Wartawan: Kaum Intelektual yang Tersisihkan


picture source: http://www.rift.com/~sacha/pictures/web/reporter.jpg


WARTAWAN: KAUM INTELEKTUAL
YANG TERSISIHKAN
Oleh: Beta Chandra Wisdata*

Karya ini pernah dimuat di Radar Jember, Jawa Pos 20 Juni 2004


with all respect & honour picture source taken from: http://physik.uni-augsburg.de

--------->Kesan yang sering ditangkap masyarakat terhadap profesi jurnalistik umumnya digambarkan sebagai pelapor suatu fenomena. Implikasinya, wartawan tidak pernah ditempatkan pada posisi utama yang berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
--------->Kata pengganti yang terkesan menyepelekan profesi mereka dapat dilihat dari penyebutan "kuli disket". Disini, 'kuli' sama artinya dengan 'tukang' atau 'pekerja kasar'. Tentu saja, hal demikian bertentangan dengan kondisi realitas pekerjaan mulia wartawan yang membutuhkan intelektualitas dalam memproduksi wacana.
Idealnya, wartawan lebih baik bila dipanggil dengan 'cendekiawan pers'. Sebab terdapat eksistensi harga diri didalam teks. Dalam kaitannya, makna 'cendekiawan pers' lebih menghargai jerih payah wartawan yang setiap hari dituntut mengerutkan dahi (baca: berpikir) demi mengejar deadlines.
--------->Syarat utama untuk menjadi cendekiawan pers, minimal, memiliki kemampuan menulis. Mengutip pendapat Firman (Radar Jember/25/04/04), seseorang yang berkubang dalam dunia tulis-menulis dapat dipastikan kegemaran membaca buku sangat tinggi. Ide-ide segar, ketajamanan analisis, pemilihan dan penggantian diksi yang dituangkan dalam tulisan tidak bisa muncul secara tiba-tiba tanpa rajin membaca buku. Oleh karena itu, jangan remehkan kadar intelektualitas seorang penulis termasuk didalamnya para cendekiawan pers.
--------->Namun demikian, hal ini bukan dimaksudkan untuk membanggakan diri sendiri akibat terjebak triumpfatilisme (Beta Chandra Wisdata, Jawa Pos/20/03/04). Sebagaimana yang sering dialami oleh para penulis pemula yang mengirimkan artikel di koran hanya untuk mencari popularitas semata. Sejatinya, tujuan menulis "karya ilmiah" ini adalah mencerahkan pemikiran masyarakat.
--------->Begitu pula, dengan pemberitaan yang diturunkan oleh kaum cendekiawan pers. Mereka berusaha membuka pintu cakrawala pengetahuan agar masyarakat lebih memahami, membaca dan mengajak berpikir kritis mengenai fenomena sosial yang tengah berlangsung. Dan, tidak pernah terlintas sedikitpun di benak para cendekiawan pers bahwa berita atau opini yang diliput bermaksud menaikkan pamor di mata masyarakat.
Pembaca yang budiman, ketahuilah, sungguh tidak mudah berprofesi sebagai cendekiawan pers. Penggunaan paradigma kritis dalam penulisan berita sering dipandang oleh pasivis -yakni, kelompok yang tidak mengenal hal-hal yang berkenaan dengan jurnalistik- melanggar Kode Etik Jurnalistik. Yang sengaja berusaha menyesatkan opini pembaca, mencemarkan nama baik (non) intitusi serta tidak obyektif serta tidak bekerja secara profesional lagi. Tak pelak, hal ini akan menghantarkan para cendekiawan pers mendekam dibalik jeruji. Sungguh, dilema yang amat memprihatinkan.
--------->Bukan hanya itu, penegakan kemerdekaan pers saat ini masih berjalan setengah hati. Kalahnya kasus Tempo dalam meja hijau adalah contoh fakta betapa pemahaman profesi jurnalistik masyarakat -khususnya para hakim yang memutuskan suatu perkara- cenderung bersifat pasivis. Oleh karena itu, banyak-banyaklah "mengkonsumsi" bacaan yang membahas seputar aktifitas pers dan ilmu komunikasi agar kasus-kasus tersebut tidak terulang kembali di kemudian hari. Bila demikian, kemerdekaan pers benar-benar dapat ditegakkan.
--------->Solusi lainnya, pemerintah sudah saatnya turun tangan mendengar suara cendekiawan pers selama ini yang tidak pernah ditindaklanjuti bagaimana pemecahan delik pers. Maklumlah, timbul kerancuan dimata hakim kita, dasar hukum apakah dalam menangani kasus delik pers. UU/Pers ataukah UU/KUHP?


picture source: http://www.scu.edu/sts/techawards/winners.cfm

--------->Tidak dapat dipungkiri, cendekiawan pers telah menyumbangkan banyak pemikirannya untuk menyebarkan informasi yang berharga kepada kita. Maka, berterimakasihlah kepada mereka sebab tanpa jasanya, kita tidak akan pernah mengetahui kebenaran dibalik akualitas fenomena yang tengah terjadi di masyarakat. Bukankah almarhum Ersa Siregar berani menyumbangkan nyawanya demi melaksanakan tugas mulia ini?
Terakhir, bila memiliki kuasa pemberian gelar akademis, akan saya tempelkan status Honoris of Causa disebelah nama-nama cendekiawan pers. Betapa besar jasamu wahai kaum intelektual yang tersisihkan!

* Pemerhati Masalah Politik
mahasiswa FISIP Jurusan Sosiologi Unej






Direct Version :


This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.
BEST REGARDS,
BCW.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maestro

A. Selamat hari Ilmu Pengetahuan & Intelektual

"10 JANUARI" SOEDJATMOKO

B. Selamat hari Novel & Cerpen

"6 FEBRUARI" PRAMOEDYA ANANTA TOER

C. Selamat hari Bulutangkis

"28 FEBRUARI" LIEM SWIE KING

D. Selamat hari Musik

"3 MARET" W.R SUPRATMAN

E. Selamat hari Puisi

"28 APRIL" CHAIRIL ANWAR

F. Selamat hari Pelukis Rakyat

"23 MEI" AFFANDI

G. Selamat hari Pahlawan Kemerdekaan Nasional

“2 JUNI “ IBRAHIM DATUK TAN MALAKA

H. Selamat Bulan Kesuma Cinematography

"2 OKTOBER - 25 DESEMBER" RIRI RIZA-CRISTHINE HAKIM

I. Selamat hari Pahlawan Kebudayaan

“7 NOVEMBER” WS. RENDRA

J. Selamat hari Emansipasi HAM Indonesia

“8 DESEMBER” MUNIR

------0-------

picture source: http://www.photobucket.com

picture source: http://www.photobucket.com