
picture source: http://www.photobucket.com
ETIKA POLITIK CAKADA TERPILIH
Oleh: Beta Chandra Wisdata
Artikel ini pernah dimuat di Radar Jember, Jawa Pos pada tanggal 3 Juli 2005
-------->Setelah pelaksanaan pilkada, terutama terbentuknya pemerintahan baru yang telah berjalan beberapa bulan ini. Terdapat fenomena menarik tentang perilaku para elit politik yaitu cakada (calon kepala daerah) terpilih. Mereka seakan-akan harus diperlakukan sebagai "malaikat" yang dapat sesegera mungkin menyelesaikan segala persoalan begitu kompleks 1001 permasalahan daerah masing-masing. Berarti, sang "malaikat" mempunyai beban tugas dan kewajiban politik begitu berat agar harapan masyarakat terbebas dari belenggu keterpurukan multidimensional tidak berlarut-berlarut.
-------->Untuk maksud itu, tingkah laku para cakada terpilih sejatinya tetap berada dalam koridor aturan-aturan normatif yang telah baku sebagai acuan etika berpolitik yang baik, benar, sopan, dan santun. Bahkan lebih daripada itu, etika tersebut harus juga mengandung makna akuntabilitas publik dalam arti yang sebenarnya. Bila demikian, di satu sisi kepercayaan masyarakat dapat ditumbuhkembangkan secara optimal. Sedangkan di sisi yang lain kinerja para politisi tersebut dapat dipertanggung jawabkan baik secara moral, ideologis, maupun konstitusional.

picture source: http://samsulwahidin.files.wordpress.com
-------->Bila kita cermati, nampaknya ada kecenderungan perilaku para politisi mulai keluar dari etika politik yang baik, benar, sopan, santun dan akuntabel. Hal ini dapat dibaca ketika para elit politisi melakukan manuver politik dalam bentuk koalisi berbagai partai politik di putaran akhir pilkada yang tidak dilandasi oleh semangat memajukan daerah. Melainkan lebih mengarah pada kepentingan sesaat pribadi-pribadi para elit politik dan kelompoknya. Koalisi yang dibentuk oleh para tokoh partai-partai besar pemenang pilkada demi meraup suara "sebesar" yang dihasilkan dalam pemilu legislatif atau capres-cawapres lalu juga berlaku pada pemilu pilkada.
-------->Kenyataannya suara yang diperoleh jauh dari yang diharapkan. Ini jelas mengindikasikan bahwa kepentingan politik elit tidak selalu sinkron dengan kepentingan politik masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat hanya dianggap sebagai konsumen politik sedangkan para politisi memperlakukan dirinya sebagai satu-satunya produsen politik.
-------->Selain kekalahan yang cukup menimbulkan perasaan aib karena gagalnya mesin politik cakada yang berfungsi secara tidak optimal, pembentukan koalisi ini justru menimbulkan juga perpecahan internal pada masing-masing parpol yang bergabung dalam koalisi tersebut. Alasannya mesin politik tidak sepenuhnya dijalankan sehingga semua pihak saling menyalahkan yang kemudian berpengaruh negatif terhadap para loyalis cakada masing-masing. Fenomena ini, tentu saja sangat tidak produktif bagi perkembangan pembelajaran politik yang sehat pada masyarakat serta proses demokratisasi yang sedang dibangun sejak reformasi digulirkan. Oleh karena itu, ke depan perlu dipertimbangkan lagi pembentukan koalisi-koalisi antar parpol yang lebih elegan sehingga tidak lagi mengandung kesan bahwa rakyat diposisikan sebagai konsumen politik belaka.
-------->Semua ini menjadi semakin urgen dan relevan di saat-saat terakhir menjelang berfungsinya pemerintahan baru dengan naiknya pasangan Djalal sebagai cakada terpilih secara langsung oleh masyarakat Jember. Pada tataran ini, satu "modal" politik sangat vital sudah diperoleh pasangan Djalal karena dengan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung rakyat tidak lagi diperlakukan sebagai konsumen politik. Sebagai pemegang supremasi kekuasan daerah, cakada terpilih dituntut pula agar dapat mempersiapkan diri seoptimal mungkin untuk menjadi tidak saja politisi handal tetapi juga pemimpin yang arif dan bijaksana.
-------->Dalam konteks ini, sudah seharusnya cakada terpilih, tidak akan lagi memperlakukan masyarakat semata-mata sebagai konsumen politik. Sebaliknya, produsen politik bukan lagi monopoli kekuasaan cakada terpilih termasuk elit-elit politik yang akan menempati posisi penting di pemerintahan daerah. Distribusi kekuasaan politik hendaknya disebarkan secara merata dan proporsional pada semua elemen masyarakat sehingga ruh demokratisasi benar-benar dapat dirasakan dan dinikmati sesuai dengan makna demokratisasi itu sendiri.

picture source: http://www.rakyataceh.com
-------->Meskipun kita semua tahu, figur cakada tidak dapat dilepaskan dari latar belakang historis, visi dan misi namun tidak harus serta merta kinerja politiknya ke depan dimaknai akan penuh dengan sikap-sikap dan perilaku politik yang elegan. Hal ini penting diingat karena langkah awal pasangan Djalal menapaki puncak tangga kekuasaan daerah berlandaskan kepercayaan dan legitimasi rakyat melalui pemilu secara langsung. Dalam bahasa politik, terpilihnya pasangan Djalal secara langsung oleh rakyat maka kekuasaan yang sebentar lagi akan dipegang secara formal selama lima tahun mendatang harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan azas-azas demokratisasi yang disadarkan pada supremasi sipil.
-------->Dalam kaitan ini, prinsip-prinsip dan azas-azas demokratisasi yang disadarkan pada supremasi sipil hendaknya dapat mewujudkan partisipasi masyarakat sebagai modal sosial utama baik dalam pelaksanaan politik pemerintahan maupun politik pembangunan nasional ke depan. Pada saat yang bersamaan, mobilisasi masyarakat sudah seharusnya ditinggalkan. Sebab, mobilisasi tidak mengandung makna pembelajaran melainkan lebih merupakan tindakan pembodohan politik secara massif. Bila demikian, ke depan proses demokratisasi di Indonesia pasti akan berlangsung dengan baik dan tidak akan terdengar lagi terjadinya penindasan sisi-sisi humanitas pada semua elemen masyarakat. Dalam bahasa yang lebih tegas, proses demokratisasi yang sedang dibangun selain akan bermakna positif bagi kehidupan politik bangsa juga menjadi dasar atau penyangga kuat bagi tegaknya prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang tertuang dalam konsep Hak Asasi Manusia (HAM).
*pemerhati masalah politik
Direct Version :

This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.
BEST REGARDS,
BCW.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
