SUMBANGAN PEMIKIRAN KARL MAY BAGI ETIKA POLITIK POLITISASI OLEH : BETA CHANDRA WISDATA
dimuat di OPINI politik Kompas/www.kompas.com/11/03/2011
------->Bagi anda penggemar novel non fiksi, pasti pernah mendengar nama Karl May pengarang “Winnetou” yang sempat menghentak ranah sastra selama lebih dari satu abad bahkan sampai detik ini. Namun demikian, apakah hasil pemikirannya itu bisa dianalogikan dengan permasalahan etika politik? Untuk beberapa alasan mendasar, saya kira hal itu bisa dilakukan. Pertama, pandangannya sangat diwarnai penjunjungan tinggi prinsip kebenaran, kejujuran (keluguan?), keadilan dan kebersamaan sebagaimana yang dikisahkan dalam petualangan Old Sattherhand di alam bebas bersama sahabatnya (Winnetou) dari suku Indian. Esensi filosofis yang dapat ditangkap dari perjalanannya ke berbagai daerah (negara), mereka merantau bukan dalam pengertian geografis. Melainkan berusaha meningkatkan kematangan pola pikir, empirisme dan keterbukaan akan nilai-nilai positif dari luar.
------->Bahkan, kepentingan individu yang dilandasi aspek psikologis (emosional) akibat terjebak situasi perang antar kelompok sosial justru dihilangkan. Misalnya, ketika Winnetou bersama pasukannya tertangkap oleh suku Comanche, Old Sattherhand berani menepuh segala resiko untuk menyelamatkan mereka. Padahal Old Satterhand sebelumnya pernah diancam akan dibunuh oleh Winnetou gara-gara kesalahan fatal kawannya. (lihat: Winnetou edisi I, 2004). Dalam perkembangan lebih lanjut lagi, banyak tindakan simbolik yang ditunjukkan oleh persahabatan mereka mampu menghapus semangat klanisme. Disini, tentu saja dalam pengertian lebih luas. Kepentingan egoisme kelompok atau individu dialihkan menjadi penghargaan humanisme!
------->Kedua, Winnetou dan Old Satterhand mampu membangun sikap komunikatif. Mereka mau mengakui kesalahan masing-masing secara obyektif melalui proses saling memberi dan saling menerima (take and give) diantara keduanya. Dengan demikian, mereka berhasil membentuk etika politik yang menghargai perbedaan-perbedaan prinsipil. Malahan sebuah kesepakatan bersama merupakan kebenaran yang harus dijunjung tinggi sekalipun dalam wujud upacara tradisional. Coba simak ketika Old Satterhand menghirup pipa perdamaian dan meminum tetesan darah Winnetou.
------->Sementara itu, Karl May menceritakan dengan seksama bahwa Winnetou dan Old Satterhand memiliki karakter yang sama. Old Satterhand sebenarnya adalah west man, disini merupakan Karl May secara simbolik menyatakan west man yang memiliki karakteristik dan perilaku ideal. Sementara itu, Winnetou merupakan seorang kepala suku Indian. Sebagai pemimpin yang bijaksana keduanya berusaha memberikan contoh konkrit bahwa status sosial bukanlah segalanya. Status sosial itu bersifat sementara sebab terbatas ruang apalagi waktu.
------->Nah, masih segar di benak kita pemberitaan tingkah laku negatif para anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) di pusat maupun daerah -bahkan juga didalam rapat nasional membahas urusan rumah tangga negara - yang tampaknya telah keluar dari jalur etika politik yang benar sebagaimana telah dicontohkan oleh Old Sattherhand dan Winnetou diatas. Lagi-lagi politisi kita, berbuat manuver politik yang aneh-aneh untuk merebutkan kekuasaan. Bila boleh saya menyebutnya hal ini menjurus pada politik anarkhi, singkatnya sebut saja “poli-anarkhi“. Definisinya adalah menghalalkan segala cara -termasuk mengambil jalan pintas- demi meraih kekuasaan dengan merusak tatanan stabilitas politik yang mulai terbentuk sejak pemilu berakhir. Mirip melebih paham yang dianjurkan Machiacelli. Aturan permainannya, siapa yang berhasil memenangkan “perang” dialah pemenang. Barangkali, kekuasaan bagi mereka adalah status sosial puncak kemulyaan tertinggi.
------->Maka, prinsip klanisme diterapkan. Sebagian kelompok menggabungkan diri dan menamakan dirinya sebagai “oposisi loyal”. Meski tujuan ini baik untuk mengontrol kebijakan pemerintahan baru. Ironisnya kelompok ini terbentuk karena unsur psikologis (bahkan emosional) akibat kalah bertarung di pemilu kemarin. Yang satu lagi adalah kelompok “status quo”. Kemenangannya sah secara konstitusi dan prosedural sehingga lebih dapat dipertanggung jawabkan. Jika Old Sattherhand dan Winnetou menjunjung tinggi nilai kebenaran dan kesepakatan bersama, tidak demikian halnya bagi mereka. Kebenaran diukur dari kebaikan masing-masing kelompok. Beginilah mekanisme demokrasi politik di negara kita semua serba membingungkan dan tidak jelas apakah tujuan akhir yang ingin dicapai. Masalahnya, persaingan suara di pemilu diteruskan sampai duduk di kursi pemerintahan.
------->Lalu, rakyat berada di pihak mana? Rakyat pun terombang-ambing dibuatnya. Ada yang pro kelompok “status quo” atau sebaliknya ikut-ikutan menjadi oposisi “loyal”. Tetapi, kebanyakan rakyat mulai apatis dengan semua itu. Sebab, rakyat mulai tidak dapat mentelorir ongkos sosial yang harus dibayar implikasinya nanti.
------->Meski kita memaklumi bahwa jabatan politik merupakan hak wakil rakyat - hanya karena mereka telah dipilih secara langsung oleh rakyat-, apakah bisa kepercayaan yang telah diberikan dalam pemilu kemarin diminta kembali oleh rakyat? Nasi memang telah menjadi bubur, semuanya telah berjalan laksana hukum alam. Politisi telah berpetualang bebas di alam birokrasi. Petualangan ini telah beralih dari dimensi politik ke ekonomik. Seharusnya dimensi politik yang bermakna kedewasaan politik dalam arti mau menerima kekalahan dengan lapang dada, berubah menjadi ajang pertarungan untuk kepentingan-kepentingan ekonomi pribadi. Ironisnya, dimensi politik tadi justru meningkatkan pengalaman politik mereka sehingga menjadi “poli-anarkhi” yang semakin canggih tanpa menghargai harkat dan martabat kemanusiaan.
------->Seperti pepatah mengatakan: datang tampak muka, pulang tampak punggung. Mereka mempertontonkan baku tikam tanpa memperdulikan kawan atau lawan, yang mereka pikirkan hanyalah kepentingan ekonomi pribadi dan kelompoknya. Demi tujuan itu, mereka senang mendramatisir hal-hal yang sebenarnya remeh menjadi permasalahan baru yang terkesan rumit dan tidak segera dicarikan pemecahan terbaiknya. Akibat sikap dan perilaku mereka, yang menjadi korban adalah rakyat. Mungkin para anggota DPR tersebut tidak sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan akan menjadi bahan penilaian rakyat untuk pemilu legislatif yang akan akan digelar lima tahun mendatang. Bahkan, ironisnya, para wakil rakyat senang plesir dibalik melaksanakan tugas pemerintahan studi bangding ke luar negeri. Tentu hal demikian merupakan sebuah ironi di tengah kemampuan wakil rakyat agar mampu diandalkan.
------->Kini tugas semua elemen masyarakat untuk menggugah kesadaran anggota DPR agar kembali ke etika politik yang benar. Misalnya, anggota DPR harus bisa mengucapkan kata ‘Howgh!’ (dengan tanda seru) agar berhati-hati dalam setiap bersikap terutama bertutur kata. Perlu diketahui, Howgh adalah ungkapan yang selalu diucapkan oleh Winnetou ketika mengambil kebijakan penting atau memutuskan sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama. Dengan begitu, rakyat bisa menuntut langsung jika perbuatan anggota DPR telah melenceng dari koridor etika politik yang baik dan benar. Sehingga, para politisi tak bisa lagi berpura-pura menjadi seorang greenhorn (sebutan bagi Old Sattherhand) yang selalu bersikap polos (inocent) dan rendah hati namun berani mempertanggung jawabkan atas segala apa yang telah diperbuatnya.
------->Akhir kata, konfrontasi politik yang sering terjadi, tindakan plesir akhir-akhir ini barangkali perlu diminimalisir dengan meminjam pipa perdamaian milik Winnetou agar konflik tidak semakin berlarut-larut. Atau, bila hal ini tidak cukup, agaknya mereka perlu menerapkan “ritual meminum tetesan darah satu sama lain”. Tujuannya adalah menyadarkan bahwa sesama anggota DPR adalah bersaudara tanpa harus dibedakan oleh sekat-sekat ideologis dan kepentingan individu maupun kelompok. Bila demikian, kehancuran stabilitas politik dapat dihindari. Pada gilirannya, tugas dan kewajiban anggota DPR mengangkat derajat kehidupan rakyat dapat direalisasikan secara optimal. Sebab, rakyatlah pemegang kedaulatan secara penuh di republik ini!!!. Sebab, mereka bukanlah dewa yang tampaknya selalu diagung-agungkan. Dalam konteks ini segala perilaku dan tanggung jawab melaksanakan tugas harian dianggap misi suci. Padahal, tindakan itu sarat dengan budaya korupsi yang tak. Barangkali kita, perlu merenung makna filosofis Vergilius (2004): “Sesungguhnya terlalu gila dan bijaksana mempercayakan Roma kepada perlindungan dewa-dewa… Dan, adalah masuk akal untuk percaya, bahwa bukannya Roma luput dari kehancurannya seandainya dewa-dewa telah binasa sejak lama, seandainya Roma tak berusaha menyelamatkan mereka..”
POLITIK KITA
Mahasiswa Sosok Pahlawan Ideal?
MAHASISWA SOSOK PAHLAWAN IDEAL?
Oleh: Beta Chandra Wisdata
dimuat di koran nasional Jawa Pos, 16 Februari 2007
picture source: http://www.kompas.com
------->Setiap bulan November tiba, di benak masyarakat terkenang peristiwa heroik perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan bangsa. Sejarah mencatat, pertempuran rakyat terhadap agresi tentara sekutu berlangsung cukup seru. Banyak hal yang harus dikorbankan terutama di pihak anak negeri sendiri. Inilah puncak epos kepahlawanan nasional dan sekaligus pembuktikan rasa cinta tanah air yang tinggi.
------->Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai heroisme tersebut dijadikan acuan kaum muda sebagai contoh nyata dalam rangka bela negara. Namun demikian, tulisan kali ini tidak akan membahas persoalan sejauh itu. Tetapi khusus membahas bagaimana mencari sosok pahlawan di mata kaum muda yang mulai bergeser ditengah serbuan era modernisme. Tepatnya era kontemporer.
------->Pada umumnya, pahlawan adalah figur (seseorang atau sekelompok orang) yang berjasa besar menyumbangkan jiwa dan raganya demi hal-hal prinsipil. Tentu saja upaya untuk mewujudkannya dan hasilnya akan membawa dampak positif di masyarakat dari segi humanisme, moral serta pembangunan. Dalam konteks nasionalisme, pahlawan dapat juga diartikan sebagai seseorang yang mengusir penjajah di zaman kolonial. Sosoknya sudah jelas mulai dari karakteristik, tahap-tahap perjuangan, sampai bentuk perjuangan revolusioner beresiko tinggi yaitu dilakukan secara langsung (frontal).
------->Tampaknya, semuanya itu kurang relevan untuk diterapkan bagi kaum muda. Negeri telah lepas dari penjajahan -meskipun sekarang terdapat indikasi metamorfosis bentuk kolonialisme baru dalam praktek ekonomi-politik itu persoalan lain-. Lebih dari itu, zaman telah bergerak jauh meninggalkan belakang menuju ke fase (post)modernitas. Sehingga, bentuk pengabdian kepada nusa dan bangsa disesuaikan menurut kebutuhan dan tuntutan zaman.
------->Yang menjadi permasalahan, esensi pahlawan mulai dikaburkan. Asalkan memenuhi beberapa kriteria, seseorang layak menyandang status sosial "pahlawan". Sehingga, siapapun dapat dimasukkan kedalam kategori ini tak terkecuali kaum muda (mahasiswa). Meski kita memahami bahwa mahasiswa selalu terdepan menanggapi perubahan sosial-politik pemerintahan. Lebih-lebih keberhasilannya mendobrak kebekuan demokrasi untuk kesekian kali, puncaknya kejatuhan "parlemen diktaktoriat" Soeharto dari kursi tahta pemerintahan setelah 32 tahun tiada kekuatan sosial satu pun yang mampu mengusiknya (Nur Elya Anggraini/11/09/04). Tapi, penulis kira, terlalu berlebihan bila kelompok mahasiswa revolusioner ini dianggap mewakili sosok ideal pahlawan masa kini. Bukan lantaran penegakan reformasi sekarang ini berjalan tersendat-sendat. Atau, hilangnya idealisme mahasiswa menjunjung kebenaran dan keadilan. Melainkan, latar belakang mahasiswa yang terlibat hedonisme, seks bebas, narkoba dan perilaku-perilaku negatif lainnya.
2007
------->Memang benar, tidak ada gading yang tak retak. Artinya, segala sesuatunya pasti memiliki kekurangan dan kebaikan masing-masing. Namun, tidak kita tidak bisa mengagung-agungkan seseorang atau sekelompok orang sebagai pahlawan bila latar belakang kehidupannya penuh diwarnai perilaku negatif. Sebab perjuangan seorang pahlawan tak dapat dipisahkan dari perilakunya. Dikhawatirkan, segala tingkah laku seorang pahlawan seringkali akan diikuti oleh "pemujanya". Apalagi mereka yang sedang dalam proses pencarian jati diri seperti remaja.
------->Lantas, bagaimana mencari sosok pahlawan bagi kaum muda? Idealnya, sosok pahlawan nasional-lah yang dapat menjawab pertanyaan ini. Sebab, pahlawan nasional umumnya mewarisi karakteristik yang ideal. Ia bertanggung jawab secara moral dan ideologis (agama), menerapkan prinsip solidaritas-etis, berani mempertahankan kebenaran dan keadilan meski dalam kondisi-kondisi yang terjepit,disiplin tinggi serta sadar akan iptek sebagaimana yang dicontohkan oleh Tan Malaka.
------->Nah, dari sini kita diharapkan mulai berhati-hati mencari sosok dan memberikan status pahlawan di kemudian hari. Sebab, pengalaman di era orba (Orde Baru) banyak gelar kehormatan pahlawan diberikan begitu saja untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan penguasa. Amat disayangkan, di jaman reformasi ini sedikit sekali perhatian besar pemerintah untuk menelaah kembali gelar kepahlawanan sarat kontroversi itu. Terbukti, niat baik upaya pelurusan sejarah peristiwa-peristiwa besar beserta kehidupan para pahlawan nasional belum juga ditunjukkan. Padahal ini sangat penting untuk mendidik generasi bangsa akibat mulai "lunturnya" sosok pahlawan sebagai figur panutan karena pengaruh-pengaruh luar (asing).
------->Akhirnya, tugas penting mahasiswa adalah (kaum muda) adalah mengisi kemerdekaan ini mengingat jerih payah dan pengorbanan pahlawan nasional tiada dibandingkan oleh bentuk apapun. Oleh karena itu, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas, intelektual, adil dan makmur serta menjunjung supremasi hukum. Sudah semestinya, kaum muda merelakan status simbol kepahlawanannya yng dimilikinya agar tidak terjebak sifat narsistik yang berlebihan. Sebab, bumi pertiwi masih menunggu sumbang asih intelektualisme kaum muda baik langsung maupun tidak langsung. Mungkinkah terwujud?
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jember
Direct Version :

This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.
BEST REGARDS,
BCW.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh: Beta Chandra Wisdata
dimuat di koran nasional Jawa Pos, 16 Februari 2007
picture source: http://www.kompas.com------->Setiap bulan November tiba, di benak masyarakat terkenang peristiwa heroik perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan bangsa. Sejarah mencatat, pertempuran rakyat terhadap agresi tentara sekutu berlangsung cukup seru. Banyak hal yang harus dikorbankan terutama di pihak anak negeri sendiri. Inilah puncak epos kepahlawanan nasional dan sekaligus pembuktikan rasa cinta tanah air yang tinggi.
------->Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai heroisme tersebut dijadikan acuan kaum muda sebagai contoh nyata dalam rangka bela negara. Namun demikian, tulisan kali ini tidak akan membahas persoalan sejauh itu. Tetapi khusus membahas bagaimana mencari sosok pahlawan di mata kaum muda yang mulai bergeser ditengah serbuan era modernisme. Tepatnya era kontemporer.
------->Pada umumnya, pahlawan adalah figur (seseorang atau sekelompok orang) yang berjasa besar menyumbangkan jiwa dan raganya demi hal-hal prinsipil. Tentu saja upaya untuk mewujudkannya dan hasilnya akan membawa dampak positif di masyarakat dari segi humanisme, moral serta pembangunan. Dalam konteks nasionalisme, pahlawan dapat juga diartikan sebagai seseorang yang mengusir penjajah di zaman kolonial. Sosoknya sudah jelas mulai dari karakteristik, tahap-tahap perjuangan, sampai bentuk perjuangan revolusioner beresiko tinggi yaitu dilakukan secara langsung (frontal).
------->Tampaknya, semuanya itu kurang relevan untuk diterapkan bagi kaum muda. Negeri telah lepas dari penjajahan -meskipun sekarang terdapat indikasi metamorfosis bentuk kolonialisme baru dalam praktek ekonomi-politik itu persoalan lain-. Lebih dari itu, zaman telah bergerak jauh meninggalkan belakang menuju ke fase (post)modernitas. Sehingga, bentuk pengabdian kepada nusa dan bangsa disesuaikan menurut kebutuhan dan tuntutan zaman.
------->Yang menjadi permasalahan, esensi pahlawan mulai dikaburkan. Asalkan memenuhi beberapa kriteria, seseorang layak menyandang status sosial "pahlawan". Sehingga, siapapun dapat dimasukkan kedalam kategori ini tak terkecuali kaum muda (mahasiswa). Meski kita memahami bahwa mahasiswa selalu terdepan menanggapi perubahan sosial-politik pemerintahan. Lebih-lebih keberhasilannya mendobrak kebekuan demokrasi untuk kesekian kali, puncaknya kejatuhan "parlemen diktaktoriat" Soeharto dari kursi tahta pemerintahan setelah 32 tahun tiada kekuatan sosial satu pun yang mampu mengusiknya (Nur Elya Anggraini/11/09/04). Tapi, penulis kira, terlalu berlebihan bila kelompok mahasiswa revolusioner ini dianggap mewakili sosok ideal pahlawan masa kini. Bukan lantaran penegakan reformasi sekarang ini berjalan tersendat-sendat. Atau, hilangnya idealisme mahasiswa menjunjung kebenaran dan keadilan. Melainkan, latar belakang mahasiswa yang terlibat hedonisme, seks bebas, narkoba dan perilaku-perilaku negatif lainnya.
2007
------->Memang benar, tidak ada gading yang tak retak. Artinya, segala sesuatunya pasti memiliki kekurangan dan kebaikan masing-masing. Namun, tidak kita tidak bisa mengagung-agungkan seseorang atau sekelompok orang sebagai pahlawan bila latar belakang kehidupannya penuh diwarnai perilaku negatif. Sebab perjuangan seorang pahlawan tak dapat dipisahkan dari perilakunya. Dikhawatirkan, segala tingkah laku seorang pahlawan seringkali akan diikuti oleh "pemujanya". Apalagi mereka yang sedang dalam proses pencarian jati diri seperti remaja.
------->Lantas, bagaimana mencari sosok pahlawan bagi kaum muda? Idealnya, sosok pahlawan nasional-lah yang dapat menjawab pertanyaan ini. Sebab, pahlawan nasional umumnya mewarisi karakteristik yang ideal. Ia bertanggung jawab secara moral dan ideologis (agama), menerapkan prinsip solidaritas-etis, berani mempertahankan kebenaran dan keadilan meski dalam kondisi-kondisi yang terjepit,disiplin tinggi serta sadar akan iptek sebagaimana yang dicontohkan oleh Tan Malaka.
------->Nah, dari sini kita diharapkan mulai berhati-hati mencari sosok dan memberikan status pahlawan di kemudian hari. Sebab, pengalaman di era orba (Orde Baru) banyak gelar kehormatan pahlawan diberikan begitu saja untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan penguasa. Amat disayangkan, di jaman reformasi ini sedikit sekali perhatian besar pemerintah untuk menelaah kembali gelar kepahlawanan sarat kontroversi itu. Terbukti, niat baik upaya pelurusan sejarah peristiwa-peristiwa besar beserta kehidupan para pahlawan nasional belum juga ditunjukkan. Padahal ini sangat penting untuk mendidik generasi bangsa akibat mulai "lunturnya" sosok pahlawan sebagai figur panutan karena pengaruh-pengaruh luar (asing).
------->Akhirnya, tugas penting mahasiswa adalah (kaum muda) adalah mengisi kemerdekaan ini mengingat jerih payah dan pengorbanan pahlawan nasional tiada dibandingkan oleh bentuk apapun. Oleh karena itu, demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas, intelektual, adil dan makmur serta menjunjung supremasi hukum. Sudah semestinya, kaum muda merelakan status simbol kepahlawanannya yng dimilikinya agar tidak terjebak sifat narsistik yang berlebihan. Sebab, bumi pertiwi masih menunggu sumbang asih intelektualisme kaum muda baik langsung maupun tidak langsung. Mungkinkah terwujud?
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Jember
Direct Version :

This article publish for science spread purposes, had a copyrigth writer and alright reserveds
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THANKS TO THE MEDIA THAT PUBLISHED AUTHOR THINKING RESULT. WITH ALL HONOUR AND RESPECT.
BEST REGARDS,
BCW.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POLA PERTEMANAN ANTAR MAHASISWA ORMEK (SKRIPSI)
POLA PERTEMANAN ANTAR
MAHASISWA ANGGOTA ORGANISASI MAHASISWA EKSTRA KURIKULER (ORMEK)
Studi Deskriptif di FISIP UNEJ
S K R I P S I
picture source :http://www.ewinee.com/2009/05/we-unite.html
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Ujian
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Program Studi Sosiologi
Pada FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
Oleh
BETA CHANDRA WISDATA
Dosen Pembimbing:
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
* karya tulis ini dipublikasikan tidak dengan footnote, skema, dan gambar mengingat keterbatasan sifat blog (untuk selengkapnya hubungi penulis)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PERSEMBAHAN
Dengan rasa tulus kupersembahkan karya tulis ini kepada:
- Ayahanda ......... dan ibunda ...............tercinta yang
telah memberikan curahan kasih sayang dan bimbingan
do'a demi keberhasilanku.
- Kakakku: ........................................
- Sahabatku:.........................................
Semoga persahabatan kita tetap abadi!
- Bapak ................... beserta keluarga yang selama
ini membimbing dengan penuh kesabaran. Semoga merestui segala yang
ada di bumi dalam kehidupan anda!
- Bapak dan Ibu dosen baik mawujud maupun non-wujud yang selama ini
mengajarkan ilmu filsafat dan ilmu politik.
- Jawa Pos dan Radar Jember yang memuat artikel penulis selama ini.
- Untuk aktivis sejati: Wahai Para Aktivis Bersatulah!!!.
- Teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
- Almamater tercinta.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
MOTTO
1. Sederhana dan biasa saja. (Penulis sendiri)
2. Padi makin berisi makin merunduk.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Beta Chandra Wisdata
Program Studi : Sosiologi
--------->Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah (Skripsi) ini adalah karya asli, bukan karya plagiat dan merupakan penelitian yang telah dilakukan sendiri di kabupaten Jember dan belum pernah ditetapkan sebagai karya tulis pada institusi manapun.
Jember
BETA CHANDRA WISDATA
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
RINGKASAN
--------->Bagaimanakah gambaran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek? Apakah mengarah ke bentuk disintegratif ataukah destruktif? Pertanyaan ini seakan menjadi sebuah landasan untuk mengetahui secara mendalam pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej. Pada umumnya, pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej masih memiliki ciri khas yang ekslusif. Ditandai dengan adanya tidak mau bergaul dengan teman yang berbeda ormek. Persoalan ini terlihat dari adanya pengelompokkan mahasiswa yang terdiri dari dua orang lebih berdasarkan ormek tertentu. Banyak hal yang menjelaskan hal ini. Beberapa diantaranya adalah keinginan menjaga hubungan solidaritas yang kuat antar mahasiswa se-ormek, semangat ekslusif yang dibawa dari proses indoktrinasi ormek masing-masing, upaya kaderisasi sehingga memanfaatkan mahasiswa agar dapat masuk sesuai ormek yang dinaungi, perbedaan prinsipil yang dikhawatirkan mampu merusak hubungan pertemanan jika lebih memilih berteman se-ormek
--------->Hal ini tampaknya lebih disebabkan kedewasaan politik di mahasiswa (baca: aktivis) dapat dikatakan masih rendah. Pada umumnya, mahasiswa terlalu mudah menggenalisir bahwa tindakan individu merupakan tindakan organisasi. Karena itulah selalu ada stigma-stigma negatif berupa sindiran atau canda yang mengakibatkan hubungan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek mengalami pergeseran. Ataupun dapat pula disebabkan akibat perbedaan cara praksis politik, cara pandang dan sebagainya. Salah satu gejala yang cukup unik itu terkadang sampai mempengaruhi di lingkungannya yaitu indekost. Dalam konteks ini, muncul sebuah gambaran imej mengenai perkumpulan beberapa mahasiswa yang berdasarkan ormek tertentu.
--------->Namun demikian, gejala yang cukup unik adalah potensi konflik yang menyebabkan pola pergeseran antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej sengaja dipupuk oleh iklim birokrasi Kampus terutama menjelang momen-momen tertentu seperti pemilihan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) maupun pemilihan dekan. Dalam pemilihan dekan banyak kalangan birokrat kampus mencoba memperluas akses-akses politik dengan mencari dukungan ke mahasiswa. Dengan memberikan sejumlah fasilitas tertentu -misalnya beasiswa- kepada salah satu kelompok ormek, para birokrasi kampus menebarkan praktek-praktek politik negatif. Gejala hal yang paling mencolok adalah birokrasi kampus memberdayakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang memegang peranan penting dalam pembentukan opini untuk menelusuri seberapa jauh kans calon yang bersaing memenangkan pemilihan pemilu dekan. Bahkan untuk memperkuat dukungan ini biasanya melakukan praktek kolusi agar beberapa pihak elit birokrasi kampus yang tergabung dalam ilumni ormek tertentu melakukan praktek yang semakin memperpuruk iklim akademik dan intelektual mahasiswa. Salah satunya adalah mencoba mengangkat dosen yang berdasarkan ormek tertentu yang lebih dekat dengan latar belakang historis atau ilumni kalangan birokrasi elit kampus.
--------->Bahkan ironisnya, potensi konflik yang mengakibatkan kesenjangan pola pertemanan mahasiswa tersebut dibawa kedalam materi perkuliahan, pemberian prestasi akademik berupa nilai lebih kepada mahasiswa yang se-ormek. Di diskusi-diskusi misalnya dosen -terutama mereka yang mengikuti pencalonan pemilu dekan atau PD- menyelipkan isu-isu negatif sehingga mahasiswa yang mendukung salah satu dosen menjadi dekan. Ini pula yang menyebabkan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej yang sampai terbawa ke lingkungannya. Dengan kata lain upaya politisasi dosen terhadap beberapa kelompok mahasiswa menjadikan dan menanamkan potensi konflik diantara mahasiswa anggota ekstrakurikuler mengalami bentuk disintegratif.
--------->Akibatnya pola pertemanan mahasiswa mengalami gejala ekslusif. Seperti yang diungkapkan diatas, mahasiswa menjadi berkelompok-kelompok berdasarkan ormek tertentu. Tidak mau bergaul dengan kawan se-ormek. Menghindari berteman dengan kawan yang berbeda ormek. Disinilah kedewasaan politik mahasiswa dapat dikatakan kurang. Bila hal itu dibiarkan tidak mustahil iklim akademik di kampus akan menjadi parah. Apalagi, ada upaya politisir dosen ke salah satu ormek tertentu.
--------->Upaya politisir ternyata tidak hanya dilakukan oleh dosen. Salah satu ormek mencoba mempolitisir beberapa mahasiswa menjelang momentum pemilihan anggota BEM, KKN di Fisip Unej. Disinilah gejala ekslusif, sikap elitisme, praktek politik yang kemudian mempengaruhi pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek menjadi bergeser. Misalnya salah satu individu tidak diperbolehkan agar berteman dengan salah satu individu dari ormek tertentu. Saling menghina atau mencemooh sesuai basis praksis, stigma serta prinsip adalah gejala yang sering ditunjukkan. Kadangkala jika individu mulai tidak menerima atas perlakuan tersebut bisa bentuk konflik akan semakin terlihat semakin tajam. Inilah yang kemudian mengakibatkan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek menjadi rusak.
--------->Namun ada pula yang mengatakan bahwa pergeseran pola pertemanan dapat dikategorikan wajar. Tetapi, hal ini merupakan bentuk kedewasaan politik yang telah dimiliki oleh individu-invidu. Perlu diketahui, penelitian yang dilakukan oleh peneliti kali ini adalah menggunakan paradigma deskripsi-kualitatif. Artinya fenomena dan temuan lapangan dideskripsikan secara mendalam berdasarkan temuan di lapangan. Dengan menggunakan tekhnik snowballing sampling dan guide interview, data dan fenomena yang diobservasi berdasarkan pengalaman informan mengenai pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek dapat dikuak secara tajam, mendetail dan mendalam. Atau dalam bahasa sebuah tagline, data lapangan akan dapat digambarkan secara tajam, akurat dan terpercaya!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................... i
HALAMAN PERSEMBAHAN .………………………………………….. ii
HALAMAN MOTTO ….................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN ................................................ iv
HALAMAN PENGESAHAN ................................................ v
RINGKASAN ………………….................................................. vi
KATA PENGANTAR .................................................... ix
DAFTAR ISI ……………………................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN ….................................................. xiii
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Masalah .................................... 1
1.2 Pokok Permasalahan ........................................ 5
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan .................................. 6
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................. 6
1.4.1 Tujuan Penelitian ......................................... 6
1.4.2 Manfaat Penelitian ........................................ 7
1.5 Tinjauan Pustaka ......................................... 7
1.5.1 Pemahaman Pola Pertemanan ………………………………...................... 7
1. Pertikaian …………………………......................................... 11
2. Dorongan Kebutuhan Berkelompok ................................ 12
3. Upaya Memperluas Akses Kelompok ............................... 13
4. Hasil Pola Pertemanan Dalam Berinteraksi …………………….............. 14
1.5.2 Konsep mahasiswa ........................................... 16
1.5.3 Pengertian Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek)..... 16
1.6 Metode Penelitian .…………………………………………………........................ 17
1.7 Tipe Penelitian …............................................. 17
1.8 Tekhnik Pengumpulan Data Data ................................ 18
1.8.1 Pengumpulan Data Primer .................................... 18
1.8.2 Tekhnik Observasi ………………………………………........................... 22
1.8.3 Tekhnik Wawancara ………………………………………........................... 22
1.8.4. Penentuan informan ........................................ 23
1.8.5 Pengumpulan Data Sekunder ………………………………...................... 24
1.9 Metode Analisa Data ………………………………………………........................ 24
II DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
2.1 Lokasi Penelitian ............................................ 29
2.2 Gambaran Lokasi Penelitian …….…………………………………................... 30
III ANALISA DATA
3.1. Hubungan Pertemanan di Kampus
3.1.1 Pertemanan Berbeda Ormek ....….............................. 35
3.1.2 Pertemanan Se-ormek ……………….................................. 43
3.2 Hubungan Pertemanan di Sekitar Kampus
3.2.1 Pertemanan Berbeda Ormek .................................. 53
3.2.2 Pertemanan Se-ormek ...................................... 63
3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek Menjelang Momen Tertentu
3.3.1 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Momentum Pemilihan Dekan ................. 68
3.3.2 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Momentum Pemilihan Badan Ekse-
kutif Mahasiswa (BEM)...……...................…………………………......... 77
3.3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Prestasi Akademik …..………................. 79
3.3.4 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Diskusi Atau Pemberian Materi Kuliah..... 81
IV. KESIMPULAN …………………….................................... 85
DAFTAR PUSTAKA ........................................ 88
LAMPIRAN-LAMPIRAN
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Guide Interview.
Lampiran 2. Karakteristik Informan.
Lampiran 3. Skema Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek.
Lampiran 4. Surat Permohonan Ijin Penelitian Dari Lembaga Penelitian Universitas
Jember.
Lampiran 5. Surat Permohonan Ijin Penelitian Dari Badan Kesatuan Bangsa dan
Perlindungan Masyarakat.
* nama-nama informan dan sumber didalam penelitian ini sengaja disamarkan sesuai kode etik penelitian
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
--------->Membicarakan masalah hubungan pola pertemanan antar mahasiswa agaknya tidak dapat dipisahkan dari aliran politik yang berkembang sedemikian rupa di dunia kampus. Bukan rahasia umum lagi bahwa mahasiswa terkotak-kotak kedalam beberapa aliran politik atau ideologi menurut garis idealisme masing-masing. Sanit (1999:38) mengungkapkan, ideologi -dalam artian lebih luas- berisi tatanan nilai yang dimanfaatkan oleh individu sebagai pedoman kehidupan bersama dalam rangka meraih harapan-harapan mereka. Dalam pengertian secara khusus, ideologi mengacu kepada seperangkat cita-cita tentang suatu kelompok.
--------->Polemik yang sering terjadi adalah nilai-nilai didalam ideologi (idealisme) yang dianut masing-masing individu bersinggungan dengan ideologi kelompok lain. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik akibatnya hubungan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler di dalam kampus akan terganggu.
--------->Bahkan lebih daripada itu, bila hal ini tidak didasari oleh sikap dan perilaku kedewasaan politik untuk menghargai perbedaan, maka akan terjadi sentimen negatif yang pada gilirannya menimbulkan sikap destruktif antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler (ormek). Akibat lebih lanjut, disadari atau tidak, ini cenderung menumbuhkan ekslusifitas sehingga mereka tidak menyadari bila kemudian hal itu seringkali merusak hubungan persahabatan dengan cara tidak mau bergaul dengan mahasiswa lain yang berbeda aliran politiknya di dalam suatu kampus.
--------->Kadangkala hal itu semua terlihat dari adanya pengelompokkan mahasiswa berdasarkan aliran politik di sudut-sudut kampus. Dalam kerangka politik, alasan utama yang menyebabkan terjadinya kesenjangan atau gap-gap kelompok aliran politik adalah memperteguh kesatuan atau solidaritas didalam kelompok itu sendiri. Apabila dijelaskan dalam pemahaman sosial-politik, persoalan ini disebabkan oleh
hal.01
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
dua faktor. Pertama, komunitas politik didalam suatu lingkungan yang sarat pola pertemanan terdapat sebuah prosedur atau tata cara yang mengakibatkan individu untuk melakukan sikap-sikap eklusif. Dalam ruang lingkup ini, semakin besar jumlah individu yang tergabung kedalam kelompok politik tersebut semakin besar pula kesempatan untuk melakukan pelbagai tindakan politik praktis. Politik praktis yang dimaksudkan adalah melakukan proses indoktrinasi dengan pelbagai cara baik positif maupun negatif.
--------->Dalam pengertian negatif, satu kelompok melakukan proses pemaksaan penyadaran agar individu dapat masuk kedalam kelompoknya. Istilah yang sering dilontarkan di dunia aktivisme adalah kaderisasi. Artinya individu diajak agar menjadi anggota kelompok ormek. Akan tetapi, cara-cara proses politik praktis dalam pemahaman negatif tadi seringkali menggunakan ajakan secara langsung maupun tidak langsung. Ajakan secara langsung, misalnya, individu diberi tawaran terbaik agar dia masuk kedalam kelompoknya. Bahkan dapat dilakukan dengan cara yang sangat riskan sekalipun. Misalnya memberikan isu-isu negatif antara ormek satu terhadap ormek yang lain.
--------->Ada dua hal yang seringkali dilakukan. Misalnya dalam pengertian politik perang Tzun Zu, individu dibuat mengalami keterasingan (alienasi) dengan dijatuhkan mental lawan terlebih dahulu. Dalam konteks ini, individu disindir dan dijelekkan dalam bentuk tutur kata dan sikap oleh kelompok lain yang berbeda secara ideologi. Dalam keadaan semacam itu, individu akan merasa bahwa dia telah kehilangan martabatnya sebagai makhluk politik. Jika hal itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan bahwa individu akan melakukan tindakan destruktif yang kemudian menciptakan konflik fisik. Persoalan tersebut lebih diakibatkan kurangnya semangat kedewasaan politik serta masih bercokolnya semangat ekslusif untuk mempertahankan nama baik kelompok masing-masing.
--------->Sikap ekslusifitas dalam pemahaman organisasi terkadang memang sengaja di tumbuhkan (Etzioni, 1982: 119). Definisi sikap ekslusif dalam pengertian sosiologis disini bertujuan memperkokoh hubungan solidaritas antar sesama mahasiswa se-ormek.
hal. 02
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Itu dimaksudkan dan dilakukan dengan menanamkan jiwa atau identitas politik yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain. Melalui pelaksanaan prinsip propaganda hitam kadangkala kelompok satu dengan kelompok yang lain memberikan kesan pencitraan negatif. Tentu saja kesemuanya ini diwujudkan baik secara simbolis maupun non simbolis. Misalnya, kelompok A menjelek-jelekkan kelompok B, demikian sebaliknya. Akibatnya, makna rasionalitas menjadi hilang tergantikan semangat egoisme kelompok.
--------->Ironisnya, jika propaganda hitam ini dijadikan sebagai "ideologi" oleh individu yang menjadi anggota kelompok atau ormek tersebut mampu mempengaruhi dalam berinteraksi sosial individu. Lebih tepatnya lagi hubungan pertemanan antar sesama. Terkadang, persoalan itu dibawa sampai ke persoalan pribadi. Karena itu, ketika bertemu dengan kawan-kawan yang berbeda ormek, sikap-sikap tidak simpatik seringkali ditunjukkan. Hal itu kemudia mempengaruhi lingkungan individu. Dalam hal ini indekost. Bahkan, kadangkala individu tidak dapat membedakan kapan waktunya berpolitik dan kapan menjalin hubungan sosial yang lebih akrab antar sesama.
--------->Hal ini mudah dipahami. Pada hakikatnya, mahasiswa dapat dikategorikan sebagai politisi muda. Mahasiswa cenderung mempraktikan intelektual baik langsung maupun tidak langsung yang diperolehnya selama duduk di bangku kuliah. Dengan kata lain, pedoman dan pandangan politik mahasiswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan kedewasaan intelektual dan kedewasaan politik yang bersangkutan.
--------->Apabila mahasiswa telah mampu menemukan membedakan kapan untuk berteman dan berpolitik dapat dikatakan dua elemen penting ini dapat dipenuhi. Dalam momen-momen tertentu, mahasiswa mengambil langkah praktis sesuai kepentingan subyektif kelompoknya yang bukan lagi berdasarkan kematangan pola pikir intelektualnya. Tentu saja, tujuan yang ingin diraih mewakili kepentingan subyektif kelompoknya masing-masing. Apalagi didalam politik tidak mengenal kawan yang abadi. Persoalan ini tidak dapat dipisahkan manusia sebagai homo politicon (Plato, 2003:23).
hal. 03
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Sebagai homo politicon, individu melakukan berbagai tindakan politik yang dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya, sikap-sikap oportunis politik dan politik menghalalkan cara dengan memanfaatkan segala akses politik demi memenuhi kepentingan subyektif masing-masing selalu dikedepankan terutama dalam hal merebut kekuasaan. Kekuasaan jika dikategorikan kedalam mahasiswa, bukanlah dipergunakan untuk mencari kebutuhan materi. Melainkan lebih merupakan meraih kedudukan dan status sosial. Nampaknya, makna orientasi politik yang semula ditujukan untuk saling menjatuhkan satu sama lain tergantikan oleh hubungan persahabatan lebih erat, dinamis dan harmonis.
--------->Dengan menyatukan persepsi ideologis dan kepentingannya, identitas politik yang dipertahankan dikesampingkan. Tanpa disadari, mahasiswa merupakan "kekuatan tersembunyi" yang mampu mengarahkan perubahan sosial didalam kampus. Bila hal itu bertujuan positif dalam pengertian sebenarnya, dinamika kehidupan intelektual di kampus menunjukkan perkembangan signifikan. Sebaliknya, jika bergeser ke tujuan negatif, keadaan itu malah memperparah dinamika kehidupan intelektual kampus. Persoalan primordialisme yang didahulukan kiranya dilakukan demi memperluas akses kelompok masing-masing.
--------->Bila demikian, potensi-potensi rusaknya hubungan solidaritas antar sesama mahasiswa anggota ekstrakurikuler menjadi rusak dan akan terus terpupuk dan direproduksi sepanjang tahun secara turun-temurun oleh komunitas akademik sendiri. Jangan heran bila hal ini terus dibiarkan berkembang tanpa kendali maka akan terjadi akumulasi “dendam akademik” di antara mahasiswa yang berbeda ideologi atau berbeda ormek. Permusuhan di antara mereka akan kian mengkristal bagaikan bola salju seiring berlalunya waktu.
--------->Akibat negatif lainnya adalah kehidupan akademik di kampus tidak dapat berfungsi secara optimal. Kadangkala diskusi-diskusi akademik sangat ditunggangi oleh kepentingan subyektif baik dari pihak mahasiswa maupun birokrasi kampus. Akibatnya, diskusi-diskusi akademik menjadi bias idelogi sehingga bobot ilmiahnya luntur karena masing-masing mempertahankan untuk membenarkan ideologi politiknya yang ditunjukkan dalam runtuhnya hubungan sosial (persahabatan) antar
hal. 04
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sesama mahasiswa anggota ormek di kampus. Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, mahasiswa memiliki kiprah penting untuk mendinamisasi keadaan intelektual kampus.
--------->Apabila dilihat secara historis proses mendinamisasi keadaan intelektual di Kampus sangat dipengaruhi oleh kebijakan Orba NKK/BKK. Pada saat itu, birokrasi kampus sangat mudah memanfaatkan beberapa ormek untuk kepentingan pragmatis belaka. Di pihak aktivis mahasiswa, akses-akses memanfatkan organisasi inta ekstrakurikuler demi memperbesar jaringan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Bila demikian usaha keadaan intelektual di kampus kurang dapat berkembang. Malah sebaliknya akan jauh terpuruk.
--------->Oleh karena itu tampaknya ada kaitan secara langsung antara hubungan sikap eksklusif antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler dengan kehidupan dinamika intelektual yang terdapat di dalam kampus. Dalam konteks ini penulis tidak akan mengulas mengenai pergerakan mahasiswa dalam gerakan penumbangan reformasi di pertengahan Mei 1998. Karena masalah tersebut telah sampai pada skala nasional yang jelas-jelas sangat tidak kontekstual. Sebaliknya penulis lebih mengulas masalah aktivisme dari skala mikro. Oleh karena itu, dari ulasan yang mendasar diatas maka penulis tertarik mengangkat penelitian kali ini dengan judul "Pola Pertemanan Antar Sesama Mahasiswa Anggota Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek) Studi Deskriptif di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ)".
1.2 Pokok Permasalahan
--------->Dari sekilas latar belakang realitas fenomena tersebut, pokok permasalahan penelitian kali ini yaitu:
1. Bagaimanakah gambaran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ?
2. Apakah pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ mengarah destruktif atau integratif?
hal. 05
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
--------->Suatu penelitian memerlukan ruang lingkup pembahasan agar mampu memberikan arah maupun peta yang jelas dalam menentukan penelitian nanti. Ataupun juga, ruang lingkup permasalahan merupakan fokus perhatian besar seorang peneliti agar konsep penelitian tidak melebar ke berbagai sisi. Berpijak pada landasan ini, maka penelitian kali ini terfokus pada pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler di kampus.
--------->Penelitian ini mengkhususkan pada pola pertemanan yang dikaji dan dibatasi oleh bingkai pengelompokkan ormek. Dalam konteks ini, masalah yang dibahas yaitu berupa pertemanan se-ormek dan pertemanan berbeda ormek, pertemanan dalam momen tertentu dan pola pertemanan yang kemudian mempengaruhi lingkungannya.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. 4.1 Tujuan Penelitian
--------->Menurut Usman (2003:29), tujuan penelitian ialah pernyataan mengenai apa yang hendak kita capai. Tujuan penelitian dicantumkan dengan maksud agar kita maupun pihak lain yang membaca laporan penelitian dapat mengetahui dengan pasti apa tujuan penelitian kita itu sesungguhnya. Berpijak dari landasan ini, maka tujuan penelitian kali ini adalah mengetahui dan mendeskripsikan dan menggambarkan pola pertemanan di antara sesama mahasiswa anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler di FISIP UNEJ.
--------->Sementara itu tujuan lebih khusus lagi, penelitian kali ini, dapat mengetahui pokok persoalan yang melatar belakangi pola pertemanan antar mahasiswa di FISIP UNEJ. Dengan demikian, tujuan penelitian ini -jika dilihat dari segi praktis- diharapkan mampu mengetahui gambaran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ.
hal. 06
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.4.2 Manfaat Penelitian
--------->Didalam sebuah penelitian kegunaan penelitian sangat penting untuk memberikan sumbangan pemahan dari sebuah penelitian. Adapun kegunaan penelitian kali ini penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi pijakan dasar bagi penelitian sejenis.
2. Penelitian ini diharapkan mampu dijadikan refleksi sikap dan tingkah laku bagi mahasiswa khususnya para aktivis dan elit birokrat kampus untuk memajukan iklim intelektual di FISIP UNEJ.
3. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumbangan bagi pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya program studi Sosiologi di FISIP UNEJ secara institusi.
1.5 Tinjauan Pustaka
1.5.1 Pemahaman Pola Pertemanan
--------->Apabila kita mendefinisikan pola pertemanan lebih lanjut, pola pertemanan adalah mencakup persoalan solidaritas, hubungan pertemanan dan persahabatan antar sesama. Pola pertemanan terlihat dari tingkah laku atau tata cara interaksi yang dilakukan diantara sesama individu dan kelompok. Dalam pemahaman yang sama, Parsons dalam Soekanto mengungkapkan (1986: 43-44):
--------->Sebagai sistem sosial, pola pertemanan mengatur interaksi antar individu menghadapi empat macam pola. Pertama, adaptasi. Dalam keadaan laten, adaptasi berkaitan dengan masalah "mengambil" fasilitas penting disesuaikan dengan kebutuhan pribadi dan kelompok. Dengan memberdayakan segala kemampuan pencapaian tujuan (poin kedua) yang menyangkut masalah penetapan prioritas dan tujuan- tujuan prinsipil. Ketiga, integrasi. Menunjuk pada pemeliharaan Pola pertemanan antara unit-unit sistem. Dan terakhir, fungsi laten yang mencakup masalah pemeliharaan pola dan pengelolaan konflik atau pertikaian
hal. 07
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Sementara itu, dalam kancah politik, pola pertemanan antara individu maupun kelompok rawan sekali terjadi konflik. Dalam pengertian tertentu, konflik ini ditunjukkan dengan bahasa-bahasa simbolis yang bernada menyindir dan sedikit sarkasme. Ini bermaksud agar individu atau kelompok memahami makna itu. Jika tidak ada komunikasi yang jelas, intrepretasi semakin terdistorsi. Dalam kondisi sosial demikian mengandaikan kemungkinan mengatasinya dalam suatu refleksi. Refleksi dalam pemakanaan ini masih bersifat subyektif karena individu tidak dapat dipisahkan dari cara pandang terhadap kebutuhan-kebutuhan ideologis dan kelompok politiknya.
--------->Saat itu, kebanyakan individu mulai mengetengahkan penempatan dirinya didalam kelompok. Sebab, sebagai makhluk rasionalitas, individu mengalami pencerahan untuk menemukan pemaknaan baru yang terjadi dalam mengadakan pola pertemanan didalam kelompok.
--------->Disinilah individu atau kelompok membentuk sekaligus menggabungkan diri secara gemeinschaft atau gemeinself. Gemeneinschaft adalah penyatuan individu-individu dalam bentuk paguyuban. Sementara gemeinshelf adalah penyatuan individu-individu dalam bentuk non paguyuban.
--------->Pola pertemanan didalam gemeinschaft, individu satu sama lain terbentuk berdasarkan kepentingan organis-mekanis dalam pengertian Durkheiman. Individu mulai tidak melihat hal-hal yang bersifat fisik merupakan penghalang menyatukan satu sama lain. Karena itu, pola pertemanan diantara sesama individu terjaga. Bahkan relatif kuat diiringi ikatan emosional yang lebih akrab. Sebab, sebagai kebutuhan hidup berkelompok, individu menghilangkan kesan unsur mendominasi satu sama lain. Sebaliknya, sikap kepemimpinan atau kedewasaan politik ditunjukkan.
--------->Untuk menghadapi dillema yang tidak diinginkan, keharmonisan satu sama lain yang dalam representasi solidaritas menjadi sebuah sistem sosial yang menjauhkan kepentingan ideologis atau politis. Dengan adanya, kesatuan menyatukan kepentingan organis individu mengabaikan kepentingan ideologis dan politis sehingga pola pertemanan semakin akrab.
hal. 08
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Kalau sudah demikian, efek emosional yang mengakibatkan pertentangan lebih parah dapat diredam. Suasana sosial didalam momentum tertentu menunjukkan gejala tertib. Karena satu sama lain semakin memahami makna solidaritas. Lantaran itu, perubahan sosial yang mengarah negatif tidak akan terjadi. Bahkan, proses pola pertemanan individu semakin menunjukkan gejala yang dinamis.
--------->Namun, tidak tertutup kemungkinan, pola pertemanan malah terdapat sisi-sisi persinggungan. Karena, perbedaan cara pandang terhadap praksis ideologi, kekuasaan dan kepentingan kelompok. Pada hakikatnya, individu adalah makluk yang tampaknya melakukan konflik dengan yang lain karena dorongan naluriah. Simmel dalam Soekanto (1986:67) mengungkapkan ada kemungkinan sikap bermusuhan hal ini disebabkan karena dorongan spontan, memperkuat solidaritas didalam kelompok yang satu, saling mengacuhkan satu sama lain akibat kesalahpahaman, prinsip-prinsip pertikaian yang disepakati atau disengaja serta konflik kepentingan.
--------->Dalam hal ini kepentingan yang bertentangan pertikaiannya dan prosesnya dipisahkan dari kepribadian. Ada kemungkinan bahwa pertikaian itu hanya menyangkut unsur-unsur tertentu di luar masalah pribadi. Kadangkala pertikaian itu menyangkut kebencian yang tidak ada manfaatnya dilakukan secara intens dan berulang-ulang…. Pertentangan antara kesatuan antagonisme mungkin paling tampak, kedua fihak mengejar tujuan yang sama. Apabila tujuan sama yang ingin dicapai merupakan dasar pertikaian, maka proses itu mungkin terjadi dengan cara yang agak tercela…. Sementara itu, saat kesatuan merupakan titik tolak dan landasan pola pertemanan dan pertikaian terjadi mengenai kesatuan itu, maka sintesa antara monisme dengan antagonisme hubungan mungkin menghasilkan keadaan yang sebaliknya. Pertikaian semacam ini, biasanya lebih radikal apabila tidak memenuhi syarat-syarat mutual (Simmel dalam Soekanto 1986: 34-35).
--------->Sementara itu, pola pertemanan pemahaman Parsons dalam Soekanto (1986:113) mengemukakan bahwa pola pertemanan sebagai tindakan sosial menekankan orientasi subyektif yang mengendalikan pilihan-pilihan individu. Pilihan-pilihan ini secara normatif diatur atau dikendalikan oleh nilai dan standar
hal. 09
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
normatif bersama. Hal ini berlaku untuk tujuan-tujuan politik yang ditentukan individu. Bahkan memenuhi kebutuhan fisik yang mendasar dalam pengaturan normatifnya. Prinsip-prinsip ideal ini mengendalikan tipe perilaku manusia dalam kaitannya dengan pola pertemanan.
--------->Dalam pemahaman lebih lanjut lagi, orientasi individu atau kelompok tersebut dibagi sebagai berikut:
(tabel)
Orientasi Motivasi ---- Orientasi Nilai
Dimensi kognitif Dimensi kognitif
Dimensi katetik Dimensi apresiatif
Dimensi evaluatif Dimensi moral
Sumber: Parsons Soeryono Soekanto (1986:114)
--------->Menurut Parsons dalam Soekanto (1986:114-115), apabila dijelaskan hal tersebut, dimensi kognitif dalam orientasi motivasional menunjuk pada pengetahuan politik individu yang bertindak itu mengenai situasi kelompoknya masing-masing dalam kaitannya dengan pola pertemanan. Dimensi ini mencerminkan kemampuan dasar manusia untuk membedakan antara rangsangan-rangsangan pola pertemanan yang berbeda dan membuat generalisasi dari suatu rangsangan pola pertemanan yang lainnya.
--------->Dimensi katetik dalam orientasi motivasional menunjuk pada reaksi afektif pola pertemanan politik dari individu yang bertindak itu terhadap situasi atau pelbagai aspek pola pertemanan didalamnya. Ini juga mencerminkan kebutuhan dan tujuan individu maupun kelompok berdasarkan ideologi masing-masing. Umumnya individu memiliki suatu reaksi emosional positif terhadap elemen-elemen dalam lingkungan itu yang memberikan kepuasan pola pertemanan atau dapat digunakan sebagai alat dalam mencapai kekuasaan.
--------->Dimensi evaluatif , dalam orientasi motivasional menunjuk pada dasar pilihan seseorang antara orientasi pola pertemanan dalam konteks politik. Pada gilirannya akan mengarah kepada hakikat pertikaian dalam pola pertemanan
hal. 10
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Menurut Simmel dalam Soekanto (1986:77), hakikat pertikaian ini secara sosiologis melihat beberapa poin penting berikut ini.
1. Pertikaian
--------->Sebagai unit terkecil, kehidupan individu membentuk kelompok yang yang sifatnya subyektif sekali. Karena itu, pertikaian dianggap sebagai bentuk kerjasama kepentingan politik antara sesama individu atau kelompok. Gejala pertikaian ini dilihat dalam kancah politik menyeragamkan perbedaan. Kadangkala, makna-makna simbolis dimaknai bukan sebagai penjatuhan individu atau kelompok malah dilihat sebagai sesuatu yang masih dalam taraf wajar. Dalam hal ini, salah satu pihak mulai ada kedewasaan politik yang ditandai dengan sikap mengalah. Karena itu dinamika keretakan diantara hubungan persahabatan antar sesama tidak terjadi. Hal ini biasanya terlihat dalam makna tingkah laku secara simbolis yang mengungkapkan bagaimana solidaritas tercipta kuat-kuat.
--------->Sementara itu, pola pertemanan mengalami ketidakstabilan apabila terjadi keretakan antar sesama. Hal ini disebabkan akibat adanya kesalah pahaman dan bahkan pandangan negatif satu sama lain yang membentuk karakter individu tersebut sehingga mempengaruhi dalam bergaul.
--------->Dalam keadaan yang berbeda, perbedaan prinsipil dilihat berdasarkan interaksi sosial pola pertemanan antara individu satu dengan yang lain. Relevansi sosiologis pertikaian tersebut disamakan dalam konsep kesatuan. Artinya, setiap keutuhan pribadi hanya melalui penyerasian, akan tetapi juga kadang-kadang melalui pertikaian. Sebagaimana yang diungkapkan Simmel dalam Soekanto (1986:15) kesalahpahaman meningkatkan timbulnya perpecahan dalam pengetian positif yang efeknya dapat dirasakan secara personal maupun kelompok.
--------->Hal ini disebabkan oleh karena gambaran lain akan timbul apabila pertikaian dipandang dari sudut pola pertemanan dengan membentuk interaksi yang terpengaruh oleh kepentingan kelompok. (Simmel dalam Soekanto, 1986:16).
hal. 10
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Karena itu, pola pertemanan akan membentuk kontinuitas struktur sosial dalam jangka waktu tertentu mengikatkan diri pada fungsi-fungsi konkrit. Bagaimanapun juga, kondisi kepentingan politis semakin mengarahkan penyatuan satu sama lain menghadapi kebutuhan ideologis kelompoknya. Dalam fase ini, penyatuan satu sama lain dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan latar belakang historis kelompoknya masing. Di tingkatan atas, hal itu menyebabkan persinggungan diantara di tingkatan bawah akibat perebutan kekuasaan yang dicontohkan oleh individu atau kelompok di tingkatan atas.
--------->Di tingkatan atas cara yang dilakukan memang lebih sempurna bila dibandingkan dengan tingkatan bawah. Namun, umumnya cara menggapai kekuasaan diatas sama yaitu tim-tim yang dibentuk sesuai dengan kinerjanya masing-masing. Tentu saja hal demikian akan berpengaruh terhadap hubungan pola pertemanan di tingkatan bawah.
2. Dorongan Kebutuhan Berkelompok
--------->Didalam melakukan aktivitasnya individu menggabungkan diri kedalam kelompok untuk mempraksiskan segala pengalaman politik yang dimilikinya. Hal ini ada hal yang bersifat ideologis dan cara pandang terhadap sesuatu. Dalam hubungan yang akrab, bermusuhan adalah tindakan-tindakan merusak hubungan didalam suatu individu atau kelompok menjadi rusak. Karena kebencian adalah hal yang dapat diasumsikan sebagai dorongan merespon terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di dalam individu atau kelompok dalam lingkup pola pertemanan.
--------->Dorongan itu ada yang bersifat lahiriah dan non lahiriah. Demikian pula halnya, dorongan spontan yang menggabungkan individu terjun kedalam organisasi, Ada kemungkinan besar, unsur kedewasaan politik melerainya. Artinya, daya tarik ideologi dan kedewasaan politik yang dimiliki individu sisi satu dalam keadaan tertentu menjadi lebih utama. Karena itu, keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki dihilangkan. Ada hal yang mengakibatkan dimensi pertikaian adalah hal yang tidak perlu.
hal. 11
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Apabila ditunjang dengan pelbagai perbedaan mendasar dalam cara pandang ideologis, kelompok semakin menyatu. Karena, kepahaman ini yang membentuk individu berkelompok didalam suatu organisasi atau kelompok. Menurut Simmel dalam Soekanto (1986:98), keterbatasan yang ada dihilangkan bahkan dinetralisir dengan cara-cara bijak. Yaitu, menghilangkan unsur primordialisme demi kebutuhan bersama. Ataupun juga menghilangkan semangat eklusifitas dan menggantikannya dengan kedewasaan politik.
--------->Sebab, permusuhan didalam pola pertemanan yang dilakukan individu berdasarkan unsur primordialisme adalah sesuatu yang alamiah dan wajar. Sikap permusuhan muncul akibat kesalahan identifikasi individu terhadap yang lainnya baik secara personal maupun kelompok. Dalam kenyataan jika diiringi dengan unsur prasangka maka tanpa disadari akan memicu dampak yang lebih buruk. Misalnya, pihak A menanamkan kecurigaan kepada pihak B karena motivasi tertentu. Individu akan akan memutuskan dari suatu kelompok tersebut.
--------->Namun karena manusia secara naluriah adalah makhluk sosial maka individu itu akan berusaha masuk ke kelompok lain sesuai kepentingan dan tujuan subyektif dirinya sendiri. Atau bisa saja individu tersebut membentuk kelompok baru berdasarkan kepentingan-kepentingan urgen sebagai makhluk politik. Tentu saja kesemuanya ini dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sadar. Dalam artian, tidak ada unsur pemaksaan sedikitpun agar individu masuk kedalam kelompok yang baru.
--------->Dalam proses ini, individu merefleksikan diri kesalahan-kesalahan yang terdapat didalam dirinya dan kelompok tersebut. Dengan kata lain, individu melakukan proses otokritik. Yaitu individu merasa bahwa sikap-sikap kesalahan eklusifme politik adalah hal yang salah. Bila demikian, syarat-syarat kedewasaan politik telah terpenuhi.
3. Upaya Memperluas Akses Kelompok
--------->Didalam pola pertemanan dalam pemahaman politik, terdapat sebuah usaha konspirasi untuk merenggangkan nilai-nilai harmonitas yang tercipta sedemikian
hal. 11
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
rupa. Dalam tataran ini, inovasi tindakan politik yang dilakukan adalah memanfaatkan akes-akes kelompoknya. Upaya politisir dapat dilakukan dengan berbagai cara. Tergantung dari kebutuhan subyektif memperbesar kekuasaan kelompok. Disinilah akses-akses politik di dalam suatu internal organisasi di tingkatan bawah dimanfaatkan (dipolitisir) oleh birokrasi atas. Tentu saja hal demikian ada bargaining politik untuk memperkuat citra positif individu masing-masing. Apabila dilihat secara lebih rinci, bargaining politik yang terjadi antara tingkatan atas dan tingkatan akses politik dibawahnya disertakan pula fasilitas-fasilitas yang memadai agar tehknik konspirasi nepotisme dapat dilakukan.
--------->Maka, berlangsunglah kemudian terjadi penciptaan opini agar memberikan kesan bahwa kelompok satu lebih baik. Ini dimaksudkan agar kekuatan politik diatas menjadi lebih memadai secara prinsipil untuk bersaing lebih dengan kelompok lain. Dalam perkembangan selanjutnya, momentum-momentum yang berkaitan dengan hal itu dimanfaatkan. Akibatnya, usaha-usaha pencapaian akses-akses politik lebih dapat diberdayakan.
--------->Pemanfaatan tersebut merupakan sesuatu hal yang lumrah dalam konteks politik. Sebab, setiap kelompok pasti akan memberikan sumbangan yang terbaik untuk mendahulukan kepentingan masing-masing. Namun demikian, didalam konteks politik tidak mengenal kawan maupun lawan yang abadi. Sebaliknya, yang dikenal adalah kepentingan adalah segala-galanya. Dengan demikian, pola-pola pertemanan akan menjadi rusak. Sebab satu sama lain berusaha memasukkan doktrinasi atau pengaruhnya satu sama lain demi meraih simpati. Dalam kaitannya dengan pola pertemanan, doktrinasi untuk memperkuat satu sama lain dilakukan dengan pelbagai cara termasuk jalan pintas sekalipun.
4. Hasil Pola Pertemanan Dalam Berinteraksi
--------->Dalam melakukan aktivitas pola pertemanan sehari-hari, akan nampak hasil interaksi yang sangat dipengaruhi oleh cara pandang, ideologi dan pemahaman terhadap lingkungan sekitarnya. Karena didalam pola pertemanan unsur-unsur yang sangat kompleks sifatnya mempengaruhi keadaan motivasi individu. Menurut
hal. 12
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Simmel dalam Johnson (2004: 252), hasil pola pertemanan dalam berinteraksi mengakibatkan dua macam pola. Yaitu, konflik dan kekompakkan. Dalam bentuk-bentuk konflik, keadaan antagonistk mengatur hubungan yang tidak intim. Konflik antar kelompok misalnya cenderung mewujudkan usaha-usaha permusuhan dan mengakibatkan pergeseran pola pertemanan semakin tajam.
--------->Lebih lanjut lagi, dalam keadaan seperti itu simbol-simbol diberikan oleh suatu kelompok kepada individu. Misalnya penghianat. Pada dasarnya, persaingan yang mempengaruhi dua pihak individu atau kelompok menyebabkan motivasi dalam kesenjangan di tingkatan cara pandang. Pada gilirannya, bentuk-bentuk kekecewaan kemudian ditunjukkan baik secara langsung maupun tidak langsung.
--------->Sementara itu, konflik antara kelompok dalam dan kelompok luar dinyatakan oleh Simmel dalam Johnson (2004:269), terdapat komitmen moral untuk memasukkan kepentingan diri atau individualistik. Oleh karena itu, konflik yang kemudian memberikan arahan kesenjangan menghasilkan pembentukan kelompok baru yang terdiri dari individu-individu atau kelompok-kelompok yang sebelumnya acuh tak acuh atau malah saling bertentangan. Dalam beberapa hal, keadaan ini seringkali ditunjukkan dalam keadaan persahabatan yang "sepakat" dan tidak sepakat (aggree to disagree).
--------->Hasil lainnya adalah keunikan bentuk karakteristik individu akan ditanggapi dan mungkin menjadikan hubungan pola pertemanan menjadi lebih intim lagi. Hal ini akan menimbulkan sikap ekslusif yang tanpa disertai perasaan-perasaan positif. Bahkan, penghinaan atau kekecewaan yang ditunjukkan mungkin dirasakan akan jauh lebih menyakitkan dan kemudian secara emosional mengakibatkan keakraban kurang terjalin. Memperhatikan fenomena seperti itu, pola pertemanan akan menjadi semakin kontras dengan sikap-sikap yang ditunjukkan. Bila demikian, hasil yang didapatkan akan menunjukkan hal-hal yang mengalami pergeseran, sikap dan perilaku tidak simpatik, kekecewaan, konflik dan hubungan solidaritas yang renggang.
hal. 13
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.5.2 Konsep Mahasiswa
--------->Konsep mahasiswa kali ini adalah seseorang yang menempuh pendidikan di FISIP UNEJ. Dalam kaitannya dengan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler, individu harus pernah ikut baik aktif maupun tidak aktif didalamnya. Pemahaman aktif, individu tercatat sebagai anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Sementara itu, mahasiswa yang tidak aktif lagi. Artinya individu keluar dari keanggotaan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Disini individu disebut dengan mantan aktivis.
--------->Penting untuk dicatat, mahasiswa yang pernah memiliki hubungan khusus yaitu pernah ikut dan berpindah-pindah menjadi anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler yang kemudian memutuskan untuk keluar dari struktur tersebut, maka perlu diberikan "perhatian" lebih. Demikian halnya, dengan individu yang mengenal seluk beluk dunia aktivisme meskipun ia bukan terlibat aktif dalam anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler.
--------->Untuk menghindari penjelasan yang dianggap subyektif individu-individu itu akan diambil dari sebagai sudut pandang obyektif untuk membantu peneliti memahami lebih lanjut pola pertemanan antar sesama mahasiswa organisasi ekstrakurikuler. Mengingat rawannya sebuah penelitian yang mengkaji pertentangan ideologi, cara pandang aliran politik individu atau kelompok didalam berinteraksi dan melakukan menjalin pola pertemanan antar sesama.
1.5.3 Pengertian Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek)--------->Pengertian organisasi mahasiswa ekstrakurikuler (ormek) kali adalah suatu kelompok mahasiswa yang memiliki struktur keanggotaan dan wilayah teritorial tidak dibawah Universitas. Organisasi mahasiswa ekstrakurikuler memiliki basis-basis massa yaitu mahasiswa. Organisasi mahasiswa ekstrakurikuler, kedudukannya pun berada di luar struktur Universitas.
--------->Secara garis besar, organisasi mahasiswa ekstrakurikuler di FISIP UNEJ terdiri berbagai macam menurut politik aliran sesuai yang digunakan sebagai landasan ideologi membentuk kolektif. Yaitu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),
hal. 13
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kelima ormek ini merupakan kajian utama yang akan diteliti. Peneliti tertarik untuk mengkaji hubungan pola pertemanan kelima ormek itu. Karena, disadari atau tidak, kelima ormek tersebut sangat mempengaruhi dalam mendinamisasi keadaan birokrasi dan akademik-intelektual kampus, hubungan solidaritas atau pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek. Berdasarkan, kode etik penelitian metode ilmiah sebagaimana yang diungkapkan oleh Bungin (2003:99), peneliti berhak menggunakan simbol-simbol warna tertentu untuk menyebut kelompok-kelompok ormek tersebut.
1.6 Metode Penelitian
--------->Ketika hendak mengkaji fenomena yang dijadikan obyek penelitian, seorang peneliti memerlukan pijakan dasar metodologi penelitian. Hal ini sangat penting agar seorang peneliti tidak menemui sejumlah kendala sejumlah lapangan. Dalam banyak hal, metodologi penelitian memiliki seperangkat aturan-aturan normatif yang mengarahkan seorang peneliti. Menurut Bungin (2001: 40) metodologi penelitian adalah sebuah cara konvensional atau pendekatan yang efektif untuk mengarahkan agar peneliti mampu menjelaskan fenomena di lapangan.
1.7 Tipe Penelitian--------->Tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti kali ini menggunakan tekhnik deskriptif dan kualitatif. Menurut Bungin (2001:85) tekhnik deskriptif adalah tipe penelitian yang menggambarkan secara rinci mengenai obyek penelitian atau fenomena yang dikaji. Demikian halnya dengan tekhnik kualitatif. Bungin (2001:87) mengungkapkan bahwa tekhnik kualitatif adalah memaparkan informasi sedemikian rupa berdasarkan pengamatan lapangan yang didapatkan dan menekankan data primer.
hal. 14
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.8 Tehnik Pengumpulan Data
--------->Untuk menggali data atau informasi yang terkait, penulis melakukan wawancara mendalam (indepth interview). Menurut Bungin (2001:43), wawancara mendalam merupakan tekhnik penggalian yang dilakukan secara mendetail terhadap fenomena yang dikaji. Ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran fenomena sesungguhnya yang diteliti. Dengan demikian tekhnik penggalian data dengan cara indepth interview merupakan langkah efektif menggali fenomena di lapangan.
1.8.1 Pengumpulan Data Primer--------->Beranjak dari pemahaman tersebut maka dapat diperoleh sebuah rumusan penting tentang metode penelitian tentang pengumpulan data primer. Hal ini berkaitan dengan metode penelitian yang merupakan upaya penting menjajaki arti-arti tersembunyi dari tingkah laku manusia. Apabila dikaitkan dalam pola pertemanan di dalam FISIP UNEJ banyak sekali tingkah laku hubungan pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek menampakkan gejala yang cukup unik. Dikatakan unik karena mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler umumnya masih terjebak dalam pandangan yang ekslusif. Artinya individu akan melihat tujuan dan latar belakang apakah individu tersebut memiliki kesamaan dengan ormeknya atau tidak. Ini menjadikan sebuah tantangan tersendiri dalam mengolah atau menelitinya. Dalam banyak hal, jika individu masih belum mengenal lebih akrab, maka ia akan sulit dijadikan sebagai informan. Karena itu, untuk menjalin kepercayaan dan emosi yang lebih terjalin kadangkala seorang peneliti perlu ikut serta dalam lika-liku pola pertemanan antar sesama anggota mahasiswa esktrakurikuler. Artinya, seorang peneliti harus menjadi bagian dalam obyek yang akan diteliti. Tujuannya adalah agar dapat menguak data-data dan informasi yang dibutuhkan dalam menjelaskan suatu obyek penelitian yaitu pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ.
--------->Di FISIP UNEJ, banyak anggota mahasiswa ormek yang terkadang menutup diri ketika ditanyakan tentang alasan memilih pertemanan dengan se-ormek. Kadangkala jawaban yang dikemukakan tidak cukup menjelaskan gambaran pola
hal. 15
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Pada awalnya, jawaban yang dikemukakan hanya bersifat emosional-psikologis belaka. Misalnya, Adi Prasetyo bersahabat dengan Astono lantaran sifatnya yang baik dan ramah. Ataupun juga, Yanuarti adalah seorang sahabat yang menurutnya memahami dan menyayangi satu sama lain dengan Atika. Tentu saja ini tidak dapat dijadikan sebuah acuan informasi menggambarkan pola pertemanan secara mendalam. Karena itulah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Geertz penelitian memerlukan tekhnik khusus agar dapat berinteraksi dengan informan sehingga dia nantinya akan dapat menggali informasi yang sangat sulit apabila hal itu berkaitan dalam kancah politik.
--------->Dalam kancah politik, penelitian sosiologis yang mengarah kesana akan menemui sejumlah tekanan dari individu atau kelompok. Sebab, sebuah hasil laporan penelitian nanti dimaknai merusak citra nama individu atau kelompok. Disinilah pengujian daya kapabilitas untuk menghadapi tantangan tersebut diperlukan.
--------->Di FISIP UNEJ tekanan tersebut dirasakan ketika telah mendapatkan data yang mengungkapkan mengenai pergeseran pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Dalam hal ini, seorang mahasiswa anggota ormek tertentu umumnya tidak menginginkan semua hal yang diceritakankan kepada seorang peneliti akan diketahui oleh khalayak luas. Oleh karena itu, seorang peneliti berusaha menyembunyikan tujuan dan maksud penelitian. Artinya berusaha agar jangan sampai seorang informan mengetahui maksud bahwa peneliti akan meneliti sebuah pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Tujuannya adalah agar individu tersebut mampu memberikan informasi yang sangat diperlukan dalam menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek.
--------->Informasi yang didapatkan dari sebuah individu tersebut akan dijadikan "pegangan sementara" untuk menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Karena itu informasi yang didapatkan perlu dikonfirmasikan atau diverifikasikan dengan yang lain. Tujuannya adalah menghindari penjelasan seorang informan yang terkadang dalam memberikan data kurang akurat untuk menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek.
hal. 16
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berusaha mencari tahu perihal kebenaran dari informan tersebut. Caranya adalah menanyakan kepada pihak-pihak terkait alasan-alasan apakah yang mendasari mahasiswa, dalam hal ini aktivis, cenderung memilih teman yang seideologi. Apabila hal itu telah dilakukan maka perlu pengamatan secara langsung maupun tidak langsung terhadap tingkah laku maupun karakteristik. Observasi ini dilakukan dengan terjun di lingkungan FISIP UNEJ dan juga dalam pola pergaulan masing-masing kelompok yang terdiri dari dua individu atau lebih.
--------->Kesemuanya itu dicocokkan dengan penjelasan informan yang didapatkan. Kemudian dicatat dalam sebuah laporan atau catatan lapangan agar informasi yang didapatkan tersimpan dengan semestinya. Tentu saja hal demikian memerlukan waktu yang cukup lama. Sebab, penelitian pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek dalam kaitannya secara politik dan sosiologis mendapat sejumlah tantangan tersendiri sebagaimana yang diungkapkan diatas.
--------->Kadangkala informasi yang diberikan oleh informan di FISIP UNEJ menceritakan pengalaman masing-masing dalam hal berteman di kampus sampai mengarah kepada tempat ia berada. Disini akan diperoleh sebuah penggalian informasi tentang pengalaman seorang aktivis yang terlibat langsung terhadap pola pertemanan. Melalui cara ini, persepsi seorang aktivis terhadap pola pertemanan dapat diketahui dan diintrepretasikan secara subyektif. Selanjutnya adalah memahami bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Dengan metode verstehen (Bungin, 2003: 89) peneliti berusaha memahami, menghayati, merasakan secara subyektif dan menafsirkan secara terus-menerus tentang kegiatan yang telah dilakukan oleh seorang informan.
--------->Disinilah seorang aktivis yang berhasil ditemui menjelaskan tentang retaknya pola pertemanan di akibatkan secara tidak langsung oleh faktor eksternal. Yaitu birokrasi kampus yang "sengaja" memendam potensi konflik di tingkatan pertemanan anggota mahasiswa ormek mengalami pergeseran dalam hal pola pertemanan. Baik di tingkatan birokrasi kampus maupun di tingkatan antar sesama
hal. 17
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
mahasiswa anggota ormek. Tentu saja hal ini sangat berkaitan karakteristik dan prinsip individu terkadang akan dibawa dan berpengaruh terhadap lingkungannya. Dengan demikian dapat dipastikan sebuah lingkungan yang sarat dengan prinsipil dapat mempengaruhi dalam pola perilaku dalam bergaul dengan sesama anggota ormek di kampus FISIP UNEJ.
--------->Sementara itu, metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan cara tekhnik snowballing sampling. Sebagai key informan yang pertama kali mengenalkan seluk beluk adalah para mantan aktivis. Paul, Nasrul dan Hamzah adalah key informan yang dapat menjelaskan seluk beluk pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Mereka menceritakan dunia aktivisme lengkap dengan tindakan politik baik di kalangan birokrasi elit atas maupun mahasiswa. Setelah dijelaskan oleh key informan tersebut, langkah selanjutnya adalah mencoba menelusuri lebih jauh pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan data kepada informan yang memiliki kaitannya dengan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek. Ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam terlebih dahulu dan dicermati. Sebab, banyak menjelaskan bahwa pola pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek sangat berkaitan dengan tindakan politik para birokrat kampus menjelang momentum pemilihan dekanat.
--------->Informan untuk menjelaskan masalah ini umumnya adalah kalangan mantan aktivis yang sangat mengetahui seluk beluk aktivisme dan tindakan politik baik mahasiswa maupun para dosen. Mereka diberikan perhatian lebih khusus oleh peneliti. Dalam banyak hal, informasi yang mereka berikan lebih akurat dan lebih menjelaskan lebih obyektif tentang seluk beluk pergeseran pola pertemanan di mahasiswa. Setelah mencatat informasi tersebut dan melakukan wawancara secara intens, selanjutnya adalah mencoba mengamati perubahan tingkah laku beserta karakteristik pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Tentu saja dalam hal ini peneliti perlu menjadi bagian dalam kelompok yang akan diteliti lebih lanjut.
hal. 18
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Untuk menjalin hubungan lebih erat, langkah yang dilakukan adalah sering berkunjung di indekost, ataupun juga datang ke warung, kantin, musholla, sekitar kampus FISIP UNEJ. Disini mulai terlihat tentang adanya pengamatan tentang karakteristik tertentu mengenai bentuk tingkah laku dan tutur kata yang sangat berkaitan dengan pola pertemanan antar sesama mahasiswa ormek. Untuk menggali data tidak hanya dilakukan dengan observasi seperti itu. Kadangkala wawancara berupa komunikasi verbal dilakukan. Umumnya, wawancara dilakukan di daerah kantin, warung, kelas serta musholla FISIP UNEJ. Disinilah penggalian informasi dilakukan. Seorang informan menjelaskan pengalamannya dan alasannya masing-masing cenderung memilih bersahabat dengan se-ormek. Maka dimulailah proses wawancara. Tentu saja pencatatan mengenai informasi yang diperoleh dilakukan secara tak langsung. Dalam konteks ini, informasi yang diperoleh dicatat melalui memory atau ingatan. Barulah kemudian disalin kedalam tulisan.
1.8.2 Tekhnik Observasi
--------->Peneliti juga menggunakan tekhnik observasi (pengamatan) untuk "membaca" suatu fenomena individu. Ini dimaksudkan agar peneliti dapat menggambarkan dan memahami permasalahan apakah yang dapat ditangkap ketika mengamati pola pertemanan di diantara mahasiswa anggota ormek. Pengamatan yang dilakukan adalah partisipan. Dalam konteks ini, peneliti perlu menjadi bagian dalam obyek yang akan diteliti sehingga informasi dan data yang didapatkan dapat dikuak secara mendalam.
1.8.3 Tekhnik Wawancara
--------->Penggalian data kepada informan yang dilakukan ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu memiliki pengalaman individu sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini, informan ditanyakan bagaimana tanggapan terhadap permasalahan menurut pengalamannya terhadap sesuatu. Disini peneliti, mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara yang intensif dan berulang-ulang.
hal. 19
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Sementara itu agar semakin mengefektifkan langkah peneliti dalam melihat gejala obyek yang akan diteliti, peneliti memerlukan sebuah panduan interview (guide interview). Dalam konteks ini, guide interview adalah tekhnik yang diperlukan untuk melakukan interview mengenai permasalahan yang diteliti agar dapat mengetahui fenomena obyek penelitian secara mendalam. Ini dimaksudkan agar pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dapat terarah dan memperkecil kesalahan dalam menggali data sebagaimana diberikan oleh informan.
--------->Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan wawancara wawancara tertutup. Menurut Bungin (2001:108) wawancara tertutup dilakukan dalam kondisi subyek tidak mengetahui kalau diwawancarai. Ini agar peneliti menggali lebih dalam persoalan yang sangat krusial dan terkesan ditutupi oleh informan. Peneliti juga menggunakan metode wawancara mendalam life history. Dalam hal ini, informan ditanyakan bagaimana tanggapan terhadap permasalahan menurut pengalamannya terhadap obyek yang diteliti. Disini peneliti, mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara yang intensif dan berulang-ulang. Didalam melakukan penelitian seorang peneliti berhak merahasiakan sumber informasi. Sebab hal ini menyangkut nama baik sumber informasi. Hal ini diatur didalam etika prinsipil penelitian.
Etika penelitian yang perlu ditaati: Pertama, peneliti harus merahasiakan semua informasi yang diperoleh yang dituliskan dalam bentuk kode-kode atau inisial. Kedua, peneliti tidak menuntut responden bertanggung jawab atas informasi yang telah disampaikannya. Ketiga, peneliti tidak menuntut responden untuk bertanggung jawab atas informasi yang telah disampaikannya. Keempat, peneliti tidak memaksakan kehendaknya agar responden memberikan informasi kepadanya. (Usman, 2003:03).
1.8.4 Penentuan Informan
--------->Tekhnik penentuan informan ada berbagai macam cara. Namun, tekhnik penentuan informan yang seringkali dilakukan dalam penelitian deskriptif adalah metode snowball sampling. Menurut Bungin (2001:56), tekhnik snowball sampling adalah pemilihan informan secara acak yang satu sama lain masih berkaitan dalam fenomena dan data lapangan. Dalam konteks ini, seorang peneliti berusaha
hal. 20
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
mengumpulkan data atau informasi dari individu yang satu ke individu yang lainnya. Oleh karena itu penulis tidak akan mengambil dan membatasi berapa banyak jumlah informan nanti ketika terjun di lapangan. Sebab, jumlah informan disesuaikan dengan kondisi, fakta-fakta dan temuan di lapangan.
--------->Tekhnik snowball sampling merupakan cara yang efektif untuk menguji akurat data di lapangan. Bahkan, para ilmuwan menyebutkan tekhnik penentuan informan berdasarkan snowball sampling mampu menjelaskan fenomena di lapangan. Dengan kata lain, tekhnik snowball sampling adalah metode yang mampu menemukan sekaligus menggambarkan fakta lapangan dan nilai akurasi data pun tampaknya lebih dapat dipertanggung jawabkan.
1.8.5 Pengumpulan Data Sekunder
--------->Data sekunder merupakan pendukung dari data-data primer. Dalam hal ini, peneliti mencoba mendapatkan informasi berupa data sekunder berupa catatan atau tulisan yang didapatkan dari individu atau ormek. Yaitu berupa visi dan misi ormek.
1.9 Metode Analisa Data
--------->Kesemua data dan fakta yang nanti telah dihimpun di lapangan akan diolah lebih lanjut untuk diketahui gambaran pola pertemanan secara menyeluruh yang terjadi antar sesama mahasiswa anggota ekstrakurikuler. Inilah yang dinamakan dengan tekhnik pengolahan hasil analisis data yang memiliki beberapa tahap. Mulai menjabarkan data, menerangkan, mendeskripsikan, saling mengkaitkan antara data akurat yang berhasil dihimpun dengan yang lain, demikian selanjutnya sampai mampu menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan pokok permasalahan. Bila demikian, akan ditemukan sebuah hasil akhir berupa kesimpulan penelitian yang akurat, tajam dan terpercaya.
--------->Ada dua macam cara untuk mendapatkan data. Pertama, berupa ucapan atau tutur kata yang diberikan langsung oleh informan kepada seorang peneliti. Untuk itu peneliti akan menggunakan data tutur kata sebagai memperlengkap data temuan di lapangan. Tidak boleh terlupakan, tekhnik penelitian yang digunakan peneliti kali ini
hal. 21
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
adalah metode deskriptif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Usman (2003:04), penelitian deskriptif bermaksud membuat pemeriaan. Artinya, penyederhanaan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta lapangan dan karakteristik tingkah laku individu.
--------->Lebih lanjut lagi, di dalam melakukan penelitian kualitatif, seorang peneliti menerangkan dan menjelaskan mengenai (perkembangan) fenomena yang tengah terjadi. Karena itu, penulis tidak menyalahkan atau membenarkan hasil temuan di lapangan dengan data-data sekunder penelitian yang sejenis. Sebab, penelitian ini menggunakan tekhnik deskriptif. Berbeda halnya dengan studi komparatif. Dengan demikian, tekhnik penelitian deskriptif sangat memungkinkan membantu penulis untuk mengetahui secara mendasar pola pertemanan antar mahasiswa anggota ekstrakurikuler.
--------->Adapun tekhnik analisis data yang dipergunakan adalah editing analysis style. Menurut Muller dan Carbtree (1992: 18-21), editing analysis style atau gaya analisis editing merupakan gaya yang sering dipergunakan untuk penelitian kualitatif pada tatanan yang subyektif. Editing analysis style menjalankan analisanya lebih dekat pada sisi subyektif atau sisi intrepretatif dari analisa yang dilakukan secara terus menerus. Dalam asumsi tersebut dapat diambil sebuah hikmah bahwa tekhnik analisa data merupakan pencarian pemahaman tentang data yang diambil untuk dikait-kaitkan satu sama lain, dicari hubungan mekanisnya atau sebab akibat sehingga data yang dihasilkan mampu menjelaskan sebuah realitas yang mendekati kebenaran lapangan.
--------->Dalam konteks tersebut, seorang peneliti berusaha mengidentifikasi tingkah laku serta tutur kata sebagai konsepsi awal dalam membaca data dari informan. Kemudian, diintrepretasikan sedemikian rupa untuk mengevaluasi informasi serta dihubung-hubungkan yang kemudian akan menghasilkan data yang realible. Tidak sampai disitu, temuan lapangan di komparasikan melalui sudut pandang observasi dan intrepretasi scara mendalam sehingga data akan mampu mendekati atau menjelaskan fakta lapangan secara obyektif.
hal. 22
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Adapun, metode editing analysis style menurut Miller dan Crabtree (1992: 18-21) adalah sebagai berikut:
(skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan dimuat seutuhnya)
Intrepreter (editor)--> laporan dan text --> identivy unit, develop categories, intrepretively, verify
Sumber: Miller dan Crabtree (1992:18-21)
--------->Dalam pemahaman bagan tersebut, data-data yang diperoleh dilapangan digambarkan dan dikumpulkan menurut kategori-kategori. Kategori-kategori ini disejajarkan satu sama lain. Namun demikian penyejajaran antara data satu dengan data yang lain masih dilihat dalam konteks perumusan masalah. Jika hal itu telah dilakukan, text-text yang terbentuk diverifikasikan. Apakah sebuah data tersebut sudah valid dan akurat ataukah tidak. Menurut Yuswadi dalam Bungin (2003: 100) ukuran data telah akurat dan valid adalah memenuhi titik jenuh. Titik jenuh yang dimaksud adalah data-data atau fakta di lapangan telah memiliki pola penjelasan yang hampir sama dalam hal fenomena. Ketika hal itu selesai, maka pengembangan kategori-kategori diidentifikasikan sedemikian rupa. Hal ini ditujukan sebagai cerminan interpretasi terhadap fakta atau data lapangan sehingga laporan yang
hal. 23
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diperoleh mampu menjelaskan secara deskriptif mengenai permasalahan yang diteliti. Berikut skema mengenai penggalian informan:
(skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan memuat seutuhnya)
Paul (informan utama)--> supriadi berlanjut kepada nasrul sebagai key informan kedua demikian seterusnya disini mengingat sifat keterbatasan blog tidak bisa dimuat seutuhnya.
--------->Dalam mengumpulkan data tersebut, diperlukan mengklarifikasikan ke beberapa pihak yang dapat dijadikan sebagai sumber informan yang sangat terpercaya. Demikian seterusnya, dari informan satu diverifikasi ke informan lainnya. Sampai ditemukan ditemukan data jenuh sebagaimana yang diungkapkan oleh Yuswadi dalam Bungin (2001:100).
--------->Cara mengumpulkan data dan informasi, diperoleh dengan terjun ke tempat pusat aktivis kampus sering berkumpul. Misalnya di kampus FISIP UNEJ, didepan akademik, warung, kantin, perpustakaan bahkan sampai ke indekost. Seperti yang telah dijelaskan diatas, untuk menjalin emosional lebih agar informan dapat maka
hal. 24
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
dilakukan pendekatan lebih mendalam misalnya agar informan dapat memberikan informasi lebih jelas dan mendalam. Menurut Yuswadi dalam Bungin (2001:101) disebutkan empati haruslah tercipta kuat-kuat agar seorang informan dapat menjelaskan pengalaman bahkan informasi dalam kaitannya tentang obyek penelitian.
--------->Cara yang dilakukan adalah bersahabat dengan mereka. Dalam hal ini, peneliti berusaha menyelami dan turut menjadi bagian dalam pola pergaulan kelompok-kelompok yang terdapat di FISIP UNEJ. Cara ini sangat efektif sebab beberapa minggu dapat ditemukan sebuah penjelasan dari seorang mahasiswa yang terlibat sebagai anggota ormek mengemukakan alasan mendasar bahwa mereka cenderung memilih bersahabat dengan se-ormek. Untuk semakin memperluas informasi yang didapatkan kadangkala perlu memasuki ke kelas-kelas. Di kelas ini terutama setelah perkuliahan selesai, informan lebih banyak berkumpul. Disinilah kadang diperkenalkan dengan aktivis yang lain sehingga upaya memperbesar penggalian data dan informasi dapat dilakukan.
--------->Seperti yang telah dijelaskan diatas, empati yang dilakukan harus dilakukan erat-erat agar penggalian informasi dapat dilakukan. Namun, informan yang memiliki aktivis baru yang baru dikenal umumnya lebih cenderung menutup diri. Untuk itulah, penggalian informasi lebih dilakukan kepada kalangan aktivis dan mahasiswa yang telah dikenal akrab oleh peneliti. Ini dimaksudkan agar penggalian data beserta informasi dapat dilakukan secara lebih mendalam sehingga mampu menemukan sebuah penjelasan mengenai gambaran deskriptif pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Data-data kesemuanya tersebut akan disusun dalam laporan dengan menggunakan metode editing analysis style sebagaimana yang diungkapkan diatas.
hal. 25
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
II. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
2.1 Lokasi Penelitian
--------->Lokasi penelitian kerapkali dipilih berdasarkan tinjauan alasan fenomena yang sedang atau tengah dikaji. Secara sosiologis, lokasi penelitian merupakan tempat seorang peneliti berinteraksi dengan individu atau kelompok yang tentunya berkaitan secara langsung dengan tema dan data-data penelitian yang dikaji. Oleh karenanya, dibutuhkan hubungan emosional lebih erat agar mempermudah seorang peneliti terjun di lokasi penelitian.
--------->Semakin besar seorang peneliti dibesarkan -dalam pengertian sebenarnya- oleh lingkungan lokasi penelitian yang hendak ditelaah. Maka, semakin terjalin erat pula hubungan interaksi dengan individu atau kelompok itu. Sebab, peneliti telah mengenal tipikal karakteristik lingkungan lokasi penelitian. Secara otomatis pula, penggambaran fenomena yang dikaji dapat diamati lebih seksama lagi. Alasan mendasar kesemuanya itulah yang melatar belakangi penulis menentukan lokasi penelitian.
--------->Lokasi penelitian dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jember (UNEJ). Ada beberapa alasan yang mendasari penulis mengambil lokasi penelitian di FISIP. Pertama, disadari atau tidak, pola pertemanan di FISIP UNEJ kurang sekali meneliti. Padahal persoalan itu menarik untuk disimak. Karena didalamnya sarat terjadi pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek, kepentingan subyektif kekuasaan atau politis dan kemampuan mahasiswa untuk mendinamisasi keadaan kampus. Kedua, alasan mendasar penulis mengambil lokasi penelitan di FISIP UNEJ memiliki beberapa mahasiswa yang ikut didalam struktur organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek tampaknya ada kecenderungan yang signifikan mengalami pergeseran dalam hal solidaritas, pertemanan dan sebagainya. Karena, itulah FISIP UNEJ tidak diragukan lagi layak untuk dijadikan lokasi penelitian.
hal. 26
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2.2 Gambaran Lokasi Penelitian
--------->Apabila mengacu pada buku pedoman FISIP UNEJ yang didalamnya memuat sejarah singkat disebutkan bahwa Yayasan Tawang Alun mendirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada tanggal 15 September 1961. Pada saat itu, FISIP berada di naungan Universitas Brawijaya (Lihat: Buku Pedoman FISIP UNEJ). Bahkan, nama Universitas secara organisasi masih bernama Universitas Tawang Alun. Barulah kemudian sekitar tanggal 10 Nopember 1964, Universitas Tawang Alun Negeri Jember diresmikan sebagai Universitas yang mandiri. Pada saat yang bersamaan, FISIP memiliki sejumlah jurusan mata kuliah. Yaitu Jurusan Sosiologi, Kesejahteraan Sosial, Hubungan Internasional, Administrasi Niaga, Pajak, Pariwisata, Administrasi Negara.
--------->Gambaran lokasi penelitian FISIP secara umum adalah terlihat dari situasi beberapa mahasiswa (akitivis) yang menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Ini biasanya mereka terlihat di beberapa tempat yang umumnya berkelompok-kelompok yang terdiri dari lebih dua orang. Tempat yang sering dijadikan para aktivis berkelompok-kelompok adalah di Musholla, warung sebelah tempat parkir sepeda motor, kantin bahkan juga sampai didalam kelas. Salah satu gejala yang cukup mencolok pengelompokkan para aktivis mahasiswa tersebut mendekati momen tertentu.
--------->Kadangkala aksi politik praktis juga sering dilakukan oleh para aktivis di depan FISIP UNEJ. Tidak hanya pengelompokkan di tempat tersebut, pengelompokkan para aktivis kadang juga terlihat di bangku-bangku. Mereka bercerita bahkan berdiskusi satu sama lain. Di dalam kelas pun demikian. Diskusi sering terjadi ketika telah ada sebuah topik yang menarik untuk didiskusikan. Disinilah kadang terjadi pula perdebatan yang cukup memanas karena ada beberapa hal.
hal. 27
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Sementara itu, ormek-ormek struktur pengurus yang terdapat di FISIP UNEJ adalah sebagai berikut:
A. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
- Visi:
1. Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata'ala
- Misi:
1. Membina pribadi mahasiswa muslim untuk mencapai akhlaqul karimah
2. Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya.
3. Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan umat manusia.
4. Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan dinnul Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
5. Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional.
6. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan identitas dan azas organisasi serta berguna untuk mencapai tujuan.
B. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
- Visi:
1. Terbentuknya pribadi muslim indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
- Misi:
1. Menghimpun dan membina mahasiswa Islam sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta upaya perwujudan kemerdekaan Indonesia.
hal. 28
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
C. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) - Visi:
1. GMNI adalah organisasi perjuangan untuk mendidik kader bangsa dalam mewujudkan masyarakat.
2. Mewujudkan masyarakat sosialis-religius yang demokratis serta adil dan beradab berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
3. GMNI adalah organisasi yang bersifat independen serta kerakyatan.
4. GMNI mempunyai motto: PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANG.
- Misi:
1. Melaksanakan tujuan organisasi dengan semangat gotong royong melalui usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan azas dan strategi GMNI.
2. Dalam menyelenggarakan usaha-usaha organisasi senantiasa memperhatikan kesatuan, persatuan dan keutuhan organisasi.
D. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)
- Visi:
1. Menghancurkan sistem yang menindas hak-hak rakyat untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkedaulatan rakyat.
- Misi:
1. Menggerakkan dan memimpin perjuangan mahasiswa.
2. Aktif dan ikut serta membangun gerakan rakyat yang memperjuangkan demokrasi di Indonesia
3. Aktif dalam kerja-kerja solidaritas internasional untuk pembebasan rakyat tertindas.
E. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
- Visi:
1. KAMMI bertujuan untuk menghimpun, membina, mengarahkan, dan memberdayakan segenap mahasiswa muslim Indonesia secara lintas sektoral,
hal. 29
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
lintas suku, ras, dan golongan dalam wadah kerjasama ukhuwah islamiyah dengan visi keimanan dan kerakyatan guna terciptanya pemimpin masa depan demi terciptanya masyarakat islami
- Misi:
1. Membina ketaqwaan, keimanan, dan akhlaq mahasiswa muslim Indonesia dengan cara-cara yang sesuai dengan Al Qur`an dan sunah Rasulullah Muhammad SAW. yang dilakukan dengan memperhatikan perkembangan zaman dan sesuai dengan konteks keindonesiaan.
2. Menggali, mengembangkan dan memantapkan segenap potensi kemahasiswaan baik potensi akal, keilmuan dan budaya yang sifatnya kreatif dan aplikatif yang akan sangat berguna bagi lajunya perkembangan nasional.
3. Mengembangkan kerjasama, komunikasi, dan persaudaraan antar sesama mahasiswa muslim Indonesia maupun antar sesama mahasiswa muslim dengan warga masyarakat yang lain dari berbagai kalangan, baik perseorangan, lembaga, perhimpunan, pemerintahan, maupun swasta di dalam maupun di luar negeri.
4. Mengembangkan dan meningkatkan kepekaan, kepedulian, peran serta, dan solidaritas mahasiswa muslim Indonesia terhadap permasalahan ebangsaan dan kerakyatan dalam lingkup ekonomi, pendidikan, politik, sosial dan budaya.
5. Berperan aktif dalam kegiatan pengembangan kemahasiswaan dan kualitas sumber daya manusia dengan misi membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran bagi seluruh ummat (amar ma`ruf nahi munkar). Usaha-usaha lain yang halal dan benar menurut Al Qur`an dan As Sunnah.
hal. 30
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------> Namun demikian ada beberapa ormek yang tidak memiliki struktur pengurus di FISIP UNEJ yaitu:
A. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)- Visi:
1. Membina para anggotanya menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, umat dan kader bangsa, yang senantiasa setia terhadap keyakinan dan cita- citanya.
2. Membina para anggotanya untuk selalu tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk melaksanakan ketaqwaannya dan pengabdiannya kepada Allah SWT.
3. Membantu para anggota khususnya dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.
4. Mempergiat, mengefektifkan, dan menggembirakan dakwah islam dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar kepada masyarakat mahasiswa segala usaha yang tidak menyalahi azas, gerakan, dan tujuan organisasi dengan mengindahkan segala hukum yang berlaku dalam negara Republik Indonesia.
- Misi:
1. Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlaq mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah
B. Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI).
- Visi:
1. Terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati
- Misi:
1. Berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati.
hal. 31
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
III. ANALISA DATA
3.1 Hubungan Pertemanan di Kampus
3.1.1 Pertemanan Berbeda Ormek
---------> Saya kaget dengan sikap teman-teman di kelas. Mereka tidak seperti biasanya. Padahal, awalnya, mereka saling menegur sapa satu sama lain. Tapi sekarang, hal itu tidak tampak lagi…. Hanya karena perbedaan ormek, yang satu bendera kuning, yang lain ijo dan satunya lagi merah muda…. Semuanya berkelompok-kelompok. Ini membuat saya sedikit kaget. (petikan kutipan wawancara)
---------> Ungkapan yang disampaikan oleh Supriadi tersebut merupakan sebuah bentuk kekecewaan akibat adanya sebuah perubahan sikap teman-teman di kampus. Sejak perkuliahan mulai aktif yaitu setelah mengikuti orientasi mahasiswa baru pada bulan Juli 2004, perilaku kawan-kawan satu sama lain di kelas menunjukkan sikap-sikap yang kurang simpatik lagi.
---------> Ketika itu perkuliahan akan segera dimulai. Sekitar 10 mahasiswa duduk-duduk di bangku akademik Kampus. Kebetulan antara satu sama lain memiliki latar belakang organisasi mahasiswa ekstrakurikuler (ormek) yang berbeda. Masing-masing terdiri dari lima mahasiswa bernama Arifuddin, Jayadi, Franz, Hadi dan Irwanto merupakan anggota ormek hijau. Tiga diantaranya (Karim, Irwanto, Franz) adalah anggota ormek kuning dan sisanya adalah anak netral termasuk Supriadi sendiri. Sebagaimana mahasiswa baru pada umumnya, mereka mulai berdiskusi seputar teori-teori yang baru diberikan oleh dosen mereka. Perdebatan dan dialektika wacana mengalir. Mahasiswa yang bernama Jayadi terkesan cerdas dan memiliki wawasan yang luas mengenai perkembangan teori dan ilmu politik.
--------->Karena itulah, ia mampu mematahkan argumen-argumen yang dilontarkan oleh Irwanto mengenai sikap politik beberapa pemimpin negara sejak pemerintahan orde baru sampai era reformasi. Melihat kondisi ini, Karim mengungkapkan kepada Supriadi bahwa Jayadi secara organisasi dan personal hanya mampu berdiskusi dan pro terhadap kebijakan Orba. Menurut Karim sebagaimana yang diungkapkan
hal. 32
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kepada Supriadi, ormek hijau tidak ikut dalam aksi yang dilakukan oleh beberapa elemen ormek dalam menyikapi lepasnya vonis terpidana Akbar Tanjung atas Bullogate II. Karena itulah, nama organisasi ormek hijau sengaja diplesetkan sebagai himpunan 'mandul'.
--------->Jayadi termasuk ormek hijaunya, itu orangnya pro golkar… waktu demonstrasi akbar tandjung tanggal 16 februari 2004 mereka tidak ikut. Itu mah, himpunan mandul namanya… Kalo pas dapat proyek dosen saja mereka giat. (petikan kutipan wawancara)
--------->Stigma negatif itu seakan-akan menyertai kemana saja Jayadi dan beberapa kawan-kawan yang tergabung didalam ormek hijau. Kadangkala ia merasa tersudutkan. Secara tidak langsung, stigma itu mempengaruhi dalam pergaulan antar sesama. Dalam memilih teman sepergaulan bagi mereka yang terhasut oleh stigma negatif itu. "saya, merasa terbebani awal-awalnya, padahal tuduhan itu cenderung mengada-ngada. Mangkane (Karena itu), saya lebih senang berteman dengan Arifuddin dan Hadi. Agar terhindar kesalahpahaman….", demikian ungkap mahasiswa asal Malang ini dalam logat jawa. Menanggapi tuduhan ormek hijau yang diplesetkan dengan Mandul, Jayadi melihat bahwa beberapa elemen mahasiswa tersebut terlalu menjustifikasi atas tuduhan sepihak itu.
--------->Secara organisatoris, ormek hijau juga berperan secara langsung dalam gerakan reformasi 1998 menjatuhkan sistem otoritarian politik Soeharto. Bahkan dia menambahkan bahwa proyek penelitian yang diberikan merupakan sebuah bentuk kerja sama dengan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan terlepas dari kepentingan politis apapun. Walaupun melibatkan dosen hal itu hanya sebagai mediator kepada LSM. Oleh karena itu proyek yang diberikan dosen merupakan salah satu kegiatan mempraksiskan intelektualitas didapatkan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), partai politik dan dosen.
--------->Terlepas dari itu, Jayadi lebih memilih bersahabat dari teman seideologi yang dikenal dari ormeknya. Alasan utama ialah menetralisir kemungkinan terjadinya kesalahpahaman karena bisa menjaga hubungan emosional satu sama lain baik sikap
hal. 33
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
maupun tutur kata. Karena itu, kemanapun Jayadi pergi seakan-akan Hadi selalu menemani. Sikap tolong-menolong juga sering ditunjukkan. Meskipun hal itu terkesan remeh misalnya Jayadi membantu Hadi mengarahkan dalam mengerjakan tugas mata kuliah statistik yang umumnya sulit bagi mahasiswa ilmu humaniora. Karena itulah hubungan persahabatan keduanya itu masih terjalin akrab.
--------->Dalam konteks itu, nyaris tidak pernah terdengar perselisihan diantaranya akibat persingunggan dalam konteks hubungan sosial antar mahasiswa anggota ormek Atau perbedaan cara berpikir dan bertindak sesuai ideologinya.
--------->Sementara itu pergeseran pola pertemanan dapat terjadi ketika adanya sikap-sikap yang kurang simpatik baik dalam bertutur kata maupun bersikap.Persoalan itu setidaknya dapat dijelaskan melalui pengalaman Imron. Imron tergabung dalam organisasi hijau tua sejak tahun 2003. Pada awal semester II, ia pernah disindir oleh Samsuri yang tercatat aktif sebagai anggota organisasi kuning. Karena, organisasi hijau tua terkenal memegang teguh nilai-nilai kepercayaan islam ia mendapat julukan "kaum fundamentalis" dan "Pak kyai". Entah alasan apa yang menyebabkan ia dianugerahi status semacam itu oleh Samsuri. Padahal, Imron sudah mencoba bersikap ramah kepada Samsuri. Berikut petikan wawancara dengan Imron:
--------->" ibarat datang tampak muka, pulang tampak punggung. Sikap manis didepan tidak diiringi ikhlas hati… dibelakang Samsuri menghina saya dengan julukan aneh-aneh. Ini membuat saya tidak mengerti...kok seperti itu". (petikan kutipan wawancara)
--------->Suatu ketika Imron selesai sholat dhuha di Kampus FISIP UNEJ. Disana memang tempat yang cukup teduh untuk berdiskusi. Terlihat tiga orang aktivis kuning senior dan yunior saling berbincang-bincang dan berdiskusi. Masing-masing bernama Samsuri, Prasetyo dan Hermawan yang tercatat sebagai anggota ormek kuning. Kebetulan dia melihat Samsuri maka ia menyapanya dengan senyuman yang menyungging. Menurut Imron, senyum merupakan bentuk kegiatan ibadah yang disunnahkan oleh nabi. Samsuri membalas kembali senyuman itu dengan
hal. 34
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
menyinggung dan menjawab pertanyaan Imron bahwa ia sedang santai dan bertukar pikiran dengan rekan-rekannya.
--------->Diperkenalkanlah satu persatu teman Samsuri kepada Imron. Imron pun memperkenalkan diri. Ironisnya, salah satu kawan Samsuri yang berinitial Hermawan mengungkapkan kata-kata yang menurutnya kurang etis. " sholat terussss pak kyai? Gimana kabar Israel dan Palestina?" kata Hermawan dengan senyuman menyungging. --------------->Sementara Samsuri, Prasetyo dan Hermawan juga terlihat tersenyum menyungging Tentu saja Imron menjawab dengan lugas dan tersenyum bahwa palestina telah kehilangan pemimpin besar. Ia tidak mengerti bahwa mereka melakukan hal semacam itu. Karena itulah ia meminta ijin kepada Samsuri dan ketiga rekannya meninggalkan tempat untuk mengikuti perkuliahan yang beberapa menit lagi akan dimulai. Ketika Imron berpaling, ia mendengar suara terbahak-bahak dan pekikan "Allahu Akbar". Namun ia tidak menanggapinya dengan serius dan terus memasuki ke dalam ruang kelas perkuliahan.
--------->Menurut Paul yang pernah menjadi anggota di beberapa ormek yang pernah diikutinya, menuturkan bahwa sikap elitisme mahasiswa ormek terlihat dari bergerombolnya mahasiswa di penjuru kampus, kelas, kantin ataupun musholla. Jika hal ini dilihat secara cermat, mahasiswa dan para aktivis membentuk sejumlah gap. Tentu saja umumnya berdasarkan persamaan ormek. Ini dimaksudkan agar terlihat jelas mana yang sepaham dan bukan. Jika hal itu semakin jelas, maka individu dari ormek tertentu akan mudah melihat antara musuh sejati dalam pengertian politik.
--------->" … jika dilihat banyak geng-geng mahasiswa di warung, di kelas, di musholla… Mereka berkelompok untuk mengetahui mana yang termasuk kelompoknya dan mana yang bukan." (petikan kutipan wawancara)
--------->Maka wajar kemudian terlihat di beberapa kelas atau warung dan sekitar kampus para aktivis berkelompok-kelompok atau bergerombol. Umumnya jumlah mereka berkelompok sekitar lebih dari tiga orang. Sementara itu, kasus yang
hal. 35
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
menimpa kepada Imron tersebut merupakan hal yang umumnya dilakukan oleh beberapa aktivis ormek kuning. Bahkan diwajibkan sesuai aturan macheavelinisme dan Tzun Zu yang dijadikan pegangan bagi ormek kuning untuk mempraksiskan politik. Menurutnya, hal itu adalah langkah agar individu mengalami keterasingan dengan ormek-nya. Pada gilirannya hal itu akan mempengaruhi individu memasuki ormek kuning karena merasa diterima dengan baik dan ikhlas oleh mereka. Ini merupakan teknik penjatuhan mental lawan ala politik Tzun Zu agar individu tertarik kepada ormek kuning.
--------->Menariknya, ada sebuah keunikan tersendiri dalam hubungan pertemanan mahasiswa yang bukan se-ormek. Dalam kelompok ini, terdapat tiga mahasiswa yang berbeda ormek. Grandi adalah aktivis ormek kuning. Rozy tercatat sebagai anggota ormek hijau dan Bari merupakan mantan aktivis ormek merah muda. Keduanya bersahabat. Meski pada awalnya kesenjangan itu nampak dan mempengaruhi persahabatan. Namun mereka sudah bisa melepaskan pemikiran sempit (baca: sikap elitis) yang terbawa dari ormek mereka masing-masing.
--------->Mereka pun bisa memahami perbedaan ormek sehingga kesalahpahaman yang biasanya terjadi akibat bercanda bernada menyindir atau menghina jarang terjadi. Masing-masing mampu menjaga sikap dan tingkah lakunya agar persahabatan tidak retak. Ada semacam batasan bahwa persoalan misalnya hal-hal urgen yang menyangkut aliran masing-masing sikap misalnya Gus Dur, Soekarno, Nurcholis Madjid tidak pernah disinggung. Meskipun itu dilakukan dalam bentuk bertukar wacana.
--------->Contoh lainnya adalah Budiman. Sejak ia bergabung kedalam organisasi merah yang terkenal radikal ia mendapat julukan PKI (Partai Komunis Indonesia) oleh beberapa kawannya yang berbeda aktivis. Kadang ia terbebani dengan stigma negatif itu. Sebab ia merasa kemana saja melangkah, tatapan sinis kawan-kawan lain terlihat jelas.
hal. 36
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->"saya menjadi risih ketika saya berjalan selalu ada bisikan kawan-kawan bahwa saya PKI.. Mereka melihat saya selalu dengan tatapan tajam. Seperti buronan saja." (petikan kutipan wawancara).
--------->Budiman memahami sikap kawan-kawannya tersebut. Pertama, secara historis pembentukan organisasi merah berdekatan dengan Partai Pergerakan Merah. Sejak Orba memimpin, organisasi kiri ini mendapat tekanan dan dituduhkan sebagai metamorfosis PKI. Tentu saja bagi masyarakat umum mendengar hal ini tidak lantas menerimanya. Sebab, mendengar nama PKI akan dikenal sebagai atheis dan pemberontak terhadap pemerintahan negara yang sah. Kedua, ormek merah berideologikan sosialisme-demokrasi. Disini, sosialisme dipahami sebagai komunisme.
--------->Suatu hari Budiman, sarapan pagi di warung kampus. Sebagaimana biasa, disana merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa termasuk aktivis kampus. Biasanya teman-teman Budiman se-ormek berkumpul di warung Kampus. Sekitar 4 mahasiswa yang berkumpul disitu dengan satu aliran. Bahkan, Budiarto yang menjadi ketua Partai Pergerakan Merah ada disitu.
--------->Menurut pengalaman Budiman, ketika mereka berkumpul terdengar dari kawan-kawan aktivis lain menyindir bahwa anggota PKI sedang mengadakan rapat pemberontakan di Kampus. Akan tetapi penyindiran halus seperti itu tidak dilakukan secara langsung ke hadapan langsung. Sebab, jika hal itu dilakukan bukan hal yang mustahil bentrokan fisik bisa terjadi.
--------->Peristiwa itu hampir dialami Nur Rohman (organisasi merah). Masalahnya Nur Rohman pernah menjelek-jelekkan ormek kuning dihadapan mahasiswa baru agar tidak masuk kedalamnya. Menurut Nur Rohman, organisasi kuning cenderung elitis, mengajarkan sikap menjilat, oportunis, menikam kawan sendiri dan rayon tidak dijadikan sebagaimana mestinya. Malahan Nur Rohman, mengatakan bahwa rayon ormek kuning selama ini adalah tempat mahasiswa berpacaran. Nur Rohman tidak menyadari ada beberapa mahasiswa yang termasuk kedalam simpatisan ormek kuning. Bahkan ada diantaranya yang tercatat aktif sebagai anggota ormek kuning.
hal. 37
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Karena itulah mereka mengutarakan hal itu kepada Ismail yang menjadi salah satu pengurus di ormek kuning. Tentu saja ia merasa dilecehkan secara organisasi dan pribadi. Ismail marah. Malam harinya, Ismail menghampiri Nur Rohman dan mengancam menarik kembali ucapan.
--------->Dengan sebilah pedang di tangan, Ismail mendatangi Nur Rohman di indekost-nya. Menurut saksi mata yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Ismail pada saat itu dalam kondisi mabuk. Karena itulah, Ismail meluapkan emosinya. Sayangnya, Nur Rohman tidak ada disana. Sebab, jika ada konflik fisik tidak akan terhindarkan.
--------->Melihat kondisi bahwa Nur Rohman tidak di tempatnya, Ismail pulang ke rayon dan menceritakan ke rayon. Pada saat yang bersamaan, Nur Rohman pulang ke kost-nya yang terletak di belakang kampus FISIP UNEJ. Nur Rohman diberitahu oleh kawan se¬-indekost. Bahwa, Nur Rohman dicari oleh Ismail dan menuntut agar Nur Rohman bertanggung jawab atas penghinaan yang dilakukan kepada organisasi kuningnya.
--------->Karena itulah Nur Rohman menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Nur Rohman ke sekretariat ormek merahnya yang terletak di Jalan Kenanga. Nur Rohman menceritakan bahwa ia baru saja mendapat ancaman dari Ismail. Mendengar hal ini, Budiarto (ketua Partai Pergerakan Merah), Rofan dan Handy menyarankan agar Nur Rohman segera menghampiri dan menanyakan maksud dari Ismail.
---------> Maka berangkatlah ketiganya menuju ke-kostnya Ismail yang terletak di Jalan Bangka. Sayang, mereka tidak menemui Ismail ada disana. Karena itulah Nur Rohman dan rekan-rekannya, berangkat ke rayon ormek kuning. Ketika mereka tiba disana, Nur Rohman dan teman-temannya bertemu dengan Ismail. Lantas, Nur Rohman berbincang-bincang dengan Ismail, untuk mengetahui maksud Ismail datang marah-marah ke indekost-nya.
--------->Ismail menjelaskan permasalahan, bahwa Nur Rohman menghina organisasi ormek kuning. Ismail tidak terima bahwa Nur Rohman menjelek-jelekkan ormek kuning. Memahami kesalahannya, Nur Rohman meminta maaf kepada Ismail.
hal. 38
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kedua belah pihak akhirnya mengakui kesalahan masing-masing. Maka permasalahan itupun selesai pada saat itu juga.
--------->Akan tetapi, Nur Rohman sudah mendapatkan stigma buruk. Ia dikenal sebagai seseorang yang menghina ormek lain. Karena itulah, Nur Rohman dijauhi oleh para aktivis ormek lain. Memandang situasi ini Nur Rohman bisa memahami, sebab tidak semua para aktivis menjauhinya. Ada beberapa diantaranya yang masih mau bergaul dengan Nur Rohman .
--------->Ismail sekarang sudah baik dengan saya.. perkara ada orang lain (dalam hal ini aktivis) menghina saya karena masih mempermasalahkan masalah itu, saya biarkan saja. Sebab jika dilayani permasalahannya akan bertambah parah. Toh, Ismail sekarang sudah berteman baik. (petikan kutipan wawancara)
--------->Berbeda halnya dengan Fauzi dan Endro. Kedua mahasiswa ini memiliki perbedaan ormek. Fauzi adalah aktivis merah yang bergabung sejak tahun 2003 dan Endro termasuk kedalam ormek kuning tahun 2003. Keduanya bisa memahami perbedaan mendasar itu dan tidak menjadi penghalang dalam berteman. Sebab, memasuki ormek melatih kemampuan intelektual, kepemimpinan dan sikap terhadap perubahan sosial bangsa-negara. Bukan sebaliknya, menciptakan permusuhan antar sesama aktivis didalam maupun diluar organisasi. Karena itulah Fauzi dan Endro kurang menyetujui jika permasalahan ormek dikait-kaitkan dalam pertemanan. Berikut kutipan wawancara:
--------->" ormek ya ormek, kalo pertemanan hal itu gak perlu dibawa-bawa. Yang penting kita bisa menjaga diri masing-masing."(petikan kutipan wawancara)
--------->Sementara itu, Kurnia adalah mahasiswa mantan aktivis ormek putih dan sejak tahun 2003 ia aktif di ormek hijau. Latar belakang ini tidak menjadikan sebagai penghalang untuk berteman dengan Jeny. Jeny adalah anggota ormek hijau, dalam pergaulan mereka dapat menjaga diri masing-masing karena itulah ia bisa bersahabat dengan Kurnia.
hal. 39
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Menurut Kurnia, Jeny adalah teman yang mampu berinteraksi. Baik Jeny maupun Kurnia tidak melihat latar belakang organisasi masing-masing. Bagi mereka berteman adalah suatu kebutuhan individu untuk bertukar pikiran, saling mengasihi dan sebagainya. Jeny dan Kurnia bisa menjaga satu sama lain, untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Ia juga mengungkapkan bahwa, berteman secara ideologis, dalam hal ini se-ormek hanyalah sebuah kebetulan. Menurutnya, dalam bersahabat tidak perlu membeda-bedakan ormek. Pada dasarnya, ormek adalah tempat untuk menambah teman.
--------->Lain halnya dengan Sujatmoko dan Irawan yang tergabung kedalam ormek kuning. Keduanya adalah berteman dengan Sudiartohadi yang tidak tercatat sebagai anggota ormek manapun. Sudiartohadi diberitahu oleh Sudjatmoko dan Irawan agar tidak jangan berteman dengan kawan-kawan yang berlatar belakang ormek merah, ormek hijau, ormek merah muda dan ormek hijau tua. Bahkan menghina ormek tersebut dengan alasan-alasan dan stigma yang tidak rasional. Misalnya, ormek merah adalah PKI. Ormek hijau adalah pro-golkar, ormek merah muda sok nasionalis dan ormek hijau tua adalah perkumpulan islam fundamentalis-terorisme Osama Bin Laden. Bahkan mereka dijelek-jelekkan oleh Sudjatmoko bahwa mereka ekslusif. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, Sudiartohadi beranggapan bahwa pendapat Sudjatmoko adalah salah. Sebab, kawan-kawan dari ormek merah, ormek hijau, ormek hijau tua dan ormek merah muda sangat ramah. Karena itu Sudiartohadi malas bergaul dengan kawan-kawan ormek kuning. Menurutnya ormek kuning selalu bermuka dua, mencampuri urusan pribadi dan senang mengadu domba dengan kawan-kawannya.
3.1.2 Pertemanan Se-ormek
--------->Persahabatan Ayu dan Pratiwi (bukan nama sebenarnya) dan Subhan (bukan nama sebenarnya). Persahabatan mereka diawali sejak tahun 2003. Pada saat tahun sebelumnya, mereka kurang akrab satu sama lain. Barulah kemudian ketika mereka memasuki ormek kuning di tahun 2003, keakraban mereka mulai nampak. Perlu diketahui Ayu dan Pratiwi adalah mahasiswa Kesejahteraan Sosial. Sementara
hal. 40
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Subhan adalah mahasiswa Hubungan Internasional. Alasan mereka bersahabat se-ormek persoalannya hampir sama dengan contoh yang lain. Dengan bersahabat se-ormek, kesalahpahaman akan terhindarkan. Pengalaman Subhan atau Ayu sendiri mengungkapkan bahwa mereka pernah bersahabat dengan mahasiswa yang bukan se-ormek.
--------->Namun, persahabatan itu mulai retak akibat kesalahpahaman. Tanpa sengaja, Ayu menyeletuk tentang gerakan praksis yang tidak pernah dilakukan oleh ormek hijau. Bahkan, Ayu menanyakan kenapa selalu giat ketika mendapat proyek dosen. Atas kesalahpahaman ini, Sari merasa tersinggung. Karena itu, Sari tidak ingin ditemui dan berbicara dengan Ayu. Sejak itulah, Ayu berhati-hati dalam memilih teman atau sahabat. Karena peristiwa itu, Ayu lebih memilih teman yang seideologi. Dalam hal ini se-ormek. Maka bertemulah ia dengan Subhan dan Pratiwi. Pada saat itu pula, mereka bersahabat. Berikut kutipan wawancara,
--------->saya kurang sreg kalo berteman dengan ormek lain. Saya pernah mengalami sendiri persahabatan pernah retak gara-gara kesalahan ngomong sama Lidya (bukan nama sebenarnya), dulu.. Sejak itu, saya berhati-hati memilih teman... Lebih enak berteman dengan se-ormek. (petikan kutipan wawancara)
--------->Contoh lainnya adalah Agnes dan Masayu merupakan anggota organisasi merah muda sejak pertengahan tahun 2004. Keduanya terlihat akrab. Agnes sudah mengenal dengan Masayu di kampus sejak pertama kali masuk kuliah tahun 2003. Pada saat itu, Agnes belum mengenal akrab dengan Masayu. Meski ada, suasana keakraban yang nampak adalah sekedar hubungan pertemanan biasa. Namun keakraban lebih terjalin ketika Agnes dan Masayu masuk kedalam organisasi merah muda sejak pertengahan 2003. Ketika mengikuti Latihan Kader di alam terbuka yaitu Tanjung Papuma Watu Ulo Jember. Kebetulan ia menempati satu tenda dengan Masayu.
--------->Disitulah perkenalan hubungan emosional mulai terjalin. Agnes menjadi tumpuan curahan hati Masayu mengenai segala sesuatu hal termasuk masalah privasi. Agnes yang teman sekelas dengan Masayu ini, mengungkapkan:
hal. 41
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->"… Sejak itulah saya berteman akrab dengan Masayu. Masayu juga menjadi teman curhat saya… Dan kalo diajak diskusi nyambung…" (petikan kutipan wawancara)
--------->Sementara itu, Agnes juga membenarkan bahwa kesamaan latar belakang ormek semakin membuat hubungan persahabatan Masayu lebih akrab. Dalam hal bertukar pikiran Agnes -mengenai hal-hal prinsipil sekitar ideologi, teori ilmu humaniora, artikel, sikap para aktivis dan lain-lain- mengemukakan bahwa kesamaan cara pandang mampu menyatukan keakraban. Misalnya saja ketika mereka berdua berdiskusi mengenai tragedi Dua Tujuh Juli (Kudatuli), penyerangan ke kantor PDI-P Pusat Jakarta. Keduanya menyepakati bahwa tindakan itu merupakan rekayasa politik pemerintah Orba. Menurut keduanya perlu diberikan dilakukan karena menodai nilai-nilai prinsip haluan besar UUD 1945 dan Pancasila.
--------->Sebagai pengagum Soekarno, keduanya memang dibesarkan oleh lingkungan yang sarat penjujungan sikap-sikap nasionalisme yang tinggi karena itu mudah dipahami ketika mencoba memberikan umpan pertanyaan tentang konflik perebutan wilayah blok Ambalat antara Malaysia dan Indonesia. Keduanya mengisyaratkan bahwa Malaysia sudah terlampau jauh. Karena itu mereka sependapat bahwa mempertahankan pulau itu diperlukan sekalipun dengan cara represif militer. Sebab, menurut mereka, cara ini efektif mengingat Soekarno pernah mengungkapkan agar Malaysia perlu diserang.
--------->Kadangkala ketidak sepahaman dalam bertukar pikiran bisa saja terjadi. Misalnya, selain pengagum Soekarno, Agnes juga menyukai beberapa pemikiran Marxisme. Sementara Masayu kurang menyukai filsafat sosialisme-komunisme itu. Menurut Masayu, marxisme cenderung mengabaikan pergerakan dialektika sejarah. Karena itulah ramalan komunisme milik Marx tidak terbukti. Beberapa negara termasuk Uni Soviet telah hancur. Menanggapi hal ini Agnes menjelaskan, meskipun ia mengakui kepada bahwa ia bukan penganut aliran marxisme, namun ramalan-ramalan historis Marx masih relevan dalam menyumbangkan pengembangan ilmu intelektual. Agnes sendiri pernah membaca dalam sebuah buku tanggapan Ken Budha Kusumandaru (kebetulan Agnes tidak menyebutkan secara rinci judul buku
hal. 42
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
tersebut) dan Revolusi Oktober. Ia menuturkan bahwa komunisme marx pernah terjadi di Paris 1871 selama tiga tahun. Meski, pada dasarnya masih utopis dan terus menarik mereka perbincangkan mengenai hal itu.
--------->Maka, perdebatan kembali dimulai dan Masayu tidak menyetujui atas opini Agnes itu. Namun perdebatan itu tidak sampai memecahkan hubungan persahabatan diantara keduanya. Mereka menyadari bahwa perdebatan intelektual adalah kegiatan bertukar wacana dan opini semata tidak lebih daripada itu. Karena itu, ketika perdebatan mulai "panas", mereka bisa menjaga diri dan sikap saling mengalah secara obyektif agar tidak menyinggung perasaan Masayu. Itulah sebabnya persahabatan mereka tetap utuh. Mereka juga menyinggung bahwa menjalin persahabatan sesama ideologi (baca: seormek) merupakan hal untuk mengukuhkan semangat kebersamaan dalam berorganisasi. Karena itu ia tidak memungkiri hubungan pertemanan didalam kampus FISIP terkadang para aktivis masih melihat latar belakang ormek. Artinya, mereka yang bukan se-ormek akan dijauhi.
--------->Sementara itu, terdapat contoh mahasiswa membentuk kelompok berdasarkan kesamaan ormek. Sebuah kelompok yang tidak hanya terdiri dari tiga aktivis mahasiswa masing-masing bernama Ananda, Badrun dan Raihan. Ketiganya ini merupakan aktivis ormek bendera hijau.
--------->Pada saat itu, mereka sering terlihat bersama-sama di depan kelas. Menariknya pergi ke kantin atau ke warung Kampus mereka terlihat bersama-sama. Padahal mereka tidak menempati satu kost bersamaan. Ananda bertempat tinggal sementara di Jalan Jawa IX. Badrun indekost di jalan Mastrip dan Raihan memilih tinggal di rumah kontrakan di Jalan Mastrip. Ketiga sahabat ini seakan-akan sulit terpisahkan. Ada beberapa alasan mengapa mereka memilih bersahabat dengan teman se-ormek.
--------->Menurut Badrun, berteman se-ormek merupakan salah satu perwujudan bahwa saling memiliki dan saling menerima. Dalam hal ini, Badrun mengungkapkan bahwa mereka telah mengenal karakter masing-masing termasuk cara pandang mereka. Oleh karenanya, mereka merasa lebih cocok untuk bersahabat. Hal ini pun dibenarkan oleh Raihan dan Ananda, memilih teman se-ormek adalah solidaritas
hal. 43
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
lebih terjamin. Mereka merasa seperti bagian anggota keluarga. Hubungan emosional-pun dapat terjalin harmonis. Malahan mereka berencana akan menyewa sebuah rumah kontrakan di daerah Jalan Bangka.
--------->Selain itu ada juga contoh yang menggambarkan sikap elitisme. Pengalaman Jony, Saiful, Zawawi dan Dayat. Ketiga ini merupakan tercatat sebagai anggota aktif ormek kuning. Sayangnya, persahabatan mereka menunjukkan sikap elitisme. Dalam hal ini, mereka kurang mau bergaul dengan mahasiswa orang lain yang bukan se-ormek. Karena persoalan ini memberikan kesulitan sebab mereka terlihat menutup-nutupi kenapa mereka lebih senang bergaul dengan teman se-ormek. Maka, mencoba memasuki lebih dalam kiprah persahabatan mereka.
--------->Akhirnya dapat diketahui bahwa mereka adalah anggota yang masih tercatat sebagai dalam struktur keanggotaan ormek kuning. Mereka enggan bergaul dengan teman dari ormek lain. Mereka menganggap bahwa ormek kuning lebih baik baik dari segi pergerakan maupun intelektualitas daripada ormek lain.
--------->Sebenarnya saya malas berteman dengan ormek lain. Kau lihat sendiri saja, ormek lain seperti ormek hijau selalu onani intelektual terus. Atau ormek merah dan merah muda senangnya demonstrasi terus… Apalagi suka
ndoktrin dan demonstrasinya dibayar . Malas berteman dengan mereka,
mending berteman dengan teman se-ormek lebih senang. Demikian
ungkap Jony.(petikan kutipan wawancara)--> catatan footnote untuk memperjelas hal ini. Kadangkala demonstrasi yang dilakukan para aktivis telah ditunggangi oleh kepentingan subyektif kekuasaan. Ini terjadi di pemilihan rektor tahun 2003. Sejumlah dosen mempolitisir agar menggagalkan pemilihan rektor dengan isu agama. Menurut Paul, dosen bernama Warsito mengajak mahasiswa untuk berdemonstrasi tepat ketika perkuliahan berlangsung. Tentu saja hal demikian secara tidak langsung merusak iklim intelektual mahasiswa dan mempengaruhi dalam hubungan pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek.
--------->Karena itulah mereka terkesan menutup diri dari pergaulan. Menurut Bayu sikap mereka terkesan elitisme itu mudah dipahami . Mereka masih belum membedakan mana harus berpolitik dan berteman. Itulah sebabnya mereka senang berteman atau bersahabat dengan se-ormek kuning.
---------> Berbeda halnya dengan Rahardi dan Wijaya mereka menganggap bahwa ormek terkadang semakin menyebabkan mahasiswa terkotak-kotak. Rahardjo sempat
hal. 44
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
berpandangan bahwa lebih baik memilih teman berdasarkan kesamaan ormek. Di awal semester II, ia sengaja memilih Jodi dan Gayo yang sama-sama tergabung dalam ormek kuning sebagai teman. Alasannya, untuk menjalin hubungan solidaritas lebih erat sesama rekan aktivis se-ormek. Karena itulah, Rahardi dan Wijaya tidak mau berteman dengan teman-teman se-ormek.
---------> Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari kesalahannya itu. Lantas ia melepaskan sikap elitisme. Menurut Rahardi, sikap elitisme seperti tidak bergaul dengan kawan se-ormek adalah bentuk ketidak dewasaan seseorang untuk menerima perbedaan aliran politik atau ideologi.
---------> ”biasa-lah… namanya juga mahasiswa yang sedang asyik-asyiknya menyandang idealisme dan status aktivis. Saya awalnya sempat elitis, tapi lama-lama bosan juga… masuk ormek kadang membuat seseorang jadi elitis…." (petikan kutipan wawancara)
---------> Dalam yang hampir sama dengan itu, Wijaya mengungkapkan
"Biasanya elitis muncul di awal-awal semester, itu pun bagi mereka yang terbawa doktrin ormek… saya sempat pernah mengalami gara-gara masuk ormek... berteman pun pilih-pilih dan hanya berlangsung tiga semester… Ini tergantung orangnya" (petikan kutipan wawancara).
---------> Jika kita menyimak ungkapan Wijaya diatas mengesankan bahwa ia pernah bersikap elitis dalam memilih teman harus dilihat dari latar belakang ormek. Dalam konteks ini, ia akan menjauh menjalin hubungan persahabatan lebih erat kepada individu yang bukan se-ormek. Wijaya yang merupakan mantan aktivis hijau dan kuning, menyadari kekeliruan tersebut. Karena itulah ia kini mau bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang perbedaan ormek.
---------> Menurut penuturan Wijaya, sikap elitisme para aktivis dalam memilih teman bergaul umumnya terjadi di awal-awal semester yaitu semester II sampai IV. Pada saat itu, ia cenderung berteman dengan Khairul , Zaenal dan Susilo daripada yang lain. Baginya, berteman dengan mereka untuk memberikan kesan bahwa ia lebih peduli dengan kelompoknya, dalam hal ini ormek.
hal. 45
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam konteks tersebut, ia juga akan dijauhi secara tidak langsung oleh teman-teman se-ormek karena dianggap sudah berpihak kepada ormek lain. Secara otomatis, ia pun terpaksa melakukan sikap elitis. Akan tetapi, setelah melewati semester IV ia menyadari kesalahan tersebut. Karena itulah, ia membuang jauh-jauh sikap elitis yang menurutnya tidak mencerminkan sikap kedewasaan sebagai kaum intelektual.
---------> Contoh lainnya adalah Tatva. Sejak tergabung kedalam organisasi ormek merah muda, ia sempat dijauhi oleh kawan sekelasnya. Tentu saja secara tidak langsung, misalnya ketika ia duduk di berdekatan dengan anak-anak berbeda ormek yaitu ormek kuning, lantas mereka menjauhkan diri. Alasannya, ingin duduk di dekat jendela karena udara pada saat itu panas, ingin fokus pada materi dosen dan sebagainya. Hal ini terjadi berulang kali, Meski awalnya dia hanya beranggapan bahwa sikap teman-teman tersebut tidak mengada-ada.
---------> Karena itulah, ia mencari teman yang seideologi yaitu Tatva yang di kelasnya hanya ada satu orang. Berteman secara ideologi setidaknya akan membuat terjadi kesalahpahaman. Karena hubungan emosional lebih terikat kuat dan satu sama lain dapat menjaga baik tutur kata maupun sikap. Melihat sikap kawan-kawan ormek kuning tersebut maka ia juga menjelek-jelekkan dengan mengatakan bahwa aktivis ormek kuning umumnya elitis dalam bergaul.
---------> Sementara, teman-teman ormek merah, hijau, hijau tua, putih masih bisa menghargai dalam berteman. Meski ada beberapa diantaranya yang juga menutup diri dalam arti tidak mau bergaul dengan teman seideologi. Berikut ini tuturan Tatva kepada yang diungkapkan kepada di kampus.
---------> "Sebenarnya saya malas bergaul dengan kawan-kawan ormek kuning.. bukan karena apa, waktu saya masuk ormek merah.. saya pernah dijauhi mereka waktu duduk, di kelas…sayapun malas dengan mereka, maka saya enakan berteman sama Tatva, ya kadang mual lihat sikap mereka, kadang mereka menyindir yang aneh-aneh … ketika aku lewat pasti
ngomong Pancasila satu, ketuhanan yang maha esa… kayak anak sd.
Saya biasa saja, tapi mereka dulu yang selalu memulai." (petikan kutipan
wawancara)
hal. 46
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Begitulah gambaran yang sikap elitisme yang setidaknya dilakukan beberapa aktivis kuning kepada Tatva. Bila kita simak lebih jauh, ia pun mendapat berbagai cercaan ketika Tatva melewati kerumunan para aktivis yang berbeda ideologi.
--------->Menurut pendapat Paul seorang mantan aktivis dari beberapa ormek kuning, hijau tua dan hijau. Sejauh Paul pernah memasuki ormek kuning di tahun 2002, persoalan seperti itu merupakan alat untuk melemahkan mental lawan. Praktek ini merupakan tekhnik politik macheavelinisme. Artinya, isu-isu negatif dihembuskan dengan bentuk canda atau sindiran yang terkesan menghina. Tujuannya adalah agar lawan mengalami keterasingan dengan latar belakang ormek yang oleh bersangkutan ikut tergabung didalamnya. Karena itulah dapat dipastikan sikap-sikap mereka umumnya cenderung bermuka dua. Artinya didepan mereka akan ramah ketika ada kepentingan.
--------->Paul melanjutkan kadangkala para aktivis terlalu cepat menggenalisir bahwa tindakan kesalahan individu dimaknai tindakan organisasi. Bahkan terkadang sering mengambil rumusan kesalahan satu orang adalah kesalahan organisasi. Persoalan ini setidaknya dapat dijelaskan dengan temuan lapangan sebagaimana yang terjadi kepada Maesa.
--------->Maesa (anggota ormek kuning) pernah melakukan kesalahan secara tidak langsung kepada Atika (anggota aktivis ormek hijau). Maesa menghina kepada Atika bahwa ormek-nya adalah tempat para broker yang lebih senang menerima proyek dosen daripada terjun kedalam dunia aktivisme dalam pengertian sebenarnya. Sebaliknya, Atika menuduh bahwa ormek kuning berperan secara langsung dalam praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh elit birokrat kampus. Termasuk mempertahankan status quo jabatan struktural elit birokrat kampus agar tidak berpindah ke ormek lain. Maesa pun marah. Karena Atika menganggap harga diri secara individu dan organisasi telah diinjak-injak. Maka Maesa langsung memberi tahu kepada kawan-kawannya agar tidak bergaul dengan Atika termasuk ormek-nya. Inilah salah faktor yang menjadikan pergeseran antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ.
hal. 47
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Dari beberapa contoh diatas secara garis besar hubungan sosial antar anggota ormek dapat dijelaskan melalui skema sebagai berikut:
skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan termuat seutuhnya mengingat sifat keterbatsan blog
a. individu(aktivis) --> mencari teman --> sesama aktivis seormek -->hubungan sosial terjamin bahkan lebih akrab
b. Individu (aktivis)--> mencari teman --> teman beda ormek --> sering terjadi salah paham
c. individu (aktivis) --> mencari teman --> teman netral (tidak ikut hubungansosial ormek) terjamin
--------->Dari contoh diatas pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek terjadi tatkala ketidaksepahaman nilai-nilai prinsipil, terpengaruh sikap dan lingkungan sosial sekitar kampus disertai kurangnya kedewasaan politik yang dimiliki. Menurut Paul, fenomena pergeseran ketidaksepahaman nilai-nilai yang paling mencolok di Kampus adalah ormek kuning dan ormek hijau. Keduanya, ini memiliki nilai ideologi yang cukup berbeda. Bila ormek kuning berkencenderungan pada nilai islam ortodoks yaitu nadhlatul ulama, ormek hijau malah sebaliknya. Ormek hijau lebih ke islam modernis yaitu muhammadiyah. Karena itulah mereka lebih sulit dipertemukan dalam dunia aktivisme termasuk hubungan sosial pertemanan. Apalagi di kampus jumlah anggota kedua ormek tersebut cukup banyak dibandingkan dengan lainnya. Meski data mengenai jumlah hal itu sulit didapatkan karena persoalan internal ormek selama pengalaman ini selalu ditutupi-tutupi. Menurut Paul dan Hamzah ketika, mereka mengemukakan bahwa para aktivis mahasiswa tampaknya memang kurang mau memberikan data nama anggota mereka kepada pihak lain. Sebab, bila hal itu diberikan kekuatan politik mereka akan mudah diketahui oleh aktivis yang lain terutama menjelang pemilihan BEM.
hal. 48
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Akan tetapi, Paul dapat memperkirakan bahwa ormek kuning dan ormek hijau perbandingannya sekitar 50% dan 40%. Karena itulah sisanya sekitar 5 % masing-masing adalah aktivis ormek merah, merah muda, hijau tua dan ormek putih sekitar 5%. Karena itulah gejala yang cukup mencolok pada pergeseran hubungan antar anggota ormek di FISIP sebagaimana diutarakan oleh Paul kepada adalah antara ormek kuning dan ormek hijau.
---------> "ormek kuning dan ormek hijau konon musuh bebuyutan wajar di kampus keliatan berantem. Secara ideologis pun, ormek hijau tua lebih dekat dengan ormek hijau, ormek putih pun demikian. " (petikan kutipan wawancara)
--------->Dalam mencari teman terkadang mereka juga sulit bertemu. Pengalaman Paul sendiri, ia pun pernah dijauhi oleh kawan-kawan ormek hijau karena tercatat sebagai anggota di ormek hijau. Tentu saja cara yang ditunjukkan secara tidak langsung. Namun, setelah ia keluar dari ormek hijau dan bergabung dengan ormek kuning, ia pun bisa diterima oleh kawan-kawan ormek hijau. Paul menambahi bahwa hubungan elitis yang sangat mencolok memang dibesarkan dari ormek kuning. Alasan inilah yang mendasari ia keluar sebagai anggota ormek kuning.
--------->Dalam pengamatan di lapangan, stigma buruk juga diberikan kepada mereka yang keluar dari anggota ormek. Pengalaman Paul berikut ini setidaknya dapat menjelaskan mengenai hal ini.
---------> "Saya dicap sebagai penghianat sejak saat itu. Kadang saya semakin dijauhi oleh temen-temen ormek kuning. Tapi saya cuek saja, khan masuk kedalam organisasi bukan berarti mengabdikan seluruhnya. Kita khan ini masih dalam pencarian… Sama saja, pengalaman saya meloncat-loncat sejak masuk ormek merah muda, kuning kemudian ormek hijau dan terus ke hijau tua" (petikan kutipan wawancara).
--------->Menurut Paul, berteman berdasarkan kesamaan ormek secara tidak langsung menunjukkan kepedulian antar sesama. Karena itulah mereka terkadang memilih-milih teman atau sahabat seormek agar hubungan sosial dan emosional lebih terjalin.
hal. 49
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di dalam kampus pun begitu, mereka melihat dulu apakah seseorang tergabung dalam kelompoknya atau tidak.
--------->Sebenarnya, cara-cara penghinaan kepada teman yang bukan seormek adalah bentuk tindakan politik untuk menguatkan persepsi kelompoknya. Dengan begitu, mahasiswa-mahasiswa baru akan lebih tertarik untuk masuk ke dalam organisasinya. Berikut kutipan wawancara dengan Paul.
--------->"menjelek-jelekkan adalah hal yang harus dilakukan untuk mengguatkan persepsi, citra atau imej kelompok. Ini dimaksudkan untuk menambah kader dalam organisasi" (petikan kutipan wawancara)
--------->Karena itulah, dimana mereka bertemu seorang aktivis terkadang selalu kurang menunjukkan sikap-sikap yang simpatik lebih-lebih didalam kampus sendiri. Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa hubungan sosial di dalam Kampus mengarah kepada disintegratif. Kecuali ada momen-momen tertentu mereka bisa bergabung misalnya berdemonstrasi.
--------->Paul menambahkan bahwa pegeseran hubungan sosial antar mahasiswa akan semakin terlihat jelas menjelang pelaksanaan BEM, restrukturasi internal organisasi ekstrakurikuler di dalam kampus, pemilihan dekan dan rektor.
3. 2. Hubungan Pertemanan di Sekitar Kampus
3.2.1 Pertemanan Berbeda ormek
--------->Sikap elitisme mahasiswa dalam memilih pertemanan terkadang sampai mempengaruhi dalam kehidupan di indekost. Persoalan itu lebih disebabkan adanya pengaruh kuat nilai-nilai doktrin yang dibawa di masing-masing ormek yang bersangkutan. Mochtar adalah hal yang menarik untuk dicermati.
--------->Mochtar bertempat tinggal sementara atau indekost di sekitar Jalan Bangka. Penghuni indekost ini sekitar 10 orang yang terdiri dari berbagai jurusan akademik. Enam diantaranya adalah mahasiswa FISIP UNEJ termasuk Mochtar. Masing-masing bernama Thomas, Sucipto, Sugeng, Muis dan Wisnu. Sebagai teman se-
hal 50
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
indekost, hubungan sosial tentu dijaga erat-erat dengan menjaga sikap dan tingkah laku. Ini sangat penting untuk menghindari dari hal-hal yang mengarah kepada konflik. Karena itulah sikap dan tutur mereka dijaga.
--------->Akan tetapi, sejak Mochtar masuk kedalam ormek merah hubungan sosial diantara mereka mengalami ke pergeseran meski tidak sampai mengarah ke bentuk konflik fisik. Sebagaimana yang diungkapkan Mochtar, sebelum ia masuk kedalam ormek merah, Mochtar sering diajak berdiskusi mengenai kehidupan mahasiswa di kampus dan dimana saja dia akan pergi dalam urusan sehari-hari. Misalnya mencari makan dia selalu ditemani oleh salah satu dari mereka
--------->Mochtar menyadari bahwa hal itu adalah upaya untuk mengajak secara tidak langsung agar ia menjadi salah satu anggota ormek kuning. Minimal, Mochtar akan simpatik dengan sikap dan tingkah laku mereka kepada ormek kuning. Akan tetapi, hal itu tidak sampai memutuskan dia untuk bergabung kedalamnya.
--------->Atas pertimbangan tertentu, akhirnya Mochtar memutuskan masuk kedalam ormek merah sejak 2004. Polemik terjadi ketika Mochtar masuk kedalam organisasi merah yang mempengaruhi hubungan sosial secara langsung kepada teman-teman indekost.
--------->Mochtar kemudian seakan diasingkan dari teman-teman kost-nya. Bila sebelumnya ia diajak berdiskusi atau ketika Mochtar membutuhkan bantuan teman-temannya kurang menghiraukan.
--------->"Sejak masuk organisasi merah saya tidak dihiraukan… kadang sikap yang mereka lakukan terlihat dibuat-buat. Yang ngomong sibuk lah atau apa lah.. padahal dulu gak kayak gitu mereka baik meski ada tujuan dibalik semua itu….saya diajak masuk kesana (ormek kuning)". (petikan kutipan wawancara)
--------->Karena itulah ia mulai menarik diri dari pergaulan mereka. Bila sebelumnya ia terlihat berkumpul bersama mereka, maka dapat dipastikan Mochtar tidak ada. Alasan Mochtar sederhana saja, ia tidak mau terjadi konflik fisik hanya persoalan sepele. Maka wajar kemudian bila Mochtar lebih baik berteman dengan teman-teman netral. Netral dalam konteks ini, tidak tercatat sebagai anggota ormek apapun
hal. 51
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Namun, seiring berjalannya waktu yaitu kira-kira dua minggu hubungan baik antara Mochtar dan kelima teman indekost yang kembali seperti semula. Artinya ia bergaul sama lain tanpa ada perbedaan secara diameteral baik secara ideologis dan prinsip. Meskipun demikian, konflik dalam bentuk bahasa misalnya sindiran atau canda masih saja ia temui. Misalnya, ia selalu disindir sebagai PKI ataupun "anak aidit". Menanggapi hal itu Mochtar hanya bisa diam, sebab dia tidak menghiraukannya.
--------->"Saya biarkan saja mereka menghina saya.. biar daripada nanti ada masalah apalagi teman indekost dan sama-sama se-FISIP. Lebih baik saya diam saja….mereka lama-lama akan bosan dengan sendirinya." (petikan kutipan wawancara)
--------->Karena itulah dia bersikap biasa saja terhadap teman-teman-nya. Perkembangan selanjutnya Mochtar pun mulai menerima jika ada hal-hal yang kurang berkesan diberikan secara langsung maupun tidak langsung terhadapnya. Meskipun itu dalam bentuk debat argumen, canda yang menghina dan sikap-sikap menjauhi dia secara tidak langsung. Buktinya, sikap dan tutur kata teman-teman Mochtar di indekost-nya dalam beberapa bulan saja mulai berubah sediakala. Karena itulah pergeseran hubungan sosial diantara mereka tidak menunjukkan ke bentuk perkelahian.
--------->Menurut Tomi, membenarkan bahwa pengaruh kuatnya indoktrinasi dari ormek terkadang juga terbawa tidak hanya di kampus. Hal ini dikarenakan para aktivis umumnya terjebak dalam pandangan semu bahwa idealisme harus dipertahankan dimana saja dan kapan saja. Jika hal ini tidak disertai kedewasaan politik maka hubungan sosial akan mengalami ke bentuk destruktif. Misalnya bermusuhan, menghina satu sama lain dan parahnya tidak tertutup kemungkinan akan terjadi perkelahian fisik.
--------->Pengalaman Tomi sendiri menceritakan bahwa yang terjadi oleh Mochtar diatas pernah dialami dahulu. Sewaktu itu di tahun 2002, Tomi memiliki pengalaman yang hampir sama dengan Mochtar.
--------->Di kost Tomi yang terletak di sekitar Jalan Jawa merupakan tempat basis ormek kuning secara tidak langsung. Berikut kutipan wawancara:
hal. 52
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Di tempat kostku dulu di Jalan Bangka, adalah basis ormek kuning. Banyak anak-anak ormek kuning sering berkumpul disana ya sekedar cangkruk'an. Diskusi atau ngobrol. Meski tidak seluruhnya ormek kuning kira-kira delapan mahasiswa menjadi anggota. Saya tidak tau waktu masuk disitu adalah ormek kuning… Karena saya tertarik dengan organisasi saya memilih ormek hijau. Disaat itulah saya mulai disindir-sindir.
--------->Tomi tidak menyadarinya akan hal itu. Sebagai mahasiswa baru, wajar saja ia kurang mengenal seluk beluk indekost kadang merupakan perkumpulan ormek tertentu. Menurut Tomi, di tempat indekost-nya tersebut seringkali beberapa aktivis dari ormek kuning datang bergantian disitu. Tujuannya bermacam-macam dari hal yang bersifat pribadi dan semi organisatoris. Misalnya berdiskusi dan akan menyebarkan undangan yang diberikan dan ditugaskan dari rayon organisasi kepada anggota yang kebetulan bertempat tinggal sementara disana.
--------->Ketika Tomi, masuk kesana ia pun juga ditawari untuk masuk ke ormek kuning. Tindakan politik yang dilakukan adalah hubungan persahabatan dengan Tomi dijadikan lebih harmonis. Misalnya, lebih diperhatikan, lebih dihargai dan sebagainya. Karena itulah Tomi diawal-awal indekost disana merasa sangat senang berada. Namun semuanya itu mulai berubah ketika Tomi mengajak teman sekelasnya dari FISIP berkunjung ke indekost-nya. Kebetulan teman Tomi bernama Sanusi itu adalah anggota ormek hijau.
--------->Sesampai disana, Tomi memperkenalkan Sanusi kepada teman-temannya. Mereka pun menyambut dengan baik. Ironisnya, ketika salah satu kawan Tomi bertanya mengenai maksud dan tujuan Sanusi berkunjung ke indekost-nya. Pada saat bersamaan, Tomi memberikan surat undangan dari ormek hijau kepada Sanusi untuk datang ada acara pemutaran film Farenheit 9/11.
--------->Melihat hal ini teman-teman Sanusi mulai mencurigai hubungan antara keduanya. Mereka mulai menanyakan hal itu kepada Sanusi apakah benar bahwa ia sudah menjadi anggota ormek hijau. Sanusi mengelak tuduhan bahwa ia telah tercatat sebagai anggota ormek hijau. Menurut Sanusi, ia hanya diundang untuk datang menonton acara pemutaran Farenheit 9/11 di ormek hijau. Disinilah dia dicurigai dan diberikan berbagai argumen agar tidak datang ke acara yang
hal. 53
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diselenggarakan oleh ormek hijau sekaligus menjauhi temannya yang bernama Tomi.
--------->Menurut Sanusi, malam hari itu alasannya yang dikemukakan agar dia menjauhi Tomi adalah ormek hijau adalah tempat mahasiswa bukan untuk beraktifitas selayaknya kaum intelektual muda. Melainkan hanya untuk mencari menambah nilai agar dekat dengan dosen-dosen yang kebetulan menjadi staf pengajar di FISIP. Selain itu, idealisme yang dimiliki oleh mahasiswa ormek hijau adalah bukan tempatnya. Artinya, idealisme mereka hanya bergerak pada tataran intelektual semacam berdiskusi bukan diterapkan.
---------> "Lucunya saya nggak boleh deket-deket dengan Tomi karena dianggap akan ditipu untuk mendapatkan nilai. Saya diam saja, dan pura-pura sependapat dengan mereka. Meski jujur saya malas karena urusan bertemanpun mereka mencampuri urusan saya." (petikan kutipan wawancara)
--------->Menanggapi hal itu Sanusi merasa bahwa tindakan teman-teman terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya. Sejak saat itulah dia malas untuk indekost disana. Apalagi, setiap kedatangan Tomi mereka selalu memperlihatkan sikap-sikap yang kurang menyenangkan. Bahkan, Sanusi merasa dijauhi oleh teman-temannya di kost.
--------->Karena itulah dia memutuskan untuk tidak indekost disana. Diapun berpindah ke sekitar Jalan Jawa dua gang dari sebelumnya. Ketika disana, Sanusi juga memiliki teman kebetulan dia bernama Dinesea yang mantan anggota ormek kuning. Dia merasa diterima dilingkungan tersebut meski ada Dinesea yang berbeda ormek, namun Dinesea tidak sedikitpun menunjukkan sikap permusuhan. Malahan sebaliknya.
---------> "Saya pun pindah ke kost disini, kau tau disini juga ada mantan anak pabrik mie … tapi sikapnya baik-baik saja. Saya tidak dihina hanya karena berteman dengan Dinesea meski saya juga sejak keluar dari kost dulu tempat nongkrong anak pabrik masuk ke ormek hijau.Pabrik mie merupakan nama plesetan yang diberikan kepada ormek kuning. " (kutipan petikan wawancara)
--------->Sikap kedewasaan politik yang terjadi diantara mereka menunjukkan bahwa setiap individu antara satu dengan yang lain berbeda-beda. Ini mudah dipahami
hal. 54
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sebab di suatu tempat yang memiliki pengaruh kuat ormek tertentu biasanya sikap elitisme masih saja nampak. Bahkan menunjukkan sikap-sikap yang sangat tidak simpatik jika melihat adanya perbedaan prinsipil berupa ormek.
Setidaknya hal itu dapat dijelaskan melalui skema sebagai berikut:
(skema gambar tidak memungkinkan memuat secara utuh mengingat sifat keterbatasan blog tetapi bisa diringkaskan sebagai berikut)
a. indekost --> individu ormek A --> interaksi --> hub. sosial harmonis -->
kedewasaan politik --> tidak terjadi pergeseran
b. indekost --> individu ormek B --> interaksi --> hub. sosial kurang harmonis --> kurangnya kedewasaan politik --> terjadi pergeseran --> konflik --> individu bertahan / individu pindah kost
hal. 55
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam pemahaman itu dapat diambil suatu risalah mengenai pengaruh pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek mempengaruhi lingkunganya, yaitu indekost. Didalam indekost, hubungan pergeseran antar anggota ormek terjadi ketika muncul kepentingan. Kepentingan dalam hal ini adalah upaya pengkaderan untuk diajak menjadi salah satu anggota ormek yang kesemuanya nampak pada contoh diatas.
--------->Polemik yang sering ditimbulkan adalah munculnya dugaan bahwa individu telah menghianati hubungan persahabatan dengan cara kedatangan individu lain yang bukan se-ormek. Apalagi ada bukti konkrit bahwa ia adalah aktivis ormek lain dengan tujuan yang hampir sama misalnya, mengundang seseorang agar ikut salah satu kegiatan ormeknya. Sementara itu, jika kedewasaan politik tidak disertai diantara keduanya muncul apa yang dinamakan tindakan destruktif. Bila individu bisa mengadaptasi pola-pola pergeseran antar rekan di indekost bukan hal mustahil jikalau ia akan bertahan di tempat itu. Sebaliknya, jika individu tidak mampu menahan atas sikap tidak simpatik tersebut ia akan menempati tempat yang baru. Dalam hal ini, ada tiga fenomena lapangan untuk menjelaskan hal tersebut.
--------->Elok menempati rumah indekost yang terletak disekitar jalan Jawa. Didalam kost ini, Elok memiliki teman yang tercatat sebagai anggota organisasi hijau tua. Menurut Elok ada empat mahasiswi yang masing-masing bernama Fepi, Mayang, Maria, Ike. Elok senang sekali melihat teman-teman se-indekost yang kelihatannya selalu kompak. Kemana-mana mereka selalu kelihatan pergi. Dalam hal persoalan sepele misalnya urusan makan sehari-hari atau pergi ke perpustakaan terlihat pasti mereka terlihat bersama-sama.
--------->Teman Elok umumnya berpakaian muslimah yang sangat panjang hampir menutupi seluruh tubuh dan jilbab yang selalu menutupi wajah mereka. Demikian halnya dengan Elok. Hanya saja, perbedaannya adalah pakaian muslimah yang dikenakan oleh Elok tidak sepanjang yang dikenakan oleh kawan se¬-indekost. Uniknya, persoalan cara berpakaian ini pernah menjadi polemik tersendiri. Ketika itu, Elok sempat ditegur oleh salah satu teman se-indekost agar ia menutupi tubuhnya dengan pakaian yang lebih sopan.
hal. 56
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Tentu saja cara yang dilakukan adalah mengajak Elok berdiskusi yang biasanya dilakukan di waktu senggang misalnya sesudah makan, menjelang tidur dan sebagainya. Tentu saja Elok tidak merasa keberatan mengenai pembicaraan atau diskusi seputar sah atau tidak sahnya wanita untuk menutup aurat seluruh tubuh. Akan tetapi, ketika ia merasa tersudutkan oleh beberapa kawannya yang menyuruhnya agar Elok berbusana muslim mengikuti pakaian yang mereka kenakan. Disaat itulah dia merasa tersinggung ketika teman-teman se-indekost
seakan-akan menuntut mereka agar berbusana seperti mereka. Bahkan, Elok merasa terkucilkan hanya gara-gara persoalan sepele seperti itu .
--------->Berikut kutipan wawancara. " masak saya berpakaian begini saja mereka menjauhi saya… malah menyuruh untuk berpakaian ala jubah yang mereka kenakan. Soal pakaian itu urusan saya…. Saya dijauhi oleh mereka, jadi malas kost disitu. Lantas, saya pindah daripada tiap hari dapat ceramah mereka dan dicemooh selalu."--------->Atas kebosanan akibat perbuatan mereka, Elok memutuskan keluar dari indekost tersebut. Di kost yang baru ini, kebetulan Elok memiliki teman dari yang tercatat sebagai anggota organisasi kuning yang bernama Ani. Sebelum pindah ke tempat kost jalan Bangka itu, Elok sempat mengatakan persoalan semua itu kepada Ani.
--------->Ani malah mendukung Elok agar segera pindah kost dari itu.Bahkan, Ani pun membela sikap yang dilakukan oleh Elok. Ani merasa bahwa tuduhan untuk mengikut campur persoalan pakaian adalah masalah pribadi.
--------->Elok menyadari bahwa tindakan mereka merupakan cara untuk mengajaknya secara tidak langsung agar ikut anggota organisasi mereka. Meskipun, kawan-kawan Elok umumnya adalah tercatat anggota ormek hijau tua. Tetapi, Elok merasa persoalan masuk atau tidaknya ke organisasi adalah persoalan individu. Karena itu, ia merasa menyayangkan sikap tidak simpatik yang telah dilakukan kawannya terhadap Elok.
--------->Masalah perbedaan prinsip tersebut juga dapat dijelaskan dari temuan fakta lapangan yang terjadi oleh rumah kontrakan di sekitar jalan Jawa. Didalamnya terdiri dari mahasiswa FISIP. Ada sekitar 8 mahasiswa yang menempati di rumah
hal. 57
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kontrakan tersebut. Rozaki dan Suseno adalah mahasiswa yang tercatat sebagai anggota ormek kuning. Sementara Habib, Dudung dan Yozy tercatat sebagai anggota ormek hijau. Selebihnya adalah Prasetyo adalah mahasiswa yang tercatat sebagai anggota ormek merah. Serta, Fian dan Cahyo yang tidak tercatat sebagai anggota ormek apapun.
--------->Mereka adalah mahasiswa FISIP sejurusan dan seangkatan. Ketika itu, Rozaki dan Suseno sedang bersiap-siap membereskan barang-barang yang dimiliki. Semua pakaian dan barang-barang milik Rozaki dan Suseno telah dimasukkan ke dalam tas dan kardus maupun kantong plastik. Mereka akan pergi dan merekapun menjawab akan pindah kost ke rayon. Sementara Suseno pindah ke indekost jalan Jawa. Sebelumnya mereka kurang memberikan jawaban yang mendasar alasan mereka pindah dari tempat itu.
--------->Namun, setelah beberapa hari Habib mulai menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Menurut Habib, Rozaki selalu menunjukkan sikap yang kurang simpatik terhadap yang lain. Salah satu pemicunya adalah Rozaki memecah belah persahabatan diantara mereka yang telah terjalin sejak lama. Alasannya sederhana yaitu Rozaki merasa tersinggung atas perbuatan Habib dan Dudung yang sering menegurnya dalam bertindak-tanduk sehari-hari. Misalnya, memutar radio keras-keras di malam hari, sering membawa minuman keras dan sebagainya.
--------->Lantas, Habib dan Dadung menegur agar Rozaki mau memperbaiki sikapnya. Rozaki-pun menuruti. Akan tetapi, setelah beberapa hari Rozaki merasa keberatan atas hal itu. Karena itulah dia mulai menebarkan isu-isu negatif kepada kawan-kawan se-kostnya. Bahwa sikap-sikap merupakan bentuk kebencian karena dia telah digerakkan bahwa cara yang dilakukan adalah Rozaki menebarkan isu-isu negatif bahwa tempat mereka akan dijadikan basis ormek hijau apalagi hampir setiap Daniel dapat dipastikan beberapa aktivis ormek hijau sering datang kesana dengan tujuan ormek.
--------->Karena itulah Rozaki segera menjelek-jelekkan Habib dan Dadung kepada Suseno, Prasetyo serta Cahyo. Bahwa sikap Habib dan Dadung merupakan kesengajaan agar mereka keluar dari rumah ini. Dadung dan Suseno pun
hal. 58
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
mempercayainya apalagi mereka juga sering ditegur oleh keduanya mengenai sikap dan tingkah laku sehari-hari. Maka, mereka pun mulai menjelek-jelekkan sikap mereka.
--------->"dasar ormek hijau… mereka selalu sok suci kita ini ngontrak disini juga ingin agar kita bisa berteman bukan dijadikan sebagai basis dan kepentingan politis ormek kuning. " Demikian ungkap Rozaki
--------->Namun, Cahyo yang merasa sadar bahwa hal itu merupakan adalah bentuk kegiatan politik mengadu domba, maka ia memberitahukannya kepada Habib dan Dadung. Disitulah pertengkaran mulai terjadi.
--------->Dadung dan Habib merasa bahwa Rozaki terlalu menuduh sepihak bahwa sikap teguran itu adalah upaya mengingatkan antar sesama agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.Bahkan Dadung dan Habib tidak mau menerima atas tuduhan Rozaki yang selalu mengkait-kaitkan antara sikap individu dengan latar belakang ormek. Karena itulah mereka marah. Lantas, mereka mengharapkan agar Rozaki bisa membedakan antara sikap individu jangan dikait-kaitkan dengan latar belakang ormek. Karena hal itu adalah sangat tidak kontekstual.
--------->Rozaki pun meminta maaf. Namun, ia masih tidak bisa menerimanya. Maka sejak saat itu, hubungan sosial diantara sesama teman se-indekost mulai renggang. Meski sikap baik yang ditunjukkan kepada mereka untuk mencoba menjalin hubungan agar kembali lebih akrab tampaknya sia-sia. Sebab menurut Rozaki hal itu adalah kebasa-basian belaka.
--------->Sejak kejadian itu, Rozaki sering menginap di rayon dan bila datang rumah kontrakan hanya mengambil alat-alat kebutuhannya seperti baju dan sebagainya. Karena itu dia meminta ijin kepada kawan-kawan agar tidak bingung mencari mereka. Teman-teman Rozaki menuruti.
--------->Untuk mencari dukungan, Rozaki selalu mengajak agar Suseno juga pindah dari rumah kontrakan tersebut. Suseno pun menyetujuinya, alasannya sebagai teman seideologi ia bisa memahami.
hal. 59
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Maka satu bulan berikutnya rumah kontrakan tersebut mulai habis masanya. Karena itu, Rozaki dan Suseno memutuskan pindah dari sana meski kawan-kawannya mengajak agar dia tinggal disitu.
--------->Hamzah membenarkan bahwa Rozaki serta Yanuarti diatas merupakan salah satu bentuk sikap aktivis mahasiswa yang seringkali melibatkan persoalan pribadi selalu dikaitkan dengan latar belakang ormek . Hal ini dikarenakan adanya pandangan sempit dan sikap elitisme disertai kurangnya kedewasaan politik individu untuk menerima perbedaan di tengah kawan-kawan yang bukan se-ormek. Karena itulah mereka yang tidak bisa menerimanya seringkali pindah ke indekost yang baru bahkan di tempat organisasi mereka sendiri. Dalam konteks ini individu merasa bahwa kesatuan harmonitas dalam menjalin hubungan sesama mahasiswa antar ormek lebih terjaga.
3.2.2 Pertemanan Se-ormek
--------->Di salah satu rumah kontrakan yang terletak di Jalan Jawa, ada lima mahasiswa yang uniknya mereka adalah mahasiswa anggota ormek kuning. Tiga diantaranya masih tercatat aktif sebagai anggota masing-masing berinitial Kristanto, Sugeng dan Poniman. Sementara Koko dan Adi Prasetyo sudah keluar dari struktur keanggotaan ormek hijau.
--------->Menurut Sugeng, keberadaan mereka untuk berkomitmen agar menempati rumah kontrakan dalam satu bendera merupakan bentuk kekeluargaan yang terikat sangat kuat. Tentu saja hampir dipastikan konflik yang dilatarbelakangi perbedaan prinsipil sebagaimana yang terjadi oleh Rozaki dan Yanuarti sebagaimana yang diungkapkan diatas tidak dialami mereka. Mereka saling memahami pola pikir dan tindakan masing-masing. Berikut kutipan wawancara,
---------><em>"Disini semuanya saling menjaga sikap dan tutur kata. Kita semua bisa saling memahami karakter individu termasuk pola pikir masing-masing….."
hal. 60
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lebih lanjut lagi, Sugeng juga menceritakan awal mula bagaimana mereka menyewa rumah disana. Mereka berkenalan didalam ormek kuning yang juga masing-masing berkuliah di FISIP UNEJ. Di saat itu Sugeng masih bertempat tinggal di Jalan Bangka. Ketika itu belum sedikitpun terbayang didalam benak Sugeng untuk menyewa rumah kontrakan bersama dengan kawan se-ormek.
--------->Lantas, setelah ditawari oleh Kristanto, Poniman dan Sugeng pun segera menyepakatinya. Alasan utama mereka bisa menjalin hubungan lebih akrab. Apalagi mereka saling mengenal lebih dekat. Karena itulah dia lantas menyewa rumah kontrakan di sana. disitu terlihat bahwa bendera ormek kuning terpampang di sebelah jendela bersamaan stiker-stiker.
--------->Mereka mengakui bahwa cara ini dapat mempererat tali silahturahmi antar mahasiswa khususnya aktivis ormek kuning yang kemudian membentuk sikap elitis dan ekslusif. Mereka juga tidak menolak jika ada mahasiswa ormek lain yang ingin menempati rumah kontrakan tersebut. Meski sampai saat ini belum satupun mahasiswa ormek lain baik tercatat aktif dan mantan aktivis yang ingin menempati.
--------->Akan tetapi jika kita bandingkan sebagaimana yang terjadi oleh Mochtar kelihatannya memang kecil kemungkinan ada mahasiswa ormek lain baik tercatat aktif maupun mantan aktivis yang akan menempati atau tinggal di dalam rumah tersebut. Persoalannya ini dapat dimengerti.
--------->Pertama, individu tersebut akan mudah tersinggung jika terjadi ketidakselarasan dalam bertukar wacana maupun tindak dan tutur kata yang mungkin kurang berkenaan dalam prinsip ormek dan idealisme yang dimiliki masing-masing. Sebagaimana yang terjadi oleh Rozaki. Dalam konteks ini, ketika individu mulai bergeser tingkah lakunya terkadang dia akan ditegur agar mampu bertindak-tanduk sebagaimana mestinya. Disinilah sering terjadi mengenelarisir bahwa tindakan individu dimaknai tindakan ormeknya. Karena itu, persinggungan yang akan merusak hubungan solidaritas tidak tertutup kemungkinan akan terjadi.
--------->Kedua, rumah kontrakan yang disewa oleh beberapa aktivis merupakan strategi politik untuk mencari kader-kader baru. Menurut Hamzah, sudah menjadi rahasia umum bahwa para aktivis membentuk rumah kontrakan digunakan mencari
hal. 61
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
penambahan kader-kader baru. Biasanya ini terjadi ketika penerimaan mahasiswa baru. Mahasiswa baru yang dari luar kota umumnya mencari kost dan belum mengenal seluk beluk kota. Karena itulah para aktivis sering memberikan alamat kost kepada mereka.
--------->Jika mereka tidak jeli, didalamnya dapat dipastikan merupakan basis dari ormek tertentu. Ini dialami sendiri oleh Beny, ketika itu dia mendaftarkan diri ulang status kemahasiswaannya atau her registrasi ulang di Kampus. Disana dia ditawari oleh beberapa aktivis selembar brosur untuk yang akan membantunya mencarikan indekost. Biasanya tertera alamat, nama yang akan dihubungi beserta alamat rumah.
--------->Maka, Beny yang berasal dari Bojonegoro inipun mencari sendiri dengan menggunakan sepeda motor ditemani kakaknya. Diapun sampai ke tempat indekost yang sesuai dengan brosur tersebut. Disana dia menemui Nicholas yang kemudian baru diketahui bahwa dia termasuk kedalam anggota ormek kuning. Nicholas memberitahukan informasi mengenai indekost dan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh Beny. Nicholas juga memberikan informasi bahwa rumah kontrakan yang ditempatinya menerima seseorang untuk indekost disana termasuk persyaratan administratif.
--------->Setelah berpikir panjang, Beny pun menyepakati. Akhirnya, Beny menempati rumah kontrakan tersebut. Namun, beberapa hari Beny mulai diajak untuk datang ke ormek kuning oleh Nicholas dan kawan-kawan rumah kontrakan. Alasannya agar dia mendapat teman sepergaulan lebih banyak lagi. Ini sangat penting, karena mahasiswa perlu mendapatkan informasi ke kampus.
--------->Tidak hanya itu, Nicholas juga sering mengajak berdiskusi dengan Beny mengenai tema berbagai hal termasuk dunia aktivisme. Disini Beny mendapat wawasan luas mengenai aktivisme. Beny juga mendapatkan kelemahan masing-masing ormek baik cara pergerakan dan ideologi. Misalnya ormek merah muda cara pergerakannya lebih ke menekankan nasionalisme dan sebagainya. Pada akhirnya, karena sering diajak berdiskusi dan tukar pikiran mengenai dunia aktivisme dengan Nicholas, Beny-pun masuk sebagai anggota ormek kuning.
hal. 62
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Menurut penuturan Beny hal itu pun menjadi pendorong semakin merekatnya hubungan sosial didalam antar kawan di rumah kontrakan yang hampir semuanya adalah --anggota dan mantan anggota ormek kuning.
--------->Berbeda halnya dengan itu, persinggungan akibat ketidaktahuan individu dalam mencari indekost dapat terjadi. Pengalaman ini dialami oleh Daniel. Hampir sama dengan persoalan itu. Daniel juga diberi sebuah brosur untuk mendapatkan informasi seputar kampus dan indekost di sekitar jalan kampus Tegalboto oleh mahasiwa yang kemudian diketahui bahwa dia adalah anggota organisasi merah.
--------->aka dia pun menghampiri rumah indekost tersebut, meski sebelumnya dia telah menghubungi melalui nomor handphone-nya yaitu Masdar. Namun Masdar yang mempersilahkan agar Daniel datang langsung kerumah kontrakan tersebut yang terletak di Jalan Jawa. Menurutnya, dia akan bisa mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai persyaratan untuk tinggal disana.
--------->Daniel pun mendatangi rumah kontrakan tersebut. Disana dia merasa kaget melihat ada sebuah bendera merah terpampang dalam sebuah tembok. Daniel sadar bahwa dia merasa tertipu, karena itu dia mengurungkan niatnya untuk bertempat tinggal disana. Daniel sudah mengetahui bila nanti dia akan diajak untuk masuk ke ormek merah.
--------->Mengenai penciptaan hubungan sosial diantara rekan se-indekost atau rumah kontrakan memang sengaja dibuat agar individu merasa simpatik kemudian ikut menjadi anggota salah satu ormek. Menurut penuturan Paul, hubungan sosial persahabatan kadang dibuat dengan sengaja.
--------->Persoalan ini bisa dijelaskan oleh contoh sebagai berikut. Didalam indekost Subhan terdapat beberapa mahasiswa yang umumnya belum tercatat sebagai anggota ormek manapun. Namun hanya satu orang yang bernama Idris yang tercatat sebagai anggota ormek merah. Idris mengupayakan sedemikian rupa agar mereka bisa masuk menjadi anggota ormek merah. Menurut Idris caranya adalah memberikan kebutuhan yang mereka berikan. Barulah kemudian ketika dia mempercayai kita sebagai figur sahabat maka dimulailah proses indoktrinasi. Berikut kutipan wawancara:
hal. 63
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"pertama-tama kita baik-baikin mereka semua…. Setelah mereka simpatik, baru dijerat dengan memberikan isu-isu negatif mengenai ormek-ormek"
--------->Dengan menerapkan strategi politik tersebut, Idris akhirnya mampu mengajak empat orang rekannya untuk bergabung kedalam ormek merah. Karena itu bisa dipastikan dalam suatu indekost ada beberapa citra yang melekat bahwa disana adalah basis ormek tertentu mengingat banyaknya mahasiswa indekost yang ikut menjadi ormek tertentu. Misalnya di Jalan Halmahera disitu lebih dicitrakan sebagai kelompok atau basis ormek merah karena ada lima orang yang ikut sebagai anggota ormek merah. Di jalan Jawa dan Bangka sebagaimana yang dapat dilihat dari diatas, rumah kontrakan lebih distigmakan sebagai basis kelompok kuning dan hijau. Demikian seterusnya. Setidaknya dapat digambarkan dalam skema imej sebagai berikut:
Gambar tidak memungkinkan termuat mengingat sifat keterbatsan blog
KAMPUS UNEJ
Jl. Jawa
I
III
Jalan Halmahera
Jalan halmahera Jalan Bangka
IV
I dan II : Indekost yang dicitrakan
sebagai basis ormek merah
III : Rumah kontrakan yang dicitrakan
sebagai basis ormek hijau
IV : Indekost yang dicitrakan sebagai basis ormek kuning
V : Indekost yang dicitrakan sebagai basis merah muda.
VI : Indekost yang dicitrakan sebagai basis ormek hijau tua.
hal. 64
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek Menjelang
Momen Tertentu
3.3.1 Pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek dalam
kaitannya dengan momentum pemilihan dekan
--------->Secara garis besar hubungan pergeseran pola pertemanan mahasiswa sangat disebabkan oleh akademik yang sangat diwarnai kepentingan politis baik dari mahasiswa ormek sendiri maupun dari pihak akademisi terutama dosen.
--------->Menurut Paul, Hamzah dan Nasrul pergeseran pola pertemanan antar anggota ormek yang sangat mencolok terlihat menjelang pemilihan BEM, pemillihan dekan dan rektor. Dalam konteks pemilihan dekan sangat menarik untuk disimak.
--------->Menjelang pemilihan dekan, tim senat Fakultas yang terdiri dari 1) guru besar (profesor dan doktor), 2) ketua jurusan, 3) perwakilan dosen membentuk tim sukses untuk meng-goal-kan calon kuat yang dipilih dan diajukan dari Ilumni (Ikatan Alumni) ormek masing-masing di tingkatan birokrasi kampus. Tim sukses ini terdiri dari beberapa kelompok dosen yang sangat mendukung dalam salah satu figur tertentu.
--------->Tugas mereka adalah mengetahui seberapa besar kans figur calon terpilih untuk memenangkan suara dalam pemilihan dekan nanti. Tidak terlupakan mereka juga melakukan lobi-lobi politik kepada pihak lawan dan kelompok dosen disertai tawar-menawar "ala politik dagang sapi" jika mereka mendukungnya untuk menempati posisi penting didalam struktural birokrasi kampus seperti Pembantu Dekan (PD) dan jabatan struktural lainnya. Dalam tingkatan rektor, tim senat universitas ini terdiri dari para lektor kepala, para guru besar, para dekan dan pembantu dekan. Perlu diketahui baik tim senat Universitas maupun tim senat Fakultas memegang jabatan hampir sama dengan dekan atau rektor yaitu lima tahun. Selain itu, tim senat Fakultas terdiri dari dua puluh satu orang yang kesemuanya terpilih secara aklamasi.
--------->Tentu saja, meski jabatan struktural tersebut dipilih secara aklamasi berdasarkan pemilihan dosen dari masing-masing jurusan yang ingin berkompetisi secara politik. Misalnya pemilihan perwakilan dosen untuk duduk di senat Fakultas diajukan dan dipilih oleh minimal 10 orang dosen di rapat masing-masing jurusa n
hal. 65
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Namun, kekuatan alumni ormek yang telah terbentuk dalam pemilihan dekanat juga turut bermain dalam pemilihan jabatan struktural di tingkatan di bawah dekanat sampai ke level terbawah yaitu jurusan. Yaitu dengan menerapkan sistem jaringan politik yang didalamnya terdiri dari satu atau dua orang dosen di masing-masing kelompok dosen.
---------> Ini sangat penting agar individu yang terpilih dan menempati posisi penting di tingkatan atas jabatan struktural Kampus dapat terpilih lagi dalam pemilihan berikutnya. Apalagi, secara emosional dan latar belakang historis sebagai Ilumni tertentu dipastikan kekuatan politik di dalam kelompok dosen sehingga posisi individu yang terpilih menjadi tingkatan semakin kuat. Karena itu, nama-nama PD yang terpilih hampir sebagian besar dekat dengan latar belakang kesamaan ormek yang mendekati dengan kesamaan jabatan elit paling atas di Kampus. Hanya beberapa saja yang bukan berasal dari kesamaan ormek.
--------->Sementara itu, jaringan politik sebagaimana yang diungkapkan diatas dapat dilustrasikan sebagai berikut. Di kelompok dosen Ananta merupakan kelompok yang terdiri dari Ilumni ormek hijau. Didalamnya setidaknya terdiri dari Nur Hasim, Mawardi dan Rahardjo. Maka didalam ini ada sebuah perwakilan individu yang merupakan jaringan dari pihak-pihak kelompok kekuatan politik yang terbentuk dalam pemilihan dekan.
--------->Di tingkatan kampus FISIP UNEJ, perwakilan jaringan kelompok ini sulit dikenali karena setiap dosen memiliki kepentingan tersembunyi untuk meraih kekuasaan tujuannya masing-masing yang dapat berubah-ubah hubungan solidaritasnya ketika menghadapi momentum pemilihan jabatan struktural di internal birokrasi kampus.
--------->Ketika itu terjadi, kelompok dosen yang terbentuk berdasarkan Ilumni ormek, yang sebelumnya kuat dapat pecah. Ini bisa disimak menjelang pemilihan PD, salah satu kelompok dosen Ilumni ormek kuning yang didalamnya karena seseorang individu bernama Riza mengajukan diri sebagai PD secara pribadi. Padahal, di kelompok dosen Ilumni ormek kuning telah mencalonkan Alfianto. Karena itu, isu-isu negatif mulai bertebaran antara sesama pihak elit atas birokrasi kampus dalam
hal. 66
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
merebut jabatan posisi struktural. Salah satunya adalah dianggap menghianati perjuangan rekan se-nasib Ilumni ormek dan sebagainya.
--------->Bila demikian halnya, konflik kepentingan mulai terlihat tajam. Hal ini terlihat dari berkelompok-kelompoknya dosen berdasarkan persamaan dan nasib atau latar belakang Ilumni. Kemanapun selalu dapat dilihat kelompok dosen tersebut memiliki rekan yang berdasarkan ormek. Misalnya dosen Ananta dan Rahardjo dan seterusnya.
---------> Kembali ke persoalan pemilihan dekanat. Dalam pemilihan dekanat tahun kemarin, menurut penuturan mantan aktivis ormek yaitu Nasrul dan Hamzah perpecahan antar kelompok dosen terjadi berdasarkan kepentingan dan tujuan politik kelompok masing-masing. Namun, mereka bisa menyatu dalam kekuatan politik yang sulit dikalahkan oleh lawan politiknya. Misalnya, dalam pemilihan dekan kemarin kelompok civitas akademika Ilumni ormek kuning dan civitas akademika Ilumni ormek merah muda berkoalisi dan akhirnya memenangkan dengan figur Masri. Kartu truf untuk memenangkan persaingan perolehan suara selalu terletak dari Ilumni ormek merah muda apakah mau berkoalisi secara politik dengan pihak Ilumni ormek hijau atau Ilumni ormek kuning. Karena itu dalam tahun-tahun pemilihan jabatan struktural Kampus selalu dijadikan perebutan untuk meng¬-goal-kan masing-masing tujuan dan kepentingan politik para dosen yang terikat dalam Ilumni ormek.
--------->Sementara itu, hasil pemilihan dekanat kemarin, Rahardjo calon dari pihak organisasi ormek hijau kalah mutlak. Menurut Nasrul dan Hamzah seorang aktivis yang mengetahui seluk beluk birokrasi elit kampus mengemukakan bahwa kemenangan tersebut sejatinya dapat dilihat dari seberapa besar kekuatan politik alumni ormek masing-masing, kelompok dosen dan terutama jurusan. Menurutnya, hal itu bisa dipetakan secara politik jauh-jauh hari.
--------->Kadangkala beberapa pihak calon dekan tersebut mengajukan atas nama sendiri. Akan tetapi dia membutuhkan dukungan politik dari Ilumni dan kelompok dosen termasuk juga di kalangan mahasiswa melalui ormek. Sama halnya di tingkatan bawah yaitu mahasiswa (baca:aktivis), kelompok dosen ini terpecah-pecah
hal. 67
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
juga berdasarkan kesamaan ormek. Misalnya, kelompok Jakoeb terdiri dari Heru, Ananta dan Rahardjo yang umumnya dibesarkan kedalam Ilumni ormek hijau. Sementara, kelompok dosen Masri terdiri dari Prabowo, Pramudya dan lain-lain. Umumnya mereka berkelompok terdiri lebih dari dua orang. Kesemuanya ini adalah memiliki tujuan dan kepentingan politik baik secara individu maupun kelompok untuk meraih kekuasaan di tingkatan jurusan, dekan, struktur akademik.
--------->Bahkan jika memiliki prestasi penting dalam jabatan struktural dan status gelar akademik akan mendapatkan peluang terbesar untuk meraih jabatan yang lebih tinggi lagi di tingkatan akademik dan birokrasi pusat seperti rektor. Karena itulah, syarat-syarat pengalaman menduduki jabatan politik, gelar akademik di tingkatan sektoral kampus maupun jurusan sangat penting. Hal inipun juga terjadi di tingkatan pemilihan dekanat. Maka wajar jika kelompok dosen di setiap jurusan di dalam kampus termasuk FISIP sendiri selalu berlomba-lomba meraih jabatan di tingkatan struktural Fakultas.
--------->Secara garis besar kekuatan politik masing-masing kelompok dosen di FISIP UNEJ dapat terlihat dari masing-masing jurusan. Yaitu Kesejahteraan Sosial dan Administrasi merupakan basis kekuatan politik Ilumni ormek kuning, Hubungan Internasional dan Sosiologi merupakan kekuatan politik Ilumni ormek hijau, selebihnya dan terpisah-pisah adalah milik kekuatan Ilumni ormek merah muda. Untuk semakin memperkuat kekuatan politik tersebut maka cara yang dilakukan adalah menerima dosen-dosen baru yang berdasarkan atau dilihat ormek tertentu. Tentu saja dalam hal ini yang berwenang untuk memilih dan menerima dosen baru adalah tim penguji yang ditunjuk oleh masing-masing jurusan dan disetujui oleh dekan.
--------->Menurut sumber terpercaya yang tidak mau disebutkan namanya, konon pemilihan dosen baru tidaklah dilihat secara kualitas akademik. Akan tetapi lebih merupakan kesamaan ormek tertentu yang secara historis dan emosional lebih dekat dengan para pemegang kekuasaan elit atas birokrasi FISIP UNEJ. Apalagi dalam persyaratan penerimaan dosen baru harus dicantumkan pengalaman organisasi disamping persyaratan administratif lainnya.
hal. 68
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Ironisnya, menjelang ujian pelaksanaan penerimaan dosen baru cara-cara untuk meluluskan para dosen muda agar memperkuat kekuatan politik di tingkatan elit atas dilakukan tidak sebagaimana mestinya. Menurut sumber terpercaya, beberapa dosen disinyalir membocorkan soal ujian kepada mereka yang akan menempuh ujian penerimaan dosen baru. Tentu saja cara ini sangat rahasia dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi lewat "tangan" dari pihak yang satu dengan pihak yang lain.
--------->Misalnya dalam penerimaan dosen baru, pihak fakultas membutuhkan dua orang maka dilakukan bargaining politik melalui rapat laten dan non formal di tingkat atas pihak-pihak yang berwenang untuk meloloskannya diantara mereka. Maka kesepakatan politik yang biasanya dapat dirumuskan dalam menerima dosen baru adalah melebih-lebihkan hasil penghitungan nilai para peserta baru ujian penerimaan dosen baru. Itulah sebabnya dalam penerimaan dosen baru hampir dipastikan nama-nama yang lolos dari ormek-ormek tertentu yang secara emosional dan historis memiliki kedekatan dengan pemegang kekuasaan elit birokrasi Kampus.
--------->Terlepas dari itu dan masih dalam kerangka pemilihan dekan, fakta lapangan menunjukkan bahwa peran ormek yang secara tidak langsung turut menghembuskan isu-isu negatif dan upaya politisir pihak dosen yang mewakili tim sukses dekan.
--------->Menjelang pemilihan dekan, para dosen yang tergabung dalam Ilumni masing-masing selalu menyusupkan isu-isu negatif secara tidak langsung mengenai citra calon-calon yang akan bersaing. Yaitu melalui diskusi-diskusi yang biasanya diadakan dalam ormek oleh dosen yang kebetulan diundang sebagai penceramah. Misalnya isu negatif, di hadapan aktivis ormek kuning yang mengikuti acara diskusi dosen Alfianto menyelipkan isu kepada mereka bahwa Rahardjo dianggap tidak berkompeten menjadi dekan karena aktivitas di kampus terutama mengisi waktu perkuliahan diabaikan. Demikian sebaliknya yang kontra dari pencalonan Masri, di pihak ormek kuning salah satu dosen mengungkapkan pula kepada para aktivis dalam diskusi disertai joke-joke segar bahwa gelar akademik Masri dan intelektualitas dipertanyakan untuk menjadi dekan.
hal. 69
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak hanya itu, para dosen yang berusaha meng¬-goal-kan calonnya berusaha memanfaatkan fasilitas pers intra eskstrakurikuler untuk mengetahui seberapa besar kans, citra serta kriteria dekan ideal yang diidam-diidamkan di mata mahasiswa. Di kampus ada dua organisasi intra ekstrakurikuler yang berperan besar melaksanakan fungsi ini - yaitu PRM dan LMS. Tentu saja mereka "digerakkan" sebelumnya oleh salah satu dosen ketika datang ke ormek melalui diskusi-diskusi .
--------->Namun dalam pemilihan kemarin tampaknya peran PRM sangat besar melaksanakan semua fungsi tersebut. Terbukti, beberapa hari menjelang pemilihan dekan aktivis PRM membagi-bagikan sejumlah angket kepada mahasiswa untuk mengetahui kelayakan figur dosen menjadi dekan. Menurut Naning yang kebetulan mengisi angket tersebut, salah satu poin yang ditanyakan didalamnya adalah: Bagaimana kriteria dekan ideal beserta nama calon dekan yang bersaing. Dengan diwajibkan menyilang beberapa poin penting yaitu memiliki gelar akademis, aktif mengisi kuliah dan sebagainya.
--------->Menurut Hamzah, dosen yang datang ke diskusi meminta tolong secara langsung kepada beberapa aktivis didalamnya yang menjadi anggota di PRM atau LMS untuk mensurvei seperti apa dekan yang diidam-idamkan oleh mahasiswa. Kadangkala hal ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi mengingat urgennya bagi para dosen yang meng-goal-kan menjadi dekan. Menurut Paul dan Hamzah tentu saja para aktivis berusaha besar membantunya secara langsung maupun tidak langsung agar figur atau calon dosen dari ormek masing-masing terpilih menjadi dekan. Sebab, para aktivis mahasiwa akan mendapatkan akses fasilitas untuk mempertahankan eksistensi organisasi misalnya mendapat bantuan dana, proyek penelitian dari dosen Ilumni dan beasiswa. Menariknya, dalam persyaratan penerimaan beasiswa PPA tahun 2001 diwajibkan agar mahasiswa melampirkan pengalaman organisasi masing-masing. Menurut Paul, Hamzah dan Nasrul dapat dipastikan hampir 60 % mendapatkan beasiswa sekitar Rp. 360.000 adalah kalangan ormek tertentu. Terutama ormek kuning. Semakin besar birokrat kampus menempati kedudukan jabatan penting. Secara otomatis pula, ormek latar belakang historis dosen yang membantunya secara tidak langsung untuk memenangkan pemilihan dekan akan mendapatkan fasilitas beasiswa tersebut. Paul, Hamzah dan Nasrul mengungkapkan pula kelemahan dalam penerimaan beasiswa adalah kurangnya transparansi dan alokasi berapa dana yang wajib diterima dan diberikan dari Yayasan Non Government dan Pemerintah. Berikut kutipan wawancara:
"Tau-tau beasiswa diumumkan begitu saja. Eh, ketika pengumuman beasiswa (dalam hal ini pengumuman penerimaan beasiswa kepada sejumlah mahasiswa) yang dapet (baca: ormek) itu-itu saja." Lebih lanjut lagi, Hamzah, Nasrul dan Paul mengungkapkan bahwa fasilitas beasiswa yang diterima ormek kuning tersebut kadangkala para broker (dalam hal ini mantan aktivis yang menempati kedudukan tinggi di rayon. Misal, ketua umum, wakil ketua dan sebagainya) jauh-jauh hari sebelum pengumuman beasiswa. Para broker ormek kuning, mendatangi -umumnya malam hari- birokrat Kampus dengan menyerahkan sejumlah nama-nama aktivis yang tercatat aktif. Ironisnya hal ini pula terjadi dalam penerimaan dosen baru. Para broker berusaha mendekati birokrat Kampus dengan menyerahkan nama-nama mantan Ilumni ormek sehingga semakin mempermudah penerimaan dosen baru.
hal. 70
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Namun, sayang, PRM tidak mampu melakukan motonya sebagai mana mestinya sebab hasil perolehan tersebut tidak ditampilkan dalam edisi berikutnya. Konon, menurut sumber yang terpercaya, hasil dari angket tersebut menyebutkan figur Rahardjo layak menjadi dekan di mata mahasiswa. Mungkin alasan mendasar inilah yang menjadikan PRM tidak bisa menerbitkan hasil perolehan angket di edisinya. Secara organisatoris baik pihak Ilumni ormek atas dan di tingkatan mahasiswa akan merasa malu. Padahal sejatinya, fungsi pers adalah berhak menyiarkan data lapangan secara obyektif sebagaimana mestinya.
--------->Kembali ke persoalan pemilihan dekan. Dalam pemilihan dekan kemarin sempat terjadi isu bahwa beberapa elemen mahasiswa angkatan 2001 yang menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN) akan melalukan gerakan politik praktis mengenai pemilihan dekan. Persoalan ini menarik untuk disimak.
--------->Menjelang pemilihan dekan kemarin kebetulan bersamaan dengan berlangsungnya Kuliah Kerja Nyata mahasiswa angkatan 2001 terjadi tindakan kehilangan sepeda motor yaitu milik Zaenal. Karena itulah pihak kordinator kecamatan masing-masing kecamatan segera merestruksi agar meminta bantuan kepada universitas mengenai kerawanan di masing-masing daerah KKN. Maka dikumpulkannya beberapa elemen mahasiswa yaitu kordinator kecamatan (korcam) dan sekretaris kecam agar dapat menarik diri dari KKN dengan berdemonstrasi dan meminta tuntutan yang adil kepada pihak fakultas.
--------->Sayang cara yang dilakukan oleh Peter tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Peter sebagai pihak korcam Kalisat, melebih-lebihkan isu mengenai situasi dan kerawanan. Misalnya, lima Hp di salah satu kelompok desa hilang, terjadi penarikan satu desa karena dituduh berzina, telah terjadi penyerangan secara mendadak oleh beberapa warga desa ke salah satu tempat posko KKN mahasiswa. Disinilah beberapa mahasiswa yang mengikuti kegiatan KKN merasa dipolitisir. Apalagi mereka melihat bahwa yang pro terhadap penarikan diri sebagian besar adalah mahasiswa sosiologi dan bergerak untuk mensosialisasikan mengenai kerawanan sosial hal itu mahasiwa yang berormek hijau dan kelompok merah. Apalagi disaat itu menjelang pemilihan dekan.
hal. 71
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Karena itulah, stigma bahwa ada upaya menggagalkan dekan dan upaya politisir oleh dekan mulai naik diantara mahasiswa angkatan 2001. Artinya, ormek hijau memanfaatkan isu tersebut untuk menjatuhkan calon figur dari ormek kuning yang akan bersaing. Padahal, sesungguhnya tidak demikian. Karena itulah mulai terjadi pergeseran antar sesama mahasiswa baik secara jurusan terutama ideologi (ormek). Masing-masing pihak terutama ormek kuning mulai menyusun kekuatan politik untuk mengagalkan penarikan diri dari KKN karena dianggap diprovokasi dan dipolitisir (Ini terkadang terjadi dalam rapat yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa (Hima) baik jurusan maupun ekstrakurikuler. Setiap diadakan rapat, cara aktivis memboikot agar acara tidak berlangsung adalah sengaja tidak datang. Ataupun juga dalam pertanggung jawaban anggota Hima. Disini sebagian aktivis ormek kuning selalu menyudutkan dengan alasan yang kurang rasional mengenai tanggung jawab selama melaksanakan kerja sebagai anggota Hima. Akibatnya, rapat yang tidak memenuhi persayaratan quorum tidak dapat dilaksanakan. Ironisnya, ini pula terjadi dalam pemilihan dekan. Sejumlah dosen ormek hijau tidak memenuhi acara pelantikan dekan.)
--------->Karena itulah Kunto dan Paranggi segera mensosialisasikan baik melalui HP maupun mendatangi secara langsung kepada rekan-rekan mahasiswa yang tersebar di desa dan kecamatan agar mengurungkan niatnya untuk menarik diri dari KKN. Bahkan setiap rapat yang diadakan oleh Peter tidak dihadiri oleh para kordinator desa. Karena itulah, kemudian upaya meminta pertanggung jawaban kepada pihak rektorat agar lebih memperhatikan para mahasiswa KKN tidak dapat dilakukan. Meski pihak fakultas telah memberikan ruang dengan cara berdialog. Namun, didalamnya sudah terjadi bargaining politik antara ormek kuning dengan pihak fakultas beserta dosen-dosen pembimbing setiap kelompok KKN yang juga termasuk kedalam ormek kuning. Bahwa setiap isu yang berkembang oleh sebagian mahasiswa ormek kuning telah disampaikan kepada pihak fakultas agar upaya penarikan tidak dapat terjadi. Bahkan jauh hari Kunto dari ormek kuning menelpon dan datang secara langsung ke fakultas menghubungi Pak Parsudi mengenai hal itu agar dapat melakukan setingan politik ketika kegiatan dialog antara mahasiswa dan fakultas diadakan (Pak Parsudi merupakan alumni ormek kuning. Kadangkala setingan politik ini juga terjadi didalam struktur Himpunan Mahasiswa di kampus. Sejumlah dosen berupaya menguasai secara tidak langsung Hima agar mengetahui seluk beluk tipikal aktivisme sehingga mereka dapat melakukan upaya politisir menjelang momentum pemilihan dekan. Tentu saja hal ini dilakukan dengan menyuruh para aktivis lain menguasai jabatan strategis yang tersebar di Hima. Dalam hal ini,hampir semua Hima baik jurusan dan esktrakurikuler dapat dipastikan dikuasai oleh ormek kuning. Misalnya LMS, PRM, MPL dan sebagainya. ).
--------->Demikian selanjutnya, pihak fakultas beserta dosen pembimbing
hal. 72
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
desa yang umumnya dari ormek kuning terjun ke masing-masing desa untuk mensosialisasikan dan mematahkan argumen mahasiswa agar kegiatan politik praktis untuk meminta pertanggung jawaban para fakultas tidak dapat berlangsung. Akhirnya pun kegiatan moral untuk meminta pertanggung jawaban para fakultas termasuk tuntutan menarik diri dari KKN tidak dapat terpenuhi. Dengan memberikan stigma negatif bahwa yang mereka yang mensosialisasikan untuk meminta pertanggung jawaban kepada pihak fakultas adalah provokator yang meresahkan hubungan solidaritas dan merusak acara atau kegiatan akademik (KKN maupun Pemilihan Dekan). Meski pada awalnya semua pihak telah menyetujui dengan menandatangi surat yang telah difasilitasi para korcam.
--------->Ferdian, mengungkapkan bahwa kejadian itu sebenarnya adalah murni kegiatan moral agar pihak fakultas dapat memperhatikan nasib mahasiswa yang menempuh KKN. Namun, sayang ada kesalah pahaman terutama cara sosialisasi dan individu yang terlibat atau pioner yang bergerak tergabung dalam ormek tertentu. Muncullah dugaan bahwa ada upaya politisir. Apalagi pada saat itu mendekati momentum pemilihan dekan. Para mahasiswa KKN yang umumnya ormek kuning mengkhawatirkan jika gerakan politik praktis benar-benar dilakukan akan memberikan citra buruk terhadap kinerja Dekan Wahib yang kebetulan pada saat itu masih menjabat. Bila hal itu terjadi maka secara otomatis dan organisatoris citra ormek kuning akan jelek.
--------->Beberapa contoh diatas dapat menjelaskan bahwa dalam momentum tertentu terutama menjelang pemilihan dekan pergeseran hubungan sosial antar anggota ormek mengarah ke bentuk destruktif. Persoalan itu dapat dijelaskan oleh kutipan Hamzah sebagai berikut.
--------->"Dosennya rebutan jabatan, aktivis mahasiswa malah rebutan jabatan bem… di organisasi intra ekstrakurikuler dan fasilitas dana. FISIP ini sudah bukan Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu sosial lagi…. malah Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pertunjukkan. Sungguh memalukan, kampungan dan primitif !!! Seharusnya mereka memajukan iklim atau gairah intelektual akademik bukannya malah memperbesar konflik…. di mahasiswa… seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada mahasiswa Demikian ungkap Hamzah.
hal. 73.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Bila kita cermati lebih dalam dari kutipan Hamzah dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pergeseran hubungan sosial antar anggota ormek di tingkatan mahasiswa terjadi akibat sikap dan tindakan politik kalangan elit atau birokrat kampus yang kurang memberikan contoh kedewasaan politiknya. Termasuk cara dan tindakan politik atau politisir yang dilakukan oleh mahasiswa terutama pihak birokrat yang
didalamnya memanfaatkan keberadaan ormek demi pemenuhan kebutuhan subyektif pencapaian kekuasaan di tingkat atas.
3.3.2 Pergeseran Hubungan Pertemanan Dalam Momentum Pemilihan
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
--------->Sementara dalam tingkatan mahasiswa sendiri pergeseran hubungan sosial yang mengarah pada destruktif terlihat dari pemilihan BEM atau pemilihan jabatan penting struktural didalam organisasi ekstrakurikuler di Kampus. Ketika pemilihan BEM dilaksanakan, masing-masing pihak ormek telah mengajukan calonnya masing-masing. Dari ormek kuning adalah Hermawan, Poniman. Dari ormek hijau yang maju adalah Topan dan ormek merah muda yang diajukan adalah Doni. Ormek merah yang dicalonkan adalah Hasanuddin. Sama halnya dengan pemilihan dekan, mereka juga memiliki tim sukses masing-masing yang terdiri dan memiliki tugas untuk meng-goal-kan calon dari ormek masing-masing. Yaitu:
1. Tim Lapangan : Bertugas untuk mengatahui kondisi di lapangan dan mengetahui seberapa besar kans untuk memenangkan pemilihan BEM.
2. Tim play maker : Mereka terdiri dari mahasiswa yang dipilih berdasarkan jurusan atau angkatan dalam ormek. Tujuannya adalah menyetting intrik
politik, mengetahui dan mengenali seluk beluk tata cara
permainan politik lawan. Misalnya dengan memetakan statistik
kekuatan lawan. Kadangkala disini mereka menggunakan tekhnik memata-matai lawan dengan menerapkan sistem
hal. 74.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
jaringan politik yaitu memberdayakan perwakilan di setiap
jurusan untuk mengetahui perkembangan di setiap jurusan.
Misalnya siapa yang mengajukan diri menjadi anggota BEM
3. Tim pemantau : Bertugas mengamati proses tekhnis dan penghitungan suara
dilakukan agar tidak terjadi kecurangan.
--------->Ketika pelaksanaan BEM akan berlangsung ketiga tim sukses itu segera melakukan aktivitasnya agar calon terpilih menjadi dapat memenangkan pemilihan BEM. Ironisnya cara-cara yang dilakukan beberapa aktivis terkadang dilakukan tidak dengan jujur dan adil. Misalnya jauh-jauh hari akan dilaksanakannya pemilihan BEM, beberapa aktivis ormek kuning mempolitisir hampir seluruh Kartu Mahasiswa (KM) Pariwisata dengan alasan akan dipinjam untuk mengurus atau meminjam buku di perpustakaan. Karena itulah, ketika pelaksanaan pencoblosan berlangsung mahasiswa Pariwisata tidak dapat menyalurkan hak pilihnya.
--------->Menurut penuturan Tobing, mereka pada malam harinya didatangi oleh beberapa aktivis ormek kuning yang bernama Asmadi meminjam KM-nya untuk menyewa buku di perpustakaan yang akan digunakannya sebagai mengerjakan tugas mata kuliah dari dosen. Lantas ia pun memberikannya sebab Asmadi mengatakan bahwa KM miliknya hilang. Barulah sadar kemudian Tobing bila hal itu sangat penting sebagai prasyarat utama menggunakan hak pilihnya. Akibat secara keseluruhan modal politik, suara ormek hijau menurun tajam. Karena itulah ormek hijau tidak dapat memenangkan suara dalam pemilihan BEM.
--------->Paul mengakui bahwa cara-cara yang dilakukan oleh ormek kuning terkesan menggunakan praktik ala tzun zu dan machiavelli. Mereka terkesan menghalalkan segala cara sebab bagi mereka kekuasaan adalah segalanya. Kadangkala mereka mengadu domba antara satu dengan yang lain. Ini pernah dialami oleh Murindra ketika pemilihan BEM oleh Rozaki tanpa alasan yang jelas dia tidak boleh berteman dengan Nasrul yang mencalonkan diri sebagai anggota BEM. Dia tidak habis pikir mengapa semua itu bisa terjadi.
--------->Selain itu dalam merebut kekuasaan, intrik politik yang biasanya digunakan adalah memecah suara pemilih BEM. Dalam hal ini menggunakan tekhnik calon
hal. 75
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
bayangan dan calon utama. Yaitu satu orang benar-benar mencalonkan diri sebagai anggota BEM dan yang lain adalah calon bayangan untuk merekrut suara dari pihak lain. Ini terlihat dari beberapa elemen yang mengajukan sebagai calon anggota BEM.
--------->Kadangkala, calon bayangan ini bisa memenangkan perolehan suara dalam BEM. Akan tetapi hal ini sah. Namun disinilah tugas tim sukses agar dia tidak melenceng dari kepentingan organisasi. Sebab, kadangkala calon bayangan bisa berkhianat dengan cara berkoalisi dengan pihak lawan meski di lapangan hal itu tidak ditemui.
--------->Dalam meraih kekuasaan ciri khas ormek hijau dalam merebut kekuasaan adalah menghitungkan secara sistematis dan rasional. Mereka terlalu banyak berpikir tanpa disertai pengalaman praksis politik yang sedikit bila dibandingkan dengan ormek kuning.
--------->Menurut Paul, ormek hijau dalam bermain meski cantik dan tidak kasar seperti ormek kuning namun dia terlalu lambat dalam menyikapi dan berpraksis politik. Kadangkala, ormek hijau itu terlalu lugu sehingga selalu kalah dalam persaingan perebutan suara di pemilu BEM. Sebaliknya cara ormek kuning selalu menggunakan politik adu domba, mengasut serta memecah belah suara. Demikian halnya dalam perebutan di jabatan struktural di birokrasi atas.
3.3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Prestasi Akademik
--------->Kadangkala untuk menjalin hubungan emosional lebih antara para dosen Ilumni selalu memberikan nilai lebih kepada mahasiswa yang tergabung kedalam ormeknya. Sudah rahasia umum lagi bahwa mereka yang tergabung kedalam ormek pasti mendapat nilai lebih baik daripada yang lain.
--------->Ini pula terjadi sampai pengurusan mata kuliah terakhir yaitu skripsi. Banyak mahasiswa yang tidak mau bila pembimbing skripsinya adalah berbeda organisasi. Ini dialami oleh Buyung. Buyung adalah mantan aktivis ormek hijau. Dia memiliki dua pembimbing skripsi yang terikat dalam Ilumni ormek kuning yaitu dosen
hal. 76
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mahasin. Karena itulah dia selalu dipersulit dengan cara yang berbelit-belit akibatnya dia menyelesaikan skripsi lebih lama sekitar satu tahun.
--------->Lain halnya dengan Riza yang temannya sama-sama dibimbing oleh dosen kuning. Namun, dia dapat menyelesaikan lebih dulu kurang dari satu tahun. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dalam perkembangan intelektual mahasiswa di FISIP UNEJ.
--------->Kadangkala, dua pembimbing yang bertikai secara ideologi selalu membuat mahasiswa menjadi kelimpungan. Ini terjadi oleh Zulkarnaen. Zulkarnaen dibimbing oleh dosen yang keduanya memiliki perbedaan secara ideologis. Zulkarnaen adalah mahasiswa ormek merah. Dosennya yang bernama Ignas tergabung dalam ilummni ormek merah muda dan Kusanto yang tergabung kedalam ilummni ormek hijau. Zulkarnaen selalu dipersulit karena keduanya memberikan argumen yang berbeda-beda dalam membimbing skripsi. Kusanto marah-marah kepada Zulkarnaen karena mengikuti aturan metodologi yang disuruh oleh dosen Alfianto. Demikian sebaliknya, dosen Buyung mengharuskan agar dia mengganti cara yang tidak mengikuti metodologi sebagaimana yang diperintahkan oleh dosen Alfianto. Inilah salah satu dilema intelektualitas di FISIP UNEJ yang mengakibatkan pergeseran hubungan antar ormek yang kemudian memicu konflik karena dosen telah menunjukkan contoh yang kurang baik.
--------->Kadangkala pertengkaran itu pula terjadi sampai ujian skripsi tahap akhir sebagai prasyarat terakhir apakah mahasiswa lulus atau tidak. Didalam ujian skripsi, Zulkarnaen dibantai habis-habisan oleh dosen Alfianto karena tidak sesuai dengan metodologi. Disinilah, dosen pembimbingnya tidak mau bahwa metodologi yang digunakan tersebut telah ketinggalan jaman.
--------->Ataupun juga, dalam penilaian terakhir ketika ujian skripsi. Banyak menceritakan mereka yang tergabung ormek seperti halnya dosen pembimbing akan mendapatkan nilai lebih bila dibandingkan yang tidak. Ini terjadi pula di Thomas dan Menik. Agar hal itu tidak terjadi lucunya mahasiswa sempat melakukan ritual gaib atau ilmu sirep seperti pergi ke dukun untuk meminta mengguna-gunai beberapa dosen yang dianggap akan mempersulit dirinya untuk memperoleh gelar sarjana.
hal. 77
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Misalnya hal yang dialami Melati, dosen Alfianto terkenal dalam killer untuk membantai setiap mahasiswa yang bukan se-ideologi. Karena itu, jauh-jauh hari dia mempersiapkan ke dukun agar dosen Alfianto dapat tertidur pulas ketika pelaksanaan ujian skripsi berlangsung. Alhasil, Alfianto pun tertidur pulas mulai dari awal ujian skripsi dan terbangun ketika ujian skripsi berakhir. Selain itu, kemenangan lulusan cumlaude dan lulusan tercepat menjadi pertaruhan bagi ormek dosen yang tergabung Ilumni dan jurusannya. Karena itu, ketika melihat ada sebuah mahasiswa yang kebetulan dia secara ideologi pernah dibesarkan dalam ormek seperti pembimbingnya, maka dia akan diprioritaskan lebih daripada yang lain.Terutama dia memiliki wawasan luas dan prestasi akademik yang cukup bagus. Ini pula terjadi oleh salah satu Cindy (ormek kuning) yang pernah menjadi lulusan cumlaude dan tercepat dalam yaitu IP sebesar 3.8 beberapa tahun lalu.
--------->Tidak hanya itu, kasus "jual-beli" nilai seringkali terjadi. Ini dialami oleh Nuno yang tercatat dari ormek kuning. Karena nilai ujian salah satu mata kuliah turun ia menyerahkan amplop berisi uang Rp. 100 ribu kepada dosen Jajat yang tercatat sebagai ormek kuning . Kebetulan mahasiswa lain dan tergabung ormek lain ingin melakukan hal itu (Kadangkala, cara pembelian nilai itu dilakukan dengan tidak langsung. Yaitu dengan mengharuskan mahasiswa membeli buku mata kuliah yang diwajibkan oleh dosen). Namun, dosen Jajat menolak.
--------->Selain itu, kadangkala para dosen memberikan nilai diskriminatif kepada mahasiswa. Para dosen sering memberikan nilai ujian berdasarkan kesamaan ormek. Misalnya, Janti dari ormek kuning di salah satu mendapatkan nilai lebih baik daripada yang lain. Ini diberikan oleh dosen Shadily yang juga dari ormek kuning. Demikian pula, Pak Bagyo dari ormek hijau memberikan nilai lebih kepada salah satu mahasiswa yang juga tercatat sebagai anggota ormek hijau.
3.3.4 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek Dalam
Kaitannya Dengan Diskusi atau Pemberian Materi Kuliah ------------->Didalam kelas pernah terjadi suatu kejadian unik sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Ninok. Suatu ketika, Ninok mengikuti pelaksanaan kuliah yang
hal. 78
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diadakan oleh salah satu jurusan sosiologi yang berinitial dosen Warsito. Dalam materi mata kuliah, dosen Warsito memberikan tema mengenai perkembangan sosial-politik dan sikap kepemimpinan Gus Dur.
--------->Maka dosen Warsito memberikan pendapat bahwa Gus Dur yang selalu berpangku tangan pada kyai langitan. Karena itulah beberapa mahasiswa yang memiliki kedekatan secara emosional, historis dan prinsip dengan Nadhlatul Ulama yaitu ormek kuning merasa bahwa dosen Kurniawati terlalu sepihak. Namun, mahasiswa ormek kuning diam saja. Dalam arti tidak akan menyanggahnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut terjadi kesalahpahaman dengan dosen tersebut. Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kesalahpahaman meski dalam perdebatan intelektual dalam topik diskusi dengan dosen maka akan berpengaruh dalam nilai ketika selesai ujian.
--------->Setelah selesai kuliah, barulah beberapa mahasiswa ormek kuning mulai membicarakan tentang sikap dan kelakuan dosen tersebut. Disinilah Ninok diberitahu oleh mereka yaitu Rozaki bahwa sikap-sikap dan tindakan ormek hijau umumnya seperti itu. Maka ketika pulang, Ninok segera bangkit dari kursi kuliahnya. Dia mencari temannya yang biasa selalu pulang bersama yaitu Atika . Di tengah perjalanan, Ninok menceritakan perihal sikap dan tingkah laku kawan-kawannya mengenai kesalahpahaman akibat diskusi dosen sewaktu memberikan materi kuliah di kelas. Apalagi dia sedikit merasa terheran-heran baik sikap dan tindak tanduk baik dosen maupun Rozaki itu. Dia menyayangkan semua itu bisa terjadi. Sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menunjukkan sikap kedewasaan politik. Dalam konteks ini, saling menghargai antar sesama.
--------->Namun, ada kalanya ketika perdebatan diskusi tidak sampai merusak pada persahabatan antar sesama anggota organisasi ekstrakurikuler. Ini diakui oleh Yanuarti. Berikut kutipan wawancara.
hal. 79
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diadakan oleh salah satu jurusan sosiologi yang berinitial dosen Warsito. Dalam materi mata kuliah, dosen Warsito memberikan tema mengenai perkembangan sosial-politik dan sikap kepemimpinan Gus Dur.
--------->Maka dosen Warsito memberikan pendapat bahwa Gus Dur yang selalu berpangku tangan pada kyai langitan. Karena itulah beberapa mahasiswa yang memiliki kedekatan secara emosional, historis dan prinsip dengan Nadhlatul Ulama yaitu ormek kuning merasa bahwa dosen Kurniawati terlalu sepihak. Namun, mahasiswa ormek kuning diam saja. Dalam arti tidak akan menyanggahnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut terjadi kesalahpahaman dengan dosen tersebut. Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kesalahpahaman meski dalam perdebatan intelektual dalam topik diskusi dengan dosen maka akan berpengaruh dalam nilai ketika selesai ujian.
--------->Setelah selesai kuliah, barulah beberapa mahasiswa ormek kuning mulai membicarakan tentang sikap dan kelakuan dosen tersebut. Disinilah Ninok diberitahu oleh mereka yaitu Rozaki bahwa sikap-sikap dan tindakan ormek hijau umumnya seperti itu. Maka ketika pulang, Ninok segera bangkit dari kursi kuliahnya. Dia mencari temannya yang biasa selalu pulang bersama yaitu Atika . Di tengah perjalanan, Ninok menceritakan perihal sikap dan tingkah laku kawan-kawannya mengenai kesalahpahaman akibat diskusi dosen sewaktu memberikan materi kuliah di kelas. Apalagi dia sedikit merasa terheran-heran baik sikap dan tindak tanduk baik dosen maupun Rozaki itu. Dia menyayangkan semua itu bisa terjadi. Sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menunjukkan sikap kedewasaan politik. Dalam konteks ini, saling menghargai antar sesama.
--------->Namun, ada kalanya ketika perdebatan diskusi tidak sampai merusak pada persahabatan antar sesama anggota organisasi ekstrakurikuler. Ini diakui oleh Yanuarti. Berikut kutipan wawancara.
hal. 80
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------> " kalo diskusi memang terkadang sampai panas semua menjelek-jelekkan antar sesama.. tapi kalo sudah selesai.. ya sudah.. hanya didalam kelas saja"
--------->Ketika itu, Yanuarti sedang mengikuti pelajaran kuliah, salah satu dosen yang berinitial Khairuddin melontarkan sebuah materi diskusi mengenai peradaban islam yang mulai turun (Hal itu pula kadang dilontarkan setiap perkuliahan berlangsung. Beberapa dosen selalu menjelek-jelekkan beberapa figur dosen yang akan bersaing dalam pemilihan dekan. Ini diakui oleh Jumari: "tadi pagi sewaktu perkuliahan berlangsung, Pak Alfianto menjelek-jelekkan Pak Rahardjo.. " Tentu saja para aktivis yang pro terhadap pencalonan Pak Rahardjo yaitu ormek hijau merasa tersinggung meski hal itu tidak dilakukan secara langsung dan terang-terangan. Disinilah keretakan hubungan antar solidaritas antar anggota ormek kembali merebak. Mereka mulai menjelek-jelekkan antara kelompok satu dengan yang lain termasuk tingkah lakunya. Kadang pula hal ini terlihat dari mulai berkelompok-kelompoknya berdasarkan kesamaan ormek yang menurut pemantauan menjelang pemilihan dekan terlihat perbedaan tajam antara kelompok anggota ormek kuning dan anggota ormek hijau. Hal ini pula terjadi ketika momentum pemilihan jabatan struktural birokrasi kampus. Sejumlah dosen berpropaganda dan memecah belah mahasiswa ketika perkuliahan berlangsung dengan menjelek-jelekkan salah satu calon pemilihan dekan termasuk ormeknya)
--------->Mendengar hal ini, Kristanto langsung menanggapi bahwa peradaban islam adalah kesalahan para pemikir islam ortodoks yang kurang memaknai konteks pemahaman islam liberal. Mendengar hal ini, salah satu anggota ormek kuning kurang menyetujui karena pemikiran wacana islam liberal terlalu mudah merombak aturan-aturan dasar islam. Karena itulah perdebatan mulai panas.
--------->Ironisnya, perdebatan bergeser tidak konteksnya. Yaitu, mulai sedikit mengarah pada konsep antara islam modernis (muhammadiyah) dan islam ortodoks. Pada gilirannya mengarah ke sikap masing-masing tokoh baik Nurcholis Madjid, Gus Dur, Soeharto dan sebagainya. Disinilah sering terjadi kesalahpahaman dan mengarah sampai hal ke persinggungan hubungan sosial antar mahasiswa ormek.
--------->Menurut Hamzah, kadangkala diskusi merupakan langkah efektif untuk berpropaganda masing-masing ideologi dan kepentingan politik praktis ormek' Karena itulah individu selalu menjelek-jelekkan ideologi ormek lain dan membuat seolah-olah paling benar sendiri. Dalam hal ini individu yang memiliki idealisme tinggi seperti aktivis merah dan merah muda selalu melihat diskusi sebagai alat
hal. 81
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
efektif berpropaganda . Apalagi ormek merah awal mula berdiri sekitar tahun 2002 diawali dari forum diskusi yang bernama Ideologi K. Kadangkala keberanian itu ditunjukkan didalam diskusi kelas. Didalam kelas sikap-sikap kolot sering dilakukan dalam berdiskusi. Karena ormek merah merasa berani karena menganggap dirinya paling benar . Berikut kutipan wawancara "ormek merah merasa paling benar…dan kolot karena itu ia selalu berani kepada siapa saja baik ke dosen untuk berdiskusi sekalipun debat".
-------->Menurut Paul, didalam kelas dapat dipetakan mahasiswa tipe penggorganisir atau tidak. Ada tiga macam yaitu: 1) mahasiswa hedonis. Mahasiswa hedonis ini memiliki ciri tidak mau berdiskusi dan sangat apatis terhadap intelektualisme dan ormek. 2)mahasiswa pengorganisir. Mahasiswa ini tercatat oleh salah satu ormek dan senang sekali berdiskusi dengan tujuan agar individu simpatik kemudian tertarik untuk bergabung kedalam ormeknya. Aktivis tipikal seperti ini yang sering dijauhi. Apalagi pendirian ormek merah dilakukan dengan cara "merebut" aktivis ormek lain. 3) mahasiswa intelektual. Mahasiswa ini memiliki pengetahuan, intelektual serta wawasan yang luas. Mahasiswa ini tidak tergabung dalam ormek apapun. Mahasiswa ini yang sering dijadikan sasaran para aktivis agar mau bergabung ke salah satu ormek.
hal. 82
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
IV. KESIMPULAN
-------->Dunia aktivisme umumnya tidak dapat dilepaskan dari adanya tindakan politik masing-masing ormek. Tindakan politik itu bermacam-macam sesuai cara pandang individu dibesarkan oleh ormek masing-masing. Ada yang melakukan tindakan politik negatif maupun tindakan politik positif. Dalam kaitannya dengan pola pertemanan, tindakan politik yang mengarah ke positif adalah saling menghargai antar sesama aktivis. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kedewasaan politik antar aktivis mahasiswa untuk saling menerima bahwa perbedaan secara ideologi dan prinsipil adalah sesuatu yang wajar.
-------->Di FISIP UNEJ, kedewasaan politik untuk saling menghargai perbedaan ormek agaknya masih kurang. Umumnya, mahasiswa masih terjebak semangat ekslusifitas dan pemikiran sempit yang dibawa dari ormek masing-masing. Beberapa mahasiswa tampaknya masih kurang mau bergaul yang bukan se-ormek. Inilah yang menyebabkan pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek mengalami upaya destruktif.
-------->Karena itu mereka akan menjauhi secara tidak langsung maupun tidak langsung. Adakalanya, bentuk pergeseran pola pertemanan akibat semangat ekslusif terlihat dari berkelompoknya mahasiswa yang terdiri dari satu atau dua orang lebih di beberapa sudut kampus. Ini tentu saja sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa pola pertemanan antar sesama anggota ormek dapat dikatakan mengarah ke tindakan destruktif. Artinya, mahasiswa semangat ekslusifitas diantara sesama aktivis mahasiswa sangatlah kuat.
-------->Apabila hal itu berlanjut tentu saja kegiatan intelektual dan akademik Kampus tidak akan berkembang. Ironisnya, beberapa pihak birokrat Kampus tampaknya semakin memperbesar pergeseran pola pertemanan di tingkatan aktivis mahasiswa. Upaya-upaya politisir menjelang momentum pemilihan struktural jabatan kampus dengan memanfaatkan akses organisasi ekstrakurikuler kampus, ditambah lagi menyelipkan di setiap topik diskusi atau materi perkuliah dan meminta dukungan secara langsung dengan berkunjung ke ormek-ormek sesuai latar belakang
hal. 83
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
historis para dosen. Tampaknya hal ini semakin memperbesar tingkat pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek.
-------->Bahkan di tingkatan akademik, disinyalir muncul upaya nepotisme agar emosional dosen dengan para aktivis se-ideologi semakin erat. Tentu saja dengan memberikan perhatian lebih, fasilitas serta prestasi akademik berupa nilai kepada mahasiswa yang se-ideologi dengan dosen. Bila hal ini berlanjut, pola pergeseran antar mahasiswa anggota ormek menjadi buruk. Sebab, sikap dan tindakan para penSudarto sangatlah besar untuk mengarahkan mahasiswa agar tidak terjebak semangat eklusifisme yang merusak pola pertemanan antar anggota ormek.
-------->Sementara itu, pergeseran pola pertemanan di antara mahasiswa yang sangat marak adalah dikarenakan kurangnya kesadaran untuk menerima perbedaan prinsipil, cara pandang ormek. Umumnya mahasiswa anggota ormek cenderung menggenalisir bahwa tindakan individu selalu dimaknai tindakan kelompok atau ormek. Akibatnya, kesalahan individu dianggap sebuah kesalahan organisasi. Secara otomatis pula, citra dan nama baik sebuah ormek seakan-akan diletakkan pada seorang aktivis.
-------->Sementara itu, masih kuatnya pengaruh indoktrinasi yang dibawa dari dalam ormek agaknya mempengaruhi tingkah laku dan tutur kata aktivis dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan, ada pula yang memaknai bahwa hal itu adalah sesuatu yang lumrah mengingat mengacu pada aliran-aliran atau praktik politik tertentu. Biasanya hal itu terlihat dari cemooh, sindiran atau tutur kata maupun tingkah laku yang akan merusak pola pertemanan. Namun, apabila dilihat lebih cermat lagi bentuk-bentuk perilaku eklusif sengaja dipertahankan untuk menjaga semangat kekeluargaan yang kemudian memperkuat hubungan solidaritas ormek. Bahkan ada pula yang sengaja dilakukan agar individu tergerak menjadi anggota salah satu ormek tertentu.
-------->Tidak hanya itu, pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek terlihat sampai di indekost. Banyak hal yang dapat menjelaskan hal ini. Yaitu, upaya kaderisasi, kurangnya kedewasaan politik dan masih terjalinnya semangat ekslusifitas. Itulah hal-hal yang menyebabkan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ dapat dikatakan mengarah ke bentuk destruktif. Oleh karena itu cara untuk mengatasinya adalah menanamkan semangat
hal. 84
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kedewasaan politik serta menggairahkan iklim intelektualisme di kalangan mahasiswa. Ironisnya hal itu kurang dilakukan di FISIP UNEJ. Parahnya, upaya menciptakan potensi konflik dengan mempolitisir aktivis mahasiswa seringkali dilakukan menjelang momentum tertentu. Misalnya pemilihan dekanat. Upaya politisir tersebut dilakukan dengan memanfaatkan aktivis mahasiswa agar meraih simpati dan memperbesar akses-akses politik demi memenangkan calon dekan. Tentu saja hal demikian perlu dihindari agar dinamika pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek dapat dihindari. Potensi-potensi konflik tersebut perlu dihilangkan segera dengan pemberdayaan berpolitik yang baik, benar dan menjunjung moral. Misalnya, menggairahkan iklim intelektual mahasiswa dengan menanamkan kedewasaan politik, menghilangkan unsur politisir oleh dosen demi pemenuhan kebutuhan subyektif kekuasaan birokrasi kampus, melibatkan mahasiswa dalam pemilihan jabatan struktur birokrasi kampus dan menghindari praktek politik macheavelisme dan Tzun Zu. Terakhir menumbuhkan semangat kritis mahasiswa demi membangun iklim akademik-intelektual FISIP UNEJ lebih mandiri, bebas dan bertanggung jawab. Bila demikian, pola pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek terhindarkan.
hal. 85
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis Ke Arah Ragam Varian Kontemporer. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
___________________ 2001. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis Ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional FISIP UNEJ, 2001. Buku Pedoman 2001/2002. Departemen Pendidikan Nasional FISIP UNEJ.
Etzioni, Amitai. 1982. Organisasi-organisasi Modern. Pustaka Radjaguna: Jakarta.
Johnson, Paul Doyle. 2004. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. PT. Gramedia: Jakarta.
Muller, William L dan Benjamin F. Crabtree, 1992. Primary Care Research: Amultimethod typology and Qualitative Road Map.Newbury Park London: Sage Publications.
Robert H. 1997. Perspektif Perubahan Sosial. Bina Aksara.Gramedia: Jakarta.
Sanit, Arbi 1999. Mahasiswa dan Aktivisme. Gramedia, Jakarta.
Soekanto Soerjono. 1980. Seri Pengenalan Sosiologi 1: George Simmel. Rajawali Pers: Jakarta.
__________________ 1986. Seri Pengenalan Sosiologi 1: Parsons. Rajawali Pers.
Usman, 2003. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Plato, 2003. Plato: Seri Tokoh Filsafat. Teraju: Jakarta.
hal. 86
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lampiran 1
GUIDE INTERVIEW
1. Sejak kapan anda tercatat menjadi salah satu anggota ormek?
2. Teman anda siapa saja?
3. Bagaimana hubungan pola pertemanan anda dengan teman se-ormek atau teman
berbeda ormek?
4. Ceritakan pengalaman anda dengan teman se-ormek atau teman berbeda ormek?
5. Apakah anda pernah mengalami pergeseran ketika berteman dengan teman se-
ormek atau teman berbeda ormek?
6. Menurut anda apakah iklim akademik dan birokrasi kampus sangat mempengaruhi
dalam pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek?
7. Momen-momen apakah yang sangat memiliki implikasi secara langsung terhadap
pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek
--00--
hal 87
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
MAHASISWA ANGGOTA ORGANISASI MAHASISWA EKSTRA KURIKULER (ORMEK)
Studi Deskriptif di FISIP UNEJ
S K R I P S I
picture source :http://www.ewinee.com/2009/05/we-unite.html
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Ujian
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Program Studi Sosiologi
Pada FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
Oleh
BETA CHANDRA WISDATA
Dosen Pembimbing:
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
* karya tulis ini dipublikasikan tidak dengan footnote, skema, dan gambar mengingat keterbatasan sifat blog (untuk selengkapnya hubungi penulis)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PERSEMBAHAN
Dengan rasa tulus kupersembahkan karya tulis ini kepada:
- Ayahanda ......... dan ibunda ...............tercinta yang
telah memberikan curahan kasih sayang dan bimbingan
do'a demi keberhasilanku.
- Kakakku: ........................................
- Sahabatku:.........................................
Semoga persahabatan kita tetap abadi!
- Bapak ................... beserta keluarga yang selama
ini membimbing dengan penuh kesabaran. Semoga merestui segala yang
ada di bumi dalam kehidupan anda!
- Bapak dan Ibu dosen baik mawujud maupun non-wujud yang selama ini
mengajarkan ilmu filsafat dan ilmu politik.
- Jawa Pos dan Radar Jember yang memuat artikel penulis selama ini.
- Untuk aktivis sejati: Wahai Para Aktivis Bersatulah!!!.
- Teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
- Almamater tercinta.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
MOTTO
1. Sederhana dan biasa saja. (Penulis sendiri)
2. Padi makin berisi makin merunduk.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Beta Chandra Wisdata
Program Studi : Sosiologi
--------->Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah (Skripsi) ini adalah karya asli, bukan karya plagiat dan merupakan penelitian yang telah dilakukan sendiri di kabupaten Jember dan belum pernah ditetapkan sebagai karya tulis pada institusi manapun.
Jember
BETA CHANDRA WISDATA
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
RINGKASAN
--------->Bagaimanakah gambaran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek? Apakah mengarah ke bentuk disintegratif ataukah destruktif? Pertanyaan ini seakan menjadi sebuah landasan untuk mengetahui secara mendalam pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej. Pada umumnya, pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej masih memiliki ciri khas yang ekslusif. Ditandai dengan adanya tidak mau bergaul dengan teman yang berbeda ormek. Persoalan ini terlihat dari adanya pengelompokkan mahasiswa yang terdiri dari dua orang lebih berdasarkan ormek tertentu. Banyak hal yang menjelaskan hal ini. Beberapa diantaranya adalah keinginan menjaga hubungan solidaritas yang kuat antar mahasiswa se-ormek, semangat ekslusif yang dibawa dari proses indoktrinasi ormek masing-masing, upaya kaderisasi sehingga memanfaatkan mahasiswa agar dapat masuk sesuai ormek yang dinaungi, perbedaan prinsipil yang dikhawatirkan mampu merusak hubungan pertemanan jika lebih memilih berteman se-ormek
--------->Hal ini tampaknya lebih disebabkan kedewasaan politik di mahasiswa (baca: aktivis) dapat dikatakan masih rendah. Pada umumnya, mahasiswa terlalu mudah menggenalisir bahwa tindakan individu merupakan tindakan organisasi. Karena itulah selalu ada stigma-stigma negatif berupa sindiran atau canda yang mengakibatkan hubungan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek mengalami pergeseran. Ataupun dapat pula disebabkan akibat perbedaan cara praksis politik, cara pandang dan sebagainya. Salah satu gejala yang cukup unik itu terkadang sampai mempengaruhi di lingkungannya yaitu indekost. Dalam konteks ini, muncul sebuah gambaran imej mengenai perkumpulan beberapa mahasiswa yang berdasarkan ormek tertentu.
--------->Namun demikian, gejala yang cukup unik adalah potensi konflik yang menyebabkan pola pergeseran antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej sengaja dipupuk oleh iklim birokrasi Kampus terutama menjelang momen-momen tertentu seperti pemilihan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) maupun pemilihan dekan. Dalam pemilihan dekan banyak kalangan birokrat kampus mencoba memperluas akses-akses politik dengan mencari dukungan ke mahasiswa. Dengan memberikan sejumlah fasilitas tertentu -misalnya beasiswa- kepada salah satu kelompok ormek, para birokrasi kampus menebarkan praktek-praktek politik negatif. Gejala hal yang paling mencolok adalah birokrasi kampus memberdayakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang memegang peranan penting dalam pembentukan opini untuk menelusuri seberapa jauh kans calon yang bersaing memenangkan pemilihan pemilu dekan. Bahkan untuk memperkuat dukungan ini biasanya melakukan praktek kolusi agar beberapa pihak elit birokrasi kampus yang tergabung dalam ilumni ormek tertentu melakukan praktek yang semakin memperpuruk iklim akademik dan intelektual mahasiswa. Salah satunya adalah mencoba mengangkat dosen yang berdasarkan ormek tertentu yang lebih dekat dengan latar belakang historis atau ilumni kalangan birokrasi elit kampus.
--------->Bahkan ironisnya, potensi konflik yang mengakibatkan kesenjangan pola pertemanan mahasiswa tersebut dibawa kedalam materi perkuliahan, pemberian prestasi akademik berupa nilai lebih kepada mahasiswa yang se-ormek. Di diskusi-diskusi misalnya dosen -terutama mereka yang mengikuti pencalonan pemilu dekan atau PD- menyelipkan isu-isu negatif sehingga mahasiswa yang mendukung salah satu dosen menjadi dekan. Ini pula yang menyebabkan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di Fisip Unej yang sampai terbawa ke lingkungannya. Dengan kata lain upaya politisasi dosen terhadap beberapa kelompok mahasiswa menjadikan dan menanamkan potensi konflik diantara mahasiswa anggota ekstrakurikuler mengalami bentuk disintegratif.
--------->Akibatnya pola pertemanan mahasiswa mengalami gejala ekslusif. Seperti yang diungkapkan diatas, mahasiswa menjadi berkelompok-kelompok berdasarkan ormek tertentu. Tidak mau bergaul dengan kawan se-ormek. Menghindari berteman dengan kawan yang berbeda ormek. Disinilah kedewasaan politik mahasiswa dapat dikatakan kurang. Bila hal itu dibiarkan tidak mustahil iklim akademik di kampus akan menjadi parah. Apalagi, ada upaya politisir dosen ke salah satu ormek tertentu.
--------->Upaya politisir ternyata tidak hanya dilakukan oleh dosen. Salah satu ormek mencoba mempolitisir beberapa mahasiswa menjelang momentum pemilihan anggota BEM, KKN di Fisip Unej. Disinilah gejala ekslusif, sikap elitisme, praktek politik yang kemudian mempengaruhi pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek menjadi bergeser. Misalnya salah satu individu tidak diperbolehkan agar berteman dengan salah satu individu dari ormek tertentu. Saling menghina atau mencemooh sesuai basis praksis, stigma serta prinsip adalah gejala yang sering ditunjukkan. Kadangkala jika individu mulai tidak menerima atas perlakuan tersebut bisa bentuk konflik akan semakin terlihat semakin tajam. Inilah yang kemudian mengakibatkan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek menjadi rusak.
--------->Namun ada pula yang mengatakan bahwa pergeseran pola pertemanan dapat dikategorikan wajar. Tetapi, hal ini merupakan bentuk kedewasaan politik yang telah dimiliki oleh individu-invidu. Perlu diketahui, penelitian yang dilakukan oleh peneliti kali ini adalah menggunakan paradigma deskripsi-kualitatif. Artinya fenomena dan temuan lapangan dideskripsikan secara mendalam berdasarkan temuan di lapangan. Dengan menggunakan tekhnik snowballing sampling dan guide interview, data dan fenomena yang diobservasi berdasarkan pengalaman informan mengenai pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek dapat dikuak secara tajam, mendetail dan mendalam. Atau dalam bahasa sebuah tagline, data lapangan akan dapat digambarkan secara tajam, akurat dan terpercaya!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................... i
HALAMAN PERSEMBAHAN .………………………………………….. ii
HALAMAN MOTTO ….................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN ................................................ iv
HALAMAN PENGESAHAN ................................................ v
RINGKASAN ………………….................................................. vi
KATA PENGANTAR .................................................... ix
DAFTAR ISI ……………………................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN ….................................................. xiii
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Masalah .................................... 1
1.2 Pokok Permasalahan ........................................ 5
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan .................................. 6
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................. 6
1.4.1 Tujuan Penelitian ......................................... 6
1.4.2 Manfaat Penelitian ........................................ 7
1.5 Tinjauan Pustaka ......................................... 7
1.5.1 Pemahaman Pola Pertemanan ………………………………...................... 7
1. Pertikaian …………………………......................................... 11
2. Dorongan Kebutuhan Berkelompok ................................ 12
3. Upaya Memperluas Akses Kelompok ............................... 13
4. Hasil Pola Pertemanan Dalam Berinteraksi …………………….............. 14
1.5.2 Konsep mahasiswa ........................................... 16
1.5.3 Pengertian Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek)..... 16
1.6 Metode Penelitian .…………………………………………………........................ 17
1.7 Tipe Penelitian …............................................. 17
1.8 Tekhnik Pengumpulan Data Data ................................ 18
1.8.1 Pengumpulan Data Primer .................................... 18
1.8.2 Tekhnik Observasi ………………………………………........................... 22
1.8.3 Tekhnik Wawancara ………………………………………........................... 22
1.8.4. Penentuan informan ........................................ 23
1.8.5 Pengumpulan Data Sekunder ………………………………...................... 24
1.9 Metode Analisa Data ………………………………………………........................ 24
II DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
2.1 Lokasi Penelitian ............................................ 29
2.2 Gambaran Lokasi Penelitian …….…………………………………................... 30
III ANALISA DATA
3.1. Hubungan Pertemanan di Kampus
3.1.1 Pertemanan Berbeda Ormek ....….............................. 35
3.1.2 Pertemanan Se-ormek ……………….................................. 43
3.2 Hubungan Pertemanan di Sekitar Kampus
3.2.1 Pertemanan Berbeda Ormek .................................. 53
3.2.2 Pertemanan Se-ormek ...................................... 63
3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek Menjelang Momen Tertentu
3.3.1 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Momentum Pemilihan Dekan ................. 68
3.3.2 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Momentum Pemilihan Badan Ekse-
kutif Mahasiswa (BEM)...……...................…………………………......... 77
3.3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Prestasi Akademik …..………................. 79
3.3.4 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Diskusi Atau Pemberian Materi Kuliah..... 81
IV. KESIMPULAN …………………….................................... 85
DAFTAR PUSTAKA ........................................ 88
LAMPIRAN-LAMPIRAN
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Guide Interview.
Lampiran 2. Karakteristik Informan.
Lampiran 3. Skema Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek.
Lampiran 4. Surat Permohonan Ijin Penelitian Dari Lembaga Penelitian Universitas
Jember.
Lampiran 5. Surat Permohonan Ijin Penelitian Dari Badan Kesatuan Bangsa dan
Perlindungan Masyarakat.
* nama-nama informan dan sumber didalam penelitian ini sengaja disamarkan sesuai kode etik penelitian
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
--------->Membicarakan masalah hubungan pola pertemanan antar mahasiswa agaknya tidak dapat dipisahkan dari aliran politik yang berkembang sedemikian rupa di dunia kampus. Bukan rahasia umum lagi bahwa mahasiswa terkotak-kotak kedalam beberapa aliran politik atau ideologi menurut garis idealisme masing-masing. Sanit (1999:38) mengungkapkan, ideologi -dalam artian lebih luas- berisi tatanan nilai yang dimanfaatkan oleh individu sebagai pedoman kehidupan bersama dalam rangka meraih harapan-harapan mereka. Dalam pengertian secara khusus, ideologi mengacu kepada seperangkat cita-cita tentang suatu kelompok.
--------->Polemik yang sering terjadi adalah nilai-nilai didalam ideologi (idealisme) yang dianut masing-masing individu bersinggungan dengan ideologi kelompok lain. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik akibatnya hubungan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler di dalam kampus akan terganggu.
--------->Bahkan lebih daripada itu, bila hal ini tidak didasari oleh sikap dan perilaku kedewasaan politik untuk menghargai perbedaan, maka akan terjadi sentimen negatif yang pada gilirannya menimbulkan sikap destruktif antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler (ormek). Akibat lebih lanjut, disadari atau tidak, ini cenderung menumbuhkan ekslusifitas sehingga mereka tidak menyadari bila kemudian hal itu seringkali merusak hubungan persahabatan dengan cara tidak mau bergaul dengan mahasiswa lain yang berbeda aliran politiknya di dalam suatu kampus.
--------->Kadangkala hal itu semua terlihat dari adanya pengelompokkan mahasiswa berdasarkan aliran politik di sudut-sudut kampus. Dalam kerangka politik, alasan utama yang menyebabkan terjadinya kesenjangan atau gap-gap kelompok aliran politik adalah memperteguh kesatuan atau solidaritas didalam kelompok itu sendiri. Apabila dijelaskan dalam pemahaman sosial-politik, persoalan ini disebabkan oleh
hal.01
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
dua faktor. Pertama, komunitas politik didalam suatu lingkungan yang sarat pola pertemanan terdapat sebuah prosedur atau tata cara yang mengakibatkan individu untuk melakukan sikap-sikap eklusif. Dalam ruang lingkup ini, semakin besar jumlah individu yang tergabung kedalam kelompok politik tersebut semakin besar pula kesempatan untuk melakukan pelbagai tindakan politik praktis. Politik praktis yang dimaksudkan adalah melakukan proses indoktrinasi dengan pelbagai cara baik positif maupun negatif.
--------->Dalam pengertian negatif, satu kelompok melakukan proses pemaksaan penyadaran agar individu dapat masuk kedalam kelompoknya. Istilah yang sering dilontarkan di dunia aktivisme adalah kaderisasi. Artinya individu diajak agar menjadi anggota kelompok ormek. Akan tetapi, cara-cara proses politik praktis dalam pemahaman negatif tadi seringkali menggunakan ajakan secara langsung maupun tidak langsung. Ajakan secara langsung, misalnya, individu diberi tawaran terbaik agar dia masuk kedalam kelompoknya. Bahkan dapat dilakukan dengan cara yang sangat riskan sekalipun. Misalnya memberikan isu-isu negatif antara ormek satu terhadap ormek yang lain.
--------->Ada dua hal yang seringkali dilakukan. Misalnya dalam pengertian politik perang Tzun Zu, individu dibuat mengalami keterasingan (alienasi) dengan dijatuhkan mental lawan terlebih dahulu. Dalam konteks ini, individu disindir dan dijelekkan dalam bentuk tutur kata dan sikap oleh kelompok lain yang berbeda secara ideologi. Dalam keadaan semacam itu, individu akan merasa bahwa dia telah kehilangan martabatnya sebagai makhluk politik. Jika hal itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan bahwa individu akan melakukan tindakan destruktif yang kemudian menciptakan konflik fisik. Persoalan tersebut lebih diakibatkan kurangnya semangat kedewasaan politik serta masih bercokolnya semangat ekslusif untuk mempertahankan nama baik kelompok masing-masing.
--------->Sikap ekslusifitas dalam pemahaman organisasi terkadang memang sengaja di tumbuhkan (Etzioni, 1982: 119). Definisi sikap ekslusif dalam pengertian sosiologis disini bertujuan memperkokoh hubungan solidaritas antar sesama mahasiswa se-ormek.
hal. 02
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Itu dimaksudkan dan dilakukan dengan menanamkan jiwa atau identitas politik yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain. Melalui pelaksanaan prinsip propaganda hitam kadangkala kelompok satu dengan kelompok yang lain memberikan kesan pencitraan negatif. Tentu saja kesemuanya ini diwujudkan baik secara simbolis maupun non simbolis. Misalnya, kelompok A menjelek-jelekkan kelompok B, demikian sebaliknya. Akibatnya, makna rasionalitas menjadi hilang tergantikan semangat egoisme kelompok.
--------->Ironisnya, jika propaganda hitam ini dijadikan sebagai "ideologi" oleh individu yang menjadi anggota kelompok atau ormek tersebut mampu mempengaruhi dalam berinteraksi sosial individu. Lebih tepatnya lagi hubungan pertemanan antar sesama. Terkadang, persoalan itu dibawa sampai ke persoalan pribadi. Karena itu, ketika bertemu dengan kawan-kawan yang berbeda ormek, sikap-sikap tidak simpatik seringkali ditunjukkan. Hal itu kemudia mempengaruhi lingkungan individu. Dalam hal ini indekost. Bahkan, kadangkala individu tidak dapat membedakan kapan waktunya berpolitik dan kapan menjalin hubungan sosial yang lebih akrab antar sesama.
--------->Hal ini mudah dipahami. Pada hakikatnya, mahasiswa dapat dikategorikan sebagai politisi muda. Mahasiswa cenderung mempraktikan intelektual baik langsung maupun tidak langsung yang diperolehnya selama duduk di bangku kuliah. Dengan kata lain, pedoman dan pandangan politik mahasiswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan kedewasaan intelektual dan kedewasaan politik yang bersangkutan.
--------->Apabila mahasiswa telah mampu menemukan membedakan kapan untuk berteman dan berpolitik dapat dikatakan dua elemen penting ini dapat dipenuhi. Dalam momen-momen tertentu, mahasiswa mengambil langkah praktis sesuai kepentingan subyektif kelompoknya yang bukan lagi berdasarkan kematangan pola pikir intelektualnya. Tentu saja, tujuan yang ingin diraih mewakili kepentingan subyektif kelompoknya masing-masing. Apalagi didalam politik tidak mengenal kawan yang abadi. Persoalan ini tidak dapat dipisahkan manusia sebagai homo politicon (Plato, 2003:23).
hal. 03
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Sebagai homo politicon, individu melakukan berbagai tindakan politik yang dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya, sikap-sikap oportunis politik dan politik menghalalkan cara dengan memanfaatkan segala akses politik demi memenuhi kepentingan subyektif masing-masing selalu dikedepankan terutama dalam hal merebut kekuasaan. Kekuasaan jika dikategorikan kedalam mahasiswa, bukanlah dipergunakan untuk mencari kebutuhan materi. Melainkan lebih merupakan meraih kedudukan dan status sosial. Nampaknya, makna orientasi politik yang semula ditujukan untuk saling menjatuhkan satu sama lain tergantikan oleh hubungan persahabatan lebih erat, dinamis dan harmonis.
--------->Dengan menyatukan persepsi ideologis dan kepentingannya, identitas politik yang dipertahankan dikesampingkan. Tanpa disadari, mahasiswa merupakan "kekuatan tersembunyi" yang mampu mengarahkan perubahan sosial didalam kampus. Bila hal itu bertujuan positif dalam pengertian sebenarnya, dinamika kehidupan intelektual di kampus menunjukkan perkembangan signifikan. Sebaliknya, jika bergeser ke tujuan negatif, keadaan itu malah memperparah dinamika kehidupan intelektual kampus. Persoalan primordialisme yang didahulukan kiranya dilakukan demi memperluas akses kelompok masing-masing.
--------->Bila demikian, potensi-potensi rusaknya hubungan solidaritas antar sesama mahasiswa anggota ekstrakurikuler menjadi rusak dan akan terus terpupuk dan direproduksi sepanjang tahun secara turun-temurun oleh komunitas akademik sendiri. Jangan heran bila hal ini terus dibiarkan berkembang tanpa kendali maka akan terjadi akumulasi “dendam akademik” di antara mahasiswa yang berbeda ideologi atau berbeda ormek. Permusuhan di antara mereka akan kian mengkristal bagaikan bola salju seiring berlalunya waktu.
--------->Akibat negatif lainnya adalah kehidupan akademik di kampus tidak dapat berfungsi secara optimal. Kadangkala diskusi-diskusi akademik sangat ditunggangi oleh kepentingan subyektif baik dari pihak mahasiswa maupun birokrasi kampus. Akibatnya, diskusi-diskusi akademik menjadi bias idelogi sehingga bobot ilmiahnya luntur karena masing-masing mempertahankan untuk membenarkan ideologi politiknya yang ditunjukkan dalam runtuhnya hubungan sosial (persahabatan) antar
hal. 04
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sesama mahasiswa anggota ormek di kampus. Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, mahasiswa memiliki kiprah penting untuk mendinamisasi keadaan intelektual kampus.
--------->Apabila dilihat secara historis proses mendinamisasi keadaan intelektual di Kampus sangat dipengaruhi oleh kebijakan Orba NKK/BKK. Pada saat itu, birokrasi kampus sangat mudah memanfaatkan beberapa ormek untuk kepentingan pragmatis belaka. Di pihak aktivis mahasiswa, akses-akses memanfatkan organisasi inta ekstrakurikuler demi memperbesar jaringan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Bila demikian usaha keadaan intelektual di kampus kurang dapat berkembang. Malah sebaliknya akan jauh terpuruk.
--------->Oleh karena itu tampaknya ada kaitan secara langsung antara hubungan sikap eksklusif antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler dengan kehidupan dinamika intelektual yang terdapat di dalam kampus. Dalam konteks ini penulis tidak akan mengulas mengenai pergerakan mahasiswa dalam gerakan penumbangan reformasi di pertengahan Mei 1998. Karena masalah tersebut telah sampai pada skala nasional yang jelas-jelas sangat tidak kontekstual. Sebaliknya penulis lebih mengulas masalah aktivisme dari skala mikro. Oleh karena itu, dari ulasan yang mendasar diatas maka penulis tertarik mengangkat penelitian kali ini dengan judul "Pola Pertemanan Antar Sesama Mahasiswa Anggota Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek) Studi Deskriptif di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ)".
1.2 Pokok Permasalahan
--------->Dari sekilas latar belakang realitas fenomena tersebut, pokok permasalahan penelitian kali ini yaitu:
1. Bagaimanakah gambaran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ?
2. Apakah pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ mengarah destruktif atau integratif?
hal. 05
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
--------->Suatu penelitian memerlukan ruang lingkup pembahasan agar mampu memberikan arah maupun peta yang jelas dalam menentukan penelitian nanti. Ataupun juga, ruang lingkup permasalahan merupakan fokus perhatian besar seorang peneliti agar konsep penelitian tidak melebar ke berbagai sisi. Berpijak pada landasan ini, maka penelitian kali ini terfokus pada pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler di kampus.
--------->Penelitian ini mengkhususkan pada pola pertemanan yang dikaji dan dibatasi oleh bingkai pengelompokkan ormek. Dalam konteks ini, masalah yang dibahas yaitu berupa pertemanan se-ormek dan pertemanan berbeda ormek, pertemanan dalam momen tertentu dan pola pertemanan yang kemudian mempengaruhi lingkungannya.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. 4.1 Tujuan Penelitian
--------->Menurut Usman (2003:29), tujuan penelitian ialah pernyataan mengenai apa yang hendak kita capai. Tujuan penelitian dicantumkan dengan maksud agar kita maupun pihak lain yang membaca laporan penelitian dapat mengetahui dengan pasti apa tujuan penelitian kita itu sesungguhnya. Berpijak dari landasan ini, maka tujuan penelitian kali ini adalah mengetahui dan mendeskripsikan dan menggambarkan pola pertemanan di antara sesama mahasiswa anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler di FISIP UNEJ.
--------->Sementara itu tujuan lebih khusus lagi, penelitian kali ini, dapat mengetahui pokok persoalan yang melatar belakangi pola pertemanan antar mahasiswa di FISIP UNEJ. Dengan demikian, tujuan penelitian ini -jika dilihat dari segi praktis- diharapkan mampu mengetahui gambaran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ.
hal. 06
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.4.2 Manfaat Penelitian
--------->Didalam sebuah penelitian kegunaan penelitian sangat penting untuk memberikan sumbangan pemahan dari sebuah penelitian. Adapun kegunaan penelitian kali ini penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi pijakan dasar bagi penelitian sejenis.
2. Penelitian ini diharapkan mampu dijadikan refleksi sikap dan tingkah laku bagi mahasiswa khususnya para aktivis dan elit birokrat kampus untuk memajukan iklim intelektual di FISIP UNEJ.
3. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumbangan bagi pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya program studi Sosiologi di FISIP UNEJ secara institusi.
1.5 Tinjauan Pustaka
1.5.1 Pemahaman Pola Pertemanan
--------->Apabila kita mendefinisikan pola pertemanan lebih lanjut, pola pertemanan adalah mencakup persoalan solidaritas, hubungan pertemanan dan persahabatan antar sesama. Pola pertemanan terlihat dari tingkah laku atau tata cara interaksi yang dilakukan diantara sesama individu dan kelompok. Dalam pemahaman yang sama, Parsons dalam Soekanto mengungkapkan (1986: 43-44):
--------->Sebagai sistem sosial, pola pertemanan mengatur interaksi antar individu menghadapi empat macam pola. Pertama, adaptasi. Dalam keadaan laten, adaptasi berkaitan dengan masalah "mengambil" fasilitas penting disesuaikan dengan kebutuhan pribadi dan kelompok. Dengan memberdayakan segala kemampuan pencapaian tujuan (poin kedua) yang menyangkut masalah penetapan prioritas dan tujuan- tujuan prinsipil. Ketiga, integrasi. Menunjuk pada pemeliharaan Pola pertemanan antara unit-unit sistem. Dan terakhir, fungsi laten yang mencakup masalah pemeliharaan pola dan pengelolaan konflik atau pertikaian
hal. 07
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Sementara itu, dalam kancah politik, pola pertemanan antara individu maupun kelompok rawan sekali terjadi konflik. Dalam pengertian tertentu, konflik ini ditunjukkan dengan bahasa-bahasa simbolis yang bernada menyindir dan sedikit sarkasme. Ini bermaksud agar individu atau kelompok memahami makna itu. Jika tidak ada komunikasi yang jelas, intrepretasi semakin terdistorsi. Dalam kondisi sosial demikian mengandaikan kemungkinan mengatasinya dalam suatu refleksi. Refleksi dalam pemakanaan ini masih bersifat subyektif karena individu tidak dapat dipisahkan dari cara pandang terhadap kebutuhan-kebutuhan ideologis dan kelompok politiknya.
--------->Saat itu, kebanyakan individu mulai mengetengahkan penempatan dirinya didalam kelompok. Sebab, sebagai makhluk rasionalitas, individu mengalami pencerahan untuk menemukan pemaknaan baru yang terjadi dalam mengadakan pola pertemanan didalam kelompok.
--------->Disinilah individu atau kelompok membentuk sekaligus menggabungkan diri secara gemeinschaft atau gemeinself. Gemeneinschaft adalah penyatuan individu-individu dalam bentuk paguyuban. Sementara gemeinshelf adalah penyatuan individu-individu dalam bentuk non paguyuban.
--------->Pola pertemanan didalam gemeinschaft, individu satu sama lain terbentuk berdasarkan kepentingan organis-mekanis dalam pengertian Durkheiman. Individu mulai tidak melihat hal-hal yang bersifat fisik merupakan penghalang menyatukan satu sama lain. Karena itu, pola pertemanan diantara sesama individu terjaga. Bahkan relatif kuat diiringi ikatan emosional yang lebih akrab. Sebab, sebagai kebutuhan hidup berkelompok, individu menghilangkan kesan unsur mendominasi satu sama lain. Sebaliknya, sikap kepemimpinan atau kedewasaan politik ditunjukkan.
--------->Untuk menghadapi dillema yang tidak diinginkan, keharmonisan satu sama lain yang dalam representasi solidaritas menjadi sebuah sistem sosial yang menjauhkan kepentingan ideologis atau politis. Dengan adanya, kesatuan menyatukan kepentingan organis individu mengabaikan kepentingan ideologis dan politis sehingga pola pertemanan semakin akrab.
hal. 08
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Kalau sudah demikian, efek emosional yang mengakibatkan pertentangan lebih parah dapat diredam. Suasana sosial didalam momentum tertentu menunjukkan gejala tertib. Karena satu sama lain semakin memahami makna solidaritas. Lantaran itu, perubahan sosial yang mengarah negatif tidak akan terjadi. Bahkan, proses pola pertemanan individu semakin menunjukkan gejala yang dinamis.
--------->Namun, tidak tertutup kemungkinan, pola pertemanan malah terdapat sisi-sisi persinggungan. Karena, perbedaan cara pandang terhadap praksis ideologi, kekuasaan dan kepentingan kelompok. Pada hakikatnya, individu adalah makluk yang tampaknya melakukan konflik dengan yang lain karena dorongan naluriah. Simmel dalam Soekanto (1986:67) mengungkapkan ada kemungkinan sikap bermusuhan hal ini disebabkan karena dorongan spontan, memperkuat solidaritas didalam kelompok yang satu, saling mengacuhkan satu sama lain akibat kesalahpahaman, prinsip-prinsip pertikaian yang disepakati atau disengaja serta konflik kepentingan.
--------->Dalam hal ini kepentingan yang bertentangan pertikaiannya dan prosesnya dipisahkan dari kepribadian. Ada kemungkinan bahwa pertikaian itu hanya menyangkut unsur-unsur tertentu di luar masalah pribadi. Kadangkala pertikaian itu menyangkut kebencian yang tidak ada manfaatnya dilakukan secara intens dan berulang-ulang…. Pertentangan antara kesatuan antagonisme mungkin paling tampak, kedua fihak mengejar tujuan yang sama. Apabila tujuan sama yang ingin dicapai merupakan dasar pertikaian, maka proses itu mungkin terjadi dengan cara yang agak tercela…. Sementara itu, saat kesatuan merupakan titik tolak dan landasan pola pertemanan dan pertikaian terjadi mengenai kesatuan itu, maka sintesa antara monisme dengan antagonisme hubungan mungkin menghasilkan keadaan yang sebaliknya. Pertikaian semacam ini, biasanya lebih radikal apabila tidak memenuhi syarat-syarat mutual (Simmel dalam Soekanto 1986: 34-35).
--------->Sementara itu, pola pertemanan pemahaman Parsons dalam Soekanto (1986:113) mengemukakan bahwa pola pertemanan sebagai tindakan sosial menekankan orientasi subyektif yang mengendalikan pilihan-pilihan individu. Pilihan-pilihan ini secara normatif diatur atau dikendalikan oleh nilai dan standar
hal. 09
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
normatif bersama. Hal ini berlaku untuk tujuan-tujuan politik yang ditentukan individu. Bahkan memenuhi kebutuhan fisik yang mendasar dalam pengaturan normatifnya. Prinsip-prinsip ideal ini mengendalikan tipe perilaku manusia dalam kaitannya dengan pola pertemanan.
--------->Dalam pemahaman lebih lanjut lagi, orientasi individu atau kelompok tersebut dibagi sebagai berikut:
(tabel)
Orientasi Motivasi ---- Orientasi Nilai
Dimensi kognitif Dimensi kognitif
Dimensi katetik Dimensi apresiatif
Dimensi evaluatif Dimensi moral
Sumber: Parsons Soeryono Soekanto (1986:114)
--------->Menurut Parsons dalam Soekanto (1986:114-115), apabila dijelaskan hal tersebut, dimensi kognitif dalam orientasi motivasional menunjuk pada pengetahuan politik individu yang bertindak itu mengenai situasi kelompoknya masing-masing dalam kaitannya dengan pola pertemanan. Dimensi ini mencerminkan kemampuan dasar manusia untuk membedakan antara rangsangan-rangsangan pola pertemanan yang berbeda dan membuat generalisasi dari suatu rangsangan pola pertemanan yang lainnya.
--------->Dimensi katetik dalam orientasi motivasional menunjuk pada reaksi afektif pola pertemanan politik dari individu yang bertindak itu terhadap situasi atau pelbagai aspek pola pertemanan didalamnya. Ini juga mencerminkan kebutuhan dan tujuan individu maupun kelompok berdasarkan ideologi masing-masing. Umumnya individu memiliki suatu reaksi emosional positif terhadap elemen-elemen dalam lingkungan itu yang memberikan kepuasan pola pertemanan atau dapat digunakan sebagai alat dalam mencapai kekuasaan.
--------->Dimensi evaluatif , dalam orientasi motivasional menunjuk pada dasar pilihan seseorang antara orientasi pola pertemanan dalam konteks politik. Pada gilirannya akan mengarah kepada hakikat pertikaian dalam pola pertemanan
hal. 10
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Menurut Simmel dalam Soekanto (1986:77), hakikat pertikaian ini secara sosiologis melihat beberapa poin penting berikut ini.
1. Pertikaian
--------->Sebagai unit terkecil, kehidupan individu membentuk kelompok yang yang sifatnya subyektif sekali. Karena itu, pertikaian dianggap sebagai bentuk kerjasama kepentingan politik antara sesama individu atau kelompok. Gejala pertikaian ini dilihat dalam kancah politik menyeragamkan perbedaan. Kadangkala, makna-makna simbolis dimaknai bukan sebagai penjatuhan individu atau kelompok malah dilihat sebagai sesuatu yang masih dalam taraf wajar. Dalam hal ini, salah satu pihak mulai ada kedewasaan politik yang ditandai dengan sikap mengalah. Karena itu dinamika keretakan diantara hubungan persahabatan antar sesama tidak terjadi. Hal ini biasanya terlihat dalam makna tingkah laku secara simbolis yang mengungkapkan bagaimana solidaritas tercipta kuat-kuat.
--------->Sementara itu, pola pertemanan mengalami ketidakstabilan apabila terjadi keretakan antar sesama. Hal ini disebabkan akibat adanya kesalah pahaman dan bahkan pandangan negatif satu sama lain yang membentuk karakter individu tersebut sehingga mempengaruhi dalam bergaul.
--------->Dalam keadaan yang berbeda, perbedaan prinsipil dilihat berdasarkan interaksi sosial pola pertemanan antara individu satu dengan yang lain. Relevansi sosiologis pertikaian tersebut disamakan dalam konsep kesatuan. Artinya, setiap keutuhan pribadi hanya melalui penyerasian, akan tetapi juga kadang-kadang melalui pertikaian. Sebagaimana yang diungkapkan Simmel dalam Soekanto (1986:15) kesalahpahaman meningkatkan timbulnya perpecahan dalam pengetian positif yang efeknya dapat dirasakan secara personal maupun kelompok.
--------->Hal ini disebabkan oleh karena gambaran lain akan timbul apabila pertikaian dipandang dari sudut pola pertemanan dengan membentuk interaksi yang terpengaruh oleh kepentingan kelompok. (Simmel dalam Soekanto, 1986:16).
hal. 10
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Karena itu, pola pertemanan akan membentuk kontinuitas struktur sosial dalam jangka waktu tertentu mengikatkan diri pada fungsi-fungsi konkrit. Bagaimanapun juga, kondisi kepentingan politis semakin mengarahkan penyatuan satu sama lain menghadapi kebutuhan ideologis kelompoknya. Dalam fase ini, penyatuan satu sama lain dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan latar belakang historis kelompoknya masing. Di tingkatan atas, hal itu menyebabkan persinggungan diantara di tingkatan bawah akibat perebutan kekuasaan yang dicontohkan oleh individu atau kelompok di tingkatan atas.
--------->Di tingkatan atas cara yang dilakukan memang lebih sempurna bila dibandingkan dengan tingkatan bawah. Namun, umumnya cara menggapai kekuasaan diatas sama yaitu tim-tim yang dibentuk sesuai dengan kinerjanya masing-masing. Tentu saja hal demikian akan berpengaruh terhadap hubungan pola pertemanan di tingkatan bawah.
2. Dorongan Kebutuhan Berkelompok
--------->Didalam melakukan aktivitasnya individu menggabungkan diri kedalam kelompok untuk mempraksiskan segala pengalaman politik yang dimilikinya. Hal ini ada hal yang bersifat ideologis dan cara pandang terhadap sesuatu. Dalam hubungan yang akrab, bermusuhan adalah tindakan-tindakan merusak hubungan didalam suatu individu atau kelompok menjadi rusak. Karena kebencian adalah hal yang dapat diasumsikan sebagai dorongan merespon terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di dalam individu atau kelompok dalam lingkup pola pertemanan.
--------->Dorongan itu ada yang bersifat lahiriah dan non lahiriah. Demikian pula halnya, dorongan spontan yang menggabungkan individu terjun kedalam organisasi, Ada kemungkinan besar, unsur kedewasaan politik melerainya. Artinya, daya tarik ideologi dan kedewasaan politik yang dimiliki individu sisi satu dalam keadaan tertentu menjadi lebih utama. Karena itu, keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki dihilangkan. Ada hal yang mengakibatkan dimensi pertikaian adalah hal yang tidak perlu.
hal. 11
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Apabila ditunjang dengan pelbagai perbedaan mendasar dalam cara pandang ideologis, kelompok semakin menyatu. Karena, kepahaman ini yang membentuk individu berkelompok didalam suatu organisasi atau kelompok. Menurut Simmel dalam Soekanto (1986:98), keterbatasan yang ada dihilangkan bahkan dinetralisir dengan cara-cara bijak. Yaitu, menghilangkan unsur primordialisme demi kebutuhan bersama. Ataupun juga menghilangkan semangat eklusifitas dan menggantikannya dengan kedewasaan politik.
--------->Sebab, permusuhan didalam pola pertemanan yang dilakukan individu berdasarkan unsur primordialisme adalah sesuatu yang alamiah dan wajar. Sikap permusuhan muncul akibat kesalahan identifikasi individu terhadap yang lainnya baik secara personal maupun kelompok. Dalam kenyataan jika diiringi dengan unsur prasangka maka tanpa disadari akan memicu dampak yang lebih buruk. Misalnya, pihak A menanamkan kecurigaan kepada pihak B karena motivasi tertentu. Individu akan akan memutuskan dari suatu kelompok tersebut.
--------->Namun karena manusia secara naluriah adalah makhluk sosial maka individu itu akan berusaha masuk ke kelompok lain sesuai kepentingan dan tujuan subyektif dirinya sendiri. Atau bisa saja individu tersebut membentuk kelompok baru berdasarkan kepentingan-kepentingan urgen sebagai makhluk politik. Tentu saja kesemuanya ini dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sadar. Dalam artian, tidak ada unsur pemaksaan sedikitpun agar individu masuk kedalam kelompok yang baru.
--------->Dalam proses ini, individu merefleksikan diri kesalahan-kesalahan yang terdapat didalam dirinya dan kelompok tersebut. Dengan kata lain, individu melakukan proses otokritik. Yaitu individu merasa bahwa sikap-sikap kesalahan eklusifme politik adalah hal yang salah. Bila demikian, syarat-syarat kedewasaan politik telah terpenuhi.
3. Upaya Memperluas Akses Kelompok
--------->Didalam pola pertemanan dalam pemahaman politik, terdapat sebuah usaha konspirasi untuk merenggangkan nilai-nilai harmonitas yang tercipta sedemikian
hal. 11
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
rupa. Dalam tataran ini, inovasi tindakan politik yang dilakukan adalah memanfaatkan akes-akes kelompoknya. Upaya politisir dapat dilakukan dengan berbagai cara. Tergantung dari kebutuhan subyektif memperbesar kekuasaan kelompok. Disinilah akses-akses politik di dalam suatu internal organisasi di tingkatan bawah dimanfaatkan (dipolitisir) oleh birokrasi atas. Tentu saja hal demikian ada bargaining politik untuk memperkuat citra positif individu masing-masing. Apabila dilihat secara lebih rinci, bargaining politik yang terjadi antara tingkatan atas dan tingkatan akses politik dibawahnya disertakan pula fasilitas-fasilitas yang memadai agar tehknik konspirasi nepotisme dapat dilakukan.
--------->Maka, berlangsunglah kemudian terjadi penciptaan opini agar memberikan kesan bahwa kelompok satu lebih baik. Ini dimaksudkan agar kekuatan politik diatas menjadi lebih memadai secara prinsipil untuk bersaing lebih dengan kelompok lain. Dalam perkembangan selanjutnya, momentum-momentum yang berkaitan dengan hal itu dimanfaatkan. Akibatnya, usaha-usaha pencapaian akses-akses politik lebih dapat diberdayakan.
--------->Pemanfaatan tersebut merupakan sesuatu hal yang lumrah dalam konteks politik. Sebab, setiap kelompok pasti akan memberikan sumbangan yang terbaik untuk mendahulukan kepentingan masing-masing. Namun demikian, didalam konteks politik tidak mengenal kawan maupun lawan yang abadi. Sebaliknya, yang dikenal adalah kepentingan adalah segala-galanya. Dengan demikian, pola-pola pertemanan akan menjadi rusak. Sebab satu sama lain berusaha memasukkan doktrinasi atau pengaruhnya satu sama lain demi meraih simpati. Dalam kaitannya dengan pola pertemanan, doktrinasi untuk memperkuat satu sama lain dilakukan dengan pelbagai cara termasuk jalan pintas sekalipun.
4. Hasil Pola Pertemanan Dalam Berinteraksi
--------->Dalam melakukan aktivitas pola pertemanan sehari-hari, akan nampak hasil interaksi yang sangat dipengaruhi oleh cara pandang, ideologi dan pemahaman terhadap lingkungan sekitarnya. Karena didalam pola pertemanan unsur-unsur yang sangat kompleks sifatnya mempengaruhi keadaan motivasi individu. Menurut
hal. 12
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Simmel dalam Johnson (2004: 252), hasil pola pertemanan dalam berinteraksi mengakibatkan dua macam pola. Yaitu, konflik dan kekompakkan. Dalam bentuk-bentuk konflik, keadaan antagonistk mengatur hubungan yang tidak intim. Konflik antar kelompok misalnya cenderung mewujudkan usaha-usaha permusuhan dan mengakibatkan pergeseran pola pertemanan semakin tajam.
--------->Lebih lanjut lagi, dalam keadaan seperti itu simbol-simbol diberikan oleh suatu kelompok kepada individu. Misalnya penghianat. Pada dasarnya, persaingan yang mempengaruhi dua pihak individu atau kelompok menyebabkan motivasi dalam kesenjangan di tingkatan cara pandang. Pada gilirannya, bentuk-bentuk kekecewaan kemudian ditunjukkan baik secara langsung maupun tidak langsung.
--------->Sementara itu, konflik antara kelompok dalam dan kelompok luar dinyatakan oleh Simmel dalam Johnson (2004:269), terdapat komitmen moral untuk memasukkan kepentingan diri atau individualistik. Oleh karena itu, konflik yang kemudian memberikan arahan kesenjangan menghasilkan pembentukan kelompok baru yang terdiri dari individu-individu atau kelompok-kelompok yang sebelumnya acuh tak acuh atau malah saling bertentangan. Dalam beberapa hal, keadaan ini seringkali ditunjukkan dalam keadaan persahabatan yang "sepakat" dan tidak sepakat (aggree to disagree).
--------->Hasil lainnya adalah keunikan bentuk karakteristik individu akan ditanggapi dan mungkin menjadikan hubungan pola pertemanan menjadi lebih intim lagi. Hal ini akan menimbulkan sikap ekslusif yang tanpa disertai perasaan-perasaan positif. Bahkan, penghinaan atau kekecewaan yang ditunjukkan mungkin dirasakan akan jauh lebih menyakitkan dan kemudian secara emosional mengakibatkan keakraban kurang terjalin. Memperhatikan fenomena seperti itu, pola pertemanan akan menjadi semakin kontras dengan sikap-sikap yang ditunjukkan. Bila demikian, hasil yang didapatkan akan menunjukkan hal-hal yang mengalami pergeseran, sikap dan perilaku tidak simpatik, kekecewaan, konflik dan hubungan solidaritas yang renggang.
hal. 13
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.5.2 Konsep Mahasiswa
--------->Konsep mahasiswa kali ini adalah seseorang yang menempuh pendidikan di FISIP UNEJ. Dalam kaitannya dengan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler, individu harus pernah ikut baik aktif maupun tidak aktif didalamnya. Pemahaman aktif, individu tercatat sebagai anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Sementara itu, mahasiswa yang tidak aktif lagi. Artinya individu keluar dari keanggotaan organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Disini individu disebut dengan mantan aktivis.
--------->Penting untuk dicatat, mahasiswa yang pernah memiliki hubungan khusus yaitu pernah ikut dan berpindah-pindah menjadi anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler yang kemudian memutuskan untuk keluar dari struktur tersebut, maka perlu diberikan "perhatian" lebih. Demikian halnya, dengan individu yang mengenal seluk beluk dunia aktivisme meskipun ia bukan terlibat aktif dalam anggota organisasi mahasiswa ekstrakurikuler.
--------->Untuk menghindari penjelasan yang dianggap subyektif individu-individu itu akan diambil dari sebagai sudut pandang obyektif untuk membantu peneliti memahami lebih lanjut pola pertemanan antar sesama mahasiswa organisasi ekstrakurikuler. Mengingat rawannya sebuah penelitian yang mengkaji pertentangan ideologi, cara pandang aliran politik individu atau kelompok didalam berinteraksi dan melakukan menjalin pola pertemanan antar sesama.
1.5.3 Pengertian Organisasi Mahasiswa Ekstrakurikuler (Ormek)--------->Pengertian organisasi mahasiswa ekstrakurikuler (ormek) kali adalah suatu kelompok mahasiswa yang memiliki struktur keanggotaan dan wilayah teritorial tidak dibawah Universitas. Organisasi mahasiswa ekstrakurikuler memiliki basis-basis massa yaitu mahasiswa. Organisasi mahasiswa ekstrakurikuler, kedudukannya pun berada di luar struktur Universitas.
--------->Secara garis besar, organisasi mahasiswa ekstrakurikuler di FISIP UNEJ terdiri berbagai macam menurut politik aliran sesuai yang digunakan sebagai landasan ideologi membentuk kolektif. Yaitu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),
hal. 13
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kelima ormek ini merupakan kajian utama yang akan diteliti. Peneliti tertarik untuk mengkaji hubungan pola pertemanan kelima ormek itu. Karena, disadari atau tidak, kelima ormek tersebut sangat mempengaruhi dalam mendinamisasi keadaan birokrasi dan akademik-intelektual kampus, hubungan solidaritas atau pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek. Berdasarkan, kode etik penelitian metode ilmiah sebagaimana yang diungkapkan oleh Bungin (2003:99), peneliti berhak menggunakan simbol-simbol warna tertentu untuk menyebut kelompok-kelompok ormek tersebut.
1.6 Metode Penelitian
--------->Ketika hendak mengkaji fenomena yang dijadikan obyek penelitian, seorang peneliti memerlukan pijakan dasar metodologi penelitian. Hal ini sangat penting agar seorang peneliti tidak menemui sejumlah kendala sejumlah lapangan. Dalam banyak hal, metodologi penelitian memiliki seperangkat aturan-aturan normatif yang mengarahkan seorang peneliti. Menurut Bungin (2001: 40) metodologi penelitian adalah sebuah cara konvensional atau pendekatan yang efektif untuk mengarahkan agar peneliti mampu menjelaskan fenomena di lapangan.
1.7 Tipe Penelitian--------->Tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti kali ini menggunakan tekhnik deskriptif dan kualitatif. Menurut Bungin (2001:85) tekhnik deskriptif adalah tipe penelitian yang menggambarkan secara rinci mengenai obyek penelitian atau fenomena yang dikaji. Demikian halnya dengan tekhnik kualitatif. Bungin (2001:87) mengungkapkan bahwa tekhnik kualitatif adalah memaparkan informasi sedemikian rupa berdasarkan pengamatan lapangan yang didapatkan dan menekankan data primer.
hal. 14
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.8 Tehnik Pengumpulan Data
--------->Untuk menggali data atau informasi yang terkait, penulis melakukan wawancara mendalam (indepth interview). Menurut Bungin (2001:43), wawancara mendalam merupakan tekhnik penggalian yang dilakukan secara mendetail terhadap fenomena yang dikaji. Ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran fenomena sesungguhnya yang diteliti. Dengan demikian tekhnik penggalian data dengan cara indepth interview merupakan langkah efektif menggali fenomena di lapangan.
1.8.1 Pengumpulan Data Primer--------->Beranjak dari pemahaman tersebut maka dapat diperoleh sebuah rumusan penting tentang metode penelitian tentang pengumpulan data primer. Hal ini berkaitan dengan metode penelitian yang merupakan upaya penting menjajaki arti-arti tersembunyi dari tingkah laku manusia. Apabila dikaitkan dalam pola pertemanan di dalam FISIP UNEJ banyak sekali tingkah laku hubungan pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek menampakkan gejala yang cukup unik. Dikatakan unik karena mahasiswa anggota organisasi ekstrakurikuler umumnya masih terjebak dalam pandangan yang ekslusif. Artinya individu akan melihat tujuan dan latar belakang apakah individu tersebut memiliki kesamaan dengan ormeknya atau tidak. Ini menjadikan sebuah tantangan tersendiri dalam mengolah atau menelitinya. Dalam banyak hal, jika individu masih belum mengenal lebih akrab, maka ia akan sulit dijadikan sebagai informan. Karena itu, untuk menjalin kepercayaan dan emosi yang lebih terjalin kadangkala seorang peneliti perlu ikut serta dalam lika-liku pola pertemanan antar sesama anggota mahasiswa esktrakurikuler. Artinya, seorang peneliti harus menjadi bagian dalam obyek yang akan diteliti. Tujuannya adalah agar dapat menguak data-data dan informasi yang dibutuhkan dalam menjelaskan suatu obyek penelitian yaitu pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ.
--------->Di FISIP UNEJ, banyak anggota mahasiswa ormek yang terkadang menutup diri ketika ditanyakan tentang alasan memilih pertemanan dengan se-ormek. Kadangkala jawaban yang dikemukakan tidak cukup menjelaskan gambaran pola
hal. 15
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Pada awalnya, jawaban yang dikemukakan hanya bersifat emosional-psikologis belaka. Misalnya, Adi Prasetyo bersahabat dengan Astono lantaran sifatnya yang baik dan ramah. Ataupun juga, Yanuarti adalah seorang sahabat yang menurutnya memahami dan menyayangi satu sama lain dengan Atika. Tentu saja ini tidak dapat dijadikan sebuah acuan informasi menggambarkan pola pertemanan secara mendalam. Karena itulah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Geertz penelitian memerlukan tekhnik khusus agar dapat berinteraksi dengan informan sehingga dia nantinya akan dapat menggali informasi yang sangat sulit apabila hal itu berkaitan dalam kancah politik.
--------->Dalam kancah politik, penelitian sosiologis yang mengarah kesana akan menemui sejumlah tekanan dari individu atau kelompok. Sebab, sebuah hasil laporan penelitian nanti dimaknai merusak citra nama individu atau kelompok. Disinilah pengujian daya kapabilitas untuk menghadapi tantangan tersebut diperlukan.
--------->Di FISIP UNEJ tekanan tersebut dirasakan ketika telah mendapatkan data yang mengungkapkan mengenai pergeseran pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Dalam hal ini, seorang mahasiswa anggota ormek tertentu umumnya tidak menginginkan semua hal yang diceritakankan kepada seorang peneliti akan diketahui oleh khalayak luas. Oleh karena itu, seorang peneliti berusaha menyembunyikan tujuan dan maksud penelitian. Artinya berusaha agar jangan sampai seorang informan mengetahui maksud bahwa peneliti akan meneliti sebuah pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Tujuannya adalah agar individu tersebut mampu memberikan informasi yang sangat diperlukan dalam menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek.
--------->Informasi yang didapatkan dari sebuah individu tersebut akan dijadikan "pegangan sementara" untuk menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Karena itu informasi yang didapatkan perlu dikonfirmasikan atau diverifikasikan dengan yang lain. Tujuannya adalah menghindari penjelasan seorang informan yang terkadang dalam memberikan data kurang akurat untuk menjelaskan pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek.
hal. 16
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berusaha mencari tahu perihal kebenaran dari informan tersebut. Caranya adalah menanyakan kepada pihak-pihak terkait alasan-alasan apakah yang mendasari mahasiswa, dalam hal ini aktivis, cenderung memilih teman yang seideologi. Apabila hal itu telah dilakukan maka perlu pengamatan secara langsung maupun tidak langsung terhadap tingkah laku maupun karakteristik. Observasi ini dilakukan dengan terjun di lingkungan FISIP UNEJ dan juga dalam pola pergaulan masing-masing kelompok yang terdiri dari dua individu atau lebih.
--------->Kesemuanya itu dicocokkan dengan penjelasan informan yang didapatkan. Kemudian dicatat dalam sebuah laporan atau catatan lapangan agar informasi yang didapatkan tersimpan dengan semestinya. Tentu saja hal demikian memerlukan waktu yang cukup lama. Sebab, penelitian pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek dalam kaitannya secara politik dan sosiologis mendapat sejumlah tantangan tersendiri sebagaimana yang diungkapkan diatas.
--------->Kadangkala informasi yang diberikan oleh informan di FISIP UNEJ menceritakan pengalaman masing-masing dalam hal berteman di kampus sampai mengarah kepada tempat ia berada. Disini akan diperoleh sebuah penggalian informasi tentang pengalaman seorang aktivis yang terlibat langsung terhadap pola pertemanan. Melalui cara ini, persepsi seorang aktivis terhadap pola pertemanan dapat diketahui dan diintrepretasikan secara subyektif. Selanjutnya adalah memahami bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Dengan metode verstehen (Bungin, 2003: 89) peneliti berusaha memahami, menghayati, merasakan secara subyektif dan menafsirkan secara terus-menerus tentang kegiatan yang telah dilakukan oleh seorang informan.
--------->Disinilah seorang aktivis yang berhasil ditemui menjelaskan tentang retaknya pola pertemanan di akibatkan secara tidak langsung oleh faktor eksternal. Yaitu birokrasi kampus yang "sengaja" memendam potensi konflik di tingkatan pertemanan anggota mahasiswa ormek mengalami pergeseran dalam hal pola pertemanan. Baik di tingkatan birokrasi kampus maupun di tingkatan antar sesama
hal. 17
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
mahasiswa anggota ormek. Tentu saja hal ini sangat berkaitan karakteristik dan prinsip individu terkadang akan dibawa dan berpengaruh terhadap lingkungannya. Dengan demikian dapat dipastikan sebuah lingkungan yang sarat dengan prinsipil dapat mempengaruhi dalam pola perilaku dalam bergaul dengan sesama anggota ormek di kampus FISIP UNEJ.
--------->Sementara itu, metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan cara tekhnik snowballing sampling. Sebagai key informan yang pertama kali mengenalkan seluk beluk adalah para mantan aktivis. Paul, Nasrul dan Hamzah adalah key informan yang dapat menjelaskan seluk beluk pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Mereka menceritakan dunia aktivisme lengkap dengan tindakan politik baik di kalangan birokrasi elit atas maupun mahasiswa. Setelah dijelaskan oleh key informan tersebut, langkah selanjutnya adalah mencoba menelusuri lebih jauh pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan data kepada informan yang memiliki kaitannya dengan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek. Ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam terlebih dahulu dan dicermati. Sebab, banyak menjelaskan bahwa pola pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek sangat berkaitan dengan tindakan politik para birokrat kampus menjelang momentum pemilihan dekanat.
--------->Informan untuk menjelaskan masalah ini umumnya adalah kalangan mantan aktivis yang sangat mengetahui seluk beluk aktivisme dan tindakan politik baik mahasiswa maupun para dosen. Mereka diberikan perhatian lebih khusus oleh peneliti. Dalam banyak hal, informasi yang mereka berikan lebih akurat dan lebih menjelaskan lebih obyektif tentang seluk beluk pergeseran pola pertemanan di mahasiswa. Setelah mencatat informasi tersebut dan melakukan wawancara secara intens, selanjutnya adalah mencoba mengamati perubahan tingkah laku beserta karakteristik pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Tentu saja dalam hal ini peneliti perlu menjadi bagian dalam kelompok yang akan diteliti lebih lanjut.
hal. 18
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Untuk menjalin hubungan lebih erat, langkah yang dilakukan adalah sering berkunjung di indekost, ataupun juga datang ke warung, kantin, musholla, sekitar kampus FISIP UNEJ. Disini mulai terlihat tentang adanya pengamatan tentang karakteristik tertentu mengenai bentuk tingkah laku dan tutur kata yang sangat berkaitan dengan pola pertemanan antar sesama mahasiswa ormek. Untuk menggali data tidak hanya dilakukan dengan observasi seperti itu. Kadangkala wawancara berupa komunikasi verbal dilakukan. Umumnya, wawancara dilakukan di daerah kantin, warung, kelas serta musholla FISIP UNEJ. Disinilah penggalian informasi dilakukan. Seorang informan menjelaskan pengalamannya dan alasannya masing-masing cenderung memilih bersahabat dengan se-ormek. Maka dimulailah proses wawancara. Tentu saja pencatatan mengenai informasi yang diperoleh dilakukan secara tak langsung. Dalam konteks ini, informasi yang diperoleh dicatat melalui memory atau ingatan. Barulah kemudian disalin kedalam tulisan.
1.8.2 Tekhnik Observasi
--------->Peneliti juga menggunakan tekhnik observasi (pengamatan) untuk "membaca" suatu fenomena individu. Ini dimaksudkan agar peneliti dapat menggambarkan dan memahami permasalahan apakah yang dapat ditangkap ketika mengamati pola pertemanan di diantara mahasiswa anggota ormek. Pengamatan yang dilakukan adalah partisipan. Dalam konteks ini, peneliti perlu menjadi bagian dalam obyek yang akan diteliti sehingga informasi dan data yang didapatkan dapat dikuak secara mendalam.
1.8.3 Tekhnik Wawancara
--------->Penggalian data kepada informan yang dilakukan ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu memiliki pengalaman individu sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini, informan ditanyakan bagaimana tanggapan terhadap permasalahan menurut pengalamannya terhadap sesuatu. Disini peneliti, mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara yang intensif dan berulang-ulang.
hal. 19
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Sementara itu agar semakin mengefektifkan langkah peneliti dalam melihat gejala obyek yang akan diteliti, peneliti memerlukan sebuah panduan interview (guide interview). Dalam konteks ini, guide interview adalah tekhnik yang diperlukan untuk melakukan interview mengenai permasalahan yang diteliti agar dapat mengetahui fenomena obyek penelitian secara mendalam. Ini dimaksudkan agar pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dapat terarah dan memperkecil kesalahan dalam menggali data sebagaimana diberikan oleh informan.
--------->Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan wawancara wawancara tertutup. Menurut Bungin (2001:108) wawancara tertutup dilakukan dalam kondisi subyek tidak mengetahui kalau diwawancarai. Ini agar peneliti menggali lebih dalam persoalan yang sangat krusial dan terkesan ditutupi oleh informan. Peneliti juga menggunakan metode wawancara mendalam life history. Dalam hal ini, informan ditanyakan bagaimana tanggapan terhadap permasalahan menurut pengalamannya terhadap obyek yang diteliti. Disini peneliti, mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara yang intensif dan berulang-ulang. Didalam melakukan penelitian seorang peneliti berhak merahasiakan sumber informasi. Sebab hal ini menyangkut nama baik sumber informasi. Hal ini diatur didalam etika prinsipil penelitian.
Etika penelitian yang perlu ditaati: Pertama, peneliti harus merahasiakan semua informasi yang diperoleh yang dituliskan dalam bentuk kode-kode atau inisial. Kedua, peneliti tidak menuntut responden bertanggung jawab atas informasi yang telah disampaikannya. Ketiga, peneliti tidak menuntut responden untuk bertanggung jawab atas informasi yang telah disampaikannya. Keempat, peneliti tidak memaksakan kehendaknya agar responden memberikan informasi kepadanya. (Usman, 2003:03).
1.8.4 Penentuan Informan
--------->Tekhnik penentuan informan ada berbagai macam cara. Namun, tekhnik penentuan informan yang seringkali dilakukan dalam penelitian deskriptif adalah metode snowball sampling. Menurut Bungin (2001:56), tekhnik snowball sampling adalah pemilihan informan secara acak yang satu sama lain masih berkaitan dalam fenomena dan data lapangan. Dalam konteks ini, seorang peneliti berusaha
hal. 20
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
mengumpulkan data atau informasi dari individu yang satu ke individu yang lainnya. Oleh karena itu penulis tidak akan mengambil dan membatasi berapa banyak jumlah informan nanti ketika terjun di lapangan. Sebab, jumlah informan disesuaikan dengan kondisi, fakta-fakta dan temuan di lapangan.
--------->Tekhnik snowball sampling merupakan cara yang efektif untuk menguji akurat data di lapangan. Bahkan, para ilmuwan menyebutkan tekhnik penentuan informan berdasarkan snowball sampling mampu menjelaskan fenomena di lapangan. Dengan kata lain, tekhnik snowball sampling adalah metode yang mampu menemukan sekaligus menggambarkan fakta lapangan dan nilai akurasi data pun tampaknya lebih dapat dipertanggung jawabkan.
1.8.5 Pengumpulan Data Sekunder
--------->Data sekunder merupakan pendukung dari data-data primer. Dalam hal ini, peneliti mencoba mendapatkan informasi berupa data sekunder berupa catatan atau tulisan yang didapatkan dari individu atau ormek. Yaitu berupa visi dan misi ormek.
1.9 Metode Analisa Data
--------->Kesemua data dan fakta yang nanti telah dihimpun di lapangan akan diolah lebih lanjut untuk diketahui gambaran pola pertemanan secara menyeluruh yang terjadi antar sesama mahasiswa anggota ekstrakurikuler. Inilah yang dinamakan dengan tekhnik pengolahan hasil analisis data yang memiliki beberapa tahap. Mulai menjabarkan data, menerangkan, mendeskripsikan, saling mengkaitkan antara data akurat yang berhasil dihimpun dengan yang lain, demikian selanjutnya sampai mampu menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan pokok permasalahan. Bila demikian, akan ditemukan sebuah hasil akhir berupa kesimpulan penelitian yang akurat, tajam dan terpercaya.
--------->Ada dua macam cara untuk mendapatkan data. Pertama, berupa ucapan atau tutur kata yang diberikan langsung oleh informan kepada seorang peneliti. Untuk itu peneliti akan menggunakan data tutur kata sebagai memperlengkap data temuan di lapangan. Tidak boleh terlupakan, tekhnik penelitian yang digunakan peneliti kali ini
hal. 21
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
adalah metode deskriptif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Usman (2003:04), penelitian deskriptif bermaksud membuat pemeriaan. Artinya, penyederhanaan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta lapangan dan karakteristik tingkah laku individu.
--------->Lebih lanjut lagi, di dalam melakukan penelitian kualitatif, seorang peneliti menerangkan dan menjelaskan mengenai (perkembangan) fenomena yang tengah terjadi. Karena itu, penulis tidak menyalahkan atau membenarkan hasil temuan di lapangan dengan data-data sekunder penelitian yang sejenis. Sebab, penelitian ini menggunakan tekhnik deskriptif. Berbeda halnya dengan studi komparatif. Dengan demikian, tekhnik penelitian deskriptif sangat memungkinkan membantu penulis untuk mengetahui secara mendasar pola pertemanan antar mahasiswa anggota ekstrakurikuler.
--------->Adapun tekhnik analisis data yang dipergunakan adalah editing analysis style. Menurut Muller dan Carbtree (1992: 18-21), editing analysis style atau gaya analisis editing merupakan gaya yang sering dipergunakan untuk penelitian kualitatif pada tatanan yang subyektif. Editing analysis style menjalankan analisanya lebih dekat pada sisi subyektif atau sisi intrepretatif dari analisa yang dilakukan secara terus menerus. Dalam asumsi tersebut dapat diambil sebuah hikmah bahwa tekhnik analisa data merupakan pencarian pemahaman tentang data yang diambil untuk dikait-kaitkan satu sama lain, dicari hubungan mekanisnya atau sebab akibat sehingga data yang dihasilkan mampu menjelaskan sebuah realitas yang mendekati kebenaran lapangan.
--------->Dalam konteks tersebut, seorang peneliti berusaha mengidentifikasi tingkah laku serta tutur kata sebagai konsepsi awal dalam membaca data dari informan. Kemudian, diintrepretasikan sedemikian rupa untuk mengevaluasi informasi serta dihubung-hubungkan yang kemudian akan menghasilkan data yang realible. Tidak sampai disitu, temuan lapangan di komparasikan melalui sudut pandang observasi dan intrepretasi scara mendalam sehingga data akan mampu mendekati atau menjelaskan fakta lapangan secara obyektif.
hal. 22
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Adapun, metode editing analysis style menurut Miller dan Crabtree (1992: 18-21) adalah sebagai berikut:
(skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan dimuat seutuhnya)
Intrepreter (editor)--> laporan dan text --> identivy unit, develop categories, intrepretively, verify
Sumber: Miller dan Crabtree (1992:18-21)
--------->Dalam pemahaman bagan tersebut, data-data yang diperoleh dilapangan digambarkan dan dikumpulkan menurut kategori-kategori. Kategori-kategori ini disejajarkan satu sama lain. Namun demikian penyejajaran antara data satu dengan data yang lain masih dilihat dalam konteks perumusan masalah. Jika hal itu telah dilakukan, text-text yang terbentuk diverifikasikan. Apakah sebuah data tersebut sudah valid dan akurat ataukah tidak. Menurut Yuswadi dalam Bungin (2003: 100) ukuran data telah akurat dan valid adalah memenuhi titik jenuh. Titik jenuh yang dimaksud adalah data-data atau fakta di lapangan telah memiliki pola penjelasan yang hampir sama dalam hal fenomena. Ketika hal itu selesai, maka pengembangan kategori-kategori diidentifikasikan sedemikian rupa. Hal ini ditujukan sebagai cerminan interpretasi terhadap fakta atau data lapangan sehingga laporan yang
hal. 23
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diperoleh mampu menjelaskan secara deskriptif mengenai permasalahan yang diteliti. Berikut skema mengenai penggalian informan:
(skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan memuat seutuhnya)
Paul (informan utama)--> supriadi berlanjut kepada nasrul sebagai key informan kedua demikian seterusnya disini mengingat sifat keterbatasan blog tidak bisa dimuat seutuhnya.
--------->Dalam mengumpulkan data tersebut, diperlukan mengklarifikasikan ke beberapa pihak yang dapat dijadikan sebagai sumber informan yang sangat terpercaya. Demikian seterusnya, dari informan satu diverifikasi ke informan lainnya. Sampai ditemukan ditemukan data jenuh sebagaimana yang diungkapkan oleh Yuswadi dalam Bungin (2001:100).
--------->Cara mengumpulkan data dan informasi, diperoleh dengan terjun ke tempat pusat aktivis kampus sering berkumpul. Misalnya di kampus FISIP UNEJ, didepan akademik, warung, kantin, perpustakaan bahkan sampai ke indekost. Seperti yang telah dijelaskan diatas, untuk menjalin emosional lebih agar informan dapat maka
hal. 24
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
dilakukan pendekatan lebih mendalam misalnya agar informan dapat memberikan informasi lebih jelas dan mendalam. Menurut Yuswadi dalam Bungin (2001:101) disebutkan empati haruslah tercipta kuat-kuat agar seorang informan dapat menjelaskan pengalaman bahkan informasi dalam kaitannya tentang obyek penelitian.
--------->Cara yang dilakukan adalah bersahabat dengan mereka. Dalam hal ini, peneliti berusaha menyelami dan turut menjadi bagian dalam pola pergaulan kelompok-kelompok yang terdapat di FISIP UNEJ. Cara ini sangat efektif sebab beberapa minggu dapat ditemukan sebuah penjelasan dari seorang mahasiswa yang terlibat sebagai anggota ormek mengemukakan alasan mendasar bahwa mereka cenderung memilih bersahabat dengan se-ormek. Untuk semakin memperluas informasi yang didapatkan kadangkala perlu memasuki ke kelas-kelas. Di kelas ini terutama setelah perkuliahan selesai, informan lebih banyak berkumpul. Disinilah kadang diperkenalkan dengan aktivis yang lain sehingga upaya memperbesar penggalian data dan informasi dapat dilakukan.
--------->Seperti yang telah dijelaskan diatas, empati yang dilakukan harus dilakukan erat-erat agar penggalian informasi dapat dilakukan. Namun, informan yang memiliki aktivis baru yang baru dikenal umumnya lebih cenderung menutup diri. Untuk itulah, penggalian informasi lebih dilakukan kepada kalangan aktivis dan mahasiswa yang telah dikenal akrab oleh peneliti. Ini dimaksudkan agar penggalian data beserta informasi dapat dilakukan secara lebih mendalam sehingga mampu menemukan sebuah penjelasan mengenai gambaran deskriptif pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek. Data-data kesemuanya tersebut akan disusun dalam laporan dengan menggunakan metode editing analysis style sebagaimana yang diungkapkan diatas.
hal. 25
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
II. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
2.1 Lokasi Penelitian
--------->Lokasi penelitian kerapkali dipilih berdasarkan tinjauan alasan fenomena yang sedang atau tengah dikaji. Secara sosiologis, lokasi penelitian merupakan tempat seorang peneliti berinteraksi dengan individu atau kelompok yang tentunya berkaitan secara langsung dengan tema dan data-data penelitian yang dikaji. Oleh karenanya, dibutuhkan hubungan emosional lebih erat agar mempermudah seorang peneliti terjun di lokasi penelitian.
--------->Semakin besar seorang peneliti dibesarkan -dalam pengertian sebenarnya- oleh lingkungan lokasi penelitian yang hendak ditelaah. Maka, semakin terjalin erat pula hubungan interaksi dengan individu atau kelompok itu. Sebab, peneliti telah mengenal tipikal karakteristik lingkungan lokasi penelitian. Secara otomatis pula, penggambaran fenomena yang dikaji dapat diamati lebih seksama lagi. Alasan mendasar kesemuanya itulah yang melatar belakangi penulis menentukan lokasi penelitian.
--------->Lokasi penelitian dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jember (UNEJ). Ada beberapa alasan yang mendasari penulis mengambil lokasi penelitian di FISIP. Pertama, disadari atau tidak, pola pertemanan di FISIP UNEJ kurang sekali meneliti. Padahal persoalan itu menarik untuk disimak. Karena didalamnya sarat terjadi pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek, kepentingan subyektif kekuasaan atau politis dan kemampuan mahasiswa untuk mendinamisasi keadaan kampus. Kedua, alasan mendasar penulis mengambil lokasi penelitan di FISIP UNEJ memiliki beberapa mahasiswa yang ikut didalam struktur organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek tampaknya ada kecenderungan yang signifikan mengalami pergeseran dalam hal solidaritas, pertemanan dan sebagainya. Karena, itulah FISIP UNEJ tidak diragukan lagi layak untuk dijadikan lokasi penelitian.
hal. 26
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2.2 Gambaran Lokasi Penelitian
--------->Apabila mengacu pada buku pedoman FISIP UNEJ yang didalamnya memuat sejarah singkat disebutkan bahwa Yayasan Tawang Alun mendirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada tanggal 15 September 1961. Pada saat itu, FISIP berada di naungan Universitas Brawijaya (Lihat: Buku Pedoman FISIP UNEJ). Bahkan, nama Universitas secara organisasi masih bernama Universitas Tawang Alun. Barulah kemudian sekitar tanggal 10 Nopember 1964, Universitas Tawang Alun Negeri Jember diresmikan sebagai Universitas yang mandiri. Pada saat yang bersamaan, FISIP memiliki sejumlah jurusan mata kuliah. Yaitu Jurusan Sosiologi, Kesejahteraan Sosial, Hubungan Internasional, Administrasi Niaga, Pajak, Pariwisata, Administrasi Negara.
--------->Gambaran lokasi penelitian FISIP secara umum adalah terlihat dari situasi beberapa mahasiswa (akitivis) yang menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Ini biasanya mereka terlihat di beberapa tempat yang umumnya berkelompok-kelompok yang terdiri dari lebih dua orang. Tempat yang sering dijadikan para aktivis berkelompok-kelompok adalah di Musholla, warung sebelah tempat parkir sepeda motor, kantin bahkan juga sampai didalam kelas. Salah satu gejala yang cukup mencolok pengelompokkan para aktivis mahasiswa tersebut mendekati momen tertentu.
--------->Kadangkala aksi politik praktis juga sering dilakukan oleh para aktivis di depan FISIP UNEJ. Tidak hanya pengelompokkan di tempat tersebut, pengelompokkan para aktivis kadang juga terlihat di bangku-bangku. Mereka bercerita bahkan berdiskusi satu sama lain. Di dalam kelas pun demikian. Diskusi sering terjadi ketika telah ada sebuah topik yang menarik untuk didiskusikan. Disinilah kadang terjadi pula perdebatan yang cukup memanas karena ada beberapa hal.
hal. 27
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Sementara itu, ormek-ormek struktur pengurus yang terdapat di FISIP UNEJ adalah sebagai berikut:
A. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
- Visi:
1. Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata'ala
- Misi:
1. Membina pribadi mahasiswa muslim untuk mencapai akhlaqul karimah
2. Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya.
3. Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan umat manusia.
4. Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan dinnul Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
5. Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional.
6. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan identitas dan azas organisasi serta berguna untuk mencapai tujuan.
B. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
- Visi:
1. Terbentuknya pribadi muslim indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
- Misi:
1. Menghimpun dan membina mahasiswa Islam sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta upaya perwujudan kemerdekaan Indonesia.
hal. 28
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
C. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) - Visi:
1. GMNI adalah organisasi perjuangan untuk mendidik kader bangsa dalam mewujudkan masyarakat.
2. Mewujudkan masyarakat sosialis-religius yang demokratis serta adil dan beradab berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
3. GMNI adalah organisasi yang bersifat independen serta kerakyatan.
4. GMNI mempunyai motto: PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANG.
- Misi:
1. Melaksanakan tujuan organisasi dengan semangat gotong royong melalui usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan azas dan strategi GMNI.
2. Dalam menyelenggarakan usaha-usaha organisasi senantiasa memperhatikan kesatuan, persatuan dan keutuhan organisasi.
D. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)
- Visi:
1. Menghancurkan sistem yang menindas hak-hak rakyat untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkedaulatan rakyat.
- Misi:
1. Menggerakkan dan memimpin perjuangan mahasiswa.
2. Aktif dan ikut serta membangun gerakan rakyat yang memperjuangkan demokrasi di Indonesia
3. Aktif dalam kerja-kerja solidaritas internasional untuk pembebasan rakyat tertindas.
E. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
- Visi:
1. KAMMI bertujuan untuk menghimpun, membina, mengarahkan, dan memberdayakan segenap mahasiswa muslim Indonesia secara lintas sektoral,
hal. 29
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
lintas suku, ras, dan golongan dalam wadah kerjasama ukhuwah islamiyah dengan visi keimanan dan kerakyatan guna terciptanya pemimpin masa depan demi terciptanya masyarakat islami
- Misi:
1. Membina ketaqwaan, keimanan, dan akhlaq mahasiswa muslim Indonesia dengan cara-cara yang sesuai dengan Al Qur`an dan sunah Rasulullah Muhammad SAW. yang dilakukan dengan memperhatikan perkembangan zaman dan sesuai dengan konteks keindonesiaan.
2. Menggali, mengembangkan dan memantapkan segenap potensi kemahasiswaan baik potensi akal, keilmuan dan budaya yang sifatnya kreatif dan aplikatif yang akan sangat berguna bagi lajunya perkembangan nasional.
3. Mengembangkan kerjasama, komunikasi, dan persaudaraan antar sesama mahasiswa muslim Indonesia maupun antar sesama mahasiswa muslim dengan warga masyarakat yang lain dari berbagai kalangan, baik perseorangan, lembaga, perhimpunan, pemerintahan, maupun swasta di dalam maupun di luar negeri.
4. Mengembangkan dan meningkatkan kepekaan, kepedulian, peran serta, dan solidaritas mahasiswa muslim Indonesia terhadap permasalahan ebangsaan dan kerakyatan dalam lingkup ekonomi, pendidikan, politik, sosial dan budaya.
5. Berperan aktif dalam kegiatan pengembangan kemahasiswaan dan kualitas sumber daya manusia dengan misi membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran bagi seluruh ummat (amar ma`ruf nahi munkar). Usaha-usaha lain yang halal dan benar menurut Al Qur`an dan As Sunnah.
hal. 30
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------> Namun demikian ada beberapa ormek yang tidak memiliki struktur pengurus di FISIP UNEJ yaitu:
A. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)- Visi:
1. Membina para anggotanya menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, umat dan kader bangsa, yang senantiasa setia terhadap keyakinan dan cita- citanya.
2. Membina para anggotanya untuk selalu tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk melaksanakan ketaqwaannya dan pengabdiannya kepada Allah SWT.
3. Membantu para anggota khususnya dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.
4. Mempergiat, mengefektifkan, dan menggembirakan dakwah islam dan dakwah amar ma'ruf nahi munkar kepada masyarakat mahasiswa segala usaha yang tidak menyalahi azas, gerakan, dan tujuan organisasi dengan mengindahkan segala hukum yang berlaku dalam negara Republik Indonesia.
- Misi:
1. Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlaq mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah
B. Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI).
- Visi:
1. Terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati
- Misi:
1. Berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati.
hal. 31
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
III. ANALISA DATA
3.1 Hubungan Pertemanan di Kampus
3.1.1 Pertemanan Berbeda Ormek
---------> Saya kaget dengan sikap teman-teman di kelas. Mereka tidak seperti biasanya. Padahal, awalnya, mereka saling menegur sapa satu sama lain. Tapi sekarang, hal itu tidak tampak lagi…. Hanya karena perbedaan ormek, yang satu bendera kuning, yang lain ijo dan satunya lagi merah muda…. Semuanya berkelompok-kelompok. Ini membuat saya sedikit kaget. (petikan kutipan wawancara)
---------> Ungkapan yang disampaikan oleh Supriadi tersebut merupakan sebuah bentuk kekecewaan akibat adanya sebuah perubahan sikap teman-teman di kampus. Sejak perkuliahan mulai aktif yaitu setelah mengikuti orientasi mahasiswa baru pada bulan Juli 2004, perilaku kawan-kawan satu sama lain di kelas menunjukkan sikap-sikap yang kurang simpatik lagi.
---------> Ketika itu perkuliahan akan segera dimulai. Sekitar 10 mahasiswa duduk-duduk di bangku akademik Kampus. Kebetulan antara satu sama lain memiliki latar belakang organisasi mahasiswa ekstrakurikuler (ormek) yang berbeda. Masing-masing terdiri dari lima mahasiswa bernama Arifuddin, Jayadi, Franz, Hadi dan Irwanto merupakan anggota ormek hijau. Tiga diantaranya (Karim, Irwanto, Franz) adalah anggota ormek kuning dan sisanya adalah anak netral termasuk Supriadi sendiri. Sebagaimana mahasiswa baru pada umumnya, mereka mulai berdiskusi seputar teori-teori yang baru diberikan oleh dosen mereka. Perdebatan dan dialektika wacana mengalir. Mahasiswa yang bernama Jayadi terkesan cerdas dan memiliki wawasan yang luas mengenai perkembangan teori dan ilmu politik.
--------->Karena itulah, ia mampu mematahkan argumen-argumen yang dilontarkan oleh Irwanto mengenai sikap politik beberapa pemimpin negara sejak pemerintahan orde baru sampai era reformasi. Melihat kondisi ini, Karim mengungkapkan kepada Supriadi bahwa Jayadi secara organisasi dan personal hanya mampu berdiskusi dan pro terhadap kebijakan Orba. Menurut Karim sebagaimana yang diungkapkan
hal. 32
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kepada Supriadi, ormek hijau tidak ikut dalam aksi yang dilakukan oleh beberapa elemen ormek dalam menyikapi lepasnya vonis terpidana Akbar Tanjung atas Bullogate II. Karena itulah, nama organisasi ormek hijau sengaja diplesetkan sebagai himpunan 'mandul'.
--------->Jayadi termasuk ormek hijaunya, itu orangnya pro golkar… waktu demonstrasi akbar tandjung tanggal 16 februari 2004 mereka tidak ikut. Itu mah, himpunan mandul namanya… Kalo pas dapat proyek dosen saja mereka giat. (petikan kutipan wawancara)
--------->Stigma negatif itu seakan-akan menyertai kemana saja Jayadi dan beberapa kawan-kawan yang tergabung didalam ormek hijau. Kadangkala ia merasa tersudutkan. Secara tidak langsung, stigma itu mempengaruhi dalam pergaulan antar sesama. Dalam memilih teman sepergaulan bagi mereka yang terhasut oleh stigma negatif itu. "saya, merasa terbebani awal-awalnya, padahal tuduhan itu cenderung mengada-ngada. Mangkane (Karena itu), saya lebih senang berteman dengan Arifuddin dan Hadi. Agar terhindar kesalahpahaman….", demikian ungkap mahasiswa asal Malang ini dalam logat jawa. Menanggapi tuduhan ormek hijau yang diplesetkan dengan Mandul, Jayadi melihat bahwa beberapa elemen mahasiswa tersebut terlalu menjustifikasi atas tuduhan sepihak itu.
--------->Secara organisatoris, ormek hijau juga berperan secara langsung dalam gerakan reformasi 1998 menjatuhkan sistem otoritarian politik Soeharto. Bahkan dia menambahkan bahwa proyek penelitian yang diberikan merupakan sebuah bentuk kerja sama dengan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan terlepas dari kepentingan politis apapun. Walaupun melibatkan dosen hal itu hanya sebagai mediator kepada LSM. Oleh karena itu proyek yang diberikan dosen merupakan salah satu kegiatan mempraksiskan intelektualitas didapatkan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), partai politik dan dosen.
--------->Terlepas dari itu, Jayadi lebih memilih bersahabat dari teman seideologi yang dikenal dari ormeknya. Alasan utama ialah menetralisir kemungkinan terjadinya kesalahpahaman karena bisa menjaga hubungan emosional satu sama lain baik sikap
hal. 33
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
maupun tutur kata. Karena itu, kemanapun Jayadi pergi seakan-akan Hadi selalu menemani. Sikap tolong-menolong juga sering ditunjukkan. Meskipun hal itu terkesan remeh misalnya Jayadi membantu Hadi mengarahkan dalam mengerjakan tugas mata kuliah statistik yang umumnya sulit bagi mahasiswa ilmu humaniora. Karena itulah hubungan persahabatan keduanya itu masih terjalin akrab.
--------->Dalam konteks itu, nyaris tidak pernah terdengar perselisihan diantaranya akibat persingunggan dalam konteks hubungan sosial antar mahasiswa anggota ormek Atau perbedaan cara berpikir dan bertindak sesuai ideologinya.
--------->Sementara itu pergeseran pola pertemanan dapat terjadi ketika adanya sikap-sikap yang kurang simpatik baik dalam bertutur kata maupun bersikap.Persoalan itu setidaknya dapat dijelaskan melalui pengalaman Imron. Imron tergabung dalam organisasi hijau tua sejak tahun 2003. Pada awal semester II, ia pernah disindir oleh Samsuri yang tercatat aktif sebagai anggota organisasi kuning. Karena, organisasi hijau tua terkenal memegang teguh nilai-nilai kepercayaan islam ia mendapat julukan "kaum fundamentalis" dan "Pak kyai". Entah alasan apa yang menyebabkan ia dianugerahi status semacam itu oleh Samsuri. Padahal, Imron sudah mencoba bersikap ramah kepada Samsuri. Berikut petikan wawancara dengan Imron:
--------->" ibarat datang tampak muka, pulang tampak punggung. Sikap manis didepan tidak diiringi ikhlas hati… dibelakang Samsuri menghina saya dengan julukan aneh-aneh. Ini membuat saya tidak mengerti...kok seperti itu". (petikan kutipan wawancara)
--------->Suatu ketika Imron selesai sholat dhuha di Kampus FISIP UNEJ. Disana memang tempat yang cukup teduh untuk berdiskusi. Terlihat tiga orang aktivis kuning senior dan yunior saling berbincang-bincang dan berdiskusi. Masing-masing bernama Samsuri, Prasetyo dan Hermawan yang tercatat sebagai anggota ormek kuning. Kebetulan dia melihat Samsuri maka ia menyapanya dengan senyuman yang menyungging. Menurut Imron, senyum merupakan bentuk kegiatan ibadah yang disunnahkan oleh nabi. Samsuri membalas kembali senyuman itu dengan
hal. 34
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
menyinggung dan menjawab pertanyaan Imron bahwa ia sedang santai dan bertukar pikiran dengan rekan-rekannya.
--------->Diperkenalkanlah satu persatu teman Samsuri kepada Imron. Imron pun memperkenalkan diri. Ironisnya, salah satu kawan Samsuri yang berinitial Hermawan mengungkapkan kata-kata yang menurutnya kurang etis. " sholat terussss pak kyai? Gimana kabar Israel dan Palestina?" kata Hermawan dengan senyuman menyungging. --------------->Sementara Samsuri, Prasetyo dan Hermawan juga terlihat tersenyum menyungging Tentu saja Imron menjawab dengan lugas dan tersenyum bahwa palestina telah kehilangan pemimpin besar. Ia tidak mengerti bahwa mereka melakukan hal semacam itu. Karena itulah ia meminta ijin kepada Samsuri dan ketiga rekannya meninggalkan tempat untuk mengikuti perkuliahan yang beberapa menit lagi akan dimulai. Ketika Imron berpaling, ia mendengar suara terbahak-bahak dan pekikan "Allahu Akbar". Namun ia tidak menanggapinya dengan serius dan terus memasuki ke dalam ruang kelas perkuliahan.
--------->Menurut Paul yang pernah menjadi anggota di beberapa ormek yang pernah diikutinya, menuturkan bahwa sikap elitisme mahasiswa ormek terlihat dari bergerombolnya mahasiswa di penjuru kampus, kelas, kantin ataupun musholla. Jika hal ini dilihat secara cermat, mahasiswa dan para aktivis membentuk sejumlah gap. Tentu saja umumnya berdasarkan persamaan ormek. Ini dimaksudkan agar terlihat jelas mana yang sepaham dan bukan. Jika hal itu semakin jelas, maka individu dari ormek tertentu akan mudah melihat antara musuh sejati dalam pengertian politik.
--------->" … jika dilihat banyak geng-geng mahasiswa di warung, di kelas, di musholla… Mereka berkelompok untuk mengetahui mana yang termasuk kelompoknya dan mana yang bukan." (petikan kutipan wawancara)
--------->Maka wajar kemudian terlihat di beberapa kelas atau warung dan sekitar kampus para aktivis berkelompok-kelompok atau bergerombol. Umumnya jumlah mereka berkelompok sekitar lebih dari tiga orang. Sementara itu, kasus yang
hal. 35
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
menimpa kepada Imron tersebut merupakan hal yang umumnya dilakukan oleh beberapa aktivis ormek kuning. Bahkan diwajibkan sesuai aturan macheavelinisme dan Tzun Zu yang dijadikan pegangan bagi ormek kuning untuk mempraksiskan politik. Menurutnya, hal itu adalah langkah agar individu mengalami keterasingan dengan ormek-nya. Pada gilirannya hal itu akan mempengaruhi individu memasuki ormek kuning karena merasa diterima dengan baik dan ikhlas oleh mereka. Ini merupakan teknik penjatuhan mental lawan ala politik Tzun Zu agar individu tertarik kepada ormek kuning.
--------->Menariknya, ada sebuah keunikan tersendiri dalam hubungan pertemanan mahasiswa yang bukan se-ormek. Dalam kelompok ini, terdapat tiga mahasiswa yang berbeda ormek. Grandi adalah aktivis ormek kuning. Rozy tercatat sebagai anggota ormek hijau dan Bari merupakan mantan aktivis ormek merah muda. Keduanya bersahabat. Meski pada awalnya kesenjangan itu nampak dan mempengaruhi persahabatan. Namun mereka sudah bisa melepaskan pemikiran sempit (baca: sikap elitis) yang terbawa dari ormek mereka masing-masing.
--------->Mereka pun bisa memahami perbedaan ormek sehingga kesalahpahaman yang biasanya terjadi akibat bercanda bernada menyindir atau menghina jarang terjadi. Masing-masing mampu menjaga sikap dan tingkah lakunya agar persahabatan tidak retak. Ada semacam batasan bahwa persoalan misalnya hal-hal urgen yang menyangkut aliran masing-masing sikap misalnya Gus Dur, Soekarno, Nurcholis Madjid tidak pernah disinggung. Meskipun itu dilakukan dalam bentuk bertukar wacana.
--------->Contoh lainnya adalah Budiman. Sejak ia bergabung kedalam organisasi merah yang terkenal radikal ia mendapat julukan PKI (Partai Komunis Indonesia) oleh beberapa kawannya yang berbeda aktivis. Kadang ia terbebani dengan stigma negatif itu. Sebab ia merasa kemana saja melangkah, tatapan sinis kawan-kawan lain terlihat jelas.
hal. 36
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->"saya menjadi risih ketika saya berjalan selalu ada bisikan kawan-kawan bahwa saya PKI.. Mereka melihat saya selalu dengan tatapan tajam. Seperti buronan saja." (petikan kutipan wawancara).
--------->Budiman memahami sikap kawan-kawannya tersebut. Pertama, secara historis pembentukan organisasi merah berdekatan dengan Partai Pergerakan Merah. Sejak Orba memimpin, organisasi kiri ini mendapat tekanan dan dituduhkan sebagai metamorfosis PKI. Tentu saja bagi masyarakat umum mendengar hal ini tidak lantas menerimanya. Sebab, mendengar nama PKI akan dikenal sebagai atheis dan pemberontak terhadap pemerintahan negara yang sah. Kedua, ormek merah berideologikan sosialisme-demokrasi. Disini, sosialisme dipahami sebagai komunisme.
--------->Suatu hari Budiman, sarapan pagi di warung kampus. Sebagaimana biasa, disana merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa termasuk aktivis kampus. Biasanya teman-teman Budiman se-ormek berkumpul di warung Kampus. Sekitar 4 mahasiswa yang berkumpul disitu dengan satu aliran. Bahkan, Budiarto yang menjadi ketua Partai Pergerakan Merah ada disitu.
--------->Menurut pengalaman Budiman, ketika mereka berkumpul terdengar dari kawan-kawan aktivis lain menyindir bahwa anggota PKI sedang mengadakan rapat pemberontakan di Kampus. Akan tetapi penyindiran halus seperti itu tidak dilakukan secara langsung ke hadapan langsung. Sebab, jika hal itu dilakukan bukan hal yang mustahil bentrokan fisik bisa terjadi.
--------->Peristiwa itu hampir dialami Nur Rohman (organisasi merah). Masalahnya Nur Rohman pernah menjelek-jelekkan ormek kuning dihadapan mahasiswa baru agar tidak masuk kedalamnya. Menurut Nur Rohman, organisasi kuning cenderung elitis, mengajarkan sikap menjilat, oportunis, menikam kawan sendiri dan rayon tidak dijadikan sebagaimana mestinya. Malahan Nur Rohman, mengatakan bahwa rayon ormek kuning selama ini adalah tempat mahasiswa berpacaran. Nur Rohman tidak menyadari ada beberapa mahasiswa yang termasuk kedalam simpatisan ormek kuning. Bahkan ada diantaranya yang tercatat aktif sebagai anggota ormek kuning.
hal. 37
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Karena itulah mereka mengutarakan hal itu kepada Ismail yang menjadi salah satu pengurus di ormek kuning. Tentu saja ia merasa dilecehkan secara organisasi dan pribadi. Ismail marah. Malam harinya, Ismail menghampiri Nur Rohman dan mengancam menarik kembali ucapan.
--------->Dengan sebilah pedang di tangan, Ismail mendatangi Nur Rohman di indekost-nya. Menurut saksi mata yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Ismail pada saat itu dalam kondisi mabuk. Karena itulah, Ismail meluapkan emosinya. Sayangnya, Nur Rohman tidak ada disana. Sebab, jika ada konflik fisik tidak akan terhindarkan.
--------->Melihat kondisi bahwa Nur Rohman tidak di tempatnya, Ismail pulang ke rayon dan menceritakan ke rayon. Pada saat yang bersamaan, Nur Rohman pulang ke kost-nya yang terletak di belakang kampus FISIP UNEJ. Nur Rohman diberitahu oleh kawan se¬-indekost. Bahwa, Nur Rohman dicari oleh Ismail dan menuntut agar Nur Rohman bertanggung jawab atas penghinaan yang dilakukan kepada organisasi kuningnya.
--------->Karena itulah Nur Rohman menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Nur Rohman ke sekretariat ormek merahnya yang terletak di Jalan Kenanga. Nur Rohman menceritakan bahwa ia baru saja mendapat ancaman dari Ismail. Mendengar hal ini, Budiarto (ketua Partai Pergerakan Merah), Rofan dan Handy menyarankan agar Nur Rohman segera menghampiri dan menanyakan maksud dari Ismail.
---------> Maka berangkatlah ketiganya menuju ke-kostnya Ismail yang terletak di Jalan Bangka. Sayang, mereka tidak menemui Ismail ada disana. Karena itulah Nur Rohman dan rekan-rekannya, berangkat ke rayon ormek kuning. Ketika mereka tiba disana, Nur Rohman dan teman-temannya bertemu dengan Ismail. Lantas, Nur Rohman berbincang-bincang dengan Ismail, untuk mengetahui maksud Ismail datang marah-marah ke indekost-nya.
--------->Ismail menjelaskan permasalahan, bahwa Nur Rohman menghina organisasi ormek kuning. Ismail tidak terima bahwa Nur Rohman menjelek-jelekkan ormek kuning. Memahami kesalahannya, Nur Rohman meminta maaf kepada Ismail.
hal. 38
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kedua belah pihak akhirnya mengakui kesalahan masing-masing. Maka permasalahan itupun selesai pada saat itu juga.
--------->Akan tetapi, Nur Rohman sudah mendapatkan stigma buruk. Ia dikenal sebagai seseorang yang menghina ormek lain. Karena itulah, Nur Rohman dijauhi oleh para aktivis ormek lain. Memandang situasi ini Nur Rohman bisa memahami, sebab tidak semua para aktivis menjauhinya. Ada beberapa diantaranya yang masih mau bergaul dengan Nur Rohman .
--------->Ismail sekarang sudah baik dengan saya.. perkara ada orang lain (dalam hal ini aktivis) menghina saya karena masih mempermasalahkan masalah itu, saya biarkan saja. Sebab jika dilayani permasalahannya akan bertambah parah. Toh, Ismail sekarang sudah berteman baik. (petikan kutipan wawancara)
--------->Berbeda halnya dengan Fauzi dan Endro. Kedua mahasiswa ini memiliki perbedaan ormek. Fauzi adalah aktivis merah yang bergabung sejak tahun 2003 dan Endro termasuk kedalam ormek kuning tahun 2003. Keduanya bisa memahami perbedaan mendasar itu dan tidak menjadi penghalang dalam berteman. Sebab, memasuki ormek melatih kemampuan intelektual, kepemimpinan dan sikap terhadap perubahan sosial bangsa-negara. Bukan sebaliknya, menciptakan permusuhan antar sesama aktivis didalam maupun diluar organisasi. Karena itulah Fauzi dan Endro kurang menyetujui jika permasalahan ormek dikait-kaitkan dalam pertemanan. Berikut kutipan wawancara:
--------->" ormek ya ormek, kalo pertemanan hal itu gak perlu dibawa-bawa. Yang penting kita bisa menjaga diri masing-masing."(petikan kutipan wawancara)
--------->Sementara itu, Kurnia adalah mahasiswa mantan aktivis ormek putih dan sejak tahun 2003 ia aktif di ormek hijau. Latar belakang ini tidak menjadikan sebagai penghalang untuk berteman dengan Jeny. Jeny adalah anggota ormek hijau, dalam pergaulan mereka dapat menjaga diri masing-masing karena itulah ia bisa bersahabat dengan Kurnia.
hal. 39
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Menurut Kurnia, Jeny adalah teman yang mampu berinteraksi. Baik Jeny maupun Kurnia tidak melihat latar belakang organisasi masing-masing. Bagi mereka berteman adalah suatu kebutuhan individu untuk bertukar pikiran, saling mengasihi dan sebagainya. Jeny dan Kurnia bisa menjaga satu sama lain, untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Ia juga mengungkapkan bahwa, berteman secara ideologis, dalam hal ini se-ormek hanyalah sebuah kebetulan. Menurutnya, dalam bersahabat tidak perlu membeda-bedakan ormek. Pada dasarnya, ormek adalah tempat untuk menambah teman.
--------->Lain halnya dengan Sujatmoko dan Irawan yang tergabung kedalam ormek kuning. Keduanya adalah berteman dengan Sudiartohadi yang tidak tercatat sebagai anggota ormek manapun. Sudiartohadi diberitahu oleh Sudjatmoko dan Irawan agar tidak jangan berteman dengan kawan-kawan yang berlatar belakang ormek merah, ormek hijau, ormek merah muda dan ormek hijau tua. Bahkan menghina ormek tersebut dengan alasan-alasan dan stigma yang tidak rasional. Misalnya, ormek merah adalah PKI. Ormek hijau adalah pro-golkar, ormek merah muda sok nasionalis dan ormek hijau tua adalah perkumpulan islam fundamentalis-terorisme Osama Bin Laden. Bahkan mereka dijelek-jelekkan oleh Sudjatmoko bahwa mereka ekslusif. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, Sudiartohadi beranggapan bahwa pendapat Sudjatmoko adalah salah. Sebab, kawan-kawan dari ormek merah, ormek hijau, ormek hijau tua dan ormek merah muda sangat ramah. Karena itu Sudiartohadi malas bergaul dengan kawan-kawan ormek kuning. Menurutnya ormek kuning selalu bermuka dua, mencampuri urusan pribadi dan senang mengadu domba dengan kawan-kawannya.
3.1.2 Pertemanan Se-ormek
--------->Persahabatan Ayu dan Pratiwi (bukan nama sebenarnya) dan Subhan (bukan nama sebenarnya). Persahabatan mereka diawali sejak tahun 2003. Pada saat tahun sebelumnya, mereka kurang akrab satu sama lain. Barulah kemudian ketika mereka memasuki ormek kuning di tahun 2003, keakraban mereka mulai nampak. Perlu diketahui Ayu dan Pratiwi adalah mahasiswa Kesejahteraan Sosial. Sementara
hal. 40
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Subhan adalah mahasiswa Hubungan Internasional. Alasan mereka bersahabat se-ormek persoalannya hampir sama dengan contoh yang lain. Dengan bersahabat se-ormek, kesalahpahaman akan terhindarkan. Pengalaman Subhan atau Ayu sendiri mengungkapkan bahwa mereka pernah bersahabat dengan mahasiswa yang bukan se-ormek.
--------->Namun, persahabatan itu mulai retak akibat kesalahpahaman. Tanpa sengaja, Ayu menyeletuk tentang gerakan praksis yang tidak pernah dilakukan oleh ormek hijau. Bahkan, Ayu menanyakan kenapa selalu giat ketika mendapat proyek dosen. Atas kesalahpahaman ini, Sari merasa tersinggung. Karena itu, Sari tidak ingin ditemui dan berbicara dengan Ayu. Sejak itulah, Ayu berhati-hati dalam memilih teman atau sahabat. Karena peristiwa itu, Ayu lebih memilih teman yang seideologi. Dalam hal ini se-ormek. Maka bertemulah ia dengan Subhan dan Pratiwi. Pada saat itu pula, mereka bersahabat. Berikut kutipan wawancara,
--------->saya kurang sreg kalo berteman dengan ormek lain. Saya pernah mengalami sendiri persahabatan pernah retak gara-gara kesalahan ngomong sama Lidya (bukan nama sebenarnya), dulu.. Sejak itu, saya berhati-hati memilih teman... Lebih enak berteman dengan se-ormek. (petikan kutipan wawancara)
--------->Contoh lainnya adalah Agnes dan Masayu merupakan anggota organisasi merah muda sejak pertengahan tahun 2004. Keduanya terlihat akrab. Agnes sudah mengenal dengan Masayu di kampus sejak pertama kali masuk kuliah tahun 2003. Pada saat itu, Agnes belum mengenal akrab dengan Masayu. Meski ada, suasana keakraban yang nampak adalah sekedar hubungan pertemanan biasa. Namun keakraban lebih terjalin ketika Agnes dan Masayu masuk kedalam organisasi merah muda sejak pertengahan 2003. Ketika mengikuti Latihan Kader di alam terbuka yaitu Tanjung Papuma Watu Ulo Jember. Kebetulan ia menempati satu tenda dengan Masayu.
--------->Disitulah perkenalan hubungan emosional mulai terjalin. Agnes menjadi tumpuan curahan hati Masayu mengenai segala sesuatu hal termasuk masalah privasi. Agnes yang teman sekelas dengan Masayu ini, mengungkapkan:
hal. 41
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->"… Sejak itulah saya berteman akrab dengan Masayu. Masayu juga menjadi teman curhat saya… Dan kalo diajak diskusi nyambung…" (petikan kutipan wawancara)
--------->Sementara itu, Agnes juga membenarkan bahwa kesamaan latar belakang ormek semakin membuat hubungan persahabatan Masayu lebih akrab. Dalam hal bertukar pikiran Agnes -mengenai hal-hal prinsipil sekitar ideologi, teori ilmu humaniora, artikel, sikap para aktivis dan lain-lain- mengemukakan bahwa kesamaan cara pandang mampu menyatukan keakraban. Misalnya saja ketika mereka berdua berdiskusi mengenai tragedi Dua Tujuh Juli (Kudatuli), penyerangan ke kantor PDI-P Pusat Jakarta. Keduanya menyepakati bahwa tindakan itu merupakan rekayasa politik pemerintah Orba. Menurut keduanya perlu diberikan dilakukan karena menodai nilai-nilai prinsip haluan besar UUD 1945 dan Pancasila.
--------->Sebagai pengagum Soekarno, keduanya memang dibesarkan oleh lingkungan yang sarat penjujungan sikap-sikap nasionalisme yang tinggi karena itu mudah dipahami ketika mencoba memberikan umpan pertanyaan tentang konflik perebutan wilayah blok Ambalat antara Malaysia dan Indonesia. Keduanya mengisyaratkan bahwa Malaysia sudah terlampau jauh. Karena itu mereka sependapat bahwa mempertahankan pulau itu diperlukan sekalipun dengan cara represif militer. Sebab, menurut mereka, cara ini efektif mengingat Soekarno pernah mengungkapkan agar Malaysia perlu diserang.
--------->Kadangkala ketidak sepahaman dalam bertukar pikiran bisa saja terjadi. Misalnya, selain pengagum Soekarno, Agnes juga menyukai beberapa pemikiran Marxisme. Sementara Masayu kurang menyukai filsafat sosialisme-komunisme itu. Menurut Masayu, marxisme cenderung mengabaikan pergerakan dialektika sejarah. Karena itulah ramalan komunisme milik Marx tidak terbukti. Beberapa negara termasuk Uni Soviet telah hancur. Menanggapi hal ini Agnes menjelaskan, meskipun ia mengakui kepada bahwa ia bukan penganut aliran marxisme, namun ramalan-ramalan historis Marx masih relevan dalam menyumbangkan pengembangan ilmu intelektual. Agnes sendiri pernah membaca dalam sebuah buku tanggapan Ken Budha Kusumandaru (kebetulan Agnes tidak menyebutkan secara rinci judul buku
hal. 42
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
tersebut) dan Revolusi Oktober. Ia menuturkan bahwa komunisme marx pernah terjadi di Paris 1871 selama tiga tahun. Meski, pada dasarnya masih utopis dan terus menarik mereka perbincangkan mengenai hal itu.
--------->Maka, perdebatan kembali dimulai dan Masayu tidak menyetujui atas opini Agnes itu. Namun perdebatan itu tidak sampai memecahkan hubungan persahabatan diantara keduanya. Mereka menyadari bahwa perdebatan intelektual adalah kegiatan bertukar wacana dan opini semata tidak lebih daripada itu. Karena itu, ketika perdebatan mulai "panas", mereka bisa menjaga diri dan sikap saling mengalah secara obyektif agar tidak menyinggung perasaan Masayu. Itulah sebabnya persahabatan mereka tetap utuh. Mereka juga menyinggung bahwa menjalin persahabatan sesama ideologi (baca: seormek) merupakan hal untuk mengukuhkan semangat kebersamaan dalam berorganisasi. Karena itu ia tidak memungkiri hubungan pertemanan didalam kampus FISIP terkadang para aktivis masih melihat latar belakang ormek. Artinya, mereka yang bukan se-ormek akan dijauhi.
--------->Sementara itu, terdapat contoh mahasiswa membentuk kelompok berdasarkan kesamaan ormek. Sebuah kelompok yang tidak hanya terdiri dari tiga aktivis mahasiswa masing-masing bernama Ananda, Badrun dan Raihan. Ketiganya ini merupakan aktivis ormek bendera hijau.
--------->Pada saat itu, mereka sering terlihat bersama-sama di depan kelas. Menariknya pergi ke kantin atau ke warung Kampus mereka terlihat bersama-sama. Padahal mereka tidak menempati satu kost bersamaan. Ananda bertempat tinggal sementara di Jalan Jawa IX. Badrun indekost di jalan Mastrip dan Raihan memilih tinggal di rumah kontrakan di Jalan Mastrip. Ketiga sahabat ini seakan-akan sulit terpisahkan. Ada beberapa alasan mengapa mereka memilih bersahabat dengan teman se-ormek.
--------->Menurut Badrun, berteman se-ormek merupakan salah satu perwujudan bahwa saling memiliki dan saling menerima. Dalam hal ini, Badrun mengungkapkan bahwa mereka telah mengenal karakter masing-masing termasuk cara pandang mereka. Oleh karenanya, mereka merasa lebih cocok untuk bersahabat. Hal ini pun dibenarkan oleh Raihan dan Ananda, memilih teman se-ormek adalah solidaritas
hal. 43
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
lebih terjamin. Mereka merasa seperti bagian anggota keluarga. Hubungan emosional-pun dapat terjalin harmonis. Malahan mereka berencana akan menyewa sebuah rumah kontrakan di daerah Jalan Bangka.
--------->Selain itu ada juga contoh yang menggambarkan sikap elitisme. Pengalaman Jony, Saiful, Zawawi dan Dayat. Ketiga ini merupakan tercatat sebagai anggota aktif ormek kuning. Sayangnya, persahabatan mereka menunjukkan sikap elitisme. Dalam hal ini, mereka kurang mau bergaul dengan mahasiswa orang lain yang bukan se-ormek. Karena persoalan ini memberikan kesulitan sebab mereka terlihat menutup-nutupi kenapa mereka lebih senang bergaul dengan teman se-ormek. Maka, mencoba memasuki lebih dalam kiprah persahabatan mereka.
--------->Akhirnya dapat diketahui bahwa mereka adalah anggota yang masih tercatat sebagai dalam struktur keanggotaan ormek kuning. Mereka enggan bergaul dengan teman dari ormek lain. Mereka menganggap bahwa ormek kuning lebih baik baik dari segi pergerakan maupun intelektualitas daripada ormek lain.
--------->Sebenarnya saya malas berteman dengan ormek lain. Kau lihat sendiri saja, ormek lain seperti ormek hijau selalu onani intelektual terus. Atau ormek merah dan merah muda senangnya demonstrasi terus… Apalagi suka
ndoktrin dan demonstrasinya dibayar . Malas berteman dengan mereka,
mending berteman dengan teman se-ormek lebih senang. Demikian
ungkap Jony.(petikan kutipan wawancara)--> catatan footnote untuk memperjelas hal ini. Kadangkala demonstrasi yang dilakukan para aktivis telah ditunggangi oleh kepentingan subyektif kekuasaan. Ini terjadi di pemilihan rektor tahun 2003. Sejumlah dosen mempolitisir agar menggagalkan pemilihan rektor dengan isu agama. Menurut Paul, dosen bernama Warsito mengajak mahasiswa untuk berdemonstrasi tepat ketika perkuliahan berlangsung. Tentu saja hal demikian secara tidak langsung merusak iklim intelektual mahasiswa dan mempengaruhi dalam hubungan pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek.
--------->Karena itulah mereka terkesan menutup diri dari pergaulan. Menurut Bayu sikap mereka terkesan elitisme itu mudah dipahami . Mereka masih belum membedakan mana harus berpolitik dan berteman. Itulah sebabnya mereka senang berteman atau bersahabat dengan se-ormek kuning.
---------> Berbeda halnya dengan Rahardi dan Wijaya mereka menganggap bahwa ormek terkadang semakin menyebabkan mahasiswa terkotak-kotak. Rahardjo sempat
hal. 44
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
berpandangan bahwa lebih baik memilih teman berdasarkan kesamaan ormek. Di awal semester II, ia sengaja memilih Jodi dan Gayo yang sama-sama tergabung dalam ormek kuning sebagai teman. Alasannya, untuk menjalin hubungan solidaritas lebih erat sesama rekan aktivis se-ormek. Karena itulah, Rahardi dan Wijaya tidak mau berteman dengan teman-teman se-ormek.
---------> Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari kesalahannya itu. Lantas ia melepaskan sikap elitisme. Menurut Rahardi, sikap elitisme seperti tidak bergaul dengan kawan se-ormek adalah bentuk ketidak dewasaan seseorang untuk menerima perbedaan aliran politik atau ideologi.
---------> ”biasa-lah… namanya juga mahasiswa yang sedang asyik-asyiknya menyandang idealisme dan status aktivis. Saya awalnya sempat elitis, tapi lama-lama bosan juga… masuk ormek kadang membuat seseorang jadi elitis…." (petikan kutipan wawancara)
---------> Dalam yang hampir sama dengan itu, Wijaya mengungkapkan
"Biasanya elitis muncul di awal-awal semester, itu pun bagi mereka yang terbawa doktrin ormek… saya sempat pernah mengalami gara-gara masuk ormek... berteman pun pilih-pilih dan hanya berlangsung tiga semester… Ini tergantung orangnya" (petikan kutipan wawancara).
---------> Jika kita menyimak ungkapan Wijaya diatas mengesankan bahwa ia pernah bersikap elitis dalam memilih teman harus dilihat dari latar belakang ormek. Dalam konteks ini, ia akan menjauh menjalin hubungan persahabatan lebih erat kepada individu yang bukan se-ormek. Wijaya yang merupakan mantan aktivis hijau dan kuning, menyadari kekeliruan tersebut. Karena itulah ia kini mau bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang perbedaan ormek.
---------> Menurut penuturan Wijaya, sikap elitisme para aktivis dalam memilih teman bergaul umumnya terjadi di awal-awal semester yaitu semester II sampai IV. Pada saat itu, ia cenderung berteman dengan Khairul , Zaenal dan Susilo daripada yang lain. Baginya, berteman dengan mereka untuk memberikan kesan bahwa ia lebih peduli dengan kelompoknya, dalam hal ini ormek.
hal. 45
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam konteks tersebut, ia juga akan dijauhi secara tidak langsung oleh teman-teman se-ormek karena dianggap sudah berpihak kepada ormek lain. Secara otomatis, ia pun terpaksa melakukan sikap elitis. Akan tetapi, setelah melewati semester IV ia menyadari kesalahan tersebut. Karena itulah, ia membuang jauh-jauh sikap elitis yang menurutnya tidak mencerminkan sikap kedewasaan sebagai kaum intelektual.
---------> Contoh lainnya adalah Tatva. Sejak tergabung kedalam organisasi ormek merah muda, ia sempat dijauhi oleh kawan sekelasnya. Tentu saja secara tidak langsung, misalnya ketika ia duduk di berdekatan dengan anak-anak berbeda ormek yaitu ormek kuning, lantas mereka menjauhkan diri. Alasannya, ingin duduk di dekat jendela karena udara pada saat itu panas, ingin fokus pada materi dosen dan sebagainya. Hal ini terjadi berulang kali, Meski awalnya dia hanya beranggapan bahwa sikap teman-teman tersebut tidak mengada-ada.
---------> Karena itulah, ia mencari teman yang seideologi yaitu Tatva yang di kelasnya hanya ada satu orang. Berteman secara ideologi setidaknya akan membuat terjadi kesalahpahaman. Karena hubungan emosional lebih terikat kuat dan satu sama lain dapat menjaga baik tutur kata maupun sikap. Melihat sikap kawan-kawan ormek kuning tersebut maka ia juga menjelek-jelekkan dengan mengatakan bahwa aktivis ormek kuning umumnya elitis dalam bergaul.
---------> Sementara, teman-teman ormek merah, hijau, hijau tua, putih masih bisa menghargai dalam berteman. Meski ada beberapa diantaranya yang juga menutup diri dalam arti tidak mau bergaul dengan teman seideologi. Berikut ini tuturan Tatva kepada yang diungkapkan kepada di kampus.
---------> "Sebenarnya saya malas bergaul dengan kawan-kawan ormek kuning.. bukan karena apa, waktu saya masuk ormek merah.. saya pernah dijauhi mereka waktu duduk, di kelas…sayapun malas dengan mereka, maka saya enakan berteman sama Tatva, ya kadang mual lihat sikap mereka, kadang mereka menyindir yang aneh-aneh … ketika aku lewat pasti
ngomong Pancasila satu, ketuhanan yang maha esa… kayak anak sd.
Saya biasa saja, tapi mereka dulu yang selalu memulai." (petikan kutipan
wawancara)
hal. 46
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Begitulah gambaran yang sikap elitisme yang setidaknya dilakukan beberapa aktivis kuning kepada Tatva. Bila kita simak lebih jauh, ia pun mendapat berbagai cercaan ketika Tatva melewati kerumunan para aktivis yang berbeda ideologi.
--------->Menurut pendapat Paul seorang mantan aktivis dari beberapa ormek kuning, hijau tua dan hijau. Sejauh Paul pernah memasuki ormek kuning di tahun 2002, persoalan seperti itu merupakan alat untuk melemahkan mental lawan. Praktek ini merupakan tekhnik politik macheavelinisme. Artinya, isu-isu negatif dihembuskan dengan bentuk canda atau sindiran yang terkesan menghina. Tujuannya adalah agar lawan mengalami keterasingan dengan latar belakang ormek yang oleh bersangkutan ikut tergabung didalamnya. Karena itulah dapat dipastikan sikap-sikap mereka umumnya cenderung bermuka dua. Artinya didepan mereka akan ramah ketika ada kepentingan.
--------->Paul melanjutkan kadangkala para aktivis terlalu cepat menggenalisir bahwa tindakan kesalahan individu dimaknai tindakan organisasi. Bahkan terkadang sering mengambil rumusan kesalahan satu orang adalah kesalahan organisasi. Persoalan ini setidaknya dapat dijelaskan dengan temuan lapangan sebagaimana yang terjadi kepada Maesa.
--------->Maesa (anggota ormek kuning) pernah melakukan kesalahan secara tidak langsung kepada Atika (anggota aktivis ormek hijau). Maesa menghina kepada Atika bahwa ormek-nya adalah tempat para broker yang lebih senang menerima proyek dosen daripada terjun kedalam dunia aktivisme dalam pengertian sebenarnya. Sebaliknya, Atika menuduh bahwa ormek kuning berperan secara langsung dalam praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh elit birokrat kampus. Termasuk mempertahankan status quo jabatan struktural elit birokrat kampus agar tidak berpindah ke ormek lain. Maesa pun marah. Karena Atika menganggap harga diri secara individu dan organisasi telah diinjak-injak. Maka Maesa langsung memberi tahu kepada kawan-kawannya agar tidak bergaul dengan Atika termasuk ormek-nya. Inilah salah faktor yang menjadikan pergeseran antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ.
hal. 47
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Dari beberapa contoh diatas secara garis besar hubungan sosial antar anggota ormek dapat dijelaskan melalui skema sebagai berikut:
skema dalam bentuk gambar tidak memungkinkan termuat seutuhnya mengingat sifat keterbatsan blog
a. individu(aktivis) --> mencari teman --> sesama aktivis seormek -->hubungan sosial terjamin bahkan lebih akrab
b. Individu (aktivis)--> mencari teman --> teman beda ormek --> sering terjadi salah paham
c. individu (aktivis) --> mencari teman --> teman netral (tidak ikut hubungansosial ormek) terjamin
--------->Dari contoh diatas pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek terjadi tatkala ketidaksepahaman nilai-nilai prinsipil, terpengaruh sikap dan lingkungan sosial sekitar kampus disertai kurangnya kedewasaan politik yang dimiliki. Menurut Paul, fenomena pergeseran ketidaksepahaman nilai-nilai yang paling mencolok di Kampus adalah ormek kuning dan ormek hijau. Keduanya, ini memiliki nilai ideologi yang cukup berbeda. Bila ormek kuning berkencenderungan pada nilai islam ortodoks yaitu nadhlatul ulama, ormek hijau malah sebaliknya. Ormek hijau lebih ke islam modernis yaitu muhammadiyah. Karena itulah mereka lebih sulit dipertemukan dalam dunia aktivisme termasuk hubungan sosial pertemanan. Apalagi di kampus jumlah anggota kedua ormek tersebut cukup banyak dibandingkan dengan lainnya. Meski data mengenai jumlah hal itu sulit didapatkan karena persoalan internal ormek selama pengalaman ini selalu ditutupi-tutupi. Menurut Paul dan Hamzah ketika, mereka mengemukakan bahwa para aktivis mahasiswa tampaknya memang kurang mau memberikan data nama anggota mereka kepada pihak lain. Sebab, bila hal itu diberikan kekuatan politik mereka akan mudah diketahui oleh aktivis yang lain terutama menjelang pemilihan BEM.
hal. 48
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Akan tetapi, Paul dapat memperkirakan bahwa ormek kuning dan ormek hijau perbandingannya sekitar 50% dan 40%. Karena itulah sisanya sekitar 5 % masing-masing adalah aktivis ormek merah, merah muda, hijau tua dan ormek putih sekitar 5%. Karena itulah gejala yang cukup mencolok pada pergeseran hubungan antar anggota ormek di FISIP sebagaimana diutarakan oleh Paul kepada adalah antara ormek kuning dan ormek hijau.
---------> "ormek kuning dan ormek hijau konon musuh bebuyutan wajar di kampus keliatan berantem. Secara ideologis pun, ormek hijau tua lebih dekat dengan ormek hijau, ormek putih pun demikian. " (petikan kutipan wawancara)
--------->Dalam mencari teman terkadang mereka juga sulit bertemu. Pengalaman Paul sendiri, ia pun pernah dijauhi oleh kawan-kawan ormek hijau karena tercatat sebagai anggota di ormek hijau. Tentu saja cara yang ditunjukkan secara tidak langsung. Namun, setelah ia keluar dari ormek hijau dan bergabung dengan ormek kuning, ia pun bisa diterima oleh kawan-kawan ormek hijau. Paul menambahi bahwa hubungan elitis yang sangat mencolok memang dibesarkan dari ormek kuning. Alasan inilah yang mendasari ia keluar sebagai anggota ormek kuning.
--------->Dalam pengamatan di lapangan, stigma buruk juga diberikan kepada mereka yang keluar dari anggota ormek. Pengalaman Paul berikut ini setidaknya dapat menjelaskan mengenai hal ini.
---------> "Saya dicap sebagai penghianat sejak saat itu. Kadang saya semakin dijauhi oleh temen-temen ormek kuning. Tapi saya cuek saja, khan masuk kedalam organisasi bukan berarti mengabdikan seluruhnya. Kita khan ini masih dalam pencarian… Sama saja, pengalaman saya meloncat-loncat sejak masuk ormek merah muda, kuning kemudian ormek hijau dan terus ke hijau tua" (petikan kutipan wawancara).
--------->Menurut Paul, berteman berdasarkan kesamaan ormek secara tidak langsung menunjukkan kepedulian antar sesama. Karena itulah mereka terkadang memilih-milih teman atau sahabat seormek agar hubungan sosial dan emosional lebih terjalin.
hal. 49
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di dalam kampus pun begitu, mereka melihat dulu apakah seseorang tergabung dalam kelompoknya atau tidak.
--------->Sebenarnya, cara-cara penghinaan kepada teman yang bukan seormek adalah bentuk tindakan politik untuk menguatkan persepsi kelompoknya. Dengan begitu, mahasiswa-mahasiswa baru akan lebih tertarik untuk masuk ke dalam organisasinya. Berikut kutipan wawancara dengan Paul.
--------->"menjelek-jelekkan adalah hal yang harus dilakukan untuk mengguatkan persepsi, citra atau imej kelompok. Ini dimaksudkan untuk menambah kader dalam organisasi" (petikan kutipan wawancara)
--------->Karena itulah, dimana mereka bertemu seorang aktivis terkadang selalu kurang menunjukkan sikap-sikap yang simpatik lebih-lebih didalam kampus sendiri. Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa hubungan sosial di dalam Kampus mengarah kepada disintegratif. Kecuali ada momen-momen tertentu mereka bisa bergabung misalnya berdemonstrasi.
--------->Paul menambahkan bahwa pegeseran hubungan sosial antar mahasiswa akan semakin terlihat jelas menjelang pelaksanaan BEM, restrukturasi internal organisasi ekstrakurikuler di dalam kampus, pemilihan dekan dan rektor.
3. 2. Hubungan Pertemanan di Sekitar Kampus
3.2.1 Pertemanan Berbeda ormek
--------->Sikap elitisme mahasiswa dalam memilih pertemanan terkadang sampai mempengaruhi dalam kehidupan di indekost. Persoalan itu lebih disebabkan adanya pengaruh kuat nilai-nilai doktrin yang dibawa di masing-masing ormek yang bersangkutan. Mochtar adalah hal yang menarik untuk dicermati.
--------->Mochtar bertempat tinggal sementara atau indekost di sekitar Jalan Bangka. Penghuni indekost ini sekitar 10 orang yang terdiri dari berbagai jurusan akademik. Enam diantaranya adalah mahasiswa FISIP UNEJ termasuk Mochtar. Masing-masing bernama Thomas, Sucipto, Sugeng, Muis dan Wisnu. Sebagai teman se-
hal 50
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
indekost, hubungan sosial tentu dijaga erat-erat dengan menjaga sikap dan tingkah laku. Ini sangat penting untuk menghindari dari hal-hal yang mengarah kepada konflik. Karena itulah sikap dan tutur mereka dijaga.
--------->Akan tetapi, sejak Mochtar masuk kedalam ormek merah hubungan sosial diantara mereka mengalami ke pergeseran meski tidak sampai mengarah ke bentuk konflik fisik. Sebagaimana yang diungkapkan Mochtar, sebelum ia masuk kedalam ormek merah, Mochtar sering diajak berdiskusi mengenai kehidupan mahasiswa di kampus dan dimana saja dia akan pergi dalam urusan sehari-hari. Misalnya mencari makan dia selalu ditemani oleh salah satu dari mereka
--------->Mochtar menyadari bahwa hal itu adalah upaya untuk mengajak secara tidak langsung agar ia menjadi salah satu anggota ormek kuning. Minimal, Mochtar akan simpatik dengan sikap dan tingkah laku mereka kepada ormek kuning. Akan tetapi, hal itu tidak sampai memutuskan dia untuk bergabung kedalamnya.
--------->Atas pertimbangan tertentu, akhirnya Mochtar memutuskan masuk kedalam ormek merah sejak 2004. Polemik terjadi ketika Mochtar masuk kedalam organisasi merah yang mempengaruhi hubungan sosial secara langsung kepada teman-teman indekost.
--------->Mochtar kemudian seakan diasingkan dari teman-teman kost-nya. Bila sebelumnya ia diajak berdiskusi atau ketika Mochtar membutuhkan bantuan teman-temannya kurang menghiraukan.
--------->"Sejak masuk organisasi merah saya tidak dihiraukan… kadang sikap yang mereka lakukan terlihat dibuat-buat. Yang ngomong sibuk lah atau apa lah.. padahal dulu gak kayak gitu mereka baik meski ada tujuan dibalik semua itu….saya diajak masuk kesana (ormek kuning)". (petikan kutipan wawancara)
--------->Karena itulah ia mulai menarik diri dari pergaulan mereka. Bila sebelumnya ia terlihat berkumpul bersama mereka, maka dapat dipastikan Mochtar tidak ada. Alasan Mochtar sederhana saja, ia tidak mau terjadi konflik fisik hanya persoalan sepele. Maka wajar kemudian bila Mochtar lebih baik berteman dengan teman-teman netral. Netral dalam konteks ini, tidak tercatat sebagai anggota ormek apapun
hal. 51
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Namun, seiring berjalannya waktu yaitu kira-kira dua minggu hubungan baik antara Mochtar dan kelima teman indekost yang kembali seperti semula. Artinya ia bergaul sama lain tanpa ada perbedaan secara diameteral baik secara ideologis dan prinsip. Meskipun demikian, konflik dalam bentuk bahasa misalnya sindiran atau canda masih saja ia temui. Misalnya, ia selalu disindir sebagai PKI ataupun "anak aidit". Menanggapi hal itu Mochtar hanya bisa diam, sebab dia tidak menghiraukannya.
--------->"Saya biarkan saja mereka menghina saya.. biar daripada nanti ada masalah apalagi teman indekost dan sama-sama se-FISIP. Lebih baik saya diam saja….mereka lama-lama akan bosan dengan sendirinya." (petikan kutipan wawancara)
--------->Karena itulah dia bersikap biasa saja terhadap teman-teman-nya. Perkembangan selanjutnya Mochtar pun mulai menerima jika ada hal-hal yang kurang berkesan diberikan secara langsung maupun tidak langsung terhadapnya. Meskipun itu dalam bentuk debat argumen, canda yang menghina dan sikap-sikap menjauhi dia secara tidak langsung. Buktinya, sikap dan tutur kata teman-teman Mochtar di indekost-nya dalam beberapa bulan saja mulai berubah sediakala. Karena itulah pergeseran hubungan sosial diantara mereka tidak menunjukkan ke bentuk perkelahian.
--------->Menurut Tomi, membenarkan bahwa pengaruh kuatnya indoktrinasi dari ormek terkadang juga terbawa tidak hanya di kampus. Hal ini dikarenakan para aktivis umumnya terjebak dalam pandangan semu bahwa idealisme harus dipertahankan dimana saja dan kapan saja. Jika hal ini tidak disertai kedewasaan politik maka hubungan sosial akan mengalami ke bentuk destruktif. Misalnya bermusuhan, menghina satu sama lain dan parahnya tidak tertutup kemungkinan akan terjadi perkelahian fisik.
--------->Pengalaman Tomi sendiri menceritakan bahwa yang terjadi oleh Mochtar diatas pernah dialami dahulu. Sewaktu itu di tahun 2002, Tomi memiliki pengalaman yang hampir sama dengan Mochtar.
--------->Di kost Tomi yang terletak di sekitar Jalan Jawa merupakan tempat basis ormek kuning secara tidak langsung. Berikut kutipan wawancara:
hal. 52
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Di tempat kostku dulu di Jalan Bangka, adalah basis ormek kuning. Banyak anak-anak ormek kuning sering berkumpul disana ya sekedar cangkruk'an. Diskusi atau ngobrol. Meski tidak seluruhnya ormek kuning kira-kira delapan mahasiswa menjadi anggota. Saya tidak tau waktu masuk disitu adalah ormek kuning… Karena saya tertarik dengan organisasi saya memilih ormek hijau. Disaat itulah saya mulai disindir-sindir.
--------->Tomi tidak menyadarinya akan hal itu. Sebagai mahasiswa baru, wajar saja ia kurang mengenal seluk beluk indekost kadang merupakan perkumpulan ormek tertentu. Menurut Tomi, di tempat indekost-nya tersebut seringkali beberapa aktivis dari ormek kuning datang bergantian disitu. Tujuannya bermacam-macam dari hal yang bersifat pribadi dan semi organisatoris. Misalnya berdiskusi dan akan menyebarkan undangan yang diberikan dan ditugaskan dari rayon organisasi kepada anggota yang kebetulan bertempat tinggal sementara disana.
--------->Ketika Tomi, masuk kesana ia pun juga ditawari untuk masuk ke ormek kuning. Tindakan politik yang dilakukan adalah hubungan persahabatan dengan Tomi dijadikan lebih harmonis. Misalnya, lebih diperhatikan, lebih dihargai dan sebagainya. Karena itulah Tomi diawal-awal indekost disana merasa sangat senang berada. Namun semuanya itu mulai berubah ketika Tomi mengajak teman sekelasnya dari FISIP berkunjung ke indekost-nya. Kebetulan teman Tomi bernama Sanusi itu adalah anggota ormek hijau.
--------->Sesampai disana, Tomi memperkenalkan Sanusi kepada teman-temannya. Mereka pun menyambut dengan baik. Ironisnya, ketika salah satu kawan Tomi bertanya mengenai maksud dan tujuan Sanusi berkunjung ke indekost-nya. Pada saat bersamaan, Tomi memberikan surat undangan dari ormek hijau kepada Sanusi untuk datang ada acara pemutaran film Farenheit 9/11.
--------->Melihat hal ini teman-teman Sanusi mulai mencurigai hubungan antara keduanya. Mereka mulai menanyakan hal itu kepada Sanusi apakah benar bahwa ia sudah menjadi anggota ormek hijau. Sanusi mengelak tuduhan bahwa ia telah tercatat sebagai anggota ormek hijau. Menurut Sanusi, ia hanya diundang untuk datang menonton acara pemutaran Farenheit 9/11 di ormek hijau. Disinilah dia dicurigai dan diberikan berbagai argumen agar tidak datang ke acara yang
hal. 53
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diselenggarakan oleh ormek hijau sekaligus menjauhi temannya yang bernama Tomi.
--------->Menurut Sanusi, malam hari itu alasannya yang dikemukakan agar dia menjauhi Tomi adalah ormek hijau adalah tempat mahasiswa bukan untuk beraktifitas selayaknya kaum intelektual muda. Melainkan hanya untuk mencari menambah nilai agar dekat dengan dosen-dosen yang kebetulan menjadi staf pengajar di FISIP. Selain itu, idealisme yang dimiliki oleh mahasiswa ormek hijau adalah bukan tempatnya. Artinya, idealisme mereka hanya bergerak pada tataran intelektual semacam berdiskusi bukan diterapkan.
---------> "Lucunya saya nggak boleh deket-deket dengan Tomi karena dianggap akan ditipu untuk mendapatkan nilai. Saya diam saja, dan pura-pura sependapat dengan mereka. Meski jujur saya malas karena urusan bertemanpun mereka mencampuri urusan saya." (petikan kutipan wawancara)
--------->Menanggapi hal itu Sanusi merasa bahwa tindakan teman-teman terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya. Sejak saat itulah dia malas untuk indekost disana. Apalagi, setiap kedatangan Tomi mereka selalu memperlihatkan sikap-sikap yang kurang menyenangkan. Bahkan, Sanusi merasa dijauhi oleh teman-temannya di kost.
--------->Karena itulah dia memutuskan untuk tidak indekost disana. Diapun berpindah ke sekitar Jalan Jawa dua gang dari sebelumnya. Ketika disana, Sanusi juga memiliki teman kebetulan dia bernama Dinesea yang mantan anggota ormek kuning. Dia merasa diterima dilingkungan tersebut meski ada Dinesea yang berbeda ormek, namun Dinesea tidak sedikitpun menunjukkan sikap permusuhan. Malahan sebaliknya.
---------> "Saya pun pindah ke kost disini, kau tau disini juga ada mantan anak pabrik mie … tapi sikapnya baik-baik saja. Saya tidak dihina hanya karena berteman dengan Dinesea meski saya juga sejak keluar dari kost dulu tempat nongkrong anak pabrik masuk ke ormek hijau.Pabrik mie merupakan nama plesetan yang diberikan kepada ormek kuning. " (kutipan petikan wawancara)
--------->Sikap kedewasaan politik yang terjadi diantara mereka menunjukkan bahwa setiap individu antara satu dengan yang lain berbeda-beda. Ini mudah dipahami
hal. 54
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sebab di suatu tempat yang memiliki pengaruh kuat ormek tertentu biasanya sikap elitisme masih saja nampak. Bahkan menunjukkan sikap-sikap yang sangat tidak simpatik jika melihat adanya perbedaan prinsipil berupa ormek.
Setidaknya hal itu dapat dijelaskan melalui skema sebagai berikut:
(skema gambar tidak memungkinkan memuat secara utuh mengingat sifat keterbatasan blog tetapi bisa diringkaskan sebagai berikut)
a. indekost --> individu ormek A --> interaksi --> hub. sosial harmonis -->
kedewasaan politik --> tidak terjadi pergeseran
b. indekost --> individu ormek B --> interaksi --> hub. sosial kurang harmonis --> kurangnya kedewasaan politik --> terjadi pergeseran --> konflik --> individu bertahan / individu pindah kost
hal. 55
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam pemahaman itu dapat diambil suatu risalah mengenai pengaruh pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek mempengaruhi lingkunganya, yaitu indekost. Didalam indekost, hubungan pergeseran antar anggota ormek terjadi ketika muncul kepentingan. Kepentingan dalam hal ini adalah upaya pengkaderan untuk diajak menjadi salah satu anggota ormek yang kesemuanya nampak pada contoh diatas.
--------->Polemik yang sering ditimbulkan adalah munculnya dugaan bahwa individu telah menghianati hubungan persahabatan dengan cara kedatangan individu lain yang bukan se-ormek. Apalagi ada bukti konkrit bahwa ia adalah aktivis ormek lain dengan tujuan yang hampir sama misalnya, mengundang seseorang agar ikut salah satu kegiatan ormeknya. Sementara itu, jika kedewasaan politik tidak disertai diantara keduanya muncul apa yang dinamakan tindakan destruktif. Bila individu bisa mengadaptasi pola-pola pergeseran antar rekan di indekost bukan hal mustahil jikalau ia akan bertahan di tempat itu. Sebaliknya, jika individu tidak mampu menahan atas sikap tidak simpatik tersebut ia akan menempati tempat yang baru. Dalam hal ini, ada tiga fenomena lapangan untuk menjelaskan hal tersebut.
--------->Elok menempati rumah indekost yang terletak disekitar jalan Jawa. Didalam kost ini, Elok memiliki teman yang tercatat sebagai anggota organisasi hijau tua. Menurut Elok ada empat mahasiswi yang masing-masing bernama Fepi, Mayang, Maria, Ike. Elok senang sekali melihat teman-teman se-indekost yang kelihatannya selalu kompak. Kemana-mana mereka selalu kelihatan pergi. Dalam hal persoalan sepele misalnya urusan makan sehari-hari atau pergi ke perpustakaan terlihat pasti mereka terlihat bersama-sama.
--------->Teman Elok umumnya berpakaian muslimah yang sangat panjang hampir menutupi seluruh tubuh dan jilbab yang selalu menutupi wajah mereka. Demikian halnya dengan Elok. Hanya saja, perbedaannya adalah pakaian muslimah yang dikenakan oleh Elok tidak sepanjang yang dikenakan oleh kawan se¬-indekost. Uniknya, persoalan cara berpakaian ini pernah menjadi polemik tersendiri. Ketika itu, Elok sempat ditegur oleh salah satu teman se-indekost agar ia menutupi tubuhnya dengan pakaian yang lebih sopan.
hal. 56
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Tentu saja cara yang dilakukan adalah mengajak Elok berdiskusi yang biasanya dilakukan di waktu senggang misalnya sesudah makan, menjelang tidur dan sebagainya. Tentu saja Elok tidak merasa keberatan mengenai pembicaraan atau diskusi seputar sah atau tidak sahnya wanita untuk menutup aurat seluruh tubuh. Akan tetapi, ketika ia merasa tersudutkan oleh beberapa kawannya yang menyuruhnya agar Elok berbusana muslim mengikuti pakaian yang mereka kenakan. Disaat itulah dia merasa tersinggung ketika teman-teman se-indekost
seakan-akan menuntut mereka agar berbusana seperti mereka. Bahkan, Elok merasa terkucilkan hanya gara-gara persoalan sepele seperti itu .
--------->Berikut kutipan wawancara. " masak saya berpakaian begini saja mereka menjauhi saya… malah menyuruh untuk berpakaian ala jubah yang mereka kenakan. Soal pakaian itu urusan saya…. Saya dijauhi oleh mereka, jadi malas kost disitu. Lantas, saya pindah daripada tiap hari dapat ceramah mereka dan dicemooh selalu."--------->Atas kebosanan akibat perbuatan mereka, Elok memutuskan keluar dari indekost tersebut. Di kost yang baru ini, kebetulan Elok memiliki teman dari yang tercatat sebagai anggota organisasi kuning yang bernama Ani. Sebelum pindah ke tempat kost jalan Bangka itu, Elok sempat mengatakan persoalan semua itu kepada Ani.
--------->Ani malah mendukung Elok agar segera pindah kost dari itu.Bahkan, Ani pun membela sikap yang dilakukan oleh Elok. Ani merasa bahwa tuduhan untuk mengikut campur persoalan pakaian adalah masalah pribadi.
--------->Elok menyadari bahwa tindakan mereka merupakan cara untuk mengajaknya secara tidak langsung agar ikut anggota organisasi mereka. Meskipun, kawan-kawan Elok umumnya adalah tercatat anggota ormek hijau tua. Tetapi, Elok merasa persoalan masuk atau tidaknya ke organisasi adalah persoalan individu. Karena itu, ia merasa menyayangkan sikap tidak simpatik yang telah dilakukan kawannya terhadap Elok.
--------->Masalah perbedaan prinsip tersebut juga dapat dijelaskan dari temuan fakta lapangan yang terjadi oleh rumah kontrakan di sekitar jalan Jawa. Didalamnya terdiri dari mahasiswa FISIP. Ada sekitar 8 mahasiswa yang menempati di rumah
hal. 57
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kontrakan tersebut. Rozaki dan Suseno adalah mahasiswa yang tercatat sebagai anggota ormek kuning. Sementara Habib, Dudung dan Yozy tercatat sebagai anggota ormek hijau. Selebihnya adalah Prasetyo adalah mahasiswa yang tercatat sebagai anggota ormek merah. Serta, Fian dan Cahyo yang tidak tercatat sebagai anggota ormek apapun.
--------->Mereka adalah mahasiswa FISIP sejurusan dan seangkatan. Ketika itu, Rozaki dan Suseno sedang bersiap-siap membereskan barang-barang yang dimiliki. Semua pakaian dan barang-barang milik Rozaki dan Suseno telah dimasukkan ke dalam tas dan kardus maupun kantong plastik. Mereka akan pergi dan merekapun menjawab akan pindah kost ke rayon. Sementara Suseno pindah ke indekost jalan Jawa. Sebelumnya mereka kurang memberikan jawaban yang mendasar alasan mereka pindah dari tempat itu.
--------->Namun, setelah beberapa hari Habib mulai menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Menurut Habib, Rozaki selalu menunjukkan sikap yang kurang simpatik terhadap yang lain. Salah satu pemicunya adalah Rozaki memecah belah persahabatan diantara mereka yang telah terjalin sejak lama. Alasannya sederhana yaitu Rozaki merasa tersinggung atas perbuatan Habib dan Dudung yang sering menegurnya dalam bertindak-tanduk sehari-hari. Misalnya, memutar radio keras-keras di malam hari, sering membawa minuman keras dan sebagainya.
--------->Lantas, Habib dan Dadung menegur agar Rozaki mau memperbaiki sikapnya. Rozaki-pun menuruti. Akan tetapi, setelah beberapa hari Rozaki merasa keberatan atas hal itu. Karena itulah dia mulai menebarkan isu-isu negatif kepada kawan-kawan se-kostnya. Bahwa sikap-sikap merupakan bentuk kebencian karena dia telah digerakkan bahwa cara yang dilakukan adalah Rozaki menebarkan isu-isu negatif bahwa tempat mereka akan dijadikan basis ormek hijau apalagi hampir setiap Daniel dapat dipastikan beberapa aktivis ormek hijau sering datang kesana dengan tujuan ormek.
--------->Karena itulah Rozaki segera menjelek-jelekkan Habib dan Dadung kepada Suseno, Prasetyo serta Cahyo. Bahwa sikap Habib dan Dadung merupakan kesengajaan agar mereka keluar dari rumah ini. Dadung dan Suseno pun
hal. 58
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
mempercayainya apalagi mereka juga sering ditegur oleh keduanya mengenai sikap dan tingkah laku sehari-hari. Maka, mereka pun mulai menjelek-jelekkan sikap mereka.
--------->"dasar ormek hijau… mereka selalu sok suci kita ini ngontrak disini juga ingin agar kita bisa berteman bukan dijadikan sebagai basis dan kepentingan politis ormek kuning. " Demikian ungkap Rozaki
--------->Namun, Cahyo yang merasa sadar bahwa hal itu merupakan adalah bentuk kegiatan politik mengadu domba, maka ia memberitahukannya kepada Habib dan Dadung. Disitulah pertengkaran mulai terjadi.
--------->Dadung dan Habib merasa bahwa Rozaki terlalu menuduh sepihak bahwa sikap teguran itu adalah upaya mengingatkan antar sesama agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.Bahkan Dadung dan Habib tidak mau menerima atas tuduhan Rozaki yang selalu mengkait-kaitkan antara sikap individu dengan latar belakang ormek. Karena itulah mereka marah. Lantas, mereka mengharapkan agar Rozaki bisa membedakan antara sikap individu jangan dikait-kaitkan dengan latar belakang ormek. Karena hal itu adalah sangat tidak kontekstual.
--------->Rozaki pun meminta maaf. Namun, ia masih tidak bisa menerimanya. Maka sejak saat itu, hubungan sosial diantara sesama teman se-indekost mulai renggang. Meski sikap baik yang ditunjukkan kepada mereka untuk mencoba menjalin hubungan agar kembali lebih akrab tampaknya sia-sia. Sebab menurut Rozaki hal itu adalah kebasa-basian belaka.
--------->Sejak kejadian itu, Rozaki sering menginap di rayon dan bila datang rumah kontrakan hanya mengambil alat-alat kebutuhannya seperti baju dan sebagainya. Karena itu dia meminta ijin kepada kawan-kawan agar tidak bingung mencari mereka. Teman-teman Rozaki menuruti.
--------->Untuk mencari dukungan, Rozaki selalu mengajak agar Suseno juga pindah dari rumah kontrakan tersebut. Suseno pun menyetujuinya, alasannya sebagai teman seideologi ia bisa memahami.
hal. 59
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Maka satu bulan berikutnya rumah kontrakan tersebut mulai habis masanya. Karena itu, Rozaki dan Suseno memutuskan pindah dari sana meski kawan-kawannya mengajak agar dia tinggal disitu.
--------->Hamzah membenarkan bahwa Rozaki serta Yanuarti diatas merupakan salah satu bentuk sikap aktivis mahasiswa yang seringkali melibatkan persoalan pribadi selalu dikaitkan dengan latar belakang ormek . Hal ini dikarenakan adanya pandangan sempit dan sikap elitisme disertai kurangnya kedewasaan politik individu untuk menerima perbedaan di tengah kawan-kawan yang bukan se-ormek. Karena itulah mereka yang tidak bisa menerimanya seringkali pindah ke indekost yang baru bahkan di tempat organisasi mereka sendiri. Dalam konteks ini individu merasa bahwa kesatuan harmonitas dalam menjalin hubungan sesama mahasiswa antar ormek lebih terjaga.
3.2.2 Pertemanan Se-ormek
--------->Di salah satu rumah kontrakan yang terletak di Jalan Jawa, ada lima mahasiswa yang uniknya mereka adalah mahasiswa anggota ormek kuning. Tiga diantaranya masih tercatat aktif sebagai anggota masing-masing berinitial Kristanto, Sugeng dan Poniman. Sementara Koko dan Adi Prasetyo sudah keluar dari struktur keanggotaan ormek hijau.
--------->Menurut Sugeng, keberadaan mereka untuk berkomitmen agar menempati rumah kontrakan dalam satu bendera merupakan bentuk kekeluargaan yang terikat sangat kuat. Tentu saja hampir dipastikan konflik yang dilatarbelakangi perbedaan prinsipil sebagaimana yang terjadi oleh Rozaki dan Yanuarti sebagaimana yang diungkapkan diatas tidak dialami mereka. Mereka saling memahami pola pikir dan tindakan masing-masing. Berikut kutipan wawancara,
---------><em>"Disini semuanya saling menjaga sikap dan tutur kata. Kita semua bisa saling memahami karakter individu termasuk pola pikir masing-masing….."
hal. 60
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lebih lanjut lagi, Sugeng juga menceritakan awal mula bagaimana mereka menyewa rumah disana. Mereka berkenalan didalam ormek kuning yang juga masing-masing berkuliah di FISIP UNEJ. Di saat itu Sugeng masih bertempat tinggal di Jalan Bangka. Ketika itu belum sedikitpun terbayang didalam benak Sugeng untuk menyewa rumah kontrakan bersama dengan kawan se-ormek.
--------->Lantas, setelah ditawari oleh Kristanto, Poniman dan Sugeng pun segera menyepakatinya. Alasan utama mereka bisa menjalin hubungan lebih akrab. Apalagi mereka saling mengenal lebih dekat. Karena itulah dia lantas menyewa rumah kontrakan di sana. disitu terlihat bahwa bendera ormek kuning terpampang di sebelah jendela bersamaan stiker-stiker.
--------->Mereka mengakui bahwa cara ini dapat mempererat tali silahturahmi antar mahasiswa khususnya aktivis ormek kuning yang kemudian membentuk sikap elitis dan ekslusif. Mereka juga tidak menolak jika ada mahasiswa ormek lain yang ingin menempati rumah kontrakan tersebut. Meski sampai saat ini belum satupun mahasiswa ormek lain baik tercatat aktif dan mantan aktivis yang ingin menempati.
--------->Akan tetapi jika kita bandingkan sebagaimana yang terjadi oleh Mochtar kelihatannya memang kecil kemungkinan ada mahasiswa ormek lain baik tercatat aktif maupun mantan aktivis yang akan menempati atau tinggal di dalam rumah tersebut. Persoalannya ini dapat dimengerti.
--------->Pertama, individu tersebut akan mudah tersinggung jika terjadi ketidakselarasan dalam bertukar wacana maupun tindak dan tutur kata yang mungkin kurang berkenaan dalam prinsip ormek dan idealisme yang dimiliki masing-masing. Sebagaimana yang terjadi oleh Rozaki. Dalam konteks ini, ketika individu mulai bergeser tingkah lakunya terkadang dia akan ditegur agar mampu bertindak-tanduk sebagaimana mestinya. Disinilah sering terjadi mengenelarisir bahwa tindakan individu dimaknai tindakan ormeknya. Karena itu, persinggungan yang akan merusak hubungan solidaritas tidak tertutup kemungkinan akan terjadi.
--------->Kedua, rumah kontrakan yang disewa oleh beberapa aktivis merupakan strategi politik untuk mencari kader-kader baru. Menurut Hamzah, sudah menjadi rahasia umum bahwa para aktivis membentuk rumah kontrakan digunakan mencari
hal. 61
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
penambahan kader-kader baru. Biasanya ini terjadi ketika penerimaan mahasiswa baru. Mahasiswa baru yang dari luar kota umumnya mencari kost dan belum mengenal seluk beluk kota. Karena itulah para aktivis sering memberikan alamat kost kepada mereka.
--------->Jika mereka tidak jeli, didalamnya dapat dipastikan merupakan basis dari ormek tertentu. Ini dialami sendiri oleh Beny, ketika itu dia mendaftarkan diri ulang status kemahasiswaannya atau her registrasi ulang di Kampus. Disana dia ditawari oleh beberapa aktivis selembar brosur untuk yang akan membantunya mencarikan indekost. Biasanya tertera alamat, nama yang akan dihubungi beserta alamat rumah.
--------->Maka, Beny yang berasal dari Bojonegoro inipun mencari sendiri dengan menggunakan sepeda motor ditemani kakaknya. Diapun sampai ke tempat indekost yang sesuai dengan brosur tersebut. Disana dia menemui Nicholas yang kemudian baru diketahui bahwa dia termasuk kedalam anggota ormek kuning. Nicholas memberitahukan informasi mengenai indekost dan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh Beny. Nicholas juga memberikan informasi bahwa rumah kontrakan yang ditempatinya menerima seseorang untuk indekost disana termasuk persyaratan administratif.
--------->Setelah berpikir panjang, Beny pun menyepakati. Akhirnya, Beny menempati rumah kontrakan tersebut. Namun, beberapa hari Beny mulai diajak untuk datang ke ormek kuning oleh Nicholas dan kawan-kawan rumah kontrakan. Alasannya agar dia mendapat teman sepergaulan lebih banyak lagi. Ini sangat penting, karena mahasiswa perlu mendapatkan informasi ke kampus.
--------->Tidak hanya itu, Nicholas juga sering mengajak berdiskusi dengan Beny mengenai tema berbagai hal termasuk dunia aktivisme. Disini Beny mendapat wawasan luas mengenai aktivisme. Beny juga mendapatkan kelemahan masing-masing ormek baik cara pergerakan dan ideologi. Misalnya ormek merah muda cara pergerakannya lebih ke menekankan nasionalisme dan sebagainya. Pada akhirnya, karena sering diajak berdiskusi dan tukar pikiran mengenai dunia aktivisme dengan Nicholas, Beny-pun masuk sebagai anggota ormek kuning.
hal. 62
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Menurut penuturan Beny hal itu pun menjadi pendorong semakin merekatnya hubungan sosial didalam antar kawan di rumah kontrakan yang hampir semuanya adalah --anggota dan mantan anggota ormek kuning.
--------->Berbeda halnya dengan itu, persinggungan akibat ketidaktahuan individu dalam mencari indekost dapat terjadi. Pengalaman ini dialami oleh Daniel. Hampir sama dengan persoalan itu. Daniel juga diberi sebuah brosur untuk mendapatkan informasi seputar kampus dan indekost di sekitar jalan kampus Tegalboto oleh mahasiwa yang kemudian diketahui bahwa dia adalah anggota organisasi merah.
--------->aka dia pun menghampiri rumah indekost tersebut, meski sebelumnya dia telah menghubungi melalui nomor handphone-nya yaitu Masdar. Namun Masdar yang mempersilahkan agar Daniel datang langsung kerumah kontrakan tersebut yang terletak di Jalan Jawa. Menurutnya, dia akan bisa mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai persyaratan untuk tinggal disana.
--------->Daniel pun mendatangi rumah kontrakan tersebut. Disana dia merasa kaget melihat ada sebuah bendera merah terpampang dalam sebuah tembok. Daniel sadar bahwa dia merasa tertipu, karena itu dia mengurungkan niatnya untuk bertempat tinggal disana. Daniel sudah mengetahui bila nanti dia akan diajak untuk masuk ke ormek merah.
--------->Mengenai penciptaan hubungan sosial diantara rekan se-indekost atau rumah kontrakan memang sengaja dibuat agar individu merasa simpatik kemudian ikut menjadi anggota salah satu ormek. Menurut penuturan Paul, hubungan sosial persahabatan kadang dibuat dengan sengaja.
--------->Persoalan ini bisa dijelaskan oleh contoh sebagai berikut. Didalam indekost Subhan terdapat beberapa mahasiswa yang umumnya belum tercatat sebagai anggota ormek manapun. Namun hanya satu orang yang bernama Idris yang tercatat sebagai anggota ormek merah. Idris mengupayakan sedemikian rupa agar mereka bisa masuk menjadi anggota ormek merah. Menurut Idris caranya adalah memberikan kebutuhan yang mereka berikan. Barulah kemudian ketika dia mempercayai kita sebagai figur sahabat maka dimulailah proses indoktrinasi. Berikut kutipan wawancara:
hal. 63
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"pertama-tama kita baik-baikin mereka semua…. Setelah mereka simpatik, baru dijerat dengan memberikan isu-isu negatif mengenai ormek-ormek"
--------->Dengan menerapkan strategi politik tersebut, Idris akhirnya mampu mengajak empat orang rekannya untuk bergabung kedalam ormek merah. Karena itu bisa dipastikan dalam suatu indekost ada beberapa citra yang melekat bahwa disana adalah basis ormek tertentu mengingat banyaknya mahasiswa indekost yang ikut menjadi ormek tertentu. Misalnya di Jalan Halmahera disitu lebih dicitrakan sebagai kelompok atau basis ormek merah karena ada lima orang yang ikut sebagai anggota ormek merah. Di jalan Jawa dan Bangka sebagaimana yang dapat dilihat dari diatas, rumah kontrakan lebih distigmakan sebagai basis kelompok kuning dan hijau. Demikian seterusnya. Setidaknya dapat digambarkan dalam skema imej sebagai berikut:
Gambar tidak memungkinkan termuat mengingat sifat keterbatsan blog
KAMPUS UNEJ
Jl. Jawa
I
III
Jalan Halmahera
Jalan halmahera Jalan Bangka
IV
I dan II : Indekost yang dicitrakan
sebagai basis ormek merah
III : Rumah kontrakan yang dicitrakan
sebagai basis ormek hijau
IV : Indekost yang dicitrakan sebagai basis ormek kuning
V : Indekost yang dicitrakan sebagai basis merah muda.
VI : Indekost yang dicitrakan sebagai basis ormek hijau tua.
hal. 64
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek Menjelang
Momen Tertentu
3.3.1 Pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek dalam
kaitannya dengan momentum pemilihan dekan
--------->Secara garis besar hubungan pergeseran pola pertemanan mahasiswa sangat disebabkan oleh akademik yang sangat diwarnai kepentingan politis baik dari mahasiswa ormek sendiri maupun dari pihak akademisi terutama dosen.
--------->Menurut Paul, Hamzah dan Nasrul pergeseran pola pertemanan antar anggota ormek yang sangat mencolok terlihat menjelang pemilihan BEM, pemillihan dekan dan rektor. Dalam konteks pemilihan dekan sangat menarik untuk disimak.
--------->Menjelang pemilihan dekan, tim senat Fakultas yang terdiri dari 1) guru besar (profesor dan doktor), 2) ketua jurusan, 3) perwakilan dosen membentuk tim sukses untuk meng-goal-kan calon kuat yang dipilih dan diajukan dari Ilumni (Ikatan Alumni) ormek masing-masing di tingkatan birokrasi kampus. Tim sukses ini terdiri dari beberapa kelompok dosen yang sangat mendukung dalam salah satu figur tertentu.
--------->Tugas mereka adalah mengetahui seberapa besar kans figur calon terpilih untuk memenangkan suara dalam pemilihan dekan nanti. Tidak terlupakan mereka juga melakukan lobi-lobi politik kepada pihak lawan dan kelompok dosen disertai tawar-menawar "ala politik dagang sapi" jika mereka mendukungnya untuk menempati posisi penting didalam struktural birokrasi kampus seperti Pembantu Dekan (PD) dan jabatan struktural lainnya. Dalam tingkatan rektor, tim senat universitas ini terdiri dari para lektor kepala, para guru besar, para dekan dan pembantu dekan. Perlu diketahui baik tim senat Universitas maupun tim senat Fakultas memegang jabatan hampir sama dengan dekan atau rektor yaitu lima tahun. Selain itu, tim senat Fakultas terdiri dari dua puluh satu orang yang kesemuanya terpilih secara aklamasi.
--------->Tentu saja, meski jabatan struktural tersebut dipilih secara aklamasi berdasarkan pemilihan dosen dari masing-masing jurusan yang ingin berkompetisi secara politik. Misalnya pemilihan perwakilan dosen untuk duduk di senat Fakultas diajukan dan dipilih oleh minimal 10 orang dosen di rapat masing-masing jurusa n
hal. 65
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Namun, kekuatan alumni ormek yang telah terbentuk dalam pemilihan dekanat juga turut bermain dalam pemilihan jabatan struktural di tingkatan di bawah dekanat sampai ke level terbawah yaitu jurusan. Yaitu dengan menerapkan sistem jaringan politik yang didalamnya terdiri dari satu atau dua orang dosen di masing-masing kelompok dosen.
---------> Ini sangat penting agar individu yang terpilih dan menempati posisi penting di tingkatan atas jabatan struktural Kampus dapat terpilih lagi dalam pemilihan berikutnya. Apalagi, secara emosional dan latar belakang historis sebagai Ilumni tertentu dipastikan kekuatan politik di dalam kelompok dosen sehingga posisi individu yang terpilih menjadi tingkatan semakin kuat. Karena itu, nama-nama PD yang terpilih hampir sebagian besar dekat dengan latar belakang kesamaan ormek yang mendekati dengan kesamaan jabatan elit paling atas di Kampus. Hanya beberapa saja yang bukan berasal dari kesamaan ormek.
--------->Sementara itu, jaringan politik sebagaimana yang diungkapkan diatas dapat dilustrasikan sebagai berikut. Di kelompok dosen Ananta merupakan kelompok yang terdiri dari Ilumni ormek hijau. Didalamnya setidaknya terdiri dari Nur Hasim, Mawardi dan Rahardjo. Maka didalam ini ada sebuah perwakilan individu yang merupakan jaringan dari pihak-pihak kelompok kekuatan politik yang terbentuk dalam pemilihan dekan.
--------->Di tingkatan kampus FISIP UNEJ, perwakilan jaringan kelompok ini sulit dikenali karena setiap dosen memiliki kepentingan tersembunyi untuk meraih kekuasaan tujuannya masing-masing yang dapat berubah-ubah hubungan solidaritasnya ketika menghadapi momentum pemilihan jabatan struktural di internal birokrasi kampus.
--------->Ketika itu terjadi, kelompok dosen yang terbentuk berdasarkan Ilumni ormek, yang sebelumnya kuat dapat pecah. Ini bisa disimak menjelang pemilihan PD, salah satu kelompok dosen Ilumni ormek kuning yang didalamnya karena seseorang individu bernama Riza mengajukan diri sebagai PD secara pribadi. Padahal, di kelompok dosen Ilumni ormek kuning telah mencalonkan Alfianto. Karena itu, isu-isu negatif mulai bertebaran antara sesama pihak elit atas birokrasi kampus dalam
hal. 66
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
merebut jabatan posisi struktural. Salah satunya adalah dianggap menghianati perjuangan rekan se-nasib Ilumni ormek dan sebagainya.
--------->Bila demikian halnya, konflik kepentingan mulai terlihat tajam. Hal ini terlihat dari berkelompok-kelompoknya dosen berdasarkan persamaan dan nasib atau latar belakang Ilumni. Kemanapun selalu dapat dilihat kelompok dosen tersebut memiliki rekan yang berdasarkan ormek. Misalnya dosen Ananta dan Rahardjo dan seterusnya.
---------> Kembali ke persoalan pemilihan dekanat. Dalam pemilihan dekanat tahun kemarin, menurut penuturan mantan aktivis ormek yaitu Nasrul dan Hamzah perpecahan antar kelompok dosen terjadi berdasarkan kepentingan dan tujuan politik kelompok masing-masing. Namun, mereka bisa menyatu dalam kekuatan politik yang sulit dikalahkan oleh lawan politiknya. Misalnya, dalam pemilihan dekan kemarin kelompok civitas akademika Ilumni ormek kuning dan civitas akademika Ilumni ormek merah muda berkoalisi dan akhirnya memenangkan dengan figur Masri. Kartu truf untuk memenangkan persaingan perolehan suara selalu terletak dari Ilumni ormek merah muda apakah mau berkoalisi secara politik dengan pihak Ilumni ormek hijau atau Ilumni ormek kuning. Karena itu dalam tahun-tahun pemilihan jabatan struktural Kampus selalu dijadikan perebutan untuk meng¬-goal-kan masing-masing tujuan dan kepentingan politik para dosen yang terikat dalam Ilumni ormek.
--------->Sementara itu, hasil pemilihan dekanat kemarin, Rahardjo calon dari pihak organisasi ormek hijau kalah mutlak. Menurut Nasrul dan Hamzah seorang aktivis yang mengetahui seluk beluk birokrasi elit kampus mengemukakan bahwa kemenangan tersebut sejatinya dapat dilihat dari seberapa besar kekuatan politik alumni ormek masing-masing, kelompok dosen dan terutama jurusan. Menurutnya, hal itu bisa dipetakan secara politik jauh-jauh hari.
--------->Kadangkala beberapa pihak calon dekan tersebut mengajukan atas nama sendiri. Akan tetapi dia membutuhkan dukungan politik dari Ilumni dan kelompok dosen termasuk juga di kalangan mahasiswa melalui ormek. Sama halnya di tingkatan bawah yaitu mahasiswa (baca:aktivis), kelompok dosen ini terpecah-pecah
hal. 67
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
juga berdasarkan kesamaan ormek. Misalnya, kelompok Jakoeb terdiri dari Heru, Ananta dan Rahardjo yang umumnya dibesarkan kedalam Ilumni ormek hijau. Sementara, kelompok dosen Masri terdiri dari Prabowo, Pramudya dan lain-lain. Umumnya mereka berkelompok terdiri lebih dari dua orang. Kesemuanya ini adalah memiliki tujuan dan kepentingan politik baik secara individu maupun kelompok untuk meraih kekuasaan di tingkatan jurusan, dekan, struktur akademik.
--------->Bahkan jika memiliki prestasi penting dalam jabatan struktural dan status gelar akademik akan mendapatkan peluang terbesar untuk meraih jabatan yang lebih tinggi lagi di tingkatan akademik dan birokrasi pusat seperti rektor. Karena itulah, syarat-syarat pengalaman menduduki jabatan politik, gelar akademik di tingkatan sektoral kampus maupun jurusan sangat penting. Hal inipun juga terjadi di tingkatan pemilihan dekanat. Maka wajar jika kelompok dosen di setiap jurusan di dalam kampus termasuk FISIP sendiri selalu berlomba-lomba meraih jabatan di tingkatan struktural Fakultas.
--------->Secara garis besar kekuatan politik masing-masing kelompok dosen di FISIP UNEJ dapat terlihat dari masing-masing jurusan. Yaitu Kesejahteraan Sosial dan Administrasi merupakan basis kekuatan politik Ilumni ormek kuning, Hubungan Internasional dan Sosiologi merupakan kekuatan politik Ilumni ormek hijau, selebihnya dan terpisah-pisah adalah milik kekuatan Ilumni ormek merah muda. Untuk semakin memperkuat kekuatan politik tersebut maka cara yang dilakukan adalah menerima dosen-dosen baru yang berdasarkan atau dilihat ormek tertentu. Tentu saja dalam hal ini yang berwenang untuk memilih dan menerima dosen baru adalah tim penguji yang ditunjuk oleh masing-masing jurusan dan disetujui oleh dekan.
--------->Menurut sumber terpercaya yang tidak mau disebutkan namanya, konon pemilihan dosen baru tidaklah dilihat secara kualitas akademik. Akan tetapi lebih merupakan kesamaan ormek tertentu yang secara historis dan emosional lebih dekat dengan para pemegang kekuasaan elit atas birokrasi FISIP UNEJ. Apalagi dalam persyaratan penerimaan dosen baru harus dicantumkan pengalaman organisasi disamping persyaratan administratif lainnya.
hal. 68
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Ironisnya, menjelang ujian pelaksanaan penerimaan dosen baru cara-cara untuk meluluskan para dosen muda agar memperkuat kekuatan politik di tingkatan elit atas dilakukan tidak sebagaimana mestinya. Menurut sumber terpercaya, beberapa dosen disinyalir membocorkan soal ujian kepada mereka yang akan menempuh ujian penerimaan dosen baru. Tentu saja cara ini sangat rahasia dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi lewat "tangan" dari pihak yang satu dengan pihak yang lain.
--------->Misalnya dalam penerimaan dosen baru, pihak fakultas membutuhkan dua orang maka dilakukan bargaining politik melalui rapat laten dan non formal di tingkat atas pihak-pihak yang berwenang untuk meloloskannya diantara mereka. Maka kesepakatan politik yang biasanya dapat dirumuskan dalam menerima dosen baru adalah melebih-lebihkan hasil penghitungan nilai para peserta baru ujian penerimaan dosen baru. Itulah sebabnya dalam penerimaan dosen baru hampir dipastikan nama-nama yang lolos dari ormek-ormek tertentu yang secara emosional dan historis memiliki kedekatan dengan pemegang kekuasaan elit birokrasi Kampus.
--------->Terlepas dari itu dan masih dalam kerangka pemilihan dekan, fakta lapangan menunjukkan bahwa peran ormek yang secara tidak langsung turut menghembuskan isu-isu negatif dan upaya politisir pihak dosen yang mewakili tim sukses dekan.
--------->Menjelang pemilihan dekan, para dosen yang tergabung dalam Ilumni masing-masing selalu menyusupkan isu-isu negatif secara tidak langsung mengenai citra calon-calon yang akan bersaing. Yaitu melalui diskusi-diskusi yang biasanya diadakan dalam ormek oleh dosen yang kebetulan diundang sebagai penceramah. Misalnya isu negatif, di hadapan aktivis ormek kuning yang mengikuti acara diskusi dosen Alfianto menyelipkan isu kepada mereka bahwa Rahardjo dianggap tidak berkompeten menjadi dekan karena aktivitas di kampus terutama mengisi waktu perkuliahan diabaikan. Demikian sebaliknya yang kontra dari pencalonan Masri, di pihak ormek kuning salah satu dosen mengungkapkan pula kepada para aktivis dalam diskusi disertai joke-joke segar bahwa gelar akademik Masri dan intelektualitas dipertanyakan untuk menjadi dekan.
hal. 69
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak hanya itu, para dosen yang berusaha meng¬-goal-kan calonnya berusaha memanfaatkan fasilitas pers intra eskstrakurikuler untuk mengetahui seberapa besar kans, citra serta kriteria dekan ideal yang diidam-diidamkan di mata mahasiswa. Di kampus ada dua organisasi intra ekstrakurikuler yang berperan besar melaksanakan fungsi ini - yaitu PRM dan LMS. Tentu saja mereka "digerakkan" sebelumnya oleh salah satu dosen ketika datang ke ormek melalui diskusi-diskusi .
--------->Namun dalam pemilihan kemarin tampaknya peran PRM sangat besar melaksanakan semua fungsi tersebut. Terbukti, beberapa hari menjelang pemilihan dekan aktivis PRM membagi-bagikan sejumlah angket kepada mahasiswa untuk mengetahui kelayakan figur dosen menjadi dekan. Menurut Naning yang kebetulan mengisi angket tersebut, salah satu poin yang ditanyakan didalamnya adalah: Bagaimana kriteria dekan ideal beserta nama calon dekan yang bersaing. Dengan diwajibkan menyilang beberapa poin penting yaitu memiliki gelar akademis, aktif mengisi kuliah dan sebagainya.
--------->Menurut Hamzah, dosen yang datang ke diskusi meminta tolong secara langsung kepada beberapa aktivis didalamnya yang menjadi anggota di PRM atau LMS untuk mensurvei seperti apa dekan yang diidam-idamkan oleh mahasiswa. Kadangkala hal ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi mengingat urgennya bagi para dosen yang meng-goal-kan menjadi dekan. Menurut Paul dan Hamzah tentu saja para aktivis berusaha besar membantunya secara langsung maupun tidak langsung agar figur atau calon dosen dari ormek masing-masing terpilih menjadi dekan. Sebab, para aktivis mahasiwa akan mendapatkan akses fasilitas untuk mempertahankan eksistensi organisasi misalnya mendapat bantuan dana, proyek penelitian dari dosen Ilumni dan beasiswa. Menariknya, dalam persyaratan penerimaan beasiswa PPA tahun 2001 diwajibkan agar mahasiswa melampirkan pengalaman organisasi masing-masing. Menurut Paul, Hamzah dan Nasrul dapat dipastikan hampir 60 % mendapatkan beasiswa sekitar Rp. 360.000 adalah kalangan ormek tertentu. Terutama ormek kuning. Semakin besar birokrat kampus menempati kedudukan jabatan penting. Secara otomatis pula, ormek latar belakang historis dosen yang membantunya secara tidak langsung untuk memenangkan pemilihan dekan akan mendapatkan fasilitas beasiswa tersebut. Paul, Hamzah dan Nasrul mengungkapkan pula kelemahan dalam penerimaan beasiswa adalah kurangnya transparansi dan alokasi berapa dana yang wajib diterima dan diberikan dari Yayasan Non Government dan Pemerintah. Berikut kutipan wawancara:
"Tau-tau beasiswa diumumkan begitu saja. Eh, ketika pengumuman beasiswa (dalam hal ini pengumuman penerimaan beasiswa kepada sejumlah mahasiswa) yang dapet (baca: ormek) itu-itu saja." Lebih lanjut lagi, Hamzah, Nasrul dan Paul mengungkapkan bahwa fasilitas beasiswa yang diterima ormek kuning tersebut kadangkala para broker (dalam hal ini mantan aktivis yang menempati kedudukan tinggi di rayon. Misal, ketua umum, wakil ketua dan sebagainya) jauh-jauh hari sebelum pengumuman beasiswa. Para broker ormek kuning, mendatangi -umumnya malam hari- birokrat Kampus dengan menyerahkan sejumlah nama-nama aktivis yang tercatat aktif. Ironisnya hal ini pula terjadi dalam penerimaan dosen baru. Para broker berusaha mendekati birokrat Kampus dengan menyerahkan nama-nama mantan Ilumni ormek sehingga semakin mempermudah penerimaan dosen baru.
hal. 70
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Namun, sayang, PRM tidak mampu melakukan motonya sebagai mana mestinya sebab hasil perolehan tersebut tidak ditampilkan dalam edisi berikutnya. Konon, menurut sumber yang terpercaya, hasil dari angket tersebut menyebutkan figur Rahardjo layak menjadi dekan di mata mahasiswa. Mungkin alasan mendasar inilah yang menjadikan PRM tidak bisa menerbitkan hasil perolehan angket di edisinya. Secara organisatoris baik pihak Ilumni ormek atas dan di tingkatan mahasiswa akan merasa malu. Padahal sejatinya, fungsi pers adalah berhak menyiarkan data lapangan secara obyektif sebagaimana mestinya.
--------->Kembali ke persoalan pemilihan dekan. Dalam pemilihan dekan kemarin sempat terjadi isu bahwa beberapa elemen mahasiswa angkatan 2001 yang menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN) akan melalukan gerakan politik praktis mengenai pemilihan dekan. Persoalan ini menarik untuk disimak.
--------->Menjelang pemilihan dekan kemarin kebetulan bersamaan dengan berlangsungnya Kuliah Kerja Nyata mahasiswa angkatan 2001 terjadi tindakan kehilangan sepeda motor yaitu milik Zaenal. Karena itulah pihak kordinator kecamatan masing-masing kecamatan segera merestruksi agar meminta bantuan kepada universitas mengenai kerawanan di masing-masing daerah KKN. Maka dikumpulkannya beberapa elemen mahasiswa yaitu kordinator kecamatan (korcam) dan sekretaris kecam agar dapat menarik diri dari KKN dengan berdemonstrasi dan meminta tuntutan yang adil kepada pihak fakultas.
--------->Sayang cara yang dilakukan oleh Peter tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Peter sebagai pihak korcam Kalisat, melebih-lebihkan isu mengenai situasi dan kerawanan. Misalnya, lima Hp di salah satu kelompok desa hilang, terjadi penarikan satu desa karena dituduh berzina, telah terjadi penyerangan secara mendadak oleh beberapa warga desa ke salah satu tempat posko KKN mahasiswa. Disinilah beberapa mahasiswa yang mengikuti kegiatan KKN merasa dipolitisir. Apalagi mereka melihat bahwa yang pro terhadap penarikan diri sebagian besar adalah mahasiswa sosiologi dan bergerak untuk mensosialisasikan mengenai kerawanan sosial hal itu mahasiwa yang berormek hijau dan kelompok merah. Apalagi disaat itu menjelang pemilihan dekan.
hal. 71
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Karena itulah, stigma bahwa ada upaya menggagalkan dekan dan upaya politisir oleh dekan mulai naik diantara mahasiswa angkatan 2001. Artinya, ormek hijau memanfaatkan isu tersebut untuk menjatuhkan calon figur dari ormek kuning yang akan bersaing. Padahal, sesungguhnya tidak demikian. Karena itulah mulai terjadi pergeseran antar sesama mahasiswa baik secara jurusan terutama ideologi (ormek). Masing-masing pihak terutama ormek kuning mulai menyusun kekuatan politik untuk mengagalkan penarikan diri dari KKN karena dianggap diprovokasi dan dipolitisir (Ini terkadang terjadi dalam rapat yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa (Hima) baik jurusan maupun ekstrakurikuler. Setiap diadakan rapat, cara aktivis memboikot agar acara tidak berlangsung adalah sengaja tidak datang. Ataupun juga dalam pertanggung jawaban anggota Hima. Disini sebagian aktivis ormek kuning selalu menyudutkan dengan alasan yang kurang rasional mengenai tanggung jawab selama melaksanakan kerja sebagai anggota Hima. Akibatnya, rapat yang tidak memenuhi persayaratan quorum tidak dapat dilaksanakan. Ironisnya, ini pula terjadi dalam pemilihan dekan. Sejumlah dosen ormek hijau tidak memenuhi acara pelantikan dekan.)
--------->Karena itulah Kunto dan Paranggi segera mensosialisasikan baik melalui HP maupun mendatangi secara langsung kepada rekan-rekan mahasiswa yang tersebar di desa dan kecamatan agar mengurungkan niatnya untuk menarik diri dari KKN. Bahkan setiap rapat yang diadakan oleh Peter tidak dihadiri oleh para kordinator desa. Karena itulah, kemudian upaya meminta pertanggung jawaban kepada pihak rektorat agar lebih memperhatikan para mahasiswa KKN tidak dapat dilakukan. Meski pihak fakultas telah memberikan ruang dengan cara berdialog. Namun, didalamnya sudah terjadi bargaining politik antara ormek kuning dengan pihak fakultas beserta dosen-dosen pembimbing setiap kelompok KKN yang juga termasuk kedalam ormek kuning. Bahwa setiap isu yang berkembang oleh sebagian mahasiswa ormek kuning telah disampaikan kepada pihak fakultas agar upaya penarikan tidak dapat terjadi. Bahkan jauh hari Kunto dari ormek kuning menelpon dan datang secara langsung ke fakultas menghubungi Pak Parsudi mengenai hal itu agar dapat melakukan setingan politik ketika kegiatan dialog antara mahasiswa dan fakultas diadakan (Pak Parsudi merupakan alumni ormek kuning. Kadangkala setingan politik ini juga terjadi didalam struktur Himpunan Mahasiswa di kampus. Sejumlah dosen berupaya menguasai secara tidak langsung Hima agar mengetahui seluk beluk tipikal aktivisme sehingga mereka dapat melakukan upaya politisir menjelang momentum pemilihan dekan. Tentu saja hal ini dilakukan dengan menyuruh para aktivis lain menguasai jabatan strategis yang tersebar di Hima. Dalam hal ini,hampir semua Hima baik jurusan dan esktrakurikuler dapat dipastikan dikuasai oleh ormek kuning. Misalnya LMS, PRM, MPL dan sebagainya. ).
--------->Demikian selanjutnya, pihak fakultas beserta dosen pembimbing
hal. 72
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
desa yang umumnya dari ormek kuning terjun ke masing-masing desa untuk mensosialisasikan dan mematahkan argumen mahasiswa agar kegiatan politik praktis untuk meminta pertanggung jawaban para fakultas tidak dapat berlangsung. Akhirnya pun kegiatan moral untuk meminta pertanggung jawaban para fakultas termasuk tuntutan menarik diri dari KKN tidak dapat terpenuhi. Dengan memberikan stigma negatif bahwa yang mereka yang mensosialisasikan untuk meminta pertanggung jawaban kepada pihak fakultas adalah provokator yang meresahkan hubungan solidaritas dan merusak acara atau kegiatan akademik (KKN maupun Pemilihan Dekan). Meski pada awalnya semua pihak telah menyetujui dengan menandatangi surat yang telah difasilitasi para korcam.
--------->Ferdian, mengungkapkan bahwa kejadian itu sebenarnya adalah murni kegiatan moral agar pihak fakultas dapat memperhatikan nasib mahasiswa yang menempuh KKN. Namun, sayang ada kesalah pahaman terutama cara sosialisasi dan individu yang terlibat atau pioner yang bergerak tergabung dalam ormek tertentu. Muncullah dugaan bahwa ada upaya politisir. Apalagi pada saat itu mendekati momentum pemilihan dekan. Para mahasiswa KKN yang umumnya ormek kuning mengkhawatirkan jika gerakan politik praktis benar-benar dilakukan akan memberikan citra buruk terhadap kinerja Dekan Wahib yang kebetulan pada saat itu masih menjabat. Bila hal itu terjadi maka secara otomatis dan organisatoris citra ormek kuning akan jelek.
--------->Beberapa contoh diatas dapat menjelaskan bahwa dalam momentum tertentu terutama menjelang pemilihan dekan pergeseran hubungan sosial antar anggota ormek mengarah ke bentuk destruktif. Persoalan itu dapat dijelaskan oleh kutipan Hamzah sebagai berikut.
--------->"Dosennya rebutan jabatan, aktivis mahasiswa malah rebutan jabatan bem… di organisasi intra ekstrakurikuler dan fasilitas dana. FISIP ini sudah bukan Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu sosial lagi…. malah Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pertunjukkan. Sungguh memalukan, kampungan dan primitif !!! Seharusnya mereka memajukan iklim atau gairah intelektual akademik bukannya malah memperbesar konflik…. di mahasiswa… seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada mahasiswa Demikian ungkap Hamzah.
hal. 73.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------->Bila kita cermati lebih dalam dari kutipan Hamzah dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pergeseran hubungan sosial antar anggota ormek di tingkatan mahasiswa terjadi akibat sikap dan tindakan politik kalangan elit atau birokrat kampus yang kurang memberikan contoh kedewasaan politiknya. Termasuk cara dan tindakan politik atau politisir yang dilakukan oleh mahasiswa terutama pihak birokrat yang
didalamnya memanfaatkan keberadaan ormek demi pemenuhan kebutuhan subyektif pencapaian kekuasaan di tingkat atas.
3.3.2 Pergeseran Hubungan Pertemanan Dalam Momentum Pemilihan
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
--------->Sementara dalam tingkatan mahasiswa sendiri pergeseran hubungan sosial yang mengarah pada destruktif terlihat dari pemilihan BEM atau pemilihan jabatan penting struktural didalam organisasi ekstrakurikuler di Kampus. Ketika pemilihan BEM dilaksanakan, masing-masing pihak ormek telah mengajukan calonnya masing-masing. Dari ormek kuning adalah Hermawan, Poniman. Dari ormek hijau yang maju adalah Topan dan ormek merah muda yang diajukan adalah Doni. Ormek merah yang dicalonkan adalah Hasanuddin. Sama halnya dengan pemilihan dekan, mereka juga memiliki tim sukses masing-masing yang terdiri dan memiliki tugas untuk meng-goal-kan calon dari ormek masing-masing. Yaitu:
1. Tim Lapangan : Bertugas untuk mengatahui kondisi di lapangan dan mengetahui seberapa besar kans untuk memenangkan pemilihan BEM.
2. Tim play maker : Mereka terdiri dari mahasiswa yang dipilih berdasarkan jurusan atau angkatan dalam ormek. Tujuannya adalah menyetting intrik
politik, mengetahui dan mengenali seluk beluk tata cara
permainan politik lawan. Misalnya dengan memetakan statistik
kekuatan lawan. Kadangkala disini mereka menggunakan tekhnik memata-matai lawan dengan menerapkan sistem
hal. 74.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
jaringan politik yaitu memberdayakan perwakilan di setiap
jurusan untuk mengetahui perkembangan di setiap jurusan.
Misalnya siapa yang mengajukan diri menjadi anggota BEM
3. Tim pemantau : Bertugas mengamati proses tekhnis dan penghitungan suara
dilakukan agar tidak terjadi kecurangan.
--------->Ketika pelaksanaan BEM akan berlangsung ketiga tim sukses itu segera melakukan aktivitasnya agar calon terpilih menjadi dapat memenangkan pemilihan BEM. Ironisnya cara-cara yang dilakukan beberapa aktivis terkadang dilakukan tidak dengan jujur dan adil. Misalnya jauh-jauh hari akan dilaksanakannya pemilihan BEM, beberapa aktivis ormek kuning mempolitisir hampir seluruh Kartu Mahasiswa (KM) Pariwisata dengan alasan akan dipinjam untuk mengurus atau meminjam buku di perpustakaan. Karena itulah, ketika pelaksanaan pencoblosan berlangsung mahasiswa Pariwisata tidak dapat menyalurkan hak pilihnya.
--------->Menurut penuturan Tobing, mereka pada malam harinya didatangi oleh beberapa aktivis ormek kuning yang bernama Asmadi meminjam KM-nya untuk menyewa buku di perpustakaan yang akan digunakannya sebagai mengerjakan tugas mata kuliah dari dosen. Lantas ia pun memberikannya sebab Asmadi mengatakan bahwa KM miliknya hilang. Barulah sadar kemudian Tobing bila hal itu sangat penting sebagai prasyarat utama menggunakan hak pilihnya. Akibat secara keseluruhan modal politik, suara ormek hijau menurun tajam. Karena itulah ormek hijau tidak dapat memenangkan suara dalam pemilihan BEM.
--------->Paul mengakui bahwa cara-cara yang dilakukan oleh ormek kuning terkesan menggunakan praktik ala tzun zu dan machiavelli. Mereka terkesan menghalalkan segala cara sebab bagi mereka kekuasaan adalah segalanya. Kadangkala mereka mengadu domba antara satu dengan yang lain. Ini pernah dialami oleh Murindra ketika pemilihan BEM oleh Rozaki tanpa alasan yang jelas dia tidak boleh berteman dengan Nasrul yang mencalonkan diri sebagai anggota BEM. Dia tidak habis pikir mengapa semua itu bisa terjadi.
--------->Selain itu dalam merebut kekuasaan, intrik politik yang biasanya digunakan adalah memecah suara pemilih BEM. Dalam hal ini menggunakan tekhnik calon
hal. 75
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
bayangan dan calon utama. Yaitu satu orang benar-benar mencalonkan diri sebagai anggota BEM dan yang lain adalah calon bayangan untuk merekrut suara dari pihak lain. Ini terlihat dari beberapa elemen yang mengajukan sebagai calon anggota BEM.
--------->Kadangkala, calon bayangan ini bisa memenangkan perolehan suara dalam BEM. Akan tetapi hal ini sah. Namun disinilah tugas tim sukses agar dia tidak melenceng dari kepentingan organisasi. Sebab, kadangkala calon bayangan bisa berkhianat dengan cara berkoalisi dengan pihak lawan meski di lapangan hal itu tidak ditemui.
--------->Dalam meraih kekuasaan ciri khas ormek hijau dalam merebut kekuasaan adalah menghitungkan secara sistematis dan rasional. Mereka terlalu banyak berpikir tanpa disertai pengalaman praksis politik yang sedikit bila dibandingkan dengan ormek kuning.
--------->Menurut Paul, ormek hijau dalam bermain meski cantik dan tidak kasar seperti ormek kuning namun dia terlalu lambat dalam menyikapi dan berpraksis politik. Kadangkala, ormek hijau itu terlalu lugu sehingga selalu kalah dalam persaingan perebutan suara di pemilu BEM. Sebaliknya cara ormek kuning selalu menggunakan politik adu domba, mengasut serta memecah belah suara. Demikian halnya dalam perebutan di jabatan struktural di birokrasi atas.
3.3.3 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek
Dalam Kaitannya Dengan Prestasi Akademik
--------->Kadangkala untuk menjalin hubungan emosional lebih antara para dosen Ilumni selalu memberikan nilai lebih kepada mahasiswa yang tergabung kedalam ormeknya. Sudah rahasia umum lagi bahwa mereka yang tergabung kedalam ormek pasti mendapat nilai lebih baik daripada yang lain.
--------->Ini pula terjadi sampai pengurusan mata kuliah terakhir yaitu skripsi. Banyak mahasiswa yang tidak mau bila pembimbing skripsinya adalah berbeda organisasi. Ini dialami oleh Buyung. Buyung adalah mantan aktivis ormek hijau. Dia memiliki dua pembimbing skripsi yang terikat dalam Ilumni ormek kuning yaitu dosen
hal. 76
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mahasin. Karena itulah dia selalu dipersulit dengan cara yang berbelit-belit akibatnya dia menyelesaikan skripsi lebih lama sekitar satu tahun.
--------->Lain halnya dengan Riza yang temannya sama-sama dibimbing oleh dosen kuning. Namun, dia dapat menyelesaikan lebih dulu kurang dari satu tahun. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dalam perkembangan intelektual mahasiswa di FISIP UNEJ.
--------->Kadangkala, dua pembimbing yang bertikai secara ideologi selalu membuat mahasiswa menjadi kelimpungan. Ini terjadi oleh Zulkarnaen. Zulkarnaen dibimbing oleh dosen yang keduanya memiliki perbedaan secara ideologis. Zulkarnaen adalah mahasiswa ormek merah. Dosennya yang bernama Ignas tergabung dalam ilummni ormek merah muda dan Kusanto yang tergabung kedalam ilummni ormek hijau. Zulkarnaen selalu dipersulit karena keduanya memberikan argumen yang berbeda-beda dalam membimbing skripsi. Kusanto marah-marah kepada Zulkarnaen karena mengikuti aturan metodologi yang disuruh oleh dosen Alfianto. Demikian sebaliknya, dosen Buyung mengharuskan agar dia mengganti cara yang tidak mengikuti metodologi sebagaimana yang diperintahkan oleh dosen Alfianto. Inilah salah satu dilema intelektualitas di FISIP UNEJ yang mengakibatkan pergeseran hubungan antar ormek yang kemudian memicu konflik karena dosen telah menunjukkan contoh yang kurang baik.
--------->Kadangkala pertengkaran itu pula terjadi sampai ujian skripsi tahap akhir sebagai prasyarat terakhir apakah mahasiswa lulus atau tidak. Didalam ujian skripsi, Zulkarnaen dibantai habis-habisan oleh dosen Alfianto karena tidak sesuai dengan metodologi. Disinilah, dosen pembimbingnya tidak mau bahwa metodologi yang digunakan tersebut telah ketinggalan jaman.
--------->Ataupun juga, dalam penilaian terakhir ketika ujian skripsi. Banyak menceritakan mereka yang tergabung ormek seperti halnya dosen pembimbing akan mendapatkan nilai lebih bila dibandingkan yang tidak. Ini terjadi pula di Thomas dan Menik. Agar hal itu tidak terjadi lucunya mahasiswa sempat melakukan ritual gaib atau ilmu sirep seperti pergi ke dukun untuk meminta mengguna-gunai beberapa dosen yang dianggap akan mempersulit dirinya untuk memperoleh gelar sarjana.
hal. 77
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Misalnya hal yang dialami Melati, dosen Alfianto terkenal dalam killer untuk membantai setiap mahasiswa yang bukan se-ideologi. Karena itu, jauh-jauh hari dia mempersiapkan ke dukun agar dosen Alfianto dapat tertidur pulas ketika pelaksanaan ujian skripsi berlangsung. Alhasil, Alfianto pun tertidur pulas mulai dari awal ujian skripsi dan terbangun ketika ujian skripsi berakhir. Selain itu, kemenangan lulusan cumlaude dan lulusan tercepat menjadi pertaruhan bagi ormek dosen yang tergabung Ilumni dan jurusannya. Karena itu, ketika melihat ada sebuah mahasiswa yang kebetulan dia secara ideologi pernah dibesarkan dalam ormek seperti pembimbingnya, maka dia akan diprioritaskan lebih daripada yang lain.Terutama dia memiliki wawasan luas dan prestasi akademik yang cukup bagus. Ini pula terjadi oleh salah satu Cindy (ormek kuning) yang pernah menjadi lulusan cumlaude dan tercepat dalam yaitu IP sebesar 3.8 beberapa tahun lalu.
--------->Tidak hanya itu, kasus "jual-beli" nilai seringkali terjadi. Ini dialami oleh Nuno yang tercatat dari ormek kuning. Karena nilai ujian salah satu mata kuliah turun ia menyerahkan amplop berisi uang Rp. 100 ribu kepada dosen Jajat yang tercatat sebagai ormek kuning . Kebetulan mahasiswa lain dan tergabung ormek lain ingin melakukan hal itu (Kadangkala, cara pembelian nilai itu dilakukan dengan tidak langsung. Yaitu dengan mengharuskan mahasiswa membeli buku mata kuliah yang diwajibkan oleh dosen). Namun, dosen Jajat menolak.
--------->Selain itu, kadangkala para dosen memberikan nilai diskriminatif kepada mahasiswa. Para dosen sering memberikan nilai ujian berdasarkan kesamaan ormek. Misalnya, Janti dari ormek kuning di salah satu mendapatkan nilai lebih baik daripada yang lain. Ini diberikan oleh dosen Shadily yang juga dari ormek kuning. Demikian pula, Pak Bagyo dari ormek hijau memberikan nilai lebih kepada salah satu mahasiswa yang juga tercatat sebagai anggota ormek hijau.
3.3.4 Pergeseran Pola Pertemanan Antar Mahasiswa Anggota Ormek Dalam
Kaitannya Dengan Diskusi atau Pemberian Materi Kuliah ------------->Didalam kelas pernah terjadi suatu kejadian unik sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Ninok. Suatu ketika, Ninok mengikuti pelaksanaan kuliah yang
hal. 78
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diadakan oleh salah satu jurusan sosiologi yang berinitial dosen Warsito. Dalam materi mata kuliah, dosen Warsito memberikan tema mengenai perkembangan sosial-politik dan sikap kepemimpinan Gus Dur.
--------->Maka dosen Warsito memberikan pendapat bahwa Gus Dur yang selalu berpangku tangan pada kyai langitan. Karena itulah beberapa mahasiswa yang memiliki kedekatan secara emosional, historis dan prinsip dengan Nadhlatul Ulama yaitu ormek kuning merasa bahwa dosen Kurniawati terlalu sepihak. Namun, mahasiswa ormek kuning diam saja. Dalam arti tidak akan menyanggahnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut terjadi kesalahpahaman dengan dosen tersebut. Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kesalahpahaman meski dalam perdebatan intelektual dalam topik diskusi dengan dosen maka akan berpengaruh dalam nilai ketika selesai ujian.
--------->Setelah selesai kuliah, barulah beberapa mahasiswa ormek kuning mulai membicarakan tentang sikap dan kelakuan dosen tersebut. Disinilah Ninok diberitahu oleh mereka yaitu Rozaki bahwa sikap-sikap dan tindakan ormek hijau umumnya seperti itu. Maka ketika pulang, Ninok segera bangkit dari kursi kuliahnya. Dia mencari temannya yang biasa selalu pulang bersama yaitu Atika . Di tengah perjalanan, Ninok menceritakan perihal sikap dan tingkah laku kawan-kawannya mengenai kesalahpahaman akibat diskusi dosen sewaktu memberikan materi kuliah di kelas. Apalagi dia sedikit merasa terheran-heran baik sikap dan tindak tanduk baik dosen maupun Rozaki itu. Dia menyayangkan semua itu bisa terjadi. Sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menunjukkan sikap kedewasaan politik. Dalam konteks ini, saling menghargai antar sesama.
--------->Namun, ada kalanya ketika perdebatan diskusi tidak sampai merusak pada persahabatan antar sesama anggota organisasi ekstrakurikuler. Ini diakui oleh Yanuarti. Berikut kutipan wawancara.
hal. 79
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
diadakan oleh salah satu jurusan sosiologi yang berinitial dosen Warsito. Dalam materi mata kuliah, dosen Warsito memberikan tema mengenai perkembangan sosial-politik dan sikap kepemimpinan Gus Dur.
--------->Maka dosen Warsito memberikan pendapat bahwa Gus Dur yang selalu berpangku tangan pada kyai langitan. Karena itulah beberapa mahasiswa yang memiliki kedekatan secara emosional, historis dan prinsip dengan Nadhlatul Ulama yaitu ormek kuning merasa bahwa dosen Kurniawati terlalu sepihak. Namun, mahasiswa ormek kuning diam saja. Dalam arti tidak akan menyanggahnya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut terjadi kesalahpahaman dengan dosen tersebut. Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kesalahpahaman meski dalam perdebatan intelektual dalam topik diskusi dengan dosen maka akan berpengaruh dalam nilai ketika selesai ujian.
--------->Setelah selesai kuliah, barulah beberapa mahasiswa ormek kuning mulai membicarakan tentang sikap dan kelakuan dosen tersebut. Disinilah Ninok diberitahu oleh mereka yaitu Rozaki bahwa sikap-sikap dan tindakan ormek hijau umumnya seperti itu. Maka ketika pulang, Ninok segera bangkit dari kursi kuliahnya. Dia mencari temannya yang biasa selalu pulang bersama yaitu Atika . Di tengah perjalanan, Ninok menceritakan perihal sikap dan tingkah laku kawan-kawannya mengenai kesalahpahaman akibat diskusi dosen sewaktu memberikan materi kuliah di kelas. Apalagi dia sedikit merasa terheran-heran baik sikap dan tindak tanduk baik dosen maupun Rozaki itu. Dia menyayangkan semua itu bisa terjadi. Sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menunjukkan sikap kedewasaan politik. Dalam konteks ini, saling menghargai antar sesama.
--------->Namun, ada kalanya ketika perdebatan diskusi tidak sampai merusak pada persahabatan antar sesama anggota organisasi ekstrakurikuler. Ini diakui oleh Yanuarti. Berikut kutipan wawancara.
hal. 80
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------> " kalo diskusi memang terkadang sampai panas semua menjelek-jelekkan antar sesama.. tapi kalo sudah selesai.. ya sudah.. hanya didalam kelas saja"
--------->Ketika itu, Yanuarti sedang mengikuti pelajaran kuliah, salah satu dosen yang berinitial Khairuddin melontarkan sebuah materi diskusi mengenai peradaban islam yang mulai turun (Hal itu pula kadang dilontarkan setiap perkuliahan berlangsung. Beberapa dosen selalu menjelek-jelekkan beberapa figur dosen yang akan bersaing dalam pemilihan dekan. Ini diakui oleh Jumari: "tadi pagi sewaktu perkuliahan berlangsung, Pak Alfianto menjelek-jelekkan Pak Rahardjo.. " Tentu saja para aktivis yang pro terhadap pencalonan Pak Rahardjo yaitu ormek hijau merasa tersinggung meski hal itu tidak dilakukan secara langsung dan terang-terangan. Disinilah keretakan hubungan antar solidaritas antar anggota ormek kembali merebak. Mereka mulai menjelek-jelekkan antara kelompok satu dengan yang lain termasuk tingkah lakunya. Kadang pula hal ini terlihat dari mulai berkelompok-kelompoknya berdasarkan kesamaan ormek yang menurut pemantauan menjelang pemilihan dekan terlihat perbedaan tajam antara kelompok anggota ormek kuning dan anggota ormek hijau. Hal ini pula terjadi ketika momentum pemilihan jabatan struktural birokrasi kampus. Sejumlah dosen berpropaganda dan memecah belah mahasiswa ketika perkuliahan berlangsung dengan menjelek-jelekkan salah satu calon pemilihan dekan termasuk ormeknya)
--------->Mendengar hal ini, Kristanto langsung menanggapi bahwa peradaban islam adalah kesalahan para pemikir islam ortodoks yang kurang memaknai konteks pemahaman islam liberal. Mendengar hal ini, salah satu anggota ormek kuning kurang menyetujui karena pemikiran wacana islam liberal terlalu mudah merombak aturan-aturan dasar islam. Karena itulah perdebatan mulai panas.
--------->Ironisnya, perdebatan bergeser tidak konteksnya. Yaitu, mulai sedikit mengarah pada konsep antara islam modernis (muhammadiyah) dan islam ortodoks. Pada gilirannya mengarah ke sikap masing-masing tokoh baik Nurcholis Madjid, Gus Dur, Soeharto dan sebagainya. Disinilah sering terjadi kesalahpahaman dan mengarah sampai hal ke persinggungan hubungan sosial antar mahasiswa ormek.
--------->Menurut Hamzah, kadangkala diskusi merupakan langkah efektif untuk berpropaganda masing-masing ideologi dan kepentingan politik praktis ormek' Karena itulah individu selalu menjelek-jelekkan ideologi ormek lain dan membuat seolah-olah paling benar sendiri. Dalam hal ini individu yang memiliki idealisme tinggi seperti aktivis merah dan merah muda selalu melihat diskusi sebagai alat
hal. 81
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
efektif berpropaganda . Apalagi ormek merah awal mula berdiri sekitar tahun 2002 diawali dari forum diskusi yang bernama Ideologi K. Kadangkala keberanian itu ditunjukkan didalam diskusi kelas. Didalam kelas sikap-sikap kolot sering dilakukan dalam berdiskusi. Karena ormek merah merasa berani karena menganggap dirinya paling benar . Berikut kutipan wawancara "ormek merah merasa paling benar…dan kolot karena itu ia selalu berani kepada siapa saja baik ke dosen untuk berdiskusi sekalipun debat".
-------->Menurut Paul, didalam kelas dapat dipetakan mahasiswa tipe penggorganisir atau tidak. Ada tiga macam yaitu: 1) mahasiswa hedonis. Mahasiswa hedonis ini memiliki ciri tidak mau berdiskusi dan sangat apatis terhadap intelektualisme dan ormek. 2)mahasiswa pengorganisir. Mahasiswa ini tercatat oleh salah satu ormek dan senang sekali berdiskusi dengan tujuan agar individu simpatik kemudian tertarik untuk bergabung kedalam ormeknya. Aktivis tipikal seperti ini yang sering dijauhi. Apalagi pendirian ormek merah dilakukan dengan cara "merebut" aktivis ormek lain. 3) mahasiswa intelektual. Mahasiswa ini memiliki pengetahuan, intelektual serta wawasan yang luas. Mahasiswa ini tidak tergabung dalam ormek apapun. Mahasiswa ini yang sering dijadikan sasaran para aktivis agar mau bergabung ke salah satu ormek.
hal. 82
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
IV. KESIMPULAN
-------->Dunia aktivisme umumnya tidak dapat dilepaskan dari adanya tindakan politik masing-masing ormek. Tindakan politik itu bermacam-macam sesuai cara pandang individu dibesarkan oleh ormek masing-masing. Ada yang melakukan tindakan politik negatif maupun tindakan politik positif. Dalam kaitannya dengan pola pertemanan, tindakan politik yang mengarah ke positif adalah saling menghargai antar sesama aktivis. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kedewasaan politik antar aktivis mahasiswa untuk saling menerima bahwa perbedaan secara ideologi dan prinsipil adalah sesuatu yang wajar.
-------->Di FISIP UNEJ, kedewasaan politik untuk saling menghargai perbedaan ormek agaknya masih kurang. Umumnya, mahasiswa masih terjebak semangat ekslusifitas dan pemikiran sempit yang dibawa dari ormek masing-masing. Beberapa mahasiswa tampaknya masih kurang mau bergaul yang bukan se-ormek. Inilah yang menyebabkan pola pertemanan diantara sesama mahasiswa anggota ormek mengalami upaya destruktif.
-------->Karena itu mereka akan menjauhi secara tidak langsung maupun tidak langsung. Adakalanya, bentuk pergeseran pola pertemanan akibat semangat ekslusif terlihat dari berkelompoknya mahasiswa yang terdiri dari satu atau dua orang lebih di beberapa sudut kampus. Ini tentu saja sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa pola pertemanan antar sesama anggota ormek dapat dikatakan mengarah ke tindakan destruktif. Artinya, mahasiswa semangat ekslusifitas diantara sesama aktivis mahasiswa sangatlah kuat.
-------->Apabila hal itu berlanjut tentu saja kegiatan intelektual dan akademik Kampus tidak akan berkembang. Ironisnya, beberapa pihak birokrat Kampus tampaknya semakin memperbesar pergeseran pola pertemanan di tingkatan aktivis mahasiswa. Upaya-upaya politisir menjelang momentum pemilihan struktural jabatan kampus dengan memanfaatkan akses organisasi ekstrakurikuler kampus, ditambah lagi menyelipkan di setiap topik diskusi atau materi perkuliah dan meminta dukungan secara langsung dengan berkunjung ke ormek-ormek sesuai latar belakang
hal. 83
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
historis para dosen. Tampaknya hal ini semakin memperbesar tingkat pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek.
-------->Bahkan di tingkatan akademik, disinyalir muncul upaya nepotisme agar emosional dosen dengan para aktivis se-ideologi semakin erat. Tentu saja dengan memberikan perhatian lebih, fasilitas serta prestasi akademik berupa nilai kepada mahasiswa yang se-ideologi dengan dosen. Bila hal ini berlanjut, pola pergeseran antar mahasiswa anggota ormek menjadi buruk. Sebab, sikap dan tindakan para penSudarto sangatlah besar untuk mengarahkan mahasiswa agar tidak terjebak semangat eklusifisme yang merusak pola pertemanan antar anggota ormek.
-------->Sementara itu, pergeseran pola pertemanan di antara mahasiswa yang sangat marak adalah dikarenakan kurangnya kesadaran untuk menerima perbedaan prinsipil, cara pandang ormek. Umumnya mahasiswa anggota ormek cenderung menggenalisir bahwa tindakan individu selalu dimaknai tindakan kelompok atau ormek. Akibatnya, kesalahan individu dianggap sebuah kesalahan organisasi. Secara otomatis pula, citra dan nama baik sebuah ormek seakan-akan diletakkan pada seorang aktivis.
-------->Sementara itu, masih kuatnya pengaruh indoktrinasi yang dibawa dari dalam ormek agaknya mempengaruhi tingkah laku dan tutur kata aktivis dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan, ada pula yang memaknai bahwa hal itu adalah sesuatu yang lumrah mengingat mengacu pada aliran-aliran atau praktik politik tertentu. Biasanya hal itu terlihat dari cemooh, sindiran atau tutur kata maupun tingkah laku yang akan merusak pola pertemanan. Namun, apabila dilihat lebih cermat lagi bentuk-bentuk perilaku eklusif sengaja dipertahankan untuk menjaga semangat kekeluargaan yang kemudian memperkuat hubungan solidaritas ormek. Bahkan ada pula yang sengaja dilakukan agar individu tergerak menjadi anggota salah satu ormek tertentu.
-------->Tidak hanya itu, pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek terlihat sampai di indekost. Banyak hal yang dapat menjelaskan hal ini. Yaitu, upaya kaderisasi, kurangnya kedewasaan politik dan masih terjalinnya semangat ekslusifitas. Itulah hal-hal yang menyebabkan pergeseran pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek di FISIP UNEJ dapat dikatakan mengarah ke bentuk destruktif. Oleh karena itu cara untuk mengatasinya adalah menanamkan semangat
hal. 84
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kedewasaan politik serta menggairahkan iklim intelektualisme di kalangan mahasiswa. Ironisnya hal itu kurang dilakukan di FISIP UNEJ. Parahnya, upaya menciptakan potensi konflik dengan mempolitisir aktivis mahasiswa seringkali dilakukan menjelang momentum tertentu. Misalnya pemilihan dekanat. Upaya politisir tersebut dilakukan dengan memanfaatkan aktivis mahasiswa agar meraih simpati dan memperbesar akses-akses politik demi memenangkan calon dekan. Tentu saja hal demikian perlu dihindari agar dinamika pergeseran pola pertemanan antar sesama mahasiswa anggota ormek dapat dihindari. Potensi-potensi konflik tersebut perlu dihilangkan segera dengan pemberdayaan berpolitik yang baik, benar dan menjunjung moral. Misalnya, menggairahkan iklim intelektual mahasiswa dengan menanamkan kedewasaan politik, menghilangkan unsur politisir oleh dosen demi pemenuhan kebutuhan subyektif kekuasaan birokrasi kampus, melibatkan mahasiswa dalam pemilihan jabatan struktur birokrasi kampus dan menghindari praktek politik macheavelisme dan Tzun Zu. Terakhir menumbuhkan semangat kritis mahasiswa demi membangun iklim akademik-intelektual FISIP UNEJ lebih mandiri, bebas dan bertanggung jawab. Bila demikian, pola pergeseran antar sesama mahasiswa anggota ormek terhindarkan.
hal. 85
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis Ke Arah Ragam Varian Kontemporer. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
___________________ 2001. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis Ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional FISIP UNEJ, 2001. Buku Pedoman 2001/2002. Departemen Pendidikan Nasional FISIP UNEJ.
Etzioni, Amitai. 1982. Organisasi-organisasi Modern. Pustaka Radjaguna: Jakarta.
Johnson, Paul Doyle. 2004. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. PT. Gramedia: Jakarta.
Muller, William L dan Benjamin F. Crabtree, 1992. Primary Care Research: Amultimethod typology and Qualitative Road Map.Newbury Park London: Sage Publications.
Robert H. 1997. Perspektif Perubahan Sosial. Bina Aksara.Gramedia: Jakarta.
Sanit, Arbi 1999. Mahasiswa dan Aktivisme. Gramedia, Jakarta.
Soekanto Soerjono. 1980. Seri Pengenalan Sosiologi 1: George Simmel. Rajawali Pers: Jakarta.
__________________ 1986. Seri Pengenalan Sosiologi 1: Parsons. Rajawali Pers.
Usman, 2003. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Plato, 2003. Plato: Seri Tokoh Filsafat. Teraju: Jakarta.
hal. 86
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lampiran 1
GUIDE INTERVIEW
1. Sejak kapan anda tercatat menjadi salah satu anggota ormek?
2. Teman anda siapa saja?
3. Bagaimana hubungan pola pertemanan anda dengan teman se-ormek atau teman
berbeda ormek?
4. Ceritakan pengalaman anda dengan teman se-ormek atau teman berbeda ormek?
5. Apakah anda pernah mengalami pergeseran ketika berteman dengan teman se-
ormek atau teman berbeda ormek?
6. Menurut anda apakah iklim akademik dan birokrasi kampus sangat mempengaruhi
dalam pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek?
7. Momen-momen apakah yang sangat memiliki implikasi secara langsung terhadap
pola pertemanan antar mahasiswa anggota ormek
--00--
hal 87
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Subscribe to:
Posts (Atom)
Maestro
A. Selamat hari Ilmu Pengetahuan & Intelektual
"10 JANUARI" SOEDJATMOKO
B. Selamat hari Novel & Cerpen
"6 FEBRUARI" PRAMOEDYA ANANTA TOER
C. Selamat hari Bulutangkis
"28 FEBRUARI" LIEM SWIE KING
D. Selamat hari Musik
"3 MARET" W.R SUPRATMAN
E. Selamat hari Puisi
"28 APRIL" CHAIRIL ANWAR
F. Selamat hari Pelukis Rakyat
"23 MEI" AFFANDI
G. Selamat hari Pahlawan Kemerdekaan Nasional
“2 JUNI “ IBRAHIM DATUK TAN MALAKA
H. Selamat Bulan Kesuma Cinematography
"2 OKTOBER - 25 DESEMBER" RIRI RIZA-CRISTHINE HAKIM
I. Selamat hari Pahlawan Kebudayaan
“7 NOVEMBER” WS. RENDRA
J. Selamat hari Emansipasi HAM Indonesia
“8 DESEMBER” MUNIR
------0-------
