /&gt;1.5.1 Pemahaman Pola Pertemanan ………………………………......................    7&lt;br /&gt;1. Pertikaian  ………………………….........................................    11	&lt;br /&gt;2. Dorongan Kebutuhan Berkelompok ................................    12	&lt;br /&gt;3. Upaya Memperluas Akses Kelompok ...............................    13	&lt;br /&gt;4. Hasil Pola Pertemanan Dalam Berinteraksi ……………………..............    14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2 Konsep mahasiswa ...........................................    16&lt;br /&gt;1.5.3 Pengertian Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek).....    16	&lt;br /&gt;1.6 Metode Penelitian .…………………………………………………........................    17&lt;br /&gt;1.7 Tipe Penelitian ….............................................    17&lt;br /&gt;1.8 Tekhnik Pengumpulan Data Data ................................    18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.8.1 Pengumpulan Data Primer ....................................    18&lt;br /&gt;1.8.2 Tekhnik Observasi ………………………………………...........................    22&lt;br /&gt;1.8.3 Tekhnik Wawancara ………………………………………...........................    22&lt;br /&gt;1.8.4. Penentuan informan ........................................    23	&lt;br /&gt;1.8.5 Pengumpulan Data Sekunder ………………………………......................    24&lt;br /&gt;1.9 Metode Analisa Data ………………………………………………........................    24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II	DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN&lt;br /&gt;2.1 Lokasi Penelitian ............................................    29	&lt;br /&gt;2.2 Gambaran Lokasi Penelitian …….…………………………………...................    30   	    	&lt;br /&gt;III 	ANALISA DATA&lt;br /&gt;3.1. Hubungan Pertemanan di Kampus &lt;br /&gt;3.1.1 Pertemanan Berbeda Ormek ....…..............................    35&lt;br /&gt;3.1.2 Pertemanan Se-ormek ………………..................................    43	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Hubungan Pertemanan di Sekitar Kampus &lt;br /&gt;3.2.1 Pertemanan Berbeda Ormek ..................................	53	&lt;br /&gt;3.2.2 Pertemanan Se-ormek  ......................................	63 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek 		       Menjelang Momen Tertentu &lt;br /&gt;3.3.1 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek 		&lt;br /&gt;Dalam Kaitannya Dengan Momentum Pemilihan Dekan .................	68	&lt;br /&gt;3.3.2 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek 		&lt;br /&gt;Dalam Kaitannya Dengan Momentum Pemilihan Badan Ekse-&lt;br /&gt;kutif Mahasiswa (BEM)...……...................………………………….........	77	&lt;br /&gt;3.3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek 		&lt;br /&gt;Dalam Kaitannya Dengan Prestasi Akademik …..……….................	79&lt;br /&gt;3.3.4 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek 		&lt;br /&gt;Dalam Kaitannya Dengan Diskusi Atau Pemberian Materi Kuliah.....        81 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.	KESIMPULAN ……………………....................................  	85	&lt;br /&gt;	DAFTAR PUSTAKA ........................................	        88     &lt;br /&gt;        LAMPIRAN-LAMPIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR LAMPIRAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 1. Guide Interview.&lt;br /&gt;Lampiran 2. Karakteristik Informan. &lt;br /&gt;Lampiran 3. Skema Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek.&lt;br /&gt;Lampiran 4. Surat Permohonan Ijin Penelitian Dari Lembaga Penelitian Universitas &lt;br /&gt;	         Jember.&lt;br /&gt;Lampiran 5. Surat Permohonan Ijin Penelitian Dari Badan Kesatuan Bangsa dan &lt;br /&gt;	        Perlindungan Masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* nama-nama informan dan sumber didalam penelitian ini sengaja disamarkan sesuai kode etik penelitian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Membicarakan masalah hubungan pola pertemanan  antar mahasiswa agaknya tidak dapat dipisahkan dari aliran politik yang berkembang sedemikian rupa di dunia kampus. Bukan rahasia umum lagi bahwa mahasiswa terkotak-kotak kedalam beberapa aliran politik  atau ideologi menurut garis idealisme masing-masing. Sanit (1999:38) mengungkapkan, ideologi -dalam artian lebih luas- berisi tatanan nilai yang dimanfaatkan oleh individu sebagai pedoman kehidupan bersama dalam rangka meraih harapan-harapan mereka. Dalam pengertian secara khusus, ideologi mengacu kepada seperangkat cita-cita tentang suatu kelompok.&lt;br /&gt;---------&gt;Polemik yang sering terjadi adalah nilai-nilai didalam ideologi (idealisme) yang dianut masing-masing individu bersinggungan dengan ideologi kelompok lain. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik akibatnya hubungan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler di dalam kampus akan terganggu. &lt;br /&gt;---------&gt;Bahkan lebih daripada itu, bila hal ini tidak didasari oleh sikap dan perilaku kedewasaan politik untuk menghargai perbedaan, maka akan terjadi sentimen negatif yang pada gilirannya menimbulkan sikap destruktif antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler (ormek). Akibat lebih lanjut, disadari atau tidak, ini cenderung menumbuhkan ekslusifitas sehingga mereka tidak menyadari bila kemudian hal itu seringkali merusak hubungan persahabatan dengan cara tidak mau bergaul dengan mahasiswa lain yang berbeda aliran politiknya di dalam suatu kampus.&lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala hal itu semua terlihat dari adanya pengelompokkan mahasiswa berdasarkan aliran politik di sudut-sudut kampus. Dalam kerangka politik, alasan utama yang menyebabkan terjadinya kesenjangan atau gap-gap kelompok aliran politik adalah memperteguh kesatuan atau solidaritas didalam kelompok itu sendiri. Apabila dijelaskan dalam pemahaman sosial-politik, persoalan ini disebabkan oleh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.01&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua faktor. Pertama, komunitas politik didalam suatu lingkungan yang sarat pola pertemanan terdapat sebuah prosedur atau tata cara yang mengakibatkan individu untuk melakukan sikap-sikap eklusif. Dalam ruang lingkup ini, semakin besar jumlah individu yang tergabung kedalam kelompok politik tersebut semakin besar pula kesempatan untuk melakukan pelbagai tindakan politik praktis. Politik praktis yang dimaksudkan adalah  melakukan proses indoktrinasi dengan pelbagai cara baik positif maupun negatif. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam pengertian negatif, satu kelompok melakukan proses pemaksaan penyadaran agar individu dapat masuk kedalam kelompoknya. Istilah yang sering dilontarkan di dunia aktivisme adalah kaderisasi. Artinya individu diajak agar menjadi anggota kelompok ormek. Akan tetapi, cara-cara proses politik praktis dalam pemahaman negatif tadi seringkali menggunakan ajakan secara langsung maupun tidak langsung. Ajakan secara langsung, misalnya, individu diberi tawaran terbaik agar dia masuk kedalam kelompoknya. Bahkan dapat dilakukan dengan cara yang sangat riskan sekalipun. Misalnya memberikan isu-isu negatif antara ormek satu terhadap ormek yang lain. &lt;br /&gt;---------&gt;Ada dua hal yang seringkali dilakukan. Misalnya dalam pengertian politik perang Tzun Zu, individu dibuat mengalami keterasingan (alienasi) dengan dijatuhkan mental lawan terlebih dahulu. Dalam konteks ini, individu disindir dan dijelekkan dalam bentuk tutur kata dan sikap oleh kelompok lain yang berbeda secara ideologi. Dalam keadaan semacam itu, individu akan merasa bahwa dia telah kehilangan martabatnya sebagai makhluk politik. Jika hal itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan bahwa individu akan melakukan tindakan destruktif yang kemudian menciptakan konflik fisik. Persoalan tersebut lebih diakibatkan kurangnya semangat kedewasaan politik serta masih bercokolnya semangat ekslusif untuk mempertahankan nama baik kelompok masing-masing.&lt;br /&gt;---------&gt;Sikap ekslusifitas dalam pemahaman organisasi terkadang memang sengaja di tumbuhkan (Etzioni, 1982: 119). Definisi sikap ekslusif dalam pengertian sosiologis disini bertujuan memperkokoh hubungan solidaritas antar sesama mahasiswa se-ormek.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 02&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dimaksudkan dan dilakukan dengan menanamkan jiwa atau identitas politik yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain. Melalui pelaksanaan prinsip propaganda hitam kadangkala kelompok satu dengan kelompok yang lain memberikan kesan pencitraan negatif. Tentu saja kesemuanya ini diwujudkan baik secara simbolis maupun non simbolis. Misalnya, kelompok A menjelek-jelekkan kelompok B, demikian sebaliknya. Akibatnya, makna rasionalitas menjadi hilang tergantikan semangat egoisme kelompok. &lt;br /&gt;---------&gt;Ironisnya, jika propaganda hitam ini dijadikan sebagai "ideologi" oleh individu yang menjadi anggota kelompok atau ormek tersebut mampu mempengaruhi dalam berinteraksi sosial individu. Lebih tepatnya lagi hubungan pertemanan antar sesama. Terkadang, persoalan itu dibawa sampai ke persoalan pribadi. Karena itu, ketika bertemu dengan kawan-kawan yang berbeda ormek, sikap-sikap tidak simpatik seringkali ditunjukkan. Hal itu kemudia mempengaruhi lingkungan individu. Dalam hal ini indekost.  Bahkan, kadangkala individu tidak dapat membedakan kapan waktunya berpolitik dan kapan menjalin hubungan sosial yang lebih akrab antar sesama. &lt;br /&gt;---------&gt;Hal ini mudah dipahami. Pada hakikatnya, mahasiswa dapat dikategorikan sebagai politisi muda. Mahasiswa cenderung mempraktikan intelektual baik langsung maupun tidak langsung yang diperolehnya selama duduk di bangku kuliah. Dengan kata lain, pedoman dan pandangan politik mahasiswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan kedewasaan intelektual dan kedewasaan politik yang bersangkutan. &lt;br /&gt;---------&gt;Apabila mahasiswa telah mampu menemukan membedakan kapan untuk berteman dan berpolitik dapat dikatakan dua elemen penting ini dapat dipenuhi. Dalam momen-momen tertentu, mahasiswa mengambil langkah praktis sesuai kepentingan subyektif kelompoknya yang bukan lagi berdasarkan kematangan pola pikir intelektualnya. Tentu saja, tujuan yang ingin diraih mewakili kepentingan subyektif kelompoknya masing-masing. Apalagi didalam politik tidak mengenal kawan yang abadi. Persoalan ini tidak dapat dipisahkan manusia sebagai homo politicon (Plato, 2003:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sebagai homo politicon, individu melakukan berbagai tindakan politik yang dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya, sikap-sikap oportunis politik dan politik menghalalkan cara dengan memanfaatkan segala akses politik demi memenuhi kepentingan subyektif masing-masing selalu dikedepankan terutama dalam hal merebut kekuasaan. Kekuasaan jika dikategorikan kedalam mahasiswa, bukanlah dipergunakan untuk mencari kebutuhan materi. Melainkan lebih merupakan meraih kedudukan dan status sosial. Nampaknya, makna orientasi politik yang semula ditujukan untuk saling menjatuhkan satu sama lain tergantikan oleh hubungan persahabatan lebih erat, dinamis dan harmonis. &lt;br /&gt;---------&gt;Dengan menyatukan persepsi ideologis dan kepentingannya, identitas politik yang dipertahankan dikesampingkan. Tanpa disadari, mahasiswa merupakan "kekuatan tersembunyi" yang mampu mengarahkan perubahan sosial didalam kampus. Bila hal itu bertujuan positif dalam pengertian sebenarnya, dinamika kehidupan intelektual di kampus menunjukkan perkembangan signifikan. Sebaliknya, jika bergeser ke tujuan negatif, keadaan itu malah memperparah dinamika kehidupan intelektual kampus. Persoalan primordialisme yang didahulukan kiranya dilakukan demi memperluas akses kelompok masing-masing.&lt;br /&gt;---------&gt;Bila demikian, potensi-potensi rusaknya hubungan solidaritas antar sesama mahasiswa anggota ekstrakurikuler menjadi rusak dan akan terus terpupuk dan direproduksi sepanjang tahun secara turun-temurun oleh komunitas akademik sendiri. Jangan heran bila hal ini terus dibiarkan berkembang tanpa kendali maka akan terjadi akumulasi “dendam akademik” di antara mahasiswa yang berbeda ideologi atau berbeda ormek. Permusuhan di antara mereka akan kian mengkristal bagaikan bola salju seiring berlalunya waktu. &lt;br /&gt;---------&gt;Akibat negatif lainnya adalah kehidupan akademik di kampus tidak dapat berfungsi secara optimal. Kadangkala diskusi-diskusi akademik sangat ditunggangi oleh kepentingan subyektif baik dari pihak mahasiswa maupun birokrasi kampus. Akibatnya, diskusi-diskusi akademik menjadi bias idelogi sehingga bobot ilmiahnya luntur karena masing-masing mempertahankan untuk membenarkan ideologi politiknya yang ditunjukkan dalam runtuhnya hubungan sosial (persahabatan) antar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 04&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesama mahasiswa anggota ormek di kampus. Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, mahasiswa memiliki kiprah penting untuk mendinamisasi keadaan intelektual kampus.&lt;br /&gt;---------&gt;Apabila dilihat secara historis proses mendinamisasi keadaan intelektual di Kampus sangat dipengaruhi oleh kebijakan Orba NKK/BKK. Pada saat itu, birokrasi kampus sangat mudah memanfaatkan beberapa ormek untuk kepentingan pragmatis belaka. Di pihak aktivis mahasiswa, akses-akses memanfatkan organisasi inta ekstrakurikuler demi memperbesar jaringan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Bila demikian usaha keadaan intelektual di kampus kurang dapat berkembang. Malah sebaliknya akan jauh terpuruk.	&lt;br /&gt;---------&gt;Oleh karena itu tampaknya ada kaitan secara langsung antara hubungan sikap eksklusif antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler dengan kehidupan dinamika intelektual yang terdapat di dalam kampus. Dalam konteks ini penulis tidak akan mengulas mengenai pergerakan mahasiswa dalam gerakan penumbangan reformasi di pertengahan Mei 1998. Karena masalah tersebut telah sampai pada skala nasional yang jelas-jelas sangat tidak kontekstual. Sebaliknya penulis lebih mengulas masalah aktivisme dari skala mikro. Oleh karena itu, dari ulasan yang mendasar diatas maka penulis tertarik mengangkat penelitian kali ini dengan judul "Pola Pertemanan Antar Sesama Mahasiswa Anggota  Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek) Studi Deskriptif di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ)".  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.2 Pokok Permasalahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Dari sekilas latar belakang realitas fenomena tersebut, pokok permasalahan penelitian kali ini yaitu:&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah gambaran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ? &lt;br /&gt;2. Apakah pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ mengarah destruktif atau integratif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.3 Ruang Lingkup Pembahasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Suatu penelitian memerlukan ruang lingkup pembahasan agar mampu memberikan arah maupun peta yang jelas dalam menentukan penelitian nanti. Ataupun juga, ruang lingkup permasalahan merupakan fokus perhatian besar seorang peneliti agar konsep penelitian tidak melebar ke berbagai sisi. Berpijak pada landasan ini, maka penelitian kali ini terfokus pada pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler di kampus. &lt;br /&gt;---------&gt;Penelitian ini mengkhususkan pada pola pertemanan yang dikaji dan dibatasi oleh bingkai pengelompokkan ormek. Dalam konteks ini, masalah yang dibahas yaitu berupa pertemanan se-ormek dan pertemanan berbeda ormek, pertemanan dalam momen tertentu dan pola pertemanan yang kemudian mempengaruhi lingkungannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;1. 4.1  Tujuan Penelitian&lt;/strong&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Usman (2003:29), tujuan penelitian ialah pernyataan mengenai apa yang hendak kita capai. Tujuan penelitian dicantumkan dengan maksud agar kita maupun pihak lain yang membaca laporan penelitian dapat mengetahui dengan pasti apa tujuan penelitian kita itu sesungguhnya. Berpijak dari landasan ini, maka tujuan penelitian kali ini adalah mengetahui dan mendeskripsikan dan menggambarkan pola pertemanan di antara sesama mahasiswa anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler di FISIP UNEJ. &lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu tujuan lebih khusus lagi, penelitian kali ini, dapat mengetahui pokok persoalan yang melatar belakangi pola pertemanan antar mahasiswa di FISIP UNEJ. Dengan demikian, tujuan penelitian ini -jika dilihat dari segi praktis- diharapkan mampu mengetahui gambaran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.4.2  Manfaat Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Didalam sebuah penelitian kegunaan penelitian sangat penting untuk memberikan sumbangan pemahan dari sebuah penelitian. Adapun kegunaan penelitian kali ini penelitian ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi pijakan dasar bagi penelitian sejenis. &lt;br /&gt;2. Penelitian  ini  diharapkan  mampu  dijadikan  refleksi sikap dan  tingkah laku  bagi mahasiswa  khususnya  para  aktivis dan elit birokrat  kampus  untuk     memajukan iklim intelektual di FISIP UNEJ.&lt;br /&gt;3. Penelitian  ini  diharapkan  mampu  menjadi  sumbangan  bagi  pengembangan ilmu &lt;br /&gt;  pengetahuan khususnya program studi Sosiologi di FISIP UNEJ secara institusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Tinjauan Pustaka&lt;br /&gt;1.5.1 Pemahaman Pola Pertemanan &lt;br /&gt;---------&gt;Apabila kita mendefinisikan pola pertemanan lebih lanjut, pola pertemanan adalah mencakup persoalan solidaritas, hubungan pertemanan dan persahabatan antar sesama. Pola pertemanan terlihat dari tingkah laku atau tata cara interaksi yang dilakukan diantara sesama individu dan kelompok. Dalam pemahaman yang sama, Parsons dalam Soekanto mengungkapkan (1986: 43-44):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;Sebagai sistem sosial, pola pertemanan   mengatur    interaksi      antar individu menghadapi empat macam pola. Pertama, adaptasi. Dalam 	keadaan laten, adaptasi berkaitan dengan masalah "mengambil" 	fasilitas penting disesuaikan dengan kebutuhan pribadi dan kelompok. 	Dengan memberdayakan segala kemampuan  pencapaian tujuan 	(poin 	kedua) yang menyangkut masalah penetapan prioritas dan 	tujuan-	tujuan prinsipil. Ketiga, integrasi. Menunjuk pada pemeliharaan 	Pola pertemanan antara unit-unit sistem. Dan terakhir, 	fungsi laten yang mencakup masalah pemeliharaan pola dan 	pengelolaan konflik atau pertikaian&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, dalam kancah politik, pola pertemanan antara individu maupun kelompok rawan sekali  terjadi konflik. Dalam pengertian tertentu, konflik ini ditunjukkan dengan bahasa-bahasa simbolis yang bernada menyindir dan sedikit sarkasme. Ini bermaksud agar individu atau kelompok memahami makna itu. Jika tidak ada komunikasi yang jelas, intrepretasi semakin terdistorsi. Dalam kondisi sosial demikian mengandaikan kemungkinan mengatasinya dalam suatu refleksi. Refleksi dalam pemakanaan ini masih bersifat subyektif karena individu tidak dapat dipisahkan dari cara pandang terhadap kebutuhan-kebutuhan ideologis dan kelompok politiknya. &lt;br /&gt;---------&gt;Saat itu, kebanyakan individu mulai mengetengahkan penempatan dirinya didalam kelompok. Sebab, sebagai makhluk rasionalitas, individu mengalami pencerahan untuk menemukan pemaknaan baru yang terjadi dalam mengadakan pola pertemanan didalam kelompok. &lt;br /&gt;---------&gt;Disinilah individu atau kelompok membentuk sekaligus menggabungkan diri secara gemeinschaft atau gemeinself. Gemeneinschaft adalah penyatuan individu-individu dalam bentuk paguyuban. Sementara gemeinshelf adalah penyatuan individu-individu dalam bentuk non paguyuban. &lt;br /&gt;---------&gt;Pola pertemanan didalam gemeinschaft, individu  satu sama lain terbentuk berdasarkan kepentingan organis-mekanis dalam pengertian Durkheiman. Individu mulai tidak melihat hal-hal yang bersifat fisik merupakan penghalang menyatukan satu sama lain. Karena itu, pola pertemanan diantara sesama individu terjaga. Bahkan relatif kuat diiringi ikatan emosional yang lebih akrab. Sebab, sebagai kebutuhan hidup berkelompok, individu menghilangkan kesan unsur mendominasi satu sama lain. Sebaliknya, sikap kepemimpinan atau kedewasaan politik ditunjukkan. &lt;br /&gt;---------&gt;Untuk menghadapi dillema yang tidak diinginkan, keharmonisan satu sama lain yang dalam representasi solidaritas menjadi sebuah sistem sosial yang menjauhkan kepentingan ideologis atau politis. Dengan adanya, kesatuan menyatukan kepentingan organis individu mengabaikan kepentingan ideologis dan politis sehingga pola pertemanan semakin akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Kalau sudah demikian, efek emosional yang mengakibatkan pertentangan lebih parah dapat diredam. Suasana sosial didalam momentum tertentu menunjukkan gejala tertib. Karena satu sama lain semakin memahami makna solidaritas.  Lantaran itu, perubahan sosial yang mengarah negatif tidak akan terjadi. Bahkan, proses pola pertemanan individu semakin menunjukkan gejala yang dinamis. &lt;br /&gt;---------&gt;Namun, tidak tertutup kemungkinan, pola pertemanan malah terdapat sisi-sisi persinggungan. Karena, perbedaan cara pandang terhadap praksis ideologi, kekuasaan dan kepentingan kelompok. Pada hakikatnya, individu adalah makluk yang tampaknya melakukan konflik dengan yang lain karena dorongan naluriah.  Simmel dalam Soekanto (1986:67) mengungkapkan ada kemungkinan sikap bermusuhan hal ini disebabkan karena dorongan spontan, memperkuat solidaritas didalam kelompok yang satu, saling mengacuhkan satu sama lain akibat kesalahpahaman, prinsip-prinsip pertikaian yang disepakati atau disengaja serta konflik kepentingan. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam hal ini kepentingan yang bertentangan pertikaiannya dan prosesnya dipisahkan dari kepribadian. Ada kemungkinan bahwa 	pertikaian itu hanya menyangkut unsur-unsur tertentu di luar masalah 	pribadi. Kadangkala pertikaian itu menyangkut kebencian yang tidak 	ada manfaatnya dilakukan secara intens dan berulang-ulang…. 	Pertentangan antara kesatuan antagonisme mungkin paling tampak, 	kedua fihak mengejar tujuan yang sama. Apabila tujuan sama yang ingin dicapai merupakan dasar pertikaian, maka proses itu mungkin 	terjadi dengan cara yang agak tercela…. Sementara itu, saat kesatuan 	merupakan titik tolak dan landasan pola pertemanan dan pertikaian 	terjadi mengenai kesatuan itu, maka sintesa antara monisme dengan 	antagonisme hubungan mungkin menghasilkan keadaan yang 	sebaliknya. Pertikaian semacam ini, biasanya lebih radikal apabila 	tidak memenuhi syarat-syarat mutual (Simmel dalam Soekanto 1986: 	34-35).&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, pola pertemanan pemahaman Parsons dalam Soekanto (1986:113) mengemukakan bahwa pola pertemanan sebagai tindakan sosial menekankan orientasi subyektif yang mengendalikan pilihan-pilihan individu. Pilihan-pilihan ini secara normatif diatur atau dikendalikan oleh nilai dan standar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;normatif bersama. Hal ini berlaku untuk tujuan-tujuan politik yang ditentukan individu. Bahkan memenuhi kebutuhan fisik yang mendasar dalam pengaturan normatifnya. Prinsip-prinsip ideal ini mengendalikan tipe perilaku manusia dalam kaitannya dengan pola pertemanan. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam pemahaman lebih lanjut lagi, orientasi individu atau kelompok tersebut dibagi sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tabel)&lt;br /&gt;Orientasi Motivasi ----	Orientasi Nilai&lt;br /&gt;Dimensi kognitif	Dimensi kognitif&lt;br /&gt;Dimensi katetik	Dimensi apresiatif&lt;br /&gt;Dimensi evaluatif	Dimensi moral&lt;br /&gt;Sumber: Parsons Soeryono Soekanto (1986:114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Parsons dalam Soekanto (1986:114-115), apabila dijelaskan hal tersebut, dimensi kognitif dalam orientasi motivasional menunjuk pada pengetahuan politik individu yang bertindak itu mengenai situasi kelompoknya masing-masing dalam kaitannya dengan pola pertemanan. Dimensi ini mencerminkan kemampuan dasar manusia untuk membedakan antara rangsangan-rangsangan pola pertemanan yang berbeda dan membuat generalisasi dari suatu rangsangan pola pertemanan yang lainnya. &lt;br /&gt;---------&gt;Dimensi katetik dalam orientasi motivasional menunjuk pada reaksi afektif pola pertemanan politik dari individu yang bertindak itu terhadap situasi atau pelbagai aspek pola pertemanan didalamnya. Ini juga mencerminkan kebutuhan dan tujuan individu maupun kelompok berdasarkan ideologi masing-masing. Umumnya individu memiliki suatu reaksi emosional positif terhadap elemen-elemen dalam lingkungan itu yang memberikan kepuasan pola pertemanan atau dapat digunakan sebagai alat dalam mencapai kekuasaan. &lt;br /&gt;---------&gt;Dimensi evaluatif , dalam orientasi motivasional menunjuk pada dasar pilihan seseorang antara orientasi pola pertemanan dalam konteks politik. Pada gilirannya akan mengarah kepada hakikat pertikaian dalam pola pertemanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Simmel dalam Soekanto (1986:77), hakikat pertikaian ini secara sosiologis melihat beberapa poin penting berikut ini. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt; 1. Pertikaian &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sebagai unit terkecil, kehidupan individu membentuk kelompok yang yang sifatnya subyektif sekali. Karena itu, pertikaian dianggap sebagai bentuk kerjasama kepentingan politik antara sesama individu atau kelompok. Gejala pertikaian ini dilihat dalam kancah politik menyeragamkan perbedaan. Kadangkala, makna-makna simbolis dimaknai bukan sebagai penjatuhan individu atau kelompok malah dilihat sebagai sesuatu yang masih dalam taraf wajar. Dalam hal ini, salah satu pihak mulai ada kedewasaan politik yang ditandai dengan sikap mengalah. Karena itu dinamika keretakan diantara hubungan persahabatan antar sesama tidak terjadi. Hal ini biasanya terlihat dalam makna tingkah laku secara simbolis yang mengungkapkan bagaimana solidaritas tercipta kuat-kuat.&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu,  pola pertemanan mengalami ketidakstabilan apabila terjadi keretakan antar sesama. Hal ini disebabkan akibat adanya kesalah pahaman dan bahkan pandangan negatif satu sama lain yang membentuk karakter individu tersebut sehingga mempengaruhi dalam bergaul. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam keadaan yang berbeda, perbedaan prinsipil dilihat berdasarkan interaksi sosial pola pertemanan antara individu satu dengan yang lain. Relevansi sosiologis pertikaian tersebut disamakan dalam konsep kesatuan. Artinya, setiap keutuhan pribadi hanya melalui penyerasian, akan tetapi juga kadang-kadang melalui pertikaian. Sebagaimana yang diungkapkan Simmel dalam Soekanto (1986:15) kesalahpahaman meningkatkan timbulnya perpecahan dalam pengetian positif yang efeknya dapat dirasakan secara personal maupun kelompok. &lt;br /&gt;---------&gt;Hal ini disebabkan oleh karena gambaran lain akan timbul apabila pertikaian dipandang dari sudut pola pertemanan dengan 	membentuk 	interaksi yang terpengaruh oleh kepentingan 	kelompok. (Simmel dalam Soekanto, 1986:16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itu, pola pertemanan akan membentuk kontinuitas struktur sosial dalam jangka waktu tertentu mengikatkan diri pada fungsi-fungsi konkrit. Bagaimanapun juga, kondisi kepentingan politis semakin mengarahkan penyatuan satu sama lain menghadapi kebutuhan ideologis kelompoknya.  Dalam fase ini, penyatuan satu sama lain dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan latar belakang historis kelompoknya masing. Di tingkatan atas, hal itu menyebabkan persinggungan diantara di tingkatan bawah akibat perebutan kekuasaan yang dicontohkan oleh individu atau kelompok di tingkatan atas.  &lt;br /&gt;---------&gt;Di tingkatan atas cara yang dilakukan memang lebih sempurna bila dibandingkan dengan tingkatan bawah. Namun, umumnya cara menggapai kekuasaan diatas sama yaitu tim-tim yang dibentuk sesuai dengan kinerjanya masing-masing. Tentu saja hal demikian akan berpengaruh terhadap hubungan pola pertemanan di tingkatan bawah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Dorongan Kebutuhan Berkelompok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Didalam melakukan aktivitasnya individu menggabungkan diri kedalam kelompok untuk mempraksiskan segala pengalaman politik yang dimilikinya. Hal ini ada hal yang bersifat ideologis dan cara pandang terhadap sesuatu. Dalam hubungan yang akrab, bermusuhan adalah tindakan-tindakan merusak hubungan didalam suatu individu atau kelompok menjadi rusak. Karena kebencian adalah hal yang dapat diasumsikan sebagai dorongan merespon terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di dalam individu atau kelompok dalam lingkup pola pertemanan.&lt;br /&gt;---------&gt;Dorongan itu ada yang bersifat lahiriah dan non lahiriah. Demikian pula halnya, dorongan spontan yang menggabungkan individu terjun kedalam organisasi, Ada kemungkinan besar, unsur kedewasaan politik melerainya. Artinya, daya tarik ideologi dan kedewasaan politik yang dimiliki individu sisi satu dalam keadaan tertentu menjadi lebih utama. Karena itu, keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki dihilangkan. Ada hal yang mengakibatkan dimensi pertikaian adalah hal yang tidak perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Apabila ditunjang dengan pelbagai perbedaan mendasar dalam cara pandang ideologis, kelompok semakin menyatu. Karena, kepahaman ini yang membentuk individu berkelompok didalam suatu organisasi atau kelompok. Menurut Simmel dalam Soekanto (1986:98), keterbatasan yang ada dihilangkan bahkan dinetralisir dengan cara-cara bijak. Yaitu, menghilangkan unsur primordialisme demi kebutuhan bersama. Ataupun juga menghilangkan semangat eklusifitas dan menggantikannya dengan kedewasaan politik.&lt;br /&gt;---------&gt;Sebab, permusuhan didalam pola pertemanan yang dilakukan individu berdasarkan unsur primordialisme adalah sesuatu yang alamiah dan wajar. Sikap permusuhan muncul akibat kesalahan identifikasi individu terhadap yang lainnya baik secara personal maupun kelompok. Dalam kenyataan jika diiringi dengan unsur prasangka maka tanpa disadari akan memicu dampak yang lebih buruk. Misalnya, pihak A menanamkan kecurigaan kepada pihak B karena motivasi tertentu. Individu akan akan memutuskan dari suatu kelompok tersebut. &lt;br /&gt;---------&gt;Namun karena manusia secara naluriah adalah makhluk sosial maka individu itu akan berusaha masuk ke kelompok lain sesuai kepentingan dan tujuan subyektif dirinya sendiri. Atau bisa saja individu tersebut membentuk kelompok baru berdasarkan kepentingan-kepentingan urgen sebagai makhluk politik. Tentu saja kesemuanya ini dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sadar. Dalam artian, tidak ada unsur pemaksaan sedikitpun agar individu masuk kedalam kelompok yang baru.&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam proses ini, individu merefleksikan diri kesalahan-kesalahan yang terdapat didalam dirinya dan kelompok tersebut. Dengan kata lain, individu melakukan proses otokritik. Yaitu individu merasa bahwa sikap-sikap kesalahan eklusifme politik adalah hal yang salah. Bila demikian, syarat-syarat kedewasaan politik telah terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Upaya Memperluas Akses Kelompok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Didalam pola pertemanan dalam pemahaman politik, terdapat sebuah usaha konspirasi untuk merenggangkan nilai-nilai harmonitas yang tercipta sedemikian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rupa. Dalam tataran ini, inovasi tindakan politik yang dilakukan adalah memanfaatkan akes-akes kelompoknya. Upaya politisir dapat dilakukan dengan berbagai cara. Tergantung dari kebutuhan subyektif memperbesar kekuasaan kelompok. Disinilah akses-akses politik di dalam suatu internal organisasi di tingkatan bawah dimanfaatkan (dipolitisir) oleh birokrasi atas. Tentu saja hal demikian ada bargaining politik untuk memperkuat citra positif individu masing-masing. Apabila dilihat secara lebih rinci, bargaining politik yang terjadi antara tingkatan atas dan tingkatan akses politik dibawahnya  disertakan pula fasilitas-fasilitas yang memadai agar tehknik konspirasi nepotisme dapat dilakukan.&lt;br /&gt;---------&gt;Maka, berlangsunglah kemudian terjadi penciptaan opini agar memberikan kesan bahwa kelompok satu lebih baik. Ini dimaksudkan agar kekuatan politik diatas menjadi lebih memadai secara prinsipil untuk bersaing lebih dengan kelompok lain. Dalam perkembangan selanjutnya, momentum-momentum yang berkaitan dengan hal itu dimanfaatkan. Akibatnya, usaha-usaha pencapaian akses-akses politik lebih dapat diberdayakan. &lt;br /&gt;---------&gt;Pemanfaatan tersebut merupakan sesuatu hal yang lumrah dalam konteks politik. Sebab, setiap kelompok pasti akan memberikan sumbangan yang terbaik untuk mendahulukan kepentingan masing-masing. Namun demikian, didalam konteks politik tidak mengenal kawan maupun lawan yang abadi. Sebaliknya, yang dikenal adalah kepentingan adalah segala-galanya. Dengan demikian, pola-pola pertemanan akan menjadi rusak. Sebab satu sama lain berusaha memasukkan doktrinasi atau pengaruhnya satu sama lain demi meraih simpati. Dalam kaitannya dengan pola pertemanan, doktrinasi untuk memperkuat satu sama lain dilakukan dengan pelbagai cara termasuk jalan pintas sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Hasil Pola Pertemanan Dalam Berinteraksi	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam melakukan aktivitas pola pertemanan sehari-hari, akan nampak hasil interaksi yang sangat dipengaruhi oleh cara pandang, ideologi dan pemahaman terhadap lingkungan sekitarnya.  Karena didalam pola pertemanan unsur-unsur yang sangat kompleks sifatnya mempengaruhi keadaan motivasi individu. Menurut &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Simmel dalam Johnson (2004: 252), hasil pola pertemanan dalam berinteraksi mengakibatkan dua macam pola. Yaitu, konflik dan kekompakkan. Dalam bentuk-bentuk konflik, keadaan antagonistk mengatur hubungan yang tidak intim. Konflik antar kelompok misalnya cenderung mewujudkan usaha-usaha permusuhan dan mengakibatkan pergeseran pola pertemanan semakin tajam.&lt;br /&gt;---------&gt;Lebih lanjut lagi, dalam keadaan seperti itu simbol-simbol diberikan oleh suatu kelompok kepada individu. Misalnya penghianat. Pada dasarnya, persaingan yang mempengaruhi dua pihak individu atau kelompok menyebabkan motivasi dalam kesenjangan di tingkatan cara pandang. Pada gilirannya, bentuk-bentuk kekecewaan kemudian ditunjukkan baik secara langsung maupun tidak langsung. &lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, konflik antara kelompok dalam dan kelompok luar dinyatakan oleh Simmel dalam Johnson (2004:269), terdapat komitmen moral untuk memasukkan kepentingan diri atau individualistik. Oleh karena itu, konflik yang kemudian memberikan arahan kesenjangan menghasilkan pembentukan kelompok baru yang terdiri dari individu-individu atau kelompok-kelompok yang sebelumnya acuh tak acuh atau malah saling bertentangan.  Dalam beberapa hal, keadaan ini seringkali ditunjukkan dalam keadaan persahabatan yang "sepakat" dan tidak sepakat (aggree to disagree). &lt;br /&gt;---------&gt;Hasil lainnya adalah keunikan bentuk karakteristik individu akan ditanggapi dan mungkin menjadikan hubungan pola pertemanan menjadi lebih intim lagi. Hal ini akan menimbulkan sikap ekslusif yang tanpa disertai perasaan-perasaan positif. Bahkan, penghinaan atau kekecewaan yang ditunjukkan mungkin dirasakan akan jauh lebih menyakitkan dan kemudian secara emosional mengakibatkan keakraban kurang terjalin. Memperhatikan fenomena seperti itu, pola pertemanan akan menjadi semakin kontras dengan sikap-sikap yang ditunjukkan. Bila demikian, hasil yang didapatkan akan menunjukkan hal-hal yang mengalami pergeseran, sikap dan perilaku tidak simpatik, kekecewaan, konflik dan hubungan solidaritas yang renggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;1.5.2 Konsep Mahasiswa &lt;/strong&gt;	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Konsep mahasiswa kali ini adalah seseorang yang menempuh pendidikan di FISIP UNEJ. Dalam kaitannya dengan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler, individu harus pernah ikut baik aktif maupun tidak aktif didalamnya. Pemahaman aktif, individu tercatat sebagai anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Sementara itu, mahasiswa yang tidak aktif lagi. Artinya individu keluar dari keanggotaan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Disini individu disebut dengan mantan aktivis. &lt;br /&gt;---------&gt;Penting untuk dicatat, mahasiswa yang pernah memiliki hubungan khusus yaitu pernah ikut dan berpindah-pindah menjadi anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler yang kemudian memutuskan untuk keluar dari struktur tersebut, maka perlu diberikan "perhatian" lebih. Demikian halnya, dengan individu yang mengenal seluk beluk dunia aktivisme meskipun ia bukan terlibat aktif dalam anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler.&lt;br /&gt;---------&gt;Untuk menghindari penjelasan yang dianggap subyektif individu-individu itu akan diambil dari sebagai sudut pandang obyektif untuk membantu peneliti memahami lebih lanjut pola pertemanan antar sesama mahasiswa organisasi ekstrakurikuler. Mengingat rawannya sebuah penelitian yang mengkaji pertentangan ideologi, cara pandang aliran politik individu atau kelompok didalam berinteraksi dan melakukan menjalin pola pertemanan antar sesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.5.3 Pengertian Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek)&lt;/strong&gt;---------&gt;Pengertian organisasi mahasiswa ekstrakurikuler (ormek) kali adalah suatu kelompok mahasiswa yang  memiliki struktur keanggotaan dan wilayah teritorial tidak dibawah Universitas. Organisasi mahasiswa ekstrakurikuler memiliki basis-basis massa yaitu mahasiswa. Organisasi mahasiswa ekstrakurikuler, kedudukannya pun berada di luar struktur Universitas. &lt;br /&gt;---------&gt;Secara garis besar, organisasi mahasiswa ekstrakurikuler di FISIP UNEJ terdiri berbagai macam menurut politik aliran sesuai yang digunakan sebagai landasan ideologi membentuk kolektif.  Yaitu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kelima ormek ini merupakan kajian utama yang akan diteliti. Peneliti tertarik untuk mengkaji hubungan pola pertemanan kelima ormek itu. Karena, disadari atau tidak, kelima ormek tersebut sangat mempengaruhi dalam mendinamisasi keadaan birokrasi dan akademik-intelektual kampus, hubungan solidaritas atau pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek. &lt;strong&gt;Berdasarkan, kode etik penelitian metode ilmiah sebagaimana yang diungkapkan oleh Bungin (2003:99), peneliti berhak menggunakan simbol-simbol warna tertentu untuk menyebut kelompok-kelompok ormek tersebut.&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.6 Metode Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Ketika hendak mengkaji fenomena yang dijadikan obyek penelitian, seorang peneliti memerlukan  pijakan dasar metodologi penelitian. Hal ini sangat penting agar seorang peneliti tidak menemui sejumlah kendala sejumlah lapangan. Dalam banyak hal, metodologi penelitian memiliki seperangkat aturan-aturan normatif yang mengarahkan seorang peneliti. Menurut Bungin (2001: 40) metodologi penelitian adalah sebuah cara konvensional atau pendekatan yang efektif untuk mengarahkan agar peneliti mampu menjelaskan fenomena di lapangan.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.7 Tipe Penelitian&lt;/strong&gt;---------&gt;Tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti kali ini menggunakan tekhnik deskriptif dan kualitatif. Menurut Bungin (2001:85) tekhnik deskriptif adalah tipe penelitian yang menggambarkan secara rinci mengenai obyek penelitian atau fenomena yang dikaji. Demikian halnya dengan tekhnik kualitatif. Bungin (2001:87) mengungkapkan bahwa tekhnik kualitatif adalah memaparkan informasi sedemikian rupa berdasarkan pengamatan lapangan yang didapatkan dan menekankan data primer.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.8 Tehnik Pengumpulan Data  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Untuk menggali data atau informasi yang terkait, penulis melakukan wawancara mendalam (indepth interview). Menurut Bungin (2001:43), wawancara mendalam merupakan tekhnik penggalian yang dilakukan secara mendetail terhadap fenomena yang dikaji. Ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran fenomena sesungguhnya yang diteliti. Dengan demikian tekhnik penggalian data dengan cara indepth interview merupakan langkah efektif menggali fenomena di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.8.1 Pengumpulan Data Primer&lt;/strong&gt;---------&gt;Beranjak dari pemahaman tersebut maka dapat diperoleh sebuah rumusan penting tentang metode penelitian tentang pengumpulan data primer. Hal ini berkaitan dengan metode penelitian yang merupakan upaya penting menjajaki arti-arti tersembunyi dari tingkah laku manusia. Apabila dikaitkan dalam pola pertemanan di dalam FISIP UNEJ banyak sekali tingkah laku hubungan pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek menampakkan gejala yang cukup unik. Dikatakan unik karena mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler umumnya masih terjebak dalam pandangan yang ekslusif. Artinya individu akan melihat tujuan dan latar belakang apakah individu tersebut memiliki kesamaan dengan ormeknya atau tidak. Ini menjadikan sebuah tantangan tersendiri dalam mengolah atau menelitinya. Dalam banyak hal, jika individu masih belum mengenal lebih akrab, maka ia akan sulit dijadikan sebagai informan. Karena itu, untuk menjalin kepercayaan dan emosi yang lebih terjalin kadangkala seorang peneliti perlu ikut serta dalam lika-liku pola pertemanan antar sesama anggota mahasiswa esktrakurikuler. Artinya, seorang peneliti harus menjadi bagian dalam obyek yang akan diteliti. Tujuannya adalah agar dapat menguak data-data dan informasi yang dibutuhkan dalam menjelaskan suatu obyek penelitian yaitu pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ. &lt;br /&gt;---------&gt;Di FISIP UNEJ, banyak anggota mahasiswa ormek yang terkadang menutup diri ketika ditanyakan tentang alasan memilih pertemanan dengan se-ormek. Kadangkala jawaban yang dikemukakan tidak cukup menjelaskan gambaran pola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Pada awalnya, jawaban yang dikemukakan hanya bersifat emosional-psikologis belaka. Misalnya, Adi Prasetyo bersahabat dengan Astono lantaran sifatnya yang baik dan ramah. Ataupun juga, Yanuarti adalah seorang sahabat yang menurutnya memahami dan menyayangi satu sama lain dengan Atika. Tentu saja ini tidak dapat dijadikan sebuah acuan informasi menggambarkan pola pertemanan secara mendalam. Karena itulah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Geertz penelitian memerlukan tekhnik khusus agar dapat berinteraksi dengan informan sehingga dia nantinya akan dapat menggali informasi yang  sangat sulit apabila hal itu berkaitan dalam kancah politik. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam kancah politik, penelitian sosiologis yang mengarah kesana akan menemui sejumlah tekanan dari individu atau kelompok. Sebab, sebuah hasil laporan penelitian nanti dimaknai merusak citra nama individu atau kelompok. Disinilah pengujian daya kapabilitas untuk menghadapi tantangan tersebut diperlukan.&lt;br /&gt;---------&gt;Di FISIP UNEJ tekanan tersebut dirasakan ketika telah mendapatkan data yang mengungkapkan mengenai pergeseran pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Dalam hal ini, seorang mahasiswa anggota ormek tertentu umumnya tidak menginginkan semua hal yang diceritakankan kepada seorang peneliti akan diketahui oleh khalayak luas. Oleh karena itu, seorang peneliti berusaha menyembunyikan tujuan dan maksud penelitian. Artinya berusaha agar jangan sampai seorang informan mengetahui maksud bahwa peneliti akan meneliti sebuah pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Tujuannya adalah agar individu tersebut mampu memberikan informasi yang sangat diperlukan dalam menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. &lt;br /&gt;---------&gt;Informasi yang didapatkan dari sebuah individu tersebut akan dijadikan "pegangan sementara" untuk menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Karena itu informasi yang didapatkan perlu dikonfirmasikan atau diverifikasikan dengan yang lain. Tujuannya adalah menghindari penjelasan seorang informan yang terkadang dalam memberikan data kurang akurat untuk menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berusaha mencari tahu perihal kebenaran dari informan tersebut. Caranya adalah menanyakan kepada pihak-pihak terkait alasan-alasan apakah yang mendasari mahasiswa, dalam hal ini aktivis,  cenderung memilih teman yang  seideologi. Apabila hal itu telah dilakukan  maka perlu pengamatan secara langsung maupun tidak langsung terhadap tingkah laku maupun karakteristik. Observasi ini dilakukan dengan terjun di lingkungan FISIP UNEJ  dan juga dalam pola pergaulan masing-masing kelompok yang terdiri dari dua individu atau lebih. &lt;br /&gt;---------&gt;Kesemuanya itu dicocokkan dengan penjelasan informan yang didapatkan. Kemudian dicatat dalam sebuah laporan atau catatan lapangan agar informasi yang didapatkan tersimpan dengan semestinya. Tentu saja hal demikian memerlukan waktu yang cukup lama. Sebab, penelitian pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek dalam kaitannya secara politik dan sosiologis mendapat sejumlah tantangan tersendiri sebagaimana yang diungkapkan diatas. &lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala informasi yang diberikan oleh informan di FISIP UNEJ menceritakan pengalaman masing-masing dalam hal berteman di kampus sampai mengarah kepada tempat ia berada. Disini akan diperoleh sebuah penggalian informasi tentang pengalaman seorang aktivis yang terlibat langsung terhadap pola pertemanan. Melalui cara ini, persepsi seorang aktivis terhadap pola pertemanan dapat diketahui dan diintrepretasikan secara subyektif. Selanjutnya adalah memahami bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Dengan metode verstehen (Bungin, 2003: 89) peneliti berusaha memahami, menghayati, merasakan secara subyektif dan menafsirkan  secara terus-menerus tentang kegiatan yang telah dilakukan oleh seorang informan. &lt;br /&gt;---------&gt;Disinilah seorang aktivis yang berhasil ditemui menjelaskan tentang retaknya pola pertemanan di akibatkan secara tidak langsung oleh faktor eksternal. Yaitu birokrasi kampus yang "sengaja" memendam potensi konflik di tingkatan pertemanan anggota mahasiswa ormek mengalami pergeseran dalam hal pola pertemanan. Baik di tingkatan birokrasi kampus maupun di tingkatan antar sesama &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mahasiswa anggota ormek. Tentu saja hal ini sangat berkaitan karakteristik dan prinsip individu terkadang akan dibawa dan berpengaruh terhadap lingkungannya. Dengan demikian dapat dipastikan sebuah lingkungan yang sarat dengan prinsipil dapat mempengaruhi dalam pola perilaku dalam bergaul dengan sesama anggota ormek di kampus FISIP UNEJ. &lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan cara tekhnik snowballing sampling. Sebagai key informan yang pertama kali mengenalkan seluk beluk adalah para mantan aktivis. Paul, Nasrul dan Hamzah adalah key informan yang dapat menjelaskan seluk beluk pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Mereka menceritakan dunia aktivisme lengkap dengan tindakan politik baik di kalangan birokrasi elit atas maupun mahasiswa. Setelah dijelaskan oleh key informan tersebut, langkah selanjutnya adalah mencoba menelusuri lebih jauh pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan data kepada informan yang memiliki kaitannya dengan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek. Ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam terlebih dahulu  dan   dicermati.   Sebab,   banyak   menjelaskan  bahwa  pola pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek sangat berkaitan dengan tindakan politik para birokrat kampus menjelang momentum pemilihan dekanat. 	&lt;br /&gt;---------&gt;Informan untuk menjelaskan masalah ini umumnya adalah kalangan mantan aktivis yang sangat mengetahui seluk beluk aktivisme dan tindakan politik baik mahasiswa maupun para dosen. Mereka diberikan perhatian lebih khusus oleh peneliti. Dalam banyak hal, informasi yang mereka berikan lebih akurat dan lebih menjelaskan lebih obyektif tentang seluk beluk pergeseran pola pertemanan di mahasiswa. Setelah mencatat informasi tersebut dan melakukan wawancara secara intens, selanjutnya adalah mencoba mengamati perubahan tingkah laku beserta karakteristik pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Tentu saja dalam hal ini peneliti perlu menjadi bagian dalam kelompok yang akan diteliti lebih lanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Untuk menjalin hubungan lebih erat, langkah yang dilakukan adalah sering berkunjung di indekost, ataupun juga datang ke warung, kantin, musholla, sekitar kampus FISIP UNEJ. Disini mulai terlihat tentang adanya pengamatan tentang karakteristik tertentu mengenai bentuk tingkah laku dan tutur kata yang sangat berkaitan dengan pola pertemanan antar sesama mahasiswa ormek. Untuk menggali data tidak hanya dilakukan dengan observasi seperti itu. Kadangkala wawancara berupa komunikasi verbal dilakukan. Umumnya, wawancara dilakukan di daerah kantin, warung, kelas serta musholla FISIP UNEJ. Disinilah penggalian informasi dilakukan. Seorang informan menjelaskan pengalamannya dan alasannya masing-masing cenderung memilih bersahabat dengan se-ormek. Maka dimulailah proses wawancara. Tentu saja pencatatan mengenai informasi yang diperoleh dilakukan secara tak langsung. Dalam konteks ini, informasi yang diperoleh dicatat melalui memory atau ingatan. Barulah kemudian disalin kedalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;	&lt;br /&gt;1.8.2 Tekhnik Observasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Peneliti juga menggunakan tekhnik observasi (pengamatan) untuk "membaca" suatu fenomena individu. Ini dimaksudkan agar peneliti dapat menggambarkan dan memahami permasalahan apakah yang dapat ditangkap ketika mengamati pola pertemanan di diantara mahasiswa anggota ormek. Pengamatan yang dilakukan adalah partisipan.  Dalam konteks ini, peneliti perlu menjadi bagian dalam obyek yang akan diteliti sehingga informasi dan data yang didapatkan dapat dikuak secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;br /&gt;1.8.3 Tekhnik Wawancara &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Penggalian data kepada informan yang dilakukan ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu memiliki pengalaman individu sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini, informan ditanyakan bagaimana tanggapan terhadap permasalahan menurut pengalamannya terhadap sesuatu. Disini peneliti, mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara yang intensif dan berulang-ulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu agar semakin mengefektifkan langkah peneliti dalam melihat gejala obyek yang akan diteliti, peneliti memerlukan sebuah panduan interview (guide interview). Dalam konteks ini, guide interview adalah tekhnik yang diperlukan untuk melakukan interview mengenai permasalahan yang diteliti agar dapat mengetahui fenomena obyek penelitian secara mendalam. Ini dimaksudkan agar pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dapat terarah dan memperkecil kesalahan dalam menggali data sebagaimana diberikan oleh informan. &lt;br /&gt;---------&gt;Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan wawancara wawancara tertutup. Menurut Bungin (2001:108) wawancara tertutup dilakukan dalam kondisi subyek tidak mengetahui kalau diwawancarai. Ini agar peneliti menggali lebih dalam persoalan yang sangat krusial dan terkesan ditutupi oleh informan. Peneliti juga menggunakan metode wawancara mendalam life history. Dalam hal ini, informan ditanyakan bagaimana tanggapan terhadap permasalahan menurut pengalamannya terhadap obyek yang diteliti. Disini peneliti, mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara yang intensif dan berulang-ulang. Didalam melakukan penelitian seorang peneliti berhak merahasiakan sumber informasi. Sebab hal ini menyangkut nama baik sumber informasi. Hal ini diatur didalam etika prinsipil penelitian. &lt;br /&gt;Etika penelitian yang perlu ditaati: Pertama, peneliti harus merahasiakan semua informasi yang diperoleh  yang  dituliskan dalam bentuk kode-kode atau  inisial. Kedua, peneliti tidak menuntut responden bertanggung jawab atas informasi yang telah disampaikannya. Ketiga, peneliti tidak menuntut responden untuk bertanggung jawab atas informasi yang telah disampaikannya. Keempat, peneliti tidak memaksakan kehendaknya agar responden memberikan 	informasi kepadanya. (Usman, 2003:03).&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.8.4 Penentuan Informan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Tekhnik penentuan informan ada berbagai macam cara. Namun, tekhnik penentuan informan yang seringkali dilakukan dalam penelitian deskriptif adalah metode snowball sampling. Menurut Bungin (2001:56), tekhnik snowball sampling adalah pemilihan informan secara acak yang satu sama lain masih berkaitan dalam fenomena dan data lapangan. Dalam konteks ini, seorang peneliti berusaha &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengumpulkan data atau informasi dari individu yang satu ke individu yang lainnya. Oleh karena itu penulis tidak akan mengambil dan membatasi berapa banyak jumlah informan nanti ketika terjun di lapangan. Sebab, jumlah informan disesuaikan dengan kondisi, fakta-fakta dan temuan di lapangan.&lt;br /&gt;---------&gt;Tekhnik snowball sampling merupakan cara yang efektif untuk menguji akurat data di lapangan. Bahkan, para ilmuwan menyebutkan tekhnik penentuan informan berdasarkan snowball  sampling mampu menjelaskan fenomena di lapangan. Dengan kata lain, tekhnik snowball sampling adalah metode yang mampu menemukan sekaligus menggambarkan fakta lapangan dan nilai akurasi data pun tampaknya lebih dapat dipertanggung jawabkan. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;	&lt;br /&gt;1.8.5 Pengumpulan Data Sekunder&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Data sekunder merupakan pendukung dari data-data primer. Dalam hal ini, peneliti mencoba mendapatkan informasi berupa data sekunder berupa catatan atau tulisan yang didapatkan dari individu atau ormek. Yaitu berupa visi dan misi ormek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.9 Metode Analisa Data	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Kesemua data dan fakta  yang nanti telah dihimpun di lapangan akan diolah lebih lanjut untuk diketahui gambaran pola pertemanan secara menyeluruh yang terjadi antar sesama mahasiswa anggota ekstrakurikuler. Inilah yang dinamakan dengan tekhnik pengolahan hasil analisis data yang memiliki beberapa tahap. Mulai menjabarkan data, menerangkan, mendeskripsikan, saling mengkaitkan antara data akurat yang berhasil dihimpun dengan yang lain, demikian selanjutnya sampai mampu menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan pokok permasalahan. Bila demikian, akan ditemukan sebuah hasil akhir berupa kesimpulan penelitian yang akurat, tajam dan terpercaya.&lt;br /&gt;---------&gt;Ada dua macam cara untuk mendapatkan data. Pertama, berupa ucapan atau tutur kata yang diberikan langsung oleh informan kepada seorang peneliti. Untuk itu peneliti akan menggunakan data tutur kata sebagai memperlengkap data temuan di lapangan. Tidak boleh terlupakan, tekhnik penelitian yang digunakan peneliti kali ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah metode deskriptif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Usman (2003:04), penelitian deskriptif bermaksud membuat pemeriaan. Artinya, penyederhanaan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta lapangan dan karakteristik tingkah laku individu. &lt;br /&gt;---------&gt;Lebih lanjut lagi, di dalam melakukan penelitian kualitatif, seorang peneliti menerangkan dan menjelaskan mengenai (perkembangan) fenomena yang tengah terjadi. Karena itu, penulis tidak menyalahkan atau membenarkan hasil temuan di lapangan dengan data-data sekunder penelitian yang sejenis. Sebab, penelitian ini menggunakan tekhnik deskriptif. Berbeda halnya dengan studi komparatif. Dengan demikian, tekhnik penelitian deskriptif sangat memungkinkan membantu penulis untuk mengetahui secara mendasar pola pertemanan antar mahasiswa anggota ekstrakurikuler.  &lt;br /&gt;---------&gt;Adapun tekhnik analisis data yang dipergunakan adalah editing analysis style. Menurut Muller dan Carbtree (1992: 18-21), editing analysis style atau gaya analisis editing merupakan gaya yang sering dipergunakan untuk penelitian kualitatif pada tatanan yang subyektif. Editing analysis style menjalankan analisanya lebih dekat pada sisi subyektif atau sisi intrepretatif dari analisa yang dilakukan secara terus menerus. Dalam asumsi tersebut dapat diambil sebuah hikmah bahwa tekhnik analisa data merupakan pencarian pemahaman tentang data yang diambil untuk dikait-kaitkan satu sama lain, dicari hubungan mekanisnya atau sebab akibat sehingga data yang dihasilkan mampu menjelaskan sebuah realitas yang mendekati kebenaran lapangan. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam konteks tersebut, seorang peneliti berusaha mengidentifikasi tingkah laku serta tutur kata sebagai konsepsi awal dalam membaca data dari informan. Kemudian, diintrepretasikan sedemikian rupa untuk mengevaluasi informasi serta dihubung-hubungkan yang kemudian akan menghasilkan data yang realible. Tidak sampai disitu, temuan lapangan di komparasikan melalui sudut pandang observasi dan intrepretasi scara mendalam sehingga data akan mampu mendekati atau menjelaskan fakta lapangan secara obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, metode editing analysis style menurut Miller  dan Crabtree (1992: 18-21) adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan dimuat seutuhnya)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Intrepreter (editor)--&gt; laporan dan text --&gt; identivy unit, develop categories, intrepretively, verify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Miller dan Crabtree (1992:18-21)	&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam pemahaman bagan tersebut, data-data yang diperoleh dilapangan digambarkan dan dikumpulkan menurut kategori-kategori. Kategori-kategori ini disejajarkan satu sama lain. Namun demikian penyejajaran antara data satu dengan data yang lain masih dilihat dalam konteks perumusan masalah. Jika hal itu telah dilakukan, text-text yang terbentuk diverifikasikan. Apakah sebuah data tersebut sudah valid dan akurat ataukah tidak. Menurut Yuswadi dalam Bungin (2003: 100) ukuran data telah akurat dan valid adalah memenuhi titik jenuh. Titik jenuh yang dimaksud adalah data-data atau fakta di lapangan telah memiliki pola penjelasan yang hampir sama dalam hal fenomena. Ketika hal itu selesai, maka pengembangan kategori-kategori diidentifikasikan sedemikian rupa. Hal ini ditujukan sebagai cerminan interpretasi terhadap fakta atau data lapangan sehingga laporan yang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diperoleh mampu menjelaskan secara deskriptif mengenai permasalahan yang diteliti. Berikut skema mengenai penggalian informan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan memuat seutuhnya)&lt;br /&gt;Paul (informan utama)--&gt; supriadi berlanjut kepada nasrul sebagai key informan kedua demikian seterusnya disini mengingat sifat keterbatasan blog tidak bisa dimuat seutuhnya.&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam mengumpulkan data tersebut, diperlukan mengklarifikasikan ke beberapa pihak yang dapat dijadikan sebagai sumber informan yang sangat terpercaya. Demikian seterusnya, dari informan satu diverifikasi ke informan lainnya. Sampai ditemukan ditemukan data jenuh sebagaimana yang diungkapkan oleh Yuswadi dalam Bungin (2001:100). &lt;br /&gt;---------&gt;Cara mengumpulkan data dan informasi, diperoleh dengan terjun ke tempat pusat aktivis kampus sering berkumpul. Misalnya di kampus FISIP UNEJ, didepan akademik, warung, kantin, perpustakaan bahkan sampai ke indekost. Seperti yang telah dijelaskan diatas, untuk menjalin emosional lebih agar informan dapat maka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dilakukan pendekatan lebih mendalam misalnya agar informan dapat memberikan informasi lebih jelas dan mendalam. Menurut Yuswadi  dalam Bungin (2001:101) disebutkan empati haruslah tercipta kuat-kuat agar seorang informan dapat menjelaskan pengalaman bahkan informasi dalam kaitannya tentang obyek penelitian.&lt;br /&gt;---------&gt;Cara yang dilakukan adalah bersahabat dengan mereka. Dalam hal ini, peneliti berusaha menyelami dan turut menjadi bagian dalam pola pergaulan kelompok-kelompok yang terdapat di FISIP UNEJ. Cara ini sangat efektif sebab beberapa minggu dapat ditemukan sebuah penjelasan dari seorang mahasiswa yang terlibat sebagai anggota ormek mengemukakan alasan mendasar bahwa mereka cenderung memilih bersahabat dengan se-ormek. Untuk semakin memperluas informasi yang didapatkan kadangkala perlu memasuki ke kelas-kelas. Di kelas ini terutama setelah perkuliahan selesai, informan lebih banyak berkumpul. Disinilah kadang diperkenalkan dengan aktivis yang lain sehingga upaya memperbesar penggalian data dan informasi dapat dilakukan. &lt;br /&gt;---------&gt;Seperti yang telah dijelaskan diatas, empati yang dilakukan harus dilakukan erat-erat agar penggalian informasi dapat dilakukan. Namun, informan yang memiliki aktivis baru yang baru dikenal umumnya lebih cenderung menutup diri. Untuk itulah, penggalian informasi lebih dilakukan kepada kalangan aktivis dan mahasiswa yang telah dikenal akrab oleh peneliti. Ini dimaksudkan agar penggalian data beserta informasi dapat dilakukan secara lebih mendalam sehingga mampu menemukan sebuah penjelasan mengenai gambaran deskriptif pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Data-data kesemuanya tersebut akan disusun dalam laporan dengan menggunakan metode editing analysis style sebagaimana yang diungkapkan diatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;II. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.1 Lokasi Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Lokasi penelitian kerapkali dipilih berdasarkan tinjauan alasan fenomena yang sedang atau tengah dikaji. Secara sosiologis, lokasi penelitian merupakan tempat seorang peneliti berinteraksi dengan individu atau kelompok yang tentunya berkaitan secara langsung dengan tema dan data-data penelitian yang dikaji. Oleh karenanya, dibutuhkan hubungan emosional lebih erat agar mempermudah seorang peneliti terjun di lokasi penelitian. &lt;br /&gt;---------&gt;Semakin besar seorang peneliti dibesarkan -dalam pengertian sebenarnya- oleh lingkungan lokasi penelitian yang hendak ditelaah. Maka, semakin terjalin erat pula hubungan interaksi dengan individu atau kelompok itu. Sebab, peneliti telah mengenal tipikal karakteristik lingkungan lokasi penelitian. Secara otomatis pula, penggambaran fenomena yang dikaji dapat diamati lebih seksama lagi. Alasan mendasar kesemuanya itulah yang melatar belakangi penulis menentukan lokasi penelitian. &lt;br /&gt;---------&gt;Lokasi penelitian dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jember (UNEJ). Ada beberapa alasan yang mendasari penulis mengambil lokasi penelitian di FISIP. Pertama, disadari atau tidak, pola pertemanan di FISIP UNEJ kurang sekali meneliti. Padahal persoalan itu menarik untuk disimak. Karena didalamnya sarat terjadi pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek, kepentingan subyektif kekuasaan atau politis dan kemampuan mahasiswa untuk mendinamisasi keadaan kampus. Kedua, alasan mendasar penulis mengambil lokasi penelitan di FISIP UNEJ memiliki beberapa mahasiswa yang ikut didalam struktur organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek tampaknya ada kecenderungan yang signifikan mengalami pergeseran dalam hal solidaritas, pertemanan dan sebagainya. Karena, itulah FISIP UNEJ tidak diragukan lagi layak untuk dijadikan lokasi penelitian. &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.2 Gambaran Lokasi Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Apabila mengacu pada buku pedoman FISIP UNEJ yang didalamnya memuat sejarah singkat disebutkan bahwa Yayasan Tawang Alun mendirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada tanggal 15 September 1961. Pada saat itu, FISIP berada di naungan Universitas Brawijaya (Lihat: Buku Pedoman FISIP UNEJ). Bahkan, nama Universitas secara organisasi masih bernama Universitas Tawang Alun. Barulah kemudian sekitar tanggal 10 Nopember 1964, Universitas Tawang Alun Negeri Jember diresmikan sebagai Universitas yang mandiri. Pada saat yang bersamaan, FISIP memiliki sejumlah jurusan mata kuliah. Yaitu Jurusan Sosiologi, Kesejahteraan Sosial, Hubungan Internasional, Administrasi Niaga, Pajak, Pariwisata, Administrasi Negara. &lt;br /&gt;---------&gt;Gambaran lokasi penelitian FISIP secara umum adalah terlihat dari situasi beberapa mahasiswa (akitivis) yang menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Ini biasanya mereka terlihat di beberapa tempat yang umumnya berkelompok-kelompok yang terdiri dari lebih dua orang. Tempat yang sering dijadikan para aktivis berkelompok-kelompok adalah di Musholla, warung sebelah tempat parkir sepeda motor, kantin bahkan juga sampai didalam kelas. Salah satu gejala yang cukup mencolok pengelompokkan para aktivis mahasiswa tersebut mendekati momen tertentu.&lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala aksi politik praktis juga sering dilakukan oleh para aktivis di depan FISIP UNEJ. Tidak hanya pengelompokkan di tempat tersebut,  pengelompokkan para aktivis kadang juga terlihat di bangku-bangku. Mereka bercerita bahkan berdiskusi satu sama lain. Di dalam kelas pun demikian. Diskusi sering terjadi ketika telah ada sebuah topik yang menarik untuk didiskusikan. Disinilah kadang terjadi pula perdebatan yang cukup memanas karena ada beberapa hal. &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, ormek-ormek struktur pengurus yang terdapat di FISIP UNEJ adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Visi:&lt;br /&gt;1.	Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata'ala &lt;br /&gt;- Misi:&lt;br /&gt;1.	Membina pribadi mahasiswa muslim untuk mencapai akhlaqul karimah&lt;br /&gt;2.	Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya.&lt;br /&gt;3.	Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi      kemaslahatan masa depan umat manusia.&lt;br /&gt;4.	Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan dinnul Islam dalam                  kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara&lt;br /&gt;5.	Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan                 kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional.&lt;br /&gt;6.	Usaha-usaha lain yang sesuai dengan identitas dan azas organisasi serta                 berguna untuk mencapai tujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;- Visi:&lt;br /&gt;1.	Terbentuknya pribadi muslim indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. &lt;br /&gt;- Misi:&lt;br /&gt;1.	Menghimpun dan membina mahasiswa Islam sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;2.	Melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta upaya perwujudan kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;C. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) &lt;/strong&gt;- Visi:&lt;br /&gt;1.	GMNI adalah organisasi perjuangan untuk mendidik kader bangsa dalam  mewujudkan masyarakat.&lt;br /&gt;2.	Mewujudkan masyarakat sosialis-religius yang demokratis serta adil dan                 beradab berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. &lt;br /&gt;3.	GMNI adalah organisasi yang bersifat independen serta kerakyatan. &lt;br /&gt;4.	GMNI mempunyai motto: PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANG.&lt;br /&gt;- Misi:&lt;br /&gt;1.	Melaksanakan tujuan organisasi dengan semangat gotong royong melalui     usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan azas dan strategi GMNI. &lt;br /&gt;2.	Dalam menyelenggarakan usaha-usaha organisasi senantiasa memperhatikan                kesatuan, persatuan dan keutuhan organisasi. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Visi:&lt;br /&gt;1.	Menghancurkan sistem yang menindas hak-hak rakyat untuk mewujudkan                  masyarakat Indonesia yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkedaulatan    rakyat.&lt;br /&gt;- Misi:&lt;br /&gt;1.	Menggerakkan dan memimpin perjuangan mahasiswa.&lt;br /&gt;2.	Aktif dan ikut serta membangun gerakan rakyat yang memperjuangkan  demokrasi di Indonesia&lt;br /&gt;3.	Aktif dalam kerja-kerja solidaritas internasional untuk pembebasan rakyat tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Visi:&lt;br /&gt;1.	KAMMI bertujuan untuk menghimpun, membina, mengarahkan, dan memberdayakan segenap mahasiswa muslim Indonesia secara lintas sektoral,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; lintas suku, ras, dan golongan dalam wadah kerjasama ukhuwah islamiyah dengan visi keimanan dan kerakyatan guna terciptanya pemimpin masa depan demi terciptanya masyarakat islami&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;- Misi:&lt;br /&gt;1.	Membina ketaqwaan, keimanan, dan akhlaq mahasiswa muslim Indonesia dengan cara-cara yang sesuai dengan Al Qur`an dan sunah Rasulullah Muhammad SAW. yang dilakukan dengan memperhatikan perkembangan zaman dan sesuai dengan konteks keindonesiaan.&lt;br /&gt;2.	Menggali, mengembangkan dan memantapkan segenap potensi kemahasiswaan baik potensi akal, keilmuan dan budaya yang sifatnya kreatif dan aplikatif yang akan sangat berguna bagi lajunya perkembangan nasional.&lt;br /&gt;3.	Mengembangkan kerjasama, komunikasi, dan persaudaraan antar sesama mahasiswa muslim Indonesia maupun antar sesama mahasiswa muslim dengan warga masyarakat yang lain dari berbagai kalangan, baik perseorangan, lembaga, perhimpunan, pemerintahan, maupun swasta di dalam maupun di luar negeri.&lt;br /&gt;4.	Mengembangkan dan meningkatkan kepekaan, kepedulian, peran serta, dan solidaritas mahasiswa muslim Indonesia terhadap permasalahan ebangsaan dan kerakyatan dalam lingkup ekonomi, pendidikan, politik, sosial dan budaya.&lt;br /&gt;5.	Berperan aktif dalam kegiatan pengembangan kemahasiswaan dan kualitas sumber daya manusia dengan misi membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran bagi seluruh ummat (amar ma`ruf nahi munkar). Usaha-usaha lain yang halal dan benar menurut Al Qur`an dan As Sunnah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt; Namun demikian ada beberapa ormek yang tidak memiliki struktur pengurus di FISIP UNEJ yaitu:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)&lt;/strong&gt;- Visi:&lt;br /&gt;1.	Membina para anggotanya menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah,              umat dan kader bangsa, yang senantiasa setia terhadap keyakinan dan cita-             citanya. &lt;br /&gt;2.	Membina para anggotanya untuk selalu tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk melaksanakan  ketaqwaannya dan pengabdiannya kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;3.	Membantu para anggota khususnya dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.&lt;br /&gt;4.	Mempergiat, mengefektifkan, dan menggembirakan dakwah islam dan  dakwah amar ma'ruf nahi munkar kepada masyarakat mahasiswa segala usaha yang tidak menyalahi azas, gerakan, dan tujuan organisasi dengan mengindahkan segala hukum yang berlaku dalam negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;- Misi:&lt;br /&gt;1.	Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlaq mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Visi:&lt;br /&gt;      1.  Terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati&lt;br /&gt;- Misi:&lt;br /&gt;1.	Berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. ANALISA DATA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.1 Hubungan Pertemanan di Kampus&lt;br /&gt;3.1.1 Pertemanan Berbeda Ormek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt; &lt;em&gt;Saya kaget dengan sikap teman-teman di kelas. Mereka tidak seperti biasanya. Padahal, awalnya, mereka saling menegur sapa satu sama lain. Tapi sekarang, hal itu tidak tampak lagi…. Hanya karena perbedaan ormek, yang satu bendera kuning, yang lain ijo dan satunya lagi merah muda…. Semuanya berkelompok-kelompok. Ini membuat saya sedikit kaget. (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt; Ungkapan yang disampaikan oleh Supriadi tersebut merupakan sebuah bentuk kekecewaan akibat adanya sebuah perubahan sikap teman-teman di kampus. Sejak perkuliahan mulai aktif yaitu setelah mengikuti orientasi mahasiswa baru pada bulan Juli 2004, perilaku kawan-kawan satu sama lain di kelas menunjukkan sikap-sikap yang kurang simpatik lagi. &lt;br /&gt;---------&gt; Ketika itu perkuliahan akan segera dimulai. Sekitar 10 mahasiswa duduk-duduk di bangku akademik Kampus. Kebetulan antara satu sama lain memiliki latar belakang organisasi mahasiswa ekstrakurikuler (ormek) yang berbeda. Masing-masing terdiri dari lima mahasiswa bernama Arifuddin, Jayadi, Franz, Hadi dan Irwanto merupakan anggota ormek hijau. Tiga diantaranya (Karim, Irwanto, Franz) adalah anggota ormek kuning dan sisanya adalah anak netral termasuk Supriadi sendiri. Sebagaimana mahasiswa baru pada umumnya, mereka mulai berdiskusi seputar teori-teori yang baru diberikan oleh dosen mereka. Perdebatan dan dialektika wacana mengalir. Mahasiswa yang bernama Jayadi terkesan cerdas dan memiliki wawasan yang luas mengenai perkembangan teori dan ilmu politik. &lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah, ia mampu mematahkan argumen-argumen yang dilontarkan oleh Irwanto mengenai sikap politik beberapa pemimpin negara sejak pemerintahan orde baru sampai era reformasi. Melihat kondisi ini, Karim mengungkapkan kepada Supriadi bahwa Jayadi secara organisasi dan personal hanya mampu berdiskusi dan pro terhadap kebijakan Orba. Menurut Karim sebagaimana yang diungkapkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada Supriadi, ormek hijau tidak ikut dalam aksi yang dilakukan oleh beberapa elemen ormek dalam menyikapi lepasnya  vonis terpidana  Akbar Tanjung atas Bullogate II. Karena itulah, nama organisasi ormek hijau sengaja diplesetkan sebagai himpunan 'mandul'. &lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;Jayadi termasuk ormek hijaunya, itu orangnya pro golkar… waktu demonstrasi  akbar tandjung tanggal 16 februari 2004 mereka tidak ikut. Itu mah, himpunan mandul namanya… Kalo pas dapat proyek dosen saja mereka giat. (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Stigma negatif itu seakan-akan menyertai kemana saja Jayadi dan beberapa kawan-kawan yang tergabung didalam ormek hijau. Kadangkala ia merasa tersudutkan. Secara tidak langsung, stigma itu mempengaruhi dalam pergaulan antar sesama. Dalam memilih teman sepergaulan bagi mereka yang terhasut oleh stigma negatif itu.  "saya, merasa terbebani awal-awalnya, padahal tuduhan itu cenderung mengada-ngada. Mangkane (Karena itu), saya lebih senang berteman dengan Arifuddin dan Hadi. Agar terhindar kesalahpahaman….", demikian ungkap mahasiswa asal Malang ini dalam logat jawa. Menanggapi tuduhan ormek hijau yang diplesetkan dengan Mandul, Jayadi melihat bahwa beberapa elemen mahasiswa tersebut terlalu menjustifikasi atas tuduhan sepihak itu. &lt;br /&gt;---------&gt;Secara organisatoris, ormek hijau juga berperan secara langsung dalam gerakan reformasi 1998 menjatuhkan sistem otoritarian politik Soeharto. Bahkan dia menambahkan bahwa proyek penelitian yang diberikan merupakan sebuah bentuk kerja sama dengan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan terlepas dari kepentingan politis apapun. Walaupun melibatkan dosen hal itu hanya sebagai mediator kepada LSM. Oleh karena itu proyek yang diberikan dosen merupakan salah satu kegiatan mempraksiskan intelektualitas didapatkan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), partai politik dan dosen.  &lt;br /&gt;---------&gt;Terlepas dari itu, Jayadi lebih memilih bersahabat dari teman seideologi yang dikenal dari ormeknya. Alasan utama ialah menetralisir kemungkinan terjadinya kesalahpahaman karena bisa menjaga hubungan emosional satu sama lain baik sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maupun tutur kata. Karena itu, kemanapun Jayadi pergi seakan-akan Hadi selalu menemani. Sikap tolong-menolong juga sering ditunjukkan. Meskipun hal itu terkesan remeh misalnya Jayadi membantu Hadi mengarahkan dalam mengerjakan tugas mata kuliah statistik yang umumnya sulit bagi mahasiswa ilmu humaniora. Karena itulah hubungan persahabatan keduanya itu masih terjalin akrab. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam konteks itu, nyaris tidak pernah terdengar perselisihan diantaranya akibat persingunggan dalam konteks hubungan sosial antar mahasiswa anggota ormek Atau perbedaan cara berpikir dan bertindak sesuai ideologinya.&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu pergeseran pola pertemanan dapat terjadi ketika adanya sikap-sikap yang kurang simpatik baik dalam bertutur kata maupun bersikap.Persoalan itu setidaknya dapat dijelaskan melalui pengalaman Imron. Imron tergabung dalam organisasi hijau tua sejak tahun 2003. Pada awal semester II, ia pernah disindir oleh Samsuri yang tercatat aktif sebagai anggota organisasi kuning. Karena, organisasi hijau tua terkenal memegang teguh nilai-nilai kepercayaan islam ia mendapat julukan "kaum fundamentalis" dan "Pak kyai". Entah alasan apa yang menyebabkan ia dianugerahi status semacam itu oleh Samsuri. Padahal, Imron sudah mencoba bersikap ramah kepada Samsuri. Berikut petikan wawancara dengan Imron:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;"&lt;em&gt; ibarat datang tampak muka, pulang tampak punggung. Sikap manis didepan tidak diiringi ikhlas hati… dibelakang Samsuri menghina saya dengan julukan aneh-aneh. Ini membuat saya tidak mengerti...kok seperti itu". (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;Suatu ketika Imron selesai sholat dhuha di Kampus FISIP UNEJ. Disana memang tempat yang cukup teduh untuk berdiskusi. Terlihat tiga orang aktivis kuning senior dan yunior saling berbincang-bincang dan berdiskusi. Masing-masing bernama Samsuri, Prasetyo dan Hermawan yang tercatat sebagai anggota ormek kuning. Kebetulan dia melihat Samsuri maka ia menyapanya dengan senyuman yang menyungging. Menurut Imron, senyum merupakan bentuk kegiatan ibadah yang disunnahkan oleh nabi. Samsuri membalas kembali senyuman itu dengan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyinggung dan menjawab pertanyaan Imron bahwa ia sedang santai dan bertukar pikiran dengan rekan-rekannya. &lt;br /&gt;---------&gt;Diperkenalkanlah satu persatu teman Samsuri kepada Imron. Imron pun memperkenalkan diri. Ironisnya, salah satu kawan Samsuri yang berinitial Hermawan mengungkapkan kata-kata yang menurutnya kurang etis. " sholat terussss pak kyai? Gimana kabar Israel dan Palestina?" kata Hermawan dengan senyuman menyungging. ---------------&gt;Sementara Samsuri, Prasetyo dan Hermawan juga terlihat tersenyum menyungging Tentu saja Imron menjawab dengan lugas dan tersenyum bahwa palestina telah kehilangan pemimpin besar. Ia tidak mengerti bahwa mereka melakukan hal semacam itu. Karena itulah ia meminta ijin kepada Samsuri dan ketiga rekannya meninggalkan tempat untuk mengikuti perkuliahan yang beberapa menit lagi akan dimulai. Ketika Imron berpaling, ia mendengar suara terbahak-bahak dan pekikan "Allahu Akbar". Namun ia tidak menanggapinya dengan serius dan terus memasuki ke dalam ruang kelas perkuliahan. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Paul yang pernah menjadi anggota di beberapa ormek yang pernah diikutinya, menuturkan bahwa sikap elitisme mahasiswa ormek terlihat dari bergerombolnya mahasiswa di penjuru kampus, kelas, kantin ataupun musholla. Jika hal ini dilihat secara cermat, mahasiswa dan para aktivis membentuk sejumlah gap. Tentu saja umumnya berdasarkan persamaan ormek. Ini dimaksudkan agar                          terlihat jelas mana yang sepaham dan bukan. Jika hal itu semakin jelas, maka individu dari ormek tertentu akan mudah melihat antara musuh sejati dalam pengertian politik.&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;" … jika dilihat banyak geng-geng mahasiswa di warung, di kelas, di 	musholla… Mereka berkelompok untuk mengetahui mana yang termasuk 	kelompoknya dan  mana yang bukan." (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Maka wajar kemudian terlihat di beberapa kelas atau warung dan sekitar kampus para aktivis berkelompok-kelompok atau bergerombol. Umumnya jumlah mereka berkelompok sekitar lebih dari tiga orang.  Sementara itu, kasus yang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menimpa kepada Imron tersebut merupakan hal yang umumnya dilakukan oleh beberapa aktivis ormek kuning. Bahkan diwajibkan sesuai aturan macheavelinisme dan Tzun Zu yang dijadikan pegangan bagi ormek kuning untuk mempraksiskan politik. Menurutnya, hal itu adalah langkah agar individu mengalami keterasingan dengan ormek-nya. Pada gilirannya hal itu akan mempengaruhi individu memasuki ormek kuning karena merasa diterima dengan baik dan ikhlas oleh mereka. Ini merupakan teknik penjatuhan mental lawan ala politik Tzun Zu agar individu tertarik kepada ormek kuning.&lt;br /&gt;---------&gt;Menariknya, ada sebuah keunikan tersendiri dalam hubungan pertemanan mahasiswa yang bukan se-ormek. Dalam kelompok ini, terdapat tiga mahasiswa yang berbeda ormek. Grandi adalah aktivis ormek kuning. Rozy  tercatat sebagai anggota ormek hijau dan Bari merupakan mantan aktivis ormek merah muda. Keduanya bersahabat. Meski pada awalnya kesenjangan itu nampak dan mempengaruhi persahabatan. Namun mereka sudah bisa melepaskan pemikiran sempit (baca: sikap elitis) yang terbawa dari ormek mereka masing-masing. &lt;br /&gt;---------&gt;Mereka pun bisa memahami perbedaan ormek sehingga kesalahpahaman yang biasanya terjadi akibat bercanda bernada menyindir atau menghina jarang terjadi. Masing-masing mampu menjaga sikap dan tingkah lakunya agar persahabatan tidak retak. Ada semacam batasan bahwa persoalan misalnya hal-hal urgen yang menyangkut aliran masing-masing sikap misalnya Gus Dur, Soekarno, Nurcholis Madjid tidak pernah disinggung. Meskipun itu dilakukan dalam bentuk bertukar wacana.&lt;br /&gt;---------&gt;Contoh  lainnya adalah Budiman. Sejak ia bergabung kedalam organisasi merah yang terkenal radikal ia mendapat julukan PKI (Partai Komunis Indonesia) oleh beberapa kawannya yang berbeda aktivis. Kadang ia terbebani dengan stigma negatif itu. Sebab ia merasa kemana saja melangkah, tatapan sinis kawan-kawan lain terlihat jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;"saya menjadi risih ketika saya berjalan selalu ada bisikan kawan-kawan 	bahwa saya PKI.. Mereka melihat saya selalu dengan tatapan tajam. Seperti 	buronan saja." (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;---------&gt;Budiman memahami sikap kawan-kawannya tersebut. Pertama, secara historis pembentukan organisasi merah berdekatan dengan Partai Pergerakan Merah. Sejak Orba memimpin, organisasi kiri ini mendapat tekanan dan dituduhkan sebagai metamorfosis PKI. Tentu saja bagi masyarakat umum mendengar hal ini tidak lantas menerimanya. Sebab, mendengar nama PKI akan dikenal sebagai atheis dan pemberontak terhadap pemerintahan negara yang sah. Kedua, ormek merah  berideologikan sosialisme-demokrasi. Disini, sosialisme dipahami sebagai komunisme.&lt;br /&gt;---------&gt;Suatu hari Budiman, sarapan pagi di warung kampus. Sebagaimana biasa, disana merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa termasuk aktivis kampus. Biasanya teman-teman Budiman se-ormek berkumpul di warung Kampus. Sekitar 4 mahasiswa yang berkumpul disitu dengan satu aliran. Bahkan, Budiarto yang menjadi ketua Partai Pergerakan Merah ada disitu. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut pengalaman Budiman, ketika mereka berkumpul terdengar dari kawan-kawan aktivis lain menyindir bahwa anggota PKI sedang mengadakan rapat pemberontakan di Kampus. Akan tetapi penyindiran halus seperti itu tidak dilakukan secara langsung ke hadapan langsung. Sebab, jika hal itu dilakukan bukan hal yang mustahil bentrokan fisik bisa	terjadi. &lt;br /&gt;---------&gt;Peristiwa itu hampir dialami Nur Rohman  (organisasi merah). Masalahnya Nur Rohman  pernah menjelek-jelekkan ormek kuning dihadapan mahasiswa baru agar tidak masuk kedalamnya. Menurut Nur Rohman, organisasi kuning cenderung elitis, mengajarkan sikap menjilat, oportunis,  menikam kawan sendiri dan rayon tidak dijadikan sebagaimana mestinya. Malahan Nur Rohman, mengatakan bahwa rayon ormek kuning selama ini adalah tempat mahasiswa berpacaran. Nur Rohman tidak menyadari ada beberapa mahasiswa yang termasuk kedalam simpatisan ormek kuning. Bahkan ada diantaranya yang tercatat aktif sebagai anggota ormek kuning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah mereka mengutarakan hal itu kepada Ismail yang menjadi salah satu pengurus di ormek kuning. Tentu saja ia merasa dilecehkan secara organisasi dan pribadi. Ismail marah. Malam harinya, Ismail menghampiri Nur Rohman  dan mengancam menarik kembali ucapan. &lt;br /&gt;---------&gt;Dengan sebilah pedang di tangan,  Ismail mendatangi  Nur Rohman  di indekost-nya. Menurut saksi mata yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Ismail pada saat itu dalam kondisi mabuk. Karena itulah, Ismail  meluapkan emosinya. Sayangnya, Nur Rohman  tidak ada disana. Sebab, jika ada konflik fisik tidak akan terhindarkan. &lt;br /&gt;---------&gt;Melihat kondisi bahwa Nur Rohman tidak di tempatnya, Ismail pulang ke rayon dan menceritakan ke rayon. Pada saat yang bersamaan, Nur Rohman  pulang ke kost-nya yang terletak di belakang kampus FISIP UNEJ. Nur Rohman  diberitahu oleh kawan se¬-indekost. Bahwa, Nur Rohman  dicari oleh Ismail dan menuntut agar Nur Rohman  bertanggung jawab atas penghinaan yang dilakukan kepada organisasi kuningnya.&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah Nur Rohman menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Nur Rohman ke sekretariat ormek merahnya yang terletak di Jalan Kenanga. Nur Rohman menceritakan bahwa ia baru saja mendapat ancaman dari Ismail. Mendengar hal ini, Budiarto (ketua Partai Pergerakan Merah), Rofan dan Handy menyarankan agar Nur Rohman segera menghampiri dan menanyakan maksud dari Ismail.&lt;br /&gt;---------&gt; Maka berangkatlah ketiganya menuju ke-kostnya Ismail yang terletak di Jalan Bangka. Sayang, mereka tidak menemui Ismail ada disana. Karena itulah Nur Rohman  dan rekan-rekannya, berangkat ke rayon ormek kuning. Ketika mereka tiba disana, Nur Rohman  dan teman-temannya bertemu dengan Ismail. Lantas, Nur Rohman  berbincang-bincang dengan Ismail, untuk mengetahui maksud Ismail datang marah-marah ke indekost-nya.&lt;br /&gt;---------&gt;Ismail menjelaskan permasalahan, bahwa Nur Rohman  menghina organisasi ormek kuning. Ismail tidak terima bahwa Nur Rohman menjelek-jelekkan ormek kuning. Memahami kesalahannya, Nur Rohman  meminta maaf kepada Ismail. &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;hal. 38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua belah pihak akhirnya mengakui kesalahan masing-masing. Maka permasalahan itupun selesai pada saat itu juga. &lt;br /&gt;---------&gt;Akan tetapi, Nur Rohman  sudah mendapatkan stigma buruk. Ia dikenal sebagai seseorang yang menghina ormek lain. Karena itulah, Nur Rohman  dijauhi oleh para aktivis ormek lain. Memandang situasi ini Nur Rohman  bisa memahami, sebab tidak semua para aktivis menjauhinya. Ada beberapa diantaranya yang masih mau bergaul dengan Nur Rohman .&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;Ismail sekarang sudah baik dengan saya.. perkara ada orang lain (dalam hal ini 	aktivis) menghina saya karena masih mempermasalahkan masalah itu, saya 	biarkan saja. Sebab jika dilayani permasalahannya akan bertambah parah. Toh, 	Ismail sekarang sudah berteman baik. (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt; 	&lt;br /&gt;---------&gt;Berbeda halnya dengan Fauzi dan Endro. Kedua mahasiswa ini memiliki perbedaan ormek. Fauzi  adalah aktivis merah yang bergabung sejak tahun 2003 dan Endro termasuk kedalam ormek kuning tahun 2003. Keduanya bisa memahami perbedaan mendasar itu dan tidak menjadi penghalang dalam berteman. Sebab, memasuki ormek melatih kemampuan intelektual, kepemimpinan dan sikap terhadap perubahan sosial bangsa-negara. Bukan sebaliknya, menciptakan permusuhan antar sesama aktivis didalam maupun diluar organisasi. Karena itulah Fauzi dan Endro kurang menyetujui jika permasalahan ormek dikait-kaitkan dalam pertemanan. Berikut kutipan wawancara:  &lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;" ormek ya ormek, kalo pertemanan hal itu gak perlu dibawa-bawa. Yang 	penting 	kita bisa menjaga diri masing-masing."(petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, Kurnia adalah mahasiswa mantan aktivis ormek putih dan sejak tahun 2003 ia aktif di ormek hijau. Latar belakang ini tidak menjadikan sebagai penghalang untuk berteman dengan Jeny. Jeny adalah anggota ormek hijau, dalam pergaulan mereka dapat menjaga diri masing-masing karena itulah ia bisa bersahabat dengan Kurnia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;hal. 39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Kurnia, Jeny adalah teman yang mampu berinteraksi. Baik Jeny maupun Kurnia tidak melihat latar belakang organisasi masing-masing. Bagi mereka berteman adalah suatu kebutuhan individu untuk bertukar pikiran, saling mengasihi dan sebagainya. Jeny dan Kurnia bisa menjaga satu sama lain, untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Ia juga mengungkapkan bahwa, berteman secara ideologis, dalam  hal ini se-ormek hanyalah sebuah kebetulan. Menurutnya, dalam bersahabat tidak perlu membeda-bedakan ormek. Pada dasarnya, ormek adalah tempat untuk menambah teman.&lt;br /&gt;---------&gt;Lain halnya dengan Sujatmoko dan Irawan yang tergabung kedalam ormek kuning. Keduanya adalah berteman dengan Sudiartohadi yang tidak tercatat sebagai anggota ormek manapun. Sudiartohadi diberitahu oleh Sudjatmoko dan Irawan agar tidak jangan berteman dengan kawan-kawan yang berlatar belakang ormek merah, ormek hijau, ormek merah muda dan ormek hijau tua. Bahkan menghina ormek tersebut dengan alasan-alasan dan stigma yang tidak rasional. Misalnya, ormek merah adalah PKI. Ormek hijau adalah pro-golkar, ormek merah muda sok nasionalis dan ormek hijau tua adalah perkumpulan islam fundamentalis-terorisme Osama Bin Laden. Bahkan mereka dijelek-jelekkan oleh Sudjatmoko bahwa mereka ekslusif. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, Sudiartohadi beranggapan bahwa pendapat Sudjatmoko adalah salah. Sebab, kawan-kawan dari ormek merah, ormek hijau, ormek hijau tua dan ormek merah muda sangat ramah. Karena itu Sudiartohadi malas bergaul dengan kawan-kawan ormek kuning. Menurutnya ormek kuning selalu bermuka dua, mencampuri urusan pribadi dan senang mengadu domba dengan kawan-kawannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.1.2	Pertemanan Se-ormek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Persahabatan Ayu dan Pratiwi (bukan nama sebenarnya) dan Subhan (bukan nama sebenarnya). Persahabatan mereka diawali sejak tahun 2003. Pada saat tahun sebelumnya, mereka kurang akrab satu sama lain. Barulah kemudian ketika mereka memasuki ormek kuning di tahun 2003, keakraban mereka mulai nampak. Perlu diketahui Ayu dan Pratiwi adalah mahasiswa Kesejahteraan Sosial. Sementara  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhan adalah mahasiswa Hubungan Internasional. Alasan mereka bersahabat se-ormek persoalannya hampir sama dengan contoh  yang lain. Dengan bersahabat se-ormek, kesalahpahaman akan terhindarkan. Pengalaman Subhan atau Ayu sendiri mengungkapkan bahwa mereka pernah bersahabat dengan mahasiswa yang bukan se-ormek. &lt;br /&gt;---------&gt;Namun, persahabatan itu mulai retak akibat kesalahpahaman. Tanpa sengaja, Ayu menyeletuk tentang gerakan praksis yang tidak pernah dilakukan oleh ormek hijau. Bahkan, Ayu menanyakan kenapa selalu giat ketika mendapat proyek dosen. Atas kesalahpahaman ini, Sari merasa tersinggung. Karena itu, Sari tidak ingin ditemui dan berbicara dengan Ayu. Sejak itulah, Ayu berhati-hati dalam memilih teman atau sahabat. Karena peristiwa itu, Ayu  lebih memilih teman yang seideologi. Dalam hal ini se-ormek. Maka bertemulah ia dengan Subhan dan Pratiwi. Pada saat itu pula, mereka bersahabat. Berikut kutipan wawancara,&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;saya kurang sreg kalo berteman dengan ormek lain. Saya pernah mengalami 	sendiri persahabatan pernah retak gara-gara kesalahan ngomong sama Lidya 	(bukan nama sebenarnya), dulu.. Sejak itu, saya berhati-hati memilih teman... 	Lebih enak berteman dengan se-ormek. (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;Contoh lainnya adalah Agnes dan Masayu merupakan anggota organisasi merah muda sejak pertengahan tahun 2004. Keduanya terlihat akrab. Agnes sudah mengenal dengan Masayu di kampus sejak pertama kali masuk kuliah tahun 2003. Pada saat itu, Agnes belum mengenal akrab dengan Masayu. Meski ada, suasana keakraban yang nampak adalah sekedar hubungan pertemanan biasa. Namun keakraban lebih terjalin ketika Agnes dan Masayu masuk kedalam organisasi merah muda sejak pertengahan 2003. Ketika mengikuti Latihan Kader di alam terbuka yaitu Tanjung Papuma Watu Ulo Jember. Kebetulan ia menempati satu tenda dengan Masayu.	&lt;br /&gt;---------&gt;Disitulah perkenalan hubungan emosional mulai terjalin. Agnes menjadi tumpuan curahan hati Masayu mengenai segala sesuatu hal termasuk masalah privasi. Agnes yang teman sekelas dengan Masayu ini,  mengungkapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;"… Sejak itulah saya berteman akrab dengan Masayu. Masayu juga menjadi 	teman 	curhat saya… Dan kalo diajak diskusi nyambung…" (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, Agnes juga membenarkan bahwa kesamaan latar belakang ormek semakin membuat hubungan persahabatan Masayu lebih akrab. Dalam hal bertukar pikiran Agnes -mengenai hal-hal prinsipil sekitar ideologi, teori ilmu humaniora, artikel, sikap para aktivis dan lain-lain- mengemukakan bahwa kesamaan cara pandang mampu menyatukan keakraban. Misalnya saja ketika mereka berdua berdiskusi mengenai tragedi Dua Tujuh Juli (Kudatuli),  penyerangan ke kantor PDI-P Pusat Jakarta. Keduanya menyepakati bahwa tindakan itu merupakan rekayasa politik pemerintah Orba. Menurut keduanya perlu diberikan dilakukan karena menodai nilai-nilai prinsip haluan besar UUD 1945 dan Pancasila. &lt;br /&gt;---------&gt;Sebagai pengagum Soekarno, keduanya memang dibesarkan oleh lingkungan yang sarat penjujungan sikap-sikap nasionalisme yang tinggi karena itu mudah dipahami ketika  mencoba memberikan umpan pertanyaan tentang konflik perebutan wilayah blok Ambalat antara Malaysia dan Indonesia. Keduanya mengisyaratkan bahwa Malaysia sudah terlampau jauh. Karena itu mereka sependapat bahwa mempertahankan pulau itu diperlukan sekalipun dengan cara represif militer. Sebab, menurut mereka, cara ini efektif mengingat Soekarno pernah mengungkapkan agar Malaysia perlu diserang. &lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala ketidak sepahaman dalam bertukar pikiran bisa saja terjadi.  Misalnya, selain pengagum Soekarno, Agnes juga menyukai beberapa pemikiran Marxisme. Sementara Masayu kurang menyukai filsafat sosialisme-komunisme itu. Menurut Masayu,  marxisme cenderung mengabaikan pergerakan dialektika sejarah. Karena itulah ramalan komunisme milik Marx tidak terbukti. Beberapa negara termasuk Uni Soviet telah hancur. Menanggapi hal ini Agnes menjelaskan, meskipun ia mengakui kepada  bahwa ia bukan penganut aliran marxisme, namun ramalan-ramalan historis Marx masih relevan dalam menyumbangkan pengembangan ilmu intelektual. Agnes sendiri pernah membaca dalam sebuah buku tanggapan Ken Budha Kusumandaru (kebetulan Agnes tidak menyebutkan secara rinci judul buku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;tersebut) dan Revolusi Oktober. Ia menuturkan bahwa komunisme marx pernah terjadi di Paris 1871 selama tiga tahun. Meski, pada dasarnya masih utopis dan terus menarik mereka perbincangkan mengenai hal itu. &lt;br /&gt;---------&gt;Maka, perdebatan kembali dimulai dan Masayu tidak menyetujui atas opini Agnes itu. Namun perdebatan itu tidak sampai memecahkan hubungan persahabatan diantara keduanya. Mereka menyadari bahwa perdebatan intelektual adalah kegiatan bertukar wacana dan opini semata tidak lebih daripada itu. Karena itu, ketika perdebatan mulai "panas", mereka bisa menjaga diri dan sikap saling mengalah secara obyektif agar tidak menyinggung perasaan Masayu. Itulah sebabnya persahabatan mereka tetap utuh. Mereka juga menyinggung bahwa menjalin persahabatan sesama ideologi (baca: seormek) merupakan hal untuk mengukuhkan semangat kebersamaan dalam berorganisasi. Karena itu ia tidak memungkiri hubungan pertemanan didalam kampus FISIP terkadang para aktivis masih melihat latar belakang ormek. Artinya, mereka yang bukan se-ormek akan dijauhi. &lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, terdapat contoh  mahasiswa membentuk kelompok berdasarkan kesamaan ormek. Sebuah kelompok yang tidak hanya terdiri dari tiga aktivis mahasiswa masing-masing bernama Ananda, Badrun dan Raihan. Ketiganya ini merupakan aktivis ormek bendera hijau. &lt;br /&gt;---------&gt;Pada saat itu, mereka sering terlihat bersama-sama di depan kelas. Menariknya pergi ke kantin atau ke warung Kampus mereka terlihat bersama-sama. Padahal mereka tidak menempati satu kost bersamaan. Ananda bertempat tinggal sementara di Jalan Jawa IX. Badrun  indekost di jalan Mastrip dan Raihan memilih tinggal di rumah kontrakan di Jalan Mastrip. Ketiga sahabat ini seakan-akan sulit terpisahkan. Ada beberapa alasan mengapa mereka memilih bersahabat dengan teman se-ormek. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Badrun, berteman se-ormek merupakan salah satu perwujudan bahwa saling memiliki dan saling menerima. Dalam hal ini, Badrun mengungkapkan bahwa mereka telah mengenal karakter masing-masing termasuk cara pandang mereka. Oleh karenanya, mereka merasa lebih cocok untuk bersahabat. Hal ini pun dibenarkan oleh Raihan dan Ananda, memilih teman se-ormek adalah solidaritas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lebih terjamin. Mereka merasa seperti bagian anggota keluarga. Hubungan emosional-pun dapat terjalin harmonis. Malahan mereka berencana akan menyewa sebuah rumah kontrakan di daerah Jalan Bangka.&lt;br /&gt;---------&gt;Selain itu ada juga contoh  yang menggambarkan sikap elitisme. Pengalaman Jony, Saiful, Zawawi dan  Dayat. Ketiga ini merupakan tercatat sebagai anggota aktif ormek kuning. Sayangnya, persahabatan mereka menunjukkan sikap elitisme. Dalam hal ini, mereka kurang mau bergaul dengan mahasiswa orang lain yang bukan se-ormek. Karena persoalan ini memberikan kesulitan sebab mereka terlihat menutup-nutupi kenapa mereka lebih senang bergaul dengan teman se-ormek. Maka,  mencoba memasuki lebih dalam kiprah persahabatan mereka. &lt;br /&gt;---------&gt;Akhirnya dapat diketahui bahwa mereka adalah anggota yang masih tercatat sebagai dalam struktur keanggotaan ormek kuning. Mereka enggan bergaul dengan teman dari ormek lain. Mereka menganggap bahwa ormek kuning lebih baik baik dari segi pergerakan maupun intelektualitas daripada ormek lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;Sebenarnya saya malas  berteman   dengan ormek lain.   Kau lihat sendiri 	saja, ormek lain seperti ormek hijau selalu onani intelektual terus. Atau 	ormek 	merah dan merah muda senangnya demonstrasi terus…  Apalagi suka &lt;br /&gt;	ndoktrin dan  demonstrasinya  dibayar .  Malas   berteman  dengan     mereka, &lt;br /&gt;             mending   berteman  dengan   teman    se-ormek   lebih   senang.     Demikian               &lt;br /&gt;             ungkap Jony.(petikan kutipan wawancara)--&gt; catatan footnote untuk memperjelas hal ini. Kadangkala demonstrasi yang dilakukan para aktivis telah ditunggangi oleh kepentingan subyektif kekuasaan. Ini terjadi di pemilihan rektor tahun 2003. Sejumlah dosen mempolitisir agar menggagalkan pemilihan rektor dengan isu agama. Menurut Paul, dosen bernama Warsito mengajak mahasiswa untuk berdemonstrasi tepat ketika perkuliahan berlangsung. Tentu saja hal demikian secara tidak langsung merusak iklim intelektual mahasiswa dan mempengaruhi dalam hubungan pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek. &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah mereka terkesan menutup diri dari pergaulan. Menurut Bayu sikap mereka terkesan elitisme itu mudah dipahami . Mereka masih belum membedakan mana harus berpolitik dan berteman. Itulah sebabnya mereka senang berteman atau bersahabat dengan se-ormek kuning.  	&lt;br /&gt;---------&gt; Berbeda halnya dengan Rahardi dan Wijaya mereka menganggap bahwa ormek terkadang semakin menyebabkan mahasiswa terkotak-kotak. Rahardjo sempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berpandangan bahwa lebih baik memilih teman berdasarkan kesamaan ormek. Di awal semester II, ia sengaja memilih Jodi dan Gayo yang sama-sama tergabung dalam ormek kuning sebagai teman. Alasannya, untuk menjalin hubungan solidaritas lebih erat sesama rekan aktivis se-ormek. Karena itulah, Rahardi dan Wijaya tidak mau berteman dengan teman-teman se-ormek.&lt;br /&gt;---------&gt; Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari kesalahannya itu. Lantas ia melepaskan sikap elitisme. Menurut Rahardi, sikap elitisme seperti tidak bergaul dengan kawan se-ormek adalah bentuk ketidak dewasaan seseorang untuk menerima perbedaan aliran politik atau ideologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt; &lt;em&gt;”biasa-lah… namanya juga mahasiswa yang sedang asyik-asyiknya menyandang idealisme dan status aktivis. Saya awalnya sempat elitis, tapi lama-lama bosan juga…  masuk ormek kadang membuat seseorang jadi elitis…." (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt; Dalam  yang hampir sama dengan itu, Wijaya mengungkapkan&lt;br /&gt;	&lt;em&gt;"Biasanya elitis muncul di awal-awal semester, itu pun bagi mereka yang 	terbawa doktrin ormek… saya sempat pernah mengalami gara-gara masuk 	ormek... berteman pun pilih-pilih dan hanya berlangsung tiga semester… Ini 	tergantung orangnya" (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt; Jika kita menyimak ungkapan Wijaya diatas mengesankan bahwa ia pernah bersikap elitis dalam memilih teman harus dilihat dari latar belakang ormek. Dalam konteks ini, ia akan menjauh menjalin hubungan persahabatan lebih erat kepada individu yang bukan se-ormek. Wijaya yang merupakan mantan aktivis hijau  dan kuning, menyadari kekeliruan tersebut. Karena itulah ia kini mau bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang perbedaan ormek.&lt;br /&gt;---------&gt; Menurut penuturan Wijaya, sikap elitisme para aktivis dalam memilih teman bergaul umumnya terjadi di awal-awal semester yaitu semester II sampai IV. Pada saat itu, ia cenderung  berteman dengan Khairul , Zaenal dan Susilo daripada yang lain. Baginya, berteman dengan mereka untuk memberikan kesan bahwa ia lebih peduli dengan kelompoknya, dalam hal ini ormek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; hal. 45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks tersebut, ia juga akan dijauhi secara tidak langsung oleh teman-teman se-ormek karena dianggap sudah berpihak kepada ormek lain. Secara otomatis, ia pun terpaksa melakukan sikap elitis. Akan tetapi, setelah melewati semester IV ia menyadari kesalahan tersebut. Karena itulah, ia membuang jauh-jauh sikap elitis yang menurutnya tidak mencerminkan sikap kedewasaan sebagai kaum intelektual.  &lt;br /&gt;---------&gt; Contoh  lainnya adalah Tatva. Sejak tergabung kedalam organisasi ormek merah muda, ia sempat dijauhi oleh kawan sekelasnya. Tentu saja secara tidak langsung, misalnya ketika ia duduk di berdekatan dengan anak-anak berbeda ormek yaitu ormek kuning, lantas  mereka menjauhkan diri. Alasannya, ingin duduk di dekat jendela karena udara pada saat itu panas, ingin fokus pada materi dosen dan sebagainya. Hal ini terjadi berulang kali, Meski awalnya dia hanya beranggapan bahwa sikap teman-teman tersebut tidak mengada-ada. &lt;br /&gt;---------&gt; Karena itulah, ia mencari teman yang seideologi yaitu Tatva yang di kelasnya hanya ada satu orang. Berteman secara ideologi setidaknya akan membuat terjadi kesalahpahaman. Karena hubungan emosional lebih terikat kuat dan satu sama lain dapat menjaga baik tutur kata maupun sikap. Melihat sikap kawan-kawan ormek kuning tersebut maka ia juga menjelek-jelekkan dengan mengatakan bahwa aktivis ormek kuning umumnya elitis dalam bergaul. &lt;br /&gt;---------&gt; Sementara,  teman-teman ormek merah, hijau, hijau tua, putih masih bisa menghargai dalam berteman. Meski ada beberapa diantaranya yang juga menutup diri dalam arti tidak mau bergaul dengan teman seideologi. Berikut ini tuturan Tatva kepada  yang diungkapkan kepada  di kampus.&lt;br /&gt;---------&gt; &lt;em&gt;"Sebenarnya saya malas bergaul dengan kawan-kawan ormek kuning.. 	bukan karena apa, waktu saya masuk ormek merah.. saya pernah dijauhi 	mereka waktu duduk, di kelas…sayapun malas dengan mereka, maka saya 	enakan berteman  sama Tatva, ya  kadang  mual  lihat sikap mereka, 	kadang    mereka   menyindir   yang  aneh-aneh …  ketika  aku  lewat pasti &lt;br /&gt;        ngomong  Pancasila  satu,  ketuhanan  yang  maha  esa…   kayak  anak sd.  &lt;br /&gt;        Saya  biasa saja, tapi mereka dulu yang selalu memulai." (petikan kutipan &lt;br /&gt;        wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;hal. 46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Begitulah gambaran yang sikap elitisme yang setidaknya dilakukan beberapa aktivis kuning kepada Tatva. Bila kita simak lebih jauh, ia pun mendapat berbagai cercaan ketika Tatva melewati kerumunan para aktivis yang berbeda ideologi.&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut pendapat Paul seorang mantan aktivis dari beberapa ormek kuning, hijau tua dan hijau. Sejauh Paul pernah memasuki ormek kuning di tahun 2002, persoalan seperti itu merupakan alat untuk melemahkan mental lawan. Praktek ini merupakan tekhnik politik macheavelinisme. Artinya, isu-isu negatif dihembuskan dengan bentuk canda atau sindiran yang terkesan menghina. Tujuannya adalah agar lawan mengalami keterasingan dengan latar belakang ormek yang oleh bersangkutan ikut tergabung didalamnya. Karena itulah dapat dipastikan sikap-sikap mereka umumnya cenderung bermuka dua. Artinya didepan mereka akan ramah ketika ada kepentingan. &lt;br /&gt;---------&gt;Paul melanjutkan kadangkala para aktivis terlalu cepat menggenalisir bahwa tindakan kesalahan individu dimaknai tindakan organisasi. Bahkan terkadang sering mengambil rumusan kesalahan satu orang adalah kesalahan organisasi. Persoalan ini setidaknya dapat dijelaskan dengan temuan lapangan sebagaimana yang terjadi kepada Maesa.&lt;br /&gt;---------&gt;Maesa (anggota ormek kuning) pernah melakukan kesalahan secara tidak langsung kepada Atika (anggota aktivis ormek hijau). Maesa menghina kepada Atika bahwa ormek-nya adalah tempat para broker yang lebih senang menerima proyek dosen daripada terjun kedalam dunia aktivisme dalam pengertian sebenarnya. Sebaliknya, Atika menuduh bahwa ormek kuning berperan secara langsung dalam praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh elit birokrat kampus. Termasuk mempertahankan status quo jabatan struktural elit birokrat kampus agar tidak berpindah ke ormek lain. Maesa pun marah. Karena Atika menganggap harga diri secara individu dan organisasi telah diinjak-injak. Maka Maesa langsung memberi tahu kepada kawan-kawannya agar tidak bergaul dengan Atika termasuk ormek-nya. Inilah salah faktor yang menjadikan pergeseran antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 47&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Dari beberapa contoh  diatas secara garis besar hubungan sosial antar anggota ormek dapat dijelaskan melalui skema sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan termuat seutuhnya mengingat sifat keterbatsan blog&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a. individu(aktivis) --&gt; mencari teman --&gt; sesama aktivis seormek --&gt;hubungan sosial terjamin bahkan lebih akrab                                                        &lt;br /&gt;b. Individu (aktivis)--&gt; mencari teman --&gt; teman beda ormek  --&gt;  sering terjadi salah paham&lt;br /&gt;c. individu (aktivis) --&gt; mencari teman --&gt; teman netral (tidak ikut             hubungansosial                                                    ormek)                                       terjamin&lt;br /&gt;                                                                       &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;Dari contoh  diatas pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek terjadi tatkala ketidaksepahaman nilai-nilai prinsipil, terpengaruh sikap dan lingkungan sosial sekitar kampus disertai kurangnya kedewasaan politik yang dimiliki. Menurut Paul, fenomena pergeseran ketidaksepahaman nilai-nilai yang paling mencolok di Kampus adalah ormek kuning dan ormek hijau. Keduanya, ini memiliki nilai ideologi yang cukup berbeda. Bila ormek kuning berkencenderungan pada nilai islam ortodoks yaitu nadhlatul ulama, ormek hijau malah sebaliknya. Ormek hijau lebih ke islam modernis yaitu muhammadiyah. Karena itulah mereka lebih sulit dipertemukan dalam dunia aktivisme termasuk hubungan sosial pertemanan. Apalagi di kampus jumlah anggota kedua ormek tersebut  cukup banyak dibandingkan dengan lainnya. Meski data mengenai jumlah hal itu sulit didapatkan karena persoalan internal ormek selama pengalaman ini selalu ditutupi-tutupi. Menurut Paul dan Hamzah ketika, mereka mengemukakan bahwa para aktivis mahasiswa tampaknya memang kurang  mau memberikan data nama anggota mereka kepada pihak lain. Sebab, bila hal itu diberikan kekuatan politik mereka akan mudah diketahui oleh aktivis yang lain terutama menjelang pemilihan BEM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Akan tetapi,  	Paul dapat memperkirakan bahwa ormek kuning dan ormek hijau perbandingannya sekitar 50% dan 40%. Karena itulah sisanya sekitar 5 % masing-masing adalah aktivis ormek merah, merah muda, hijau tua dan ormek putih sekitar 5%. Karena itulah gejala yang cukup mencolok pada pergeseran hubungan antar anggota ormek di FISIP sebagaimana diutarakan oleh Paul kepada  adalah antara ormek kuning dan ormek hijau.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt; "ormek kuning dan ormek hijau konon musuh bebuyutan wajar di kampus 	keliatan berantem. Secara ideologis pun, ormek hijau tua lebih dekat dengan  	ormek hijau, ormek putih pun demikian. " (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam mencari teman terkadang mereka juga sulit bertemu. Pengalaman Paul sendiri, ia pun pernah dijauhi oleh kawan-kawan ormek hijau karena tercatat sebagai anggota di ormek hijau. Tentu saja cara yang ditunjukkan secara tidak langsung. Namun, setelah ia keluar dari ormek hijau dan bergabung dengan ormek kuning, ia pun bisa diterima oleh kawan-kawan ormek hijau. Paul menambahi bahwa hubungan elitis yang sangat mencolok memang dibesarkan dari ormek kuning. Alasan inilah yang mendasari ia keluar sebagai anggota ormek kuning. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam pengamatan  di lapangan, stigma buruk juga diberikan kepada mereka yang  keluar dari anggota ormek. Pengalaman Paul berikut ini setidaknya dapat menjelaskan mengenai hal ini. &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt; &lt;em&gt;"Saya dicap sebagai penghianat sejak saat itu. Kadang saya semakin 	dijauhi oleh temen-temen ormek kuning. Tapi saya cuek saja, khan masuk 	kedalam organisasi  bukan berarti mengabdikan seluruhnya. Kita khan ini 	masih dalam  pencarian… Sama saja, pengalaman saya meloncat-loncat 	sejak 	masuk ormek merah  muda, kuning kemudian ormek hijau dan terus  	ke hijau tua" (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Paul, berteman berdasarkan kesamaan ormek secara tidak langsung menunjukkan kepedulian antar sesama. Karena itulah mereka terkadang memilih-milih teman atau sahabat seormek agar hubungan sosial dan emosional lebih terjalin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kampus pun begitu, mereka melihat dulu apakah seseorang tergabung dalam kelompoknya atau tidak.	&lt;br /&gt;---------&gt;Sebenarnya, cara-cara penghinaan kepada teman yang bukan seormek adalah bentuk tindakan politik untuk menguatkan persepsi kelompoknya. Dengan begitu, mahasiswa-mahasiswa baru akan lebih tertarik untuk masuk ke dalam organisasinya. Berikut kutipan wawancara dengan Paul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;"&lt;em&gt;menjelek-jelekkan adalah hal yang harus dilakukan untuk mengguatkan 	persepsi, citra atau imej kelompok. Ini dimaksudkan untuk menambah kader 	dalam organisasi" (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah, dimana mereka bertemu seorang aktivis terkadang selalu kurang menunjukkan sikap-sikap yang simpatik lebih-lebih didalam kampus sendiri. Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa hubungan sosial di dalam Kampus mengarah kepada disintegratif. Kecuali ada momen-momen tertentu mereka bisa bergabung misalnya berdemonstrasi.&lt;br /&gt;---------&gt;Paul menambahkan bahwa pegeseran hubungan sosial antar mahasiswa akan semakin terlihat jelas menjelang pelaksanaan BEM, restrukturasi internal organisasi ekstrakurikuler di dalam kampus, pemilihan dekan dan rektor.	 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. 2. Hubungan Pertemanan di Sekitar Kampus&lt;br /&gt;3.2.1 Pertemanan Berbeda ormek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sikap elitisme mahasiswa dalam memilih pertemanan terkadang sampai mempengaruhi dalam kehidupan di indekost. Persoalan itu lebih disebabkan adanya pengaruh kuat nilai-nilai doktrin yang dibawa di masing-masing ormek yang bersangkutan.  Mochtar adalah hal yang menarik untuk dicermati. &lt;br /&gt;---------&gt;Mochtar bertempat tinggal sementara atau indekost di sekitar Jalan Bangka. Penghuni indekost ini sekitar 10 orang yang terdiri dari berbagai jurusan akademik. Enam diantaranya adalah mahasiswa FISIP UNEJ termasuk Mochtar. Masing-masing bernama Thomas, Sucipto, Sugeng, Muis dan Wisnu. Sebagai teman se-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal 50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indekost, hubungan sosial tentu dijaga erat-erat dengan menjaga sikap dan tingkah laku. Ini sangat penting untuk menghindari dari hal-hal yang mengarah kepada konflik. Karena itulah sikap dan tutur mereka dijaga.&lt;br /&gt;---------&gt;Akan tetapi, sejak Mochtar masuk kedalam ormek merah hubungan sosial diantara mereka mengalami ke pergeseran meski tidak sampai mengarah ke bentuk konflik fisik. Sebagaimana yang diungkapkan Mochtar, sebelum ia masuk kedalam ormek merah, Mochtar sering diajak berdiskusi mengenai kehidupan mahasiswa di kampus dan dimana saja dia akan pergi dalam urusan sehari-hari. Misalnya mencari makan dia selalu ditemani oleh salah satu dari mereka &lt;br /&gt;---------&gt;Mochtar menyadari bahwa hal itu adalah upaya untuk mengajak secara tidak langsung agar ia menjadi salah satu anggota ormek kuning. Minimal, Mochtar akan simpatik dengan sikap dan tingkah laku mereka kepada ormek kuning. Akan tetapi, hal itu tidak sampai memutuskan dia untuk bergabung kedalamnya. &lt;br /&gt;---------&gt;Atas pertimbangan tertentu, akhirnya Mochtar memutuskan masuk kedalam ormek merah sejak 2004. Polemik terjadi ketika Mochtar masuk kedalam organisasi merah yang mempengaruhi hubungan sosial secara langsung kepada teman-teman indekost. &lt;br /&gt;---------&gt;Mochtar kemudian seakan diasingkan dari teman-teman kost-nya. Bila sebelumnya ia diajak berdiskusi atau ketika Mochtar membutuhkan bantuan teman-temannya kurang menghiraukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;"Sejak masuk organisasi merah saya tidak dihiraukan… kadang sikap yang 	mereka	 lakukan terlihat dibuat-buat. Yang ngomong sibuk lah atau apa lah.. 	padahal dulu gak kayak gitu mereka baik meski ada tujuan dibalik semua 	itu….saya diajak masuk kesana (ormek kuning)". (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah ia mulai menarik diri dari pergaulan mereka. Bila sebelumnya ia terlihat berkumpul bersama mereka, maka dapat dipastikan Mochtar tidak ada. Alasan Mochtar sederhana saja, ia tidak mau terjadi konflik fisik hanya persoalan sepele. Maka wajar kemudian bila Mochtar lebih baik berteman dengan teman-teman netral. Netral dalam konteks ini, tidak tercatat sebagai anggota ormek apapun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 51&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Namun, seiring berjalannya waktu yaitu kira-kira dua minggu hubungan baik antara Mochtar dan kelima teman indekost yang kembali seperti semula. Artinya ia bergaul sama lain tanpa ada perbedaan secara diameteral baik secara ideologis dan prinsip. Meskipun demikian, konflik dalam bentuk bahasa misalnya sindiran atau canda masih saja ia temui. Misalnya, ia selalu disindir sebagai PKI ataupun "anak aidit". Menanggapi hal itu Mochtar hanya bisa diam, sebab dia tidak menghiraukannya. &lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt;"Saya biarkan saja mereka menghina saya.. biar daripada nanti ada 	masalah apalagi teman indekost dan sama-sama se-FISIP. Lebih baik saya 	diam saja….mereka lama-lama akan bosan dengan sendirinya." (petikan kutipan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah dia bersikap biasa saja terhadap teman-teman-nya. Perkembangan selanjutnya Mochtar pun mulai menerima jika ada hal-hal yang kurang berkesan diberikan secara langsung maupun tidak langsung terhadapnya. Meskipun itu dalam bentuk debat argumen, canda yang menghina dan sikap-sikap menjauhi dia secara tidak langsung. Buktinya, sikap dan tutur kata teman-teman Mochtar di indekost-nya dalam beberapa bulan saja mulai berubah sediakala. Karena itulah pergeseran hubungan sosial diantara mereka tidak menunjukkan ke bentuk perkelahian. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Tomi, membenarkan bahwa pengaruh kuatnya indoktrinasi dari ormek terkadang juga terbawa tidak hanya di kampus. Hal ini dikarenakan para aktivis umumnya terjebak dalam pandangan semu bahwa idealisme harus dipertahankan dimana saja dan kapan saja. Jika hal ini tidak disertai kedewasaan politik maka hubungan sosial akan mengalami ke bentuk destruktif. Misalnya bermusuhan, menghina satu sama lain dan parahnya tidak tertutup kemungkinan akan terjadi perkelahian fisik. &lt;br /&gt;---------&gt;Pengalaman Tomi sendiri menceritakan bahwa  yang terjadi oleh Mochtar diatas pernah dialami dahulu. Sewaktu itu di tahun 2002, Tomi memiliki pengalaman yang hampir sama dengan Mochtar. &lt;br /&gt;---------&gt;Di kost Tomi yang terletak di sekitar Jalan Jawa merupakan tempat basis ormek kuning secara tidak langsung. Berikut kutipan wawancara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Di tempat kostku dulu di Jalan Bangka, adalah basis ormek kuning. Banyak 	anak-anak ormek kuning sering berkumpul disana ya sekedar cangkruk'an. 	Diskusi atau ngobrol. Meski tidak seluruhnya ormek kuning kira-kira delapan 	mahasiswa menjadi anggota. Saya  tidak tau waktu masuk disitu adalah 	ormek 	kuning… Karena saya tertarik dengan organisasi saya memilih 	ormek hijau. Disaat itulah saya mulai disindir-sindir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Tomi tidak menyadarinya akan hal itu. Sebagai mahasiswa baru, wajar saja ia kurang mengenal seluk beluk indekost kadang merupakan perkumpulan ormek tertentu. Menurut Tomi, di tempat indekost-nya tersebut seringkali beberapa aktivis dari ormek kuning datang bergantian disitu. Tujuannya bermacam-macam dari hal yang bersifat pribadi dan semi organisatoris. Misalnya berdiskusi dan akan menyebarkan undangan yang diberikan dan ditugaskan dari rayon organisasi kepada anggota yang kebetulan bertempat tinggal sementara disana. &lt;br /&gt;---------&gt;Ketika Tomi, masuk kesana ia pun juga ditawari untuk masuk ke ormek kuning. Tindakan politik yang dilakukan adalah hubungan persahabatan dengan Tomi dijadikan lebih harmonis. Misalnya, lebih diperhatikan, lebih dihargai dan sebagainya. Karena itulah Tomi diawal-awal indekost disana merasa sangat senang berada. Namun semuanya itu mulai berubah ketika Tomi mengajak teman sekelasnya dari FISIP berkunjung ke indekost-nya.  Kebetulan teman Tomi bernama  Sanusi itu adalah anggota ormek hijau. &lt;br /&gt;---------&gt;Sesampai disana, Tomi memperkenalkan Sanusi kepada teman-temannya. Mereka pun menyambut dengan baik. Ironisnya, ketika salah satu kawan Tomi bertanya mengenai maksud dan tujuan Sanusi berkunjung ke indekost-nya. Pada saat bersamaan, Tomi memberikan surat undangan dari ormek hijau kepada Sanusi untuk datang ada acara pemutaran film Farenheit 9/11. &lt;br /&gt;---------&gt;Melihat hal ini teman-teman Sanusi mulai mencurigai hubungan antara keduanya. Mereka mulai menanyakan hal itu kepada Sanusi apakah benar bahwa ia sudah menjadi anggota ormek hijau. Sanusi mengelak tuduhan bahwa ia telah tercatat sebagai anggota ormek hijau. Menurut Sanusi, ia hanya diundang untuk datang menonton acara pemutaran Farenheit 9/11 di ormek hijau. Disinilah dia dicurigai dan diberikan berbagai argumen agar tidak datang ke acara yang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh ormek hijau sekaligus menjauhi temannya yang bernama Tomi. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Sanusi, malam hari itu alasannya yang dikemukakan agar dia menjauhi Tomi adalah ormek hijau adalah tempat mahasiswa bukan untuk beraktifitas selayaknya kaum intelektual muda. Melainkan hanya untuk mencari menambah nilai agar dekat dengan dosen-dosen yang kebetulan menjadi staf pengajar di FISIP. Selain itu, idealisme yang dimiliki oleh mahasiswa ormek hijau adalah bukan tempatnya. Artinya, idealisme mereka hanya bergerak pada tataran intelektual semacam berdiskusi bukan diterapkan.&lt;br /&gt;---------&gt; &lt;em&gt;"Lucunya saya nggak boleh deket-deket dengan Tomi karena dianggap akan 	ditipu 	untuk mendapatkan nilai. Saya diam saja, dan pura-pura sependapat 	dengan 	mereka. Meski jujur saya malas karena urusan bertemanpun mereka 	mencampuri urusan saya." (petikan kutipan wawancara) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Menanggapi hal itu Sanusi merasa bahwa tindakan teman-teman terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya. Sejak saat itulah dia malas untuk indekost disana. Apalagi, setiap kedatangan Tomi mereka selalu memperlihatkan sikap-sikap yang kurang menyenangkan. Bahkan, Sanusi merasa dijauhi oleh teman-temannya di kost.&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah dia memutuskan untuk tidak indekost disana. Diapun berpindah ke sekitar Jalan Jawa dua gang dari sebelumnya. Ketika disana, Sanusi juga memiliki teman kebetulan dia bernama Dinesea yang mantan anggota ormek kuning. Dia merasa diterima dilingkungan tersebut meski ada Dinesea yang berbeda ormek, namun Dinesea tidak sedikitpun menunjukkan sikap permusuhan. Malahan sebaliknya.&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;em&gt; "Saya pun pindah ke kost disini, kau tau disini juga ada mantan anak pabrik 	mie … tapi sikapnya baik-baik saja. Saya tidak dihina hanya karena berteman 	dengan  Dinesea meski saya juga sejak keluar dari kost dulu tempat nongkrong 	anak pabrik masuk ke ormek hijau.Pabrik mie merupakan nama plesetan yang diberikan kepada ormek kuning. " (kutipan petikan wawancara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sikap kedewasaan politik yang terjadi diantara mereka menunjukkan bahwa setiap individu antara satu dengan yang lain berbeda-beda. Ini mudah dipahami &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab di suatu tempat yang memiliki pengaruh kuat ormek tertentu biasanya sikap elitisme masih saja nampak. Bahkan menunjukkan sikap-sikap yang sangat tidak simpatik jika melihat adanya perbedaan prinsipil berupa ormek. &lt;br /&gt;Setidaknya hal itu dapat dijelaskan melalui skema sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(skema gambar tidak memungkinkan memuat secara utuh mengingat sifat keterbatasan blog tetapi bisa diringkaskan sebagai berikut)&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;a. indekost --&gt; individu ormek A --&gt; interaksi --&gt; hub. sosial harmonis --&gt; &lt;br /&gt;kedewasaan politik --&gt; tidak terjadi pergeseran&lt;br /&gt;b. indekost --&gt; individu ormek B --&gt; interaksi --&gt; hub. sosial kurang harmonis --&gt; kurangnya kedewasaan politik --&gt; terjadi pergeseran --&gt; konflik --&gt; individu bertahan / individu pindah kost&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;hal. 55&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman itu dapat diambil suatu risalah mengenai pengaruh pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek mempengaruhi lingkunganya, yaitu indekost. Didalam indekost, hubungan pergeseran antar anggota ormek terjadi ketika muncul kepentingan. Kepentingan dalam hal ini adalah upaya pengkaderan untuk diajak menjadi salah satu anggota ormek  yang kesemuanya nampak pada contoh  diatas. &lt;br /&gt;---------&gt;Polemik yang sering ditimbulkan adalah munculnya dugaan bahwa individu telah menghianati hubungan persahabatan dengan cara kedatangan individu lain yang bukan se-ormek. Apalagi ada bukti konkrit bahwa ia adalah aktivis ormek lain dengan tujuan yang hampir sama misalnya, mengundang seseorang agar ikut salah satu kegiatan ormeknya. Sementara itu, jika kedewasaan politik tidak disertai diantara keduanya muncul apa yang dinamakan tindakan destruktif. Bila individu bisa mengadaptasi pola-pola pergeseran antar rekan di indekost bukan hal mustahil jikalau ia akan bertahan di tempat itu. Sebaliknya, jika individu tidak mampu menahan atas sikap tidak simpatik tersebut ia akan menempati tempat yang baru. Dalam hal ini, ada tiga fenomena lapangan untuk menjelaskan hal tersebut.&lt;br /&gt;---------&gt;Elok menempati rumah indekost yang terletak disekitar jalan Jawa. Didalam kost ini, Elok memiliki teman yang tercatat sebagai anggota organisasi hijau tua. Menurut Elok ada empat mahasiswi yang masing-masing bernama Fepi, Mayang, Maria, Ike. Elok senang sekali melihat teman-teman se-indekost yang kelihatannya selalu kompak. Kemana-mana mereka selalu kelihatan pergi. Dalam hal persoalan sepele misalnya urusan makan sehari-hari atau pergi ke perpustakaan terlihat pasti mereka terlihat bersama-sama.&lt;br /&gt;---------&gt;Teman Elok umumnya berpakaian muslimah yang sangat panjang hampir menutupi seluruh tubuh dan jilbab yang selalu menutupi wajah mereka. Demikian halnya dengan Elok. Hanya saja, perbedaannya adalah pakaian muslimah yang dikenakan oleh Elok tidak sepanjang yang dikenakan oleh kawan se¬-indekost. Uniknya, persoalan cara berpakaian ini pernah menjadi polemik tersendiri. Ketika itu, Elok sempat ditegur oleh salah satu teman se-indekost agar ia menutupi tubuhnya dengan pakaian yang lebih sopan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;hal. 56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Tentu saja cara yang dilakukan adalah mengajak Elok berdiskusi yang biasanya dilakukan di waktu senggang misalnya sesudah makan, menjelang tidur dan sebagainya. Tentu saja Elok tidak merasa keberatan mengenai pembicaraan atau diskusi seputar sah atau tidak sahnya wanita untuk menutup aurat seluruh tubuh. Akan tetapi, ketika ia merasa tersudutkan oleh beberapa kawannya yang menyuruhnya agar Elok berbusana muslim mengikuti pakaian yang mereka    kenakan.   Disaat  itulah  dia  merasa  tersinggung   ketika   teman-teman   se-indekost &lt;br /&gt;seakan-akan menuntut mereka agar berbusana seperti mereka. Bahkan, Elok merasa terkucilkan hanya gara-gara persoalan sepele seperti itu . &lt;br /&gt;---------&gt;Berikut kutipan wawancara. "&lt;em&gt; masak saya berpakaian begini saja mereka menjauhi saya… malah menyuruh untuk berpakaian ala jubah yang mereka kenakan. Soal pakaian itu urusan saya…. Saya dijauhi oleh mereka, jadi malas kost disitu. Lantas, saya pindah daripada tiap hari dapat ceramah mereka dan dicemooh selalu."&lt;/em&gt;---------&gt;Atas kebosanan akibat perbuatan mereka, Elok memutuskan keluar dari indekost tersebut. Di kost yang baru ini, kebetulan Elok memiliki teman dari yang tercatat sebagai anggota organisasi kuning yang bernama Ani. Sebelum pindah ke tempat kost jalan Bangka itu, Elok sempat mengatakan persoalan semua itu kepada Ani. &lt;br /&gt;---------&gt;Ani malah mendukung Elok agar segera pindah kost dari itu.Bahkan, Ani pun membela sikap yang dilakukan oleh Elok. Ani merasa bahwa tuduhan untuk mengikut campur persoalan pakaian adalah masalah pribadi. &lt;br /&gt;---------&gt;Elok menyadari bahwa tindakan mereka merupakan cara untuk mengajaknya secara tidak langsung agar ikut anggota organisasi mereka. Meskipun, kawan-kawan Elok umumnya adalah tercatat anggota ormek hijau tua. Tetapi, Elok merasa persoalan masuk atau tidaknya ke organisasi adalah persoalan individu. Karena itu, ia merasa menyayangkan sikap tidak simpatik yang telah dilakukan kawannya terhadap Elok. &lt;br /&gt;---------&gt;Masalah perbedaan prinsip tersebut juga dapat dijelaskan dari temuan fakta lapangan yang terjadi oleh rumah kontrakan di sekitar jalan Jawa. Didalamnya terdiri dari mahasiswa FISIP. Ada sekitar 8 mahasiswa yang menempati di rumah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 57&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kontrakan tersebut. Rozaki dan Suseno adalah mahasiswa yang tercatat sebagai anggota ormek kuning. Sementara Habib, Dudung dan Yozy tercatat sebagai anggota ormek hijau. Selebihnya adalah Prasetyo adalah mahasiswa yang tercatat sebagai anggota ormek merah. Serta, Fian dan Cahyo yang tidak tercatat sebagai anggota ormek apapun.&lt;br /&gt;---------&gt;Mereka adalah mahasiswa FISIP sejurusan dan seangkatan. Ketika itu, Rozaki dan Suseno sedang bersiap-siap membereskan barang-barang yang dimiliki. Semua pakaian dan barang-barang milik Rozaki dan Suseno telah dimasukkan ke dalam tas dan kardus maupun kantong plastik. Mereka akan pergi dan merekapun menjawab akan pindah kost ke rayon. Sementara Suseno pindah ke indekost jalan Jawa. Sebelumnya mereka kurang memberikan jawaban yang mendasar alasan mereka pindah dari tempat itu. &lt;br /&gt;---------&gt;Namun, setelah beberapa hari Habib mulai menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Menurut Habib, Rozaki selalu menunjukkan sikap yang kurang simpatik terhadap yang lain. Salah satu pemicunya adalah Rozaki memecah belah persahabatan diantara mereka yang telah terjalin sejak lama. Alasannya sederhana yaitu Rozaki merasa tersinggung atas perbuatan Habib dan Dudung  yang sering menegurnya dalam bertindak-tanduk sehari-hari. Misalnya, memutar radio keras-keras di malam hari, sering membawa minuman keras dan sebagainya. &lt;br /&gt;---------&gt;Lantas, Habib dan Dadung menegur agar Rozaki mau memperbaiki sikapnya. Rozaki-pun menuruti. Akan tetapi, setelah beberapa hari Rozaki merasa keberatan atas hal itu. Karena itulah dia mulai menebarkan isu-isu negatif kepada kawan-kawan se-kostnya. Bahwa sikap-sikap merupakan bentuk kebencian karena dia telah digerakkan bahwa cara yang dilakukan adalah Rozaki menebarkan isu-isu negatif bahwa tempat mereka akan dijadikan basis ormek hijau apalagi hampir setiap Daniel dapat dipastikan beberapa aktivis ormek hijau sering datang kesana dengan tujuan ormek. &lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah Rozaki segera menjelek-jelekkan Habib dan Dadung kepada Suseno, Prasetyo serta Cahyo. Bahwa sikap Habib dan Dadung merupakan kesengajaan agar mereka keluar dari rumah ini. Dadung dan Suseno pun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    mempercayainya apalagi mereka juga sering ditegur oleh keduanya mengenai sikap dan tingkah laku sehari-hari. Maka, mereka pun mulai menjelek-jelekkan sikap mereka.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;"&lt;em&gt;dasar ormek hijau… mereka selalu sok suci kita ini ngontrak disini juga ingin agar kita bisa berteman bukan dijadikan sebagai basis dan kepentingan politis ormek kuning. " Demikian ungkap Rozaki&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Namun, Cahyo yang merasa sadar bahwa hal itu merupakan adalah bentuk kegiatan politik mengadu domba, maka ia memberitahukannya kepada Habib dan Dadung. Disitulah pertengkaran mulai terjadi. &lt;br /&gt;---------&gt;Dadung dan Habib merasa bahwa Rozaki terlalu menuduh sepihak bahwa sikap teguran itu adalah upaya mengingatkan antar sesama agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.Bahkan Dadung dan Habib tidak mau menerima atas tuduhan Rozaki yang selalu mengkait-kaitkan antara sikap individu dengan latar belakang ormek. Karena itulah mereka marah. Lantas, mereka mengharapkan agar Rozaki bisa membedakan antara sikap individu jangan dikait-kaitkan dengan latar belakang ormek. Karena hal itu adalah sangat tidak kontekstual. &lt;br /&gt;---------&gt;Rozaki pun meminta maaf. Namun, ia masih tidak bisa menerimanya. Maka sejak saat itu, hubungan sosial diantara sesama teman se-indekost mulai renggang. Meski sikap baik yang ditunjukkan kepada mereka untuk mencoba menjalin hubungan agar kembali lebih akrab tampaknya sia-sia. Sebab menurut Rozaki hal itu adalah kebasa-basian belaka. &lt;br /&gt;---------&gt;Sejak kejadian itu, Rozaki sering menginap di rayon dan bila datang rumah kontrakan hanya mengambil alat-alat kebutuhannya seperti baju dan sebagainya. Karena itu dia meminta ijin kepada kawan-kawan agar tidak bingung mencari mereka. Teman-teman Rozaki menuruti. &lt;br /&gt;---------&gt;Untuk mencari dukungan, Rozaki selalu mengajak agar Suseno juga pindah dari rumah kontrakan tersebut. Suseno pun menyetujuinya, alasannya sebagai teman seideologi ia bisa memahami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka satu bulan berikutnya rumah kontrakan tersebut mulai habis masanya. Karena itu, Rozaki dan Suseno memutuskan pindah dari sana meski kawan-kawannya mengajak agar dia tinggal disitu. 	&lt;br /&gt;---------&gt;Hamzah membenarkan bahwa  Rozaki  serta  Yanuarti diatas merupakan salah satu bentuk sikap aktivis mahasiswa yang seringkali melibatkan persoalan pribadi selalu dikaitkan dengan latar belakang ormek . Hal ini dikarenakan adanya pandangan sempit dan sikap elitisme disertai kurangnya kedewasaan politik individu untuk menerima perbedaan di tengah kawan-kawan yang bukan se-ormek. Karena itulah mereka yang tidak bisa menerimanya seringkali pindah ke indekost yang baru bahkan di tempat organisasi mereka sendiri. Dalam konteks ini  individu merasa bahwa kesatuan harmonitas dalam menjalin hubungan sesama mahasiswa antar ormek lebih terjaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.2.2	Pertemanan Se-ormek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Di salah satu rumah kontrakan yang terletak di Jalan Jawa, ada lima mahasiswa yang uniknya mereka adalah mahasiswa anggota ormek kuning. Tiga diantaranya masih tercatat aktif sebagai anggota masing-masing berinitial Kristanto, Sugeng dan Poniman. Sementara Koko dan Adi Prasetyo sudah keluar dari struktur keanggotaan ormek hijau. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Sugeng, keberadaan mereka untuk berkomitmen agar menempati rumah kontrakan dalam satu bendera merupakan bentuk kekeluargaan yang terikat sangat kuat. Tentu saja hampir dipastikan konflik yang dilatarbelakangi perbedaan prinsipil sebagaimana yang terjadi oleh Rozaki dan Yanuarti sebagaimana yang diungkapkan diatas tidak dialami mereka. Mereka saling memahami pola pikir dan tindakan masing-masing. Berikut kutipan wawancara,&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;&lt;&lt;em&gt;em&gt;"Disini semuanya saling menjaga sikap dan tutur kata. Kita semua bisa saling memahami  karakter individu termasuk pola pikir masing-masing….."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut lagi, Sugeng juga menceritakan awal mula bagaimana mereka menyewa rumah disana. Mereka berkenalan didalam ormek kuning yang juga masing-masing berkuliah di FISIP UNEJ. Di saat itu Sugeng masih bertempat tinggal di Jalan Bangka. Ketika itu belum sedikitpun terbayang didalam benak Sugeng untuk menyewa rumah kontrakan bersama dengan kawan se-ormek. &lt;br /&gt;---------&gt;Lantas, setelah ditawari oleh Kristanto, Poniman dan Sugeng pun segera menyepakatinya. Alasan utama mereka bisa menjalin hubungan lebih akrab. Apalagi mereka saling mengenal lebih dekat. Karena itulah dia lantas menyewa rumah kontrakan di sana. disitu terlihat bahwa bendera ormek kuning terpampang di sebelah jendela bersamaan stiker-stiker. &lt;br /&gt;---------&gt;Mereka mengakui bahwa cara ini dapat mempererat tali silahturahmi antar mahasiswa khususnya aktivis ormek kuning yang kemudian membentuk sikap elitis dan ekslusif. Mereka juga tidak menolak jika ada mahasiswa ormek lain yang ingin menempati rumah kontrakan tersebut. Meski sampai saat ini belum satupun mahasiswa ormek lain baik tercatat aktif dan mantan aktivis yang ingin menempati. &lt;br /&gt;---------&gt;Akan tetapi jika kita bandingkan sebagaimana yang terjadi oleh Mochtar kelihatannya memang kecil kemungkinan ada mahasiswa ormek lain baik tercatat aktif maupun mantan aktivis yang akan menempati atau tinggal di dalam rumah tersebut. Persoalannya ini dapat dimengerti.&lt;br /&gt;---------&gt;Pertama, individu tersebut akan mudah tersinggung jika terjadi ketidakselarasan dalam bertukar wacana maupun tindak dan tutur kata yang mungkin kurang berkenaan dalam prinsip ormek dan idealisme yang dimiliki masing-masing. Sebagaimana yang terjadi oleh Rozaki. Dalam konteks ini, ketika individu mulai bergeser tingkah lakunya terkadang dia akan ditegur agar mampu bertindak-tanduk sebagaimana mestinya. Disinilah sering terjadi mengenelarisir bahwa tindakan individu dimaknai tindakan ormeknya. Karena itu, persinggungan yang akan merusak hubungan solidaritas tidak tertutup kemungkinan akan terjadi. &lt;br /&gt;---------&gt;Kedua, rumah kontrakan yang disewa oleh beberapa aktivis merupakan strategi politik untuk mencari kader-kader baru. Menurut Hamzah, sudah menjadi rahasia umum bahwa para aktivis membentuk rumah kontrakan digunakan mencari &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 61&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penambahan kader-kader baru. Biasanya ini terjadi ketika penerimaan mahasiswa baru. Mahasiswa baru yang dari luar kota umumnya mencari kost dan belum mengenal seluk beluk kota. Karena itulah para aktivis sering memberikan alamat kost kepada mereka.&lt;br /&gt;---------&gt;Jika mereka tidak jeli, didalamnya dapat dipastikan merupakan basis dari ormek tertentu. Ini dialami sendiri oleh Beny, ketika itu dia mendaftarkan diri ulang status kemahasiswaannya atau her registrasi ulang di Kampus. Disana dia ditawari oleh beberapa aktivis selembar brosur untuk yang akan membantunya mencarikan indekost. Biasanya tertera alamat, nama yang akan dihubungi beserta alamat rumah.&lt;br /&gt;---------&gt;Maka, Beny yang berasal dari Bojonegoro inipun mencari sendiri dengan menggunakan sepeda motor ditemani kakaknya. Diapun sampai ke tempat indekost yang sesuai dengan brosur tersebut. Disana dia menemui Nicholas yang kemudian baru diketahui bahwa dia termasuk kedalam anggota ormek kuning. Nicholas memberitahukan informasi mengenai indekost dan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh Beny. Nicholas juga memberikan informasi bahwa rumah kontrakan yang ditempatinya menerima seseorang untuk indekost disana termasuk persyaratan administratif. &lt;br /&gt;---------&gt;Setelah berpikir panjang, Beny pun menyepakati. Akhirnya, Beny menempati rumah kontrakan tersebut. Namun, beberapa hari Beny mulai diajak untuk datang ke ormek kuning oleh Nicholas dan kawan-kawan rumah kontrakan. Alasannya agar dia mendapat teman sepergaulan lebih banyak lagi. Ini sangat penting, karena mahasiswa perlu mendapatkan informasi ke kampus.&lt;br /&gt;---------&gt;Tidak hanya itu, Nicholas juga sering mengajak berdiskusi dengan Beny mengenai tema berbagai hal termasuk dunia aktivisme. Disini Beny mendapat wawasan luas mengenai aktivisme. Beny juga mendapatkan kelemahan masing-masing ormek baik cara pergerakan dan ideologi. Misalnya ormek merah muda cara pergerakannya lebih ke menekankan nasionalisme dan sebagainya. 	Pada akhirnya, karena sering diajak berdiskusi dan tukar pikiran mengenai dunia aktivisme dengan Nicholas, Beny-pun masuk sebagai anggota ormek kuning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 62&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut penuturan Beny hal itu pun  menjadi pendorong semakin merekatnya hubungan sosial didalam antar kawan di rumah kontrakan yang hampir semuanya adalah --anggota dan mantan anggota ormek kuning.&lt;br /&gt;---------&gt;Berbeda halnya dengan itu, persinggungan akibat ketidaktahuan individu dalam mencari indekost  dapat terjadi. Pengalaman ini dialami oleh Daniel. Hampir sama dengan persoalan itu. Daniel juga diberi sebuah brosur untuk mendapatkan informasi seputar kampus dan indekost di sekitar jalan kampus Tegalboto oleh mahasiwa yang kemudian diketahui bahwa dia adalah anggota organisasi merah. &lt;br /&gt;---------&gt;aka dia pun menghampiri rumah indekost tersebut, meski sebelumnya dia telah menghubungi melalui nomor handphone-nya yaitu Masdar. Namun Masdar yang mempersilahkan agar Daniel datang langsung kerumah kontrakan tersebut yang terletak di Jalan Jawa. Menurutnya, dia akan bisa mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai persyaratan untuk tinggal disana.&lt;br /&gt;---------&gt;Daniel pun mendatangi rumah kontrakan tersebut. Disana dia merasa kaget melihat ada sebuah bendera merah terpampang dalam sebuah tembok. Daniel sadar bahwa dia merasa tertipu, karena itu dia mengurungkan niatnya untuk bertempat tinggal disana. Daniel sudah mengetahui bila nanti dia akan diajak untuk masuk ke ormek merah.  &lt;br /&gt;---------&gt;Mengenai penciptaan hubungan sosial diantara rekan se-indekost atau rumah kontrakan memang sengaja dibuat agar individu merasa simpatik kemudian ikut menjadi anggota salah satu ormek. Menurut penuturan Paul, hubungan sosial persahabatan kadang dibuat dengan sengaja. &lt;br /&gt;---------&gt;Persoalan ini bisa dijelaskan oleh contoh  sebagai berikut. Didalam indekost Subhan terdapat beberapa mahasiswa yang umumnya belum tercatat sebagai anggota ormek manapun. Namun hanya satu orang yang bernama Idris yang tercatat sebagai anggota ormek merah. Idris mengupayakan sedemikian rupa agar mereka bisa masuk menjadi anggota ormek merah. Menurut Idris caranya adalah memberikan kebutuhan yang mereka berikan. Barulah kemudian ketika dia mempercayai kita sebagai figur sahabat maka dimulailah proses indoktrinasi. Berikut kutipan wawancara:&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 63&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"pertama-tama kita baik-baikin mereka semua…. Setelah mereka simpatik, baru dijerat dengan memberikan isu-isu negatif mengenai ormek-ormek"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;---------&gt;Dengan menerapkan strategi politik tersebut, Idris akhirnya mampu mengajak empat orang rekannya untuk bergabung kedalam ormek merah. Karena itu bisa dipastikan dalam suatu indekost ada beberapa citra yang melekat bahwa disana adalah basis ormek tertentu mengingat banyaknya mahasiswa indekost yang ikut menjadi ormek tertentu. Misalnya di Jalan Halmahera disitu lebih dicitrakan sebagai kelompok atau basis ormek merah karena ada lima orang yang ikut sebagai anggota ormek merah. Di jalan Jawa dan Bangka sebagaimana yang dapat dilihat dari  diatas, rumah kontrakan lebih distigmakan sebagai basis kelompok kuning dan hijau. Demikian seterusnya. Setidaknya dapat digambarkan dalam skema imej sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gambar tidak memungkinkan termuat mengingat sifat keterbatsan blog               &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                              KAMPUS UNEJ&lt;br /&gt;                                   &lt;br /&gt;                                     &lt;br /&gt;                   Jl. Jawa&lt;br /&gt;                                                     &lt;br /&gt;			I  &lt;br /&gt;                 						III	&lt;br /&gt;  	Jalan Halmahera					 &lt;br /&gt;                      Jalan halmahera                                Jalan Bangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                           IV&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;I dan II	: Indekost  yang dicitrakan	                            &lt;br /&gt;              sebagai basis ormek merah                                            &lt;br /&gt;III 	: Rumah kontrakan yang dicitrakan &lt;br /&gt;	  sebagai basis ormek hijau&lt;br /&gt;IV	: Indekost yang dicitrakan sebagai basis ormek kuning&lt;br /&gt;V         : Indekost yang dicitrakan sebagai basis merah muda.     &lt;br /&gt;VI 	: Indekost yang dicitrakan sebagai basis ormek hijau tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 64&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek Menjelang       &lt;br /&gt;      Momen Tertentu&lt;br /&gt;3.3.1 Pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek dalam  &lt;br /&gt;         kaitannya dengan momentum pemilihan dekan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Secara garis besar hubungan pergeseran pola pertemanan mahasiswa sangat disebabkan oleh akademik yang sangat diwarnai kepentingan politis baik dari mahasiswa ormek sendiri maupun dari pihak akademisi terutama dosen. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Paul, Hamzah dan Nasrul pergeseran pola pertemanan antar anggota ormek yang sangat mencolok terlihat menjelang pemilihan BEM, pemillihan dekan dan rektor. Dalam konteks pemilihan dekan sangat menarik untuk disimak. &lt;br /&gt;---------&gt;Menjelang pemilihan dekan, tim senat Fakultas  yang terdiri dari 1) guru besar (profesor dan doktor), 2) ketua jurusan, 3) perwakilan dosen  membentuk tim sukses untuk meng-goal-kan calon kuat yang dipilih dan diajukan dari Ilumni (Ikatan Alumni) ormek masing-masing di tingkatan birokrasi kampus. Tim sukses ini terdiri dari beberapa kelompok dosen yang sangat mendukung dalam salah satu figur tertentu. &lt;br /&gt;---------&gt;Tugas mereka adalah mengetahui seberapa besar kans figur calon terpilih untuk memenangkan suara dalam pemilihan dekan nanti. Tidak terlupakan mereka juga melakukan lobi-lobi politik kepada pihak lawan dan kelompok dosen disertai tawar-menawar "ala politik dagang sapi" jika mereka mendukungnya untuk menempati posisi penting didalam struktural birokrasi kampus seperti Pembantu Dekan (PD) dan jabatan struktural lainnya. Dalam tingkatan rektor, tim senat universitas ini terdiri dari para lektor kepala, para guru besar, para dekan dan pembantu dekan. Perlu diketahui baik tim senat Universitas maupun tim senat Fakultas memegang jabatan hampir sama dengan dekan atau rektor yaitu lima tahun. Selain itu, tim senat Fakultas terdiri dari dua puluh satu orang yang kesemuanya terpilih secara aklamasi. &lt;br /&gt;---------&gt;Tentu saja, meski jabatan struktural tersebut dipilih secara aklamasi berdasarkan pemilihan dosen dari masing-masing jurusan yang ingin berkompetisi secara politik. Misalnya pemilihan perwakilan dosen untuk duduk di senat Fakultas diajukan dan dipilih oleh minimal 10 orang dosen di rapat masing-masing jurusa n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 65&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kekuatan alumni ormek yang telah terbentuk dalam pemilihan dekanat juga turut bermain dalam pemilihan jabatan struktural di tingkatan di bawah dekanat sampai ke level terbawah yaitu jurusan. Yaitu dengan menerapkan sistem jaringan politik yang didalamnya terdiri dari satu atau dua orang dosen di masing-masing kelompok dosen.&lt;br /&gt;---------&gt; Ini sangat penting agar individu yang terpilih dan menempati posisi penting di tingkatan atas jabatan struktural Kampus dapat terpilih lagi dalam pemilihan berikutnya. Apalagi, secara emosional dan latar belakang historis sebagai Ilumni tertentu dipastikan kekuatan politik di dalam kelompok dosen sehingga posisi individu yang terpilih menjadi tingkatan semakin kuat. Karena itu, nama-nama PD yang terpilih hampir sebagian besar dekat dengan latar belakang kesamaan ormek yang mendekati dengan kesamaan jabatan elit paling atas di Kampus. Hanya beberapa saja yang bukan berasal dari kesamaan ormek. &lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, jaringan politik sebagaimana yang diungkapkan diatas dapat dilustrasikan sebagai berikut. Di kelompok dosen Ananta merupakan kelompok yang terdiri dari Ilumni ormek hijau. Didalamnya setidaknya terdiri dari Nur Hasim, Mawardi dan Rahardjo. Maka didalam ini ada sebuah perwakilan individu yang merupakan jaringan dari pihak-pihak kelompok kekuatan politik yang terbentuk dalam pemilihan dekan.	&lt;br /&gt;---------&gt;Di tingkatan kampus FISIP UNEJ, perwakilan jaringan kelompok ini sulit dikenali karena setiap dosen memiliki kepentingan tersembunyi untuk meraih kekuasaan tujuannya masing-masing yang dapat berubah-ubah hubungan solidaritasnya ketika menghadapi momentum pemilihan jabatan struktural di internal birokrasi kampus. &lt;br /&gt;---------&gt;Ketika itu terjadi, kelompok dosen yang terbentuk berdasarkan Ilumni ormek, yang sebelumnya kuat dapat pecah. Ini bisa disimak menjelang pemilihan PD, salah satu kelompok dosen Ilumni ormek kuning yang didalamnya karena seseorang individu bernama Riza mengajukan diri sebagai PD secara pribadi. Padahal, di kelompok dosen Ilumni ormek kuning telah mencalonkan Alfianto. Karena itu, isu-isu negatif mulai bertebaran antara sesama pihak elit atas birokrasi kampus dalam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 66&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merebut jabatan posisi struktural. Salah satunya adalah dianggap menghianati perjuangan rekan se-nasib Ilumni ormek dan sebagainya. &lt;br /&gt;---------&gt;Bila demikian halnya, konflik kepentingan mulai terlihat tajam. Hal ini terlihat dari berkelompok-kelompoknya dosen berdasarkan persamaan dan nasib atau latar belakang Ilumni. Kemanapun selalu dapat dilihat kelompok dosen tersebut memiliki rekan yang berdasarkan ormek. Misalnya dosen Ananta dan Rahardjo dan seterusnya.  &lt;br /&gt;---------&gt; Kembali ke persoalan pemilihan dekanat. Dalam pemilihan dekanat tahun kemarin, menurut penuturan mantan aktivis ormek yaitu Nasrul dan Hamzah perpecahan antar kelompok dosen terjadi berdasarkan kepentingan dan tujuan politik kelompok masing-masing. Namun, mereka bisa menyatu dalam kekuatan politik yang sulit dikalahkan oleh lawan politiknya. Misalnya, dalam pemilihan dekan kemarin kelompok civitas akademika Ilumni ormek kuning dan civitas akademika Ilumni ormek merah muda berkoalisi dan akhirnya memenangkan dengan figur Masri.	Kartu truf untuk memenangkan persaingan perolehan suara selalu terletak dari Ilumni ormek merah muda apakah mau berkoalisi secara politik dengan pihak Ilumni ormek hijau atau Ilumni ormek kuning. Karena itu dalam tahun-tahun pemilihan jabatan struktural Kampus selalu dijadikan perebutan untuk meng¬-goal-kan masing-masing tujuan dan kepentingan politik para dosen yang terikat dalam Ilumni ormek. &lt;br /&gt;---------&gt;Sementara itu, hasil pemilihan dekanat kemarin, Rahardjo calon dari pihak organisasi ormek hijau kalah mutlak. Menurut Nasrul dan Hamzah seorang aktivis yang mengetahui seluk beluk birokrasi elit kampus mengemukakan bahwa kemenangan tersebut sejatinya dapat dilihat dari seberapa besar kekuatan politik alumni ormek masing-masing, kelompok dosen dan terutama jurusan. Menurutnya, hal itu bisa dipetakan secara politik jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala beberapa pihak calon dekan tersebut mengajukan atas nama sendiri. Akan tetapi dia membutuhkan dukungan politik dari Ilumni dan kelompok dosen termasuk juga di kalangan mahasiswa melalui ormek. Sama halnya di tingkatan bawah yaitu mahasiswa (baca:aktivis), kelompok dosen ini terpecah-pecah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 67&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga berdasarkan kesamaan ormek. Misalnya, kelompok Jakoeb terdiri dari Heru, Ananta dan Rahardjo yang umumnya dibesarkan kedalam Ilumni ormek hijau. Sementara, kelompok dosen Masri terdiri dari Prabowo, Pramudya dan lain-lain. Umumnya mereka berkelompok  terdiri lebih dari dua orang. Kesemuanya ini adalah memiliki tujuan dan kepentingan politik baik secara individu maupun kelompok untuk meraih kekuasaan di tingkatan jurusan, dekan, struktur akademik.&lt;br /&gt;---------&gt;Bahkan jika memiliki prestasi penting dalam jabatan struktural dan status gelar akademik akan mendapatkan peluang terbesar untuk meraih jabatan yang lebih tinggi lagi di tingkatan akademik dan birokrasi pusat seperti rektor. Karena itulah, syarat-syarat pengalaman menduduki jabatan politik, gelar akademik di tingkatan sektoral kampus maupun jurusan sangat penting. Hal inipun juga terjadi di tingkatan pemilihan dekanat. Maka wajar jika kelompok dosen di setiap jurusan di dalam kampus termasuk FISIP sendiri selalu berlomba-lomba meraih jabatan di tingkatan struktural Fakultas.  &lt;br /&gt;---------&gt;Secara garis besar kekuatan politik masing-masing kelompok dosen di FISIP UNEJ dapat terlihat dari masing-masing jurusan. Yaitu Kesejahteraan Sosial dan Administrasi merupakan basis kekuatan politik Ilumni ormek kuning,  Hubungan Internasional dan Sosiologi merupakan kekuatan politik Ilumni ormek hijau, selebihnya dan terpisah-pisah adalah milik kekuatan Ilumni ormek merah muda. Untuk semakin memperkuat kekuatan politik tersebut maka cara yang dilakukan adalah menerima dosen-dosen baru yang berdasarkan atau dilihat ormek tertentu. Tentu saja dalam hal ini yang berwenang untuk memilih dan menerima dosen baru adalah tim penguji yang ditunjuk oleh masing-masing jurusan dan disetujui oleh dekan. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut sumber terpercaya yang tidak mau disebutkan namanya, konon pemilihan dosen baru tidaklah dilihat secara kualitas akademik. Akan tetapi lebih merupakan  kesamaan ormek tertentu yang secara historis dan emosional lebih dekat dengan para pemegang kekuasaan elit atas birokrasi FISIP UNEJ. Apalagi dalam persyaratan penerimaan dosen baru harus dicantumkan pengalaman organisasi disamping persyaratan administratif lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 68&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Ironisnya, menjelang ujian pelaksanaan penerimaan dosen baru cara-cara untuk meluluskan para dosen muda agar memperkuat kekuatan politik di tingkatan elit atas dilakukan tidak sebagaimana mestinya. Menurut sumber terpercaya, beberapa dosen disinyalir membocorkan soal ujian kepada mereka yang akan menempuh ujian penerimaan dosen baru. Tentu saja cara ini sangat rahasia dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi lewat "tangan" dari pihak yang satu dengan pihak yang lain. &lt;br /&gt;---------&gt;Misalnya dalam penerimaan dosen baru, pihak fakultas membutuhkan dua  orang maka dilakukan bargaining politik melalui rapat laten dan non formal di tingkat atas pihak-pihak yang berwenang untuk meloloskannya diantara mereka. Maka kesepakatan politik yang biasanya dapat dirumuskan dalam menerima dosen baru adalah melebih-lebihkan hasil penghitungan nilai para peserta baru ujian penerimaan dosen baru. Itulah sebabnya dalam penerimaan dosen baru hampir dipastikan nama-nama yang lolos dari ormek-ormek tertentu yang secara emosional dan historis memiliki kedekatan dengan pemegang kekuasaan elit birokrasi Kampus. &lt;br /&gt;---------&gt;Terlepas dari itu dan masih dalam kerangka pemilihan dekan, fakta lapangan menunjukkan bahwa peran ormek yang secara tidak langsung turut menghembuskan isu-isu negatif dan upaya politisir pihak dosen yang mewakili tim sukses dekan.&lt;br /&gt;---------&gt;Menjelang pemilihan dekan, para dosen yang tergabung dalam Ilumni masing-masing selalu menyusupkan isu-isu negatif secara tidak langsung mengenai citra calon-calon yang akan bersaing. Yaitu melalui diskusi-diskusi yang biasanya diadakan dalam ormek oleh dosen yang kebetulan diundang sebagai penceramah. Misalnya isu negatif, di hadapan aktivis ormek kuning yang mengikuti acara diskusi dosen Alfianto menyelipkan isu kepada mereka bahwa Rahardjo dianggap tidak berkompeten menjadi dekan karena aktivitas di kampus terutama mengisi waktu perkuliahan diabaikan. Demikian sebaliknya yang kontra dari pencalonan Masri, di pihak ormek kuning salah satu dosen mengungkapkan pula kepada para aktivis dalam diskusi disertai joke-joke segar bahwa gelar akademik Masri dan intelektualitas dipertanyakan untuk menjadi dekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 69&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, para dosen yang berusaha meng¬-goal-kan calonnya berusaha memanfaatkan fasilitas pers intra eskstrakurikuler untuk mengetahui seberapa besar kans, citra serta kriteria dekan ideal yang diidam-diidamkan di mata mahasiswa. Di kampus ada dua organisasi intra ekstrakurikuler yang berperan besar melaksanakan fungsi ini - yaitu PRM dan LMS. Tentu saja mereka "digerakkan" sebelumnya oleh salah satu dosen ketika datang ke ormek melalui diskusi-diskusi .&lt;br /&gt;---------&gt;Namun dalam pemilihan kemarin tampaknya peran PRM sangat besar melaksanakan semua fungsi tersebut. Terbukti, beberapa hari menjelang pemilihan dekan aktivis PRM membagi-bagikan sejumlah angket kepada mahasiswa untuk mengetahui kelayakan figur dosen menjadi dekan. Menurut Naning yang kebetulan mengisi angket tersebut, salah satu poin yang ditanyakan didalamnya adalah: Bagaimana kriteria dekan ideal beserta nama calon dekan yang bersaing. Dengan diwajibkan menyilang beberapa poin penting yaitu memiliki gelar akademis,  aktif mengisi kuliah dan sebagainya. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Hamzah, dosen yang datang ke diskusi meminta tolong secara langsung kepada beberapa aktivis didalamnya yang menjadi anggota di PRM atau LMS untuk mensurvei seperti apa dekan yang diidam-idamkan oleh mahasiswa. Kadangkala hal ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi mengingat urgennya bagi para dosen yang meng-goal-kan menjadi dekan. Menurut Paul dan Hamzah tentu saja para aktivis berusaha besar membantunya secara langsung maupun tidak langsung agar figur atau calon dosen dari ormek masing-masing terpilih menjadi dekan. Sebab, para aktivis  mahasiwa akan mendapatkan akses fasilitas untuk mempertahankan eksistensi organisasi misalnya mendapat bantuan dana, proyek penelitian dari dosen Ilumni dan beasiswa. Menariknya, dalam persyaratan penerimaan beasiswa PPA tahun 2001 diwajibkan agar mahasiswa melampirkan pengalaman organisasi masing-masing. Menurut Paul, Hamzah dan Nasrul dapat dipastikan hampir 60 % mendapatkan beasiswa sekitar Rp. 360.000 adalah kalangan ormek tertentu. Terutama ormek kuning. Semakin besar birokrat kampus menempati kedudukan jabatan penting. Secara otomatis pula, ormek latar belakang historis dosen yang membantunya secara tidak langsung untuk memenangkan pemilihan dekan akan mendapatkan fasilitas beasiswa tersebut. Paul, Hamzah dan Nasrul mengungkapkan pula kelemahan dalam penerimaan beasiswa adalah kurangnya transparansi dan alokasi berapa dana yang wajib diterima dan diberikan dari Yayasan Non Government dan Pemerintah.    Berikut kutipan wawancara: &lt;br /&gt;"Tau-tau beasiswa diumumkan begitu saja. Eh, ketika pengumuman beasiswa (dalam hal ini pengumuman penerimaan beasiswa kepada sejumlah mahasiswa) yang dapet (baca: ormek) itu-itu saja."  Lebih lanjut lagi,  Hamzah, Nasrul dan Paul mengungkapkan bahwa fasilitas beasiswa yang diterima ormek kuning tersebut kadangkala para broker (dalam hal ini  mantan aktivis yang menempati kedudukan tinggi di rayon. Misal, ketua umum, wakil ketua dan sebagainya) jauh-jauh hari sebelum pengumuman beasiswa. Para broker ormek kuning, mendatangi -umumnya malam hari- birokrat Kampus dengan menyerahkan sejumlah nama-nama aktivis yang tercatat aktif. Ironisnya hal ini pula terjadi dalam penerimaan dosen baru. Para broker berusaha mendekati birokrat Kampus dengan menyerahkan nama-nama mantan Ilumni ormek sehingga semakin mempermudah penerimaan dosen baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 70&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Namun, sayang, PRM tidak mampu melakukan motonya sebagai mana mestinya sebab hasil perolehan tersebut tidak ditampilkan dalam edisi berikutnya. Konon, menurut sumber yang terpercaya, hasil dari angket tersebut menyebutkan figur Rahardjo layak menjadi dekan di mata mahasiswa. Mungkin alasan mendasar inilah yang menjadikan PRM tidak bisa menerbitkan hasil perolehan angket di edisinya. Secara organisatoris baik pihak Ilumni ormek atas dan di tingkatan mahasiswa akan merasa malu. Padahal sejatinya, fungsi pers adalah berhak menyiarkan data lapangan secara obyektif sebagaimana mestinya. &lt;br /&gt;---------&gt;Kembali ke persoalan pemilihan dekan. Dalam pemilihan dekan kemarin sempat terjadi isu bahwa beberapa elemen mahasiswa angkatan 2001 yang menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN) akan melalukan gerakan politik praktis mengenai pemilihan dekan. Persoalan ini menarik untuk disimak.&lt;br /&gt;---------&gt;Menjelang  pemilihan dekan kemarin kebetulan bersamaan dengan berlangsungnya Kuliah Kerja Nyata mahasiswa angkatan 2001 terjadi tindakan kehilangan sepeda motor yaitu milik Zaenal. Karena itulah pihak kordinator kecamatan masing-masing kecamatan segera merestruksi agar meminta bantuan kepada universitas mengenai kerawanan di masing-masing daerah KKN. Maka dikumpulkannya beberapa elemen mahasiswa yaitu kordinator kecamatan (korcam) dan sekretaris kecam agar dapat menarik diri dari KKN dengan berdemonstrasi dan meminta tuntutan yang adil kepada pihak fakultas. &lt;br /&gt;---------&gt;Sayang cara yang dilakukan oleh Peter tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Peter sebagai pihak korcam Kalisat, melebih-lebihkan isu mengenai situasi dan kerawanan. Misalnya, lima Hp di salah satu kelompok desa hilang, terjadi penarikan satu desa karena dituduh berzina, telah terjadi penyerangan secara mendadak oleh beberapa warga desa ke salah satu tempat posko KKN mahasiswa. Disinilah beberapa mahasiswa yang mengikuti kegiatan KKN merasa dipolitisir. Apalagi mereka melihat bahwa yang pro terhadap penarikan diri sebagian besar adalah mahasiswa sosiologi dan bergerak untuk mensosialisasikan mengenai kerawanan sosial hal itu mahasiwa yang berormek hijau dan kelompok merah. Apalagi disaat itu menjelang pemilihan dekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 71&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah, stigma  bahwa ada upaya menggagalkan dekan dan upaya politisir oleh dekan mulai naik diantara mahasiswa angkatan 2001. Artinya, ormek hijau memanfaatkan isu tersebut untuk menjatuhkan calon figur dari ormek kuning yang akan bersaing. Padahal, sesungguhnya tidak demikian. Karena itulah mulai terjadi pergeseran antar sesama mahasiswa baik secara jurusan terutama ideologi (ormek). Masing-masing pihak terutama ormek kuning mulai menyusun kekuatan politik untuk mengagalkan penarikan diri dari KKN karena dianggap diprovokasi dan dipolitisir (Ini terkadang terjadi dalam rapat yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa (Hima) baik jurusan maupun ekstrakurikuler. Setiap diadakan rapat, cara aktivis memboikot agar acara tidak berlangsung adalah sengaja tidak datang. Ataupun juga dalam pertanggung jawaban anggota Hima. Disini sebagian aktivis ormek kuning selalu menyudutkan dengan alasan yang kurang rasional mengenai tanggung jawab selama melaksanakan kerja sebagai anggota Hima. Akibatnya, rapat yang tidak memenuhi persayaratan quorum tidak dapat dilaksanakan. Ironisnya, ini pula terjadi dalam pemilihan dekan. Sejumlah dosen ormek hijau tidak memenuhi acara pelantikan dekan.)&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah Kunto dan Paranggi segera mensosialisasikan baik melalui HP maupun mendatangi secara langsung kepada rekan-rekan mahasiswa yang tersebar di desa dan kecamatan agar mengurungkan niatnya untuk menarik diri dari KKN.  Bahkan setiap rapat yang diadakan oleh Peter tidak dihadiri oleh para kordinator desa. Karena itulah, kemudian upaya meminta pertanggung jawaban kepada pihak rektorat agar lebih memperhatikan para mahasiswa KKN tidak dapat dilakukan. Meski pihak fakultas telah memberikan ruang dengan cara berdialog. Namun, didalamnya sudah terjadi bargaining politik antara ormek kuning dengan pihak fakultas beserta dosen-dosen pembimbing setiap kelompok KKN yang juga termasuk kedalam ormek kuning. Bahwa setiap isu yang berkembang oleh sebagian mahasiswa ormek kuning telah disampaikan kepada pihak fakultas agar upaya penarikan tidak dapat terjadi. Bahkan jauh hari Kunto dari ormek kuning menelpon dan datang secara langsung ke fakultas menghubungi Pak Parsudi mengenai hal itu agar dapat melakukan setingan politik ketika kegiatan dialog antara mahasiswa dan fakultas diadakan (Pak Parsudi merupakan alumni ormek kuning. Kadangkala setingan politik ini juga terjadi didalam struktur Himpunan Mahasiswa di kampus. Sejumlah dosen berupaya menguasai secara tidak langsung Hima agar mengetahui seluk beluk tipikal aktivisme sehingga mereka dapat melakukan upaya politisir menjelang momentum pemilihan dekan. Tentu saja hal ini dilakukan dengan menyuruh para aktivis lain menguasai jabatan strategis yang tersebar di Hima. Dalam hal ini,hampir semua Hima baik jurusan dan esktrakurikuler dapat dipastikan dikuasai oleh ormek kuning. Misalnya LMS, PRM, MPL dan sebagainya.   ).&lt;br /&gt; ---------&gt;Demikian selanjutnya, pihak fakultas beserta dosen pembimbing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; hal. 72&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;desa yang umumnya dari ormek kuning terjun ke masing-masing desa untuk mensosialisasikan dan mematahkan argumen mahasiswa agar kegiatan politik praktis untuk meminta pertanggung jawaban para fakultas tidak dapat berlangsung.  Akhirnya pun  kegiatan moral untuk meminta pertanggung jawaban para fakultas termasuk tuntutan menarik diri dari KKN tidak dapat terpenuhi. Dengan memberikan stigma negatif bahwa yang mereka yang mensosialisasikan untuk meminta pertanggung jawaban kepada pihak fakultas adalah provokator yang meresahkan hubungan solidaritas dan merusak acara atau kegiatan akademik (KKN maupun Pemilihan Dekan). Meski pada awalnya semua pihak telah menyetujui dengan menandatangi surat yang telah difasilitasi para korcam.&lt;br /&gt; ---------&gt;Ferdian, mengungkapkan bahwa kejadian itu sebenarnya adalah murni kegiatan moral agar pihak fakultas dapat memperhatikan nasib mahasiswa yang menempuh KKN. Namun, sayang ada kesalah pahaman terutama cara sosialisasi dan individu yang terlibat atau pioner yang bergerak tergabung dalam ormek tertentu. Muncullah dugaan bahwa ada upaya politisir. Apalagi pada saat itu mendekati momentum  pemilihan dekan. Para mahasiswa KKN yang umumnya ormek kuning mengkhawatirkan jika gerakan politik praktis benar-benar dilakukan akan memberikan citra buruk terhadap kinerja Dekan Wahib yang kebetulan pada saat itu masih menjabat. Bila hal itu terjadi maka secara otomatis dan organisatoris citra ormek kuning akan jelek. &lt;br /&gt; ---------&gt;Beberapa contoh  diatas dapat menjelaskan bahwa dalam momentum tertentu terutama menjelang pemilihan dekan pergeseran hubungan sosial antar anggota ormek mengarah ke bentuk destruktif. Persoalan itu dapat dijelaskan oleh kutipan Hamzah sebagai berikut.&lt;br /&gt; ---------&gt;"&lt;em&gt;Dosennya rebutan jabatan, aktivis mahasiswa malah rebutan jabatan bem… di organisasi intra ekstrakurikuler dan fasilitas dana. FISIP ini sudah bukan Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu sosial lagi…. malah Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pertunjukkan. Sungguh memalukan, kampungan dan primitif !!! Seharusnya mereka memajukan iklim atau gairah intelektual akademik bukannya malah memperbesar konflik…. di mahasiswa… seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada mahasiswa Demikian ungkap Hamzah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 73.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Bila kita cermati lebih dalam dari  kutipan Hamzah dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pergeseran hubungan sosial antar anggota ormek di tingkatan mahasiswa terjadi akibat sikap dan tindakan politik kalangan elit atau birokrat kampus yang kurang memberikan contoh kedewasaan politiknya. Termasuk cara dan tindakan politik atau politisir yang dilakukan oleh mahasiswa terutama  pihak   birokrat     yang&lt;br /&gt;didalamnya memanfaatkan keberadaan ormek demi pemenuhan kebutuhan subyektif pencapaian kekuasaan di tingkat atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.3.2 Pergeseran Hubungan Pertemanan Dalam Momentum Pemilihan 	          &lt;br /&gt;         Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; ---------&gt;Sementara dalam tingkatan mahasiswa sendiri pergeseran hubungan sosial yang mengarah pada destruktif terlihat dari pemilihan BEM atau pemilihan jabatan penting struktural didalam organisasi ekstrakurikuler di Kampus. Ketika pemilihan BEM dilaksanakan, masing-masing pihak ormek telah mengajukan calonnya masing-masing. Dari ormek kuning adalah Hermawan, Poniman. Dari ormek hijau yang maju adalah Topan dan ormek merah muda yang diajukan adalah Doni. Ormek merah yang dicalonkan adalah Hasanuddin. Sama halnya dengan pemilihan dekan, mereka juga memiliki tim sukses masing-masing yang terdiri dan memiliki tugas untuk meng-goal-kan calon dari ormek masing-masing. Yaitu: &lt;br /&gt;1. Tim Lapangan   : Bertugas untuk mengatahui kondisi di lapangan dan mengetahui 		         seberapa besar kans untuk memenangkan pemilihan BEM. &lt;br /&gt;2. Tim play maker : Mereka terdiri dari mahasiswa yang dipilih berdasarkan jurusan 		         atau angkatan dalam ormek. Tujuannya adalah menyetting  intrik                &lt;br /&gt;                                 politik, mengetahui dan mengenali seluk beluk tata cara &lt;br /&gt;                                 permainan politik lawan. Misalnya dengan memetakan statistik &lt;br /&gt;		         kekuatan lawan. Kadangkala disini mereka menggunakan 			         tekhnik memata-matai lawan dengan menerapkan sistem &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 74.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         jaringan politik yaitu memberdayakan perwakilan di setiap &lt;br /&gt;		         jurusan untuk mengetahui perkembangan di setiap jurusan. &lt;br /&gt;		         Misalnya siapa yang mengajukan diri  menjadi anggota BEM&lt;br /&gt;3. Tim pemantau    : Bertugas mengamati proses tekhnis dan penghitungan suara &lt;br /&gt;                                 dilakukan agar tidak terjadi kecurangan.&lt;br /&gt;---------&gt;Ketika pelaksanaan BEM akan berlangsung ketiga tim sukses itu segera melakukan aktivitasnya agar calon terpilih menjadi dapat memenangkan pemilihan BEM. Ironisnya cara-cara yang dilakukan beberapa aktivis terkadang dilakukan tidak dengan jujur dan adil. Misalnya jauh-jauh hari akan dilaksanakannya pemilihan BEM, beberapa aktivis ormek kuning mempolitisir hampir seluruh Kartu Mahasiswa (KM) Pariwisata dengan alasan akan dipinjam untuk mengurus atau meminjam buku di perpustakaan.  Karena itulah, ketika pelaksanaan pencoblosan berlangsung mahasiswa Pariwisata tidak dapat menyalurkan hak pilihnya.	&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut penuturan Tobing, mereka pada malam harinya didatangi oleh beberapa aktivis ormek kuning yang bernama Asmadi meminjam KM-nya untuk menyewa buku di perpustakaan yang akan digunakannya sebagai mengerjakan tugas mata kuliah dari dosen. Lantas ia pun memberikannya sebab Asmadi mengatakan bahwa KM miliknya hilang. Barulah sadar kemudian Tobing bila hal itu sangat penting sebagai prasyarat utama menggunakan hak pilihnya. Akibat secara keseluruhan modal politik, suara ormek hijau menurun tajam. Karena itulah ormek hijau tidak dapat memenangkan suara dalam pemilihan BEM. &lt;br /&gt;---------&gt;Paul mengakui bahwa cara-cara yang dilakukan oleh ormek kuning terkesan menggunakan praktik ala tzun zu dan machiavelli. Mereka terkesan menghalalkan segala cara sebab bagi mereka kekuasaan adalah segalanya. Kadangkala mereka mengadu domba antara satu dengan yang lain. Ini pernah dialami oleh Murindra ketika pemilihan BEM oleh Rozaki tanpa alasan yang jelas dia tidak boleh berteman dengan Nasrul yang mencalonkan diri sebagai anggota BEM. Dia tidak habis pikir mengapa semua itu bisa terjadi. &lt;br /&gt;---------&gt;Selain itu dalam merebut kekuasaan, intrik politik yang biasanya digunakan adalah memecah suara pemilih BEM. Dalam hal ini menggunakan tekhnik calon &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bayangan dan calon utama. Yaitu satu orang benar-benar mencalonkan diri sebagai anggota BEM dan yang lain adalah calon bayangan untuk merekrut suara dari pihak lain. Ini terlihat dari beberapa elemen yang mengajukan sebagai calon anggota BEM. &lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala, calon bayangan ini bisa memenangkan perolehan suara dalam BEM. Akan tetapi hal ini sah. Namun disinilah tugas tim sukses agar dia tidak melenceng dari kepentingan organisasi. Sebab, kadangkala calon bayangan bisa berkhianat dengan cara berkoalisi dengan pihak lawan meski di lapangan hal itu tidak ditemui. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam meraih kekuasaan ciri khas ormek hijau dalam merebut kekuasaan adalah menghitungkan secara sistematis dan rasional. Mereka terlalu banyak berpikir tanpa disertai pengalaman praksis politik yang sedikit bila dibandingkan dengan ormek kuning. &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Paul, ormek hijau dalam bermain meski cantik dan tidak kasar seperti ormek kuning namun dia terlalu lambat dalam menyikapi dan berpraksis politik. Kadangkala, ormek hijau itu terlalu lugu sehingga selalu kalah dalam persaingan perebutan suara di pemilu BEM. Sebaliknya cara ormek kuning selalu menggunakan politik adu domba, mengasut serta memecah belah suara. Demikian halnya dalam perebutan di jabatan struktural di birokrasi atas.   &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek&lt;/strong&gt; 		         &lt;br /&gt;         Dalam Kaitannya Dengan Prestasi Akademik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala untuk menjalin hubungan emosional lebih antara para dosen Ilumni selalu memberikan nilai lebih kepada mahasiswa yang tergabung kedalam ormeknya. Sudah rahasia umum lagi bahwa mereka yang tergabung kedalam ormek pasti mendapat nilai lebih baik daripada yang lain.&lt;br /&gt;---------&gt;Ini pula terjadi sampai pengurusan mata kuliah terakhir yaitu skripsi. Banyak mahasiswa yang tidak mau bila pembimbing skripsinya adalah berbeda organisasi. Ini dialami oleh Buyung. Buyung adalah mantan aktivis ormek hijau. Dia memiliki dua pembimbing skripsi yang terikat dalam Ilumni ormek kuning yaitu dosen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 76&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasin. Karena itulah dia selalu dipersulit dengan cara yang berbelit-belit akibatnya dia menyelesaikan skripsi lebih lama sekitar satu tahun. &lt;br /&gt;---------&gt;Lain halnya dengan Riza yang temannya sama-sama dibimbing oleh dosen kuning. Namun, dia dapat menyelesaikan lebih dulu kurang dari satu tahun. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dalam perkembangan intelektual mahasiswa di FISIP UNEJ. &lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala, dua pembimbing yang bertikai secara ideologi selalu membuat mahasiswa menjadi kelimpungan. Ini terjadi oleh Zulkarnaen. Zulkarnaen dibimbing oleh dosen yang keduanya memiliki perbedaan secara ideologis. Zulkarnaen adalah mahasiswa ormek merah. Dosennya yang bernama Ignas tergabung dalam ilummni ormek merah muda dan Kusanto yang tergabung kedalam ilummni ormek hijau. Zulkarnaen selalu dipersulit karena keduanya memberikan argumen yang berbeda-beda dalam membimbing skripsi. Kusanto marah-marah kepada Zulkarnaen karena mengikuti aturan metodologi yang disuruh oleh dosen Alfianto. Demikian sebaliknya, dosen Buyung mengharuskan agar dia mengganti cara yang tidak mengikuti metodologi sebagaimana yang diperintahkan oleh dosen Alfianto. Inilah salah satu dilema intelektualitas di FISIP UNEJ yang mengakibatkan pergeseran hubungan antar ormek yang kemudian memicu konflik karena dosen telah menunjukkan contoh yang kurang baik. &lt;br /&gt;---------&gt;Kadangkala pertengkaran itu pula terjadi sampai ujian skripsi tahap akhir sebagai prasyarat terakhir apakah mahasiswa lulus atau tidak. Didalam ujian skripsi, Zulkarnaen dibantai habis-habisan oleh dosen Alfianto karena tidak sesuai dengan metodologi. Disinilah, dosen pembimbingnya tidak mau bahwa metodologi yang digunakan tersebut telah ketinggalan jaman. &lt;br /&gt;---------&gt;Ataupun juga, dalam penilaian terakhir ketika ujian skripsi. Banyak  menceritakan mereka yang tergabung ormek seperti halnya dosen pembimbing akan mendapatkan nilai lebih bila dibandingkan yang tidak. Ini terjadi pula di  Thomas dan Menik. Agar hal itu tidak terjadi lucunya mahasiswa sempat melakukan ritual gaib atau ilmu sirep seperti pergi ke dukun untuk meminta mengguna-gunai beberapa dosen yang dianggap akan mempersulit dirinya untuk memperoleh gelar sarjana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 77&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya hal yang dialami Melati, dosen Alfianto terkenal dalam killer untuk membantai setiap mahasiswa yang bukan se-ideologi. Karena itu, jauh-jauh hari dia mempersiapkan ke dukun agar dosen Alfianto dapat tertidur pulas ketika pelaksanaan ujian skripsi berlangsung. Alhasil, Alfianto pun tertidur pulas mulai dari awal ujian skripsi dan terbangun ketika ujian skripsi berakhir. Selain itu, kemenangan lulusan cumlaude dan lulusan tercepat menjadi pertaruhan bagi ormek dosen yang tergabung Ilumni dan jurusannya. Karena itu, ketika melihat ada sebuah mahasiswa yang kebetulan dia secara ideologi pernah dibesarkan dalam ormek seperti pembimbingnya, maka dia akan diprioritaskan lebih daripada yang lain.Terutama dia memiliki wawasan luas dan prestasi akademik yang cukup bagus. Ini pula terjadi oleh salah satu Cindy (ormek kuning) yang pernah menjadi lulusan cumlaude dan tercepat dalam yaitu IP sebesar 3.8 beberapa tahun lalu. &lt;br /&gt;---------&gt;Tidak hanya itu, kasus "jual-beli" nilai seringkali terjadi. Ini dialami oleh Nuno yang tercatat dari ormek kuning. Karena nilai ujian salah satu mata kuliah turun ia menyerahkan amplop berisi uang Rp. 100 ribu kepada dosen Jajat yang tercatat sebagai ormek kuning . Kebetulan mahasiswa lain dan tergabung ormek lain ingin  melakukan hal itu (Kadangkala, cara pembelian nilai itu dilakukan dengan tidak langsung. Yaitu dengan mengharuskan mahasiswa membeli buku mata kuliah yang diwajibkan oleh dosen). Namun, dosen Jajat menolak. &lt;br /&gt;---------&gt;Selain itu, kadangkala para dosen memberikan nilai diskriminatif kepada mahasiswa. Para dosen sering memberikan nilai ujian berdasarkan kesamaan ormek. Misalnya, Janti dari ormek kuning di salah satu mendapatkan nilai lebih baik daripada yang lain. Ini diberikan oleh dosen Shadily yang juga dari ormek kuning. Demikian pula, Pak Bagyo dari ormek hijau memberikan nilai lebih kepada salah satu mahasiswa yang juga tercatat sebagai anggota ormek hijau.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.3.4 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek Dalam 	 &lt;br /&gt;         Kaitannya  Dengan  Diskusi atau  Pemberian Materi Kuliah	&lt;/strong&gt;-------------&gt;Didalam kelas pernah terjadi suatu kejadian unik sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Ninok. Suatu ketika, Ninok mengikuti pelaksanaan kuliah yang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 78&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diadakan oleh salah satu jurusan sosiologi yang berinitial dosen Warsito. Dalam materi mata kuliah, dosen Warsito memberikan tema mengenai perkembangan sosial-politik dan sikap kepemimpinan Gus Dur. &lt;br /&gt;---------&gt;Maka dosen Warsito memberikan pendapat bahwa Gus Dur yang selalu berpangku tangan pada kyai langitan. Karena itulah beberapa mahasiswa yang memiliki kedekatan secara emosional, historis dan prinsip dengan Nadhlatul Ulama yaitu ormek kuning merasa bahwa dosen Kurniawati terlalu sepihak. Namun, mahasiswa ormek kuning diam saja. Dalam arti tidak akan menyanggahnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut terjadi kesalahpahaman dengan dosen tersebut. Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kesalahpahaman meski dalam perdebatan intelektual dalam topik diskusi dengan dosen maka akan berpengaruh dalam nilai ketika selesai ujian. &lt;br /&gt;---------&gt;Setelah selesai kuliah, barulah beberapa mahasiswa ormek kuning mulai membicarakan tentang sikap dan kelakuan dosen tersebut. Disinilah Ninok diberitahu oleh mereka yaitu Rozaki bahwa sikap-sikap dan tindakan ormek hijau umumnya seperti itu. Maka ketika pulang, Ninok segera bangkit dari kursi kuliahnya. Dia mencari temannya yang biasa selalu pulang bersama yaitu Atika . Di tengah perjalanan, Ninok menceritakan perihal sikap dan tingkah laku kawan-kawannya mengenai kesalahpahaman akibat diskusi dosen sewaktu memberikan materi kuliah di kelas. Apalagi dia sedikit merasa terheran-heran baik sikap dan tindak tanduk baik dosen maupun Rozaki itu. Dia menyayangkan semua itu bisa terjadi. Sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menunjukkan sikap kedewasaan politik. Dalam konteks ini, saling menghargai antar sesama.&lt;br /&gt;---------&gt;Namun, ada kalanya ketika perdebatan diskusi tidak sampai merusak pada persahabatan antar sesama anggota organisasi ekstrakurikuler. Ini diakui oleh Yanuarti. Berikut  kutipan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 79&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diadakan oleh salah satu jurusan sosiologi yang berinitial dosen Warsito. Dalam materi mata kuliah, dosen Warsito memberikan tema mengenai perkembangan sosial-politik dan sikap kepemimpinan Gus Dur. &lt;br /&gt;---------&gt;Maka dosen Warsito memberikan pendapat bahwa Gus Dur yang selalu berpangku tangan pada kyai langitan. Karena itulah beberapa mahasiswa yang memiliki kedekatan secara emosional, historis dan prinsip dengan Nadhlatul Ulama yaitu ormek kuning merasa bahwa dosen Kurniawati terlalu sepihak. Namun, mahasiswa ormek kuning diam saja. Dalam arti tidak akan menyanggahnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut terjadi kesalahpahaman dengan dosen tersebut. Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kesalahpahaman meski dalam perdebatan intelektual dalam topik diskusi dengan dosen maka akan berpengaruh dalam nilai ketika selesai ujian. &lt;br /&gt;---------&gt;Setelah selesai kuliah, barulah beberapa mahasiswa ormek kuning mulai membicarakan tentang sikap dan kelakuan dosen tersebut. Disinilah Ninok diberitahu oleh mereka yaitu Rozaki bahwa sikap-sikap dan tindakan ormek hijau umumnya seperti itu. Maka ketika pulang, Ninok segera bangkit dari kursi kuliahnya. Dia mencari temannya yang biasa selalu pulang bersama yaitu Atika . Di tengah perjalanan, Ninok menceritakan perihal sikap dan tingkah laku kawan-kawannya mengenai kesalahpahaman akibat diskusi dosen sewaktu memberikan materi kuliah di kelas. Apalagi dia sedikit merasa terheran-heran baik sikap dan tindak tanduk baik dosen maupun Rozaki itu. Dia menyayangkan semua itu bisa terjadi. Sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menunjukkan sikap kedewasaan politik. Dalam konteks ini, saling menghargai antar sesama.&lt;br /&gt;---------&gt;Namun, ada kalanya ketika perdebatan diskusi tidak sampai merusak pada persahabatan antar sesama anggota organisasi ekstrakurikuler. Ini diakui oleh Yanuarti. Berikut  kutipan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 80&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt; &lt;em&gt;" kalo diskusi memang terkadang sampai panas semua menjelek-jelekkan 	antar sesama.. tapi kalo sudah selesai.. ya sudah.. hanya didalam kelas saja"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Ketika itu, Yanuarti sedang mengikuti pelajaran kuliah, salah satu dosen yang berinitial Khairuddin melontarkan sebuah materi diskusi mengenai peradaban islam yang mulai turun (Hal itu pula kadang dilontarkan setiap perkuliahan berlangsung. Beberapa dosen selalu menjelek-jelekkan beberapa figur dosen yang akan bersaing dalam pemilihan dekan. Ini diakui oleh Jumari: "tadi pagi sewaktu perkuliahan berlangsung, Pak Alfianto menjelek-jelekkan Pak Rahardjo.. " Tentu saja para aktivis yang pro terhadap pencalonan Pak Rahardjo yaitu ormek hijau merasa tersinggung meski hal itu tidak dilakukan secara langsung dan terang-terangan. Disinilah keretakan hubungan antar solidaritas antar anggota ormek kembali merebak. Mereka mulai menjelek-jelekkan antara kelompok satu dengan yang lain termasuk tingkah lakunya. Kadang pula hal ini terlihat dari mulai berkelompok-kelompoknya berdasarkan kesamaan ormek yang menurut pemantauan menjelang pemilihan dekan terlihat perbedaan tajam antara kelompok anggota ormek kuning dan anggota ormek hijau. Hal ini pula terjadi ketika momentum pemilihan jabatan struktural birokrasi kampus. Sejumlah dosen berpropaganda dan memecah belah mahasiswa ketika perkuliahan berlangsung dengan menjelek-jelekkan salah satu calon pemilihan dekan termasuk ormeknya) &lt;br /&gt;---------&gt;Mendengar hal ini, Kristanto  langsung menanggapi bahwa peradaban islam adalah kesalahan para pemikir islam ortodoks yang kurang memaknai konteks pemahaman islam liberal. Mendengar hal ini, salah satu anggota ormek kuning kurang menyetujui karena pemikiran wacana islam liberal terlalu mudah merombak aturan-aturan dasar islam. Karena itulah perdebatan mulai panas.&lt;br /&gt;---------&gt;Ironisnya, perdebatan bergeser tidak konteksnya. Yaitu, mulai sedikit mengarah pada konsep antara islam modernis (muhammadiyah) dan islam ortodoks. Pada gilirannya mengarah ke sikap masing-masing tokoh baik Nurcholis Madjid, Gus Dur, Soeharto dan sebagainya. Disinilah sering terjadi kesalahpahaman dan mengarah sampai hal ke persinggungan hubungan sosial antar mahasiswa ormek.  &lt;br /&gt;---------&gt;Menurut Hamzah, kadangkala diskusi merupakan langkah efektif untuk berpropaganda masing-masing ideologi dan kepentingan politik praktis ormek' Karena itulah individu selalu menjelek-jelekkan ideologi ormek lain dan membuat seolah-olah paling benar sendiri. Dalam hal ini individu yang memiliki idealisme tinggi seperti aktivis merah dan merah muda selalu melihat diskusi sebagai alat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 81&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;efektif berpropaganda . Apalagi ormek merah awal mula berdiri sekitar tahun 2002 diawali dari forum diskusi yang bernama Ideologi K. Kadangkala keberanian itu ditunjukkan didalam diskusi kelas. Didalam kelas sikap-sikap kolot sering dilakukan dalam berdiskusi. Karena ormek merah merasa berani karena menganggap dirinya paling benar .  Berikut kutipan wawancara "ormek merah merasa paling benar…dan kolot karena itu ia selalu berani kepada siapa saja  baik ke dosen untuk berdiskusi sekalipun debat". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Menurut Paul, didalam kelas dapat dipetakan mahasiswa tipe penggorganisir atau tidak. Ada tiga macam yaitu: 1) mahasiswa hedonis. Mahasiswa hedonis ini memiliki ciri tidak mau berdiskusi dan sangat apatis terhadap intelektualisme dan ormek. 2)mahasiswa pengorganisir. Mahasiswa ini tercatat oleh salah satu ormek dan senang sekali berdiskusi dengan tujuan agar individu simpatik kemudian tertarik untuk bergabung kedalam ormeknya. Aktivis tipikal seperti ini yang sering dijauhi. Apalagi pendirian ormek merah dilakukan dengan cara "merebut" aktivis ormek lain. 3) mahasiswa intelektual. Mahasiswa ini memiliki pengetahuan, intelektual serta wawasan yang luas. Mahasiswa ini tidak tergabung dalam ormek apapun. Mahasiswa ini yang sering dijadikan sasaran para aktivis agar mau bergabung ke salah satu ormek.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 82&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV. KESIMPULAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Dunia aktivisme umumnya tidak dapat dilepaskan dari adanya tindakan politik masing-masing ormek. Tindakan politik itu bermacam-macam sesuai cara pandang individu dibesarkan oleh ormek masing-masing. Ada yang melakukan tindakan politik negatif maupun tindakan politik positif. Dalam kaitannya dengan pola pertemanan, tindakan politik yang mengarah ke positif adalah saling menghargai antar sesama aktivis. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kedewasaan politik antar aktivis mahasiswa untuk saling menerima bahwa perbedaan secara ideologi dan prinsipil adalah sesuatu yang wajar. &lt;br /&gt;--------&gt;Di FISIP UNEJ, kedewasaan politik untuk saling menghargai perbedaan ormek agaknya masih kurang. Umumnya, mahasiswa masih terjebak semangat ekslusifitas dan pemikiran sempit yang dibawa dari ormek masing-masing. Beberapa mahasiswa tampaknya masih kurang mau bergaul yang bukan se-ormek. Inilah yang menyebabkan pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek mengalami upaya destruktif.  &lt;br /&gt;--------&gt;Karena itu mereka akan menjauhi secara tidak langsung maupun tidak langsung. Adakalanya, bentuk pergeseran pola pertemanan akibat semangat ekslusif terlihat dari berkelompoknya mahasiswa yang terdiri dari satu atau dua orang lebih di beberapa sudut kampus. Ini tentu saja sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa pola pertemanan antar sesama anggota ormek dapat dikatakan mengarah ke tindakan destruktif. Artinya, mahasiswa semangat ekslusifitas diantara sesama aktivis mahasiswa sangatlah kuat. &lt;br /&gt;--------&gt;Apabila hal itu berlanjut tentu saja kegiatan intelektual dan akademik Kampus tidak akan berkembang. Ironisnya, beberapa pihak birokrat Kampus tampaknya semakin memperbesar pergeseran pola pertemanan di tingkatan aktivis mahasiswa. Upaya-upaya politisir menjelang momentum pemilihan struktural jabatan kampus dengan memanfaatkan akses organisasi ekstrakurikuler kampus, ditambah lagi menyelipkan di setiap topik diskusi atau materi perkuliah dan meminta dukungan secara langsung dengan berkunjung ke ormek-ormek sesuai latar belakang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 83&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;historis para dosen. Tampaknya hal ini semakin memperbesar tingkat pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek.&lt;br /&gt;--------&gt;Bahkan di tingkatan akademik, disinyalir muncul upaya nepotisme agar emosional dosen dengan para aktivis se-ideologi semakin erat. Tentu saja dengan memberikan perhatian lebih, fasilitas serta prestasi akademik berupa nilai kepada mahasiswa yang se-ideologi dengan dosen. Bila hal ini berlanjut, pola pergeseran antar mahasiswa anggota ormek menjadi buruk. Sebab, sikap dan tindakan para penSudarto sangatlah besar untuk mengarahkan mahasiswa agar tidak terjebak semangat eklusifisme yang merusak pola pertemanan antar anggota ormek. &lt;br /&gt;--------&gt;Sementara itu, pergeseran pola pertemanan di antara mahasiswa yang sangat marak adalah dikarenakan kurangnya kesadaran untuk menerima perbedaan prinsipil, cara pandang ormek. Umumnya mahasiswa anggota ormek cenderung menggenalisir bahwa tindakan individu selalu dimaknai tindakan kelompok atau ormek. Akibatnya, kesalahan individu dianggap sebuah kesalahan organisasi. Secara otomatis pula, citra dan nama baik sebuah ormek seakan-akan diletakkan pada seorang aktivis. &lt;br /&gt;--------&gt;Sementara itu, masih kuatnya pengaruh indoktrinasi yang dibawa dari dalam ormek agaknya mempengaruhi tingkah laku dan tutur kata aktivis dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan, ada pula yang memaknai bahwa hal itu adalah sesuatu yang lumrah mengingat mengacu pada aliran-aliran atau praktik politik tertentu. Biasanya hal itu terlihat dari cemooh, sindiran atau tutur kata maupun tingkah laku yang akan merusak pola pertemanan. Namun, apabila dilihat lebih cermat lagi bentuk-bentuk perilaku eklusif sengaja dipertahankan untuk menjaga semangat kekeluargaan yang kemudian memperkuat hubungan solidaritas ormek. Bahkan ada pula yang sengaja dilakukan agar individu tergerak menjadi anggota salah satu ormek tertentu. &lt;br /&gt;--------&gt;Tidak hanya itu, pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek terlihat sampai di indekost. Banyak hal yang dapat menjelaskan hal ini. Yaitu, upaya kaderisasi, kurangnya kedewasaan politik dan masih terjalinnya semangat ekslusifitas. Itulah hal-hal yang menyebabkan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ dapat dikatakan mengarah ke bentuk destruktif.   Oleh karena itu cara untuk mengatasinya adalah menanamkan semangat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 84&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedewasaan politik serta menggairahkan iklim intelektualisme di kalangan mahasiswa. Ironisnya hal itu kurang dilakukan di FISIP UNEJ. Parahnya, upaya menciptakan potensi konflik dengan mempolitisir aktivis mahasiswa seringkali dilakukan menjelang momentum tertentu. Misalnya pemilihan dekanat. Upaya politisir tersebut dilakukan dengan memanfaatkan aktivis mahasiswa agar meraih simpati dan memperbesar akses-akses politik demi memenangkan calon dekan. Tentu saja hal demikian perlu dihindari agar dinamika pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek dapat dihindari. Potensi-potensi konflik tersebut perlu dihilangkan segera dengan pemberdayaan berpolitik yang baik, benar dan menjunjung moral. Misalnya, menggairahkan iklim intelektual mahasiswa dengan menanamkan kedewasaan politik, menghilangkan unsur politisir oleh dosen demi pemenuhan kebutuhan subyektif kekuasaan birokrasi kampus, melibatkan mahasiswa dalam pemilihan jabatan struktur birokrasi kampus dan menghindari praktek politik macheavelisme dan Tzun Zu. Terakhir menumbuhkan semangat kritis mahasiswa demi membangun iklim akademik-intelektual FISIP UNEJ lebih mandiri, bebas dan bertanggung jawab. Bila demikian, pola pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek terhindarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 85&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bungin, Burhan. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis Ke 	Arah Ragam Varian Kontemporer. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.&lt;br /&gt;___________________  2001. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman 	Filosofis dan Metodologis Ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. PT. Raja 	Grafindo Persada: Jakarta. &lt;br /&gt;Departemen Pendidikan Nasional FISIP UNEJ, 2001. Buku Pedoman 2001/2002. 	Departemen Pendidikan Nasional FISIP UNEJ. &lt;br /&gt;Etzioni, Amitai. 1982. Organisasi-organisasi Modern. Pustaka Radjaguna: Jakarta. &lt;br /&gt;Johnson, Paul Doyle. 2004. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. PT. Gramedia: 	Jakarta.&lt;br /&gt;Muller, William L dan Benjamin F. Crabtree,  1992. Primary Care Research: 	Amultimethod typology and Qualitative Road Map.Newbury Park London: 	Sage Publications.&lt;br /&gt;Robert H. 1997. Perspektif Perubahan Sosial. Bina Aksara.Gramedia: Jakarta. &lt;br /&gt;Sanit, Arbi 1999. Mahasiswa dan Aktivisme. Gramedia, Jakarta. &lt;br /&gt;Soekanto Soerjono. 1980. Seri Pengenalan Sosiologi 1: George Simmel. Rajawali 	Pers: Jakarta.&lt;br /&gt;__________________ 1986.  Seri Pengenalan Sosiologi 1: Parsons. Rajawali Pers.&lt;br /&gt;Usman, 2003. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;Plato, 2003. Plato: Seri Tokoh Filsafat. Teraju: Jakarta.   		&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 86&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lampiran 1&lt;br /&gt;GUIDE INTERVIEW&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sejak kapan anda tercatat menjadi salah satu anggota ormek?&lt;br /&gt;2. Teman anda siapa saja?&lt;br /&gt;3. Bagaimana hubungan pola pertemanan anda dengan teman se-ormek atau teman &lt;br /&gt;    berbeda ormek?&lt;br /&gt;4. Ceritakan pengalaman anda dengan teman se-ormek atau teman berbeda ormek?&lt;br /&gt;5. Apakah anda pernah mengalami pergeseran ketika berteman dengan teman se-&lt;br /&gt;    ormek atau teman berbeda ormek?&lt;br /&gt;6. Menurut anda apakah iklim akademik dan birokrasi kampus sangat mempengaruhi &lt;br /&gt;    dalam pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek?&lt;br /&gt;7. Momen-momen apakah yang sangat memiliki implikasi secara langsung terhadap  &lt;br /&gt;    pola pertemanan  antar mahasiswa anggota ormek&lt;br /&gt;--00-- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal 87&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-5737214519981615350?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/5737214519981615350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/5737214519981615350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2011/01/pola-pertemanan-antar-mahasiswa-ormek.html' title='POLA PERTEMANAN ANTAR MAHASISWA ORMEK (SKRIPSI)'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TOAy8PEMGdI/AAAAAAAAA7E/sibnMv0gIqM/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-2054704251141212742</id><published>2011-01-12T23:12:00.000-08:00</published><updated>2011-01-27T19:59:08.168-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>BONEK DAN GAYA HIDUP AMOK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6nUj1G5eI/AAAAAAAAA7Q/b3zfyPNQIeM/s1600/save.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 228px; height: 171px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6nUj1G5eI/AAAAAAAAA7Q/b3zfyPNQIeM/s320/save.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561566561506354658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source : http://www.vivanesw.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘BONEK’ DAN GAYA HIDUP AMOK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Beta Chandra Wisdata *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel ini dimuat di Jawa Pos/Radar Jember, pada tanggal 03 Maret 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Munculnya tindakan-tindakan brutal yang dilakukan oleh para demonstran sebagai buntut carut-marutnya kehidupan sosial-politik ini menambah keprihatinan kita semua. Ada yang menilai tindakan ini tak ubahnya perangai bonek yang menyatakan luapan  pernyataan ekspresi mengemukakan pendapat sering berbuah ungkapan kekecewaan akibat sebuah kekalahan tim kesebelasan sepakbola. Stigma negative  ini melekat dan berakhir tragis seperti kejadian bonek dari generasi-kalangan muda yang terbaring koma di rumah sakit (Koran ini/28/02/2010).&lt;br /&gt; 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6sSwrbo_I/AAAAAAAAA7Y/yulzTEfbDr4/s1600/bola.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6sSwrbo_I/AAAAAAAAA7Y/yulzTEfbDr4/s320/bola.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561572028153832434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source : http://www.ratedesi.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Yang menjadi pertanyaan, mengapa semua itu bisa terjadi? Apakah benar mereka terstigma sehingga tak ada lain selain menghantarkan ke rumah sakit? Apakah bonek terkesan dengan amok sudah menjadi salah satu bentuk ‘gaya hidup’ para demonstran akibat label atau predikat yang terlanjur mereka terima itu dimaknainya sebagai suatu simbol legitimasi untuk berbuat nekad bermotif politik. Yaitu berupa tindakan kekerasan seperti bonek yang muncul ketika para pendukung fanatik suatu tim kesebelasan di Jawa Timur berulah brutal setiap kali aspirasi kurang didengar? Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. &lt;br /&gt;--------&gt;Konteks bonek memang berbeda secara mendasar dengan demonstrasi. Tetapi jika dicermati, ada kemiripan. Sebagaimana kita ketahui bersama, bonek lebih menekankan pada luapan emosi tidak sesuai tempatnya jika dalam pertandingan itu tim kesayangannya kalah. Kebrutalan mereka mulanya masih dalam batas-batas yang bisa ditoleransi. Karena hanya berupa tindakan melempar botol plastik bekas tempat minuman ke tengah lapangan, atau membakar mercon warna. Mungkin yang paling keras merusak beberapa kursi penonton yang ada di stadion tempat berlangsungnya pertandingan. Kini kebrutalan mereka sudah semakin merajalela bahkan sulit untuk ditoleransi.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6svGbs3-I/AAAAAAAAA7g/52UKa2d3X0s/s1600/bola%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 313px; height: 161px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6svGbs3-I/AAAAAAAAA7g/52UKa2d3X0s/s320/bola%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561572515029770210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source http://www.caktopan.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Kata bonek itu sendiri merupakan kepanjangan dari kata bahasa Jawa bondo nekat yang terjemahan bebasnya melakukakan sesuatu hanya bermodalkan nekat. Kenyataannya mereka memang hanya memiliki modal nekat baik dalam artian ekonomik maupun sosial. Secara ekonomik, setiap kali mereka menonton pertandingan sepakbola untuk mendukung tim kesebelasan kesayangannya setiap kali itu pula tanpa bekal uang sepeserpun. Bahkan ketika tim kesebelasan yang didukungnya harus bertanding ke luar kota Surabaya, misalnya ke Malang, Yogyakarta, sampai ke Jakarta mereka tetap melakukan hal yang sama (tanpa bekal uang yang cukup). &lt;br /&gt;--------&gt;Sementara itu, demonstrasi yang dilakukan hampir di sejumlah wilayah termasuk di Jember, secara sosial, merupakan konsekuensi logis dari sikap dan perilaku nekat akibat ketertekanan hidup, mereka pun nekat melangggar semua rambu-rambu aturan sosial seperti yang selama ini kita saksikan bersama. Oleh karena itulah, seperti makna bonek, makna demonstrasi sudah sudah terlejitimasikan atau legitimized. Pihak yang melejitimasikannya justru dari kalangan ‘elit birokrasi’ yang kemudian didukung oleh khalayak,. Lengkaplah sudah institusi-insitusi pendukung eksistensi kaum bonek dan para demonstran. Padahal – sebagaimana telah disebutkan di atas – lejitimasi terhadap label atau predikat bonek itu atau demonstran tidaklah semata-mata berdimensi ekonomik tapi juga memberi lejitimasi dalam dimensi sosial, yang secara khusus berupa  perilaku kekerasan. &lt;br /&gt;--------&gt;Akibatnya, seorang bonek atau demonstran cenderung untuk selalu bersikap dan berperilaku atas dasar kedua dimensi tersebut. Oleh karena itu, janganlah disesali apabila sikap dan perilaku para bonek atau demonstran yang kita saksikan selama ini menunjukkkan kebrutalan yang semakin memperihatinkan, tidak berbeda lagi dengan perilaku amok.&lt;br /&gt;--------&gt;Menurut kamus, amok berasal dari kata bahasa Melayu yang sering dideskripsikan sebagai menyerang secara membabi buta, menjadi sangat marah atau liar, atau berlari seperti orang gila yang haus darah. Senada dengan pengertian itu, menurut Jhon C. Spores dalam bukunya Running Amok an Historical Inquiry (2005:139) kata amok ketika dipakai dalam konteks tingkah laku manusia menunjuk pada pengertian hiruk-pikuk, tidak pandang bulu, dan agresi untuk membunuh. Dengan demikian, seseorang yang melakukan amok didefinisikan sebagai seseorang yang ingin membunuh setiap orang yang ditemuinya. Di Jember yang bergaris kultural religius, istilah ini melekat kepada setiap bentuk kekerasan massa dengan perbuatan “penistaan”. &lt;br /&gt;--------&gt;Menyaksikan sikap dan perilaku para demonstan yang mirip bonek sekarang bertebaran dan semakin brutal kiranya perlu mulai dipertimbangkan kembali penggunaan sebutan bonek  dan demonstran yang sudah terlanjur terlejitimasikan (legitimized) dengan istilah lain yang tidak mengandung makna  (perilaku kekerasan) sebagai salah satu upaya untuk meredamnya. Jika tidak, sebutan tersebut tentu akan semakin membentuk sikap dan perilaku massa yang semakin nekat sehingga sulit membedakannya dengan perilaku amok. &lt;br /&gt;--------&gt;Jika hal tersebut terus berlanjut maka tidak mustahil bonek dan demonstran – tidak saja sebagai kata benda melainkan lebih bermakna sebagai kata sifat – akan menjadi simbol dari suatu gaya hidup (life style) perilaku kekerasan terutama di sebuah wilayah yang mencari ambang batas jati diri kebudayaan tidak hanya di kota besar Jakarta, Tapanuli dan lain-lain. Tak terkecuali di kota kecil seperti Jember Relijius. Oleh karena gaya hidup sangat erat kaitannya dengan identitas diri, sehingga sekali terbentuk akan sulit untuk mengubahnya. Dalam konteks ini, jika sebutan demonstran tetap dipertahankan, mudah dipahami apabila mereka akan terus berupaya menampilkan gaya hidup ala bonek itu demi semakin mempertegas identitas kelompoknya. Dan, kita semua berharap agar perilaku penistaan kekerasan massa baik yang dilakukan oleh bonek, demonstran dan aparat kepolisian yang menghantarkan kepada perawatan rumah sakit takkan terulang di kemudian hari. Kekeerasaan tragis yang telah menggejala di kota-kota besar seharusnya tidak terjadi di kota Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6tsN04Y7I/AAAAAAAAA7o/RFpAe-6lBdU/s1600/bola%2B3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 318px; height: 159px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6tsN04Y7I/AAAAAAAAA7o/RFpAe-6lBdU/s320/bola%2B3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561573564986450866" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://blog-apa-saja.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Sebab, Jember telah dikenal sebagai “kota kondusif” yang memelihara semangat pluralitas semangat kebersamaan dan rasa perdamaian-kedamaian di lingkungan penuh nuansa religiutas seharusnya mampu menyelesaikan perkara secara bijak bahkan brillian. Semoga mampu dijadikan bahan renungan!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;* Pemerhati sosial-politik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://s208.photobucket.com/albums/bb222/sayapjibril/?action=view&amp;current=Koran2-1.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i208.photobucket.com/albums/bb222/sayapjibril/Koran2-1.jpg" border="0" alt="gambar artikel"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT.&lt;br /&gt;WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-2054704251141212742?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/2054704251141212742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/2054704251141212742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2011/01/bonek-dan-gaya-hidup-amok.html' title='BONEK DAN GAYA HIDUP AMOK'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/TS6nUj1G5eI/AAAAAAAAA7Q/b3zfyPNQIeM/s72-c/save.png' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-4538272268102533910</id><published>2009-09-26T01:18:00.000-07:00</published><updated>2009-11-21T19:28:31.821-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Mewujudkan Persona Baru Anggota DPR Dalam Spirit Idhul Fitri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwipszdFNeI/AAAAAAAAA3I/ux2msOzJPec/s1600/400_F_2204087_ipqib7qi6TroUtl81kleW2HRST80Nd.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 154px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwipszdFNeI/AAAAAAAAA3I/ux2msOzJPec/s200/400_F_2204087_ipqib7qi6TroUtl81kleW2HRST80Nd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406757939849803234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;source picture: http://static-p3.fotolia.com/jpg&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEWUJUDKAN PERSONA BARU DPR&lt;br /&gt;DALAM SPIRIT IDUL FITRI&lt;br /&gt;Oleh : Beta Chandra Wisdata*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel ini dimuat di Jawa Pos/Radar Jember, pada tanggal 26 September 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sr3YyeFUAfI/AAAAAAAAA2Q/HrAJ9d1R6NA/s1600-h/rapat_dewan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sr3YyeFUAfI/AAAAAAAAA2Q/HrAJ9d1R6NA/s200/rapat_dewan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385699090985386482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Picture source: http://pnri.go.id&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Citra DPR pernah terpuruk setelah upacara pelantikan berlangsung terlalu mewah beberapa waktu yang lalu. Dengan menginap di hotel berbintang komplit dengan pakaian jas plus uang saku ditambah berbagai fasilitas menggiurkan, anggota DPR semakin melekatkan citra &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bourgeouis&lt;/span&gt; di mata masyarakat. Selain menghamburkan uang rakyat, kondisi ini sangat tidak relevan dan kontekstual di tengah hiruk pikuk Ramadhan yang seharusnya bisa menjadi inspirasi tentang  makna kesalehan sosial.&lt;br /&gt;---------&gt;Di tengah kondisi yang serba sulit sekarang ini, kepekaan rasa kemanusiaan sangatlah dibutuhkan. Lebih-lebih puasa mengajarkan seseorang untuk berempati dan belajar sikap kesederhanaan dengan menjaga segala kesucian perilaku. Oleh karenanya, bisa dipahami mengapa semangat Idul Fitri kali ini menyimpan begitu besar harapan masyarakat setelah pemilu berlalu. Masyarakat berharap figur berkualitas dan amanah menuju Indonesia Baru - dalam pengertian sebenarnya - bisa memainkan perannya kali ini. Karena, disadari atau tidak, wibawa bangsa terus terpuruk akibat persoalan yang kompleks dan rumit setelah penataan beberapa orde bisa dikatakan kurang berhasil.&lt;br /&gt;---------&gt;Didalam buku Hubb De Jonnge (2007), orde baru dan orde lama menyisakan masalah modernitas kebangsaan yang belum selesai. Lembaga-lembaga yang ada terlalu mudah menyesuaikan dengan politik tradisional kekeluargaan sehingga ketika sebuah kepemimpinan merosot lahirlah sebuah pergolakan zaman. Orde Baru, Orde Lama, dan Orde (paska)Reformasi adalah sebuah ketidakmampuan republikan mengasuh dan merawat bangsa. Terbukti kini, gejala absurditas menyeruak di benak masyarakat. Keputusasaan menjadi-jadi. Bencana selalu datang silih berganti. Gempa, RUU kontroversial, konfrontasi budaya, turunnya indeks kesejahteraan masyarakat, belum terkuaknya misteri konspirasi politik KPK demikian seterusnya. Seakan-akan, semua permasalahan datang tak perduli, menghadang kini atau nanti. Masa depan  menjadi sirna karena kepemimpinan tak jua menunjukkan perangai kesucian.&lt;br /&gt;---------&gt;Jika di Jepang mengenal para pahlawan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;takeora&lt;/span&gt;) yang siap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;harakiri&lt;/span&gt; jika tidak mampu memegang harga diri seperti di amanahkan, maka di Indonesia sekarang membutuhkan sifat keberanian nyata menanggung malu jika kelak tak bisa diharapkan pula. Karena, tata cara non-politik mewariskan kepekaan untuk mau membuktikan seberapa besar kelayakan amanah yang diterima. Bahwa, kepentingan seluruhnya tidaklah eksis melainkan nyata. Ini merupakan budaya kesucian tersendiri untuk membekali diri karena itikad baik terbukti tidaklah cukup.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sr3WwE5rn_I/AAAAAAAAA2I/xKEPrR-5lP0/s1600-h/SamuraiLeader.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sr3WwE5rn_I/AAAAAAAAA2I/xKEPrR-5lP0/s200/SamuraiLeader.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385696850842722290" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://blog.masslive.com/localbuzz/2008/04/SamuraiLeader.jpg&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Sebagai mahkhluk politik, manusia memang berhak mengelola hal tersebut yang disesuaikan dengan tujuan, misi dan visi. Agama membingkai tujuan-tujuan politis manusia tidak sampai mengarah kepada kerusakan. Namun, oleh karena alter ego nafsu kebinatangan - dalam konsep Freudian - manusia sulit ditekan, sifat memangsa selalu bergulat ketika menghadapi pilihan diantara baik dan buruk. Pilihan kesederhanaan merupakan pilihan terbaik disini yang menjadikan sekaligus membentuk manusia "sadar" dan berkepribadian matang. Apabila, kekuasaan memiliki pesan korektif, seorang "pengampu kuasa" harus tersadar bahwa ia dinahbiskan menjadi utusan pilihan diantara lainnya. Adakah sebuah harapan tentang manusia pilihan untuk melupakan sejenak bagaimana ia membesarkan legenda diri? Adakah terbersit ketulusan bagaimana manusia pilihan dengan figur cerdas dan "berbudaya" melengkapi diri untuk membesarkan hati orang lain dan lingkungan sosial sekitarnya ?&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam tajuk rencana Indopos (11/09/09), sempat diulas sedikit mengenai cerminan pemilihan manusia pilihan dalam lembaga yang melewati kadar fit and proper test. Secara kategoris, proses seleksi melewati tahapan nama sebagai mewakili reprentasi figur dan perjalanan historisnya. Yang diukur adalah kemampuan tekhnokratis, sehingga nama-nama  bersaing secara elegan untuk meloloskan diri dalam lembaga DPR , KPK, BPK dan lain-lain.&lt;br /&gt;---------&gt;Pada tingkatan daerah sendiri, nama-nama yang dikenal cenderung berempati kepada figur perempuan (Radar Jember/23/09/09). Perempuan dianggap sebagai sosok &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Srikand&lt;/span&gt;i. Lahir dari sisi feminisme dan melekat simbol-simbol yang menghancurkan mitos-mitos tua.  Akibatnya keterlibatan kaum perempuan menjadi ciri khas tersendiri apalagi nama-nama yang tersaring dibuka secara luas kepada publik maka kehendak politik akan menuju sisi &lt;br /&gt;----------&gt; Kita tidak berhararap bahwa semakin terkenal, nama itu akan memberikan pembentukan imaji, fantasi, wibawa serta pengaruh khalayak untuk meningkatkan perkenanan pujian yang diberikan kepada raja seperti di era peradaban &lt;span style="font-style:italic;"&gt;heirocratic&lt;/span&gt;. Sebab, bila demikian  nama akan menjadi konsolidasi kekuasaan, ditambah dengan berbagai aksara di belakangnya untuk memperlihatkan popularitas wibawa suatu institusi. Karena, mereka adalah figur Ibu bangsa. Melahirkan sebuah generasi dan regenerasi. Berjuang tanpa pamrih dengan melayani masyarakat melalui sisi-sisi keibuan. Sulit mengelola sifat kesucian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Srikandi&lt;/span&gt; demikian.&lt;br /&gt;---------&gt;Pasalnya, sebuah tata kelola negara membutuhkan sebuah regenerasi agar tak cacat budaya. Jika semangat Idhul Fitri tidak menghilangkan sekat-sekat perbedaan, maka timbullah lagi-lagi pertetangan pertentangan generasi tua dan generasi muda, generasi machoisme dan feminisme, generasi kuat dan generasi lemah demikian seterusnya. Sulit menemukan titik temu  karena yang dilihat pada dedikasi pengalaman berdasarkan subyektifitas masing-masing. Padahal, tata kelola negara melibatkan komponen  sosial secara keseluruhan. Inilah yang berupaya diketuk melalui Idul Fitri. Idul Fitri mentransendensi dimensi personal demikian untuk meraih - meminjam istilah Francis Lhim Chin Coy (2009), individu-individu universalitas. Yaitu, individu yang menyatukan  pada kodrat sosial sehingga keadaban lebih ditunjukkan. Individu tercerahkan untuk memikirkan kepentingan orang lain. Membangun mutu negara-bangsa kearah yang lebih baru dalam menggenapi lahir dan bathin. Dengan begitu, kekuasaan akan diabdikan kepada hajat hidup orang banyak. Bukan melayani diri sendiri. Memperkaya diri dengan berebut kursi kekuasaan.&lt;br /&gt;---------&gt;Mengatur negara secara privat - baik di kekuasaan tingkat daerah maupun tingkat pusat - tidak dapat dibenarkan dalam pemahaman apapun. Wilayah publik menyangkut moralitas publik. Didalamnya diatur dengan aturan hukum dan sanksi bagi yang melanggarnya. Dalam arti ini kemakmuran dan kesejahteran menjadi hak privilise ego politik. Kita bisa memahami dalam konteks ini jika hukum  pun akan menangkap seorang ibu pencuri susu bagi bayinya bisa dijerat pasal berlapis, daripada kejahatan yang dilakukan oleh kerah putih dengan latar belakang kecerdasan intelektualitas tinggi. Atau, anak jalanan harus tertatih-tatih menjadi seorang pengemis hanya karena ia  ingin menabung untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi.&lt;br /&gt;---------&gt;Kita berharap bahwa ego-ego politik para anggota DPR dapat dihilangkan di setelah kemenangan bulan Ramadhan diraih. Sebab, kekuasaan adalah sebuah tanggung jawab. Kekuasaan diraih, dimiliki untuk keberadaban suatu bangsa. Oleh karena itu, suara nurani seharusnya didengarkan agar selaras dengan nuansa pembaruan pengabdian. Benar-benar bekerja sesuai asas nurani dan bekerja profesional demi melayani kepentingan kesucian demokrasi.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Swist7EluAI/AAAAAAAAA3Q/HTel5AhCRlU/s1600/mission-ramadhan-cropped.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 183px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Swist7EluAI/AAAAAAAAA3Q/HTel5AhCRlU/s200/mission-ramadhan-cropped.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406761257609312258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; source picture : http://firdausmuhammad.files.wordpress.com/2009/08/mission-ramadhan-cropped.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;---------&gt;Kemenangan Ramadhan (baca: Idul Fitri) berusaha membuka setitik empati agar muncul sebuah optimis itu. Melalui pelatihan puasa beberapa waktu yang lalu, kungkungan kesucian jiwa-empati akan terwujud kembali melalui lahirnya manusia-manusia baru Indonesia. Manusia-manusia baru yang telah dibersihkan dari kehendak jahat karena puasa melatih spirit penyucian diri. &lt;br /&gt;---------&gt;Dimulai dari hati, sikap diri, mengelola diri sampai menimbulkan getar empati kemanusiaan. Bila demikian Indonesia dapat diselamatkan dari perilaku-perilaku koruptif yang pada gilirannya mengangkat derajat dan kehidupan bangsa dan negara. Karena itu, mengembalikan jati diri manusia baru bagi anggota DPR berarti perlu merenungi kembali kehadiran Idul Fitri. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Minal Aidzin Wal Fa Idzin Mohon Maaf Lahir dan Bathin&lt;/span&gt;. Semoga mampu dijadikan bahan renungan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Program Magister (S2) Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sr3dUPiCZKI/AAAAAAAAA2o/nyDw2zYJW4k/s1600-h/SAVE.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sr3dUPiCZKI/AAAAAAAAA2o/nyDw2zYJW4k/s320/SAVE.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385704069241398434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;scan article received 27/09/09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. &lt;br /&gt;WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-4538272268102533910?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/4538272268102533910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/4538272268102533910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2009/09/mewujudkan-persona-baru-anggota-dpr.html' title='Mewujudkan Persona Baru Anggota DPR Dalam Spirit Idhul Fitri'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwipszdFNeI/AAAAAAAAA3I/ux2msOzJPec/s72-c/400_F_2204087_ipqib7qi6TroUtl81kleW2HRST80Nd.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-7665625017550313765</id><published>2008-11-03T17:33:00.001-08:00</published><updated>2009-11-21T19:51:46.329-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Menghentikan Kekerasan Anak Secara Psikosial dan Politik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhC7OxTaMI/AAAAAAAAAkI/uMPoopUwRIs/s1600-h/save+the+children.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhC7OxTaMI/AAAAAAAAAkI/uMPoopUwRIs/s200/save+the+children.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357105342101809346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Picture Source: http://www.eons.com/photos/group/save-the-children/photo/232388-Save-the-Children-USA?context=group&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MENGHENTIKAN KEKERASAN&lt;br /&gt;ANAK SECARA PSIKOSOSIAL DAN POLITIK&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel ini dimuat di Radar Jember, Jawa Pos hari selasa 04 November 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Swix086weTI/AAAAAAAAA3Y/CA-dftbjZ0Q/s1600/free+the+children.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Swix086weTI/AAAAAAAAA3Y/CA-dftbjZ0Q/s200/free+the+children.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406766875922168114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source&lt;/span&gt; http: //facingthefuture.org&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Tindakan kekerasan pada anak tampaknya sudah merupakan suatu fenomena keseharian. Berbagai bentuk kekerasan bukan hanya dimulai dari penganiayaan oleh orang tua, penculikan, perkosaan, memperkerjakan mereka dalam pekerjaaan-pekerjaan yang tidak sesuai dengan usianya dan semacamnya, Namun telah mencapai pada dunia pendidikan yang kian hari bahkan kian marak. &lt;br /&gt;---------&gt;Andai mau direnungkan, akar persoalan ini cukup sederhana. Peran dan Fungsi negara sebagai pemegang otoritas politik harus dioptimalkan sesuai dengan amanat UUD 1945.  Lebih khusus lagi, pemerintah harus menjamin terbukanya secara luas akses mereka pada bidang pendidikan terutama di tingkatan dasar dan menengah dengan membebaskan mereka dari segala biaya. Bila ini dilakukan, jutaan anak bangsa yang kini terpaksa berkeliaran mencari uang dengan cara mengemis dapat dipupuk sebagai tunas-tunas bangsa yang cerdas dan berkepribadian demi masa depan bangsa Indonesia yang maju dan beradab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Selama ini, perhatian negara terhadap perlindungan anak hanya sebatas penyediaan sarana dan prasaran pendidikan, berupa gedung-gedung dan peralatannya. Meskipun semua itu penting sebagai intsrument proses pembelajaran dalam bidang-bidang ilmu secara formal, namun masih belum menyentuh akar pemasalahan yang sebenarnya. Negara hendaknya memberikan perlindungan secara konkrit tanpa pandang bulu pada semua anak Indonesia melalui suatu Undang-undang. &lt;br /&gt;---------&gt;Ini merupakan payung hukum bagi semua penyelenggara negara termasuk semua komponen masyarakat agar anak-anak selain mendapat perlindungan juga dapat menikmati hak-haknya di bidang pendidikan, kesejahteraan, bahkan jaminan masa depan yang lebih pasti.&lt;br /&gt;---------&gt;Selama ini, kondisi sosial-budaya, ekonomi, dan politik mereka sangat rawan terhadap perilaku kekuasaan yang kerapkali sangat tidak menghargai etika konsekuensi. Misalnya, didalam pengaturan rancangan Undang-Undang Pemerintahan Pembangunan Daerah melalui studi banding pendidikan ke luar negeri yang biasa dilakukan oleh rutinitas wakil rakyat setiap menjelang pergantian ajaran baru setidaknya mampu menjelaskan disini. Tidak tanggung-tanggung, sasaran daerah kunjungan memiliki pesona daya tarik wisata lengkap dengan tingginya kualitas pendidikan di luar negeri. Alasannya mudah ditebak, selain memudahkan langkah pengamatan hal itu dilakukan untuk mengefisiensi membengkaknya beban jumlah biaya pengeluaran administrasi kunjungan kerja wakil rakyat. &lt;br /&gt;---------&gt;Konon, misi kunjungan ke luar negeri itu ditujukan untuk melayani sekaligus mengabdi pada kepentingan masyarakat dengan memperhatikan hak-hak anak didik negeri sendiri. Sebab, negara kita tertinggal jauh, dari berbagai aspek kualitas pembangunan terutama pendidikan bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga. &lt;br /&gt;---------&gt;Situasi itu menjadikan politik pun terjatuh pada positivisme praktis yang melecehkan nilai pembangunan anak secara utuh sebagaimana dalam pembukaan UUD 1945. Dalam artian ini, seperangkat norma atau lembaga yang seharusnya memberikan keadilan kesejahteraan masyarakat secara jujur lebih didasarkan pada tujuan intuisi pribadi oleh wakil rakyat. Dengan demikian, terjadilah perilaku kekerasan negara terhadap anak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Munculnya kesadaran baru masyarakat melahirkan pemecahan masalah tersebut dengan bijak. Diantaranya adalah menegakkan fungsi hukum dan kontrol sosial terhadap perilaku wakil rakyat. Dengan tujuan agar anak benar-benar dijadikan sasaran pembangunan dalam pengertian sebenarnya tanpa ada rekayasa-rekayasa politik. &lt;br /&gt;Sebaliknya, pemerintah birokrasi atas pun berharap sama dan mencoba menunjukkan itikad baik. Yaitu, melalui keterbukaan sarana informasi publik untuk menghindari perilaku kekerasan negara terhadap anak. Setelah itu, hasil kinerja-kinerja wakil rakyat akan diketahui secara empiris lewat kontrol pers. Dengan begini, tingkah laku wakil rakyat dapat dipertanggung jawabkan seperti diharapkan dan sasaran pembangunan pendidikan dan hak anak dibalik kerangka kerja pembangunan mampu ditempatkan sebagaimana mestinya. &lt;br /&gt;---------&gt;Dari sini kita akan mengambil sebuah kesimpulan bahwa memotong siklus kekerasan anak dimulai bukan dari faktor psikososial saja. Melainkan lebih merupakan faktor sosial-politik. Sebab, negara merupakan wadah yang menjaga rasa ketentraman dan kedamaian-perdamaian bagi anak sebagai penerus warisan nilai-nilai luhur pembangunan bangsa. &lt;br /&gt;---------&gt;Lebih daripada itu, – meminjam bahasa Karl May (2005) – negara meletakkan dasar-dasar limpahan kasih sayang pembangunan. Apalagi, negara kita termasuk didalam keanggotaan UNICEF PBB yang mengakui secara universal masalah perikemanusiaan anak dilandasi penjunjungan misi kesetaraan pembangunan.&lt;br /&gt;---------&gt;Dalam konteks tersebut, perlindungan anak di arena masyarakat multikultural dan masyarakat multidimensi sejalan dengan cita-cita bersama sehingga politik mampu diterjemahkan sebagai pengangkatan perikamanusiaan hak anak.Sehingga, negara harus menjamin pula kelestarian ketentraman anak dengan tidak hanya diwujudkan pada aspek normatif sebagaimana diungkapkan diatas. Namun juga, pada tataran wujud nyata berupa memberikan fasilitas penunjang pembangunan terutama pendidikan yang mudah diakses semua golongan sosial tanpa terkecuali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Oleh karena itulah, jangan ada sekali-sekali ada upaya politisir pembangunan yang dilakukan oleh wakil rakyat nanti terhadap hak anak jika telah terpilih nanti. Sebab, bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai hak-hak anak demi mewujudkan masa depan indonesia lebih cerah, adil, sejahtera dan bermartabat. Apalagi masa depan bangsa terletak pada impian seorang anak. Dengan demikian kekerasan terhadap anak diharapkan tidak akan terdengar lagi di kemudian hari. Pada gilirannya, keharmonisan indonesia baru bukan utopia melainkan dapat diibaratkan menggapai segenggam harapan dalam setangkup tangan kuasa kebijaksanaan cita serta seberkas harapan anak. Semoga mampu dijadikan bahan renungan!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Staff pengajar STE MANDALA JEMBER&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsQ8dr8KAI/AAAAAAAAASI/0FgZDMHqtO4/s1600-h/Untitled+25.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 202px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsQ8dr8KAI/AAAAAAAAASI/0FgZDMHqtO4/s320/Untitled+25.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303851617106012162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-7665625017550313765?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/7665625017550313765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/7665625017550313765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/11/menghentikan-kekerasan-anak-secara.html' title='Menghentikan Kekerasan Anak Secara Psikosial dan Politik'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhC7OxTaMI/AAAAAAAAAkI/uMPoopUwRIs/s72-c/save+the+children.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-2956691066526632097</id><published>2008-10-26T21:10:00.000-07:00</published><updated>2009-11-21T19:48:43.816-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Menghindari Pandangan Sempit Disiplin Ilmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SmZlZOCnI4I/AAAAAAAAAtw/rwaLBhwd234/s1600-h/SCIence_20logo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SmZlZOCnI4I/AAAAAAAAAtw/rwaLBhwd234/s320/SCIence_20logo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361083890371339138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.edwardsheerien.barnsley.sch.uk/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;MENGHINDARI PANDANGAN SEMPIT DISIPLIN ILMU&lt;br /&gt;Oleh : Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini dimuat di harian Jawa Pos, Radar Jember hari Senin 27 oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Kita hanya bisa mengelus dada ketika mendengar masih ada perasaan sentimen antar fakultas hingga kini. Lebih-lebih bila perasaan sentiment itu melahirkan sikap arogansi intelektual. Mahasiwa dari fakultas yang satu merasa lebih unggul kemudian meremehkan atau melecehkan mahasiswa fakultas lain hanya karena perbedaan disiplin ilmu atau program studi yang mereka tekuni. Hal ini tampak jelas antara mahasiwa dari fakultas eksakta dengan mahaiswa non-eksakta (ilmu-ilmu sosil dan humaniora). Mereka tidak menyadari bila kemudian persoalan yang sebenarnya sepele ini kemudian seringkali menjadi potensi konflik seperti tawuran antarmahasiswa. Ironisnya, potensi konflik tersebut sengaja diwariskan oleh mahasiswa lama pada mahasiswa baru. Jadi, jangan heran bila hal ini terus dibiarkan akan terjadi akumulasi “dendam akademik” di antara mahasiswa yang berbeda fakultas atau jurusan (disiplin ilmu) secara turun temurun. &lt;br /&gt;---------&gt;Perkmbangan selanjutnya, permusuhan itu akan kian mengkristal bagaikan bola salju seiring berlalunya waktu. Sungguh suatu situsi dan kondisi akademik yang sangat memprihatinkan bila ternyata kemudian ada sementara dosen baik langsung maupun tidak justru ikut andil dalam lingkaran “dendam akademik” antarmahasiwa tersebut. Misalnya, ketika mereka memberi materi kuliah secara tidak disadari sering kali memberi kesan bahwa ilmu yang disampaikan lebih “hebat” daripada ilmu yang diberikan oleh dosen lain baik di dalam internal jurusan (fakultas) ataupun antarfakultas dalam satu universitas. Bila demikian, potensi-potensi konflik-akademik antarjurusan atau antarfakultas akan terus terpupuk dan direproduksi sepanjang tahun secara turun-temurun oleh komunitas akademik sendiri. &lt;br /&gt;Dikhawatirkan pada saatnya nanti potensi-potensi konflik itu pasti akan meledak tanpa terkendali. Seharusnya, sebagai pendidik para dosen berusaha menciptakan suasana sejuk penuh kedinamisan, bukannya malah mempercepat terbentuknya egoisme sektoral dalam kehidupan akademik mahasiswa.  &lt;br /&gt;---------&gt;Peristiwa bentrok fisik mahaiswa antarfakultas seperti yang telah terjadi di Jakarta dan daerah-daerah lain bukan tidak mungkin juga dipicu oleh sentimen-sentimen dan arogansi inteletual tadi. Peristiwa ini selain akan memalukan secara akademik karena para pelakunya justru orang-orang berpendidikan (tinggi) yang seharusnya lebih mengedepankan rationalitas daripada emosionalitas. Pada gilirannya, komunitas pendidikan secara keseluruhan akan ikut tercemar di mata masyarakat. &lt;br /&gt;---------&gt;Kita patut sedih dan prihatin ketika ternyata pihak pemerintah seakan tidak peduli dan tidak banyak berperan menyelesaikan persoalan ini. Lebih-lebih dengan adanya otonomi kampus campur tangan pemerintah terhadap kebijakan internal universitas menjadi semakin berkurang. &lt;br /&gt;---------&gt;Mungkin hal itu bisa dipahami bila pihak pemerintah berpendirian bahwa semua kemelut dalam sistem pendidikan nasional selama ini cukup diselesaikan melalui kebijakan internal universitas.Misalnya, keputusan rektorat atau dekanat yang mendrop out atau menskors bagi mahasiswa yang terbukti terlibat tawuran. Namun pada kenyataannya, kebijakan seperti ini tidak banyak membuahkan hasil. Tawuran demi tawuran terus saja terjadi. Dalam konteks ini, peran pemerintah sudah seharusnya lebih dioptimalkan dalam mengontrol dan mengendalikan pelaksanaan pendidikan di tingkat lapangan. Jangan heran jika pihak permerintah tetap tidak peduli dan krisis pendidikan nasional akan semakin terpuruk.  &lt;br /&gt;---------&gt;Kembali pada persoalan perbedaan bidang keilmuan antarfakultas atau antarjurusan. Penting untuk dipahami oleh semua anggota komunitas akademik (baik mahasiswa maupun dosen) bahwa perbedaan tersebut bukan justru memenjarakan komunitas akademik.dalam kotak-kotak eksklusifitas keilmuan.  Perbedaan perspektif ini pada dasarnya harus dilihat dan dimaknai sebagai media refleksi bahwa dalam dunia ilmu tidak dikenal adanya supremasi antara ilmu yang satu dibandingkan dengan yang lainnya. Lebih daripada itu, keberagaman dalam prespektif keilmuan jangan sampai menciptakan situasi hegemonik oleh salah satu disiplin ilmu terhadap disiplin ilmu yang lain. Keberagaman tersebut justru menunjukkan bahwa lautan ilmu memang sangat luas dan tidak seorang pun di dunia ini mampu menguasai semuanya. Bila pemahaman ini betul-betul diimplemantasikan dalam kehidupan akademik maka egoisme dan eklusifitas sektoral sudah pasti dapat dihilangkan. &lt;br /&gt;---------&gt;Meskipun egoisme dan eksklusifitas sektoral akademik dapat memicu situasi dan kondisi yang destruktif namun pada sisi yang lain seharusnya dapat difungsikan pula secara positif. Tegasnya, sikap arogansi akademik hendaknya dapat diarahkan seoptimal mungkin menjadi perang pemikiran antarmahasiswa dan antarfakultas atau jurusan. Dalam konteks ini perlu dan penting diciptakan forum diskusi, seminar, dan semacamnya termasuk  tukar menukar majalah antarfakultas. Namun demikian, masih diperlukan kearifan dari semua pihak agar jika melihat adanya perbedaan keilmuan kendaknya dipahami secara obyektif  dan  proporsional agar masing-masing pihak mau menerima sekaligus  mengakui kelemahan dan kekurangan masing-masing.&lt;br /&gt;---------&gt;Oleh karena itu, peletakan dasar-dasar ilmu pengetahuan sebaiknya menghidari unsur saling menjatuhkan. Dalam konteks ini, perdebatan dalam forum diskusi antarfakultas, diskusi antar universitas bukan ditujukan menjatuhkan nama kelembagaan namun pemikirannya. Justru yang terpenting dalam forum diskusi apa pun bentuknya, harus diciptakan suasana saling menerima dan memberi (take and give) demi perkembangan wawasan yang bersanmgkutan serta perkembangan ilmu itu sendiri ke depan. Dengan demikian perbedaan pesrpektif dalam ilmu pengetahuan akan menjadi modal sosial untuk membangun empaty terhadap sesama warga komunitas akademik meskipun masing-masing belajar di fakultas yang berlainan. Bila demikian, komunitas akademik yang dipresentasikan oleh figur mahasiswa serta dosen akan tumbuh sebagai figur-figur yang memiliki kepribadian cerdas, kreatif, inovatif, dan demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*staff pengajar STE MANDALA JEMBER. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct version&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsRRm3EffI/AAAAAAAAASQ/jn1NFvwY_u8/s1600-h/Untitled+26.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 177px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsRRm3EffI/AAAAAAAAASQ/jn1NFvwY_u8/s320/Untitled+26.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303851980345867762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-2956691066526632097?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/2956691066526632097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/2956691066526632097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/10/menghindari-pandangan-sempit-disiplin.html' title='Menghindari Pandangan Sempit Disiplin Ilmu'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SmZlZOCnI4I/AAAAAAAAAtw/rwaLBhwd234/s72-c/SCIence_20logo.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-3126562253204476067</id><published>2008-10-07T22:03:00.000-07:00</published><updated>2009-11-21T19:54:54.918-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Carok, Nabhang dan Pemberantasan Korupsi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SmZmN1gaBlI/AAAAAAAAAuI/HxUp_vcvCns/s1600-h/sakerah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SmZmN1gaBlI/AAAAAAAAAuI/HxUp_vcvCns/s320/sakerah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361084794318489170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1117931&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;CAROK, NABHANG DAN PEMBERANTASAN KORUPSI &lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel politik ini dimuat di Majalah Fokus, Pamekasan-Madura edisi 6 Tahun ke II, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Gebrakan memberantas korupsi oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan pemerintah kerapkali didengar di telinga kita. Setelah mengeluarkan inpres No. 5/2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi dan pencanangan Gerakan Aksi Nasional Anti Korupsi mengindikasikan upaya kesungguhan pemerintah menciptakan penyelenggaraan pemerintahan yang baik sekaligus bersih (good governance-clean government). &lt;br /&gt;---------&gt;Program nasional tersebut tentu saja layak kita apresiasi bersama. Kita sering mendengar kecaman dan ungkapan sarkasme masyakat melihat "hasil jerih" para koruptor menghabiskan uang negara (baca: rakyat). Negeri yang menjanjikan kehidupan gemah ripah loh jinawi karena begitu subur dan kaya akan sumberdaya alam sampai detik ini tidak kunjung menjadi kenyataan. Keterpurukan serta segala bentuk kebobrokan di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) merupakan keniscayaan yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia ketika para pengelola dan penyelenggara pemerintahan serta elemen masyarakat tertentu “lupa” ketika melakukan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) termasuk segala bentuk penyelewengan lainnya. &lt;br /&gt;---------&gt;Memang ada beberapa pihak yang kemudian menilai sinis gebrakan pemberantasan korupsi pemerintah itu.  Ada yang menuding gerakan tersebut "tebang pilih". Artinya hanya lawan politik SBY saja yang kemudian diciduk dan disidangkan. Sementara para kroninya jalan terus melakukan korupsi. Parahnya lagi tak sedikit aparat internal pemerintah yang merupakan bagian inti dari pemberantasan korupsi justru "bermain mata" dengan para koruptor. Kasus Artalytas Suryani setidaknya bisa dijadikan sedikit bukti betapa lemahnya institusi pemerintah.&lt;br /&gt;---------&gt;Lepas daripada itu, tulisan ini tidak bermaksud untuk mengulas pro dan kontra terhadap Gebrakan Presiden SBY yang dinyatakan dalam bentuk sinisme dan optimisme di kalangan masyarakat. Nampaknya penting pula untuk membahas implikasi kebijakan politik Presiden SBY tersebut dalam kaitannya dengan carok, suatu konflik kekerasan dalam masyarakat Madura yang sampai saat ini tetap berlangsung sebagai fakta sosial-budaya. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sm58HVjZ3-I/AAAAAAAAAy4/VNEw47vKhHk/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 79px; height: 118px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sm58HVjZ3-I/AAAAAAAAAy4/VNEw47vKhHk/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363360671731408866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;picture source: http://duniabuku1.blogspot.com/2008/01/carok-konflik-kekerasan-diri.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Menurut hasil penelitian yang dituangkan dalam bentuk disertasi (lihat: Wiyata, 2002, Yogyakarta: LKiS) carok tidaklah berdiri sendiri melainkan terkait secara relasional dengan kondisi-kondisi sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM). Dengan demikian, masing-masing kondisi memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan carok  di Madura. &lt;br /&gt;---------&gt;Salah satu kondisi itu adalah perilaku sementara aparat judisial (penegak hukum) yang memanfaatkan carok sebagai komoditas. Komoditisasi carok kemudian memunculkan istilah nabang yaitu suatu bentuk penyuapan yang dilakukan oleh pelaku carok (khususnya yang dapat membunuh lawannya) terhadap aparat judicial untuk merekayasa proses penyidikan. Rekayasa ini  mulai dari tahap awal hingga vonis hukuman dijatuhkan. &lt;br /&gt;---------&gt;Dengan nabang, para pelaku carok dapat mempengaruhi penerapan sanksi hukum menjadi lebih ringan. Sanksi hukum bagi pelaku carok seperti yang tercantum dalam pasal-pasal 338 dan 340 KUHP dengan pidana hukuman mati atau dipenjara seumur hidup atau 20 tahun dalam kenyataannya menjadi jauh lebih ringan daripada ancaman hukuman tersebut. Selain itu, dengan upaya nabang para aparat yudicial dapat memanipulasi pelaku carok. Artinya, pelaku carok yang sebenarnya dapat digantikan oleh orang lain yang masih merupakan kerabat dari pelaku carok tersebut untuk menanggung sanksi hukum.&lt;br /&gt;---------&gt;Bagi aparat judicial upaya nabang jelas menguntungkan secara ekonomik. Sementara, bagi pelaku carok itu sendiri justru menguntungkan secara sosial-budaya. Predikat sebagai oreng jago (jagoan) semakin tegas, oleh karena selain telah dapat mengalahkan – dengan cara menghabisi nyawa – musuhnya, mereka telah dapat pula mengalahkan kekuasaan para aparat judisial. Secara politik, semua keberhasilan tersebut menjadi alat  untuk mencapai kekuasaan (means of power). Pertanyaannya kemudian, akankah Gebrakan Presiden SBY dalam memberantas korupsi dapat juga berimbas pada aparat judisial yang terlibat upaya nabang dalam konteks carok? Jawabannya terletak dari komoditisasi carok dalam konteks Gebrakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiada lain merupakan bentuk korupsi yang harus dibasmi pula. Meskipun, secara formal, tidak menggerogoti uang negara namun perilaku sementara aparat judicial seperti itu jelas dapat dikategorikan sebagai penyalahgunaan wewenang (abuse of power) demi keuntunguan ekonomik pribadi yang bersangkutan. Implikasinya secara formal adalah penerapan sanksi hukum tidak dapat dijalankan secara konsisten sesuai dengan KUHP sehingga menguntungkan para pelaku carok. &lt;br /&gt;---------&gt;Secara sosial, ulah sementara aparat yudisial tersebut sangat melecehkan rasa keadilan masyarakat. Lebih daripada itu, suatu ironi, dengan adanya nabangaparat judisial melalui kekuasaan yang dimilikinya bukannya ikut menegakkan supremasi hukum. Melainkan justru melangkahi secara tidak langsung. Padahal, dalam konteks pemberantasan korupsi yang telah menjadi prioritas utama Presiden SBY, semua aparat judisial harus benar-benar bersih dari segala bentuk perilaku penyalahgunaan wewenang Meskipun terjadinya carok mempunyai hubungan relasional yang sangat kuat dengan kondisi-kondisi lain seperti dinyatakan pada bagian awal tulisan. &lt;br /&gt;---------&gt;Dalam konteks itu, jika komoditisasi kriminalitas melalui upaya nabang tidak diberantas maka implikasinya akan semakin melestarikan konflik kekerasan dalam masyarakat  Madura. Padahal, dengan carok – yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang –merupakan pelanggaran paling berat terhadap hak azasi manusia. Gebrakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagaimana janjinya pada semua rakyat Indonesia untuk melakukan perubahan (ke arah yang lebih baik daripada pemerintahan sebelumnya). Tentu saja jangan hanya terfokus pada pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) demi terbentuknya atau terciptanya good governance-clean government. Meskipun hal itu telah menjadi prioritas utama, namun dalam masa pemerintahan ke depan SBY harus tetap lebih memperhatikan setiap bentuk pelanggaran HAM agar tidak semakin menjadi-jadi di negeri ini. Sebab, pada prinsipnya, negara menjamin penjunjungan hukum sesuai konteks HAM agar masalah kasus sosial-budaya tidak berkembang ke masalah diskrimiasi Suku, Agama, Ras dan Antar Bangsa (SARA). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;* pemerhati masalah politik dan staff pengajar STE Mandala Jember.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;direct version :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsQjm7yiPI/AAAAAAAAASA/pbD7E1iX7AQ/s1600-h/Untitled+24.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsQjm7yiPI/AAAAAAAAASA/pbD7E1iX7AQ/s320/Untitled+24.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303851190091679986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-3126562253204476067?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/3126562253204476067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/3126562253204476067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/10/carok-nabhang-dan-pemberantasan-korupsi.html' title='Carok, Nabhang dan Pemberantasan Korupsi'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SmZmN1gaBlI/AAAAAAAAAuI/HxUp_vcvCns/s72-c/sakerah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-5839814847897565334</id><published>2008-09-19T18:06:00.000-07:00</published><updated>2009-11-21T19:50:10.482-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Budaya Baca dan Harga Diri Bangsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sme3PS_xtfI/AAAAAAAAAwg/jGg0ZYjiM7s/s1600-h/3473965999_60398cd46c.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sme3PS_xtfI/AAAAAAAAAwg/jGg0ZYjiM7s/s320/3473965999_60398cd46c.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361455354833122802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;BUDAYA BACA DAN HARGA DIRI SEBUAH HARGA DIRI BANGSA&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata *&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel ini dimuat di harian Jawa Pos, &lt;br /&gt;Radar Jember (20 September 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt; Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai kurangnya minat budaya baca para pelaku akademik (baca: yaitu guru dan dosen) mulai hangat di masyarakat. Beberapa pihak menimpali minimnya kegiatan baca pelaku akademik ini diakibatkan dari padatnya kesibukan sehari-hari, kemudahan mendapatkan informasi-pengetahuan akses di internet dan mahalnya harga buku. Alhasil, mudah ditebak, sedikit sekali yang mau berkunjung ke perpustakaan apalagi menjadi anggota perpustakaan. Persoalan ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri sebab bagaimana peradaban baik seperti munculnya generasi muda kritis, intelektual dan berpikir maju jika pelaku akademik tidak memiliki jiwa panutan untuk membaca buku? Oleh karena itu menarik untuk dicermati lebih jauh.&lt;br /&gt;---------&gt;Sebagaimana kita ketahui bersama, profesi akademik menuntut pergulatan dibidang ilmu pengetahuan. Seorang dosen, guru atau profesi yang berhubungan dengan akademik berarti secara sadar ia telah memutuskan pilihan hidupnya secara total, mengabdi dan bergulat kepada dunia ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Praktisnya ia pun ikhlas hidup menjadi seorang ilmuwan"&lt;/blockquote&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://s208.photobucket.com/albums/bb222/sayapjibril/?action=view&amp;current=nutra-scientist.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i208.photobucket.com/albums/bb222/sayapjibril/nutra-scientist.jpg" border="0" alt="Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Oleh karenanya, tentu mereka harus mau melahirkan karya-karya pemikiran baik berupa buku, artikel, karya ilmiah atau prestasi akademik lainnya. Sebab, ada tradisi menjaga budaya literatur yang diamanahkan pemerintah didalam rumusan tujuan negara sejak kebijakan Soekarno hingga pemerintahan sekarang, karena itulah seorang pelaku akademik wajib melaksanakan hal ini. Tujuannya adalah mengangkat harga diri pendidikan bangsa di mata luar negeri seperti Malaysia, Inggris bahkan Jepang. Wajarlah kemudian jika sekarang sulit menemukan figur seorang pendidik sekaligus ilmuwan seperti Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker dan pemikir humanis Soedjatmoko. Alasan lingkungan sosial, seperti tidak terciptanya kota akademik di Jember bila dibandingkan di kota-kota besar layaknya Yogyakarta atau Malang seringkali melatarbelakanginya pula. &lt;br /&gt;---------&gt;Ide menjadikan Jember sebagai kota pelajar pun muncul. Ini terlihat dari mulai dibukanya program-program studi baru mulai dari tingkat sarjana S-1 sampai doktor, pemasangan slogan-slogan gerakan baca sebagai bagian dari iman yang dikaitkan dengan tradisi religiusitas dan hampir di setiap akhir tahun diadakan bazar buku murah bagi mahasiswa. Dalam hal ini, pemerintah pun telah menunjukkan itikad baik pula. Yaitu, dengan melakukan penambahan buku-buku perpustakaan daerah dan penambahan beberapa armada bus perpustakaan keliling. Jika saat ini, ada kelemahan di bidang fasilitas perpustakaan itu persoalan lain. &lt;br /&gt;Sebab, masalah menciptakan budaya Jember menuju kota akademik lebih disebabkan masalah disiplin tubuh dan disiplin perilaku daripada pembenahan fasilitas. Kuasa politik tubuh demikian Foccoult menyebutnya.&lt;br /&gt;Sejauh pemantauan penulis, di Universitas manapun jua, para dosen atau guru memang malas memanfaatkan waktu luang mereka. Acara yang seharusnya diisi dengan diskusi mahasiswa, mengadakan acara akademik lebih-lebih membaca koran. Waktu kosong yang mulya diisi dari pembicaraan perseteruan birokratis jabatan struktural penting di tingkat atas birokrasi universitas, berapa besar sumbangan dana mahasiswa, pembandingan rendahnya gaji dosen-guru dengan profesi lain. Atau, tidak sedikit yang lebih suka berebut menjadi penceramah di kelas dan berebut mengisi ceramah diskusi akademik bersifat prestise demi mengejar tambahan dana Tunjangan Hari Raya (THR) nanti daripada merenungkan dan menghasilkan pemikiran-pemikiran baru. Sungguh ironis! &lt;br /&gt;---------&gt;Memang benar, ada beberapa yang memanfaatkan waktu luang dengan menambah informasi-pengetahuan di internet. Namun demikian, informasi-pengetahuan di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Internet&lt;/span&gt; memiliki kelemahan dalam tingkat akurasi data, cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan sehingga perlu membandingkan secara empiris pendapat ahli didalam buku-buku, jurnal-jurnal dan media massa (koran). &lt;br /&gt;---------&gt;Dari sini kita akan mendapatkan sebuah kesimpulan penting bahwa kegiatan budaya membaca dan kesadaran membaca di pelaku akademik masih kurang. Akarnya kompleks dan menuntut sebuah gerakan nyata. Sebab, itikad baik saja para pelaku akademik saja tidak cukup. Oleh karenanya, pemerintah perlu mengadakan inspeksi mendadak didalam kampus agar Jember menuju kota akademik bisa terwujud. Minimal mereka mau tercatat sebagai anggota perpustakaan daerah yang tidak membutuhkan biaya lebih untuk membayar anggaran per bulan bila dibandingkan dengan satu bungkus rokok. Dengan begitu, secara perlahan tetapi pasti, harga diri mutu pendidikan daerah akan terangkat. Pada gilirannya, harga diri bangsa akan naik di mata negara asing. Karena budaya baca menunjukkan harga diri bangsa! Semoga mampu dijadikan bahan renungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;strong&gt;staf pengajar STE Mandala, dan Pemerhati Politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsQG0vXvuI/AAAAAAAAAR4/rScNeoOzJK0/s1600-h/Untitled+22.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 211px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsQG0vXvuI/AAAAAAAAAR4/rScNeoOzJK0/s320/Untitled+22.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303850695581482722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-5839814847897565334?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/5839814847897565334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/5839814847897565334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/09/budaya-baca-dan-harga-diri-bangsa.html' title='Budaya Baca dan Harga Diri Bangsa'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sme3PS_xtfI/AAAAAAAAAwg/jGg0ZYjiM7s/s72-c/3473965999_60398cd46c.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-6784773553676139249</id><published>2008-08-24T22:43:00.000-07:00</published><updated>2009-11-28T05:06:33.023-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya tulis ilmiah politik'/><title type='text'>(karya tulis ilmiah politik) Skenario Global Bank Indonesia Bersama Pemerintah di Tahun 2025</title><content type='html'>&lt;/span&gt;SKENARIO GLOBAL BANK INDONESIA BERSAMA PEMERITAH MENYONGSONG TAHUN 2025&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwjMu10Ru_I/AAAAAAAAA4I/aVvE9Lsux14/s1600/world_economy1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwjMu10Ru_I/AAAAAAAAA4I/aVvE9Lsux14/s320/world_economy1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406796457750674418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source http://garyhaq.files.wordpress.com/2009/02/world_economy1.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya tulis ini diikutkan dan nominator pada Lomba Karya Tulis&lt;br /&gt;Yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;MAHASISWA FAKULTAS SASTRA &lt;br /&gt;DAN MAHASISWA FISIP JURUSAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS JEMBER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* karya tulis ini dipublikasikan tidak dengan footnote (untuk selengkapnya hubungi penulis)&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya tulis kualitatif ini merupakan penegasan skenario global dari tinjauan analitis menyongsong Indonesia 2025. Guna mempertajam aspek teoritis dan alat bantu analisis tentu saja penulis membutuhkan kerangka teoritik yang relevan-kontekstual, data-data dari website, sumber-sumber koran atau majalah ilmiah-populer, bantuan multimedia (microsoft encarta 2006) bahkan buku-buku akademik. Dengan begitu, karya tulis ilmiah kualitatif diharapkan mampu dipertanggung jawabkan dalam mempertimbangkan kebijakan yang akan diambil nanti baik oleh BI maupun pemerintah pada tahun 2025 nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BCW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………......................................................... i&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR …………………………………………………………........................................................…… ii&lt;br /&gt;DAFTAR ISI ………………………………………………………………………......................................................... iii&lt;br /&gt;DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………………........................................................ iv&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah …………………………………………………..…...................................... 1&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi Masalah …………………………………………………………........................................ 5&lt;br /&gt;1.3 Kerangka Teoretik …………………………………………………………….......................................... 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. ANALISIS DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;2.1 BI dan Perkembangan Paradigma Pembangunan .……………………………............................ 09&lt;br /&gt;2.2 Mitos Otonomi dan Hambatan Struktural ……………………………………............................. 18&lt;br /&gt;2.3 Menyongsong Tahun 2025 ………………......................................……………………………………… 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI................................................................ 30&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA …….………………………………………………………............................................... 31&lt;br /&gt;LAMPIRAN-LAMPIRAN ……………………………………………………................................................. 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;DAFTAR LAMPIRAN&lt;br /&gt;Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup Penulis&lt;br /&gt;Lampiran 2. Pernyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Menyongsong dua dasawarsa ke depan, masalah stabilitas perekonomian suatu bangsa yang diiringi kebijakan moneter pemerintah tampaknya masih menentukan arah dan nasib Bank Sentral (baca: Bank Indonesia). Kalangan futurolog - termasuk didalamnya pengamat ekonomi-perbankan - menetapkan acuan-acuan ideal sekaligus tepat sasaran agar pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) mempercepat kaidah-kaidah kebijakan transmisi moneter . Artinya pemerintah maupun BI perlu melakukan perubahan-perubahan mendasar agar laju naik turunnya kurs-valuta perekonomian negara yang diharapkan mampu menyesuaikan diri pada kondisi perubahan perekonomian global.&lt;br /&gt;---------&gt;Dampaknya, mau tidak mau, pengelolaan risiko sistem keuangan perbankan dari tahun ke tahun ditekan seminimal mungkin agar dana yang terhimpun dapat dialokasikan kepada penanaman investasi baru . Sementara, kebijakan sistem perbankan BI – misalnya penetapan rata-rata inflasi dan penetapan nilai kurs - belum tentu sejalan dengan kesesuaian antara target pemerintah di lapangan. Akibatnya, mudah ditebak terjadi tarik ulur kepentingan antara visi-misi pemerintah dan BI meskipun kalangan pers kurang memperhatikan secara tersirat. Persoalan yang menggejala umumnya terkait erat dengan paradigma, sikap dan keputusan pergantian pemimpin dari orde pemerintahan ke orde pemerintahan.&lt;br /&gt;---------&gt;Pada tahun 1997, krisis ekonomi yang berkepanjangan melumpuhkan sendi-sendi kehidupan karena menurunnya kepercayaan penanaman investasi masyarakat luar negeri sebagai akibat kesalahan etika politik pemerintahan Orde Baru. Untuk mengatasi hal ini, BI melakukan langkah penyelamatan dengan mengatur kebijakan nilai fiskal dan memperhitungkan pergerakan pasar modal dari dunia usaha.&lt;br /&gt;hal. 01&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;---------&gt;Sementara, pada saat yang bersamaan, gejolak sosial masyarakat agar terjadi perubahan mendasar kebijakan ekonomi-politik di bidang moneter mempengaruhi pandangan-pandangan investor luar negeri. Perkembangan selanjutnya, investor luar negeri seakan berharap-harap cemas akan penanaman modal yang telah ditanamkan jauh-jauh sebelumnya.&lt;br /&gt;---------&gt;Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), BI pun mengeluarkan kebijakan peraturan penetapan suku bunga sesuai kesepakatan pemerintah sebagai tindak lanjut menanggapi dampak krisis moneter yang kemudian nilai BI rate akan naik beberapa poin. Selain bertujuan menjalankan program restrukturasi perbankan secara konsisten ( Lihat : “ Tinjauan Triwulanan Perkembangan Perbankan, www.bi.go.id), BI bersama pemerintah mengupayakan agar perekonomian negara dapat bangkit kembali. Namun demikian mengingat kebijakan moneter yang diberlakukan berlangsung selama 4 sampai dengan 5 tahun juga dipengaruhi situasi dan kondisi ekonomi-politik luar negeri seperti naik turunnya harga minyak dunia. Perhatian terpenting dalam hal ini terletak dari bagaimana pemerintah di masa mendatang mampu menyesuaikan dan merumuskan kebijakan tepat-guna sebab masalah perbankan penuh dengan resiko. Apalagi budaya dan gaya kepemimpinan kepala negara sangat menentukan kebijakan moneter BI.&lt;br /&gt;Persoalannya kemudian adalah beban besar dan tanggung jawab semakin berat tatkala blok-blok perdagangan luar negeri dan sistem perbankan negara-negara Amerika Serikat, Eropa (Jerman, Perancis dan Inggris) atau Asia Timur ( Jepang dan Cina) telah menerapkan pendekatan pemasaran global. Dalam konteks ini, kedudukan bank-bank sentral telah memiliki perencanaan, pengendalian dan memanfaatkan untuk membuka jaringan serta ruang-ruang terhadap organisasi-organisasi negara. Dengan menerapkan langkah pengalokasian dana terpadu, peran bank-bank sentral bukan menjadi pusat perekonomian finansial lagi. Akan tetapi, dapat dikatakan sebagai wadah penghubung yang semakin memperlancar pergerakan ekonomi bangsa.&lt;br /&gt;---------&gt;Oleh karena itulah salah kiranya doktrin ekonomi kontemporer yang memaparkan bahwa bank perlu beradaptasi kepada nilai kultural masyarakat atau agama seperti syariah dan lain-lain . Sebab, makna terdalam emansipasi Bank Sentral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 02&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;mengalirkan prestasi ekonomi bangsa di kancah internasional. Berkaitan dengan konteks BI, mampukah kebijakan fiskal, moneter dan kebijakan direksi di dua dasawarsa menjawab perubahan zaman yang berlangsung cepat bahkan tak terduga?&lt;br /&gt;Uraian singkat yang dijelaskan dalam pandangan Jacques Attali (1997) menunjukkan bahwa kehadiran milennium ketiga ditandai tatanan geopolitik melalui persaingan antara “yang kalah” dan “yang menang”. Setiap negara-negara besar yang mengakui konsumerisme sebagai ideologi, budaya perbankan yang diperkenalkannya mampu mempengaruhi peradaban suatu negara. Akibatnya batas-batas kemampuan peradaban adalah sejauhmana perbankan mempelopori zona aturan main yang bukan lagi berdasarkan pada kaidah profesionalisme. Sebab, profesionalitas di masa mendatang menjadi budaya klasik oleh karena otoritas bisnis berlaku ibarat hubungan kerjasama politik saling mempercayai dan saling menguasai. Dalam konteks ini, bank Sentral –dalam hal ini BI – perlu mengubah catatan penting mengenai paradigma perbankan yang dipakai mulai hubungan dengan pemerintah, kerjasama antar sekawasan- global strategi dan pilihan manajemen resiko.&lt;br /&gt;---------&gt;Kalangan pemerhati perbankan dan pemerhati sosial-ekonomi mengungkapkan pendapat bahwa persoalan tersebut lebih disebabkan pengaruh liberalisasi ekonomi maupun penerapan pasar bebas. Pergantian abad 21 lebih dikenal sebagai masa perubahan cepat tekhnologi dan informasi sehingga memungkinkan sistem perbankan membuka jalan bagi industrialisasi jasa. Apabila dilihat dari kemampuan sistem perbankan yang dimiliki oleh negara-negara pemegang kendali kekuasaan ekonomi-politik, pergerakan masuknya modal yang tak terbendung kurang disadari berdampak buruk pada stabilitas moneter dan perekonomian negara .&lt;br /&gt;---------&gt;Memang benar bahwa pembaharuan infrastruktur perbankan disusun pada kaidah Bassel sebagai langkah antipasi mendisiplinkan pasar perbankan . Tujuannya adalah perbaikan di bidang kebijakan BI yang menekankan pada kestabilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 03&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;rasionalitas moneter. Dengan kata lain, perkiraan penanaman investasi terkendali dengan nilai tukar yang lebih dinamis. Namun demikian perkembangan ekonomi internasional dewasa ini memperlihatkan perubahan gaya melihat dan menunggu (wait and see) ke tipe nomadik oleh negara-negara industri. Kejadian seperti ini biasanya semakin jelas apabila negara investor secara tiba-tiba menarik modalnya tanpa alasan yang jelas sehingga terbesit pertanyaan didalam BI dan pemerintah ditengah kegiatan ekspor-impor. Temuan Kompas (06/03/06) mencatat terjadinya gejala penyebaran kredit perbankan tidak merata dalam sendi-sendi perekonomian pada tahun 1996 sampai 2002. ---------&gt;Dihubungkan dengan kajian Bapepam dalam Master Plan Pasar Modal Indonesia mengenai upaya memperluas bursa saham melalui konsep universal banking – yang merupakan jawaban atas meningkatnya kebutuhan masyarakat akan produk dan jasa di sektor keuangan - maka akan ditemukan titik temu bahwa pasar internasional lebih menjadikan BI sebagai agen pelayanan-perantara . Oleh karena itulah, sebagai negara berkembang, Indonesia perlu mempersiapkan sejumlah skenario agar mampu mencermati dillema perbankan dalam konteks sosial-ekonomi dan sosial-politik.&lt;br /&gt;---------&gt;Setelah pemerintah menekankan sasaran fiskal-moneter agar lebih stabil, pengamat menteri Menko Ekuin Kwik Kian Gie pernah melontarkan rancangan pembahasan masa depan BI dan negara secara mandiri. Sebab, kredibilitas BI di mata internasional menurun ditandai rendahnya penanaman investasi. Lebih lanjut lagi, kebijakan fiskal-moneter yang terpatok pada neraca perdagangan menjadikan laporan final pertanggung jawaban direksi BI kepada presiden. Namun, sampai saat ini jawaban seakan terletak pada likuiditas bank menurut isi kesepakatan Letter of Intent (LOI) dari IMF atau Bank Dunia. Sementara bagi dunia perbankan nasional, kebijakan ini tentu mempengaruhi kewibawaan BI yang pada gilirannya ‘pengecualian’ kebijakan fiskal moneter diaudit oleh BPK. Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, sasaran-sasaran fiskal-moneter dimaknai pengertian ekonomi bukan politik. Disinilah menuntut letak kajian kritis mengenai pendekatan peradaban yang digunakan selama ini.&lt;br /&gt;Sebab, keadaan serta tujuan moneter yang ingin dicapai terkait dengan hubungan kekuasaan dengan negara-negara internasional. Karena itulah, kerjasama yang dilakukan nanti agaknya memerlukan pendalaman agar mampu bersaing dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 04&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;pasar global. Guna menggambarkan secara sosiologis, kerangka kerja BI menopang kebutuhan moneter riil yang mencakup pemahaman pasar komoditi global. Agaknya, perlu pula dipahami hubungan mengkaitkan antara perbedaan tatanan yang terjadi dalam berbagai dinamika kehidupan dunia usaha internasional.&lt;br /&gt;---------&gt;Pada tatanan geopolitik sekarang ini, hubungan internasional BI memegang peranan penting menjadi lembaga yang melaksanakan keinginan pemerintah nasional (Rahardjo, 1999). Pergeseran kepentingan saat ini tampaknya akan melahirkan sebuah dunia yang melahirkan cara pandang baru kebijakan dan berpraksis ekonomi-politik perbankan. Sebagaimana terjadi pada perubahan politik global setelah perang dingin pada tahun 1970-an mengilhami pembuat keputusan negara-negara menatap masa depan lebih baik.&lt;br /&gt;---------&gt;Secara otomatis, pendekatan nasional-sosialis pembangunan Soekarno terhadap BI berubah pula mengikuti keterbukaan pasar pembangunan ala Rostow ketika Soeharto memimpin. Menariknya, perkembangan moneter kebijakan BI pun di masa depan tentu akan memiliki berbagai kemungkinan apalagi di tengah tatanan dunia global baru terus berubah secara cepat dan tak terduga .&lt;br /&gt;Nah, dari sini penulis tertarik untuk mengangkat karya tulis ilmiah kali ini dengan judul “Skenario Global Bank Indonesia Bersama Pemerintah Menyongsong Tahun 2025”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.2 Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;---------&gt;Dari ulasan mendasar diatas setidaknya akan dapat ditarik identifikasi masalah yaitu bagaimanakah menentukan strategi alternatif sekaligus peta penunjuk jalan yang dapat menjawab tantangan BI maupun pemerintah dalam dua dasawarsa kedepan? Persoalan akan lebih menarik untuk dikaji lebih dalam mengingat – tidak menutup kemungkinan – tatanan ekonomi global baru menyongsong 2025 akan tercipta. Oleh karena itulah, perlu diberikan catatan penting terlebih dahulu bahwa tulisan ini bukan argumentasi. Melainkan lebih merupakan tinjauan analisis dibalik pokok permasalahan antara BI dan pemerintah selama ini. Tentu saja ulasan yang hendak dipaparkan membahas kemungkinan-kemungkinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 05&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;yang akan terjadi dalam dua dasawarsa mendatang sehingga BI perlu mengambil kebijakan penting. Yaitu meliputi sasaran fiskal-moneter, pengaruh kebijakan BI sekaligus kedudukan BI dalam kancah global serta perencanaan-perencanaan penting menghadapi blok-blok perdagangan maupun blok-blok politik antar negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.3 Kerangka Teoritik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Perkembangan sejarah-sejarah universal perbankan diawali semangat merkantilisme dan revolusi industri yang kemudian menjangkau sejumlah negara pada awal abad IX. Pada tataran ini, perbankan masih dalam bentuk “primitif” baik dalam jaringan, organisasi dan kinerja. Namun kemudian, di tengah pertengahan abad XX, perbankan mulai mengalami pengubahan wajah dan bentuknya dari segi keterbukaan pasar. Catatan Hegel dan Marx mempercayai bahwa kondisi material mendahului sekaligus membuka peluang perubahan terhadap organisasi-organisasi termasuk bank. ---------&gt;Pertama, dunia politik internasional menerapkan penyelarasan dan pendomestikan identitas perbankan seperti pengaruh AFTA, tiga serangkai ekonomi Asia yaitu Cina-Malaysia dan Jepang. ASEAN-Cina bahkan kebijakan WTO.&lt;br /&gt;Ada persoalan kontroversial mengenai pengaruh kemunduran blok Timur di era pertengahan 1960-an setelah perang dingin menurut para ahli berperan serta mengubah wawasan kebangsaan perekonomian negara Asia-Afrika. Di negara kita, sejak pemerintahan Soekarno sampai era reformasi, pertetangan ideologis pemimpin terbawa pula tanpa sengaja dalam perumusan kebijakan BI. Sebuah pemahaman mengenai sejarah kebijakan moneter BI akhirnya lebih dikenal etika kebudayaan pembangunan ekonomi berdimensi satu arah. Demikan halnya, kualitas Sumber Daya Manusia narasumber perbankan mengikuti pula alur penempatan di posisi lingkungan dalam BI.&lt;br /&gt;Sebenarnya, didalam masyarakat prakapitalis, setiap bagian aset perbankan dan upaya menghindari-menata kesalahan cara kerja bisnis sertifikasi BI berdasarkan peraturan pemerintah. Tentu saja strategi membangun kemitraan mengarah kepada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 06&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;ciri dasar ringkasan pemberdayaan membangun kredibilitas Bank pada tahap selanjutnya. Esai antropologis Gertz mitos-mitos kebudayaan pembangunan memang kerapkali dimaknai bahasa penegasan terhadap kedudukan pemerintah. Pada bab “BI dan Perkembangan Paradigma Pembangunan”, ulasan ide-ide yang hendak disampaikan pada – meminjam istilah hutington- perbenturan kepentingan antar “peradaban” kepemimpinan perbankan dan pemerintah yang memerlukan penanganan secara bijak .&lt;br /&gt;Kedua, dilatarbelakangi kondisi itu, industri perbankan independen kemudian disimak tidak terbatas sebagai diskusi opini publik lagi. Apalagi, sejak hukum organisasi ketatanegaraan mengatur hubungan Bank Sentral dan pemerintah yang kemudian disahkan kedalam Undang-Undang No. 11 tahun 1953. Hal ini pula yang perlahan-lahan menjadi sistem politik komando sehingga “hak pregoratif” turut mengatur struktur kebijakan BI. Bagaimanapun juga, seperangkat amandemen UU disertai pemikiran kedepan sejauhmana dampak terhadap Bank Sentral itu sendiri setidaknya perlu dimulai sejak dini.&lt;br /&gt;---------&gt;Apabila pemerintah mau belajar pada kegagalan dan sejarah perkembangan tipe organisasi-organisasi modern yang semakin memperpanjang sistem feodalisme politik akibat titik balik peradaban. Problem kontemporer memahami bagaimana kesenjangan organisasi modern yang memaksakan terhadap kenyataan-kenyataan sosiologis peradaban. Skeldon dalam Firdausy (1998) menyangkal pendapat Zelinsky yang menekankan peran kunci demografis organisasi modern yang dikhawatirkan akan menjadi individualistik karena mobilitas pembuat keputusan .&lt;br /&gt;Dunia perbankan terkadang memiliki sudut pandang sendiri meliputi hak ekonomi, hak sosial-budaya dan hak politik. Dalam konteks politik, agenda birokrasi perbankan dan pergantian kepemimpinan Bank Sentral diarahkan sesuai penerapan Undang-Undang yang dijalankan pemerintah. Kontrol negara pun diterapkan oleh karena pemerintah memiliki fungsi sebagai lembaga penyelenggara pembiayaan pembangunan. Ilmu sosiologi memandang akan pentingnya kedudukan kesejahteraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 07&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masyarakat tafsir makna sosial dibalik itu yang, secara tidak langsung, dapat dikatakan BI menandai mengangkat derajat dan kualitas Human Capital. Dengan demikian, permasalahan BI bukanlah murni ekonomis melainkan juga bersifat sosial-filosofis.&lt;br /&gt;---------&gt;Manusia memiliki pijakan kepekaan hubungan emosi dengan memberi kepercayaan kepada kelembagaan negara. Perilaku individualistik masyarakat Barat tak berpengaruh ketika kurs dolar Amerika Serikat jatuh beberapa saat ketika kejadian penyerangan World Trade Center berlangsung. Tentu saja tidak cukup mengkaitkan masalah ini dengan kondisi BI dan rasa kebangsaan masyarakat dalam negeri. Namun, secara teoritis, dapat ditarik hikmah kebijaksanaan bahwa setiap insan memiliki dambaan-dambaan terpendam terhadap kondisi moneter perbankan melalui refleksi fenomena sosial-politik sehari-hari.&lt;br /&gt;---------&gt;Setiap peristiwa - entah politik, dillema perbankan global dan nasional - akan melahirkan pergulatan sejarah baru di masa depan. Sejarah terbentuk dari pemaksaan peristiwa. Hegel memang menerapkan rumusaan abstrak mengenai tesa dan antitesa yang kemudian melahirkan sintesa. Landasan pemikiran filosofis ini mewujudkan gagasan mengenai terciptanya sejarah era tatanan global baru. Sebab, seperti yang diungkapkan Fukuyama (2003) sejarah merupakan proses terbuka dengan berbagai kemungkinan di masa mendatang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 08&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II ANALISIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1 BI dan Perkembangan Paradigma Pembangunan&lt;br /&gt;---------&gt;Selaku mitra pemerintah, Bank Indonesia (BI) bertindak sebagai pengatur moneter yang mengagendakan kinerja tidak terbatas pada penataan kegiatan perbankan bahkan pemulihan moneter nasional. Selama 53 tahun - sejak kolonial sampai pemerintahan SBY-JK sekarang - BI mengikuti rutinitas jadwal pemerintahan. Fakta sejarah menunjukkan pengubahan BI menjadi status nasional pasca-kolonial yang semakin melanjutkan peranannya di era otonomi daerah sekarang mendapat tantangan dari paradigma pembangunan. Ciri-ciri khusus yang ditandai adalah pengakuan suara kekritisan dari direksi BI, penuntutan otoritas otonomi di masa depan serta menjalin keharmonisan hubungan antara pejabat pemerintahan.&lt;br /&gt;---------&gt;Dimulai dasawarsa 1950-an, manifesto politik-ekonomi Soekarno menerapkan nasionalisasi BI sebagai identitas, namun belum mencapai tahap evaluasi perbankan terjadwalnya laporan-laporan. Melalui revolusi sebagai jargon politik pembangunan perekonomian, Soekarno melupakan peristiwa aktual perbankan sehingga kondisi moneter negara menjadikan krisis di pertengahan 1965-an. Karena terdapat banyak pertimbangan dalam membangun peradaban perekonomian perbankan maka persoalan pembangunan citra politik kebangsaan dengan penerapan New Emerging Forces (NEFO) di mata internasional didahulukan. Beberapa tahun sebelum dikeluarkannya dekrit presiden dan beberapa tahun kemudian peristiwa Supersemar 1966, BI dibebankan pada pembayaran beban setelah perang kemerdekaan di tengah menipisnya jumlah kekayaan negara. Kelihatannya, Soekarno mendefinisikan bahwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 09&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BI sebagai bahasa kebudayaan pemerintahan. Dengan kata lain, sandaran BI pada lalu lintas pembangunan stabilitas moneter nasional mengejawantahkan menuruti keabsahan identitas kelembagaan saja sesuai saran dan kebijakan searah dari pemerintah.&lt;br /&gt;---------&gt;Kejadian seperti itu hampir terjadi di pemerintahan Habibie yang berlangsung selama 2 tahun dan pemerintahan Gus Dur . Kedua pemimpin ini, memiliki ciri khas sebagai figur demokratis dan intelektual. Para pengkritik perbankan dan pengamat sosial-politik menilai bahwa persoalan militer yang turut menanamkan investasi dan mengalokasikan dana sejak awal dekade 1980-an di perusahaan swasta kurang diselesaikan dengan baik. Kecenderungan militer memasuki dunia perbankan berkembang dalam ruang perbankan semakin terbuka karena berlarut-larutnya penegakan hukum. Apabila standar narasumber diartikan sebagai “ruang publik” yang terbuka maka kehidupan perbankan akan terdapat hambatan besar untuk berkembang.&lt;br /&gt;Pemerintah melalui pasal 9 ayat 1 Undang-Undang BI memang mengatur agar campur tangan investasi pihak luar dari pihak BI. Dalam pandangan romantika politik, dorongan pengembangan modal sosial perbankan tercakup wilayah-wilayah yang berproses kekuasaan secara alamiah. Sebab, BI memiliki kenyataan sosial-ekonomi pada sektor investasi yang menjalankan figur sebagai korban kesalahan kebijakan pemerintah. Pemerintahan Megawati yang kemudian diteruskan SBY-JK mewariskan problem kultural dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap kebijakan fiskal-moneter. Tetapi, disini sekali lagi perlu dikaitkan dengan konteks global kenaikan minyak dunia tahun 1999 . Sebagai salah satu negara yang terkena dampaknya, pemerintah kemudian bersama DPR menaikkan harga BBM tanpa mengujinya kepada masyarakat. BI pun seakan di posisi ambiguitas dan menjadi “kambing hitam” atas persoalan ini. Polemik antara BI dan masyarakat pun&lt;br /&gt;hal. 10&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;dipahami sebagai gagasan politis karena, pada saat bersamaan, penandatanganan Letter of Intent (LoI) IMF dilakukan.&lt;br /&gt;---------&gt;Karena itulah sejarah moneter BI diwarnai upaya dan nuansa menyehatkan perbankan nasional. Penyebaran pengetahuan serta likudiasi bank-bank kurang sehat pun dicanangkan dalam agenda menteri-menteri di era Gusdur dan Megawati. Bagi sebagian masyarakat perkotaan, laju cepat BI memperingatkan pelaku bisnis perbankan yang mengalami kesulitan pasar memang pernah menghambat perekonomian pada 1996. Pemerintah – dalam hal ini BI - menyadari, sumbang asih perbankan-perbankan yang akan dilikuidasi masih dibutuhkan sehingga beberapa bank digabungkan. Prospek ekonomi-politik paradigma pembangunan yang dipakai adalah menemukan karakter corak bisnis perbankan berdasarkan pertumbuhan ekonomi bertahap dan mampu tanggap terhadap kesalahan manajemen .&lt;br /&gt;---------&gt;Di era otonomi daerah sekarang ini, pemberdayaan good government and good governance dilakukan melalui pembenahan penerimaan karyawan. Pertanyaan yang dirasakan, apakah pelayanan kepada masyarakat benar-benar telah dilakukan secara tekhnis baik aparatur pemerintahan maupun dari BI? Persaingan ketat, menjadikan profesionalitas BI sebagai proses pembelajaran serta mawas diri terhadap perubahan-perubahan mendatang.&lt;br /&gt;Kira-kira setelah peristiwa reformasi pada tahun 1998 sampai tahun 1999, suara-suara agar ditegaknya reformasi di segala bidang menjadikan perbankan turut mengalami keterbukaan. Aspek terpenting komunikasi BI kala itu menekankan informasi kepada masyarakat mengenai gambaran permusyawarakatan kebijakan Bank. Jadi, salah kiranya jika anggapan sebagian opini publik bahwa BI terbentuk hanya melayani kepentingan pemerintah. Didalam konfrensi pers yang diadakan di Jakarta oleh deputi Gubernur BI di tahun 2000 tentang tanggapan terhadap moneter nasional setidaknya mampu menjelaskan kedudukan hal itu (www.tempointeraktif.com). Secara umum, situasi-kondisi keberlangsungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 11&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;hubungan antara pers dan BI masih terkatung-katung akibat beban birokrasi pemerintah yang diberikan kepada BI.&lt;br /&gt;---------&gt;Pragmatisme politik dalam kebahasaan politisi umumnya ditempuh melalui jargon-jargon ibarat puisi kepahlawanan. Di era 1970-an Soeharto memperkenalkan paradigma pembangunan menuju era tinggal landas. Salah satu kebijakannya yang berpengaruh terhadap deregulasi moneter BI dan melakukan penanaman investasi asing melewati Bambang Trihardmojo . Sesuai dengan tujuan penataan pembangunan perekonomian, pemerintah menekankan bahwa implementasi kemapanan bangsa didahulukan sehingga prioritas inventarisir kebutuhan dasar BI menunjukkan keprihatinan.&lt;br /&gt;---------&gt;Peluang pendekatan etnopolitik Asia Tenggara dalam menjadikan wilayah negara-negara lebih demokratis akhirnya terkendala kesejajaran budaya politik-pemerintahan. Tersekat-sekatnya kepentingan pemerintahan di tubuh wakil rakyat DPR-MPR dalam merumuskan Undang-Undang (UU) perbankan yang peduli pada kenyataan di tubuh BI. Jelaslah kemudian BI membutuhkan “angin segar” yang dapat merumuskan kelemahan diantara pilihan politik pembangunan pemerintah. Banyak contoh yang dapat diberikan pemecahan kelemahan sasaran resiko fiskal-moneter di tahun 1965, tahun 1996, tahun 2000 dan tahun 2006.&lt;br /&gt;---------&gt;Hal itu juga dipengaruhi sudut pandang geopolitik ke-Asia-an dan pengembangan perusahaan-perusahaan besar multinasional menyelesaikan tugas penting transaksi bursa efek BI . Memang jauh lebih mudah jika BI merestrukturasi paket fiskal-perbankan sebagaimana terjadi ketika benturan kepentingan pelaksanaan profesionalitasnya di tahun 1997. Walaupun terdapat ujian berupa menyeleksi perdagangan antar bangsa disamping mempertahankan stabilitas moneter. Namun demikian, BI melewati ambang krisis kepercayaan luar negeri sehingga beberapa tahun berikutnya fluktuasi nilai tukar rupiah relatif stabil.&lt;br /&gt;Persoalannya kemudian bagaimanakah BI lebih bijak menangani kebijakan fiskal-moneter perbankan mengatur depresi keuangan di era otonomi daerah? Sebab, semakin kompleks suatu birokrasi pemerintahan yang tersebar dalam beberapa bagian wilayah, semakin kompleks pula kebijakan makro-mikro moneter. Contoh kasus yang menjadi perhatian lebih adalah Aceh melalui otonomi khusus di tahun 2005 yang&lt;br /&gt;hal. 12&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;diberikan kebebasan ekonomik melakukan kegiatan perdagangan luar negeri seperti prinsip negara federal.&lt;br /&gt;Dogma politik perdamaian memang menelaah dan meminimalisir dampak kekerasan untuk menciptakan keutuhan bahkan keharmonisan. Karena, dialog-dialog dan kesepakatan menitikberatkan pada sikap mengalah salah satu pihak dengan alasan menegakkan demokrasi. Imbasnya, BI juga mengikuti bagian poin kebijaksanaan politik perdamaian SBY-JK yang bukan mustahil justru menyalahi aturan UU perbankan dan UU Bank Sentral Indonesia. Dalam konteks ini, landasan etis UU BI akan mempengaruhi periode politik perbankan di masa depan.&lt;br /&gt;Ditilik dari sejarah kondisi umum politik perbankan BI, perumusan kebijakan pemerintah menghadapi perubahan sosial dan paradigma pembangunan setidaknya dapat dipetakan sebagai berikut. Pertama, periode perintis yang dikatakan sebagai pembentukan dan perubahan nama BI di era kolonial setelah perebutan perang kemerdekaan sebagaimana diungkapkan diatas . Perniagaan yang dikelola awalnya di bawah tangan Veregnide Ost Compagnie (VOC) kemudian beralih ke Jepang sampai tiba ke pangkuan pemerintahan Indonesia. Secara garis besar, BI kala itu menekankan sirkulasi perdagangan, menahan inflasi dan mencetak uang sehingga aspek politis pemerintah belum nampak. Laporan agenda yang acapkali dilakukan adalah melakukan kredibilitas sektor properti pengadaan devisa yang menjadi penunjang ekonomi negara. Oleh karena itulah, di periode perintis, prores kemajuan organisasi BI merefleksikan pada kondisi persiapan kemerdekan dan setelah memerdekakan diri.&lt;br /&gt;Ketika pilihan kebijakan pemerintah Soekarno memutuskan model pembangunan dari atas ke bawah sekitar 1950-an, Bank Sentral Indonesia dibentuk sebagai pelayan masyarakat-negara yang meniadakan sistem kelembagaan kelas borjuasi warisan kolonial baik belanda maupun Jepang . Sebagai tindak lanjut dari tata ekonomi Pancasila, Bank Sentral Indonesia membantu dan membagi penerimaan sisa-sisa pajak kolonial untuk pembangunan di tengah tekanan inflasi. Apa yang diamanatkan dalam kerangka acuan garis-garis besar ekonomi Pancasila dan jargon revolusi tanpa henti mengakibatkan kebijakan BI seakan menjadi bahasa antropologis demi mempertahankan status quo kekuasaan Soekarno . Dengan latar belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 13&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;inilah, BI memerlukan kesadaran sejarah mengenai peran dan fungsinya bersama pemerintah di era otonomi daerah sekarang ini.&lt;br /&gt;Kedua, memasuki masa di ambang batas ambiguitas-ilusi dogma pembangunan. Fase ini merupakan penanda yang menunjukkan bagaimana BI terpancing oleh isu-isu politik pemerintahan sehingga dihadapi dillema pelik antara kebijakan pemerintah, kebijakan terapan perbankan sesuai kondisi masyarakat dan kebijakan internal. Pada tahun 1999 , masalah uji kelayakan calon direktur BI muncul di permukaan sesuai permintaan pemerintah . Sementara itu, masyarakat, pasar dan BI memiliki kriteria tersendiri dengan perhitungan-perhitungan logis bagi kebutuhan pengembangan masa depan. Disini, upaya komitmen berdasarkan pengkomunikasian terlebih dahulu menjadi penting agar mampu menyelaraskan kepentingan dan suara berbagai pihak. Dikatakan dalam pemahaman politik, pengakuan dan memberikan kesempatan terhadap suara penyaluran kekuasaan trinitas pilar pertumbuhan perekonomian bangsa saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Sebab, dalam pergerakan sejarah, BI selalu menjadi korban ketidakadlilan politik pemerintahan.&lt;br /&gt;Barangkali menarik menganggap hal tersebut dalam pemahaman upaya mewujudkan masyarakat madani di era otonomi daerah sekarang ini. Sebab, good government dan good governance tidaklah cukup tanpa disertai good implementation dalam pengertian sebenarnya. Ketika tulisan ini disusun, Rancangan Undang-Undang tentang Kebebasan Memperoleh Informasi Publik (RUU KMIP) masih berjalan tersendat-sendat . Ada kaitan secara langsung dan diantara RUU KMIP dengan good implementation demi merumuskan kembali visi dan misi BI di masa mendatang. Di masa mendatang, tema-tema besar visi misi BI tampaknya menitikberatkan informasi publik yang memadai sehingga pers dan masyarakat mampu mengontrol kebijakan-kebijakan politik pemerintah.&lt;br /&gt;Ketiga, periode lepas landas memasuki di penghujung abad 21. Setelah detik-detik sejarah bergulir begitu cepat, BI menandai peristiwa penting bangkitnya perekonomian-moneter nasional. Tolak ukurnya terletak dari kemampuan BI rate yang mencapai pertumbuhan rata-rata 3% sampai 5 % tahun lebih-lebih lunasnya hutang dari IMF memungkinkan sasaran fiskal-moneter tepat sebagaimana&lt;br /&gt;hal. 14&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diprediksikan sebelumnya. Namun demikian, sebagian para analisis politik memang sedikit meragukan skenario paradigma pembangunan global menghadapi era globalisasi yang dilakukan pemerintah mampu menjembataninya. Ini diakibatkan kelemahan pertumbuhan ekonomi nasional yang memprihatinkan .&lt;br /&gt;Dari situ kemudian muncullah apa yang disebut dengan “ Paradigma Tujuan Pembangunan Milenium (MDGS) ” masyarakat sipil dan dunia usaha dengan meningkatkan mutu di tengah kesenjangan regional. Keabsahan atau legitimasi BI telah memiliki wewenang memimpin para pengusaha menyelenggarakan opsi pertumbuhan industri nasional. Tujuannya adalah, selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memupuk kepercayaan investasi asing agar menanamkan modalnya kedalam pentas industri nasional. Untuk saat ini, tantangan terberat pemerintah menghilangkan stigma-isu terorisme dan sentimen anti Amerika Serikat yang melekat sejak terjadinya peristiwa Bom Bali. Melihat kondisi demikian, BI tentu tidak akan mengambil langkah gegabah dalam menetapkan sasaran fiskal-moneter. Sebab, hal itu menyangkut hubungan diplomasi dan menjaga pertahanan dan keamanan negara.&lt;br /&gt;Kisah diplomat yang berkunjung ke negara-negara persemakmuran sampai Eropa, Asia bahkan Amerika Serikat membawa misi terpenting BI untuk mewujudkan penyempurnaan paket ekonomi-politik daya saing perbankan. Diantaranya adalah stabilitas sistem keuangan dan sasaran inflasi disamping merangkul kepercayaan investasi dengan meyakinkan kondisi tanah air setelah penangkapan pelaku bom Bali. Disini kita melihat bahwa kepercayaan (trust) secara sosial-perbankan akan menjadi dominan di masa mendatang.&lt;br /&gt;Menurut Fukuyama (2002), kepercayaan (trust) seakan menjadi akses-kontrol yang sangat penting dalam melakukan kerjasama sehingga mampu mencapai tujuan-tujuan bersama secara lebih efisien. Di pemerintahan Soeharto, kepercayaan para pengusaha dan investor ditengarai memperlihatkan keseimbangan pasar nasional dan internasional. Pengajuan kredit perbankan digunakan dengan tujuan-tujuan memaksimalkan keuntungan meski pengejaran industri pertumbuhan ekonomi-politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 15&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;masih dibelenggu lantaran keadilan pasar dikuasai keluarga cendana. Dibawah arahan menteri ekonomi kala itu, pengucuran dana segar sebagai salah satu penerapan kebijakan perkreditan-suku bunga BI yang diberikan umumnya jatuh ke bank milik keluarga Cendana. Sebab, ada “pameo” bahwa sejumlah keuntungan keuangan operasional BI yang dialihkan pada wewenang tugas serta jabatan sebagian kalangan aparatur pemerintah .&lt;br /&gt;Kebijakan negara dan parlemen mempengaruhi secara signifikan terhadap BI. Pada bulan-bulan terakhir tahun 1995-an, masalah itu semakin kentara ketika menteri ekonomi yang biasa disebut dengan Mister Clean atau Marie Muhammad melakukan reformasi perbankan. Persoalannya adalah pejabat pemerintahan terlalu jauh mengarahkan kebijakan BI dan perbankan agar memberikan kredit yang bekerjasama dengan perusahaan-perusahan swasta maupun nasional keluarga cendana. Bahkan, diakui atau tidak, masalah ini masih terjadi sampai saat ini.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, paradigma pembangunan yang ada seharusnya dapat lebih peduli kepada perbankan terutama BI. Diantara sekian pilihan yang tersedia, paradigma pembangunan itu memiliki dasar sejarah BI sehingga benar-benar mengetahui situasi dan kondisi didalamnya. Contoh paradigma pembangunan ber-kesadar-an sejarah yang telah diterapkan di Bangkok dengan pendekatan mikro ekonomi. Dengan modal yang sederhana, Bangkok melalui kebijakan fungsi ekonomi stabilitas fiskal-moneternya membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan bagi negara dan kesejahteraan masyarakat .&lt;br /&gt;Peran pemerintah dalam ekonomi pasar, menyediakan solidaritas ekonomi bagi pengusaha dan perbankan sehingga Bank Sentral mampu membidik ke arah manakah perekonomian akan tumbuh? Pada tataran ini, Bank Sentral diakui sebagai aktor pembangunan yang mengembangkan usaha produktif perekonomian. Wajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;kemudian jikalau Bangkok mampu bersaing di kawasan Asean karena stabilitas moneter yang mampu menggairahkan industri dengan memanfaatkan tekhnologi pertanian. Pada dasawarsa terakhir ini, Bangkok menjadi pasar nasional yang menguasai produk-produk unggul hasil pertanian.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, paradigma pembangunan tersebut memiliki kelemahan. Karena, sistem ini menggunakan paradigma pembangunan secara bertahap mirip model Rostow yang digunakan semasa pemerintahan Soeharto selama 32 tahun. Pengaruhnya kebijakan pemerintah terhadap kebijakan Bank Sentral tentu masih ada dalam bentuk UU. Bank Sentral No. 13 tahun 1968 yang membatasi kebijaksanaan Bank Sentral dan kebijakan moneter. Oleh karenanya, Bank Sentral menjadi mitra yang bersama-sama mengangkat bahu (baca: bekerjasama) demi memajukan bangsa.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi itu tentu diperlukan renungan kritis yang tidak hanya berdasarkan konsep pemikiran semata. Lebih-lebih paradigma pembangunan ber-kesadar-an sejarah yang - seharusnya memiliki semangat progresivitas dan meliputi unsur humanitas agar semakin perduli pada kondisi kesejahteraan masyarakat dan BI. Memahami humanitas dalam kaitannya dengan BI agaknya melibatkan pula nilai kearifan lokal penghargaan pemerintah terhadap suara kebijakan direksi tanpa beban-beban politis sebagaimana telah dijelaskan contoh di muka. Dengan tujuan agar kebijakannya tidak saling berbenturan dan mampu memberikan arahan di perubahan serba cepat masa yang akan datang . Dengan demikian, kedepan, mudah ditebak perjalanan paradigma pembangunan selalu melewati proses peristiwa revolusioner, demokrasi, otoriter dan stategi pemerintahan liberal-pasar. Tahapan-tahapan perubahan ini menandai cara bertindak BI yang rentan terhadap gejolak sosial-politik sebagaimana terjadi di tahun 1966, tahun 1998, tahun 2001 dan tahun 2005. Bila demikian, tahun 2025 adalah proses menuju penemuan transisi perbaikan paradigma pembangunan ditengah gaya kebijakan kepala negara masing-masing. Lebih-lebih, jika, misalnya, proses keberlangsungan otonomi BI telah diberikan secara sungguh-sungguh oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 17&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2 Mitos Otonomi dan Hambatan Struktural&lt;br /&gt;Setelah kita mempelajari paradigma pembangunan setidaknya kita akan memperoleh beberapa acuan mendasar yang melatar belakangi munculnya opini kontroversial mengenai otonomi Bank Indonesia (BI) . Dengan menunjuk pada ketentuan kontrol operasional dan kelembagaan dari pemerintah, otonomi BI lebih diartikan sebagai pelengkap saja. Barangkali, kekeliruan selama ini adalah menganggap makna demokrasi dan reformasi menyetujui kesempatan untuk menunjukkan suara atau bentuk ketertindasan dari dalam .&lt;br /&gt;Akibat lebih lanjut, munculnya penguatan wacana otonomi di bidang transparansi-informasi, penyelenggaraan birokrasi BI yang adil-sebebas-bebasnya serta kemandirian keorganisasian BI. Kasus-kasus Syahril Sahbirin, “pendiktean” kebijakan ekonomi-politik mulai di era Soekarno sampai sekarang kemudian dilanjutkan dengan tidak diterapkannya kesepakatan IMF secara konsekuen oleh pemerintah melatabelakanginya. Melihat kondisi ini, otonomi BI berkembang kepada kemandirian secara bebas-bebasnya namun masih dalam kerangka organisasi pemerintahan.&lt;br /&gt;Sejauh ini pemerintah melihat bahwa BI merupakan kesatuan dalam bekerjasama membantu perekonomian bangsa sehingga otonomi yang diberikannya masih berjalan pada tataran praktis. Terbukti selama perjalanan sejarah bahkan pergantian pemerintahan, kontak kebudayaan otonomi BI dengan pemerintah memperjelas ada ketidakseimbangan dalam berkomunikasi. Sebagai contoh, intervensi pasar valas setiap dilakukan oleh pemerintah melalui penetapan suku bunga menjadikan kelancaran transaksi investasi tak tentu arah. Tampaknya, ada kekhawatiran bagi pemerintah jika otonomi dibidang pengaturan kelancaran finansial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 18&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;diberikan secara bebas-bebasnya otoritas wibawa UU yang mengatur kedudukan BI dan pemerintah menunjukkan kegamangan. Secara politik, penguasaan itu dilakukan sebagai wujud meningkatkan tanggung jawab pemerintah di mata dunia internasional.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah hambatan struktural saat ini bukan dari amandemen hukum semata melainkan lebih merupakan upaya menjaga citra politik global-internasional di tengah isu terorisme sekarang ini. Apalagi dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, Indonesia sedikit terpukul karena peristiwa gejolak politik sehari-hari .&lt;br /&gt;Dengan mengikuti tahap perkembangan peristiwa fenomenal BI sehari-hari dan peristiwa politik sehari-hari maka jati diri kebangsaan belum terbangun seutuhnya. Pertalian sisa hukum feodal kolonial diterapkan dalam praktek BI yang kemudian melahirkan konsep negara dalam negara (Rahardjo, 2001). Dari kepemimpinan direksi BI hampir seluruhnya merupakan pengejawantahan pemerintahan sebagai pemegang kekuasaan. Tak heran jika BI menjadi pentas politik perebutan kekuasan mulai dari parpol – untuk mencari dukungan dana -, pejabat pemerintahan dan politisi. Bila demikian otonomi BI tak ubahnya impian utopia yang terserak-serak ibarat potongan puzzle berserakan.&lt;br /&gt;Apakah yang harus dilakukan agar benar-benar otonomi dapat diberikan sepenuhnya kepada BI tanpa mengorbankan kelembagaan dan wibawa pemerintah? Haruskah visi dan misi yang telah dirunut berdasarkan perspektif filosofis dan ideal hasil pemikiran para pakar selalu diubah mengikuti tuntutan perubahan dan perkembangan zaman? Persoalannya tentu bukan terletak dari pengubahan visi maupun misi. Akan tetapi, terletak dari kemauan untuk menerapkannya secara sungguh-sungguh karena visi dan misi saat ini setidaknya mampu menjawab kebutuhan BI di segala zaman .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 19&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, ada gunanya jika kompleksitas otonomi yang membatasi pada kancah politik praktis sehingga pemfokusan profesionalitas perbankan tercapai. Dengan etika seperti ini, otonomi BI disamakan dengan kehendak hasrat manajemen diri akan tanggung jawabnya yang telah memadai. Penyerahan secara fatalistis kepada pola tradisional sebagaimana kebudayaan bank-bank kecil yang berslogan melayani nasabah adalah raja tentu patut dihindari. Sebab, berdasarkan hasil diskusi Dr. Sri Mulyani dalam catatan diskusi strategi pembiayaan kebijakan pembangunan Pemerintahan SBY-Kalla, tantangan perekonomian saat ini bagaimana mengurangi kemiskinan dan pengangguran . Dalam kaitannya dengan otonomi BI, penangguhan yang disarankan dari pemerintah menjelaskan sumbang asih BI kepada pertanggung jawaban publik.&lt;br /&gt;Dengan cara berpikir seperti itu, kedepan otonomi BI berada di luar intervensi pemerintah karena kedekatannya kepada benak mayarakat. Di samping lebih menjamin kepercayaan-tatanan kode etik Dewan Gubernur secara lebih baik. Sebaliknya, perencanaan DPR harus bersikap obyektif yang dapat dijadikan pembenaran Bank Sentral sebagai pelaksana kebijakan pemerintah. Dalam kesempatan inilah pengajuan usul draft kerangka kerja Garis-garis Besar haluan Negara (GBHN) mengingat pengesahan amandemen ditindaklanjuti konsekuensi Presiden dan Dewan moneter bersama tim kerja kabinet pemerintahan menapaki langkah selanjutnya.&lt;br /&gt;Peranan pemerintah yang mengambil alih tugas dari dalam BI secara tidak langsung tentu diperlihatkan sebagai “kontak kebudayaan tim kerja” yang jika ditilik lebih lanjut melanggar kesepakatan hukum perdata-pidana. Dengan demikian, pertimbangan BPK, MA atau Jaksa Agung yang terkait erat dengan penanganan kasus BI menyalahi aturan-aturan main dalam memperoleh informasi didalamnya. Ketika dualisme kepemimpinan menyeruak di permukaan pemerintah berupaya menekan Gubernur BI agar meloloskan dan mematuhi kebijakan dengan benar melalui kriteria uji kelayakan pada tahun 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.20&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Melalui tafsiran politik, toleransi budaya yang menghadapi resiko otonomi birokrasi BI menyimpulkan kesalahan logis pembagian kekuasaan yang kurang seimbang. Pengalaman-pengalaman BI di Orde Baru menunjukkan bahwa pemusatan kekuasaan mendapatkan “kue kekuasaan” agar dapat dibagi dan dikuasai bersama. Wajar jika kemudian otonomi BI bagai hempasan samudera yang tak terbendung. Dalam bahasa puitisnya, jika makna keberadaan BI tak dipedulikan lagi, suara-suara keadilan akan terus menghentak di balik simbol-simbol penegakan otonomi birokrasi. Sebab, setiap anggota masyarakat perbankan dan BI memiliki peranan dan kesungguhan dalam melakukan tugas “penawaran” pemikiran. Dengan begitu, kedekatan demokrasi BI dalam mengambil keputusan dan menyikapi arah organisasinya dalam ruang-akses lebih terbuka bagai keharmonisan yang terjalin di lingkungan keluarga.&lt;br /&gt;Dalam pemikiran tersebut, kadang kala dibedakan mengatasi konflik keberagaman pendapat diselesaikan tanpa tekanan melalui wacana kontrol pers. Pendekatan yang dapat dimaklumi adalah proses belajar saling menghargai dalam perjalanan demokrasi BI. Jika seolah-olah kita berdiri diatas mata hati direksi BI, jutaan mata masyarakat terpancarkan dan mengharapkan agar keduanya melaksanakan wewenang masing-masing tanpa distorsi.&lt;br /&gt;Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari sebuah studi Gertz di Bali, tipikal kerajaan-kerajaan merupakan tumpukan piramida dengan otonomi sebagai bahasa penarik perhatian agar semakin mengefektifkan roda kekuasaan. Di masa lalu BI, kontrol penguasa terlihat dominan melalui pembentukan tim ekonomi dan memasukkan salah satu anggota direksi ke kabinet pemerintahan. Ketidakberdayaan BI dalam melakukan koordinasi dan komunikasi internal tak terhindarkan. Pada gilirannya, sekat-sekat pembatas instrumen politik BI semakin lemah dalam berkoordinasi kepada pemerintah. Kedekataan intuitif-emosional dalam pengertian romantik, menjadi netralitas segalanya untuk mendapatkan poin identitas memajukan kepentingan bersama. Sebab, apalah kemauan dibalik memberikan otonomi jika pelaksanaannya setengah hati? Oleh karena itulah, otonomi bukan permainan bahasa politik yang didengungkan untuk meredam desir gejolak berpadunya monopolitis pemerintah di birokrasi tubuh BI selama ini.&lt;br /&gt;Nah, sekilas kita akan mendapat pelajaran berharga yang dapat dipetik bahwa polemik otonomi BI-pemerintah agar segera diselesaikan dan tidak sebatas diskusi para pakar. Catatan Kompas (23/11/06) menujukkan koordinasi yang terjalin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 21&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cenderung harmonis apabila agenda perekonomian dibahas mendekati setiap akhir tahun . Dengan mencermati ini sepertinya terjadi semacam involusi lompatan kebudayaan-hubungan kemitraan seperti melemparkan uang dan mata dadu yang tidak dapat ditebak begitu saja. Atas kenyataan inilah bagaimana memikirkan ulang – meminjam istilah Alvin dan Toefler (2002) - politik gelombang ketiga pada dua dasawarsa mendatang.&lt;br /&gt;Sampai saat ini, terlintas dalam gambaran kita masing-masing sebagaimana dipaparkan para sejarahwan-futurolog peristiwa dogmatis global yang berkaitan erat dengan persaingan antar peradaban. Misalnya, meskipun Amerika secara politik bersekutu dengan Eropa. Namun, keduanya ternyata bersaing dalam kebijakan moneter mata uang sehingga sedikit membuat “gerah” bagi pemerintahan Amerika Serikat. Persoalannya kemudian adalah bagaimanakah BI mampu menghadapi dugaan-dugaan serta kemungkinan terbentuknya tatanan dunia baru dalam dua dasawarsa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.3 Menyongsong Tahun 2025&lt;br /&gt;Perdagangan bebas abad 21 sempat membuat panik sejumlah negara yang memiliki kelemahan di bidang perekonomian, perindustrian terutama kebijakan moneter. Di bawah tema agresi ekonomi, masing-masing negara kemudian merapatkan barisan secara politik untuk membendung pengaruh moneter negara-negara modern seperti Amerika, Eropa, Jepang, China dan Perancis yang menjadi seakan membuktikan bahwa negara kesejahteraan masa depan juga dapat mendramatisir persaingan industri-ekonomi. Memang kemajuan perekonomian China sempat terlihat kuat menyaingi dan kurang berpengaruh berkenaan posisi global moneter negara-negara besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 22&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Dalam dunia pasca-hegemonik, ada peningkatan luar biasa korporasi modern mempersatukan informasi-tekhnologi yang membukakan jalan pembagian dua dogma perbankan . Pembagian dunia menjadi Barat dan kekuatan kultural memahami kunci dimana posisi Bank yang merefleksi persaingan kepentingan ekonomi-politik di kancah global . Peradaban kekuatan kultural ini dimiliki oleh negara-negara islam, Arab, Asia, Afrika ditambah negara-negara Amerika Latin. Keprihatinan sejarah matrealisme dan merkantiliasme abad 19 sampai dengan memasuki pasar bebas di abad 21 menemukan penjelasan normatif mengenai cara berpikir niaga yang lebih menekankan keuntungan dan nilai praktis-pragmatis karena masih dibawa pengaruh pelayaran para gujarat, revolusi industri revolusi informasi-komunikasi dan revolusi tekhnologi. Bagi negara kita yang masih dalam transisi perbaikan paradigma pembangunan (lihat: Bab II.1 “BI dan Paradigma Pembangunan diatas”), wajar jika kepuasan gaya serta kebijakan Bank Sentral secara naluriah awalnya berdasarkan pada acuan ini. Sepanjang tahun 1953 –sejak didirikannya - sampai dengan 1990-an, BI secara formal merevolusi diri meliputi manejemen, kedudukan sebagai agen pembangunan, penataan moneter, pelayanan jasa-kredit, birokrasi dan otonomi sebagai isu mutakhir. Berbeda dengan Bank di Jerman atau Amerika-Eropa yang telah lama memiliki landasan kokoh mengenai pengembangan perbankan, pembiayaan dan penanaman investasi Indonesia lebih beradaptasi ke gaya barat terutama sejak Soeharto mengubah doktrin sistem ekonomi komando milik Soekarno di tahun 1967-an.&lt;br /&gt;Dari situ kemudian dogma Bank Senral Indonesia tanpa disadari membentuk secara tidak langsung pada acuan moneter dan politik global Barat. Penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 23&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;ditekankan disini bahwa keseimbangan moneter memperluas wilayah pasar kedelapan - tepatnya di New York - yang dimaknai pusat ekonomi bursa saham dunia. Sebaliknya, proses dogmatik BI meningkatkan produktifitas kepercayaan investasi yang datang dari industri dalam negeri . Di eropa Barat, Bank Sentral lebih mandiri oleh karena sistem federal diterapkan dan memegang monopoli ekonomi pasar. Gejala yang ada di BI sekarang ini, otonomi BI dikhawatirkan berkembang menjadi Bank Federal di masa mendatang. Ungkapan klise alasan-alasan tekhnis pasang surut investasi fiskal-moneter BI nanti bukan tanggung jawab pemerintah lagi sehingga nilai komersial akan merugikan negara dan kesejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;Seperti menapaki jejak-jejak peradaban, susunan kawasan sekunder dunia pada tahun 1970-an dan tahun 1980-an mengalami persoalan genting sejumlah negara-negara kesejahteraan. Datanglah neoliberal sebagai sistem ekonomi baru yang mencari solusi dicanangkan yang, hampir pada saat bersamaan, Uni Soviet dengan sistem ekonomi sosialis-nya mengalami keruntuhan dan ketika negara-negara dunia ketiga menggelar konfrensi Gerakan Non Blok. Hampir Bank-Bank Sentral di sejumlah negara - termasuk Indonesia - mengalami proses pencerahan dari segi pendekatan karena kegagalan ramalan teori nilai lebih Marx. Soeharto kemudian melalui kebijakan pembangunan berupaya membangkitkan lesunya perekonomian dan stabilitas moneter dengan mendatangkan investasi luar negeri melalui paket oktober 1988. Lebih-lebih didukung harga minyak yang melambung tinggi di pasar dunia sedikit menggairahkan sektor industri.&lt;br /&gt;Kritik teoritik mengenai hukum pasar dan konsumerisme dengan sisi pleasing product yang menciptakan kesan bahwa pasar baru terbentuk melalui kekuatan penawaran nilai sumber daya alam dimiliki oleh negara . Usaha pengendalian stabilitas moneter dan perluasan kredit di sejumlah banyak negeri kemudian menetapkan bahwa perekonomian bangsa berdasarkan pengelolaan industri sumber daya alam. Negara-negara seperti Brunei Darussalam, Irak, Indonesia dan lain-lain memiliki sumberdaya alam yang berlebih sehingga merespon Bank Sentral-nya menjadikan investasi industri di bidang minyak adalah prioritas utama.&lt;br /&gt;Pertarungan ideologis peradaban Asia dan peradaban Barat kala itu, westernisasi dibalik semangat proses menggalakkan modernisasi yang berbenturan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.24&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;rasa kemanusiaan universal sehingga doktrin pemasaran lebih indivdiualistik tanpa dibebani masalah mempertahankan keutuhan bangsa dalam pengertian bukan sebenarnya. Sub-peradaban Bank Sentral yang tumbuh, secara universal-global, memperlihatkan fenomena incorporation yang mengindikasikan hubungan lembaga mengikuti perkembangan komunitas ekonomi-politik. Zona geopolitik pertama daerah yang membujur mulai dari Indonesia, Saudia Arabi, Asia utara, Rusia, Korea sampai negara-negara Amerika Selatan seperti Brazil dan seterusnya memasang sejarah pembangunan sirkulasi dengan pemerataan-keadilan distribusi pendapatan bangsa. Kebijaksanaan uang ketat tidak begitu terdengar gaungnya sehingga dalam menunaikan tugasnya tiap tahun Bank-Bank Sentral yang di zona geopolitik pertama ini.&lt;br /&gt;Dalam manajemen ekonomi-politik skenario global 2010 sampai dengan 2025 Gleen dan Theodore J. Gleen (2003) masalah ilmu dan tekhnologi dikaji lebih mendalam oleh pemikir yang dapat dipastikan di masa depan isu perang militer dan perlombaan senjata nuklir semakin meningkat. Wilayah publik kemudian diatur oleh sejumlah negara melalui kekuatan diplomasinya dan ekonominya. Amerika Serikat (AS) dan Eropa kemudian masih mencari dukungan atas penyerangan ke sejumlah negara sebagai tempat persembunyian Al Qaidah dan kegiatan terorisme yang terus-menerus dilakukan. Pidato ketatanegaran G.W Bush “If you not with us. You Against Us.” yang fenomena-kontroversial sejak kejadian Black September 2005 terus didengungkan antar generasi pemerintahan. Bagi negara kita, stabilitas moneter takkan berpengaruh meski pemerintah melakukan kontrol devisa ketat melalui kebijaksanaan BI dan utang IMF dibayarkan sepenuhnya pada tahun 2005. Biaya sosial yang dikeluarkan oleh pemerintah dan BI adalah melindungi pengaruh kebijakan sisi investasi ekonomi-politik AS, Bank Dunia dan IMF. Sebab, jika dilihat dari isu terhangat jumlah peningkatan kesejahteraan masyarakat dan lapangan pekerjaan masih terkatung-katung sementara kompleksitas beban negara dari tahun ke tahun terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 25&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dillema dunia saat ini memang penuh persaingan menciptakan dogma perbankan. Disaat kebangkitan Asia - sejak terpilihnya perdana menteri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Bakimon - melalui etika solidaritas yang dibangun diatas senasib dan sekawasan dapat diketahui pola standar bank kemudian mempengaruhi tataran kultural moneter bank Sentral. Meskipun disini kita memahami bahwa persaingan internal politik pemilihan kebijakan diplomasi PBB dan hak veto AS. Namun, kehadiran Bakimon setidaknya memberkati setitik harapan bagi warga masyarakat Asia yang terpuruk secara ekonomi.&lt;br /&gt;Sejak Asia mengalami keterpurukan ekonomi moneter selama bertahun-tahun dimulai pada tahun 1997, tanpa disadari emansipasi fiskal mulai tumbuh. Masyarakat Indonesia dan Malaysia menyumbangkan sejumlah emas dan dollar kepada Bank Sentral agar dapat menambah cadangan devisa . Konon, bagi generasi baru selama kepemimpinan Bakimon kedepan nanti trauma moneter ini dikaitkan pula dengan trauma kolonial masa lalu mengingat proses peristiwa dialektika sejarah mengendap lama dalam benak masyarakat. Pada saat WTO dan Bank Dunia terjadilah gejolak sosial di korea menentang di tahun 1990-an dan tahun 2000-an karena perekonomian negara di pasar bebas akan semakin tidak menentu akibat ketergantungan terhadap produksi barat. Lintas kultural yang terjadi kemudian masalah itu tersiar lewat publikasi media massa dan internet mengakibatkan sejumlah publik tersadar termasuk di Indonesia, Malaysia, China dan sebagainya. Inilah yang disebut dengan masyarakat dunia keempat dengan ketertindasan secara moneter-ekonomik dan ketidakjelasan kompleksitas statusnya akibat pengaruh globalisasi dan pasar bebas.&lt;br /&gt;Sementara itu, daerah (zona) barat yang tercakup Eropa mulai memisahkan diri secara perlahan dari pengaruh moneter AS. Persekutuan yang tidak nampak dan ditunjukkan secara terang-terangan adalah kebijakan mata uang Euro. Dibandingkan dengan China yang melakukan kontrol ketat pertukaran dollar terhadap Yuan, Eropa melalui program Euro-nya lebih lunak dari penerapan dan dampak logisnya mendatang. Jadi, dilemmanya adalah “kekuatan veto” moneter AS tidak konsisten dengan konsolidasi ekonomi-moneter Eropa. Dengan demikian, dalam dua dasawarsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 26&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;mendatang bentuk-bentuk kebangkitan moneter tampaknya masih dilakukan dengan persekutuan moneter.&lt;br /&gt;Sekarang ini, para pemimpin negara dapat menentukan “selera moneter” Bank Sentral terutama di sejumlah kawasan yang belum menunjukkan perbaikan paradigma pembagunan . Otonomi Bank sentral di daerah zona geopolitik pertama termasuk Indonesia didalamnya bercirikan kontrol birokrasi perbankan, eksploitasi terhadap kebijakan direksi dan mempertahankan prinsip kemitraan. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, proses otonomi Bank Sentral akan diberikan sepenuhnya mengikuti trend pengaruh globalisasi dan kerjasama multilateral searah garis kultural.&lt;br /&gt;Pandangan klasik menekankan bahwa kedudukan strategis Indonesia dalam jalur perdagangan Asia-Australia sehingga menguntungkan dari segi diplomasi ekonomi. Seperti hubungan Jepang dan Indonesia atau Japan-Indonesia Economic Partnership Agreement (JI-EPA) yang dilakukan pemerintah akhir-akhir ini . Dalam dunia digital sekarang ini, Indonesia masih belum siap melakukan kerjasama ekonomi sendiri karena minimnya fasilitas penanaman modal sekaligus peran moneter nasional belum memainkan peranan penting. Munculnya intervensi internasional dari AS, Bank Dunia serta Forum Ekonomi Dunia corak kebudayaan moneter selama perjalanan abad 21 nanti yang terbentuk kemudian ketidakmampuan memiliki daya jual kecuali berperan sebagai agen lintasan jalur perdagangan-penanaman kebutuhan investasi antar negara luar. Inilah persoalan yang belum terpecahkan dan tidak disimak baik-baik oleh pemerintah maupun BI itu sendiri dalam rangka kunjungan-kesepakatan ke negara-negara.&lt;br /&gt;Gambaran tentang dunia moneter masa depan tampaknya masih berkutat penyelesaian utang luar negeri yang besar. Kondisi ini, antara lain dapat dipetakan dalam bentuk pendirian proyek infrastruktur negara-negara yang terus menggalakkan industri. Dalam pandangan Chaniago (2001), properti dan pola konsumsi masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 27&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;negara berkembang menciptakan ketergantungan alokasi dana. Tanpa disadari, dibalik pengkonsumsian dana dari luar negeri ini tampaknya mengimbas pada krisis moneter secara regional yang besar kemungkinan terjadi di wilayah Asia, Afrika dan Amerika Latin. Disinilah kemudian terjadi sifat dualitas restrukturasi pemulihan moneter yang muncul diluar dugaan argumentasi pakar selama ini. Yaitu menyatukan pandangan dan bekerjasama untuk menciptakan persekutuan moneter sambil tetap menjalankan program kucuran dana dari negara-negara donor. Selain dikarenakan pengalaman krisis ekonomi Asia 1997, pengaruh kejayaan masa lalu mendirikan organisasi politik Gerakan Non Blok (GNB) dan dorongan kesadaran alamiah yang dipahami sebagai penyatuan pandangan ekonomi-moneter merupakan pelopor terhadap membangkitkan penerapan dari wacana postkolonial dan melawan peradaban barat .&lt;br /&gt;Sebagai hasil refleksi atas jatuhnya global stocks secara halus sebesar 10% dua hari dalam seminggu mengingatkan para investor pasar finansial kejadian di India (Time/05/June/2006). Dalam konteks ini, India sebagai negara berkembang – seperti halnya Vietnam dan Indonesia - ,memperlihatkan retail kredit invetor ditanamkan yang cenderung “menggigit balik” ketakutan dibawah risiko terhadap pangsa pasar global. Dikatakan secara sosial-politik, meskipun investasi-moneter negara-negara berkembang meski dipengaruhi oleh global stocks. Namun memiliki sisa jerih payah menjalankan strategi pertumbuhan ekonomi ditengah dogma global barat yang masih berkembang saat ini.&lt;br /&gt;Adakah argumentasi yang sempurna selain kapitalisme berwajah kemanusiaan, perubahan sosialisme berkaca pada realita pasar bebas, ekonomi kontemporer, jalan ketiga milik Giddens dan paradigma baru yang akan dipakai dalam persekutuan moneter nanti? Sejumlah kasus AS setelah perang dunia kedua berakhir pada tahun 1980-an dan stabilitas mata uang moneter Eropa tahun 1960-an corak multilateral paradigma moneter bisa dikatakan mengukur pembaruan kebijakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 28&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;persekutuan moneter baru nanti. Persoalan-persoalan penafsiran yang muncul abad 21 dan toleransi pemikiran klasik filosof-filosof Athena dipandang dari kesungguhan daya tarik menjawab penyelesaian realistis sekaligus menjangkau ke masa depan.&lt;br /&gt;Kerjasama yang erat diantara negara-negara persekutuan moneter yang tidak dapat dipisahkan oleh forum-forum internasional seperti Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT), pertemuan Asean dan sebagainya. Sebagaimana halnya di tahun 1980-an sampai tahun 1990-an, politik ekonomi jalan tengah dipakai negara-negara Asia - seperti Indonesia, Malaysia, Filiphina dan lain-lain - sebagai wujud perbandingan doktrin-doktrin pembangunan ekonomi yang dipakai. Motto yang mungkin ditawarkan di era 2025 adalah perluasan akses ruang publik ekonomi-moneter suatu negara dicapai aktif secara bersama-sama. Penjabaran lebih lanjut tidak begitu saja memperoleh maknanya seperti pada dasawarsa akhir abad 18 yang mulai mengenal tehnik sosial-kultural modern dan pengaturan kolonial yang dibuat oleh bangsa Eropa.&lt;br /&gt;Sebagai negara berkembang dan disatukan oleh kesadaran sosial-budaya, persekutuan moneter baik secara organisasi maupun non organisasi nanti setidaknya lebih mandiri dan mendayagunakan hak-hak konstitusionalnya di kancah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Disinilah letak dilemmanya, seperti tatkala presiden Bolivia, kepala negara Amerika Latin dan diplomat Irak mengecam tindakan moneter dan pembelengguan perekonomian yang dilakukan oleh AS dan sekutunya. Sejatinya, setiap negara manapun juga mendambakan kemakmuran ekonomi masyarakatnya yang bukan dari sektor mendayagunakan stabilitas moneter saja. Tetapi, pemberian jaminan hak setiap negara agar mampu menyuarakan suara terdalam dibalik kebungkamannya akibat dominasi kebijakan ketat yang telah dilakukan negara-negara modern. Oleh karena itulah hak kebebasan dalam menjalankan aktivitas perdagangan dan mengontrol kebijakan dengan leluasa moneter masing-masing negara tanpa campur tangan pihak luar setidaknya akan semakin nyaring terdengar pada tahun 2025 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.29&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mau menerima kenyataan sekarang ini persoalan otonomi BI terkait erat dengan perubahan gaya politik maupun sikap politik kepala negara, perubahan orde-pemerintahan, peristiwa kemelut politik dan paradigma pembangunan yang dipakai. Kesemuanya ini tidak begitu saja mudah menyelesaikan sebuah kasus-kasus fiskal dan moneter di masa depan terutama menyongsong 2025 melalui kemitraan BI dan pemerintah sebagaimana terbangun selama ini. Sebab, pada tahun 2025 letak BI di kancah perniagaan global berperan penting agar tidak selalu dimaknai sebagai media lalu lintas transaksi investasi semata. Praktisnya, refleksi gambaran masa depan menyodorkan sejumlah garis besar persoalan politik-kebangsaan yang selalu dibebankan kepada BI.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi hal itu pemerintah dimulai dari sekarang penting kiranya menunjukkan kepedulian agar memberikan ruang bagi BI menyuarakan aspirasi yang terbungkam selama ini. Sebab, catatan sejarah telah menunjukkan bahwa BI menjadi alat antropologis korban politik pemerintah. Karena itulah, kontrol pers di kemudian hari patut mengarahkan kebijakan pemerintah yang berdampak terhadap keputusan direksi BI. Oleh karenanya, selain menjaga kemitraan dengan pemerintah, BI perlu menjalin hubungan secara intens dengan insan pers. Dengan cara ini BI mampu menjaga citra stabilitas investasi di internasional dan masyarakat luas.&lt;br /&gt;Sementara itu, visi dan misi BI yang terbangun selama ini tampaknya tidak patut mengalami direvisi. Sebab, visi dan misi BI sampai saat ini masih relevan menjawab perubahan zaman dua dasawarsa mendatang. Jika ada revisi itupun mengalami sedikit kesusuaian pada pergolakan sejarah yang kemungkinan melahirkan peristiwa-peristiwa fenomenal global dan pada gilirannya mempengaruhi cara pandang pemerintah maupun BI dalam melakukan diplomasi ekonomi-politik. Dengan demikian, pada tahun 2025 peristiwa-peristiwa global maupun nasional yang mempengaruhi stabilitas fiskal-moneter segera ditanggapi melalui kepekaan dari BI dan pemerintah.&lt;br /&gt;Persoalan tersebut bukan ditujukan pada kepentingan praktis semata agar mampu diterapkan pada kebijakan realistis BI bersama pemerintah di tahun 2025 nanti. Lebih daripada itu, lebih tepat untuk dikatakan bahwa, sampai saat ini, perlu peta jalan yang logis dan realistis baik dari pemerintah dan BI agar kebijakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 30&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mampu menembus batas-batas wilayah suatu negara sekawasan dan global. Meskipun tidak menampik bahwa persoalan ini ditahun 2025 nanti tampaknya masih dilakukan melalui persekutuan perdagangan, persekutuan moneter dan kerjasama multilateral dengan beberapa negara yang memiliki kesamaan nilai kultural.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, persaingan bebas yang ditandai cepatnya perubahan informasi dan tekhnologi memerlukan upaya kokoh dari pemerintah dan BI keterpaduan mensinergikan kebutuhan moneter negara melalui seni diplomasi ke negara-negara tetangga dan internasional. Dengan begitu, persoalan kemelut yang terjadi dalam setiap periode pemerintah dapat dijembatani secara bijaksana adil dan bijaksana. Pada gilirannya, keharmonian yang tampak merupakan menepis kegundahan sejumlah pihak bahwa pemerintah benar-benar melaksanakan perannya sebagaimana mestinya. Oleh karena itulah, dalam menghadapi tantangan 2025, kekhawatiran pemerintah yang tidak logis terhadap pemberian otonomi sepenuhnya sebaiknya patut dihindari. Lebih-lebih jika tuntutan pasar tahun 2025 nanti membutuhkan bantuan BI agar melakukan kerjasama secara mandiri demi kemajuan regional dan global-antar negara. Persoalan ini akan terpulang kembali pada renungan kritis dari pemerintah. Sebab, apalah artinya hasil pemikiran yang disampaikan oleh masyarakat dan kalangan pakar-analisis jika di kemudian hari menjadi usang karena tidak diikuti good implementation dari pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 31&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Attali, Jacquess. 1997. Milenium Ketiga: Yang Menang, Yang Kalah Dalam Tata Dunia Mendatang. Pustaka pelajar, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Bator, Francis. 2000. The Anatomy of Market Failure. University of California Press. Berkeley and Los Angeles, California.&lt;br /&gt;Bator, Francis. 2000. The Simple Analythics of Welfare Maximination. University of California Press. Berkeley and Los Angeles, California.&lt;br /&gt;Chaniago, Andrinof A. 2001. Gagalnya Pembangunan. LP3S, Jakarta.&lt;br /&gt;Cindy Adams. 1965.Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Gunung Agung, Djakarta.&lt;br /&gt;Firdausy, Carunia Mulya. 1998. International Migration In Southeast Asia: trens, Consequences, Isues adn Policy Measures. The Southeast Asian Studies Regional Exchange Program- The toyota Foundation and The Southeast Asian Studies Program – Indonesia Institute of Sciences. Jakarta.&lt;br /&gt;Francis, Fukuyama. 2002. Great Disruption. Qalam, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Gandhy, Lela. 2001. Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. Qalam, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Gertz, Clifford. 2000. Politik Kebudayaan. Kanisius: Yogyakarta.&lt;br /&gt;Gertz, Clifford. 2000. Negara Teater: Kerajaan-kerajaan di Bali Abad Kesembilan Belas. Bentang, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Gordon, J. Theodore dan Jerome Gleen. 2004. Future S&amp;amp;T Management Policy Issues- 2025 Global Scenarios. American Council For the United Nations University, USA.&lt;br /&gt;Hutington, Samuel. 2002. Benturan Antar Peradaban. Qalam, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Ignas Kledden. 2001 Indonesia Sebagai Utopia. Penerbit Buku Kompas, Jakarta.&lt;br /&gt;Korten, David C. 2002. The post Corporate World: Kehidupan Setelah Kapitalisme. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.&lt;br /&gt;Piter, Abdullah dan Tim Ekonom Pembangunan BI. 2005. Strategi Pembiayaan Kebijakan Pembangunan Pemerintahan SBY-Kalla. Roundtable Discussion PPSK-BI edisi pertama dan kedua. Penerbit BI, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.32&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Rahardjo, Dawam. 1999. Bank Indonesia Dalam Kilasan Sejarah Bangsa. LP3S, Jakarta.&lt;br /&gt;Rahardjo, Dawam. 2001. Independensi BI Dalam Kemelut Politik. Cidesindo, Jakarta.&lt;br /&gt;Spivak, Gayatri. 2001. Colonial Discourse and Post-Colonial Theory. Qalam, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Soedjatmoko. 1984. Etika Pembebasan. LP3S, Jakarta.&lt;br /&gt;Toefler, Heidi dan Alvin. 2002.Menciptakan Peradaban Baru: Politik Gelombang. Ikon Teralitera, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Winters, Jefrey. 1999. Dosa-Dosa Politik Orde Baru. Djambatan, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Massa dan Internet Bulettin&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia. 1996. Dipasok Oleh Biro Tokyo. Tahun 1996/ tanggal 12 bulan Agustus: Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas, 2004. Ekonomi China Mulai Mengalami Fenomena 1990-an. Tahun 2004/ tanggal 27 bulan February: Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas, 2003. Masih Selektif Kucuran Kredit Perbankan. Tahun 2003/ tanggal 06 bulan Maret: Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas, 2006. Jangan Peras Pengusaha. Tahun 2006/ tanggal 12 bulan November: Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas, 2006. RUU KMIP: Hambat Kebebasan Informasi Suburkan Korupsi. Tahun 2006/ tanggal 18 bulan November: Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas, 2006. Penilaian Prospek Usaha Sebaiknya diperlonggar. Tahun 2006/ tanggal 18 bulan November : Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas, 2006. BI: Perekonomian Tahun 2007 Bertambah Baik Dengan 8 Syarat. Tahun 2006/ tanggal 23 bulan November: Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas. 2006. Moneter: Prospek Pasar Obligasi Tahun 2007. Tahun 2006/ tanggal 25 bulan November: Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas, 2006. JI-EPA: Mengasah Keunggulan Bersaing. Tahun 2006/ tanggal 27 bulan November: Jakarta.&lt;br /&gt;Time, 2006. 4 Things To Watch Out for as Markets Bite Back. Tahun 2006/ tanggal 05 bulan Juni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 33&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Website&lt;br /&gt;http: //www.bi.go.id. “Peran kebijakan Moneter Mengendalikan Inflasi”. Diakses tanggal 10 November 2006&lt;br /&gt;http: //www.bi.go.id. “ Master Plan Pasar Modal Indonesia”. Diakses tanggal 10 November 2006.&lt;br /&gt;http: //www.bi.go.id. “Ringkasan Eksekutif”. Diakses pada tanggal 10 november 2006.&lt;br /&gt;http: //www.bi.go.id. “Master Plan Indonesia”. Diakses pada tanggal 10 November 2006.&lt;br /&gt;http: //www.tempointeraktif.com. “Pertemuan Pers Deputi Gubernur BI. Diakses pada tanggal 12 November 2006.&lt;br /&gt;http: //www.tempointeraktif.com. “Depdagri: tak bertentangan, suku bunga Aceh beda dengan BI”. Diakses pada tanggal 14 November 2006&lt;br /&gt;http: //www.tempointeraktif.com. “Cyber Museum BI: Sejarah Pra BI”. Diakses pada tanggal 10 November 2006.&lt;br /&gt;http: //www.indomarxist.com. Artikel: Di atas Mata Pisau Perspektif bagi Ekonomi Dunia oleh Ted Grant dan Alan. Diakses pada tanggal 14 Oktober 1999.&lt;br /&gt;http: //www.tempointeraktif.com. “ Suku Bunga Aceh Beda Dengan BI”. Diakses pada tanggal 14 November 2006.&lt;br /&gt;http: //www.indomedia.com. “ Gus Dur Setuju Prijadi Digugat BI.. Diakses pada tanggal 14 November 2006&lt;br /&gt;http: //www.ekonomirakyat.org. “ Pertemuan Inasia Group: Liputan Kegiatan (Bangkok 4, 5 dan 9 Maret 2002). Diakses pada tanggal 14 November 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber-sumber atau wacana-wacana rujukan untuk pendalaman:&lt;br /&gt;Barton,Greg. Biografi: 2003. Gus Dur. LKIS, Yogyakarta&lt;br /&gt;Giddens, Anthony. 2000. The Third Way: Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial. Gramedia Pustaka Utama, 2000.&lt;br /&gt;Kledden, Ignass. Indonesia Sebagai Utopia. Penerbit Buku Kompas : Jakarta, Agustus 2001.&lt;br /&gt;Soekarno. 1965. Dibawah Bendera Revolusi. Panitiya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, Jakarta.&lt;br /&gt;Soetrisno, Eddy. 2003 Teori Ekonomi: Referensi Pemikiran-Pemikiran Mengguncang Dunia mulai mazhab Klasik sampai ekonomi kontemporer. Marshal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 34&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Green dan Inti media dan Ladang Pustaka: Jakarta Swastha, Basu dan Irawan. Manajemen Pemasaran Modern. LP3S Yogyakarta, 1998&lt;br /&gt;Tim, 2000. Historiografi Indonesia: Sebuah Pengantar: Alih bahasa dari buku yang berjudul An Introduction To Indonesia Historygraphy (1965, Cornell University). Gramedia: Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multimedia&lt;br /&gt;Microsoft Ecarta 2005. Karl Marx: Das Capital&lt;br /&gt;Microsoft Encarta 2005. Philosophical Manuscripts.&lt;br /&gt;Micorsoft Encarta. 2006 Market.&lt;br /&gt;Microsot Encarta. 2006. Bank.&lt;br /&gt;Microsoft Encarta. 2006. Commerce.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.35&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR RIWAYAT HIDUP (sengaja dirahasikan oleh penulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : BETA CHANDRA WISDATA&lt;br /&gt;Tempat/Tgl. Lahir : XXXXXX/XXXXX&lt;br /&gt;Alamat rumah : XXXXXXXX&lt;br /&gt;Alamat E-mail : XXXXXX&lt;br /&gt;No. Telp. : XXXXXXX&lt;br /&gt;Lain-lain : Penulis adalah penulis lepas di media massa baik lokal&lt;br /&gt;maupun nasional yang memfokuskan diri pada kajian politik&lt;br /&gt;Di samping itu, aktif menulis puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 35&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;PERNYATAAN (Sengaja dirahasiakan oleh penulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bertanda tangan disini.&lt;br /&gt;Nama : Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;Tempat/tanggal lahir : XXXXXXXX/XXX&lt;br /&gt;Penulis lepas di sejumlah media massa Pemerhati masalah politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah ini adalah karya asli. Bukan karya plagiat atau bajakan dan belum pernah dimuat di media atau jurnal apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Materai &lt;br /&gt;ttd : Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--00--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-6784773553676139249?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/6784773553676139249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/6784773553676139249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/karya-tulis-ilmiah-politik-skenario.html' title='(karya tulis ilmiah politik) Skenario Global Bank Indonesia Bersama Pemerintah di Tahun 2025'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwjMu10Ru_I/AAAAAAAAA4I/aVvE9Lsux14/s72-c/world_economy1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-2894814188259327233</id><published>2008-08-24T22:42:00.001-07:00</published><updated>2009-11-28T04:45:16.692-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya tulis ilmiah politik'/><title type='text'>(karya tulis ilmiah politik) Pembacaan Nilai Asli Sebagai Modal Sosial Kecintaan Masyarakat Konsumen terhadap Produk Dalam Negeri</title><content type='html'>PEMBACAAN NILAI ASLI SUATU PRODUK&lt;br /&gt;SEBAGAI MODAL SOSIAL KECINTAAN MASYARAKAT KONSUMEN TERHADAP PRODUK LOKAL ATAU DALAM NEGERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwjRoFBFtbI/AAAAAAAAA4o/tJ7uBGOz3F8/s1600/7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwjRoFBFtbI/AAAAAAAAA4o/tJ7uBGOz3F8/s200/7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406801839129998770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;    picture source: http://3.bp.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini berhasil mendapat penghargaan lomba karya tulis se-nasional yang diselenggarakan oleh departemen perindustrian dan menteri perindustrian (fahmi Idris)&lt;br /&gt;Selanjutnya dapat dilihat di&lt;br /&gt;http://iatt.dprind.go.id/nominator.html http://iaatt.dprin.go.id/sinopsis.html&lt;br /&gt;atau &lt;a href="http://www.dprin.go.id/"&gt;www.dprin.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*karya tulis ini dipublikasikan dengan tidak ada footnote untuk selengkapnya hubungi penulis.&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;Karya tulis ini merupakan pemikiran mendalam mengenai pembacaan nilai asli suatu produk sebagai modal sosial kecintaan masyarakat konsumen. Ditengah kehadiran serbuan produk impor, masyarakat sendirilah yang seharusnya menjadi sistem defensif untuk mengatasinya agar pengembangan mutu produk lokal tidak sia-sia. Penulis mencoba mengembangkan landasan sekaligus mencari akar permasalahan mengenai pola pikir masyarakat konsumen yang tercipta budaya populer selama ini. Oleh karena itu karya tulis kali ini didukung oleh sumber-sumber koran atau majalah ilmiah-populer serta teori-teori yang relevan sebagai penjelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………...................................... i&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR …....................................……………………………………………………..…… ii&lt;br /&gt;DAFTAR ISI …..…………………………………………………………………..................................... iii&lt;br /&gt;DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………………..................................... vi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah …………………………………………………...................... 1&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi Masalah ………………………………………………………...................... 5&lt;br /&gt;1.3 Kerangka Teoretik …………………………………………………………........................ 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. ANALISIS DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;2.1 Menelusuri Tantangan Pencitraan Budaya Populer ……………………......... 10&lt;br /&gt;2.2 Penentuan Rasionalitas Citra Nilai Asli Produk ………………………........ 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 19&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA ….................................…………………………………………………….. 23&lt;br /&gt;LAMPIRAN-LAMPIRAN ……………………………………………………................................. 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ii&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR LAMPIRAN&lt;br /&gt;Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup Penulis&lt;br /&gt;Lampiran 2. Pernyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iii&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Kita dihadapkan pada kondisi serba tak menentu dalam menghadapi persaingan global di masa depan. Keadaan ini menuntut persiapan agar peradaban perekonomian-politik yang tengah dibangun berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itulah, pemerintah perlu merenungkan secara kritis sekaligus merumuskan kebijakan-kebijakan yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas nasional. Kebijakan ini tentu meliputi aspek penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, memberdayakan Usaha Kecil Menengah (UKM), menggalakkan proses industri serta menjamin hak kreasi-inovasi hasil produksi. Dengan begitu, peningkatan produktivitas memacu pertumbuhan perekonomian nasional yang menyejahterahkan kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Menyongsong tatanan baru ekonomi global, perekonomian nasional seakan menjadi identitas politik keberhasilan suatu bangsa. Bagi negara-negara berkembang, penerapan pasar bebas disadari atau tidak menciptakan kesenjangan pemerataan pembangunan. Secara sosiologis, gaya hidup masyarakat industri memperlihatkan munculnya gejala budaya konsumerisme terhadap ketergantungan hasil produksi luar negeri di tengah-tengah ekonomi pasar. Dalam konteks ini, masyarakat mengalihkan kemampuan daya jual-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 01&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;yang dimiliki ke produksi impor daripada produksi lokal. Mudah ditebak apabila produk-produk lokal kurang bersaing di pasar meski telah memenuhi standar kualitas.&lt;br /&gt;Sejalan dengan itu, pesatnya perkembangan tekhnologi informasi memungkinkan manusia hidup dalam suatu ruang yang dinamakan dunia citra (Heidegger, 2000). Dampaknya, masyarakat terbelenggu dalam mitos “membeli” citra sebagai daya tarik utama baik secara pribadi maupun kelompok. Pengaruh ini dirasakan apabila semangat kebangsaan yang terbangun tergeser oleh hadirnya produk impor. Meskipun tidak bermaksud menghakimi bahwa individu atau kelompok yang cenderung memakai produk impor kurang memiliki rasa cinta tanah air dan bangsa. Namun, dibalik semua itu jiwa-jiwa post-nasionalisme tanpa disadari akan tumbuh yang kemudian diwariskan di benak generasi mendatang. Sebab, pemakaian produk lokal belum menjadi budaya tersendiri di negeri ini.&lt;br /&gt;Untuk membangun kesadaran masyarakat agar meningkatkan penggunaan produk lokal dibutuhkan jaminan kepercayaan sebagai –meminjam istilah Fukuyama- modal sosial. Sebab, kepercayaan didalamnya menunjukkan kepastian mengenai hakikat nilai lebih kegunaan suatu produk. Posisi tawarnya terletak dari rasionalitas dalam membaca dan menggunakan suatu produk.&lt;br /&gt;Selama ini, penilaian masyarakat terhadap produk impor didukung oleh tekhnologi dan ciri khas asal negara yang melekat didalamnya. Dilandasi kepekaan negara-negara maju menghadapi era mondial, hal itu kemudian dibakukan dan dijamin oleh hukum. Padahal bukan mustahil, produk-produk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.02&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;yang dihasilkan negara-negara maju mulanya berasal dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Oleh karena itulah, nilai tawar produk lokal kurang bersaing karena dianggap mengadaptasi dari nilai asli produk impor.&lt;br /&gt;Tantangan terbesar bagi pemerintah adalah mampukah memulihkan kepercayaan masyarakat agar menggunakan produk lokal seiring dengan kaburnya pembacaan nilai asli yang telah dibakukan produk impor? Penentuan darimanakah yang dapat membedakan bahwa nilai asli produk impor pada dasarnya adalah kreasi anak negeri? Pertanyaan-pertanyaan ini seakan menjawab ketertinggalan pengakuan mutu produktivitas nasional agar sejajar dengan negara-negara maju. Pada gilirannya, dunia usaha akan pulih dari keterpurukan dengan meraih kepercayaan masyarakat agar menggunakan produk-produk lokal.&lt;br /&gt;Kajian ekonomi-politik terhadap akar krisis perekonomian nasional terletak dari rendahnya kepercayaan pasar yang berdampak buruk terhadap produktivitas dunia usaha sejak pertengahan 1990-an . Pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun hanya mengalami kenaikan 1% dari sektor industri. Sebagai negara berkembang, Indonesia kurang siap menyesuaikan kebijakan deregulasi ekonomi dan membangun akses industri yang berpihak pada kebutuhan pasar. Padahal, peran pasar memberi dampak nyata terhadap pembangunan infrastruktur daerah-daerah bukan dari sektor pajak saja.&lt;br /&gt;Melalui budaya konsumtif masyarakat, pemilihan produk barang dan jasa didasarkan pada pusat pertokoan besar dan modern. Ini diakibatkan ada kesan bahwa mutu produk barang atau jasa melewati proses pengembangan mutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 03&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;impor yang ketat. Paling tidak, di benak masyarakat terdapat gambaran positif mengenai terjaminnya esensi kualitas produk barang atau jasa sebelum memasuki pertokoan besar dan modern. Akibatnya, industri-industri kecil mengalami kegagalan dalam bersaing.&lt;br /&gt;Doktrin politik setidaknya menandaskan bahwa persaingan sempurna terjadi ketika kekuasaan-kekuasaan kecil mampu dibendung agar pertumbuhan dominan terjadi. Machiavelli dalam Schmandt (2002), mengungkapkan bahwa tindakan kebajikan individu menghalangi menyampaikan perasaan pemenuhan diri. Dalam kaitannya dengan budaya konsumtif masyarakat, pemilahan produk barang atau jasa yang didasarkan pada kondisi tidak realistik mencerminkan terhalangnya kebajikan diri.&lt;br /&gt;Kesan tindakan itu mengedepankan ego yang menilai bahwa kenyataan produk barang atau jasa dicipta melalui pemahaman subyektif. Secara otomatis pula, pembelian produk impor lebih diprioritaskan daripada produk lokal. Oleh karena kurang dipahaminya makna nilai bahwa dengan membeli produk lokal berarti secara tidak langsung turut berpatisipasi membangun peradaban perekonomian nasional. Demikianlah rasionalitas masyarakat yang tercipta dalam persaingan pasar global akibat budaya populer seiring pesatnya perkembangan informasi-komunikasi.&lt;br /&gt;Dari gambaran semua itu tampaknya ada kaitan secara langsung antara rasionalitas pembacaan nilai asli suatu produk terhadap kepercayaan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas-perekonomian nasional. Maka, penulis mengangkat judul karya tulis ilmiah kali ini adalah “Pembacaan Nilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 04&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Asli Suatu Produk Sebagai Modal Sosial Kecintaan Masyarakat Konsumen Terhadap Produk Lokal atau Dalam Negeri”&lt;br /&gt;I.2 Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;Identifikasi masalah kali ini adalah: bagaimanakah merumuskan penentuan pembacaan nilai asli suatu produk di tengah persaingan global sehingga menumbuhkembangkan kecintaan terhadap keunggulan produk lokal atau dalam negeri dan mampu menjadikan sistem budaya tersendiri?&lt;br /&gt;Untuk dapat memahami bentuk-bentuk pembacaan nilai asli masyarakat konsumen itu kiranya perlu dikemukakan bagaimana pandangannya terhadap produk dalam kaitannya dengan perekonomian nasional. Dengan demikian variabel kunci terletak pada tiga hal yaitu pandangan masyarakat, eksistensi produk dan sistem sosial-budaya. Kemudian ditelaah secara kualitatif dengan sumber-sumber wacana yang -meminjam bahasa sebuah tagline- akurat, tajam dan terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.3 Kerangka Teoretik&lt;br /&gt;Salah satu ciri mencolok globalisasi berdimensi ekonomi-politik adalah penanggulangan kebijakan daya saing produk lokal negara-negara berkembang belum memadai dengan percepatan lingkaran kebutuhan masyarakat yang berwajah ganda. Disatu sisi, masyarakat mengharapkan pemerintah, dalam hal ini perindustrian dan dunia usaha, menghadirkan produk lokal berkualitas tanpa meninggalkan kebutuhan terhadap produk impor. Disisi lain, produk-produk impor yang telah membanjiri pasar nasional memiliki tingkat harga bersaing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 05&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;dengan produk lokal. Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun kalangan industri dan dunia usaha untuk memecahkan masalah ini. Namun, pada kenyataannya, langkah yang dilakukan kurang optimal dan belum mengakar.&lt;br /&gt;Pendekatan yang dilakukan selama ini mengetengahkan pemerintah mengusung kemitraan perusahaan lokal dengan perusahaan luar negeri. Langkah kerjasama pun dilakukan dengan membenahi sekaligus memperbaharui sistem manajemen pemasaran. Misalnya, memberi penghargaan terhadap perusahaan kecil yang memiliki komitmen berproduktivitas ekspor sehingga layak menjadi percontohan industri lain. Bahkan memberikan label standar atau bermutu ekspor bagi produk barang dan jasa agar dikenal masyarakat luas. Kelihatannya, keterlibatan masyarakat sebagai pelaku konsumen produk barang dan jasa sedikit terabaikan. Logika politik setidaknya menjelaskan bahwa masyarakat memiliki “kekuasaan” dalam menentukan pandangan mutu produk barang dan jasa di pasar. Secara teoritis, demokrasi pasar tergantung dari jumlah ketergantungan masyarakat yang kemudian menentukan posisi produk barang atau jasa di pasar. Dengan begitu, materi (baca: produk) bukan lagi menjadi obyek melainkan subyek yang mengatur hasrat naluriah kepuasan akan kebutuhan konsumen. Inilah dasar filosofis kecintaan manusia yang terikat pada penghargaan terdalam terhadap pencitraan nilai sebuah materi.&lt;br /&gt;Pandangan esensialisme yang dikemukakan oleh para filosof setidaknya menandaskan bahwa keberadaan sebuah benda atau materi memiliki nilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 06&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;“misterius”. Sekilas memang terlihat metafisis. Namun bukan berarti pemaparan rasional-ilmiah tidak bisa dilakukan. Dalam kaitannya dengan produk barang dan jasa, hakikat nilai yang terkandung didalamnya perlu dilakukan pembacaan rasional dengan penulusuran sejarah dan komunikasi-informasi yang logis. Kode-kode pemaknaan dipandang melalui pengalaman obyektif.&lt;br /&gt;Sejauh ini, upaya memahami makna yang melekat dalam diri obyek sebagai subyek diiwujudkan dalam bentuk kesadaran semu. Menurut Huserl (2003), kesadaran tidak ditemukan dalam diri manusia tetapi dari hubungan antara subyek dan obyek. Secara harfiah, dapat ditafsirkan bahwa kecintaan masyarakat konsumen terhadap produk “mem-bahasa-kan” aktivitas gaya hidup dan perilaku sehari-hari. Sebagai sarana penunjang, karakteristik nilai menetapkan kesadaran perilaku manusia memenuhi kebutuhan ego. Walaupun, konsepsi ego dalam kalangan psikoanalisis dipengaruhi kondisi-kondisi sosial dan budaya karena mengekspresikan gejolak-gejolak kebutuhan. Namun, sarana itu diuji lewat komunikasi dan rasionalitas kebahasaan dengan kriteria-kriteria khusus di tengah pasar. Apabila penilaian dipandang negatif tentu akan menimbulkan sinisme publik terhadap produk barang atau jasa. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan strategi pembuka wacana rasionalitas masyarakat terhadap produk barang atau jasa. Dengan demikian, masyarakat secara berangsur-angsur akan mampu menelaah mengenai pencitraan mutu produk barang atau jasa.&lt;br /&gt;Penelaahan pencitraan mutu produk dilakukan melalui media informasi komunikasi massa yang membentuk gagasan kesadaran kolektif. Titik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 07&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;perhatiannya ditujukan bagi masyarakat yang dilihat sebagai interpersonal (antar pribadi) agar memahami dan menginterpretasikan informasi produk (McQuail, 2005). Ruang lingkupnya adalah hubungan timbal balik dengan lingkungan sekitar pembentuk kesadaran pola pikir.&lt;br /&gt;Masih dalam kerangka pemikiran McQuail, masalah itu harus dapat menjawab persoalan bagaimanakah terjadinya proses pengkomunikasian-penyadaran? Apakah konsekuensinya terhadap pemasaran produk lokal? Menyangkut masalah apa media pembuka kesadaran rasionalitas pembacaan nilai produk? Lantas akan dibawa kemanakah kesadaran setelah terbentuk gagasan baru di masyarakat?&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan itulah yang dapat memaklumi bagaimana gerakan membangkitkan kecintaan masyarakat konsumen terhadap produk lokal barang atau jasa yang masih berjalan di tataran wacana. Padahal, banyak pihak menuntut agar pemerintah segera melakukan gebrakan perubahan kebijakan mengangkat industri lokal. Oleh karena permasalahan komunikasi massa pembuka pencitraan mutu produk bersifat komprehensif, maka diperlukan pengembangan adaptasi informasi. Sebab, pengadaptasian didasarkan tekhnologi semata bukanlah ringkasan pengalaman nyata yang selalu dapat dipaksakan pemaknaannya.&lt;br /&gt;Melalui pendekatan informasi yang ringkas dan logis yang tidak hanya dilakukan media cetak maupun elektronik. Melainkan meliputi lokasi-lokasi strategis yang mampu ditangkap masyarakat secara kasat mata. Ini dikarenakan budaya pencitraan populer yang berjalan cepat, pemerintah mau tak mau segera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 08&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;mengubah pemikiran dan pemahaman tentang produk yang tertanam di benak masyarakat selama ini. Namun perlu digarisbawahi, strategi pembuka wacana rasionalitas tentang nilai dan mutu produk tidak dipahami sebagai pemanfaatan media komunikasi massa secara politis. Sebab, pemahaman rasionalitas itu sendiri membuka pembelengguan mitos-mitos yang berkaitan dengan pencitraan berlebihan terhadap produk impor. Dengan kata lain, rasionalitas berupaya mencerahkan ungkapan pikiran terdalam masyarakat mengenai pemaknaan kenyataan suatu produk.&lt;br /&gt;Apabila kita menelusuri lebih dalam, nilai sifat-sifat alamiah produk masih melekat. Hanya saja bentuknya mengalami perubahan sehingga identitas yang diemban memiliki intrepretasi pemaknaan baru. Jelaslah kemudian, peninjauan kenyataan suatu produk dilihat sebagai pencarian atau melacak asal usul historis sebelum mengalami terobosan-terobosan kreatif dan inovatif. Sebab, sebuah produk dapat dikatakan ber-nilai tinggi jika telah menyatu dengan kebutuhan dasar yang melebihi dari segi asas kemanfaatan. Itulah kebermaknaan suatu produk bagi masyarakat konsumen yang perlu digali lebih dalam.&lt;br /&gt;Untuk itu diperlukan pemahaman baru mengenai wacana rasionalitas produk yang berkembang saat ini. Namun sebelum membahasnya lebih lanjut, penulis berhipotesa –agar pemaparan dapat diterapkan di lapangan- bahwa latar belakang kedudukan sosial dan status sosial masyarakat tidak berpengaruh ketika berhadapan budaya populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 09&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. ANALISIS DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1 Menelusuri Tantangan Pencitraan Budaya Populer&lt;br /&gt;Langkah terbaik untuk menjelaskan mengapa masyarakat kurang tergerak ketika pemerintah mengusung tema membudayakan gerakan cinta terhadap produk lokal terletak dari kekeliruan membaca pola pikir rasionalitas kebutuhan pasar. Sebagaimana dijelaskan dalam bab kerangka teoritik sebelumnya bahwa pola pikir masyarakat konsumen terhadap mutu produk barang atau jasa diciptakan oleh pencitraan budaya populer tanpa melihat penelusuran proses awal produksinya . Dengan memperhatikan secara seksama bahwa kebutuhan terhadap produk barang atau jasa bukan didasarkan penilaian status kharismatik yang diberikan pada jargon-jargon pada iklan media cetak maupun elektronik. Melainkan lebih merupakan keterikatan secara emosional terhadap kebutuhan suatu produk.&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang mengapa produk impor mampu menarik perhatian masyarakat dibandingkan produk lokal? Persoalan ini terletak dari kemampuan produk impor membidik arah dan sasaran citra ego masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 10&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melalui sarana imaji informasi. Produk-produk impor mengedepankan pengetahuan dalam wujud informasi pembentukan opini publik sehingga menyentuh kesadaran kolektif.&lt;br /&gt;Akibatnya, masyarakat seakan-akan terpuaskan setelah mendapatkan produk impor itu yang kemudian membentuk perilaku berulang-ulang dan menjadi budaya tersendiri. Inilah problema pelik yang tidak disadari ketika kesepakatan AFTA, G-33, APEC dan WTO diberlakukan . Negara-negara yang masyarakatnya belum mampu menelaah serbuan pencitraan produk secara realistis dan bersikap pragmatis terhadap produk impor tentu menjadikan ketergantungan . Meskipun kebijakan kuota impor diberlakukan, hal itu tidak menjamin menurunnya tingkat ketergantungan. Sebab, daya tarik dan popularitas produk impor telah melewati proses penanaman kesadaran di masyarakat selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;Jepang, misalnya, telah melancarkan kegiatan produksi sejak pasca-perang dunia kedua berakhir. Program pengenalan hasil produksinya kepada masyarakat luar dilakukan melalui penyebaran informasi mengenai kelayakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 11&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;kebutuhan masyarakat terus-menerus. Dampaknya tentu dapat dirasakan akhir-akhir ini. Kebanyakan masyarakat telah terjebak prasangka dan mudah menggenalisir bahwa produk impor adalah terbaik dari segi esensi dan kualitas.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menawarkan produk lokal dengan melewati pengujian standar kualitas ekspor didukung tekhnologi dan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas. Ini tentu menjadikan masyarakat kebingungan dan bertanya-tanya mengenai acuan yang jelas karena kepekaan terhadap mutu produk barang atau jasa. Mudah dipahami jikalau masyarakat cenderung memilih produk impor akibat kurangnya pengelolaan informasi logis mengenai pencitraan produk lokal.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, informasi logis dapat mengontrol penggambaran citra berlebihan terhadap produk impor. Sebagai contoh kasus makanan cepat saji MC Donald dan KFC (Kentucky Fried Chicken) yang beredar di pasaran belum tentu memenuhi standar kesehatan. Pemerintah didampingi para ahli perlu mengkampanyekan resiko makanan cepat saji mengenai minimnya gizi yang terkandung akibat zat pengawet di makanan cepat saji. Sebab, tidak menutup kemungkinan, produk lokal jauh lebih higienis dan memenuhi gizi yang dibutuhkan dalam metabolisme kesehatan individu.&lt;br /&gt;Jika kita memperhatikan dunia komoditas dewasa ini, nilai estetis sebuah produk digambarkan dalam dialog komunikasi antar budaya. Internet, televisi dan media massa menyediakan beragam jawaban yang seakan-akan mampu menjawab kegelisahan kebutuhan masyarakat. Praktik budaya konsumsi yang dilakukan oleh iklan melalui pengadaptasian dan penayangan tekhnologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 12&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;menanamkan fantasi-fantasi. Misalnya, seseorang tidak akan mampu menunjukkan jati diri sebagai laki-laki apabila belum menggunakan produk pengharum impor. Atau, citra perjuangan nilai-nilai feminis dan kesetaraan gender seakan belum terwujud bila wanita tidak melengkapi secara utuh dirinya dengan menggunakan produk kecantikan luar negeri.&lt;br /&gt;Apabila dijelaskan dalam sosiologi komunikasi, contoh kedua fakta tersebut menunjukkan bangunan sensasi wacana yang dibentuk memarjinalkan batas-batas kemampuan intelektualitas masyarakat. Berbagai simbol yang ditampilkan mengajak cara berpikir masyarakat membenarkan realitas atau peristiwa. Dalam bahasa antropologis, kesempatan masyarakat mengenal dirinya sendiri dibudayakan sesuai pola pikir bahasa-bahasa iklan. Bila demikian, masyarakat hanya dijadikan target pasar semata. Oleh karenanya tak heran sentra-sentra ekonomi di sejumlah wilayah bahkan pelosok pedesaan mulai bermunculan dengan hadirnya Mall dan pusat-pusat perbelanjaan lengkap .&lt;br /&gt;Menariknya, hampir 90% pasokan barang-barang pertokoan kecil maupun pertokoan besar didominasi oleh produk-produk impor. Mulai dari barang-barang pangan ringan (seperti snack), papan sampai barang-barang kebutuhan kamar mandi pun dikuasai oleh produk-produk impor. Ketika masyarakat mengkonsumsi produk-produk ini tanpa disadari telah memunculkan kilas balik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 13&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;pencitraan ulang akibat membiasakan diri ketergantungan terhadap produk impor. Apalagi, kesan prestise atau gengsi dikondisikan dengan maraknya produk impor disekitar masyarakat konsumen melalui sensasi wacana-informasi.&lt;br /&gt;Maka tak heran pusat-pusat perbelanjaan dan pertokoan memanfaatkan produk impor untuk menaikkan prestise di mata masyarakat dengan slogan-slogan budaya konsumen. Secara tidak langsung, pertokoan berperan dalam membentuk kilas balik pencitraan ulang yang kemudian semakin menjadikan ketergantungan terhadap produk impor. Disinilah dualitas budaya populer yang terjadi dari masyarakat secara personal dan masyarakat konsumen dengan lingkungan sosial pembentuknya . Pada gilirannya, masyarakat konsumen maupun pertokoan menentukan arah, eksitensi dan penilaian produk impor sesuai hukum permintaan-penawaran. Melalui kekuasan ini, kita seolah-olah tidak tahu perubahan dan resiko apa yang selanjutnya terjadi setelah menjadi bagian budaya masyarakat sehari-hari. Namun, disini ada pemahaman mengenai konteks kehidupan masyarakat konsumen yang sesungguhnya semakin termarjinalkan oleh penghambaan nilai lebih dan posisi tawar produk impor.&lt;br /&gt;Terlepas dari persoalan sosio-ekonomik, kematian refleksi masyarakat konsumen tampaknya diperdaya oleh penipuan keyakinan akan ego pemenuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 14&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebutuhan diri . Pergulatan ini tentu perlu diarahkan sebelum pemerintah mengeluarkan produk lokal berkelas dunia sekalipun. Sebab, pencitraan positif produk impor yang berlangsung cukup lama akan menghalangi daya saing produk lokal di pasar domestik.&lt;br /&gt;Padahal, alangkah tidak bijaksana pencarian ekspresi diri diwujudkan pada kebendaan yang bukan tercipta dari bagian tanah kelahiran. Pandangan ini bukan berarti pengabsahan kesan romantisme-natural bahwa masyarakat konsumen harus dan selalu meraih kemuliaan dengan mencari pengikatan diri terhadap esensi produk nasional. Namun demikian, dengan memilah kebutuhan pada produk-produk lokal setidaknya mampu membawa harga diri agar tidak terjerumus arus budaya populer. Sebab, menggantungkan citra diri pada pretise produk impor membawa masyarakat konsumen pada logika tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2 Rasionalitas Penentuan Citra Nilai Asli Suatu Produk.&lt;br /&gt;Hadirnya produk-produk impor yang saat ini mulai dikuasai oleh Republik Rakyat Cina (RRC) disamping Jepang dan Amerika-Eropa setidaknya melewati proses mendesain nilai output dan input. Paradigma efisiensi setidaknya menunjukkan pengubahan dilakukan agar nilai tambah dapat diraih sesuai efektifitas pembentukan citra selera pasar. Yaitu mengubah kemasan praktis produk impor yang diselaraskan sejalan dengan budaya lokal melalui sudut pandang kebahasaan. Disadari atau tidak, produk-produk asing yang meraih simpati di masyarakat justru mengunakan brandame ke-indonesia-an seperti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 15&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Java Coffe dan lain-lain . Kecenderungan budaya kurang cermatnya sensor evaluasi pemerintah atas masalah sepele itu membawa pembacaan dari sudut pandang label nama produk kurang bermakna. Padahal, apabila dicermati lebih dalam, tidak menutup kemungkinan nilai kualitas produk lokal jauh lebih baik mengingat potensi Sumber Daya Alam yang dimiliki negara kita.&lt;br /&gt;Dilatarbelakangi fenomena tersebut, negara-negara modern yang menguasai pasar global mengimpor produk lokal yang bernilai jual tinggi sebelum kemudian dipasarkan ke luar. Tercatat pada tahun 2000, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Hongkong dan negara-negara kawasan Timur mengimpor produk-produk kesenian termasuk bahan baku komoditas (www.suaraekonomirakyat.id). Bahan baku komoditas ini diantaranya kayu, tekstil, garments, makanan olahan dan karet yang jika dialihfungsikan melalui kemampuan tekhnologi dipadu kontrol pemprosesan menjadi barang-jadi oleh SDM berkualitas akan menghasilkan produk komersial .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 16&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Dilihat dari dampak pola konsumsi, hal itu memberikan langkah positif karena menghidupkan kondisi perekonomian nasional dengan ”menghargai” nilai tawar produk lokal. Akan tetapi, kreativitas tekhnologi dan daya inovatif dalam mengubah hakikat nilai produk kemudian dilemparkan ke pasar menciptakan masa eksploitasi. Dengan kedatangan produk-produk impor kedalam negeri yang telah didesain sedemikian rupa, wawasan kebutuhan masyarakat konsumen menempatkan ketidaksadaran dan ketidakmengertian akan menelaah kualitas nilai asli. Pemanfaatan ini memberdayakan ketidakpastian nilai kualitas produk impor karena awalnya berasal dari dalam negeri jika ditelusuri lebih jauh.&lt;br /&gt;Apabila kita menyimak produk tekstil dari RRC dan Hongkong terdapat ciri khas yang menentukan bahwa kain itu memiliki struktur dan gestur yang nyaris sama dengan produk lokal . Oleh karena rendahnya pemahaman masyarakat konsumen dan kuatnya pengaruh budaya populer, mutu produk nasional dianggap jauh dibawah standar produk RRC. Sebagaimana kita ketahui bersama, nilai praktis produk garmen RRC adalah harga yang terjangkau serta menjanjikan desain yang setara produk Amerika-Eropa. Pada umumnya, masyarakat perkotaan menyenangi bentuk pengemasan produk yang praktis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 17&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;budaya populer ini, sebuah terobosan besar berlangsung apabila formulasi barang disetarakan dengan produk barat. Secara etis, pemberlakuan hak cipta terhadap pengubahan nilai output seakan tidak berlaku lagi.&lt;br /&gt;Dalam analogi dapat diambil sebuah rumusan bahwa (Esˆ= S + K) yang menjelaskan rekayasa citra esensi nilai . Dalam tipe stabilitas nilai tukar, maka produk garmen RRC memiliki pembacaan ideal. Oleh karena, produk yang dihasilkan mampu meraih keuntungan ketika dipasarkan dibandingkan produk domestik. Bagi dunia industri, produk garmen dianggap beresiko tinggi karena tidak terhindarkan dari spekulasi pasar terutama sejak kehadiran produk impor.&lt;br /&gt;Kesepakatan pakta perdagangan yang dilakukan oleh negara kita adalah kurang mengantisipasi pengkategorian produk ’diekspor ulang’ oleh negara luar (www.asiamedia.ucla.edu). Sebagian besar produk-produk impor itu kemudian dikonsumsi oleh masyarakat konsumen. Penting kiranya pemerintah menemukan simbol-simbol kebahasaan dan ciri khas lokal agar produk impor itu benar-benar dapat dipertanggung jawabkan bagi kebutuhan publik. Dengan melakukan pembacaan nilai asli diatas setidaknya mampu menjadi kunci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 18&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;sekaligus langkah awal dalam membentuk karakter dan jati diri kebangsaan masyarakat dalam negeri. Bila demikian masyarakat konsumen mencintai produk lokal sehingga akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dampaknya pertumbuhan perekonomian nasional kembali bergairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 19&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;III. KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan kali ini adalah pencitraan produk yang dibawa oleh budaya populer perlu diberikan wacana rasionalitas agar masyarakat dapat menelaah nilai asli didalamnya. Potensi-potensi penentuan nilai asli ini dapat ditelaah dari sudut kebahasaan, informasi logis, pengontrolan pencitraan sensasi wacana-informasi dan menggali ciri khas desain produk lokal. Ini sangat penting sebagai bekal pembentukan kecintaan masyarakat konsumen terhadap produk lokal. Sisi positif yang muncul adalah mampu membentuk sistem defensif bagi masyarakat secara pribadi terhadap persaingan global akibat masuknya produk impor. Dampak selanjutnya, pemikiran masyarakat akan terbuka dari belenggu budaya populer.&lt;br /&gt;Untuk lebih mengefektifkan langkah tersebut ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Pertama, pemerintah patut mengampanyekan bahwa ukuran prestise tidak dapat dikaitkan dengan produk impor. Sebab, prestise hanya akan mengakibatkan derajat diri semakin terbelenggu pada produk impor. Dalam era mondial sekarang ini, mencintai produk lokal merupakan bagian moralitas untuk turut berpartisipasi bagi pengembangan peradaban ekonomi-politik. Ini dimakdsudkan agar masyarakat tidak terperangkap dalam citra global mengenai produk-produk impor. Tentu saja pembentukan gagasan melalui proses gambaran opini publik yang ringkas di sekitar pembentuk diri masyarakat konsumen. Tak terkecuali di sudut pertokoan sebagai penggugah refleksifitas masyarakat konsumen terhadap kondisi produk nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal. 20&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, desain ciri khas produk lokal perlu digali lebih dalam. Sebab, tidak menutup kemungkinan terjadi manipulasi perdagangan yang dilakukan negara luar dengan ‘mengekspor ulang’ produk-produk lokal. Sementara, pada saat yang bersamaan, masyarakat kurang mengetahui masalah tersebut. Oleh karena itu, wawasan kebutuhan masyarakat perlu diarahkan dengan merumuskan standar desain ciri khas produk lokal. Selain dimaksudkan sebagai bentuk jaminan kepercayaan terhadap kualitas produk juga membentuk rasionalitas masyarakat.&lt;br /&gt;Ketiga, agar penerapan tidak sebatas pada tataran wacana pemerintah perlu menyatukan pandangan dengan pelaku industri dan pakar-pakar di bidang, sosiologi, budaya, politik, psikoanalisis, komunikasi, filsafat, insan pers, terutama ekonomi. Tujuannya adalah merumuskan landasan serta bentuk komunikasi efektif-ideal seiring pengaruh budaya populer agar kesadaran masyarakat semakin tergugah kesadarannya bahwa membeli produk lokal memiliki andil besar dalam mengarahkan perekonomian nasional di masa depan. Setidaknya, ada acuan khusus menjadi budaya tersendiri yang kemudian tanpa disadari masyarakat mempraksiskan dalam perilaku sehari-hari. Dalam perkembangannya, gairah menumbuh-kembangkan industri pasar domestik didukung kondisi persaingan yang kondusif bukan utopia semata.&lt;br /&gt;Bila penerapan itu dapat dilaksanakan dan diterima oleh masyarakat kedatangan produk-produk impor bukan lagi menjadi ancaman. Melainkan lebih merupakan “jebakan” semakin matangnya kesadaran masyarakat terhadap pembacaan dan rasionalitas nilai asli. Dengan demikian, sistem pembacaan nilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.21&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;asli mampu menjawab arah kebijakan sektor masa depan ditengah kemandirian otonomi daerah. Pada gilirannya, gairah perekonomian nasional akan meningkat seiring dengan kepercayaan-kecintaan masyarakat konsumen terhadap produk lokal atau dalam negeri yang telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.22&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chaniago, A. Andrinof. 2002. Gagalnya Pembangunan. Jakarta: LP3S.&lt;br /&gt;Feathersone, Mike. 2002. Posmodernisme dan Budaya Konsumen. Jakarta: Pustaka Pelajar:&lt;br /&gt;Fukuyama, Francis. 2002. The Great Disruption. Yogyakarta: Qalam.&lt;br /&gt;Heiddeger, Martin. 2000. Being and Time. Bassil Blackweel. England: Oxford.&lt;br /&gt;Husserl, Edmund dalam George Ritzer. 2003. Teori Sosial Posmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.&lt;br /&gt;Kukla, Andre. 2003. Konstuktivisme Sosial dan Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Jendela.&lt;br /&gt;McQuail, Denis. 2005. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga.&lt;br /&gt;Schmand, J. Henry. 2003. Filsafat Politik: Kajian Historis Dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar:&lt;br /&gt;Toffler, Heidi dan Aflin. 2002. Menciptakan Peradaban Baru: “Politik Gelombang&lt;br /&gt;Ketiga”. Yogyakarta:Ikon Terlitera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Massa dan Internet.&lt;br /&gt;Jurnal Ekonomi Rakyat, 2005. “Liberalisasi TPT dan Jalan Sutra Bagi Cina”. Majalah Jurnal Ekonomi Rakyat. Tahun 2005/Tanggal 03 bulan Mei: Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.23&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Kompas, 2003. Kolom Pemberitaan Bisnis dan Keuangan: “Kebanggaan Terhadap Produk Lokal Menurun. Harian Umum Kompas. Tahun 2003/ Tanggal 19 Bulan Mei: Jakarta.&lt;br /&gt;Kompas, 2006. Kolom Pemberitaan Bisnis dan Keuangan: “Ekspor Mei Tertinggi“. Harian Umum Kompas. Tahun 2006/ Tanggal 04 bulan Juli: Jakarta.&lt;br /&gt;Majalah Nakertrans. 2006. “Ukuran Produktivitas Sudah Bertambah”. Majalah Nakertrans. Tahun 2006 / Tanggal 01 bulan Februari: Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Websites:&lt;br /&gt;http://www.asiamedia.ucla.edu. “Liputan Kecil Media terhadap Kesalahpahaman Dalam Angka Perdagangan Bilateral Indonesia dan Singapura”. Diakses tgl. 5 juli 2006.&lt;br /&gt;http://www.ibexi.co.id. “Menunggu Sunrise di Pantai Garmen”.&lt;br /&gt;Diakses tgl. 12 Juli 2006.&lt;br /&gt;http://www.suaraekonomirakyat.go.id. “Komoditas dan Produk Lokal di mata&lt;br /&gt;Asing”. Diakses tgl. 12 Juli 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.24&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;DAFTAR RIWAYAT HIDUP (Sengaja dirahasiakan oleh penulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : BETA CHANDRA WISDATA&lt;br /&gt;Tempat/Tgl. Lahir : xxxxxx/xxxxxxxx&lt;br /&gt;Alamat rumah : XXXXXXXX&lt;br /&gt;Alamat E-mail : xxxxxxxxxxxxx&lt;br /&gt;No. Telp. : xxxxxxxxxxxxx&lt;br /&gt;Lain-lain : Beta Chandra Wisdata adalah penulis lepas di media massa baik lokal maupun nasional yang tertarik pada masalah politik. Di samping itu, aktif menulis puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.25&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;PERNYATAAN (sengaja dirahasiakan oleh penulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bertanda tangan disini.&lt;br /&gt;Nama : Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;Tempat/tanggal lahir : xxxxx/xxxx&lt;br /&gt;Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah ini adalah karya asli. Bukan karya plagiat atau bajakan dan belum pernah dimuat di media atau jurnal apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Materai &lt;br /&gt;ttd : Beta Chandra Wisdata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hal.26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------0-------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsR4Nq_-KI/AAAAAAAAASY/BX9Y7Fxzd_U/s1600-h/Untitled+3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 228px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsR4Nq_-KI/AAAAAAAAASY/BX9Y7Fxzd_U/s320/Untitled+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303852643599251618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This write publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-2894814188259327233?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/2894814188259327233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/2894814188259327233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/karya-tulis-ilmiah-politik-pembacaan_24.html' title='(karya tulis ilmiah politik) Pembacaan Nilai Asli Sebagai Modal Sosial Kecintaan Masyarakat Konsumen terhadap Produk Dalam Negeri'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwjRoFBFtbI/AAAAAAAAA4o/tJ7uBGOz3F8/s72-c/7.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-3364696818969678284</id><published>2008-08-24T22:38:00.001-07:00</published><updated>2009-11-22T04:28:54.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Kemelut Demokratisasi Perguruan Tinggi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwkuQBfOltI/AAAAAAAAA5Y/Dl2__AaRaWE/s1600/columns1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 186px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwkuQBfOltI/AAAAAAAAA5Y/Dl2__AaRaWE/s320/columns1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406903680447190738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://socialearth.org&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;KEMELUT DEMOKRATISASI &lt;br /&gt;DI DUNIA PERGURUAN TINGGI&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra W.*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini pernah dimuat di Radar Jember, Jawa Pos 07 September 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&gt;Universitas adalah tempat untuk menempa ilmu yang berperan serta menciptakan kualitas peserta didik. Dengan berlandaskan pada sistem sistem pendidikan tinggi (intelektualitas), universitas merupakan tempat awal mula menciptakan suasana demokrasi baik didalam atau diluar institusi. Dalam kegiatan praktiknya diharapkan mampu mengakomodir seluruh aspirasi lapisan civitas akademika tanpa terkecuali. Deskripsi ini dapat dijelaskan dalam proses ritual atau tata cara pemilihan rektor atau dekan sebagai penyaringan calon pemimpin perguruan tinggi. Namun, bila hal itu tidak berjalan sebagaimana mestinya akan berimbas pada penurunan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di perguruan tinggi. &lt;br /&gt;-----------&gt;Menjelang pemilihan rektor atau dekan dapat dipastikan, selalu terjadi polemik tentang figur terpilih dengan alasan-alasan subyektif pula tergantung dari kepentingan masing-masing kelompok. Sebab, bukan rahasia umum lagi apabila pemilihan rektor atau dekan dijadikan akademisi sebagai "ajang pertaruhan" untuk menapaki karir yang lebih tinggi (mapan). Terkadang antara satu pihak dengan yang lain tidak mau menerima kekalahan menerima hasil final. Mirip gejala perebutan kekuasaan oleh wakil rakyat kita di DPR berbagai cara digencarkan termasuk intrik-intrik politik. Bahkan, beberapa diantaranya mulai terkotak-kotak berdasarkan kepentingan jurusan egoisme sektoral, latar belakang histroris pengalaman organisasi ekstra kurikuler dan tawar-menawar posisi. Asumsi ini secara impilisit menunjukkan bahwa tujuan bersama menumbuhkembangkan intelektualisme dunia kampus terbengkalai. &lt;br /&gt;-----------&gt;Dalam level paling tinggi, kesemuanya itu mengimbas pada aturan-aturan normatif menyangkut tata cara pemilihan dekan atau rektor yang memicu kontroversi dengan pembatasan ketat disana-sini. Meski dalam proses pemilihannya yang konon kabarnya telah dilakukan secara demokratis. Namun (ironisnya) eksistensi peran aktif mahasiswa tidak pernah diakui untuk turut ambil bagian secara langsung maupun tidak langsung. Mahasiswa dianggap bagian kelompok kecil dunia kampus yang hanya disibukkan dengan kegiatan belajar sehingga persoalan internal institusi perguruan tinggi -apalagi yang berkaitan dengan perumusan kebijakan- bukanlah menjadi tanggung jawabnya. Melainkan wewenang komite pemilihan (senat). Padahal jika kita mau jujur mahasiswa termasuk penyangga utama maju-mundurnya nasib Universitas. Bukan landasan faktor kuantitas semata namun kualitas penggerak dinamisasi intelektualisme.  &lt;br /&gt;-----------&gt;Kecurigaan semakin bertambah terbukti waktu pelaksanaanya dilakukan setiap menjelang liburan akhir semester. Sebagian kalangan menilai kegiatan pemilihan dekan atau rektor telah di-set up sedemikian rupa. Yang terjadi kemudian munculnya ketidakpercayaan keabsahan hasil final itu karena tidak dilibatkannya peran aktif mahasiswa dalam mengontrol proses pemilihan tersebut. Mudah dipahami jika beberapa hari menjelang atau setelah pemilihan pejabat kampus timbul gejolak protes di kalangan mahasiswa. Seperti yang terjadi di Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel akhir-akhir ini (Kompas/5/09/04).&lt;br /&gt;-----------&gt;Tak pelak, mereka melakukan aksi boikot kuliah sebagai langkah penuntutan penyelesaian konflik internal. Proses belajar mengajarpun berhenti untuk beberapa saat. Praktis kegiatan akademis menjadi lumpuh dalam batas waktu yang tidak tentu. Minimal sampai tuntutan mereka terpenuhi. Karena itu terbuka peluang aksi protes tersebut akan ditiru oleh mahasiswa di perguruan tinggi lainnya dengan memiliki gejala permasalahan yang hampir sama. &lt;br /&gt;-----------&gt;Bila hal itu berlangsung berlarut-larut, citra identitas politik perguruan tinggi sebagai tempat perintis nilai-nilai demokrasi tercoreng. Kita mengetahui bahwa era reformasi yang telah berjalan selama ini merupakan hasil jerih payah civitas akademika (mahasiswa) membongkar otoritarianisme orde baru. Segala sesuatunya telah dikorbankan mahasiswa mulai dari hal-hal prinsipil, konsekuensi logis sampai akibat fatal dalam diri mereka. Bagi mahasiswa, demokrasi dapat terlaksana di segala bidang melebihi harapan dan cita-cita yang tidak dapat diukur oleh nilai apapun. &lt;br /&gt;-----------&gt;Celakanya, universitas tempat mereka bernaung tidak sedikitpun menunjukkan itikad baik dalam pembelajaran demokratisasi yang sehat. Apabila dilihat kebelakang, sisa-sisa warisan feodalisme Orde Baru sangat mempengaruhinya. Kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Keadaan Kampus) berlangsung cukup lama di dunia perguruan tinggi. Budaya politik kampus yang terbentuk menunjukkan bahwa pendewaan umur seakan menjadi penentu dalam setiap mengambil kebijakan. Sementara yang muda dianggap kurang berpengalaman secara intelektual. Beginilah persoalan dilematis politik kampus yang terus-menerus menghasilkan regenerasi puritanisme-feodalistis. &lt;br /&gt;-----------&gt;Tidak ada kekuatan sosial akademis yang mampu mempertanyakannya secara kritis apalagi membongkarnya. Bila ada, sanksi akademis selalu menghadang. Sementara itu, komunikasi politik kampus berjalan tak seimbang. Semuanya seakan berjalan sendiri-sendiri terpatok antara dua strafikasi kelas: umur, intelektual dan empirisme demikian seterusnya.     &lt;br /&gt;-----------&gt;Barangkali, solusi yang tepat adalah pemerintah mampu bertindak sebagai fasilitator sekaligus penengah dari pihak-pihak yang bertikai. Perlu digaris bawahi, pemerintah harus dapat menerapkan prinsip netralitas agar kasus tersebut terselesaikan dengan baik, adil dan bijaksana. Sehingga, ruh demokratisasi kampus dapat dirasakan oleh semua kalangan tanpa diskriminasi sedikitpun. Meskipun tidak dapat dipungkiri demokrasi merupakan sistem yang sangat jauh dari kesempurnaan (Arendt, 2003). Selalu ada sisi-sisi yang menindas suara-suara minoritas sebab keputusan mutlak terletak dari suara terbanyak. Ini terpulang kembali dari perenungan yang bersangkutan, seberapa besar tingkat kedewasaan politik yang dimiliki masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slqpb5KQG8I/AAAAAAAAAto/Vmu_f-i1WlE/s1600-h/more_democracy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 123px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slqpb5KQG8I/AAAAAAAAAto/Vmu_f-i1WlE/s200/more_democracy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357781003376008130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;picture source: http://www.pialberta.org/program_areas/Democracy&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-----------&gt;Kampus sejatinya milik semua kalangan tanpa terkecuali sebab satu sama lain merupakan hubungan diametris yang saling bertautan dan saling mengisi. Oleh karena itu, tidak ada salahnya mahasiswa dilibatkan dalam proses pemilihan dekan atau rektor baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, figur terpilih (diharapkan) lebih dapat dipertanggung jawabkan secara moral, intelektual dan akademis. Mahasiswa perlu diberikan ruang-ruang politik yang jelas (tanpa diwakilkan) untuk dapat menyuarakan pendapatnya dan pilihannya secara bebas agar tak tereduksi kepentingan tersembunyi kelompok manapun. Tujuannya, meminimalisir persinggungan-persinggungan konflik vertikal-horisontal di dalam kampus.  &lt;br /&gt;-----------&gt;Selain itu, kompromitas politik etis yang selalu terjadi setiap pemilihan pejabat kampus sebisa mungkin dihindari. Tentu saja dimaksudkan untuk menghilangkan kecurigaan dari semua pihak atas keabsahan hasil final. Visi Kompetisi pemilihan dekan atau rektor pun perlu dirubah. Bukan digunakan pemenuhan kepentingan pribadi atau kelompok sesaat. Tetapi, lebih difungsikan sebagai peningkatan iklim intelektualisme civitas akademika. &lt;br /&gt;-----------&gt;Maka sudah saatnya membangun dunia perguruan tinggi yang melayani (baca: memajukan) peradaban intelektualisme dilakukan. Aturan-aturan normatif yang menghambat proses demokratisasi perguruan tinggi selama ini perlu direstrukturasi kembali dengan tahapan-tahapan terobosan besar menghilangkan budaya politik tradisional yang bercorak feodalistis. Namun apakah hal itu akan terwujud jika sampai saat ini aturan-aturan ketat anti demokratisasi kampus masih dipakai? Semoga tidak!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Mahasiswa FISIP UNEJ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This article spread science purposes, had a copyright writer and alright reserveds.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-3364696818969678284?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/3364696818969678284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/3364696818969678284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/kemelut-demokratisasi-perguruan-tinggi.html' title='Kemelut Demokratisasi Perguruan Tinggi'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwkuQBfOltI/AAAAAAAAA5Y/Dl2__AaRaWE/s72-c/columns1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-6405069713440705962</id><published>2008-08-24T21:51:00.000-07:00</published><updated>2009-11-28T04:46:46.436-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Menata Kota Mengabaikan Desa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhFX7iaz4I/AAAAAAAAAko/Ew7vrINE3Hc/s1600-h/city.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 182px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhFX7iaz4I/AAAAAAAAAko/Ew7vrINE3Hc/s320/city.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357108034178568066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENATA KOTA MENGABAIKAN DESA&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel ini pernah dimuat di Jawa Pos, Radar Jember 05 November 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&gt;Kriteria utama keberhasilan pembangunan terletak dari pemerataan di segala bidang baik sosial, politik, budaya maupun ekonomi. Tolak ukurnya terlihat seberapa besar hasil nyata kemampuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) menghilangkan kesenjangan mendasar antara kota dan desa. Sebab, dibawah tekanan era mondial sekarang ini dibutuhkan hubungan “simbiosis mutualisme” –yaitu saling menunjang dan saling membutuhkan diantara keduanya. Lebih-lebih di wilayah yang memiliki ketidakjelasan identitas sosial-budaya seperti Jember. Sebab, antara kota dan desa memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan untuk membentuk tatanan kultural pembangunan-pemerintahan. Secara antropologis, ambiguitas identitas sosial-budaya Jember merespon pemikiran ulang dan refleksi kritis mengenai bagaimanakah watak ideal pembangunan yang sanggup membentuk budaya politik pemerintahan berdasarkan landasan etis?&lt;br /&gt;-------&gt;Sejauh ini, penataan konsep identitas sosial-budaya lebih terkesan pembangunan fisik semata terutama didaerah perkotaan. Sementara, pada saat yang bersamaan, gambaran ideal pembangunan kurang dijalankan sepenuhnya oleh Pemkab. Terbukti masih banyak masyarakat desa yang belum mampu berproduktivitas secara sosial-ekonomi. Bahkan, ironisnya, identitas sosial yang terbentuk di pedesaan kurang diberdayakan sebagaimana mestinya. &lt;br /&gt;-------&gt;Logika politik yang digunakan oleh pemkab selama ini menunjukkan kecenderungan bahwa kota adalah pusat pengendali kekuasaan-pemerintahan. Oleh &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh8dQloA2I/AAAAAAAAAng/49W3mA0s9i8/s1600-h/GallagherDevelopmentFirst.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh8dQloA2I/AAAAAAAAAng/49W3mA0s9i8/s200/GallagherDevelopmentFirst.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357168598868034402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.amazon.com/Putting-Development-First-Importance-Policy/dp/1842776355&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karenanya, penataan pembangunan lebih ditekankan dari sektor perkotaan dan kurang menyentuh sektor pedesaan. Dengan tujuan agar terpusatnya penataan pembangunan di kota memberikan dampak positif terhadap peningkatan status pemimpin kharismatik. Gelar kharismatik ini penting untuk menambah kredit poin penilaian baik-buruknya kinerja pemkab di mata masyarakat. Sebab, pola pikir rasionalitas masyarakat yang terbentuk memandang bahwa keberhasilan pembangunan sebagai ‘hasil yang dapat dilihat’ bukan ‘dirasakan secara empiris’. Perspektif ini menyuguhkan konsepsi bahwa pandangan seorang pemegang kekuasaan (baca: pemkab) memiliki garis dan dampak searah di masyarakat. Artinya, apa yang dipikirkan oleh pemegang kekuasaan adalah sama di masyarakat.&lt;br /&gt;-------&gt;Meskipun, secara tidak langsung, hal ini menunjukkan kesan positif -karena hubungan erat antara masyarakat dengan pemegang kekuasaan terjalin baik. Namun, apabila ditinjau lebih dalam, unsur politisasi terselubung akan mudah dilaksanakan.&lt;br /&gt;-------&gt;Ketika masyarakat kota mengharapkan agar pembangunan lebih digalakkan sebagai implementasi janji politik pemerintah terdahulu. Maka, perwujudannya lebih dilakukan dalam bentuk pembangunan (pra)sarana fisik. Hadirnya mall, gedung-gedung bertingkat serta pertokoan setidaknya mampu menjelaskan hal ini. Pendekatan paradigma pembangunan yang dipakai adalah menggairahkan sektor perekonomian pemerintahan daerah dengan mendatangkan investor luar menanamkan modalnya. Ini dilaksanakan sebagai penunjang pembiayaan pemerintah di sektor pajak dan hasilnya dapat dinikmati secara tidak langsung oleh masyarakat. &lt;br /&gt;-------&gt;Pertanyaannya kemudian bukankah hasil pembangunan dapat dinikmati apabila masyarakat mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam pengertian sebenarnya? Bukankah perwujudan pembangunan (pra)sarana fisik sebagaimana diungkapkan tadi memunculkan efek-efek yang justru menciptakan budaya konsumtif di masyarakat? Bila demikian, makna pembangunan seutuhnya memiliki “politik praksis” bahwa esensi terdalam pembangunan terlupakan yang kemudian identitas sosial-budaya masyarakat semakin tak tentu arah. &lt;br /&gt;-------&gt;Sementara itu, bagi masyarakat pedesaan, esensi terdalam pembangunan adalah meningkatkan produktivitas kebutuhan pokok yang diperlukan masyarakat kota. Secara geografis, masyarakat Jember memiliki ciri khas agraris dan semi-maritim di pesisir pantai Puger. Apabila ini dikelola secara baik tidaklah mustahil bahwa landasan identitas sosial-budaya Jember terbangun secara bertahap. Dalam pandangan naturalisme politik, intervensi positif kebijakan pemerintah dalam memperluas akses identitas kultural masyarakat desa memungkinkan proses perkembangan berlangsung secara alamiah. Tentu saja nilai-nilai orisinal tetap diperhankan sebagai ciri khas masyarakat tersebut. &lt;br /&gt;--------&gt;Pada saat yang bersamaan, pemkab setidaknya melakukan pembangunan (pra)sarana fisik untuk melancarkan kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pedesaan.&lt;br /&gt;Dengan catatan penting, pembangunan (pra)sarana fisik itu, tidak menciptakan pola konsumtif sebagaimana yang terjadi di masyarakat kota. &lt;br /&gt;--------&gt;Membidik arah pembangunan daerah-daerah Jawa Timur ke depan dan memecahkan problema identitas sosial-budaya masyarakat desa maupun kota masih dipandang relevan dalam mengatur tujuan kesejahteraan masyarakat. Lebih-lebih didaerah yang memiliki keterbelakangan nilai-nilai sosial budaya di jember sebagaimana diungkapkan diatas. Ini dimaksudkan agar janji politik sebelum terbentuknya pemerintahan bukan dimaknai sebagai bahasa retorika politik demi pemenuhan kekuasaan semata. Oleh karenanya, pemerataan pembangunan perlu dilakukan tanpa terkecuali. Sebab, semangat political will dan itikad baik tidaklah cukup tanpa ada upaya nyata dari pemkab demi menunjukkan seberapa besar wujud keberhasilan pemerataan pembangunan. Semoga mampu dijadikan bahan renungan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;strong&gt;*Pemerhati Masalah Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-6405069713440705962?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/6405069713440705962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/6405069713440705962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/menata-kota-mengabaikan-desa.html' title='Menata Kota Mengabaikan Desa'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhFX7iaz4I/AAAAAAAAAko/Ew7vrINE3Hc/s72-c/city.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-9194607470523767293</id><published>2008-08-24T21:28:00.001-07:00</published><updated>2009-08-11T08:38:47.130-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Wartawan: Kaum Intelektual yang Tersisihkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhB4ucoX5I/AAAAAAAAAkA/9N2zdUIoa8A/s1600-h/reporter.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 194px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhB4ucoX5I/AAAAAAAAAkA/9N2zdUIoa8A/s200/reporter.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357104199553802130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.rift.com/~sacha/pictures/web/reporter.jpg&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;WARTAWAN: KAUM INTELEKTUAL &lt;br /&gt;YANG TERSISIHKAN&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karya ini pernah dimuat di Radar Jember, Jawa Pos 20 Juni 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sn-u9nmi5NI/AAAAAAAAA1Q/uTg9DI-Paf4/s1600-h/images444.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 116px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Sn-u9nmi5NI/AAAAAAAAA1Q/uTg9DI-Paf4/s200/images444.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368201654474826962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;with all respect &amp; honour picture source taken from: http://physik.uni-augsburg.de&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Kesan yang sering ditangkap masyarakat terhadap profesi jurnalistik umumnya digambarkan sebagai pelapor suatu fenomena. Implikasinya, wartawan tidak pernah ditempatkan pada posisi utama yang berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. &lt;br /&gt;---------&gt;Kata pengganti yang terkesan menyepelekan profesi mereka dapat dilihat dari penyebutan "kuli disket". Disini, 'kuli' sama artinya dengan 'tukang' atau 'pekerja kasar'. Tentu saja, hal demikian bertentangan dengan kondisi realitas pekerjaan mulia wartawan yang membutuhkan intelektualitas dalam memproduksi wacana. &lt;br /&gt;Idealnya, wartawan lebih baik bila dipanggil dengan 'cendekiawan pers'. Sebab terdapat eksistensi harga diri didalam teks. Dalam kaitannya, makna 'cendekiawan pers' lebih menghargai jerih payah wartawan yang setiap hari dituntut mengerutkan dahi (baca: berpikir) demi mengejar deadlines. &lt;br /&gt;---------&gt;Syarat utama untuk menjadi cendekiawan pers, minimal, memiliki kemampuan menulis. Mengutip pendapat Firman (Radar Jember/25/04/04), seseorang yang berkubang dalam dunia tulis-menulis dapat dipastikan kegemaran membaca buku sangat tinggi. Ide-ide segar, ketajamanan analisis, pemilihan dan penggantian diksi yang dituangkan dalam tulisan tidak bisa muncul secara tiba-tiba tanpa rajin membaca buku. Oleh karena itu, jangan remehkan kadar intelektualitas seorang penulis termasuk didalamnya para cendekiawan pers. &lt;br /&gt;---------&gt;Namun demikian, hal ini bukan dimaksudkan untuk membanggakan diri sendiri akibat terjebak triumpfatilisme (Beta Chandra Wisdata, Jawa Pos/20/03/04). Sebagaimana yang sering dialami oleh para penulis pemula yang mengirimkan artikel di koran hanya untuk mencari popularitas semata. Sejatinya, tujuan menulis "karya ilmiah" ini adalah mencerahkan pemikiran masyarakat. &lt;br /&gt;---------&gt;Begitu pula, dengan pemberitaan yang diturunkan oleh kaum cendekiawan pers. Mereka berusaha membuka pintu cakrawala pengetahuan agar masyarakat lebih memahami, membaca dan mengajak berpikir kritis mengenai fenomena sosial yang tengah berlangsung. Dan, tidak pernah terlintas sedikitpun di benak para cendekiawan pers bahwa berita atau opini yang diliput bermaksud menaikkan pamor di mata masyarakat. &lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, ketahuilah, sungguh tidak mudah berprofesi sebagai cendekiawan pers. Penggunaan paradigma kritis dalam penulisan berita sering dipandang oleh pasivis -yakni, kelompok yang tidak mengenal hal-hal yang berkenaan dengan jurnalistik- melanggar Kode Etik Jurnalistik. Yang sengaja berusaha menyesatkan opini pembaca, mencemarkan nama baik (non) intitusi serta tidak obyektif serta tidak bekerja secara profesional lagi. Tak pelak, hal ini akan menghantarkan para cendekiawan pers mendekam dibalik jeruji. Sungguh, dilema yang amat memprihatinkan.&lt;br /&gt;---------&gt;Bukan hanya itu, penegakan kemerdekaan pers saat ini masih berjalan setengah hati. Kalahnya kasus Tempo dalam meja hijau adalah contoh fakta betapa pemahaman profesi jurnalistik masyarakat -khususnya para hakim yang memutuskan suatu perkara- cenderung bersifat pasivis. Oleh karena itu, banyak-banyaklah "mengkonsumsi" bacaan yang membahas seputar aktifitas pers dan ilmu komunikasi agar kasus-kasus tersebut tidak terulang kembali di kemudian hari. Bila demikian, kemerdekaan pers benar-benar dapat ditegakkan. &lt;br /&gt;---------&gt;Solusi lainnya, pemerintah sudah saatnya turun tangan mendengar suara cendekiawan pers selama ini yang tidak pernah ditindaklanjuti bagaimana pemecahan delik pers. Maklumlah, timbul kerancuan dimata hakim kita, dasar hukum apakah dalam menangani kasus delik pers. UU/Pers ataukah UU/KUHP? &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhAfff5J3I/AAAAAAAAAjw/ORV-UocMYRc/s1600-h/HoldingAward.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhAfff5J3I/AAAAAAAAAjw/ORV-UocMYRc/s200/HoldingAward.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357102666532595570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.scu.edu/sts/techawards/winners.cfm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&gt;Tidak dapat dipungkiri, cendekiawan pers telah menyumbangkan banyak pemikirannya untuk menyebarkan informasi yang berharga kepada kita. Maka, berterimakasihlah kepada mereka sebab tanpa jasanya, kita tidak akan pernah mengetahui kebenaran dibalik akualitas fenomena yang tengah terjadi di masyarakat. Bukankah almarhum Ersa Siregar berani menyumbangkan nyawanya demi melaksanakan tugas mulia ini? &lt;br /&gt;Terakhir, bila memiliki kuasa pemberian gelar akademis, akan saya tempelkan status Honoris of Causa disebelah nama-nama cendekiawan pers. Betapa besar jasamu wahai kaum intelektual yang tersisihkan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;* Pemerhati Masalah Politik&lt;br /&gt;mahasiswa FISIP Jurusan Sosiologi Unej&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsIUoaogDI/AAAAAAAAAPw/PgQxCeT4w7k/s1600-h/Untitled+5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsIUoaogDI/AAAAAAAAAPw/PgQxCeT4w7k/s320/Untitled+5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303842136698421298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-9194607470523767293?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/9194607470523767293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/9194607470523767293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/wartawan-kaum-intelektual-yang.html' title='Wartawan: Kaum Intelektual yang Tersisihkan'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhB4ucoX5I/AAAAAAAAAkA/9N2zdUIoa8A/s72-c/reporter.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-391255020290869280</id><published>2008-08-24T21:22:00.000-07:00</published><updated>2009-11-21T20:24:08.042-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Seutas Benang Hitam Tawuran Remaja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Swi8uVA_3nI/AAAAAAAAA3g/_PJn_T9FzSU/s1600/3D_Chess_Board.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 105px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Swi8uVA_3nI/AAAAAAAAA3g/_PJn_T9FzSU/s200/3D_Chess_Board.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406778856759615090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seutas Benang Hitam&lt;br /&gt;Tawuran Remaja&lt;br /&gt;Oleh: beta chandra wisdata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini pernah diikutkan lomba karya tulis Siswa SMU Jember sebagai nominator dengan "tema tawuran remaja ketika masih duduk di SMU kelas dua aks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Menurut beberapa pengamat sosial, remaja bukanlah suatu sosok kontekstual idomatis semata, namun remaja merupakan suatu figur konseptual dogmatis kultural sebagai next generation dengan “harapan-harapan bangsa” di pundaknya. Dunia remaja, kadang kala orang mengartikan dunia mereka dengan “dunia Lupus” , tidaklah selalu penuh dengan keceriaan, semangat optimisme dan cita-cita yang tinggi. Bahkan dunia keceriaan mereka terkadang menjerumus ke perbuatan asusila yang bahkan melanggar hukum.&lt;br /&gt;--------&gt;Dunia remaja selalu diliputi dengan budaya egosentrisme, sesuatu hal untuk menempatkan dirinya dengan mencari perhatian dari teman-temannya melalui sikap dan tingkah laku yang dibuatnya. Keegosentrisme ini muncul dilatar belakangi oleh beberapa faktor; sosial (apakah individu tersebut dapat diterima oleh lingkungan pergaulannya atau tidak), ekonomi (keluarga tidak mampu; ekonomi yang pas-pasan, keluarga mampu; kurangnya sekuritas yang diberikan oleh orang tua akibat terlalu mengejar karier),&lt;br /&gt;media (pembentukan citra mengenai sosok remaja yang salah, melalui sinetron/film maupun cerita-cerita yang umumnya ‘dibuat-buat’).&lt;br /&gt;--------&gt;Tawuran merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja yang akhir-akhir ini seakan menjadi trend yang mengarah ke tindakan kriminal. Namun secara sosiologis, kenakalan remaja merupakan suatu bentuk perubahan status. Yaitu, pemunculan suatu karakter atau sosok “jagoan” yang ‘ditakuti’ kemudian mengarah ke ‘disegani’ (baik sebagai pribadi maupun kelembagaan (sekolah) yang ditempatinya). Perubahan status ini seakan menimbulkan prestise. Pemunculan status jagoan dapat terjadi bila seorang remaja karena faktor kesengajaan (bila ia menginginkan status itu untuk suatu prestise yang baginya akan memperoleh keuntungan) dan ketidaksengajaan&lt;br /&gt;bila seorang remaja tersebut seringkali terlibat dalam perkelahian, secara otomatis status jagoan akan disandangnya). Predikat dan sekaligus “eksistensi” jagoan ini membutuhkan pengkuan dari teman-teman sebayanya yang muncul baik secara langsung maupun tidak langsnug hal ini biasanya diwujudkan melalui soidaritas yang tinggi diantara mereka.&lt;br /&gt;--------&gt;Dari sini ada proses saling memberi dan saling menerima.&lt;br /&gt;Satu hal yang menjadi polemik adalah bila seorang jagoan (merupakan simbol ‘ditakuti’) terkadang harus melindungi teman-teman yang mengakui keberadaanya yang terancam oleh pihak lain. Atau bila suatu hal yang dirasa akan mengancam eksistensi kejagoannya maka ia akan menjaga imagenya sebagai pembelaan harga diri. Akibat yan terjadi adalah adanya suatu kenyataan sosial yang terjadi dari tindakan-tindakan sosial individdu dalam bentuk negosiasi yang dibangun/diubah sedemikian rupa melalui rekayasa sosial oleh konsensus antar individu/kelompok non formal (semacam geng) sebagai upaya menjaga image-nya dalam mempertahankan harga dirinya, dan teman-temannya memberikan “bantuan” sebagai wujud solidaritas.&lt;br /&gt;--------&gt;Tawuran disini terkadang tidak selalu mempermaslahkan antara mana yang kalah dan mana yang menang. Tetapi bagaimana cara mereka bisa “memberi pelajaran” kepada individu/kelompok yang dianggapnya sebagai musuh. Hal ini berbeda dengan perkelahian satu lawan satu (atau yang disebut dengan duel). Di dalam duel terkadang individu yang kalah mau menerima kekalahannya secara sportif. Namun, bila individu yang kalah ini tidak mau menerima kekalahannya (dengan berbagai alasan, misalnya ia mengaku tidak berbuat kesalahan), maka ia akan memanggil bala (komunitas rekan-rekan sepergaulan hidupnya) sebagai bala bantuan untuk menghajar seseorang yang telah memukulinya. Melihat hal ini, individu yang seharusnya menang juga akan memanggil bala-nya. Akibatnya adalah ada suatu bentrok fisik diantara dua komunitas itu.&lt;br /&gt;--------&gt;Tawuran yang terjadi juga hanya karena masalah sepele, namun di mata mereka yang terlibat malah sebaliknya karena dianggap menginjak harga diri mereka. Melihat fenomena sosial yang ada individu-individu yang menyandang predikat jagoan, terkadang ingin melepaskan status tersebut seiring dengan proses kematangan kedewasaanya. Namun faktor penghambat bagi dirinya adalah menghadapi tantangan pihak lain dalam wujud bentrok fisik.&lt;br /&gt;--------&gt;Oleh karena langkah remaja selalu mengalami perubahan secara sosial sebagai proses transformasi modifikasi generasi, maka dalam menghadapi masalah kenakalan remaja ini haruslah melalui pendekatan-pendekatan nilai-nilai kemanusiaan. Kadang kala diperlukan sanksi tegas sebagai pelajaran baik bagi dirinya maupun bagi yang lain.&lt;br /&gt;--------&gt;Namun ada suatu polemik yang ditimbulkan dari adanya sanksi tegas tersebut, sehingga mengakibatkan mereka semakin terjerumus. Sanksi tegas janganlah hanya digunakan sebagai alasan klasik, misalnya untuk menjaga kredibilitas lembaga (sekolah). Sanksi tegas haruslah dapat berfungsi sebagai kontrol sosial. Sesuaikanlah bentuk sanksi-sanksi tersebut dengan latar belakang yang mempengaruhi individu tersebut. Budaya egosentrisme yang muncul di tengah-tengah pergaulan hidup mereka, sebaiknya diupayakan dengan wujud kegiatan-kegiatan yang positif denagn menyalurkan sesuai bakat dan minat yang didukung dengan fasilitas-fasilitas yang memadai. Untuk itu, dalam menghadapi problematik remaja tidak hanya cukup dengan memberikan bimbingan, namun kontrol sosial dengan sisi humanisme perlu dilakukan mengingat remaja dalam proses pencarian jati diri dapat terarah dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini pernah diikutkan lomba karya tulis Siswa SMU Jember sebagai nominator dengan "tema tawuran remaja ketika masih duduk di SMU kelas dua &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-391255020290869280?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/391255020290869280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/391255020290869280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/seutas-benang-hitam-tawuran-remaja.html' title='Seutas Benang Hitam Tawuran Remaja'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Swi8uVA_3nI/AAAAAAAAA3g/_PJn_T9FzSU/s72-c/3D_Chess_Board.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-4924858459902915678</id><published>2008-08-24T21:07:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T08:39:54.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Antara Mall dan PKL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh9ZZhL-iI/AAAAAAAAAno/ECbPLh7kHhk/s1600-h/development_concept_Dawn_Fraser.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 253px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh9ZZhL-iI/AAAAAAAAAno/ECbPLh7kHhk/s320/development_concept_Dawn_Fraser.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357169632057489954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.sydneyarchitecture.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ANTARA MALL DAN PKL &lt;br /&gt;Oleh : Beta Chandra Wisdata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;artikel ini pernah dimuat di Radar Jember, Jawa Pos 12 oktober 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&gt;PKL atau yang sering disebut dengan Pedagang kaki lima selalu hadir memberikan fenomena tersendiri  khususnya bagi ruang lingkup perkotaan. Salah satu indikasinya adalah PKL menjadi biang penyebab keruwetan dan berdampak pada perusakan keindahan tata kota, yang di Jember dikenal dengan slogan TERBINA, tertib bersih Indah dan Aman.&lt;br /&gt;------------&gt;Akhir-akhir ini kita sering disibukkan dengan pembicaraan sekitar PKL di Jember baik itu dalam interaktif wacana maupun non wacana di seputar masyarakat. Ironis memang bila permasalahan PKL menjadi permasalahan utama di kota Jember yang bukan lagi kota Tembakau menjadi “kota PKL” yang keberadaanya mulai  tersebar dimana-mana. Misalnya, alun-alun ditengah kota di samping tugu adipura, yang kini menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;------------&gt;Secara general, mungkin kita mengetahui sebab-sebab PKL membludak. Yaitu adanya gejala frontierisme (suatu pandangan tentang adanya suatu lahan kosong yang harus dikuasai dan dimanfaatkann), jumlah penganguran yang meningkat, diiringi tidak adanya keseriusan dan ketegasan Pemkab untuk menjalankan UU perda tentang Tata kota.&lt;br /&gt;------------&gt;Namun yang perlu dicermati, adalah kasus itu mencuat ketika gaung pembangunan Mall akan dibangun di kota Jember. Mengindikasikan pemunculan PKL “sengaja” dipolitisasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu, untuk meluluskan pembangunan Mall yang harus memenuhi kriteria beberapa syarat. &lt;br /&gt;------------&gt;Pertama, salah satu syarat pendirian mall adalah dengan menunjukkan adanya tingkat konsumerisme masyarakat tinggi (seperti Tunjungan Plasa Surabaya sebagai simbol perekonomian masyarakat dan ikon kota). Bercermin dari itu, untuk membuktikan bahwa “masyarakat suka belanja”, harus ada pembuktian melalui simbol-simbol tertentu. Keberadaan PKL-pun “diperlukan” untuk merealisasikannnya. Karena PKL yang berada di jalan memudahkan mengamati telah terjadi transaksi jual beli. Kedua, Keberadaan PKL di trotoar akan menimbulkan koflik horisontal, yaitu antara pemilik toko yang merasa dirugikan karena  menutupi areal pertokoannya dengan para “toko ilegal” di depannya. Oleh karena itu langkah-langkah antisipatif (penertiban &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhKUbvaPgI/AAAAAAAAAlQ/HNYIzwgNlAg/s1600-h/310109-pkl-di-terminal.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SlhKUbvaPgI/AAAAAAAAAlQ/HNYIzwgNlAg/s200/310109-pkl-di-terminal.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357113471661653506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.dmsfm.com/dmsfm/?p=2926&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKL baik dilokalisir maupun tidak) diperlukan sebagai upaya menetralisir konflik sebagai tuntutan jaminan atas pembayaran pajak sebagai eksistensi sahnya keberadaan toko. Bertalian dengan itu, pembangunan Mall yang nantinya menambah kas pemerintah daerah  tidak akan “diganggu” sedikitpun oleh PKL. Ketiga, pada saat masyarakat mulai jenuh dengan tersebarnya PKL yang menutupi jalan-jalan dan trotoar, Mall dibutuhkan sebagai penyegar suasana. PKL-pun mulai disingkirkan, akibatnya masyarakat akan terepoti dengan pola belanja yang biasa mereka lakukan di pinggir-pinggir jalan. Kehadiran Mall difungsikan untuk memberikan pembelanjaan yang memberi kesan prestise sebagai alih fungsi pembelanjaan dari sektor “jalanan” menuju sektor “gedongan”.&lt;br /&gt;------------&gt;PKL atau Mall bagaimanapun juga akan berdampak pada pola belanja dan life style masyarakat. Kehadiran keduanya diharapkan mampu memberikan investasi bagi pemerintah daerah demi kemajuan perekonomian kota. PKL sebagai topang hidup masyarakat ekonomi lemah yang berjuang di tengah derasnya arus perkotaan, janganlah selalu divonis sebagai “kambing hitam” bagi keruwetan tata kota. Tapi bagaimanapun juga, kita mengharapkan realisasi penertiban PKL demi terciptanya Jember Terbina yang nantinya bukan ditujukan untuk menaikkan ratting positif penilaian kita terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten yang seharusnya menjadi kewajibannya mengatur fungsi keindahan tata kota melalui ketegasan supremasi hukum.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh936TEaOI/AAAAAAAAAnw/kGoHj8WScQI/s1600-h/kyakya.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh936TEaOI/AAAAAAAAAnw/kGoHj8WScQI/s200/kyakya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357170156252719330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;picture source: http://www.surabaya.go.id/eng/tourism.php?page=kyakya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&gt;Blocking area, ataupun penerapan Kya-kya (surabaya) dan “me-malioborokan” PKL di Jember diharapkan tidak hanya sebagai isu.belaka untuk menarik minat masyarakat Jember agar lebih peduli kepada Jember sebagai kota tercinta. Men-Terbina-kan Jember Terbina, bukanlah diawali dengan penertiban PKL sebagai peningkatan pelayanan publik maupun pembangunan Mall tetapi harus dimulai dengan struktur birokrasi Pemerintah Kabupaten. Pemerintah kabupaten haruslah mampu meningkatkan pelayanan keprofesionalismenya dengan menegakkan supremasi hukum demi terciptanya good govenancet dan clean government. Agar nantinya, Jember Terbina bukanlah slogan kebasa-basian belaka. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;* Mahasiswa FISIP UNEJ JURUSAN SOSIOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsMIaq3r7I/AAAAAAAAAQw/8CW9qFvpQWs/s1600-h/Untitled+12.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsMIaq3r7I/AAAAAAAAAQw/8CW9qFvpQWs/s320/Untitled+12.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303846324896509874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-4924858459902915678?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/4924858459902915678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/4924858459902915678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/antara-mall-dan-pkl.html' title='Antara Mall dan PKL'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh9ZZhL-iI/AAAAAAAAAno/ECbPLh7kHhk/s72-c/development_concept_Dawn_Fraser.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-4053766956179492687</id><published>2008-08-24T20:46:00.000-07:00</published><updated>2009-11-22T04:51:41.191-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Pemberdayaan Listrik Masuk Desa (PLMD)</title><content type='html'>&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 212px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SliXxod626I/AAAAAAAAAqQ/H9QGFa3zRKo/s320/energy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357198635689499554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.photobucket.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBERDAYAAN &lt;br /&gt;LISTRIK MASUK DESA &lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;dimuat di harian Jawapos, Radar Jember group pada tanggal 04 January 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwjQMxFL--I/AAAAAAAAA4g/zA0QD9wGfoM/s1600/3267619961_de08b3f23b.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SwjQMxFL--I/AAAAAAAAA4g/zA0QD9wGfoM/s200/3267619961_de08b3f23b.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406800270410382306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://images.google.co.id//&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&gt;Istilah Listrik Masuk Desa mungkin sudah akrab di telinga kita. Sebagai salah satu program pembangunan pemerintah, kebijakan ini seakan menjadi tolak ukur bagi keberhasilan pemerintah dalam upaya pengentasan desa tertinggal. Hal ini mudah dipahami, mengingat listrik tidak hanya berfungsi sebagai penerangan semata melainkan sekaligus menjadi komponen utama dalam memajukan  perekonomian desa. &lt;br /&gt;Namun permasalahannya, pelaksanaan program tersebut seringkali tidak merata. Sebagai contoh dari hasil tinjauan penulis di desa Manggisan Sungai Tengah Tanggul-Jember, program Listrik Masuk Desa belum menyentuh daerah ini. Menurut penduduk setempat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, mereka telah mencoba mengajukan permasalahan ini kepada pemerintah melalui perwakilannya (tetua-tetua desa). Selain itu, mereka mengumpulkan sebagian pendapatannya dari hasil panen untuk membelikan tiang-tiang listrik agar proses Listrik Masuk Desa berjalan lancar. Pada kenyataannya, sampai saat ini mereka belum mendapatkan jawaban dari pemerintah. &lt;br /&gt;-------&gt;Akibatnya, penerangan rumah-rumah disandarkan pada penggunaan turbin air, yaitu sejenis kincir air yang diletakkan di sepanjang aliran sungai untuk memproduksi “listrik buatan”. &lt;br /&gt;-------&gt;Perkembangan selanjutnya, penggunaan turbin air itu menyebabkan pengairan sawah menjadi sedikit terganggu terlebih ketika musim kemarau datang. Dalam konteks ini, penempatan turbin air menghambat aliran air sungai yang menuju ke sawah sehingga produksi pertanian menjadi menurun. Ironisnya, persoalan ini makin diperparah dengan kondisi jalan yang rusak dan tidak beraspal padahal jalan tersebut adalah satu-satunya penghubung dari desa ke kota. Lebih-lebih, tindakan kriminalitas seperti pencurian kendaraan bermotor semakin meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu kegiatan penjualan dan pengiriman hasil panen ke kota  terhambat. &lt;br /&gt;Bila demikian, ketergantungan masyarakat setempat terhadap kota cenderung signifikan  dengan diiringi tidak tersedianya alternatif penyerapan tenaga kerja. Ilustrasi ini dapat dijelaskan dari banyaknya masyarakat setempat yang alih profesi menjadi tenaga kerja Indonesia untuk ditempatkan diluar negeri seperti di Malaysia dan Arab Saudi. Untuk itu, arus urbanisasi di desa ini dapat dikatakan relatif tinggi.&lt;br /&gt;-------&gt;Berangkat dari paparan diatas, muncul sebuah pertanyaan mendasar dimanakah bentuk peningkatan kualitas pelayanan pemerintah (baca: PLN) terhadap masyarakat setelah kenaikan tarif dasar listrik beberapa waktu yang lalu? Dengan kata lain,kenaikan tarif dasar listrik belum memberikan manfaat sosial-ekonomisnya ke seluruh lapisan masyarakat. Secara obyektif contoh fakta tersebut mengindikasikan bila pemerintah mengabaikan kepeduliannya dalam upaya mengentaskan desa tertinggal. &lt;br /&gt;-------&gt;Mungkin benar seperti yang diungkapkan oleh Suwarsono dan Alvin Y. (1991), “sikap negatif” pemerintah tidak hanya terlihat pada tersendatnya pembangunan sistem ekonomi tradisional pedesaan tetapi juga pada pengembangan modernisasi. Dengan demikian, pembangunan dan modernisasi tampaknya hanya dilakukan di daerah core (pusat kota) saja dan belum mencapai daerah pheryperial (pinggiran).&lt;br /&gt;-------&gt;Sementara itu, asumsi awal kita terhadap pedesaan adalah suatu tempat yang mencerminkan “adat ketimuran” dimana kedinamisan selalu mewarnai kehidupan antar masyarakat pedesaan. Sebagai contoh menjunjung tinggi nilai adat istiadat setempat yang tercemin dalam ikatan solidaritas masyarakat. Akan tetapi pendapat ini patut dicermati lebih dalam karena hambatan struktural diatas dikhawatirkan dapat memicu potensi konflik. Meskipun sejauh ini belum ditemukan bentuk konflik manifest seperti perkelahian yang mempermasalahkan pengairan sawah.&lt;br /&gt;-------&gt;Dari sini dapat disimpulkan bila penghambat pembangunan adalah tidak terealisasinya program Listrik Masuk Desa. Demikian juga dengan lemahnya pembenahan jalur transportasi yang menambah kompleksitas kemandekan struktur pembangunan. Dalam kaitan ini, tidak terjaminnya kesejahteraan masyarakat desa akan berdampak pada turunnya perekonomian desa. &lt;br /&gt;-------&gt;Oleh karena itu, dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional diperlukan prinsip accountabiliy dalam birokrasi pemerintah (Tjokroamidjojo,1990). Sebab, pengelolaan pembangunan tidak akan efektif tanpa diiringi prinsip bertanggung jawab sepenuhnya kepada masyarakat. Untuk itu, sudah sepatutnya pemerintah merealisasikan program Listrik Masuk Desa tanpa terkecuali agar pemerataan pembangunan tercapai di seluruh lapisan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*pemerhati masalah politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsHU1EI1QI/AAAAAAAAAPg/wr0DfQtCYJ0/s1600-h/Untitled+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsHU1EI1QI/AAAAAAAAAPg/wr0DfQtCYJ0/s320/Untitled+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303841040582104322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsHlIXX9DI/AAAAAAAAAPo/uaBJIJWSnMg/s1600-h/Untitled+14.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsHlIXX9DI/AAAAAAAAAPo/uaBJIJWSnMg/s320/Untitled+14.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303841320640967730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-4053766956179492687?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/4053766956179492687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/4053766956179492687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/pemberdayaan-listrik-masuk-desa-plmd.html' title='Pemberdayaan Listrik Masuk Desa (PLMD)'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SliXxod626I/AAAAAAAAAqQ/H9QGFa3zRKo/s72-c/energy.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-7706345905838786151</id><published>2008-08-24T19:39:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T08:40:54.266-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Etika Cakada Terpilih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh_K8jQxfI/AAAAAAAAAn4/mYOEQglSRR0/s1600-h/undergrounds.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 306px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh_K8jQxfI/AAAAAAAAAn4/mYOEQglSRR0/s320/undergrounds.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357171582786651634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ETIKA POLITIK CAKADA TERPILIH&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini pernah dimuat di Radar Jember, Jawa Pos pada tanggal 3 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Setelah pelaksanaan pilkada, terutama terbentuknya pemerintahan baru yang telah berjalan beberapa bulan ini. Terdapat fenomena menarik tentang perilaku para elit politik yaitu cakada (calon kepala daerah) terpilih. Mereka seakan-akan harus diperlakukan sebagai "malaikat" yang dapat sesegera mungkin menyelesaikan segala persoalan begitu kompleks 1001 permasalahan daerah masing-masing. Berarti, sang "malaikat" mempunyai beban tugas dan kewajiban politik begitu berat agar harapan masyarakat terbebas dari belenggu keterpurukan multidimensional tidak berlarut-berlarut. &lt;br /&gt;--------&gt;Untuk maksud itu, tingkah laku para cakada terpilih sejatinya tetap berada dalam koridor aturan-aturan normatif yang telah baku sebagai acuan etika berpolitik yang baik, benar, sopan, dan santun. Bahkan lebih daripada itu, etika tersebut harus juga mengandung makna akuntabilitas publik dalam arti yang sebenarnya. Bila demikian, di satu sisi kepercayaan masyarakat dapat ditumbuhkembangkan secara optimal. Sedangkan di sisi yang lain kinerja para politisi tersebut dapat dipertanggung jawabkan baik secara moral, ideologis, maupun konstitusional.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh_cF4fzMI/AAAAAAAAAoA/uFckGgXNlqM/s1600-h/hukum-pemerintahan-daerah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh_cF4fzMI/AAAAAAAAAoA/uFckGgXNlqM/s200/hukum-pemerintahan-daerah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357171877349412034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://samsulwahidin.files.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Bila kita cermati, nampaknya ada kecenderungan perilaku para politisi mulai keluar dari etika politik yang baik, benar, sopan, santun dan akuntabel. Hal ini dapat dibaca ketika para elit politisi melakukan manuver politik dalam bentuk koalisi berbagai partai politik di putaran akhir pilkada yang tidak dilandasi oleh semangat memajukan daerah. Melainkan lebih mengarah pada kepentingan sesaat pribadi-pribadi para elit politik dan kelompoknya. Koalisi yang dibentuk oleh para tokoh partai-partai besar pemenang pilkada demi meraup suara "sebesar" yang dihasilkan dalam pemilu legislatif atau capres-cawapres lalu juga berlaku pada pemilu pilkada.&lt;br /&gt;--------&gt;Kenyataannya suara yang diperoleh jauh dari yang diharapkan. Ini jelas mengindikasikan bahwa kepentingan politik elit tidak selalu sinkron dengan kepentingan politik masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat hanya dianggap sebagai konsumen politik sedangkan para politisi memperlakukan dirinya sebagai satu-satunya produsen politik.   &lt;br /&gt;--------&gt;Selain kekalahan yang cukup menimbulkan perasaan aib karena gagalnya mesin politik cakada yang berfungsi secara tidak optimal, pembentukan koalisi ini justru menimbulkan juga perpecahan internal pada masing-masing parpol yang bergabung dalam koalisi tersebut. Alasannya mesin politik tidak sepenuhnya dijalankan sehingga semua pihak saling menyalahkan yang kemudian berpengaruh negatif terhadap para loyalis cakada masing-masing. Fenomena ini, tentu saja sangat tidak produktif bagi perkembangan pembelajaran politik yang sehat pada masyarakat serta proses demokratisasi yang sedang dibangun sejak reformasi digulirkan. Oleh karena itu, ke depan perlu dipertimbangkan lagi pembentukan koalisi-koalisi antar parpol yang lebih elegan sehingga tidak lagi mengandung kesan bahwa rakyat diposisikan sebagai konsumen politik belaka.  &lt;br /&gt; --------&gt;Semua ini menjadi semakin urgen dan relevan di saat-saat terakhir menjelang berfungsinya pemerintahan baru dengan naiknya pasangan Djalal sebagai cakada terpilih secara langsung oleh masyarakat Jember. Pada tataran ini, satu "modal" politik sangat vital sudah diperoleh pasangan Djalal karena dengan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung rakyat tidak lagi diperlakukan sebagai konsumen politik. Sebagai pemegang supremasi kekuasan daerah, cakada terpilih dituntut pula agar dapat mempersiapkan diri seoptimal mungkin untuk menjadi tidak saja politisi handal tetapi juga pemimpin yang arif dan bijaksana. &lt;br /&gt; --------&gt;Dalam konteks ini, sudah seharusnya cakada terpilih, tidak akan lagi memperlakukan masyarakat semata-mata sebagai konsumen politik. Sebaliknya, produsen politik bukan lagi monopoli kekuasaan cakada terpilih termasuk elit-elit politik yang akan menempati posisi penting di pemerintahan daerah. Distribusi kekuasaan politik hendaknya disebarkan secara merata dan proporsional pada semua elemen masyarakat sehingga ruh demokratisasi benar-benar dapat dirasakan dan dinikmati sesuai dengan makna demokratisasi itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SnPP4QL8XFI/AAAAAAAAA0A/GewW1dRgX10/s1600-h/1224932781Pilkada-pidie-jaya.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SnPP4QL8XFI/AAAAAAAAA0A/GewW1dRgX10/s200/1224932781Pilkada-pidie-jaya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364860146453077074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.rakyataceh.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Meskipun kita semua tahu, figur cakada tidak dapat dilepaskan dari latar belakang historis, visi dan misi namun tidak harus serta merta kinerja politiknya ke depan dimaknai akan penuh dengan sikap-sikap dan perilaku politik yang elegan. Hal ini penting diingat karena langkah awal pasangan Djalal menapaki puncak tangga kekuasaan daerah berlandaskan kepercayaan dan legitimasi rakyat melalui pemilu secara langsung. Dalam bahasa politik, terpilihnya pasangan Djalal secara langsung oleh rakyat maka kekuasaan yang sebentar lagi akan dipegang secara formal selama lima tahun mendatang harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan azas-azas demokratisasi yang disadarkan pada supremasi sipil. &lt;br /&gt;--------&gt;Dalam kaitan ini, prinsip-prinsip dan azas-azas demokratisasi yang disadarkan pada supremasi sipil hendaknya dapat mewujudkan partisipasi masyarakat sebagai modal sosial utama baik dalam pelaksanaan politik pemerintahan maupun politik pembangunan nasional ke depan. Pada saat yang bersamaan, mobilisasi masyarakat sudah seharusnya ditinggalkan. Sebab, mobilisasi tidak mengandung makna pembelajaran melainkan lebih merupakan tindakan pembodohan politik secara massif. Bila demikian, ke depan proses demokratisasi di Indonesia pasti akan berlangsung dengan baik dan tidak akan terdengar lagi terjadinya penindasan sisi-sisi humanitas pada semua elemen masyarakat. Dalam bahasa yang lebih tegas, proses demokratisasi yang sedang dibangun selain akan bermakna positif bagi kehidupan politik bangsa juga menjadi dasar atau penyangga kuat bagi tegaknya prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang tertuang dalam konsep Hak Asasi Manusia (HAM). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*pemerhati masalah politik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct Version : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsLcLQld1I/AAAAAAAAAQg/l9lkx8Z6jHc/s1600-h/Untitled+10.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsLcLQld1I/AAAAAAAAAQg/l9lkx8Z6jHc/s320/Untitled+10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303845564845487954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-7706345905838786151?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/7706345905838786151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/7706345905838786151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/etika-cakada-terpilih_24.html' title='Etika Cakada Terpilih'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/Slh_K8jQxfI/AAAAAAAAAn4/mYOEQglSRR0/s72-c/undergrounds.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-4321746357486296699</id><published>2008-08-24T19:22:00.001-07:00</published><updated>2009-11-21T20:27:44.150-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Politisasi Konversi UAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SliAbqGzfMI/AAAAAAAAAoQ/YD2zEUMHWjQ/s1600-h/ist2_57262_scantron_optical_scan_exam_and_pencil.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SliAbqGzfMI/AAAAAAAAAoQ/YD2zEUMHWjQ/s200/ist2_57262_scantron_optical_scan_exam_and_pencil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357172969404857538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www2.istockphoto.com/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;POLITISASI KONVERSI UAN&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini pernah dimuat Indo Pos 25 Juni 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&gt;Seperti yang diduga banyak pihak khususnya pengamat pendidikan, penerapan koversi nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) dengan metode statistika yang menyamaratakan standar kelulusan UAN sebesar 4,01 akhirnya menuai kontroversi, bahkan cenderung dikritik habis-habisan. Sebab kehendak pemerintah (dalam hal ini Depdiknas) melakukan “demokratisasi” di bidang pendidikan namun dalam realitasnya justru sebagai bentuk diskriminasi, atau bahkan “pemberangusan” terhadap benih-benih dan potensi-potensi intelektual anak didik yang sedang dan akan tumbuh. &lt;br /&gt;--------&gt;Dalam konversi itu yang dijadikan patokan keberhasilan mutu pendidikan nasional hanya terfokus pada naik atau turunnya diagram variabel angka-angka. Bukan ditinjau dari kemampuan daya tangkap dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran.&lt;br /&gt;Padahal latar belakang kemampuan intelektual masing-masing siswa berbeda-beda. &lt;br /&gt;Secara diametral antara yang baik dan tidak baik (untuk tidak mengatakan siwa bodoh dan siswa pintar atau cerdas). Pembedaan ini sangat ditentukan oleh paling tidak oleh dua faktor, internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari diri siswa sendiri tiada lain adalah factor genetik atau keturunan (bawaan sejak lahir). &lt;br /&gt;--------&gt;Adapun faktor-faktor eksternal mencakup lingkungan (environment) baik di tingkat keluarga maupun sosial kemasyarakatan. Secara sosiologis, proses internalisasi nilai-nilai dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian lingkungan sosial semakin mempertegas terbentuknya proses institusionalisasi nilai-nilai tersebut. Selain itu, faktor tingkat sosial ekonomi keluarga, faktor lokalitas secara geografis dalam artian lingkungan hidup perkotaan dan pedesaan berpengaruh juga secara signifikan sehingga membuat jarak intelektualitas sangat dalam di antara masing-masing siswa. Realitas ini tentu tidak dapat dihapus begitu saja hanya dengan sebuah kebijakan tentang konversi nilai UAN yang sangat diskriminatif itu. &lt;br /&gt;--------&gt;Oleh karena pendidikan merupakan sarana penting bagi setiap orang untuk menataki tangga-tangga social (social ladder) ke jenjang status yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, mobilitas social yang seharusnya dialami oleh setiap siswa yang berprestasi tidak akan menjadi kenyataan. Pada gilirannya, jangan heran jika akan banyak siswa-siwa yang secara intelektual sangat potensial akan menjadi apatis dan patah arang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;--------&gt;Bila hal ini benar-benar terjadi, dunia pendidikan nasional akan terpuruk semakin dalam dan akan semakin tertinggal jauh dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Singapore, Filipina, dan sebagainya. Penyebab utamanya, sejak rezim Orde Baru berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa dunia pendidikan kita selalu diabaikan. Ironisnya, selama masa reformasi ini belum ada tanda-tanda perbaikan secara sungguh-sungguh. Bahkan secara tiba-tiba muncul kebijakan konversi nilai UAN yang sangat meresahkan banyak kalangan masyarakat. &lt;br /&gt;--------&gt;Semestinya, kebijakan konversi UAN tersebut perlu didiskusikan terlebih dahulu dengan pakar-pakar pendidikan agar niat dan tujuan untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional dapat dicapai dengan lebih baik. Lebih dari itu, sejak dini harus dipahami dan disadari oleh para pengambul kebijakan pendidikan di tingkat pusat bahwa siswa bukan alat untuk dijadikan "kelinci percobaan" bagi setiap langkah kebijakan yang akan diambil. &lt;br /&gt;--------&gt;Siswa adalah tunas-tunas bangsa yang harus dikelola dengan baik demi masa depan Indonesia yang cerdas, bermartabat, dan punya harga diri sejajar dengan bangsa-bansa lain yang sudah lebih dahulu mengungguli kita di hampir segala bidang ilmu pengetahuan, tehnologi dan peradaban. &lt;br /&gt;--------&gt;Tantangan dan tugas kita bersama ke depan adalah mengangkat kembali dunia pendidikan nasional yang sudah semakin terpuruk ini. Untuk itu, hindari mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kontraproduktif terhadap perkembangan dunia pendidikan seperti dikeluarkannya kebijakan tentang konversi nilai UAN yang ternyta dikritik habis-habisan oleh hampir semua kalangan masyarakat. &lt;br /&gt;--------&gt;Barangkali yang tidak kalah pentingnya, janganlah sekali-kali kebijakan pendidikan nasional dijadikan komoditas politik demi keuntungunnya salah satu golongan dalam memenangkan pemilihan presiden dan wakilnya periode 2004-2009 nanti. Sebab, banyak sinyalemen yang mengarah ke sana.. Pada beberapa materi kampanye capres-cawapres selalu menjanjikan pendidikan murah atau bahkan gratis jika mereka terpilih kelak. &lt;br /&gt;--------&gt;Isu pendidikan memang lebih efektif dijadikan tema kampanye capres-cawapres karena realitasnya pendidikan telah merupakan barang mewah yang hanya bisa dinikmati secara optimal oleh mereka yang berada di lapisan menengah atas, dan terutama kalangan atas semata. Rakyat kecil harus gigit jari, tanpa tahu harus berbuat apa karena ketidak berdayaannya baik secara ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik (dalam arti tidak memiliki akses ke pusat-pusat kekuasaan).&lt;br /&gt;--------&gt;Bersadarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa dunia pendidikan nasional kita kini semakin terpuruk oleh kebijakan yang diskrimininatif terhadap potensi-potensi intelektual siswa. Selain itu, ada kecenderungan kebijakan pendidikan dijadikan komoditas politik oleh para elit tententu demi memenangkan capres-cawapres dalam pemilu 5 Juli mendatang. &lt;br /&gt;--------&gt;Pertanyaannya kemudian, apakah dengan terpilihnya mereka sebagai presiden dan wakil presiden baru nanti dunia pendidikan kita akan semakin baik sesuai dengan janji-janji yang mereka lontarkan selama kampanye? Atau sebaliknya, justru semakin terpuruk? Untuk itu, kita harus rela bersabar menantinya, karena segala sesuatu memang harus memerlukan proses. Semua orang Indonesia tentu akan menunggu hasil proses tersebut sebagaimana yang mereka harapkan dan dambakan yaitu pendidikan yang murah, merata, dan berkualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*pemerhati masalah politik&lt;br /&gt;Mahasiswa FISIP Jurusan Sosiologi Unej&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Direct  Version :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsIq_bsgFI/AAAAAAAAAP4/FsVxPOIbG3g/s1600-h/Untitled+6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SZsIq_bsgFI/AAAAAAAAAP4/FsVxPOIbG3g/s320/Untitled+6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303842520834015314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.&lt;br /&gt;BEST REGARDS,&lt;br /&gt;BCW.&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2900486563404532601-4321746357486296699?l=beta-chandra-wisdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/4321746357486296699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2900486563404532601/posts/default/4321746357486296699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beta-chandra-wisdata.blogspot.com/2008/08/politisasi-konversi-uan.html' title='Politisasi Konversi UAN'/><author><name>POLITIK KITA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05862111095812413777</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SliAbqGzfMI/AAAAAAAAAoQ/YD2zEUMHWjQ/s72-c/ist2_57262_scantron_optical_scan_exam_and_pencil.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2900486563404532601.post-6764872548024440810</id><published>2008-08-24T19:19:00.001-07:00</published><updated>2009-11-21T20:29:26.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel politik'/><title type='text'>Menyikapi Demonstrasi Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SnPUHU9C8FI/AAAAAAAAA0Q/M5ls9jzbH_s/s1600-h/tsi5_delacroix_001f.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 254px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o8l1F7zs4MY/SnPUHU9C8FI/AAAAAAAAA0Q/M5ls9jzbH_s/s320/tsi5_delacroix_001f.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364864803477319762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;picture source: http://www.histoire-image.org/photo/zoom/tsi5_delacroix_001f.jpg&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MENYIKAPI DEMONSTRASI MAHASISWA&lt;br /&gt;Oleh: Beta Chandra Wisdata*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini pernah dimuat di Radar Jember, Jawa Pos tanggal 23 Mei 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&gt;Tuntutan agar Soeharto lengser dari kursi presiden sebenarnya pernah mencuat di oenghunjung tahun 1978. Pada waktu itu, mahasiswa bersama elemen masyarakat termasuk didalamnya sejumlah tokoh ilmuwan kritis dan progresif turun ke jalan demi menolak masuknya modal asing khususnya dari Jepang. Pasalnya, dibalik pemberian bantuan modal asing dari luar seringkali disusupi kepentingan politis seperti ikut mencampuri urusan pemerintahan dalam negeri. Apalagi, masyarakat tidak menginginkan bangkitnya perekonomian nasional bergantung kepada negara lain. &lt;br /&gt;------&gt;Fenomena ini kemudian dikenal dengan nama peristiwa Malari (15 Januari). Sayang tuntutan penurunan Soeharto itu berhasi  dipatahkan melalui tindakan represif militer. Para aktivis mahasiswa beserta tokoh intelektual kritis diculik. Ada beberapa yang kembali namun tidak sedikit yang belum diketahui rimbanya.  &lt;br /&gt; ------&gt;Tidak hanya itu, pengalaman yang hampir membuat Soeharto terjungkal dari kursi presiden membuatnya perlu mengeluarkan kebijakan Normalisasi Keadaan Kampus serta gerakan Belajar dan Kembali ke Kampus (NKK/BKK). Mahasiswa tidak diijinkan lagi menyuarakan kekritisannya secara langsung seperti demonstrasi. Segala bentuk aktivisme mahasiswa-pun dibekukan. Organisasi mahasiswa esktrakurikuler yang pada waktu itu sangat vokal dalam memperjuangkan hak-hak rakyat tertindas dibubarkan&lt;br /&gt;------&gt;Mahasiswa diwajibkan menyibukkan diri di dalam kegiatan kampus saja seperti yang terlihat dari slogan Kuliah, Kerja, Nikah (KKN) dan tidak boleh ikut menyikapi perkembangan situasi dan kondisi politik nasional. Ironisnya, budaya romantisme tersebut mulai merasuki sistem pengajaran dan pendidikan nasional. Selama duduk di bangku sekolah sampai perkuliahan, perserta didik didoktrin bahwa politik praktis merupakan bagian dari kegiatan makar yang dapat mengancam keselamatan negara yang selalu berakhir anarkhis. Oleh karena itu, segala bentuk kegiatan aksi protes dapat dikategorikan tindakan kriminal yang dapat dikenai hukuman pidana. &lt;br /&gt;------&gt;Perlu dipahami sebelumnya bahwa makna anarkhis sesungguhnya adalah salah satu cabang filsafat yang mengajarkan seseorang membela kebebasan dan kemerdekaan setiap individu. Berbeda dengan chaos yang berarti mencuiptakan suasana kacau seperti kerusuhan. Soeharto agaknya mulai mengaburkan arti anarkhisme layaknya chaos agar masyarakat tidak berani mempelajarinya apalagi mempraksiskannya ajaran filsafat pembebasan tersebut. Oleh karena itu, bacaan-bacaan "kiri" seperti eksistensialisme, marxisme, anarkhisme dan sebagainya yang menekankan pembebasan dan perlawanan dari kesewenang-wenangan dicabut peredarannya dari toko buku. &lt;br /&gt; ------&gt;Banyak kasus yang menceritakan, di jaman Orde baru, mahasiswa yang memiliki serta menyimpan buku-buku "kiri" dijebloskan penjara karena dianggap berusaha melawan pemerintahan yang sah. Bahkan mereka dituduh sebagai anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Sementara itu diskusi yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dan kalangan akademisi dengan mengambil perkembangan politik nasional itu tidak boleh melenceng dari jalur yang ditetapkan pemerintah seperti dilarang mengkritik kebijakan pembangunan Soeharto. Praktisnya, gerakan intelektual dan kekritisan masyarakat akademis semakin dibatasi. &lt;br /&gt; ------&gt;Kini, setelah Soeharto lengser gerakan intelektual dan peyuaraan kekritisan mahasiswa baik yang dilakuk
