Mahasiswa Sosok Pahlawan Ideal?

MAHASISWA SOSOK PAHLAWAN IDEAL?
Oleh: Beta Chandra Wisdata
dimuat di koran nasional Jawa Pos, 16 Februari 2007


picture source: http://www.kompas.com


------->Setiap bulan November tiba, di benak masyarakat terkenang peristiwa heroik perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan bangsa. Sejarah mencatat, pertempuran rakyat terhadap agresi tentara sekutu berlangsung cukup seru. Banyak hal yang harus dikorbankan terutama di pihak anak negeri sendiri. Inilah puncak epos kepahlawanan nasional dan sekaligus pembuktikan rasa cinta tanah air yang tinggi.
------->Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai heroisme tersebut dijadikan acuan kaum muda sebagai contoh nyata dalam rangka bela negara. Namun demikian, tulisan kali ini tidak akan membahas persoalan sejauh itu. Tetapi khusus membahas bagaimana mencari sosok pahlawan di mata kaum muda yang mulai bergeser ditengah serbuan era modernisme. Tepatnya era kontemporer.
------->Pada umumnya, pahlawan adalah figur (seseorang atau sekelompok orang) yang berjasa besar menyumbangkan jiwa dan raganya demi hal-hal prinsipil. Tentu saja upaya untuk mewujudkannya dan hasilnya akan membawa dampak positif di masyarakat dari segi humanisme, moral serta pembangunan. Dalam konteks nasionalisme, pahlawan dapat juga diartikan sebagai seseorang yang mengusir penjajah di zaman kolonial. Sosoknya sudah jelas mulai dari karakteristik, tahap-tahap perjuangan, sampai bentuk perjuangan revolusioner beresiko tinggi yaitu dilakukan secara langsung (frontal).
------->Tampaknya, semuanya itu kurang relevan untuk diterapkan bagi kaum muda. Negeri telah lepas dari penjajahan -meskipun sekarang terdapat indikasi metamorfosis bentuk kolonialisme baru dalam praktek ekonomi-politik itu persoalan lain-. Lebih dari itu, zaman telah bergerak jauh meninggalkan belakang menuju ke fase (post)modernitas. Sehingga, bentuk pengabdian kepada nusa dan bangsa disesuaikan menurut kebutuhan dan tuntutan zaman.
------->Yang menjadi permasalahan, esensi pahlawan mulai dikaburkan. Asalkan memenuhi beberapa kriteria, seseorang layak menyandang status sosial "pahlawan". Sehingga, siapapun dapat dimasukkan kedalam kategori ini tak terkecuali kaum muda (mahasiswa). Meski kita memahami bahwa mahasiswa selalu terdepan menanggapi perubahan sosial-politik pemerintahan. Lebih-lebih keberhasilannya mendobrak kebekuan demokrasi untuk kesekian kali, puncaknya kejatuhan "parlemen diktaktoriat" Soeharto dari kursi tahta pemerintahan setelah 32 tahun tiada kekuatan sosial satu pun yang mampu mengusiknya (Nur Elya Anggraini/11/09/04). Tapi, penulis kira, terlalu berlebihan bila kelompok mahasiswa revolusioner ini dianggap mewakili sosok ideal pahlawan masa kini. Bukan lantaran penegakan reformasi sekarang ini berjalan tersendat-sendat. Atau, hilangnya idealisme mahasiswa menjunjung kebenaran dan keadilan. Melainkan, latar belakang mahasiswa yang terlibat hedonisme, seks bebas, narkoba dan perilaku-perilaku negatif lainnya.
2007
------->Memang benar, tidak ada gading yang tak retak. Artinya, segala sesuatunya pasti memiliki kekurangan dan kebaikan masing-masing. Namun, tidak kita tidak bisa mengagung-agungkan seseorang atau sekelompok orang sebagai pahlawan bila latar belakang kehidupannya penuh diwarnai perilaku negatif. Sebab perjuangan seorang pahlawan tak dapat dipisahkan dari perilakunya. Dikhawatirkan, segala tingkah laku seorang pahlawan seringkali akan diikuti oleh "pemujanya". Apalagi mereka yang sedang dalam proses pencarian jati diri seperti remaja.
------->Lantas, bagaimana mencari sosok pahlawan bagi kaum muda? Idealnya, sosok pahlawan nasional-lah yang dapat menjawab pertanyaan ini. Sebab, pahlawan nasional umumnya mewarisi karakteristik yang ideal. Ia bertanggung jawab secara moral dan ideologis (agama), menerapkan prinsip solidaritas-etis, berani mempertahankan kebenaran dan keadilan meski dalam kondisi-kondisi yang terjepit,disiplin tinggi serta sadar akan iptek sebagaimana yang dicontohkan oleh Tan Malaka.
------->Nah, dari sini kita diharapkan mulai berhati-hati mencari sosok dan memberikan status pahlawan di kemudian hari. Sebab, pengalaman di era orba (Orde Baru) banyak gelar kehormatan pahlawan diberikan begitu saja untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan penguasa. Amat disayangkan, di jaman reformasi ini sedikit sekali perhatian besar pemerintah untuk menelaah kembali gelar kepahlawanan sarat kontroversi itu. Terbukti, niat baik upaya pelurusan sejarah peristiwa-peristiwa besar beserta kehidupan para pahlawan nasional belum juga ditunjukkan. Padahal ini sangat penting untuk mendidik generasi bangsa akibat mulai "lunturnya" sosok pahlawan sebagai figur panutan karena pengaruh-pengaruh luar (asing).
------->Akhirnya, tugas penting mahasiswa adalah (kaum muda) adalah mengisi kemerdekaan ini mengingat jerih payah dan pengorbanan pahlawan nasional tiada dibandingkan oleh bentuk apapun. Oleh karena itu, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas, intelektual, adil dan makmur serta menjunjung supremasi hukum. Sudah semestinya, kaum muda merelakan status simbol kepahlawanannya yng dimilikinya agar tidak terjebak sifat narsistik yang berlebihan. Sebab, bumi pertiwi masih menunggu sumbang asih intelektualisme kaum muda baik langsung maupun tidak langsung. Mungkinkah terwujud?


*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jember



Direct Version :


This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.
BEST REGARDS,
BCW.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maestro

A. Selamat hari Ilmu Pengetahuan & Intelektual

"10 JANUARI" SOEDJATMOKO

B. Selamat hari Novel & Cerpen

"6 FEBRUARI" PRAMOEDYA ANANTA TOER

C. Selamat hari Bulutangkis

"28 FEBRUARI" LIEM SWIE KING

D. Selamat hari Musik

"3 MARET" W.R SUPRATMAN

E. Selamat hari Puisi

"28 APRIL" CHAIRIL ANWAR

F. Selamat hari Pelukis Rakyat

"23 MEI" AFFANDI

G. Selamat hari Pahlawan Kemerdekaan Nasional

“2 JUNI “ IBRAHIM DATUK TAN MALAKA

H. Selamat Bulan Kesuma Cinematography

"2 OKTOBER - 25 DESEMBER" RIRI RIZA-CRISTHINE HAKIM

I. Selamat hari Pahlawan Kebudayaan

“7 NOVEMBER” WS. RENDRA

J. Selamat hari Emansipasi HAM Indonesia

“8 DESEMBER” MUNIR

------0-------