BONEK DAN GAYA HIDUP AMOK


picture source : http://www.vivanesw.com

‘BONEK’ DAN GAYA HIDUP AMOK
Oleh : Beta Chandra Wisdata *

artikel ini dimuat di Jawa Pos/Radar Jember, pada tanggal 03 Maret 2010.



-------->Munculnya tindakan-tindakan brutal yang dilakukan oleh para demonstran sebagai buntut carut-marutnya kehidupan sosial-politik ini menambah keprihatinan kita semua. Ada yang menilai tindakan ini tak ubahnya perangai bonek yang menyatakan luapan pernyataan ekspresi mengemukakan pendapat sering berbuah ungkapan kekecewaan akibat sebuah kekalahan tim kesebelasan sepakbola. Stigma negative ini melekat dan berakhir tragis seperti kejadian bonek dari generasi-kalangan muda yang terbaring koma di rumah sakit (Koran ini/28/02/2010).



picture source : http://www.ratedesi.com

-------->Yang menjadi pertanyaan, mengapa semua itu bisa terjadi? Apakah benar mereka terstigma sehingga tak ada lain selain menghantarkan ke rumah sakit? Apakah bonek terkesan dengan amok sudah menjadi salah satu bentuk ‘gaya hidup’ para demonstran akibat label atau predikat yang terlanjur mereka terima itu dimaknainya sebagai suatu simbol legitimasi untuk berbuat nekad bermotif politik. Yaitu berupa tindakan kekerasan seperti bonek yang muncul ketika para pendukung fanatik suatu tim kesebelasan di Jawa Timur berulah brutal setiap kali aspirasi kurang didengar? Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
-------->Konteks bonek memang berbeda secara mendasar dengan demonstrasi. Tetapi jika dicermati, ada kemiripan. Sebagaimana kita ketahui bersama, bonek lebih menekankan pada luapan emosi tidak sesuai tempatnya jika dalam pertandingan itu tim kesayangannya kalah. Kebrutalan mereka mulanya masih dalam batas-batas yang bisa ditoleransi. Karena hanya berupa tindakan melempar botol plastik bekas tempat minuman ke tengah lapangan, atau membakar mercon warna. Mungkin yang paling keras merusak beberapa kursi penonton yang ada di stadion tempat berlangsungnya pertandingan. Kini kebrutalan mereka sudah semakin merajalela bahkan sulit untuk ditoleransi.













picture source http://www.caktopan.wordpress.com


-------->Kata bonek itu sendiri merupakan kepanjangan dari kata bahasa Jawa bondo nekat yang terjemahan bebasnya melakukakan sesuatu hanya bermodalkan nekat. Kenyataannya mereka memang hanya memiliki modal nekat baik dalam artian ekonomik maupun sosial. Secara ekonomik, setiap kali mereka menonton pertandingan sepakbola untuk mendukung tim kesebelasan kesayangannya setiap kali itu pula tanpa bekal uang sepeserpun. Bahkan ketika tim kesebelasan yang didukungnya harus bertanding ke luar kota Surabaya, misalnya ke Malang, Yogyakarta, sampai ke Jakarta mereka tetap melakukan hal yang sama (tanpa bekal uang yang cukup).
-------->Sementara itu, demonstrasi yang dilakukan hampir di sejumlah wilayah termasuk di Jember, secara sosial, merupakan konsekuensi logis dari sikap dan perilaku nekat akibat ketertekanan hidup, mereka pun nekat melangggar semua rambu-rambu aturan sosial seperti yang selama ini kita saksikan bersama. Oleh karena itulah, seperti makna bonek, makna demonstrasi sudah sudah terlejitimasikan atau legitimized. Pihak yang melejitimasikannya justru dari kalangan ‘elit birokrasi’ yang kemudian didukung oleh khalayak,. Lengkaplah sudah institusi-insitusi pendukung eksistensi kaum bonek dan para demonstran. Padahal – sebagaimana telah disebutkan di atas – lejitimasi terhadap label atau predikat bonek itu atau demonstran tidaklah semata-mata berdimensi ekonomik tapi juga memberi lejitimasi dalam dimensi sosial, yang secara khusus berupa perilaku kekerasan.
-------->Akibatnya, seorang bonek atau demonstran cenderung untuk selalu bersikap dan berperilaku atas dasar kedua dimensi tersebut. Oleh karena itu, janganlah disesali apabila sikap dan perilaku para bonek atau demonstran yang kita saksikan selama ini menunjukkkan kebrutalan yang semakin memperihatinkan, tidak berbeda lagi dengan perilaku amok.
-------->Menurut kamus, amok berasal dari kata bahasa Melayu yang sering dideskripsikan sebagai menyerang secara membabi buta, menjadi sangat marah atau liar, atau berlari seperti orang gila yang haus darah. Senada dengan pengertian itu, menurut Jhon C. Spores dalam bukunya Running Amok an Historical Inquiry (2005:139) kata amok ketika dipakai dalam konteks tingkah laku manusia menunjuk pada pengertian hiruk-pikuk, tidak pandang bulu, dan agresi untuk membunuh. Dengan demikian, seseorang yang melakukan amok didefinisikan sebagai seseorang yang ingin membunuh setiap orang yang ditemuinya. Di Jember yang bergaris kultural religius, istilah ini melekat kepada setiap bentuk kekerasan massa dengan perbuatan “penistaan”.
-------->Menyaksikan sikap dan perilaku para demonstan yang mirip bonek sekarang bertebaran dan semakin brutal kiranya perlu mulai dipertimbangkan kembali penggunaan sebutan bonek dan demonstran yang sudah terlanjur terlejitimasikan (legitimized) dengan istilah lain yang tidak mengandung makna (perilaku kekerasan) sebagai salah satu upaya untuk meredamnya. Jika tidak, sebutan tersebut tentu akan semakin membentuk sikap dan perilaku massa yang semakin nekat sehingga sulit membedakannya dengan perilaku amok.
-------->Jika hal tersebut terus berlanjut maka tidak mustahil bonek dan demonstran – tidak saja sebagai kata benda melainkan lebih bermakna sebagai kata sifat – akan menjadi simbol dari suatu gaya hidup (life style) perilaku kekerasan terutama di sebuah wilayah yang mencari ambang batas jati diri kebudayaan tidak hanya di kota besar Jakarta, Tapanuli dan lain-lain. Tak terkecuali di kota kecil seperti Jember Relijius. Oleh karena gaya hidup sangat erat kaitannya dengan identitas diri, sehingga sekali terbentuk akan sulit untuk mengubahnya. Dalam konteks ini, jika sebutan demonstran tetap dipertahankan, mudah dipahami apabila mereka akan terus berupaya menampilkan gaya hidup ala bonek itu demi semakin mempertegas identitas kelompoknya. Dan, kita semua berharap agar perilaku penistaan kekerasan massa baik yang dilakukan oleh bonek, demonstran dan aparat kepolisian yang menghantarkan kepada perawatan rumah sakit takkan terulang di kemudian hari. Kekeerasaan tragis yang telah menggejala di kota-kota besar seharusnya tidak terjadi di kota Jember.




picture source: http://blog-apa-saja.blogspot.com


-------->Sebab, Jember telah dikenal sebagai “kota kondusif” yang memelihara semangat pluralitas semangat kebersamaan dan rasa perdamaian-kedamaian di lingkungan penuh nuansa religiutas seharusnya mampu menyelesaikan perkara secara bijak bahkan brillian. Semoga mampu dijadikan bahan renungan!***


* Pemerhati sosial-politik


gambar artikel

This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds
--------------------------------------------------------------------
THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT.
WITH ALL HONOUR AND RESPECT.
BEST REGARDS,
BCW.
--------------------------------------------------------------------

Maestro

A. Selamat hari Ilmu Pengetahuan & Intelektual

"10 JANUARI" SOEDJATMOKO

B. Selamat hari Novel & Cerpen

"6 FEBRUARI" PRAMOEDYA ANANTA TOER

C. Selamat hari Bulutangkis

"28 FEBRUARI" LIEM SWIE KING

D. Selamat hari Musik

"3 MARET" W.R SUPRATMAN

E. Selamat hari Puisi

"28 APRIL" CHAIRIL ANWAR

F. Selamat hari Pelukis Rakyat

"23 MEI" AFFANDI

G. Selamat hari Pahlawan Kemerdekaan Nasional

“2 JUNI “ IBRAHIM DATUK TAN MALAKA

H. Selamat Bulan Kesuma Cinematography

"2 OKTOBER - 25 DESEMBER" RIRI RIZA-CRISTHINE HAKIM

I. Selamat hari Pahlawan Kebudayaan

“7 NOVEMBER” WS. RENDRA

J. Selamat hari Emansipasi HAM Indonesia

“8 DESEMBER” MUNIR

------0-------